BAB IV TEMUAN HASIL PENELITIAN
4. Kondisi Kampung Poncowati
Kampung Poncowati adalah salah satu Kampung yang tertua di Propinsi Lampung, yang menjadi dasar hukumnya adalah pembagian wilayah Provinsi-provinsi /daerah Otonom TK.I. Sesudah Proklamasi tahun 1945 di mana Kampung Poncowati termasuk dalam Karesidenan Lampung Wilayah Otonom TK.I Sumatera Selatan dan melalui UU No.14 tahun 1964 pada tanggal 18 maret 1964. Kampung Poncowati Besar merupakan salah satu kampung yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Sedangkn jumlah penduduk tersebut dapat diklasifikasi yaitu:
a. Menurut Usia
Tabel 3
Data Penduduk Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah
1 0 – 6 Tahun 351
2 7 – 12 Tahun 387
3 13 – 18 Tahun 377
4 19 – 24 Tahun 396
5 25 – 55 Tahun 1560
6 56 – 79Tahun 347
7 80- Tahun Keatas 19
Sumber: Dokumentasi Kampung Poncowati Kec. Terbanggi Besar
77 Ibid
b. Kondisi Ekonomi Sosial
Jumlah penduduk yang banyak menandakan bahwa adanya faktor penarik penduduk untuk tinggal ada daerah tersebut seperti banyaknya lahan pekerjaan maka tingkat ekonomi merupakan faktor yang dominan bagi dinamika suatu masyarakat, sehingga kemajuan masyarakat pada tingkat usaha dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.78 Secara Sosial dan ekonomi, penduduk Kampung Poncowati dikelompokkan dalam basis mata pencaharian pada sektor Pertanian, agama dan pendidikan. Mata pencaharian penduduksebagian besar adalah Pertanian dengan aktifitas utama bertanam padi dan jagung dan sayuran. Daftar mata pencaharian masyarakat Kampung Poncowati dapat dilihat pada tabel dibawah ini.79
Tabel 4
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian No Pekerjaan/Mata Pencaharian Jumlah
1 Karyawan Swasta 750
2 PNS 98
3 TNI/POLRI 27
4 Swasta 37
5 Wiraswasta/Pedagang 1100
6 Petani 1.2010
7 Tukang 57
8 Buruh Tani 2750
9 Pensiunan 85
10 Peternak 18
11 Jasa 7
12 Pengrajin 5
13 Belum Bekerja/pengangguran 2910
78 Profil Kampung Poncowati Dikutip Pada Tanggal 17 November 2020
79 Profil Kampung Poncowati Dikutip Pada Tanggal 17 November 2020
Sumber: Dokumentasi Kampung Poncowati Kec. Terbanggi Besar Hal ini didukung dengan topografi dan kondisi yang sangat mendukung di Kampung Poncowati sehingga potensial dalam melakukan kegiatan usahatani sayuran dan perkebunan. Kekayaan alam di Kampung Poncowati merupakan aset yang sangat berhaga dan patut dijaga sebagai salah salu penopang hidup masyarakat.
5. Struktur Organisasi Kampung Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Adapun struktur organisasi atau kepengurusan Kampung Poncowati dapat dilihat sebagaimana gambar atau bagan di bawah ini:
Struktur Organisasi Pemerintahan Kampung Poncowati
Gambar 1 Struktur Organisasi Pemerintahan Kampung Poncowati
Keterangan: Struktur kepengurusan Kampung Poncowati Kepala Desa
PAKPAHAN Sekretaris Desa
SUMARDI Kasi Pertanian
Paidal
Kaur Keuangan Suraji
Kaur Pembangunan
Hairul Kaur Pemerintahan
Suparno Kaur Umum
Basuki RW VI
Yandi RW V
Joko RW IV
Rusmanto RW III
Rahmat RW I
Nyono
RW II
Windarto
a. Kepala Kampung
Kepala Kampung adalah pimpinan yang menjalankan hak, wewenang, kewajiban pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakat yang ada di Kampung Poncowati Kec Terbanggi Besar.
b. Sekretaris Kampung
Sekretaris Kampung bertugas membantu Kepala Kampung dalam tertib administrasi dan pembangunan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaannya, sekretaris Kampung mempunyai fungsi:
1) Menyusun rencana, pengendalian, pelaporan dan evaluasi penyelenggaran pemerintahan pembangunan masyarakat.
2) Pelaksanaan administrasi keuangan, tata usaha, kepegawaian.
3) Pelaksanaan kegiatan pelayanan masyarakat dibidang administrasi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
4) Pelaksanaan tugas dan fungsi Kepala Kampung apabila Kepala Kampung berhalangan sesuai peraturan yang berlaku.
c. Kepala Urusan Umum (Kaur Umum)
1) Bertugas membantu sekretaris Kampung dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan bidang administrasi, kepegawaian.
2) Dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala Kampung melalui sekretaris Kampung.
d. Kepala Seksi (Kasi)
1) Kepala seksi adalah unsur pelaksana teknis lapangan sebagai pembantu Kepala Kampung dalam urusan teknis tertentub.
Mempunyai tugas menjalankan kegiatan sesuai dengan bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.
2) Berfungsi menyusun rencana, pengendalian pelaporan dan evaluasi kegiatan serta melaksanakan kegiatan sesuai dengan bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.80
3) Kepala seksi bertanggung jawab melalui sekretaris Kampung bidang pemerintahan dan kemasyarakatan.
B. Faktor-faktor Penyebab Perceraian dalam Rumah Tangga di Kecamatan Terbanggi Besar
1. Profil keluarga pelaku perceraian di Kampung Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah
Dalam sub bab ini peneliti hanya akan mendeskripsikan lima keluarga yang melakukan perceraian di Kampung Poncowati Kecamatan Terbanggi Besar. Data ini diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan para pelaku perceraian. Dalam hal ini peneliti sengaja menyamarkan nama asli untuk melindungi privasi keluarga tersebut.
a. Profil Andik dan Nana (Nama Samaran)
Andik dan Nana beragama Islam, mereka merupakan penduduk asli Kampung Poncowati keduanya sama-sama dibesarkan di Kampung tersebut. Rumah merekapun tetanggaan dan satu RT pula.
Andik dan Nana menikah pada tahun 2002 yang di catatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Terbanggi Besar.
Prosesi perkawinan mereka diadakan di rumah kediaman orang tua Nana dengan meriah, seperti selayaknya perkawinan yang
80 Profil Kampung Poncowati Dikutip Pada Tanggal 17 November 2020
diadakan di Kampung merea. Mereka menikah ketika Andik berumur 20 tahun dan Nana berumur 20 tahun.81
Latar belakang pendidikan suami istri tersebut tidaklah tinggi, mereka hanya lulusan sekolah dasar saja. Hal ini dikarenakan orang tua mereka beranggapan bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang perlu diprioritaskan, dan dalam hal pendidikan keagamaan pun mereka sangat minim. Hal tersebut dikarenakan lingkungan dan keluarga.
Setelah menikah pasangan ini tinggal bersama di rumah orang tua suami (Andik) selama 2 tahun yaitu sampai tahun 2004.
Walupun sudah menikah mereka belum dikaruniani seorang anak. Hal tersebut dikarenakan saat bercerai istri (Nana) masih dalam keadaan suci (qobla dukhul).82
Andik dan Nana hanya bekerja sebagai petani sayur. Setelah menikah mereka ikut menggarap (mengelola) tanah yang diberikan oleh orang tua suami. Setiap harinya mereka berkebun, tanaman sayur kulbis dan bobor menjadi tanaman mayoritasnya. Pada awal perkawinan, kehidupan rumah tangga Andik dan Nana memang tidaklah harmonis. Hal tersebut dikarenakan perkawinan mereka tidak didasari saling cinta mencintai tapi karena dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing.
Semula pasangan tersebut menolak untuk menikah, namun karena ingin berbakti dan menyenangkan hati orang tua mereka bersedia untuk dinikahkan. Sehingga akibatnya dalam menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari suasananya terasa hambar.
Rasa saling mencintai dan menghormati tidaklah tercipta dalam suasana rumah tangga yang mereka jalani. Istri (Nana) selalu menolak untuk diajak berhubungan intim (sex) sebagaimana
81 Hasil wawancara dengan Modin Kampung Poncowati dari bapak Suwandi pada tanggal 22 November 2020
82 Hasil wawancara dengan Nana di Kampung Poncowati pada tanggal 23 November 2020
layaknya suami isteri, menghadapi sikap istrinya suami (Andik) akhirnya mengalah.83
Dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap menjalani kehidupan rumah tangga walaupun tidak seperti layaknya pasangan suami istri yang sedang berbahagia dan menikmati indahnya berumah tangga.
Diantar keduanya dalam kehidupan sehari-hari tidak terjadi komunikasi bila tidak ada hal yang penting untuk dibicarakan.
Puncak ketidak harmonisan terjadi pada pertengahan tahun 2004 Nana meninggalkan rumah kediaman bersama tanpa ijin atau tanpa pamit suami pulang ke tempat kediaman orang tuanya dan tidak pernah kembali ke tempat kediaman bersama, meskipun Andik dan ayahnya telah menjemput dan mengajak pulang kembali sampai 3 (tiga) kali, namun Nana tidak mau dan menolaknya. Ketika Nana sudah tidak tinggal satu rumah dengan Andik, ia pernah meliahat beberapa kali Istrinya bercengkrama dengan seorang pria.
Nana tidak mau kembali pulang ke tempat kediaman bersama di karenakan dia mungkin sudah mencintai laki-laki yang sering terlihat bersamanya, karena memang dari awal Nana dan Andik dalam menjalani rumah tangga tidaklah didasari rasa saling mencintai. Maka hal tersebut yang menjadikan rumah tangga mereka dari awal perkawinan tidaklah harmonis.84
Bahwa atas dasar keadaan tersebut suami sudah mencoba untuk bersikap sabar, namun lama kelamaan sikap dan perbuatan istrinya tersebut membuat suami sudah tidak tahan dan merasa tidak dihormati
83 Hasil wawancara dengan Andik di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
84 Hasil wawancara dengan Nana di Kampung Poncowati pada tanggal 23 November 2020
sebagai seorang suami yang sah. Oleh karena itu sumai berpendapat bahwa istrinya tersebut sudah ingkar dan tidak patuh kepadanya sehingga mengajukan gugatan pada tahun 2009 di Pengadilan Agama Lampung Tengah. Pada saat wawancara ini dilakukan Andik dan Nana masing-masing sudah berkeluarga dan wawancara ini dilakukan atas persetujuan pasangannya masingmasing, karena kebetuanl rumah mereka bersebelahan.
b. Profil Enji dan Ayu (Nama Samaran)
Enji dan Ayu merupakan pasangan suami istri yang menikah pada tahuan 2001 di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Terbanggi Besar. Mereka menikah ketika Enji berumur 20 tahun dan Ayu berumur 19 tahun. Setelah menikah mereka dikaruniani satu orang anak perempuan sebut saja namanya Raya berumur 9 tahun yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3 Enji dan Ayu merupakan seorang muslim keduanya beragama Islam85.
Hal tersebut dikarenakan bagi orang tua mereka pendidikan tidaklah begitu menjadi prioritas utama, apalagi bagi seorang anak perempuan. Mereka berfikir bahwa suatu saat nanti anak- anaknya juga akan menjadi seorang petani yang akan meneruskan tanah warisannnya, jadi menerut pendidikan tidaklah begitu penting karena pada akhirnya juga akan menjadi petani, yang terpenting bagi mereka adalah anaknya sudah bisa baca dan menulis saja.86
Setelah menikah pasangan ini tinggal dirumah pemberian dari orang tua Enji. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari Enji dan Ayu
85 Hasil wawancara dengan Modin Kampung Poncowati dari bapak Suwandi pada tanggal 22 November 2020
86 Hasil wawancara dengan Nana di Kampung Poncowati pada tanggal 23 November 2020
hanya berprofesi sebagai petani. Mereka bercocok tanam di ladang yang merupakan tanah pemberian dari masingmasing orang tua mereka. Pada awal perkawinan, kehidupan rumah tangga Enji dan dalam keadaan rukun dan tentram. Akan tetapi setelah usia perkawinan mereka menginjak 2 tahun tepatnya pada tahun 2003, kehidupan rumah tangga mereka mulai goyah dan diwarnai. Terkadang hanya masalah yang kecil sering diperdebatkan.
Menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Ayu, latar belakang terjadinya pertengkaran mereka adalah permasalahan ekonomi. Ayu merasa kesal dengan perilaku suaminya yang jarang memberikan uang belanja, meskipun Ayu telah meminta kepadanya karena kalau mengandalkan panen sayur saja tidaklah cukup.87
Hal tersebut yang selalu memicu pertengkaran dan peselisihan, tidak jarang setiap mereka bertengkar Enji selalu memukuli Ayu sampai dia merasa kesakitan dan memar-memar di tubuhnya. Enji juga sering bermain judi dan mabuk-mabukan. Enji sering pulang kerumah dalam keadaan mabuk dan sering pula dia minum-minuman keras di rumah dihadapan Ayu mauapun anaknya.
Sejak suaminya sering bermain judi dan mabuk-mabukan mengakibatkan Enji tidak memberi nafkah kepada anak dan istrinya, Enji juga menghabiskan harta yang ada untuk bermain judi dan mabuk-mabukan. Perilaku Enji yang demikian itu terjadi mulai saat mereka punya anak, awal perkawinan sikap Enji baikbaik saja seperti selayaknya suami. Tetapi perilakunya mulai berubah setelah sering keluar malam bersama teman-temannya.88
87 Hasil wawancara dengan Ayu di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
88 Hasil wawancara dengan Enji di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
Perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus terjadi dengan masalah yang sama mengakibatkan Ayu tidak tahan lagi hidup berumah tangga bersama Suaminya yaitu pada puncaknya pada tahun 2010 Ayu pulang kerumah orang tuanya dengan membawa anaknya.
Berdasarkan keadaan tersebut Ayu merasa bahwa rumah tangganya tidak dapat diperthanakan lagi dan sudah tidak sanggup untuk menahan segala kekerasan yang dilakukan oleh suaminya. Akhirnya pada tahun 2011 Ayu mengajukan gugatan ceraia.
c. Profil Rudi dan Soraya (Nama Samaran)
Rudi adalah seorang pemuda asli Kampung Poncowati, dia hanya berasal dari sebuah keluarga yang orang tuanya berprofesi sebagai petani sayur. Setelah dia lulus sekolah setiap harinya dia selalu membantu orang tuanya di kebun.
Kerena keluarga Rudi adalah sebuah keluarga yang keadaan ekonominya sangat sederhana, ia hanya mengenyam pendidikan samapi tingkat SD. Rudi tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren karena dari keluarga dia memang minim pengetahuan agamanya.89
Sedangkan istrinya (Soraya) merupakan pemudi yang juga bearsal dari Kampung Poncowati. Soraya juga hanya berpendidikan tingkat SD, karena ia juga hanya berasal dari keluarga yang sederhana.
Orang tuanya hanya berprofesi sebagai seorang petani.
Sebelum mereka memutuskan untuk menikah, keduanya terlebih dahulu menjalin hubungan pacaran kurang lebih selama 1 tahun.
89 Hasil wawancara dengan Modin Kampung Poncowati dari bapak Suwandi pada tanggal 22 November 2020
Timbulnya benih-benih cinta diantara keduanya disebabkan karena sering bertemunya mereka, karena keduanya dan lama kelamaan di antara keduanya timbul rasa saling mencintai.
Rudi dan Soraya menikah pada tahun 2002 yang di catatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Terbanggi Besar.
Prosesi pernikahan mereka di adakan di rumah yaitu di tempat tinggal orang tua Soraya (istri). Acara perkawinanpun diadakan secara meriah.90
Setelah menikah Rudi dan Soraya belum memiliki tempat kediaman sendiri, jadi keduanya sering tinggal di dumah orang tua Rudi maupun orang tua Soraya. Awal perkawinan rumah tangga mereka tentram dan bahagia, dan pada kahirnya mereka dikaruniani seorang anak perempuan sebut namanya Alya yang berumur 8 tahun.
Semula rumah tangga mereka dalam keadaan baik dan rukun, tetapi sejak tahun 2004 kehidupan rumash tangga mulai tidak harmonis, sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang disebabkan Rudi tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Pekerjaan Rudi yang hanya buruh srabutan menjadikan dia terkadang mendapatkan nafkah tetapi kadang juga tidak. Hal tersebut yang selalu memicu keributan, yang awalnya terjadi hanya di sebabkan karena masalah spele seperti anak minta uang jajan ataupun istri meminta unag belanja.91 Keributan itu terus menerus terjadi dan dengan masalah yang selalu sama. Akhirnya Soraya merasa suaminya tidak dapat mmenuhi kebutuhan ekonomi rumah tanggganya dan pada puncaknya Soraya memutuskan untuk pergi keluar Negeri sebagai TKW ke Negara Malaisya selama 2 tahun yaitu sampai tahun 2007. Kepergian Soraya ke luar negeri sebagai TKW juga atas dasar persetujuan suaminya.
90 Hasil wawancara dengan Rudi di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
91 Hasil wawancara dengan Soraya di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
Selama Soraya pergi ke luar negeri anak semata wayang mereka dititipkan kepada neneknya (orang tua Soraya). Kemudian pada tahun 2007 Soraya pulang ke Indonesia, akan tetapi sambutan yang diberikan oleh suaminya sangatlah dingin dan suaminya terkesan mendiamkannya, dan pada akhirnya Soraya memilih untuk tingggal bersama orang tuanya beserta anak semata wayangnya. Sedangkan suaminya tetap tingggal di rumah kediaman orang tuanya sendiri.92
Setelah kejadian tersebut tepatnya pada tahun 2007 awal selama itu pula Rudi tidak memberi nafkah wajib kepada istri maupun anaknya dan terkesan tidak memperdulikannya. Kemudian pada puncaknya tahun 2008 Soraya mendaftarka gugatan perceraiannya di Pengadilan Agama Lampung Tengah dengan bantuan seorang pengacara. Soraya mersa bahwa suaminya telah melanggar perjanjian perkawinan (sighat taklik talak) yang suami ucapakan setelah akad nikah dilangsungkan, bahwa sumainya tidak memberi nafkah selama 3 bulan lamanya dan tidak memperdulikan pengggugat lebih dari 6 bulan. Faktor ekonomi menjadi pemicu putusnya ikatan perkawinan di antara keduanya.
d. Profil Doni dan Ajeng (nama samaran)
Doni adalah seorang pemuda yang bertempat di RW 01 Kampung Poncowati, dia hanya berasal dari sebuah keluarga yang orang tuanya berprofesi sebagai petani. Setelah lulus SD setiap harinya dia selalu membantu orang tuanya pergi berlayar. Karena keluarga Doni adalah sebuah keluarga yang keadaan ekonominya sangat
92 Hasil wawancara dengan Soraya di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
sederhana, ia hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SD. Doni tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren karena dari keluarga dia memang minim pengetahuan agamanya.93
Sedangkan istrinya (Ajeng) merupakan pemudi yang juga berasal dari Kampung Poncowati. Ajeng juga hanya berpendidikan tingkat SD, karena ia juga hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Orang tuanya hanya berprofesi sebagai seorang petani. Sebelum mereka memutuskan untuk menikah, keduanya terlebih dahulu menjalin hubungan pacaran kurang lebih selama 1 tahun.94
Timbulnya benih-benih cinta diantara keduanya disebabkan karena sering bertemunya mereka, karena keduanya berasal dari satu Kampung Poncowati, dan lama kelamaan di antara keduanya timbul rasa saling mencintai. Awal mula benih-benih cinta itu timbul ketika mereka sama nonton dangdut yang diadakan di Kampung Poncowati.
Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Terbanggi Besar.
Prosesi pernikahan mereka di adakan di rumah yaitu di tempat tinggal orang tua Ajeng (istri). Acara perkawinanpun diadakan secara sederhana. Setelah menikah Doni dan Ajeng belum memiliki tempat kediaman sendiri, jadi keduanya sering tinggal di rumah orang tua Doni maupun orang tua Ajeng.
Awal perkawinan rumah tangga mereka tentram dan bahagia, dan pada tahun 2009 mereka dikaruniai seorang anak perempuan sebut saja namanya Lia.95
Semula rumah tangga mereka dalam keadaan baik dan rukun, tetapi sejak tahun 2011 kehidupan rumah tangga mulai tidak harmonis, sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang disebabkan Doni
93 Hasil wawancara dengan Modin Kampung Poncowati dari bapak Suwandi pada tanggal 22 November 2020
94 Hasil wawancara dengan Doni di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
95 Hasil wawancara dengan kepala Kampung Poncowati dari bapak Pakpahan pada tanggal 22 November 2020
tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Hal tersebut yang selalu memicu keributan, yang awalnya terjadi hanya di sebabkan karena masalah sepele seperti istri meminta uang belanja.
Pada akhirnya Ajeng merasa suaminya tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tanggganya dan pada puncaknya pada tahun 2012. Kemudian Ajeng memutuskan untuk pergi keluar Negeri sebagai TKW ke Negara Malaysia selama 2 tahun yaitu sampai tahun 2014. Kepergian Ajeng ke luar negeri sebagai TKW juga atas dasar persetujuan suaminya.96
Selama Ajeng pergi ke luar negeri suaminya diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain, kemudian pada tahun 2014 Ajeng pulang ke Indonesia, akan tetapi sambutan yang diberikan oleh suaminya sangatlah dingin dan suaminya terkesan mendiamkannya, dan pada akhirnya Ajeng memilih untuk tinggal bersama orang tuanya beserta anak semata wayangnya. Ajeng merasa bahwa suaminya telah melanggar perjanjian perkawinan (sighat taklik talak) yang suami ucapkan setelah akad nikah dilangsungkan. Ajeng merasa tidak terima dan mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama, bahwa sumainya tidak memberi nafkah selama 3 bulan lamanya dan tidak memperdulikan penggugat lebih dari 6 bulan.
e. Profil Sulis dan Rizal (nama samaran)
Sulis dan Rizal merupakan pasangan suami istri yang bertempat di RW 02 menikah pada tahun 2010 di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Terbanggi Besar. Mereka menikah ketika Rizal berumur 20
96 Hasil wawancara dengan Ajeng di kampung Poncowati dari bapak Pakpahan pada tanggal 22 November 2020
tahun dan Sulis berumur 19 tahun. Setelah satu tahun menikah mereka dikaruniai satu orang anak perempuan sebut saja namanya Raya. Rizal dan Sulis merupakan seorang muslim keduanya beragama Islam.97
Rizal dan Sulis merupakan anak dari seorang petani yang menjadikan mereka hanya bersekolah sampai tingkat SD. Hal tersebut dikarenakan bagi orang tua mereka pendidikan tidaklah begitu menjadi prioritas utama, apalagi bagi seorang anak perempuan. Mereka berfikir bahwa suatu saat nanti anak- anaknya juga akan menjadi ibu rumah tangga yang akan mengurus rumah dan suaminya kelak, jadi menurut mereka pendidikan tidaklah begitu penting, yang terpenting bagi mereka adalah anaknya sudah bisa baca dan menulis saja. Setelah menikah pasangan ini tinggal di rumah orang tua Rizal.98
Awal perkawinan, kehidupan rumah tangga Rizal dan Sulis dalam keadaan rukun dan tentram. Akan tetapi setelah usia perkawinan mereka menginjak tiga tahun tepatnya pada tahun 2013, kehidupan rumah tangga mereka mulai goyah dan diwarnai pertengkaran.
Terkadang hanya masalah yang kecil sering diperdebatkan, sehingga berakhir pada pertengkaran. Hal tersebut membuat hubungan mereka renggang dan keharmonisan rumah tangga mereka menjadi kurang.
Menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Sulis, latar belakang terjadinya pertengkaran mereka adalah permasalahan ekonomi. Sulis merasa kesal dengan perilaku suaminya yang jarang memberikan uang nafkah. Hal tersebut yang selalu memicu pertengkaran dan perselisihan, tidak jarang setiap mereka bertengkar Rizal selalu memukuli Sulis sampai dia merasa kesakitan dan memar-memar di tubuhnya. Sepulang dari berlayar Rizal sering bermain judi dan mabukmabukan bersama teman-temannya.99
97 Hasil wawancara dengan Modin Kampung Poncowati dari bapak Suwandi pada tanggal 22 November 2020
98 Hasil wawancara dengan Modin Kampung Poncowati dari bapak Suwandi pada tanggal 22 November 2020
99 Hasil wawancara dengan Sulis di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020
Sejak suaminya sering bermain judi dan mabuk-mabukan mengakibatkan Rizal semakin jarang memberi nafkah kepada anak dan istrinya, Rizal juga menghabiskan uang yang ada untuk bermain judi dan mabuk-mabukan. Terjadi mulai saat mereka punya anak, awal perkawinan sikap Rizal baik-baik saja seperti selayaknya suami.
Tetapi perilakunya mulai berubah setelah sering keluar malam bersama teman-temannya. Setiap kali Sulis bertanya dari mana Rizal, dia selalu marah-marah dan berkata kalau itu bukan urusannya Perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus terjadi dengan masalah yang sama mengakibatkan Sulis tidak tahan lagi hidup berumah tangga bersama Suaminya yaitu pada puncaknya pada tahun 2015 Sulis pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa anaknya.100
Berdasarkan keadaan tersebut Sulis merasa bahwa rumah tangganya tidak dapat dipertahankan lagi dan sudah tidak sanggup untuk menahan segala kekerasan yang dilakukan oleh suaminya.
Akhirnya pada akhir tahun 2016. Sulis mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Lampung Tengah. Dan Pengadilan memutus cerai pasangan Sulis dan Rizal pada bulan maret tahun 2017.
2. Faktor-faktor Penyebab Perceraian dalam Rumah Tangga
Perkawinan merupakan suatu hal yang sakral dan hanya terjadi yaitu sekali seumur hidup. Pada dasarnya suatu perkawinan pempunyai tujuan yang baik yaitu membentuk keluarga yang tentram, damai dan bahagia sepanjang masa. Akan tetapi semua tujuan yang baik tersebut tidak akan terlaksana atau terwujud jika tidak ada kesesuaian hati diantara mereka.
100 Hasil wawancara dengan Rizal di Kampung Poncowati pada tanggal 22 November 2020