BAB II: PEMBAHASAN
F. Klasifikasi Kutubussittah
Kutubus Sittah menurut bahasa ialah enam kitab induk. Kutubus Sittah meliputi kitab Shahih Al-Bukhari, Muslim, Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dinamakan kitab induk dikarenakan kitab ini merupakan rujukan hadits. Oleh karena itu sebagian ulama berkata: “Apabila engkau melihat ada sebuah hadits yang tidak terdapat pada kitab-kitab ini, maka jangan engkau cepat-cepat menghukuminya sehingga engkau benar- benar mentakhrijnya.”
Karena kitab-kitab inilah yang terkenal dan diterima dikalangan ummat Islam, meskipun ada yang lemah bahkan palsu, namun kitab-kitab tersebut terkenal dan dijadikan rujukan bagi ummat. Kitab-kitab tersebut bisa dijadikan rujukan terkait hadits-hadits yang berkaitan tentang hukum, syari’at, maupun akhlak.44 Penjelasan lebih lanjut mengenai kutubus sittah akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Shahih Bukhari
Imam Bukhari memiliki nama asli Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Lahir
44 Yokha Latief Ramadhan, “Efektivitas Pembelajaran Kutubus Sittah Terhadap Pemahaman Hadits Shahih Bagi Santri Darus Sunnah Ciputat,” Adiba: Journal of Education 3, no. 2 (February 1, 2023): hlm. 213.
30
setelah shalat jum’at tanggal 13 syawal 194 H di Bukhoro dan wafat pada tanggal 30 Ramadhan 256 H pada usia 62 tahun. Ketika berusia 16 tahun, beliau menetap di Makkah selama 6 tahun untuk belajar hadis, setelah itu dilanjutkan dengan berkelana mencari hadis di berbagai kota. Karena ketekunan, ketelitian, serta kecerdasan Imam Bukhari dalam bidang hadis, beliau mendapat gelar Amir Al-Mu’minin fi Al-Hadis.
Kriteria keshahihan hadis menurut Imam Bukhari adalah sebuah hadis dapat dianggap sebagai hadis shahih apabila ketersambungan sanad itu ditandai dengan pertemuan langsung atau semasa antara guru dan muridnya. Kemudian, rowi yang meriwayatkan itu haruslah adil, dhobit, teliti, jujur, dan lama dalam berguru.45
2. Shahih Muslim
Abu Husain Muslim bin Al-Hajaj bin Muslim Al-Qushairy An- Naisabury merupakan pengarang dari Shahih Muslim. Imam Muslim lahir pada tahun 202 H, dan wafat pada tahun 261 H. Kitab Shahih Muslim adalah kitab koleksi yang berisi tentang hadis Nabi Muhammad saw yang penyusunnya sangat dikenal sebagai orang yang terpercaya karena integritas kepribadian dan kepastian intelektualnya.
Nama kitab yang disusun oleh Imam Muslim adalah Al-Musnad As- Shahih Al-Mukhtasar min As-Sunan bi Naql Al-Adl ‘an Rasulillah saw.
Namun, lebih dikenal sebagai Jami’ Ash-Shahih atau Shahih Muslim.
Adapun penyusunan kitab ini memakan waktu kurang lebih 15 tahun.
Dalam penggarapannya itu, beliau menyeleksi ribuan hadis baik dari hafalannya maupun catatannya. Informasi lain menyatakan bahwa kitab Shahih Muslim ini merupakan hasil seleksi dari sejumlah 300.000 hadis.46
45 Muhammad Misbah dkk, Studi Kitab Hadis: Dari Muwaththa’ Imam Malik hingga Mustadrak Al Hakim (Ahlimedia Book, 2020), hlm. 52.
46 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 60.
31 3. Sunan An-Nasa’i
Nama asli Imam An-Nasa'i adalah Abu Abdurrahman Ahmad bin Shu'aib bin Ali bin Bahr bin Sinan An-Nasa'i. Ia lahir pada tahun 224 H dan meninggal di kota Mekkah pada tahun 303 H. Imam An-Nasa’i dikenal sebagai ulama hadis yang sangat teliti terhadap hadis dan perawi.
Begitu selektifnya An-Nasa’i dalam menetapkan sebuah kriteria seorang rawi, beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang cukup berharga dan sangat besar dengan nama As-Sunan Al-Kubra. Karena di dalamnya belum mengadakan pemisahan antara hadis dhaif, hasan, shahih, maka beliau akhirnya mengarang sebuah kitab yang bernama Al-Mujtaba’ yang merupakan hasil seleksi dari kitab Sunan Al-Kubra dan isinya hanya terdiri dari hadis shahih saja. Kitab Al-Mujtana’ inilah yang kita kenal sekarang dengan nama Sunan An-Nasa’i.47
4. Sunan At-Tirmidzi
Nama lengkapnya adalah Abu 'Isa Muhammad bin 'Isa bin Saurah bin Musa bin Adh Dhahak As-Sulamy At-Tirmidi. Ia lahir pada tahun 200 H dan meninggal pada tahun 279 H. At-Tirmidzi adalah seorang pakar hadis yang konsisten dengan keilmuannya, sehingga mayoritas ulama menilai positif kepakaran At-Tirmidzi dalam bidang hadis.
Ia mengambil banyak Hadits dari ulama Muhadisin yang hidup sezaman dengannya diantaranya: Sa'id bin Abdurrahman, Ahmad bin Mani', Ali bin Hujr, Ishaq bin Musa, Sufyan bin Waqi', Muhammad bin Basyar, Qutaibah bin Sa'id, Bukhari, Mahmud bin Ghailan, Muhammad bin Mutsana dan lainnya.48
5. Sunan Abu Daud
47 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 91.
48 Ramadhan, “Efektivitas Pembelajaran Kutubus Sittah Terhadap Pemahaman Hadits Shahih Bagi Santri Darus Sunnah Ciputat,” hlm. 214.
32
Nama lengkap Abu Daud ialah Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar Al-Azdi As-Sijistani. Beliau adalah imam dan tokoh ahli hadis serta pengarang kitab Sunan. Beliau dilahirkan tahun 202 H di Sijistan dan wafat pada tahun 275 H di Basrah.
Hadis-hadis yang dicatat Abu Daud dalam kitab sunannya tidak semuanya shahih, baik yang ia sebutkan sendiri kedhaifannya maupun tidak. Menurutnya, hadis dhaif jika tidak terlalu dhaif lebih baik daripada pendapat pribadi. Oleh karenanya ia lebih suka memasukkan hadis dhaif daripada pendapat ulama awal.49
6. Sunan Ibnu Majah
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Abdillah bin Majah Al Qazwiny mawla Rabi' bin Abdillah. Ia lahir pada tahun 209 H dan menghembuskan nafas terakhir pada tahun 275 H. Guru pertama Ibnu Majah adalah Ali bin Muhammad Al-Tanafasy dan Jubarah bin Al-Muglis.
Sunan Ibnu Majah adalah kitab kumpulan hadis-hadis shahih yang ditulis oleh Ibnu Majah. Dalam kitab hadis yang ditulis oleh Ibnu Majah mayoritas berisi persoalan-persoalan fiqih, meski ada juga hal-hal lain yang dibahas di dalamnya. Akan tetapi, secara umum bisa dikatakan bahwa tema paling dominan adalah tema fiqih (hukum Islam).50
49 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 71.
50 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 80.
33 BAB III