E.2. Metodologi
E.2.7. Analisis Pembebanan
E.2.7.6 Kombinasi Pembebanan
Sa = SDS
2. Untuk periode yang lebih besar dari atau sama dengan T0 ( T ≥ T0) dan lebih kecil dari atau sama dengan Ts ( T ≤ Ts ), spektrum respons percepatan desain (Sa) :
Sa = SDS
3. Untuk periode lebih besar dari Ts ( T ≥ Ts ), spektrum respons percepatan desain (Sa) :
Sa =
Keterangan :
SDS : Parameter respons spektral percepatan desain pada periode pendek SD1 : Parameter respons spektral percepatan desain pada periode 1 detik, T : Periode getar fundamental struktur,
T0 = Ts =
E = Eh - Ev
Dimana :
E : Pengaruh beban seismik
Eh : Pengaruh beban seismic horizontal yang akan didefinisikan selanjutnya Ev : Pengaruh beban seismik vertical yang akan didefinisikan selanjutnya
Eh adalah pengaruh gaya seismic horizontal. Pengaruh beban seismik Eh harus ditentukan dengan rumus berikut ini.
Eh = ρ ԚE
Dimana :
Ԛ : Pengaruh gaya seismik
ρ : Faktor redudansi, untuk desain seismik D sampai F nilainya 1,3
Ev adalah pengaruh gaya seismic vertical. Pengaruh beban seismik Ev harus ditentukan dengan rumus berikut ini.
Ev : 0,2 SDS DL Dimana :
SDS : Parameter percepatan spektrum respons desain pada periode pendek DL : Pengaruh beban mati
Dengan demikian, berdasarkan SNI 1726:2012 pasal 7.4, faktor- faktor dan kombinasi beban gempa nominal adalah :
1. 1,4 DL
2. 1,2 DL + 1,6 LL
3. 1,2 DL + 1 LL ± 0,3 (ρ ԚE + 0,2 SDS DL) ±1 (ρ ԚE + 0,2 SDS DL) 4. 1,2 DL + 1 LL ± 1 (ρ ԚE + 0,2 SDS DL) ±0,3 (ρ ԚE + 0,2 SDS DL) 5. 0,9 DL ± 0,3 (ρ ԚE - 0,2 SDS DL) ±1 (ρ ԚE - 0,2 SDS DL)
6. 0,9 DL ± 1 (ρ ԚE - 0,2 SDS DL) ±0,3 (ρ ԚE - 0,2 SDS DL) Dimana :
DL : Beban Mati, termasuk SIDL LL : Beban hidup
EX : Beban gempa arah-x EY : Beban gempa arah-y
ρ : Faktor redudansi, untuk desain seismik D sampai F nilainya 1,3 SDS : Parameter percepatan spektrum respons desain pada periode pendek
ԚE : Pengaruh gaya seismic horizontal dari V, yaitu gaya geser desain total di dasar struktur dalam arah yang ditinjau. Pengaruh tersebut harus dihasilkan dari penerapan gaya horizontal scara serentak dalam dua arah tegak lurus satu sama lain.
Faktor redundansi (ρ) harus dikenakan pada system penahan gaya seismic masing- masing dalam kedua arah orthogonal untuk semua struktur.
Kondisi dimana nilai ρ diizinkan 1 sebagai berikut.
- Struktur dirancang untuk kategori desain seismik B atau C
- Perhitungan simpangan antarlantai dan pengaruh P-delta: desain komponen nonstruktural.
- Desain struktur nongedung yang tidak mirip dengan bangunan gedung.
- Desain elemen kolektrol, sambungan lewatan , dan sambungannya dimana kombinasi beban dengan faktor kuat lebih berdasarkan pasal 7.4.3 SNI 1726:2012 yang digunakan.
- Desain elemen struktur atau sambungan dimana kombinasi beban dengan faktor kuat- lebih berdasarkan Pasal 7.4.3 disyaratkan untuk didesain.
- Beban diafragma ditentukan dengan menggunakan persamaan (43) yang terdapat pada SNI 1726:2012, yaitu :
Fpx = Dimana :
Fpx : adalah gaya desain diafragma
Fi : adalah gaya desain yang diterapkan ditingkat i Wi : adalah tributari berat sampai tingkat i
Wpx : adalah tributari berat sampai diafragma di tingkat x Dimana Fpx tidak boleh kurang dari :
Fpx = 0,2 SDS Iex Wpx
Dan Fpx tidak boleh melebihi : Fpx = 0,4 SDS Iex Wpx
- Struktur dengan sistem peredaman
- Desain dinding geser struktural terhadap gaya keluar bidang, termasuk sistem angkurnya.
Untuk struktur yang dirancang bagi kategori desain seismic D,E,dan F factor redudansi (ρ) harus sama dengan 1,3; kecuali jika satu dari dua kondisi berikut dipenuhi dimana ρ diizinkan diambil sebesar 1 :
- Masing- masing tingkat yang menahan lebih dari 35% geser dasar dalam arah yang ditinjau sesuai dengan tabel berikut
Tabel E.8. Persyaratan masing- masing tingkat yang menahan lebih dari 35% gaya geser dasar
Elemen Penahan Gaya Lateral Persyaratan
Rangka dengan bressing Pelepasan bressing individu, atau sambungan yang terhubung, tidak akan mengakibatkan reduksi kuat tingkat sebesar lebih dari 33% atau sistem yang dihasilkan tidak mempunyai ketidakteraturan torsi yang berlebihan (ketidakteraturan struktur horizontal tipe 1b) Rangka pemikul momen Kehilangan tahanan momen disambungan
balok ke kolom di kedua ujung balok tunggal tidak akan mengakibatkan lebih dari reduksi kuat tingkat sebesar 33% atau sistem yang dihasilkan tidak mempunyai ketidakteraturan torsi yang berlebihan (ketidakteraturan horizontal struktur tipe 1b)
Dinding geser atau dinding dengan rasio tinggi terhadap panjang lebih besar dari 1
Pelepasan dinding geser atau pier dinding dengan rasio tinggi terhadap panjang lebih besar dari 1 di semua tingkat atau sambungan kolektor yang terhubung, tidak akan mengakibatkan lebih dari reduksi kuat tingkat sebesar 33% atau sistem yang dihasilkan mempunyai ketidakteraturan torsi yang berlebihan (Ketidakteraturan horizontal struktur tipe 1b)
Kolom Kantilever Kehilangan tahanan momen di sambungan dasar semua kantilever tunggal tidak akan mengakibatkan lebih dari reduksi kuat tingkat sebesar 33% atau sistem yang dihasilkan mempunyai ketidakteraturan torsi yang berlebihan (ketidakteraturan horizontal tipe 1b)
Lainnya Tidak ada persyaratan
- Struktur dengan denah beraturan di semua tingkat dengan sistem penahan gaya seismik terdiri dari paling sedikit dua bentang parimeter penahan gaya seismik yang merangka pada masing- masing sisi struktur dalam masing-masing arah ortogonal di setiap tingkat yang menahan lebih dari 35% geser dasar. Jumlah bentang untuk dinding geser harus dihitung sebagai panjang dinding geser dibagi dengan tinggi tingkat atau dua kali panjang dinding geser dibagi dengan tingkat tinggi untuk konstruksi rangka ringan.
Mutu Beton (Destructive - Coredrill)
Metoda core drill adalah suatu metoda pengambilan sampel beton pada suatu struktur bangunan. Sampel yang diambil (bentuk silinder) selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian seperti Kuat tekan, Karbonasi dan Pullout test. Pengujian kuat tekan (ASTM C-39) dari sampel tersebut diatas biasanya lebih dikenal dengan pengujian “Beton Inti”. Alat uji yang digunakan adalah mesin tekan dengan kapasitas dari 2000 kN sampai dengan 3000 kN.
Uji core drill atau bor inti ialah cara uji beton keras dengan cara mengambil contoh silinder beton dari daerah yang kuat tekannya diragukan. Pengambilan contoh dilakukan dengan alat bor yang mata bornya berupa “pipa” dari intan, sehingga diperoleh contoh beton berupa silinder.
Silinder beton yang diperoleh tergantung ukuran diameter mata-bornya, umumnya antara 50 mm sampai 150 mm. Namun sebaiknya diameter silinder tidak kurang dari 3 kali ukuran maksimum agregat betonnya.
Jika uji bor inti dipilih maka beberapa hal yang perlu diperhatikan (SK SNI-61-1990- 03): (1) Umur beton minimal 14 hari. (2) Pengambilan contoh silinder beton dilakukan di daerah yang kuat tekannya diragukan, biasanya berdasarkan data hasil uji contoh beton dari masing-masing bagian struktur. Dari satu daerah beton diambil satu titik pengambilan contoh. (3) Dari satu pengambilan contoh (daerah beton yang diragukan mutunya) diambil 3 titik pengeboran. Pengeboran harus ditempat yang tidak membahayakan struktur, misalnya jangan dekat sambungan tulangan, momen maksimum, dan tulangan utama. (4) Pengeboran harus tegak lurus dengan permukaan beton. (5) Lubang bekas pengeboran harus segera diisi dengan beton yang mutunya minimal sama.
Bila beton yang diambil berada dalam kondisi kering selama masa layannya, benda uji silinder beton (hasil bor inti) harus diuji dalam kondisi kering. Bila beton yang diambil berada dalam kondisi sangat basah selama masa layannya, maka silinder harus direndam dahulu minimal 40 jam dan diuji dalam kondisi basah.
Kuat tekan beton pada titik pengambilan contoh (daerah beton yang diragukan) dapat dinyatakan tidak membahayakan jika kuat tekan 3 silinder beton (minimum 3 silinder beton) yang diambil dari daerah beton tersebut memenuhi 2(dua) persyaratan sebagai berikt: (1) Kuat tekan rata-rata dari 3 silinder betonnya tidak kurang dari 0,85 fc’ (2) Kuat tekan masing-masing silinder betonnya tidak kurang dari 0,75 fc’.
Metode core drill adalah suatu metoda pengambilan sampel beton pada suatu struktur bangunan. Sampel yang diambil (bentuk silinder) selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian seperti Kuat tekan.
Pengambilan sample beton dengan coredrill (pengeboran inti) dan uji kuat tekan beton di laboratorium untuk Pengambilan contoh dilakukan dengan alat bor yang mata bornya berupa “pipa” dari intan, sehingga diperoleh contoh beton berupa silinder.
Coredrill yang dilakukan pada struktur beton
Contoh alat pengambilan sample beton dengan metode core drill tersebut yaitu sebagai berikut:
Silinder beton yang diperoleh tergantung ukuran diameter mata-bornya, umumnya antara 2” sampai 8”. Dan disarankan diameter silinder tidak kurang dari 3 kali ukuran maksimum agregat betonnya.
Sampel beton dari pengambilan dengan metode coredrill pada bagian struktur bangunan yang diduga terdapat retakan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sample beton adalah sebagai berikut:
1. Umur beton minimal 14 hari.
2. Pengambilan contoh silinder beton dilakukan di daerah yang kuat tekannya diragukan, biasanya berdasarkan data hasil uji contoh beton dari masing-masing bagian struktur, atau dari hasil NDT (Non Destructive Testing) dengan concrete hammer ataupun UPVT (Ultrasonic Pulse Velocity Test). Dari satu daerah beton diambil satu titik pengambilan contoh. Pengambilan contoh pada bangunan sudah lama berdiri, maka biasanya core drill dilakukan pada bagian-bagian elemen struktur beton yang ingin diketahui kuat tekannya
3. Dari satu pengambilan contoh diambil 3 titik pengeboran. Pengeboran harus ditempat yang tidak membahayakan struktur, misalnya jangan dekat sambungan tulangan, momen maksimum, dan tulangan utama.
4. Benda uji yang cacat karena terlalu banyak terdapat rongga, adanya serpihan/agregat kasar yang lepas, tulangan besi yang lepas dan ketidakteraturan dimensi, tidak boleh digunakan untuk
5. Diameter benda uji untuk uji kuat tekan tidak boleh kurang dari 90 mm;
6. Rasio tinggi sample (L) dengan diameter (D) lebih besar atau sama dengan 0,95 , dimana L = panjang dan D =diameter benda uji;
7. Pengeboran harus tegak lurus dengan permukaan beton.
8. Lubang bekas pengeboran harus segera diisi dengan beton yang mutunya minimal sama.
9. Apabila ada kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti, letaknya harus tegak lurus terhadap sumbu benda uji;
10. Jumlah kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti tidak boleh lebih dari 2 batang;
11. Apabila jumlah kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti lebih dari 2 batang, benda uji harus dikerjakan dengan gergaji beton dan gerinda, sehingga memenuhi ketentuan dan bila tidak terpenuhi, benda uji tersebut tidak boleh digunakan untuk uji kuat tekan
Benda uji beton inti sesudah kaping yaitu harus memenuhi ketentuan 2,00 ≥ L/D ≥ 1,00 dimana tebal lapisan untuk kaping tidak boleh melebihi 10 mm.
Ultrasonic Pulse Velocity Test
Ultrasonic Pulse Velocity Test, UPVT adalah suatu uji non destructive untuk mengidentifikasi mutu integritas beton dengan pendekatan rambatan gelombang ultrasonic pada beton.
Gelombang ultrasonik disalurkan dari transmitter transducer yang ditempatkan dipermukaan beton melalui material beton menuju receiver transducer dan waktu tempuh gelombang tersebut diukur oleh Read-Out unit PUNDIT Portable Unit Non Destructive Indicator Tester dalam m detik.
Kedua transducer tersebut dapat ditempatkan secara direct, semi direct atau indirect.
Karena jarak antara kedua transducer ini telah diketahui, maka kecepatan gelombang ultrasonik dalam material beton dapat dihitung, yaitu tebal beton dibagi dengan waktu tempuh.
Karena kecepatan rambat gelombang adalah merupakan fungsi dari kepadatan material, maka dengan diketahuinya cepat rambat gelombang ultrasonik di dalam beton, kecepatan tersebut dapat dikorelasikan ke nilai kepadatan beton, yang selanjutnya dikorelasikan lagi ke mutu beton, berdasarkan grafik empiris hubungan kecepatan rambat gelombang dengan mutu beton.
Selain pengukuran mutu beton, UPVT dapat juga digunakan untuk mengukur kedalaman retak dan keberadaan honeycomb pada beton.
Peralatan UPVT
Peralatan yang digunakan untuk UPV Test terdiri dari :
Satu buah Read-out Unit PUNDIT (Portable Unit Non Destructive Indicator Tester).
Dua buah Transducer 54 Hz (masing-masing sebagai transmitter dan receiver).
Satu buah Calibration Bar serta kabel-kabel dan connector
Alat untuk melakukan UPVT seperti pada gambar berikut:
Metode Pengujian UPVT
Dalam pengujian material beton menggunakan UPV Test, gelombang ultrasonik disalurkan dari transmitter transducer yang ditempatkan dipermukaan beton melalui material beton menuju receiver transducer dan waktu tempuh gelombang tersebut diukur oleh Read-Out unit PUNDIT (Portable Unit Non Destructive Indicator Tester) dalam micro detik (msec).
Ultrasonic Pulse Velocity Test dilaksanakan berdasarkan standar pengujian BS 1881- 203; ASTM C597. Pengukuran dapat dilakukan dengan beberapa metode berikut:
Direct Method yaitu transmitter dan receiver berada pada dua permukaan yang paralel.
Semi-direct Method, yaitu transmitter dan receiver berada pada dua permukaan yang saling tegak lurus.
Indirect Method dimana kedua transducer berada pada permukaan yang sama.
Seperti ditunjukkan pada gambar berikut:
Pengujian identifikasi kuat tekan beton dengan Ultrasonic Pulse Velocity Test dilakukan dengan mengukur kecepatan gelombang ultrasonik di dalam beton yang dihitung dengan rumus: V=L/T
dimana L adalah jarak antara transmitter dan receiver dan T adalah waktu yang ditempuh oleh gelombang di dalam beton. Karena kedua parameter ini telah diukur maka kecepatan gelombang dapat diketahui. Kuat tekan beton dapat dihitung dengan menggunakan kurva hubungan antara kecepatan gelombang dan mutu beton seperti pada gambar berikut:
Grafik diatas merupakan hubungan empirik antara velocity hasil UPVT dengan kuat tekan beton hasil hasil uji tekan (crushing).
Hubungan pada grafik diatas tidak selalu dapat dianggap sama antara satu bangunan dengan bangunan lain, atau suatu daerah dengan daerah lain, sehingga disarankan dalam penggunaan grafik tersebut tetap harus diverifikasi dengan pengambilan sample beton melalui core drill dan uji tekan, untuk mendapatkan faktor koreksi dari hubungan empirik tersebut.
Hammer Test
Concrete Hammer Test atau Schmidt Hammer Test merupakan suatu metode uji yang mudah dan praktis untuk memperkirakan mutu beton.
Alat yang digunakan untuk Uji Kekuatan Beton dengan Hammer Test seperti pada gambar berikut:
Prinsip kerja Concrete Hammer adalah dengan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energy yang besarnya tertentu.
Karena timbul tumbukan antara massa tersebut dengan permukaan beton, massa tersebut akan dipantulkan kembali. Jarak pantulan massa yang terukur memberikan indikasi kekerasan permukaan beton. Kekerasan beton dapat memberikan indikasi kuat tekannya.
Gambar berikut mengilustrasikan prinsip kerja Concrete Hammer atau Schmidt Hammer:
Cara Penggunaan Hammer Test
Karena prinsip kerja dan cara penggunaan alat sangat mudah, maka secara luas alat ini banyak digunakan untuk memperkirakan mutu beton, terutama pada struktur bangunan yang sudah jadi. Dan dengan proses uji yang cepat maka alat inipun secara praktis dapat menguji secara keseluruhan struktur bangunan ataupun bagian struktur secara luas untuk mengindikasikan keseragaman mutu beton.
Sebagai catatan karena alat ini hanya membaca kekerasan beton pada lapisan permukaan (+4 cm), sehingga untuk elemen struktur dengan dimensi yang besar, concrete hammer test hanya menjadi indikasi awal bagi mutu dan keragaman mutu.
Selain itu pada saat pengujian permukaan beton yang akan diuji harus dibersihkan dan diratakan karena alat ini peka terhadap variasi yang ada di permukaan beton.
Contoh pembersihan dan perataan permukaan seperti pada gambar berikut:
Hubungan Empirik dari Nilai Hammer Rebound dengan kuat tekan seperti ditunjukkan pada grafik berikut.
Pada grafik diatas terlihat beberapa hubungan korelasi antara Nilai Hammer Rebound, yang tergantung dari arah beban impact ke struktur beton, A, B atau C. Berikut adalah beberapa dokumentasi aplikasi uji Schmidt Hammer dengan beberapa arah impact hammer ke beton.
1. Arah A (0 derajat)
2. Arah B (-90 derajat)
3. Arah C (90 derajat)
Crack Depth Test Digital
Dalam dunia kontruksi, terutama pada Teknik sipil banyak mengalami perkembangan baik dari sisi ilmu pengetahuan maupun perkembangan bisnis. Bila membicarakan Teknik sipil engineering tidak terlepas dari pembangunan baik jalan, gedung, jembatan, maupun pembangunan lainnya. Erat kaitannya dalam pembangunan adalah material beton, Beton sendiri mempunyai sifat yang kuat dan keras sehingga sering digunakan sebagai bahan dalam pembuatan bangunan-bangunan. Secara harfiah beton bisa diartikan sebagai salah satu bahan material dalam pembuatan bangunan teknik sipil yang merupakan campuran monolit dari kerikil, pasir, semen dan air.
Seperti kita ketahui Beton memiliki permasalahan dalam aplikasi yang sering ditemukan sehari hari, masalah tersebut adalah keretakan beton atau dalam bahasa tekniknya Crack ada beberapa jenis keretakan dalam beton yang dapat diukur yaitu Crack Depth (kedalaman keretakan) dan Crack Width (Lebar keretakan).
Hal pertama yang menjadi pertimbangan mengapa beton menjadi bahan dominan dalam pembuatan suatu bangunan sipil adalah beton memiliki durability atau tingkat keawetan yang tinggi dibandingkan bahan material lain. Dan dalam segi pemeliharaan dan perbaikan beton juga lebih unggul dari bahan material lain, Namun seperti yang saya sampaikan sebelumnya keretakan beton ternyata mempengaruhi tingkat kekuatan beton itu sendiri ada beberapa hal yang mempengaruhi crack depth dan crack width pada beton yaitu
Penyebab crack depth dan crack width Yang Terjadi Saat Pembuatan Beton.
1. Sifat dari beton itu sendiri
Untuk melihat bagaimana sifat dari beton yang dapat menimbulkan crack depth dan crack width kita harus melihat proses dari awal pembuatan beton itu sendiri. Pada saat awal pembuatan beton dengan pencampuran bahan penyusunnya seperti kerikil, pasir, air dan semen, dan dalam proses pengerasannya beton akan mengalami pengurangan volume dari volume awal. Ini disebabkan karena air yang terkandung pada campuran beton akan mengalami penguapan sehingga mengurangi volume beton. Apabila pada kondisi saat beton mengalami penyusutan ada suatu tahanan maka retakan pun tidak dapat dihindari.
2. Suhu
Ternyata suhu tidak dapat diabaikan juga, Suhu dapat menyebabkan crack depth dan crack width pada beton. Maksud suhu disini adalah suhu campuran beton saat mengalami perkerasan. Karena pada saat campuran beton mengalami perkerasaan suhu yang timbul akibat reaksi dari air dengan semen akan terus
meningkat. Sehingga pada saat suhu campuran beton ini terlalu tinggi, pada saat beton sudah keras sering timbul retak – retak pada permukaan beton.
3. Korosi pada tulangan
Sebenarnya untuk mengantisipasi retakan yang terjadi akibat dari sifat beton itu sendiri, beton diberi tulangan pada bagian dalamnya yang terbuat dari baja. Sehingga diharapkan dengan adanya tulangan tersebut retakan akibat dari sifat beton disebar pada keseluruhan beton menjadi bagian – bagian yang sangat kecil sehingga retakan tersebut dapat diabaikan. Tetapi apabila tulangan yang dipakai pada saat pembuatan beton sudah meengalami korosi, tulangan tersebut itu pun akan menyebabkan retakan pada saat beton mengeras, dan untuk mengukur korosi pada tulangan beton ini dapat menggunakan rebar corrosion detection
4. Proses pembuatan yang kurang baik
Banyak sekali penyebab crack depth dan crack width yang terjadi pada beton disebabkan oleh proses pembuatan yang kurang baik. Seperti contoh pada saat beton mengalami perkerasan dimana banyak mengeluarkan air, maka perlu adanya perawatan pada beton agar pengeluaran air dari campuran beton tidak berlebihan.
Tetapi akibat tidak adanya perawatan, sehingga pada sat beton terbentuk banyak terjadi retakan.
Penyebab crack depth dan crack width Beton Yang Terjadi Setelah Beton Selesai
1. Pengaruh lingkungan
Karena beton pada bangunan mengalami kontak langsung dengan cuca luar.
Sehingga bangunan sipil yang berumur cukup lama banyak mengalami crack depth dan crack width Salah satu pengaruh lingkungan yang menyebabkan beton retak adalah akibat dari air hujan. Akibat sekian lama beton pada bangunan tua menerima air hujan secara langsung, lama – kelamaan air hujan masuk meresap kedalam beton yang kemudian mencapai tulangan pada beton. Apabila saat air hujan telah mengenai baja tulangan, maka akan terjadi reaksi antara baja tulangan dengan tulangan yang menyebakan baja tulangan menjadi korosi. Akibat korosinya baja tulangan beton akan mengalami retak – retak, makanya pengujian korosi dan penggunaan rebar corrosion detection sangat diperlukan.
2. Pembebanan
Setelah beton sudah jadi dan bangunan sipil telah siap untuk dipakai. Maka beton tersebut akan menerima beban – beban. Apabila beton menerima beban sesuai dengan kapasitas kekutannya, beton akan baik – baik saja. Tetapi kadangkala beton
akan menerima beban diluar kemapuannya untuk menahan beban tersebut, sehingga crack depth dan crack width pada beton pun tidak bisa di hindari.
Scan Pembesian dan ketebalan Test
Re-bar Scan atau sering disebut Cover Meter Test adalah uji untuk mengukur tebal selimut beton, jarak antar tulangan dan besar diameter tulangan.
Teknologi yang digunakan adalah The pulse-induction method, dimana metode ini didasarkan pada induksi gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi baja tulangan.
Coil pada probe secara periodik dibebani arus gelombang sehingga menghasilkan medan magnet. Pada permukaan bahan yang konduktif akan menginduksi medan magnet dalam arah yang berlawanan.
Perubahan yang dihasilkan dalam tegangan ini yang digunakan untuk pengukuran.
Baja tulangan yang lebih dekat dengan probe atau ukuran yang lebih besar akan menghasilkan medan magnet yang kuat.
Pemrosesan sinyal selain membantu melokalisasi pembacaan baja tulangan, juga dapat menentukan tebal cover beton dan mengestimasi diameter tulangan. Metode ini tidak dipengaruhi oleh bahan non konduktif seperti beton, kayu, plastik, batu bata, dll.
Namun setiap jenis bahan konduktif dalam medan magnet akan memiliki pengaruh pada hasil pengukuran.
Gambar berikut ini adalah alat yang digunakan pada saat pengukuran.
Scanner digunakan untuk melakukan scanning pada permukaan beton yang ingin diketahui tebal selimut betonnya, jarak antar tulangan dan diameter tulangannya.
Seluruh data scan akan terecord, selanjutnya data disimpan dan ditampilkan pada monitor PS 200.
Faktor ketelitian dalam penggunaan ferro scan PS 200, seperti pada tabel berikut: