BAB V BAB V
IV.1 KONDISI EKSISTING B
IV.1.2 Kondisi Massa dan Unit Hunian
Rumah susun di blok Apron ini termasuk ke dalam kelompok bangunan berbentuk blok. Pola dasar dari blok huniannya terdiri dari empat unit hunian dan satu tangga bersama, berlaku untuk unit F.21 dan F.36. Bentuk blok-blok huniannya adalah pengulangan dari konfigurasi dasar tersebut yang disusun secara berpasangan. Orientasi tiap unit huniannya adalah single orientation. Penelitian akan
r di serta dapur di tiap unitnya, sedangkan F21 da
diarahkan pada unit hunian F36 dengan pertimbangan bahwa unit F36 adalah modul hunian lengkap sederhana yang dapat mewakili standar hunian minimal berdasarkan elengkapan ruang yang dimilikinya. Unit hunian F36 sudah memiliki dua ruang tidu k
tersendiri, ruang keluarga dan kamar man
n F 18 belum memiliki kelengkapan yang sama.
Jalan masuk ke dalam salah satu blok unit hunian (±2,8m) cukup baik dalam menerima penghawaan dan pencahayaan alami, terutama pada ruang-ruang dalam tiap unit hunian yang memiliki bukaan langsung ke arah jalan tersebut. Susunan blok hunian yang ada memberikan cukup perlindungan pada jalan masuk dari radiasi panas matahari. Area di bawah tangga dimanfaatkan sebagai tempat panel-panel listrik tiap unit yang dikelilingi pagar pengaman. Ruang sirkulasi yang ada
dimanfaatkan juga sebagai area servis para penghuni yang memiliki unit usaha di lantai dasar. Walaupun udara dapat mengalir cukup baik pada area ini, namun pada beberapa bagian tidak memperoleh pencayaan alami yang cukup.
Gambar 4.5 Modul dasar massa terdiri dari 4 unit hunian dan 1 tangga bersama dengan sistem sirkulasi double loaded corridor dan single orientation unit. Pengulangan pola tersebut akan membentuk pola yang lebih besar dan membentuk massa bangunan.
Sarana sirkulasi pada rumah susun ini adalah koridor dan tangga. Sistem koridor yang digunakan adalah double loaded selebar 2,7 m termasuk ruang untuk tangga dengan bentuk linier. Sehingga lebar bersih ruang sirkulasi hanya separuh dari lebar koridor tersebut. Jika ditinjau terhadap peraturan bangunan di daerah DKI Jakarta, bangunan dengan ketinggian lebih dari 4 lantai diharuskan menggunakan lift. Namun pada rumah susun di blok apron, sarana sirkulasi vertikal hanya
penghuni. Akan tetapi penghuni merasa keberatan dengan besarnya biaya pemeli
memanfaatkan tangga saja. Menurut beberapa penghuni, pada masa pembangunan sudah diusulkan pengadaan lift. Biaya pemeliharaannya ditanggung bersama oleh
haraan yang lebih tinggi dari cicilan unit huniannya pada saat itu. Sehingga lift pun tidak diadakan di rumah susun ini.
Gambar 4.6a Salah satu jalan masuk menuju hunian dan sirkulasi yang ada di antara pertemuan unit pada lantai dasar.
n F.36
a hampir tidak dari dalam
k
beberapa unit yang dindingnya menempel dengan tangga. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi kenyamanan aktifitas penghuni. Selain itu, kondisi sirkulasi tersebut menyebabkan tingkat privasi antar unitnya berkurang. Teras yang ada terbentuk akibat perletakan sepasang unit hunian yang tidak simetri, akibatnya teras tersebut cenderung hanya dapat dinikmati oleh dua unit hunian saja yang letaknya tepat di depan teras tersebut.
Ruang keluarga atau ruang serba guna dalam unit hanya mendapat pencahayaan alami tetap dari jendela yang terletak di sudut ruang. Pintu ruang kelurga
udara yang diterima menjadi berkurang.
Gambar 4.6b
Koridor pada unit hunia terbagi oleh tangga, pada beberapa unit hunian letak pintu sangat dekat dengan tangga sehingg
ada ruang transisi unit ke koridor.
Hampir semua unit hunian tidak memiliki ruang untu transisi, terlebih pada
dan teras jemur hanya dibuka dari pagi sampai sore. Bukaan berupa kaca nako yang ada di dapur sebenarnya cukup tinggi, hanya saja penghuni pada unit ini meletakan kabinat gantung pada bidang yang sama. Sehingga intensitas cahaya dan
Gambar 4.7 Hanya terdapat satu jendela di sudut pada ruang keluarga di unit F.36. Sumber pencahayaan dan penghawaan lain diperoleh dari pintu masuk utama dan teras. Luas jendela yang ada di dapur berkurang oleh hanging cabinet.
Tidak terdapat bukaan untuk pencahayaan dan penghawaan alami dari arah koridor selain lubang pintu. Hal tersebut menyebabkan penghawaan dan pencahayaan di ruang keluarga kurang baik terlebih jika pintu tertutup. Hampir semua penghuni pada unit menggunakan AC atau kipas angin dalam ruang tidurnya karena pada malam hari jendela ruang tersebut ditutup. Lubang angin berikut kusen semua unit terbuat dari aluminium. Luas lubang bebas yang ada cenderung terbatas.
Hal tersebut mungkin disebabkan oleh letak antar sirip dan sudut kemiringannya
n terdapat beberapa hal yang patut diamati dan dapat dikembangkan lagi, yaitu :
• Bentuk pola pertemuan antar unit hunian
Pola pertemuan antar unit hunian dalam tiap blok sangat mempengaruhi kualitas penghawaan alami dalam tiap unit. Kondisi dan bentuk sebuah koridor berpengaruh pula terhadap pencahayaan alami dan pola pergerakan udara yang
. Sehingga udara yang lewat dengan bebas cenderung terbatas.
Gambar 4.8 Lubang udara pada bagian muka unit hanya terdapat di atas jendela salah satu ruang tidur dan pintu utama. Susunan dan kemiringan sirip-siripnya cenderung membatasi gerakan udara.
Berdasarkan kondisi eksisting rumah susun di blok Apro
ada pada unit hunian yang berada di dekat blok tersebut. Pola hubungan antar hunian dalam suatu blok yang baik adalah pola hubungan yang dapat mendistribusikan gerakan udara dan cahaya matahari sehingga dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sarana penghawaan dan pencahayaan alami dalam blok tersebut.
• Bentuk dan dimensi lubang penghawaan
rumah susun berpengaruh pada intensitas udara yang masuk dalam ruang. Tiap uni
ran yang berlaku untuk g baik. Lubang penghawaan yang
•
ang juga disebabkan perletakan furnitur yang kurang ng ada. Akibatnya intensitas udara Bentuk dan dimensi lubang penghawaan untuk sirkulasi udara pada tiap unit
t hunian sebaiknya memiliki lubang udara yang bebas dan tetap terbuka sepanjang hari dengan luasan minimal sesuai peratu
memperoleh kualitas penghawaan alami yan
ada di unit F.36 Kemayoran tampaknya belum memiliki lubang bebas yang memadai untuk ventilasi alami. Perlu ada pengolahan lebih lanjut pada disainnya agar kualitas penghawaan alami dalam ruang lebih baik.
Bentuk ruang dan perabotan serta kapasitas unit hunian
Ruang-ruang dalam unit hunian sebaiknya memiliki bentuk yang cukup baik untuk menampung akitifitas penghuni berikut perabotan yang menunjang aktifitas tersebut. Pada beberapa unit hunian, berkurangnya kualitas pencahayaan dan penghawaan alami pada ru
tepat dan cenderung menghalangi bukaan ya
dan cahaya yang masuk ke dalam ruang menjadi berkurang. Hal tersebut mungkin disebabkan keterbatasan ruang yang ada (umumnya unit hunian F.36 tidak memiliki gudang) dan pola kebiasaan penghuni yang umumnya terbiasa tinggal di landed house. Perlu dikembangkan lebih jauh kesatuan antara ruang dan perabot yang dibutuhkan pada ruang tersebut. Penyediaan perabot built-in dalam unit hunian dapat menjadi hal yang patut dipertimbangkan.
IV.3
IV.3
ayoran secara mum cukup potensial untuk menunjang penghawaan alami mengingat masih anyaknya ruang terbuka antar bangunan-bangunannya. Berdasarkan data BMG, rah angin terbanyak di Kemayoran pada tahun 2005 ialah Timur dan Barat dengan ecepatan rata-rata 3,74 m/dtk dan maksimum 12,35 m/dtk. Pengukuran tersebut ilakukan BMG pada ketinggian 10 meter diatas permukaan tanah. Dengan
ngin tersebut di atas, penghawaan alami dalam unit hunian rumah susun yoran tampaknya kemungkinan besar memiliki kualitas yang baik. Namun pakah kecepatan angin tersebut pasti menjamin kualitas penghawaan alami dalam nit-unitnya?
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pergerakan udara dalam uatu blok hunian tidak terlepas dari pola hubungan antar unit-unit hunian
luar bangunan cukup emadai, belum tentu unit-unit hunian di dalam suatu blok mendapatkan
Jika pola hubungan suatu blok tidak memun
KONDISI PERGERAKAN UDARA DI BLOK APRON
.1 Pergerakan Udara di Luar Ruang
Kecepatan angin di lingkungan rumah susun sederhana Kem u
b a k d
kecepatan a Kema a u
s
didalamnya. Oleh karena itu walaupun kecepatan angin di m
penghawaan alami yang memadai pula.
gkinkan unit huniannya menerima udara dan cahaya matahari dengan baik maka kualitas penghawaan dan pencahayaan dalam unitnya pun akan cenderung tidak baik pula. Untuk mengetahui apakah pola hubungan rumah susun yang ada di blok Apron ini sudah dapat mengarahkan gerakan udara dengan baik atau belum, dapat dilakukan dengan pemetaan gerakan udara secara sederhana yang nantinya dapat dibuktikan melalui wind tunnel dan diverifikasi dengan komputer.
Arah Terbanyak Kec. rata2 Kec. Max Kec. rata2 Kec. Max
Bulan Mata Angin Knots Knots (km/jam) (km/jam) Ket
Jan Barat 8,20 15 15,19 27,78
Feb Barat Laut 6,86 12 12,70 22,22
Mar
Tabel 4.1. Data kecepatan angin berdasarkan hasil pengukuran BMG tahun 2005 di wilayah Kemayoran pada ketinggian 10 meter di atas permukaan tanah
Barat Laut 7,71 15 14,23 27,78
Apr Timur & Utara 6,77 9 12,54 16,67
May Timur 6,81 9 12,61 16,67
Jun Timur Laut 7,28 24 13,48 44,45
Jul Timur 6,12 9 11,33 16,67
Aug Timur 7,42 11 13,74 20,37
Sep Timur Laut 7,33 13 13,56 24,08
Oct Utara 7,58 13 14,04 24,08
Nov Barat Daya 7,27 15 13,46 27,78
Dec Barat 7,77 15 14,39 27,78
y knots X 1,852 x km/jam =