• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH KODIFIKASI KITAB HADIS DAN JENISJENIS KITAB HADIS

N/A
N/A
Laila

Academic year: 2024

Membagikan "SEJARAH KODIFIKASI KITAB HADIS DAN JENISJENIS KITAB HADIS"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH KODIFIKASI KITAB HADIS DAN JENIS- JENIS KITAB HADIS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Kitab Hadis

Disusun oleh:

Inayah Mardhatillah 22211961

Kartika Anjar Sari 22211976

Laila Robbaniah Tin Mustofa 22211982

Dosen Pengampu:

Dr. Sofian Effendi, M.A.

PROGRAM STUDI ILMU QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH

INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA

1444 H/2024 M

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu, sebagai tugas kelompok untuk mata kuliah Kajian Kitab Hadis yang berjudul "Ilmu Sejarah Kodifikasi Kitab Hadis dan Jenis-Jenis Kitab Hadis".

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Sofian Effendi, M.A., selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Kajian Kitab Hadis. Serta teman-teman yang turut membantu dalam pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini, masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu, kami memohon kepada para pembaca agar bersedia memberikan kritik maupun saran untuk kesempurnaan makalah ini, dan kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta menambah wawasan para pembaca.

Tangerang Selatan, 7 Februari 2024

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I: PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Masalah ... 2

BAB II: PEMBAHASAN ... 3

A. Sejarah Kodifikasi Kitab-Kitab Hadis ... 3

B. Urgensi Pembahasan Kitab-Kitab Hadis ... 11

C. Jenis-Jenis Kitab Hadis ... 13

D. Pengertian Jenis Kitab Hadis dan Contoh ... 16

E. Urgensi Kajian Kitab Hadis ... 25

F. Klasifikasi Kutubussittah ... 29

BAB III: PENUTUP ... 33

A. Kesimpulan ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hadis merupakan salah satu pedoman umat islam dalam menjalankan agama Islam disamping Al-Qur’an. Maka dari itu, menjaga kemurnian hadis agar tetap menjadi sumber ajaran agama Islam yang mampu membawa pada kemaslahatan menjadi tanggung jawab umat Islam, terutama dari kalangan intelektual Islam. Salah satu persoalan dalam studi hadis yang senantiasa menjadi perdebatan yang cukup hangat dan menyita banyak energi di kalangan para sarjana keislaman, khususnya bagi mereka yang menaruh minat sangat tinggi pada bidang keilmuan hadis.

Masalah kodifikasi apabila ditinjau dari sejarahnya cukup memiliki berbagai macam persoalan di dalamnya, mulai dari munculnya kepentingan aliran, wafatnya para penghafal hadis, hingga banyaknya hadis yang tercampur dengan pendapat para sahabat serta tabi’in, serta hal yang tak kalah pentingnya dibicarakan adalah kerangka metodologis kodifikasi (tadwin) hadis itu sendiri. Kajian seputar metodologis dalam kodifikasi tersebut tentunya akan mengungkap data penting tentang bagaimana proses historis tadwin hadis dibangun di atas landasan dan dasar-dasar metodologis yang kokoh. Berbagai macam persoalan kodifikasi tersebut tentunya perlu diluruskan untuk kepentingan kemaslahatan bersama.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah kodifikasi kitab-kitab hadis?

2. Apa urgensi pembahasan kitab-kitab hadis?

3. Sebutkan jenis-jenis kitab hadis!

4. Apa pengertian jenis kitab hadis dan contohnya?

(5)

2 5. Apa urgensi kajian kitab hadis?

6. Sebutkan klasifikasi kutubussittah!

C. Tujuan

1. Mengetahui Sejarah kodifikasi kitab-kitab hadis 2. Mengetahui urgensi pembahasan kitab-kitab hadis 3. Mengetahui jenis-jenis kitab hadis

4. Mengetahui pengertian jenis kitab hadis dan contoh 5. Mengetahui urgensi kajian kitab hadis

6. Mengetahui klasifikasi kutubussittah

(6)

3 BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Kodifikasi Kitab-Kitab Hadis

Kata Kodifikasi dalam bahasa arab dikenal sebagai انيودت bentuk masdar dari fi’il madhi انودت-نودي-نود yang berarti menulis dan mencatat- tulisan/penulisan atau catatan/pencatatan. Sementara dalam tesaurus Bahasa Indonesia, kodifikasi dimaknai sebagai pencatatan, pendataan kategorisasi, klasifikasi, penggolongan, penyusunan dan sistematisasi. Secara istilah, kodifikasi adalah penulisan-pengumpulan-penyusunan hadis Nabi Muhammad saw yang kemudian dibukukan secara resmi berdasarkan perintah khalifah dengan melibatkan beberapa personel yang memiliki otoritas dan potensi dalam bidang hadis. Sebagiamana juga diungkapkan Syaikh Manna‘al-Qathhan dalam karyanya: Mabahis fii Ulum al-Hadits, bahwa:

نيودتلا هناف عجم بتكلما نم فحصلا فى

هبيترتورودصلا تىح

نوكي في اتك ب دحاو

“Tadwin ialah mengumpulkan sesuatu yang tertulis dari lembaran- lembaran dan hafalan dalam dada, kemudian menyusunnya hingga menjadi satu kitab”.

Jadi, dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa kodifikasi hadis merupakan upaya penghimpunan tulisan-tulisan hadis yang telah disusun dengan berbagai prosedur hingga terbentuk suatu mushaf resmi yang dapat dijadikan sumber referensi islamologi yang kredibel dan akuntabel.

Kodifikasi hadis yang dimaksud mencakup segala macam model yang dilakukan oleh para ulama hadis sejak diberlakukan perintah pembukuan hingga sekarang.1

1Rohasib Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis”, AL-THIQAH: Jurnal Ilmu Keislaman 6, no.1 (2023): hal.2, accessed February 5, 2024,

https://ejurnal.stiuda.ac.id/index.php/althiqah/article/view/86

(7)

4

Tradisi penulisan dan penyebaran Hadis sebagaimana telah diketahui dalam abad pertama hijriyah dari zaman Rasul, Khulafa al-Rasyidin hingga abad pertama hijriah masih bersandar pada hafalan para sahabat dan tulisan- tulisan hadis pribadi dari sahabat yang tersebar dalam beberapa catatan mereka. Penulisan bahkan pembukuan hadis sempat menjadi perbincangan para sahabat dizaman Rasulullah hingga khulafaurrasyidin. Hal tersebut disebabkan adanya dua sisi nash hadis yang redaksinya kontradikif.

نع بيأ ديعس يردلخا نأ لوسر الله ىلص الله هيلع ملسو لاق :

« لا اوبتكت نَمو ،نيع

بتك

َيغ نيع نآرقلا هُحْمَيْلَ ف اوثِّ دحو ،

ِّ نيع

،جَرَح لاو نَمو يلع بذك

- لاق ماهم : هبِّسحأ

لاق اًدِّ معتُم : أ وبَتَ يْلَ ف -

هَدَعْقَم نِّم انلا

“Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda: Jangan kalian tulis dariku selain Al-Quran, dan barang siapa yang (telah) menulis dariku selain Al-Quran, hendaklah ia menghapusnya, dan ceritakanlah dari saya dan tidak mengapa, dan barangsiapa yang berdusta atas saya (kata hammam saya mengira dia mengatakan) dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat (duduk) nya di neraka.”

Menurut Khatib al-Baghdadi ada banyak hadis terkait pelarangan Nabi terhadap penulisan hadis, namun yang masyhur adalah hadis dari Abu Sa‘idal- Khudri di atas. Dari hadis ini, dapatlah dipahami bahwa, yang boleh ditulis tetang apa yang disampaikan oleh Nabi kepada para sahabatnya hanyalah ayat- ayat Al-Qur‘an saja. Hal ini dikhawatirkan ayat-ayat Al-Qur’an tidak tercampur dengan tulisan-tulisan lainnya, termasuk dengan hadis. Imam Khotib Al Bagdadi mengatakan bahwa alasan tidak berkenanya kodifikasi atau pencatatan hadis nabi pada periode pertama supaya mereka tidak mengungguli atau mengalahkan Al-Qur’an dengan selainnya, sibuk pada kitab-kitab selain Al-Qur’an dan mengabaikan Al-Qur’an itu sendiri. Imam Khatib Al-Bagdadi memberi alasan dalam kebolehan kodifikasi hadis nabi dalam kitabnya pada bab ke 3 hal 64, bahwa riwayat-riwayat yang

(8)

5

membolehkan sudah ada, sanadnya pun sudah jelas, perowi-perowinya sudah banyak, ibaratnya dengan teks-teks yang berbeda beda, dan daya ingat seseorang pun semakin berkurang. Dengan alasan alasan tersebut maka sudah layak hadis hadis nabi dicatat maupun dibukukan. dan sangat relevan pula periode setelah sahabat nabi banyak kitab kitab hadis dengan tujuan menjaga kakuratan dan kebenaran periwayatan hadis, oleh karenanya imam khotib al bagdadi sangat objektif dalam menyikapi perbedaan pandangan mengenai kodifikasi hadis nabi.2

1. Kodifikasi Hadis Abad Kedua Hijriah

Berawal dari meluasnya dakwah Islam hingga pada daerah-daerah di luar Jazirah Arab mengakibatkan para sahabat terpencar ke berbagai wilayah dalam menyampaikan risalah kenabian. Disamping itu, terdapat pula kekhawatiran akan lenyapnya hadis seiring dengan wafatnya ulama dari kalangan para sahabat dan tabi‘in. Periode abad kedua hijriyah ini dikenalsebagai masa penulisandan pentadwinan hadis. Dimulai pada masa pemerintahan bani Umayyah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sampai menjelang akhir angkatan pertama dinasti Abassiyah. Pada masa ini pengkodifikasian hadis dilakukan secara resmi atas perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz, dengan beberapa pertimbangan yang melatar belakanginya.

Melalui instruksinya kepada Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm (gubernur Madinah) dan para ulama Madinah agar memperhatikan dan mengumpulkan hadis dari para penghafalnya. Khalifah menginstruksikan kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Hazm (w. 117 H.) agar mengumpulkan hadis-hadis yang ada pada 'Amrah binti 'Abd al-

2 M.Taufiq Hidayat dkk, “Kodifikasi Hadis Nabi Prespektif Imam Khatib Al- Baghdadi Dalam Konteks Pendidikan Agama Islam”, Al Ulya: Jurnal Pendidikan Islam 8, no,2 (2023) hal.202

(9)

6

Rahman al-Ansari, murid kepercayaan 'Aishah, dan al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar (w. 107 H). Instruksi yang sama ia tunjukkan pula kepada Muhammad bin Shihab al-Zuhri (w. 124 H.), yang dinilainya sebagai orang yang lebih banyak mengetahui hadis dari pada yang lainnya.

Dari para ulama inilah, kodifikasi hadis secara resmi awalnya dilakukan.3 Dalam pengkodifikasian hadist secara resmi, ada beberapa strategi yang dilakukan oleh khalifah umar bin abdul aziz, antara lain: pertama tahapan pengumpulan shahifah, kedua perintah kepala negara, ketiga metode sanad dengan susunan hadist secara sistimatis, penyaringan hadist, dan mengecek kembali para periwayat hadist baik sezaman atau tidak sezaman kemudian menetapkan syarat-syarat perawi dan fokus penyaringan kepada matan sanad dan rawi. Ide para ulama hadist dalam membukukan hadist yang sahih saja. Dari semua data yang didapatkan oleh peneliti hadist pada masa itu dijadikan sebuah ilmu hadist atau husthalah hadist, dan dari itu pula nampak dengan jelas atau terjadi pengklasifikasian Hadist antara dirayah dan riwayah serta cabang-cabang dari kedua akar ilmu hadist ini.4

Perintah 'Umar tersebut di atas direspon positif oleh umat Islam sehingga terkumpul beberapa catatan-catatan hadis. Hasil catatan dan penghimpunan hadis berbeda-beda antara ulama yang satu dengan yang lain. Abu Bakar ibn Hazm berhasil menghimpun hadis dalam jumlah yang menurut para ulama kurang lengkap. Sedang ibn Shihab al-Zuhri berhasil menghimpunnya lebih lengkap. Sungguhpun demikian, kitab himpunan hadis-hadis mereka tidak ada yang sampai kepada kita. Ulama setelah al- Zuhri yang berhasil menyusun kitab tadwin yang bisa diwariskan kepada

3 Idris dkk, Studi Hadis, (Surabaya:UIN Sunan Ampel Press,2014) hal.102

4 Munawarsyah, “Sejarah Resmi Kodifikasi Hadits Nabi Muhammad SAW Sebagai Sumber Hukum Islam”, Universal Grace Journal: Scientific Multidisciplinary 1, no.1 (2023)

(10)

7

generasi sekarang, adalah Malik ibn Anas (93-179 H.) di Madinah, dengan hasil karyanya bernama al- Muwatta', sebuah kitab yang selesai disusun pada tahun 143 H dan merupakan kitab hasil kodifikasi yang pertama.

Kitab ini di samping berisi hadis marfu, yaitu hadis yang disandarkan pada Nabi juga berisi pendapat para sahabat (hadis mawquf) dan pendapat para tabi'in (hadis maqțu).5

Beberapa aspek yang melatarbelakangi gagasan Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan hadis secara resmi, diantaranya adalah:

a) Sebelumnya hadis tersebar dalam lembaran dan catatan sahabat, dimana masing-masing sahabat memiliki catatan sendiri, seperti sahifah Abdullah ibn Umar, Jabir dan Hammam ibn Munabbih. Para ahli hadis menyerahkan urusan penulisan hadis kepada hafalan- hafalan para sahabat yang lafaz nya diterima dari Nabi, ada juga sahabat yang hanya tahu maknanya tetati tidak hafal lafaznya, sehingga terjadilah perselisihan riwayat penukilan sekaligus perowinya. Oleh karena itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz khawatir jika nanti hadis Rasulullah disia-siakan oleh umatnya.

b) Pada masa Nabi ataupun masa Sahabat, penulisan dan penyebaran hadis masih bersifat kolektif individual, ditambah lagi dengan kemampuan para sahabat yang berbeda-beda dalam menerima hadis. Dengan melihat kondisi maka dikhawatirkan terjadinya penambahan atau pengurangan pada lafaz-lafaz hadis yang diriwayatkan.

c) Dengan semakin luasnya kekuasaan islam di berbagai Negara serta memiliki pengaruh besar di tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan sebagian benua Eropa. Hal ini membuat para sahabat tersebar luas di berbagai Negara, disamping kecintaan para sahabat dalam

5 Idris dkk, Studi Hadis, (Surabaya:UIN Sunan Ampel Press,2014) hal.104

(11)

8

mencari ilmu pengetahuan mereka melakukan perjalanan di berbagai Negara, ditambah lagi berbagai masalah yang kompleks membuat hafalan para sahabat berkurang, apalagi banyak juga para sahabat yang meninggal saat di medan perang dalam membela Islam. Untuk itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa khawatir dan cemas terhadap hadis yang berbeda pada hafalan sahabat yang akan hilang begitu saja.

d) Bermunculannya hadis-hadis palsu, terutama setelah wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib sampai pada masa dinasti Umayyah, sehingga kondisi demikian menyebankan masing-masing dari mereka untuk mendatangkan keterangan-keterangan hadis yang diperlukan sebagai keabsahan golongan mereka sebagai golongan yang paling benar.6

2. Latar Belakang Kodifikasi Hadis Abad Ketiga Hijriah

Perkembangan ilmu keislaman yang pesat menjadikan abad ke-3 diwarnai dengan bentrokan pemahamanantara golongan madzhab fiqh, maupun madzhab ilmu kalam. Ulama hadis pada abad ke-3 ini, menghadapi kedua golongan tesebut. Madzhab fikih misalnya, diantara mereka tidak segan-segan untuk membuat hadis-hadis palsu dengan maksud memperkuat argument madzhabnya dan untuk menuduh lawan madzhabnya. Kemudian kelompok ilmu kalam, khususnya kaum Mu‘tazilah sangat memusuhi ulama hadis. Sikap mereka memaksakan pendapatnya dengan membuat hadis-hadis palsu. pertentangan pendapat itu masih berada pada tingkat ketegangan-ketegangan antar golongan.

Pada awal pemerintahan Khalifah Ma’mun (abad ketiga hijriyah) kaum

6 Riska Yunitasari, “Masa Kodifikasi Hadits Meneropong Perkembangan Ilmu Hadits Pada Masa Pra-Kodifikasi hingga Pasca Kodifikasi”, Ar-Risalah: Media Keislaman, Pendidikan dan Hukum Islam 18, no.1 (2020), hal 108

https://www.ejournal.iaiibrahimy.ac.id/index.php/arrisalah/article/download/980

(12)

9

Mu’tazilah memiliki ruang untuk terang-terangan menyebarkan pemahamannya, khususnya tentang sifat Al-Quran yang dipahami dan diyakini hadis (baru). Dalam hal ini khalifah ma’mun sependapat dengan kaum mu’tazilah, sehingga tantangan ulama hadis semakin besar karena menghadapi pemerintahannya sendiri.

Adapun ulama abad ke tiga hijriah yang memiliki peran penting dalam pentransmisian dan kodifikasi hadis di antaranya: Ali Al-Madini, Yahya bin Ma’in, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Zar’ah Al-Razi, Ahmad bin Hambal, Imam AlBukhari, Imam Muslim, Imam Al-Nasa’i, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah. Ulama hadis di abad ketiga memiliki peran yang sangat besar dalam kodifikasi hadis, sehingga di abad ini dikatakan sebagai puncak kodifikasi hadis besarbesaran. Bahkan hasil kodifikasi di abad ini menjadi rukjukan primer atau menjadi kitab induk dari hadis- hadis Nabi. Adapun kitab-kitab induk yang dikodifikasi di abad ini diantaranya: Kitab Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Al-Turmudzi, Sunan Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Ke enam kitab ini dikenal.7

3. Kodifikasi Hadis Abad Keempat Sampai Keenam Hijriah

Sedangkan di abad kempat hijriyah, lahirlah ulama-ulama besar seperti, Imam Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi, Imam Ad-Daruqutni, Imam Ibnu Hibban, Imam At-Thabrani dan Imam Abu Jakfar Ahmad bin Muhammad At-Thahawi. Di anatara kitab-kitab induk yang ditulis di abad empat, yaitu Mustadrak karya Imam Hakim, Sunan Ibnu Hibban, Sunan Ad-Daruqutni dan Al-Mu’jam Al-Kabir, Al-Mu’jam AlAwsath dan Al- Mu’jam As-Shawir karya Imam At-Thabrani.

7 Moh. Jufriyadi Sholeh, "Tipologi Kodifikasi Hadis-Hadis Nabi Muhammad Saw”

Dirosat: jurnal of Islamic studies 5”, no.1 (2020)

(13)

10

Periode ini terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah angkatan ke-2 (Khalifah Al-Muqtadirsampam Khalifah Al-Mu’tasim). Periode ini disebut Masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan penghimpunan.

Periode ini muncul pujangga-pujangga ahli abad ke-4 dan seterusnya yang digelari muta’akhkhirin. Kebanyakan hadis yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab –kitab mutaqaddimin. Sedikit yang dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para penghafalnya. Para ulama hadis banyak menekuni upaya menghafal dan memelihara dibandingkan membukukan. Upaya menghafal terus berkembang dengan signifikan, sehingga ada di antara mereka yang menghafal 100.000 hadis yang digelari hafizh, ada yang menghafal 300.000 hadis disebut sebagai hujjah, sedangkan yang lebih jauh dari jumlah itu digelari hakim. Adapun Bukhari, Muslim, Ahmad, Sufyan Ats-Tsaury dan Ishaq Bin Rahawaih dikalangan mutaqaddimin dan Ad-Daruquty dikalangan muta’akhkhirin digelari amir al-mu’minin fi al-hadis.

4. Kodifikasi Hadis Abad Keenam Hijriah Sampai Sekarang

Sejak Baghdad dihancurkan oleh Hulagu Khan, kegiatan perkembangan hadis berpindah ke Mesir dan India. Dalam masa ini banyak kepala-kepala pemerintahan berkecimpung dalam bidang ilmu hadis. Pada periode ini disebut “Masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan dan pembahasan”. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Ulama dalam masa ini adalah menerbitkan buku-buku hadis, menyaringnya dan menyusun kitab Takhrij dan kitab Jami’ yang bersifat umum. Pada masa ini juga disusun kitab-kitab zawa‘id, seperti kitab Zawa’id karya Ibnu Majah, kitab Zawa’idas-Sunnah al-Kubrakarya al-Bushiry, al-Imam fi Ahadits al-Ahkam karya Ibnu Daqiq al-Ied, dan masih banyak yang

(14)

11

lainnya. Intinya pada masa ini banyak bermunculan Ulama-ulama hadis dengan berbagai macam kitab karya mereka.8

B. Urgensi Pembahasan Kitab-Kitab Hadis

Studi hadis Nabi saw di Indonesia, sebagaimana juga di dunia Islam lainnya, telah berlangsung sejak agama Islam itu ada dan berkembang disana.

Hal ini mengingat hadis menempati posisi sebagai sumber hukum dalam sistem hukum Islam (al-Tashri’ al-Islami) setelah Al-Qur’an, yang merupakan pedoman dan tuntunan bagi umat Islam dalam melakukan seluruh aktivitasnya, baik masalah ibadah, budi pekerti, sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat, dan lain sebagainya. Hadis merupakan sikap dan perilaku Nabi Muhammad saw dalam kehidupan seharihari, yang tidak terlepas dari tuntunan Allah sawt yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, sudah sepantasnya dijadikan suri tauladan bagi umat manusia. Akan tetapi, tidak sedikit jumlah hadis yang pemahamannya sering menyesatkan, padahal Hadis itu fungsinya sebagai pembenaran hukum untuk kehidupan manusia setelah Al-Quran.9

Namun keduanya, Al-Qur’an dan hadis tidak sama dalam periwayatannya, Al-Qur’an periwayatannya mutawatir sehingga statusnya qat’i (pasti), sedangkan hadis di samping ada yang mutawatir, namun yang banyak diriwayatkan secara ahad, sehingga statusnya zanni (ragu-ragu atau tidak pasti). Untuk menghilangkan keragu-raguan dalam mengenali hadis, mengetahui otentisitas dan tingkat validitas hadis yang bersumber dari Rasulullah yang sebenarnya, diperlukan suatu penelitian yang cermat.

Perhatian umat Islam cukup besar terhadap hadis Nabi saw, sejak masa

8 Rohasib Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis”, AL-THIQAH: Jurnal Ilmu Keislaman 6, no.1 (2023): hal.14

9Agusman Damanik, “Urgensi Studi Hadis di UIN Sumatera Utara”, Shahih: Jurnal Kewahyuan Islam, (2017), hal. 83

https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/shahih/article/download/1886/1515

(15)

12

sahabat mereka berusaha mengumpulkannya semaksimal mungkin dan menyampaikannya kepada orang lain sebagaimana mestinya. Oleh karena itu hadis yang disampaikan tersebut harus benar-benar terjaga kesahihannya.

Dalam dunia pendidikan islam maka sumber dari pendidikan islam tersebut tidak terlepas dari Al-Qur’an dan hadis. Urgensi Hadist memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan keilmuan pendidikan, khususnya dalam pendidikan dimana Hadist merupakan penjelasan yang kongkrit dari Al–Quran.10

Kodifikasi hadis Nabi pun memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keaslian dan keotentikan hadis nabi. Memahami Ajaran Islam yang Autentik, Mencegah Penyebaran Informasi Palsu (membantu dalam memerangi penyebaran informasi palsu dan ekstremisme), Melindungi Kredibilitas Agama (menjaga agar ajaran Islam tetap otentik dan tidak tercemar oleh informasi yang salah atau terdistorsi), umat Islam dapat merujuk pada hadis-hadis sahih untuk memahami cara Nabi menjalani hidupnya, baik dalam ibadah, etika, hubungan sosial, atau kehidupan sehari-hari lainnya, berkontribusi pada perkembangan pemikiran Islam kontemporer para ulama dan intelektual Muslim dapat menghasilkan pemikiran yang relevan dengan zaman mereka dan merespons tantangan dan isu-isu modern, melibatkan kajian kritis, metodologi penelitian, dan pemahaman terhadap konteks sejarah membantu umat Islam untuk menjadi lebih terdidik, kritis, dan mampu menilai informasi dengan bijak, bukan hanya dalam konteks agama, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari mereka.

C. Jenis-Jenis Kitab Hadis

10 Juwi Chahnia dkk, “Urgensi Hadis Dalam Dunia Pendidikan Islam”, Raziq:

Jurnal Pendidikan Islam, (2023)

(16)

13

Kitab-kitab hadis pada abad kedua hijriyah diantara kitab-kitab hadis yang disusun pada abad II hijriyah:

1) Al-Muwattha’, disusun oleh Imam Malik bin Anas, atas permintaan khalifah Abu Ja‘far Al-Manshur.

2) Musnad Asy-Syafi’i, susunan Imam Asy-Syafi‘i. Kitab hadis ini merupakan kumpulan hadis-hadis yang terdapat dalam kitab beliau yang bernama Al-Umm‘.

3) Mukhtaliful Hadis, disusun oleh Imam Asy-Syafi‘i. Di dalamnya dibahas tentang cara-cara menerima hadis sebagai hujjah dan cara-cara mengkompromikan hadis yang tampak kontradiksi satu sama lain.

4) As-Siratun Nabawiyah, disusun oleh Ibnu Ishaq. Antara lain, berisi tentang pelajaran hidup Nabi dan peperangan-peperangan zaman Nabi.11

Kitab-kitab hadis yang tersusun pada abad ketiga hijriyah antara lain:

1) Al-Musnad, susunan Musa Ibn Abdillah al-Abasy.

2) Al-Musnad, susunan Musaddad Ibn Musarhad.

3) Al-Musnad, susunan Abu Daud ath-Thayalisy (kitab ini dikumpulkan oleh para penghafal hadis berdasar kepada riwayat Yunus Ibn Habib dari Ath-Thayalisy).

4) Al-Musnad, susunan Nu‟aim Ibn Hammad.

5) Al-Musnad, susunan Abu Ya‟la al-Maushily.

6) Al-Musnad, susunan Al-Humaidy.

7) Al-Musnad, susunan Ali al-Madiny.

8) Al-Musnad, susunan Abed Ibn Humaid.

9) Al-Musnad al-Mu‟allal, susunan Al-Bazzar.

11 Rohasib Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” Al-Thiqah : Jurnal Ilmu Keislaman 6, no. 1 (April 30, 2023): h. 7, accessed February 5, 2024, https://ejurnal.stiuda.ac.id/index.php/althiqah/article/view/86.

(17)

14

10) Al-Musnad, susunan Baqy Ibn Makhlad (201-296 H), musnad ini paling luas isinya daripada musnad-musnad yanng lain.

11) Al-Musnad, susunan Ibnu Rahawaih (237 H).

12) Al-Musnad, susunan Ahmad Ibn Hanbal.

13) Al-Musnad, susunan Muhammad Ibn Nashr al-Marwazy.

14) Al-Musnad, susunan Abu Bakar Ibn Abi Syaibah (235 H).

15) Al-Musnad, susunan Abu al-Qasim al-Baghawy (214 H).

16) Al-Musnad, susunan Utsman Ibn Abi Syaibah (293 H).

17) Al-Musnad, susunan Abu al-Husain Ibn Muhammad al-Masarkhasy (298 H). Dalam musnad ini dikumpulkan seluruh hadis Az-Zuhry.

18) Al-Musnad, susunan Ad-Darimy. Musnad ini disusun menurut bab demi bab Seharusnya digolongkan ke dalam mushannaf. Dinamakan musnad karena hadis yang diriwayatkannya secara musnad. Al- Bukhary pun menamai kitabnya dengan Al-Musnad ash-Shahih.

19) Al-Musnad, susunan Said Ibn Manshur.

20) Al-Musnad, susunan Al-Imam Ibn Jabir.12

Kitab-Kitab Hadis Abad Keempat sampai Keenam Hijriah

Beberapa kitab hadis yang telah disusun pada abad IV sampai keenam hijriyah, antara lain adalah:

1) As-Shahih, susunan Ibnu Khuzaimah (313 H).

2) Al-Anwa‘ wat-Taqsim, susunan Ibnu Hibban (354 H).

3) Al-Musnad, susunan Abu Awanah (316 H).

4) Al-Muntaqa‘, susunan Ibnu Jarud.

5) Al-Mukhtarah, susunan Muhammad bin Abdul Wahid Al-Maqdisy, dan kitab-kitab lain yang disusun dengan model baru.13

12 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 9-10.

13 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 12.

(18)

15

Karya –Karya Hadis Abad Ketujuh Hijriah Sampai Sekarang Kitab-kitab hadis yang telah disusun pada periode ini, di antaranya berupa:

1) Kitab Jami’meliputi; Jami’ul Masanid was Sunan karya Ibnu Katsir (774 H), kitab ini merupakan himpunan dari hadis-hadis yang terdapat di kitabnya bukhari, Muslim, Abu Daud At-Turmudzi, AnNasa‘iy, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Bazzar Abu Ya‘la dan At- Thabary.

2) Jami’ul jawami’ karya as-Suyuthy (911 H), kitab ini menghimpun hadis-hadis dari al-Kutub al-Sittah.

3) At-Taj al-Jami’ lil Ushul li Ahaditsir Rasul, karya syekh Manshur Ali Nashif (Ulama al-Azhar Mesir: diterbitkan pertama kali tahun 1351 H/1932 M).

4) Zadul Muslim fi mat Tafaqa’ ‘alaihil Bukhari wa Muslim, karya Habibullah As-Synqithy. Kitab ini memuat 1200 Hadis yang disepakati Bukhari-Muslim.

5) Al-Lu’lu’u wal Marjan, karya Muhammad Fuad Abdul Baqy. Kitab yang menghimpun hadis-hadis Bukhari-Muslim.

Kemudian banyak lagi karya para ulama muta’akhirin yang memuat hadis-hadis Rasulullah saw dengan berbagai model, antara lain yang disusun berdasarkan masalah tertentu:

1) Bulughul Maram min Adilatillatil Ahkam, oleh Ibnu Hajar Al- Asqalany.

2) Kitab Syarah Fathul Bary, oleh Ibnu Hajar al-As-Asqalany,

3) Kitab Mukhtashar Shahih Muslim oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi, dan lain sebagainya.14

14 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 15.

(19)

16

D. Pengertian Jenis Kitab Hadis dan Contoh 1. Jami’

Kitab Jami’, yakni kitab hadis yang menghimpun beberapa hadis Nabi yang telah termuat dalam kitab-kitab yang sudah ada. Contoh-contoh:

a) al-Jami Bainas Shahihaini susunan Ibnul Furat (Ismail Ibnu Muhammad) (414 H).

b) al-Jami’ Bainas Shahihaini susunan Muhammad Ibnu Nasr al- Humaidy (488 H)

c) al-Jami’ Bainas Shahihaini susunan al-Baghowy (516 H).

d) Tajridus Shihah susunan Razim Muawiyah.

e) Al-Jami’ susunan Ibnu Kharrat (582 H).

f) Mashabihus Sunnahsusunan al-Baghawi (516 H), yang kemudian disaring oleh al-Khatib at-Tabrizy dengan judul Misykatul Mashabih.15

2. Sunan

As-Sunan adalah bentuk jamak dari kata Sunnah. Dalam realitas kitab- kitab hadis penyandaran kepada Rasulullah mencakup keadaan dan perjalanan hidup beliau yang terjadi sesudah maupun sebelum kerasulan. Sunan merupakan kitab yang mengumpulkan hadis-hadis marfu’ (hadis yang sanadnya sampai pada nabi) yang berkaitan dengan hukum yang disusun berdasarkan bab kitab Fiqh. Kitab-kitab sunan ialah kitab-kitab yang penulisnya tidak dimasukkan ke dalam hadis-hadis yang munkar dan yang sepertinya.16

15 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 13-14.

16 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 10.

(20)

17

Kitab hadis yang dimaksud disini adalah kitab hadis yang pengarangnya memiliki sanad sendiri ke Rasulullah, bukan kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan kajian fiqih, tetapi pengarangnya tidak memiliki sanad sendiri dan koleksi hadisnya merupakan hasil takhrij dari kitab-kitab hadis karya ulama lain.17 Contoh-contoh:

a) Sunan Abû Dawûd yang ditulis oleh Abû Dawûd bin Sulaymân al- Sijistan (202-275 H).

b) Sunan al-Tirmidzi karya Abû ‘Isâ Muhammad ibn ‘Isâ ibn Sawrah al- Tirmidzi (209-279H). Sunan at-Tirmidzi sebenarnya kalau ditinjau dari isinya masuk dalam katagori kitab AlJami’,yaitu kitab yang tidak hanya mengoleksi hadis-hadis fiqih saja, tetapi meliputi hadis-hadis keagamaan yang lain, seperti akidah, etika, tafsir, manaqib, do’a-do’a dan lainnya.18 Pada era ini, istilah-istilah baru yang berdasarkan pada klasifikasi kualitas Hadits bermunculan, di antaranya Hadits hasan.

Istilah ini dimunculkan oleh al-Tirmidzî, sebelumnya ulamâ’ hanya membagi Hadits kepada dua kategori yakni, Hadits shahîh dan dha’if Karena kitab al-Tirmidzî banyak memuat Hadits hasan, maka kitab ini populer pula dengan sebutan kitab Hadits hasan.19

c) Sunan al- Nasa`i (al-Mujtabâ) oleh Ahmad ibn Syu`ayb ibn Alî ibn Sinan ibn Bahr alias Abû Abd al Rahman al-Nasa`i (215-303 H).

d) Sunan Ibn Majah, karya Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qaswini (w. 275 H.).

17 Moh Jufriyadi Sholeh, “Studi Kitab Hadis: Tipologi Kitab Sunãn, Muwatṭa’ Dan Muṣannaf,” El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat 4, no. 2 (December 21, 2020): h.

245-246, accessed February 4, 2024, https://www.ejournal.idia.ac.id/index.php/el- waroqoh/article/view/934.

18 Sholeh, “STUDI KITAB HADIS,” h. 253.

19 Arif Wahyudi, “MENGURAI PETA KITAB-KITAB HADITS (Kajian Referensi Atas Kitab-Kitab Hadits),” AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial 8, no. 1 (2013): h.

7, accessed February 4, 2024,

https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/alihkam/article/view/337.

(21)

18

e) Sunan Ad-Darimi, karya Abdullah bin Abdurrahman al-Darimi (w.

255 H.).

f) Sunan al-Baihaki, karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husaein Al- Baihaqi (w. 458 H.).20

3. Musnad

Secara bahasa, arti musnad adalah yang disandarkan. Sedang dalam istilah ilmu hadis adalah Kitab yang di dalamnya terdapat hadis-hadis yang disusun berdasarkan nama sahabat nabi dengan menggunakan hufur hijaiyah, yang lebih dulu masuk Islam atau lebih mulianya nasab. Kitab-kitab musnad ialah kitab-kitab yang penyusunannya memasukkan ke dalamnya segala rupa hadis-hadis yang diterima, dengan tidak menyaring dan tidak menerangkan derajat-derajatnya.21

Dengan penyebutan dari generasi awal, bisa dicontohkan bahwa Shahifah Hammam ibn Munabbih, seorang tabi'in dan murid Abu Hurairah, beliau tulis dari majelis taklim gurunya, Abu Hurairah yang mengimamkan hadis kepada murid-muridnya di Masjid Nabawi, dan ditulis pada pertengahan abad I H., kemudian ditulis lagi oleh murid Hammam, yakni Ma'mar dalam Jami' Mamar secara parsial. Kemudian murid Ma'mar, Abdurrazzaq mengkompilasi Shahifah Hammam ke dalam kitab hadis yang disusunnya, Mushannaf Abdurrazzaq. Kemudian Ahmad ibn Hanbal, murid Abdurrazzaq mengkompilasi semua hadis yang ia terima. dari guru-gurunya ke dalam Musnad Ahmad. Hanya saja apa yang terdapat Shahifah Hammam dalam Musnad Ahmad terkumpul lagi dalam satu bab karena sistematika penulisan musnad adalah mengumpulkan hadis-hadis berdasarkan nama sahabat yang

20 Sholeh, “STUDI KITAB HADIS,” h. 247.

21 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 10.

(22)

19

meriwayatkannya, yang dalam hal ini adalah Abu Hurairah. Singkat kata, Shahifah Hammam terintegrasi ke dalam Jami' Ma'mar lalu ke dalam Mushannaf Abdurrazzaq kemudian ke dalam Musnad Ahmad dan seterusnya ke dalam puluhan kitab-kitab hadis lainnya. Apalagi Shahifah Hammam, Jami' Ma'mar dan Mushannaf Abdurrazzaq telah ditemukan dan diedit.22 Contoh- contoh:

a) Abû Dawûd Sulaymân ibn al-Jarrad al-Tayyalasi (133-204 H), Orang pertama yang menyusun Hadits dengan konsep ini.

b) Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, yang disusun oleh Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal bin Hilâl (164-241 H). Kitab ini berisi 40.000 Hadits, diulang-ulang sekitar 10.000. Putranya yang bernama Abdullâh menambahkan sekitar 10.000 Hadits, demikian pula rawî yang meriwayatkan dari Abdullâh, yaitu Ja`far al-Qathi`i, memberikan beberapa tambahan di dalamnya. Seperti diketahui, bahwa Ahmad ibn Hanbal telah terlebih dahulu meninggal dunia sebelum memperbaikinya. Oleh karena itu, yang berperan dalam mengurutkan kitab Musnad itu adalah anaknya, Abdullâh. Sedangkan yang mengurutkan Musnad berdasarkan huruf hija`iyah adalah Abû Bakr Muhammad ibn Abdillâh al-Muqaddasi. Karena sistematika yang dipakai adalah Musnad, maka pencarian Hadits dalam kitab ini harus berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkan, dimulai dari Musnad Abû Bakr dan diakhiri dengan Musnad Fâthimah bint Abî Jaysy.23

4. Mu‘jam

22 Irfan Salim, “Hadis Dan Orientalisme: Studi Terhadap Tadwin Hadis Menurut Para Orientalis,” Al Qalam 24, no. 2 (August 31, 2007): h.253-254, accessed February 4, 2024, https://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/alqalam/article/view/1634.

23 Wahyudi, “MENGURAI PETA KITAB-KITAB HADITS (Kajian Referensi Atas Kitab-Kitab Hadits),” h. 5.

(23)

20

Dalam istilah ahli bahasa kata Mu‘jam mempunyai arti susunan materi sebuah buku yang berdasarkan huruf hija’iyah. Adapun dalam istilah ahli hadis, kata Mu‘jam didefinisikan sebagai kitab yang di dalamnya berisi hadis- hadis sesuai dengan susunan para guru, baik berdasarkan urutan wafat, kesamaan huruf hija’iyah, keutamaan, keunggulan dalam ilmu maupun ketakwan guru tersebut. Namun pada umumnya kitab tersebut disusun berdasarkan urutan huruf hija’iyyah.

Dalam kitab Mu‘jam, al-Baghawi menyusunnya sesuai dengan nama- nama para sahabat berdasarkan huruf abjad. Pertama-tama ia menyebutkan biografi sahabat tersebut, terkadang secara ringkas, terkadang juga secara detail. Kemudian ia menyebutkan riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaan para sahabat tersebut, terkadang tanpa sanad dan terkadang pula menggunakan sanad. Selanjutnya ia menuliskan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tersebut.24 Contoh-contoh:

Beberapa kitab mu’jam yang paling populer yaitu:

a) Al-Mu’jamul Kabir karya Imam Ath-Thabrani.

b) Al-Mu’jamul Ausath karya Imam Ath-Thabrani.

c) Al-Mu’jamush Shaghir karya Imam Ath-Thabrani.25 d) Mu‘jam Abi Bakr al-Isma‘ili (277-371 H).

e) Mu‘jam Ibn Jumay‘(305-402 H).26

f) Al-Mu‘jam asy-Syâmil li at-Turâts al-‘Arabî al-Mathbû‘ karya Dr.

Muhammad ‘Isa Shalâhiyyah(1992 M).27

24 Muhammad Kudhori, “Tipologi Kodifikasi Kitab Hadis Al-Ma’aJim,” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 17, no. 1 (June 30, 2018): h. 89, accessed February 4, 2024, https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/ushuluddin/article/view/2039.

25 Kudhori, “Tipologi Kodifikasi Kitab Hadis Al-Ma’aJim,” h. 90.

26 Kudhori, “Tipologi Kodifikasi Kitab Hadis Al-Ma’aJim,” h. 94.

27 ’Isham Mohammad El-Syahthiy, Instrumen-Instrumen Penelitian Naskah Manuskrip Arab, trans. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar (Yogyakarta: CV. Bildung Nusantara, 2020), h. 35.

(24)

21 5. Mushannaf

Kitab mushannaf dalam studi kitab-kitab hadis memiliki maksud yang sama dengan kitab muwatta’, yaitu kitab yang disusun berdasarkan kajian ilmu fiqih dan koleksi hadisnya tidak hanya terbatas pada hadis-hadis marfu’ saja, tetapi juga banyak mengoleksi hadis-hadis mauquf dan maqtu’. Perbedaan keduanya hanyalah pada penamaan saja.28 Contoh-contoh:

a) Al-Mushannaf, karya Abu Bakr bin Abd Ar-Razzaq As-Shan’ani (w.

211 H)

b) Al-Mushannaf, karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Syaibah al-Kufi (w. 235 H)

c) Al-Mushannaf, karya Baqi bin Mukhallad al-Qurtubi (w. 276 H.).29

6. Zawa’id

Kitab zawa’id adalah kitab yang berisi hadits-hadits yang terdapat di beberapa kitab tertentu, dan hadits-hadits tersebut tidak ditemukan dalam beberap kitab hadits lain. Contoh-contoh:

a) Kitab Mishbahuz Zujajah fi Zawa’idi Ibn Majah Karya Abil ‘Abbas Al-Bushiri, Kitab ini berisi hadits-hadits yang terkandung dalam Sunan Ibn Majah dan tidak ditemukan dalam lima kitab induk lain, yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, An- Nasa’i, dan At-Tirmidzi.

b) Kitab Majma’uz Zawaid karya Al-Hafizh Al-Haitsami, kitab ini menghimpun hadits-hadits yang terdapat pada Musnad Ahmad, Musnad Abi Ya’la, Musnadul Bazzar, dan tiga kitab Mu’jam Ath- Thabrani, yang mana hadits-hadits tersebut tidak ada di enam kitab

28 Sholeh, “STUDI KITAB HADIS,” h. 246.

29 Sholeh, “STUDI KITAB HADIS,” h. 247.

(25)

22

induk (Al-Kutubus Sittah). (Ath-Thahhan, Ushulut Takhrij, halaman 104; dan ‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 182).

7. Masyyakhah

Masyyakhah adalah kitab yang tergabung di dalamnya nama-nama guru.

Guru-guru itu dijumpai para pengarang lewat belajar berbagi ilmu pengetahuan kepadanya hingga sampai memeroleh pengakuan (ijazah).

Contoh-contoh:

a) Masyyakhah Abu al-Mawâhib al-Hanbalî ad-Dimasyqî (w.

1126/1714), yaitu Masyyakhah yang menjelaskan wawasan pengetahuan seorang pengarang dan buku-buku yang telah beredar serta menjelaskan model pengajaran yang berkembang pada waktu itu.

Sang pengarang Masyyakhah menyusun Masyyakhah-nya berdasarkan tampilan biografi dari tiap-tiap guru. Maka, disebutkanlah nasabnya, mazhabnya, negerinya, ketenarannya dalam ilmu pengetahuan, guru-gurunya, perkelanaannya, pengajaran-pengajaran yang ia sampaikan, karyakaryanya serta tahun wafatnya.

b) Masyakhah Abu al-Mawâhib al-Hanbalî telah diterbitkan tahun 1410/1990 di Damaskus dengan tahqîq Muhammad Muthî‘ al- Hâfizh.30

c) Kitab masyyakhah Mu’jam Ausath, masyyakhah yang ditulis oleh ulama itu sendiri yaitu Ath-Thabrani, dalam kitab tersebut beliau mengumpulkan hadits-hadits yang beliau dapat dari para gurunya.

d) Tasyniful Asma’ karya Syekh Mahmud Sa’id Mamduh, salah satu murid Syekh Yasin Padang. Beliau mencatat nama-nama guru Syekh Yasin beserta biografi dan kitab apa saja yang dipelajari Syekh Yasin

30 ’Isham Mohammad El-Syahthiy, Instrumen-Instrumen Penelitian Naskah Manuskrip Arab, h. 73-74.

(26)

23

dari masing-masing guru tersebut. (‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 182; dan Al-Auni, Muqarrarut Takhrij, halaman 71).

8. Mustadrak

Al-Mustadrak memiliki arti yang disusulkan. Dalam istilah ilmu hadis, kitab al-Mustadrak adalah kitab hadis yang menghimpun beberapa hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya.

pengarang kitab al-Mustadrak berpatokan pada sebuah syarat pengarang kitab lain (yang shahih) dan syarat ini dijadikan ukuruan untuk hadis-hadis lain yang tidak ada dalam kitab tersebut. Jika hadis tersebut memenuhi syarat, maka hadis tersebut dimasukkan dalam kitabnya.31 Contoh-contoh:

a) al-Mustadrâk karya Muhammad ibn Abdullâh al-Hakîm al- Naysabûrî (321-405 H).

b) al-Ilzamat susunan Daraquthny (306-385 H) c) al-Mustadraksusunan Abu Dzar al-Harawy.32 9. Athraf

Kitab Athraf, yakni kitab hadits yang hanya menyebut sebagian dari matan hadis tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanadnya, baik sanad yang berasal dari kitab hadis yang dikutip matannya, maupun dari kitab-kitab lainnya. Kitab ini menghimpun hadits dari kitab induknya, di mana yang ditulis hanyalah bagian atau penggalan dari setiap hadits yang telah diriwayatkan oleh sahabat atau tabi'in. Sistematika pembukuan Athraf dengan menyebutkan pangkal hadis nya saja sebagai petunjuk matan hadis selengkapnya. Metode ini berkembang pada abad IV dan V H.33 Contoh- contoh:

31 Wahyudi, “MENGURAI PETA KITAB-KITAB HADITS (Kajian Referensi Atas Kitab-Kitab Hadits),” h. 7.

32 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 13.

33 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 13.

(27)

24

a) Athrafus Shahihaini susunan Abu Mas'ud Ibrahim ibn Muhanmmad ibn Ubaid al-Dimasyqy (wafat 400 H).

b) Athrafus Shahihaini susunan Abu Muhammad Khalaf Ibnu Muhammad Al-Wasithy (401 H).

c) Athrafus Sunanil Arba’ah susunan IbnuAsakir ad-Damasyqy (571 H).

d) Athrâf al-Kutub al-Sittah yang ditulis oleh Syamsuddin Abu al-Fadhl Muhammad ibn Tahin ibn Ahmd al-Maqdisy (507 H).34

10. ‘Ilal Kitab

‘Ilal adalah kitab yang berisi hadits-hadits yang memiliki ‘illat dan menjelaskan bentuk ‘illat dari setiap hadits tersebut. (‘Itr, Manhajun Naqdi, halaman 185). Contoh-contoh:

a) Al-‘Ilal karya At-Tirmidzi b) Ad-Daruquthni.

11. Mustakhraj

Kitab Mustakhraj, yakni kitab hadis yang memuat matan-matan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian si penyusun meriwayatkan matan-matan hadis tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda, sehingga dinamai mustakhraj. Kitab-Kitab Al- Mustakhraj ini dalam istilah ilmu hadis adalah sebuah kitab yang mana pengarang meriwayatkan hadis-hadis dengan mengambil dari kitab tertentu namun mengambil jalur sanad yang berbeda, penyusun kitab menempuh sanad lewat gurunya namun guru tersebut memiliki sanad yang sama dengan sanad

34 Nining Khurrotul Aini, “Metode Takhrîj Al-Hadîts Kajian Ilmu Hadits,”

Tamaddun Vol 1, no. 2 (March 2017): h. 140.

(28)

25

penyusun Hadits yang di-takhrij atau kedua guru itu bertemu pada sanad di atasnya.35 Contoh-contoh:

a) Mustakhraj Shahih Bukhari susunan Jurjany.

b) Mustakhraj Shahih Bukhari susunan al-Hafizh Abu Bakar Al-Barqany.

c) Mustakhraj Shahih Bukhari susunan al-Hafizh Ibnu Mardawaih.

d) Mustakhraj Shahih Bukhari susunan Al-Ghatrify (377 H).

e) Mustakhraj Shahih Muslim susunan Abu Awanah (316 H).

f) Mustakhraj Shahih Muslim susunan al-Hafizh Abu Uwanah (316 H).

g) Mustakhraj Shahih Muslim susunan al-Hafizh Abu Bakar Muhammad Raja‘.

h) Mustakhraj Shahih Muslim susunan al-Hafizh al-Jauzany (388 H).

i) Mustakhraj Bukhari Muslim susunan Abu Bakar Ibnu Abdan as-Sirazy (388 H).

j) Mustakhraj Bukhari Muslim susunan al-Hafizh Muhammad ibn Ya‘qub yang terkenal dengan nama Ibnu Akhram.

k) Mustakhraj Bukhari Muslim susunan al-Khallal (439 H).

l) Mustakhraj Bukhari Muslim susunan Abu Nu‘aim al-Asbahany (430 H).36

E. Urgensi Kajian Kitab Hadis

Pengertian hadis mempunyai beberapa makna salah satunya ديدجلا yang artinya ‘yang baru’. Kata ديدجلا bermakna sesuatu yang baru atau modern, yang berlawanan dengan kata al-Qadim yang berarti terdahulu. Dalam konteks ilmu hadis, kata hadis yang dimaksud adalah sesuatu yang datang dari Rasulullah

35 Wahyudi, “MENGURAI PETA KITAB-KITAB HADITS (Kajian Referensi Atas Kitab-Kitab Hadits),” h. 7.

36 Maulana, “Historiografi Kodifikasi Hadis,” h. 13.

(29)

26

saw, sementara Al-Qur’an datangnya dari Allah swt.37 Dalam hal ini hadis memiliki arti pembicaraan, perkataan, percakapan, cerita, dan kabar yang terjadi pada masa Rasulullah saw.38

Pengertian hadis secara terminologi, para ulama memberikan pengertian yang berbeda-beda, para ulama hadis pada umumnya memberikan definisi bahwa hadis-hadis disamakan pengertiannya dengan as-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat.39

Hadis merupakan sumber kebenaran kedua setelah Al-Qur’an yang merupakan warisan Nabi Muhammad saw yang sangat berharga bagi umat Islam. Upaya mengkaji hadis telah dilakukan oleh para ulama sejak zaman sahabat hingga saat ini. Darinya muncul berbagai karya, mulai dari kodifikasi hadis oleh para ulama terdahulu hingga kritik terhadap orisinalitas hadis yang dilakukan oleh cendikiawan orientalis. Penelitian ini kemudian turut berkembang di Indonesia.40 Hal ini dilakukan karna hadis merupakan bayan (penjelasan) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih global. Bahkan secara mandiri, hadis dapat berfungsi menetapkan suatu hukum yang belum ditetapkan oleh Al-Qur’an.41

37 Isma Hayati Daulay and Sulasmi, “Hadis Dan Urgensinya Dalam Pendidikan,”

al-Afkar, Journal For Islamic Studies 6, no. 1 (January 20, 2023): hlm. 273.

38 Muhammad Yunus Shamad, “Urgensi Mengajarkan Dan Memasyarakatkan Hadis-Hadis Nabi Saw,” Istiqra` : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam 2, no. 1 (2014):

hlm. 53, accessed February 2, 2024,

https://jurnal.umpar.ac.id/index.php/istiqra/article/view/221.

39 Suryani Suryani, “KONSEP HADIS DAN SUNNAH DALAM PERSPEKTIF FAZLUR RAHMAN,” Nuansa 12, no. 2 (January 17, 2020): hlm. 249, accessed February 3, 2024, https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/nuansa/article/view/2762.

40 Husnul Khotimah, “Urgensi Kajian Hadis di Indonesia: Pemikiran M. Syuhudi Ismail Dan Ali Mustafa Ya’qub,” DIRAYAH : Jurnal Ilmu Hadis 3, no. 2 (May 31, 2023):

hlm. 189.

41 Muhammad Asriady, “Metode Pemahaman Hadis,” Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan 16, no. 1 (April 13, 2019): hlm. 314.

(30)

27

Kajian kitab hadis ini penting dilakukan mengingat kehidupan umat yang semakin rumit. Kompleksitas permasalahan tersebut membutuhkan solusi yang benar-benar dapat memberikan pencerahan. Solusi yang berasal dari sumber yang memiliki otoritas tinggi dan dilegitimasi oleh Allah swt yakni hadis. Dengan demikian seluruh tatanan kehidupan dilandaskan kepada kaidah-kaidah yang benar menurut syariat sesuai dengan pemahaman salafussalih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan satu bentuk apresiasi terhadap pesan-pesan yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ajaran Islam tidak hanya diterima untuk dijalankan dengan penuh ketaatan, namun, lebih jauh lagi untuk dapat dimengerti dan dipahami sebagai satu kesatuan.42

Al-Qur’an sebagai sumber pertama memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum yang perlu dijelaskan lebih lanjut dan terperinci. Di sinilah hadis menduduki dan menempati fungsinya sebagai ajaran kedua, hadis Nabi saw menjadi penjelas bagi Al-Qur’an. Maka, disinilah urgensitas hadis yang mempunyai peran penting sebagai penafsir dan penjelas dari keglobalan isi Al-Qur’an, sehingga manusia dapat mempelajari dan memahami Islam secara utuh. Berikut ini, dikemukakan beberapa fungsi dan urgensi kajian terhadap kitab hadis, yaitu:

1. Hadis berfungsi dalam menetapkan hukum yang belum ada ketetapannya dalam Al-Qur’an.

Hadis menunjukkan suatu kepastian hukum. Misalnya di dalam Al- Qur’an dikatakan bahwa haram hukumnya memakan bangkai, bangkai disini hanya dijelaskan secara umum. Kemudian hadis menetapkan hukum

42 “Almarfu’ Minal Qauli Hukman Hadis Marfu’ Secara Hukum Dari Jenis Perkataan | Jurnal As-Salam” (October 9, 2022): hlm. 130, accessed February 2, 2024, https://jurnal-assalam.org/index.php/JAS/article/view/297.

(31)

28

yang lebih tegas dengan mengatakan bahwa semua bangkai adalah haram kecuali bangkan ikan dan belalang.43

2. Hadis memberikan perincian terhadap ayat-ayat yang masih bersifat global (mujmal)

Contoh ayat-ayat yang bersifat mujmal itu adalah ayat-ayat yang bercerita tentang shalat, zakat, puasa, syariat jual beli, nikah, dan sebagainya. Salah satu contohnya adalah perintah shalat yang ada dalam Al-Qur’an berikut ini:

َْيِعِكٰ رلا َعَم اْوُعَكْراَو َةوٰكَّزلا اوُتٰاَو َةوٰلَّصلا اوُمْيِقَاَو

Artinya “dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (Q.S Al-Baqarah: 43)

Ayat di atas hanya berbicara secara umum tentang shalat, sedangkan tata cara pelaksanaan shalat tidak dijelaskan di dalam ayat tersebut, maka hal ini dijelaskan oleh Rasulullah saw di dalam hadis beliau yang berbunyi:

)يراخبلا هاور( ي ِ ل َص ُأ ِنو ُم ُت ْ ي َأ َر ا َم َك او ُل َص

Artinya “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat” (HR. Bukhari) 3. Hadis sebagai penentu di antara dua atau tiga perkara yang dimaksud

dalam Al-Qur’an

Banyak ayat-ayat atau lafazh Al-Qur’an yang memiliki berbagai kemungkinan arti atau makna, sehingga terjadilah perbedaan tafsir oleh keterangan lain, kemungkinan pemahaman terhadap ayat tersebut akan

43 Budiyanto Budiyanto, “Sikap Ilmiah Terhadap Urgensi Hadis Dalam Pendidikan Agama Islam,” Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur’an dan Hadist 3, no. 1 (January 26, 2020):

hlm. 43.

(32)

29

berlainan dengan tujuan yang dikehendaki dan tentu saja akan menjadi sulit untuk dilaksanakan. Contohnya ayat tentang masa ‘iddah tiga kali quru’ bagi perempuan yang diceraikan suaminya. Lafazh quru’ dalam ayat tersebut berarti haid dan suci. Tidak jelas apakah ayat tersebut berbicara tentang ‘iddah perempuan yang dithalaq itu tiga kali suci atau tiga kali haid. Oleh karena itu, muncul hadis yang menjelaskan atau menentukan hukum (ta’yin) dari dua masalah tersebut.

F. Klasifikasi Kutubussittah

Kutubus Sittah menurut bahasa ialah enam kitab induk. Kutubus Sittah meliputi kitab Shahih Al-Bukhari, Muslim, Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dinamakan kitab induk dikarenakan kitab ini merupakan rujukan hadits. Oleh karena itu sebagian ulama berkata: “Apabila engkau melihat ada sebuah hadits yang tidak terdapat pada kitab-kitab ini, maka jangan engkau cepat-cepat menghukuminya sehingga engkau benar- benar mentakhrijnya.”

Karena kitab-kitab inilah yang terkenal dan diterima dikalangan ummat Islam, meskipun ada yang lemah bahkan palsu, namun kitab-kitab tersebut terkenal dan dijadikan rujukan bagi ummat. Kitab-kitab tersebut bisa dijadikan rujukan terkait hadits-hadits yang berkaitan tentang hukum, syari’at, maupun akhlak.44 Penjelasan lebih lanjut mengenai kutubus sittah akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Shahih Bukhari

Imam Bukhari memiliki nama asli Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Lahir

44 Yokha Latief Ramadhan, “Efektivitas Pembelajaran Kutubus Sittah Terhadap Pemahaman Hadits Shahih Bagi Santri Darus Sunnah Ciputat,” Adiba: Journal of Education 3, no. 2 (February 1, 2023): hlm. 213.

(33)

30

setelah shalat jum’at tanggal 13 syawal 194 H di Bukhoro dan wafat pada tanggal 30 Ramadhan 256 H pada usia 62 tahun. Ketika berusia 16 tahun, beliau menetap di Makkah selama 6 tahun untuk belajar hadis, setelah itu dilanjutkan dengan berkelana mencari hadis di berbagai kota. Karena ketekunan, ketelitian, serta kecerdasan Imam Bukhari dalam bidang hadis, beliau mendapat gelar Amir Al-Mu’minin fi Al-Hadis.

Kriteria keshahihan hadis menurut Imam Bukhari adalah sebuah hadis dapat dianggap sebagai hadis shahih apabila ketersambungan sanad itu ditandai dengan pertemuan langsung atau semasa antara guru dan muridnya. Kemudian, rowi yang meriwayatkan itu haruslah adil, dhobit, teliti, jujur, dan lama dalam berguru.45

2. Shahih Muslim

Abu Husain Muslim bin Al-Hajaj bin Muslim Al-Qushairy An- Naisabury merupakan pengarang dari Shahih Muslim. Imam Muslim lahir pada tahun 202 H, dan wafat pada tahun 261 H. Kitab Shahih Muslim adalah kitab koleksi yang berisi tentang hadis Nabi Muhammad saw yang penyusunnya sangat dikenal sebagai orang yang terpercaya karena integritas kepribadian dan kepastian intelektualnya.

Nama kitab yang disusun oleh Imam Muslim adalah Al-Musnad As- Shahih Al-Mukhtasar min As-Sunan bi Naql Al-Adl ‘an Rasulillah saw.

Namun, lebih dikenal sebagai Jami’ Ash-Shahih atau Shahih Muslim.

Adapun penyusunan kitab ini memakan waktu kurang lebih 15 tahun.

Dalam penggarapannya itu, beliau menyeleksi ribuan hadis baik dari hafalannya maupun catatannya. Informasi lain menyatakan bahwa kitab Shahih Muslim ini merupakan hasil seleksi dari sejumlah 300.000 hadis.46

45 Muhammad Misbah dkk, Studi Kitab Hadis: Dari Muwaththa’ Imam Malik hingga Mustadrak Al Hakim (Ahlimedia Book, 2020), hlm. 52.

46 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 60.

(34)

31 3. Sunan An-Nasa’i

Nama asli Imam An-Nasa'i adalah Abu Abdurrahman Ahmad bin Shu'aib bin Ali bin Bahr bin Sinan An-Nasa'i. Ia lahir pada tahun 224 H dan meninggal di kota Mekkah pada tahun 303 H. Imam An-Nasa’i dikenal sebagai ulama hadis yang sangat teliti terhadap hadis dan perawi.

Begitu selektifnya An-Nasa’i dalam menetapkan sebuah kriteria seorang rawi, beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang cukup berharga dan sangat besar dengan nama As-Sunan Al-Kubra. Karena di dalamnya belum mengadakan pemisahan antara hadis dhaif, hasan, shahih, maka beliau akhirnya mengarang sebuah kitab yang bernama Al-Mujtaba’ yang merupakan hasil seleksi dari kitab Sunan Al-Kubra dan isinya hanya terdiri dari hadis shahih saja. Kitab Al-Mujtana’ inilah yang kita kenal sekarang dengan nama Sunan An-Nasa’i.47

4. Sunan At-Tirmidzi

Nama lengkapnya adalah Abu 'Isa Muhammad bin 'Isa bin Saurah bin Musa bin Adh Dhahak As-Sulamy At-Tirmidi. Ia lahir pada tahun 200 H dan meninggal pada tahun 279 H. At-Tirmidzi adalah seorang pakar hadis yang konsisten dengan keilmuannya, sehingga mayoritas ulama menilai positif kepakaran At-Tirmidzi dalam bidang hadis.

Ia mengambil banyak Hadits dari ulama Muhadisin yang hidup sezaman dengannya diantaranya: Sa'id bin Abdurrahman, Ahmad bin Mani', Ali bin Hujr, Ishaq bin Musa, Sufyan bin Waqi', Muhammad bin Basyar, Qutaibah bin Sa'id, Bukhari, Mahmud bin Ghailan, Muhammad bin Mutsana dan lainnya.48

5. Sunan Abu Daud

47 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 91.

48 Ramadhan, “Efektivitas Pembelajaran Kutubus Sittah Terhadap Pemahaman Hadits Shahih Bagi Santri Darus Sunnah Ciputat,” hlm. 214.

(35)

32

Nama lengkap Abu Daud ialah Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar Al-Azdi As-Sijistani. Beliau adalah imam dan tokoh ahli hadis serta pengarang kitab Sunan. Beliau dilahirkan tahun 202 H di Sijistan dan wafat pada tahun 275 H di Basrah.

Hadis-hadis yang dicatat Abu Daud dalam kitab sunannya tidak semuanya shahih, baik yang ia sebutkan sendiri kedhaifannya maupun tidak. Menurutnya, hadis dhaif jika tidak terlalu dhaif lebih baik daripada pendapat pribadi. Oleh karenanya ia lebih suka memasukkan hadis dhaif daripada pendapat ulama awal.49

6. Sunan Ibnu Majah

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Abdillah bin Majah Al Qazwiny mawla Rabi' bin Abdillah. Ia lahir pada tahun 209 H dan menghembuskan nafas terakhir pada tahun 275 H. Guru pertama Ibnu Majah adalah Ali bin Muhammad Al-Tanafasy dan Jubarah bin Al-Muglis.

Sunan Ibnu Majah adalah kitab kumpulan hadis-hadis shahih yang ditulis oleh Ibnu Majah. Dalam kitab hadis yang ditulis oleh Ibnu Majah mayoritas berisi persoalan-persoalan fiqih, meski ada juga hal-hal lain yang dibahas di dalamnya. Akan tetapi, secara umum bisa dikatakan bahwa tema paling dominan adalah tema fiqih (hukum Islam).50

49 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 71.

50 dkk, STUDI KITAB HADIS, hlm. 80.

(36)

33 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Kodifikasi hadis merupakan upaya penghimpunan tulisan-tulisan hadis yang telah disusun dengan berbagai prosedur hingga terbentuk suatu mushaf resmi yang dapat dijadikan sumber referensi islamologi yang kredibel dan akuntabel. Kodifikasi hadis yang dimaksud mencakup segala macam model yang dilakukan oleh para ulama hadis sejak diberlakukan perintah pembukuan hingga sekarang. Kitab hadits memiliki berbagai macam jenis, munculnya berbagai macam jenis kitab hadits ini berdasarkan pada isi dan pola penyusunannya.

Urgensi hadist memiliki peranan yang sangat penting karena ia merupakan perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad yang menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Hadis merupakan sumber kebenaran kedua setelah Al-Qur’an yang merupakan warisan Nabi Muhammad saw yang sangat berharga bagi umat Islam. Upaya mengkaji hadis telah dilakukan oleh para ulama sejak zaman sahabat hingga saat ini. Darinya muncul berbagai karya, mulai dari kodifikasi hadis oleh para ulama terdahulu hingga kritik terhadap orisinalitas hadis yang dilakukan oleh cendikiawan orientalis.

(37)

34

DAFTAR PUSTAKA

Asriady, Muhammad. “Metode Pemahaman Hadis.” Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan 16, no. 1 (April 13, 2019): 314–323.

Budiyanto, Budiyanto. “Sikap Ilmiah Terhadap Urgensi Hadis Dalam Pendidikan Agama Islam.” Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur’an dan Hadist 3, no. 1 (January 26, 2020): 34–46.

Daulay, Isma Hayati, and Sulasmi. “Hadis Dan Urgensinya Dalam Pendidikan.” al- Afkar, Journal For Islamic Studies 6, no. 1 (January 20, 2023): 271–282.

dkk, Muhammad Misbah. Studi Kitab Hadis: Dari Muwaththa’ Imam Malik hingga Mustadrak Al Hakim. Ahlimedia Book, 2020.

Irfan Salim. “Hadis Dan Orientalisme: Studi Terhadap Tadwin Hadis Menurut Para Orientalis.” Al Qalam 24, no. 2 (August 31, 2007): 240–260. Accessed February 4, 2024.

https://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/alqalam/article/view/1634.

’Isham Mohammad El-Syahthiy. Instrumen-Instrumen Penelitian Naskah Manuskrip Arab. Translated by Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar.

Yogyakarta: CV. Bildung Nusantara, 2020.

Khotimah, Husnul. “Urgensi Kajian Hadis Di Indonesia : Pemikiran M. Syuhudi Ismail Dan Ali Mustafa Ya’qub.” DIRAYAH : Jurnal Ilmu Hadis 3, no. 2 (May 31, 2023): 188–206.

Kudhori, Muhammad. “Tipologi Kodifikasi Kitab Hadis Al-Ma’aJim.” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 17, no. 1 (June 30, 2018): 84–98. Accessed February 4, 2024. https://jurnal.uin-

antasari.ac.id/index.php/ushuluddin/article/view/2039.

Maulana, Rohasib. “Historiografi Kodifikasi Hadis.” Al-Thiqah : Jurnal Ilmu Keislaman 6, no. 1 (April 30, 2023): 1–17. Accessed February 5, 2024.

https://ejurnal.stiuda.ac.id/index.php/althiqah/article/view/86.

Nining Khurrotul Aini. “Metode Takhrîj Al-Hadîts Kajian Ilmu Hadits.” Tamaddun Vol 1, no. 2 (March 2017): h. 140.

Ramadhan, Yokha Latief. “Efektivitas Pembelajaran Kutubus Sittah Terhadap Pemahaman Hadits Shahih Bagi Santri Darus Sunnah Ciputat.” ADIBA : JOURNAL OF EDUCATION 3, no. 2 (February 1, 2023): 212–222.

Shamad, Muhammad Yunus. “Urgensi Mengajarkan Dan Memasyarakatkan Hadis- Hadis Nabi Saw.” Istiqra` : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam 2, no. 1

(38)

35 (2014). Accessed February 2, 2024.

https://jurnal.umpar.ac.id/index.php/istiqra/article/view/221.

Sholeh, Moh Jufriyadi. “Studi Kitab Hadis: Tipologi Kitab Sunãn, Muwatṭa’ Dan Muṣannaf.” El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat 4, no. 2 (December 21, 2020): 245–246. Accessed February 4, 2024.

https://www.ejournal.idia.ac.id/index.php/el-waroqoh/article/view/934.

Suryani, Suryani. “KONSEP HADIS DAN SUNNAH DALAM PERSPEKTIF FAZLUR RAHMAN.” Nuansa 12, no. 2 (January 17, 2020). Accessed February 3, 2024.

https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/nuansa/article/view/2762.

Wahyudi, Arif. “MENGURAI PETA KITAB-KITAB HADITS (Kajian Referensi Atas Kitab-Kitab Hadits).” AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial 8, no. 1 (2013): 1–20. Accessed February 4, 2024.

https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/alihkam/article/view/337.

“Almarfu’ Minal Qauli Hukman Hadis Marfu’ Secara Hukum Dari Jenis Perkataan | Jurnal As-Salam” (October 9, 2022). Accessed February 2, 2024.

https://jurnal-assalam.org/index.php/JAS/article/view/297.

Referensi

Dokumen terkait

hadis atas perkiraan, bahwa saduran itu termasuk hadis. Perkataan yang disadur oleh rawi tersebut, mungkin perkataannya sendiri atau perkataan orang lain, baik sahabat atau

Misalnya hadis (yang artinya) : “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku (Rasulullah saw) maka dia akan mendapatkan tempat duduknya dari api neraka”. Hadis ini

Kedua hadis di atas jelas menunjukkan perintah Rasulullah saw agar berpuasa dan beridulfitri manakala telah melihat hilal dan larangan memulainya sebelum melihat

Seperti dikemukakan di atas, hadis, dalam arti ucapan-ucapan yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw., pada umumnya diterima berdasarkan riwayat dengan makna, dalam arti teks

Jadi, kodifikasi hadis adalah penulisan, peng- himpunan, dan pembukuan hadis Nabi Mu- hammad SAW yang dilakukan atas perintah resmi dari khalifah Umar ibn Abd al-Aziz,

Kedua hadis di atas jelas menunjukkan perintah Rasulullah saw agar berpuasa dan beridulfitri manakala telah melihat hilal dan larangan memulainya sebelum melihat

Penilaian Ulama terhadap Hadis Setelah penelusuran dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa di antara ketiga hadis di atas, tidak satu pun juga yang berasal dari Rasulullah SAW..

Hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran yang berisi perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad