• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Terkini Program Pemerintah untuk Layanan Keuangan Mikro

Dalam dokumen TINJAUAN KEUANGAN MIKRO INDONESIA 2015 (Halaman 101-105)

BAB 8 MODAL VENTURA

9.1. Kondisi Terkini Program Pemerintah untuk Layanan Keuangan Mikro

BAB 9

PROGRAM PEMERINTAH

Pemerintah Indonesia memiliki perhatian yang besar dan telah melaksanakan berbagai program untuk membantu mengembangkan keuangan mikro. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi rakyat. Banyak dari bantuan pemerintah terbukti berhasil menjadi program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.

Beragam bantuan pemerintah disalurkan secara langsung kepada penerima manfaat maupun secara tidak langsung melalui lembaga keuangan tertentu (channeling).

Untuk menjalankan program-program pemerintah tersebut, berbagai lembaga yang melayani keuangan mikro juga dibentuk, baik yang dibentuk secara khusus sebagai keluaran suatu program maupun yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan program.

Sebagian upaya berlangsung dengan baik, namun sebagian lainnya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Bab ini membahas secara singkat berbagai bantuan pemerintah yang terkait dengan layanan keuangan mikro. Pembahasan diawali dari kondisi terkini program- program pemerintah. Bagian selanjutnya menjelaskan empat kelompok utama program pemerintah yang terkait dengan layanan keuangan mikro, yaitu program yang merupakan inisiatif pemerintah daerah, progam yang merupakan bagian dari pengembangan sektoral, program penanggulangan kemiskinan dan dampak krisis ekonomi, serta program pengembangan UMKM.

yang telah berhenti. Daftar beberapa program pemerintah yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 9.1.

Tabel 9.1

Keberlangsungan Program Pemerintah dalam Keuangan Mikro

LKM/Program Sumber Dana Tahun

Dimulai Kondisi Saat Ini Kredit Bimbingan Masal

(Bimas) KLBI 1966 Selesai tahun 1985

Badan Kredit Kecamatan (BKK) Jawa Tengah

APBD Provinsi, APBD

Kabupaten, BPD Jateng 1972

Sebagian besar berubah menjadi BPR

Lumbung Pitih Nagari (LPN) Sumatera Barat

Iuran anggotan dan APBD Provinsi

1972 dihidupkan kembali

Sudah banyak yang bubar, sisanya menjadi BPR, koperasi atau tetap Lembaga Perkreditan

Kecamatan (LPK) Jawa Barat

APBD Provinsi, APBD

Kabupaten 1973

Sebagian besar berubah menjadi BPR

Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)

APBN 1976 Masih berjalan

Kredit Candak Kulak

(KCK) APBN 1979 Berhenti

Proyek Peningkatan Pendapatan Petani- nelayan Lecil (P4K)

APBN 1979 Selesai tahun 2005

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Bali

APBD Provinsi dan

swadaya masyarakat 1984

Tetap menjadi LPD, mendapatkan perkecualian dalam UU No. 1/2013 Kredit Usaha Tani (KUT) KLBI 1985 Selesai tahun 2000 Lembaga Kredit Usaha

Rakyat Kecil (LKURK) Jawa Timur

APBD Provinsi 1987

Sebagian besar berubah atau dilebur menjadi BPR

Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP) DI Yogyakarta

APBD Provinsi, APBD

Kabupaten, kas desa 1987

Masih berdiri di kecamatan-

kecamatan wilayah kab/kota DIY Usaha Sosial Ekonomis

Produktif Keluarga Miskin (USEP-KM)

APBD Kabupaten 1993 Masih berjalan Inpres Desa Tertinggal

(IDT) APBN 1994 Selesai tahun 1997

LKM/Program Sumber Dana Tahun

Dimulai Kondisi Saat Ini Tabungan Keluarga

Sejahtera (Takesra) dan Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra)

APBN 1995 Masih berjalan

Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP)

APBN dan simpanan

anggota 1995 Masih berjalan

Kelompok Usaha

Bersama (KUBE) APBN 1997

Selesai tahun 2010 dan akan diteruskan kembali

Program Pengembangan

Kecamatan (PPK) APBN 1998

Berubah menjadi PNPM Mandiri Pedesaan kemudian berhenti tahun 2015 Proyek Penanggulangan

Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)

APBN 1999

Berubah menjadi PNPM Mandiri Perkotaan kemudian berhenti tahun 2015 Program Pemberdayaan

Masyarakat Pesisir (PEMP)

APBN 2001 Selesai tahun 2007

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

APBD Provinsi, APBD Kabupaten, kas desa, simpanan masyarakat

2004 Masih berjalan

Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Bank pelaksana, jaminan dari pemerintah

2007

Diberhentikan tahun 2014 dan sedang dikaji ulang untuk diluncurkan kembali Pengembangan Usaha

Agribisnis Pedesaan (PUAP)

APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten, BUMN

2008

Masih berjalan, diintegrasikan dengan PNPM Mandiri

Program-program yang tergolong sukses dan masih berjalan sampai saat ini adalah Badan Kredit Kecamatan (BKK), Lumbung Pitih Nagari (LPN), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP), dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sebagian program telah bertransformasi menjadi lembaga keuangan mikro (LKM) yang dikelola secara profesional, meskipun sebagian lainnya berjalan dengan tertatih-tatih. Selain itu, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) juga terbilang sukses, meskipun masa program telah berakhir di awal tahun 2015.

Terdapat beberapa pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman program dan lembaga yang mampu bertahan sampai saat ini. Pertama, kemampuan lembaga untuk mengelola modal dan adanya dukungan pemerintah daerah untuk merespons berbagai kebijakan di tingkat pusat. Kedua, adanya sistem pendampingan, supervisi atau evaluasi, yang didukung oleh sumber daya manusia yang memadai. Ketiga, adanya kepemimpinan lokal dan rasa kepemilikan masyarakat akan program dan lembaga tersebut.

Sebagian lembaga lainnya yang dibentuk sebagai bagian dari atau untuk mendukung program pemerintah tidak dapat bertahan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ketidaksiapan lembaga untuk menjalankan program pemerintah, terutama karena ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah dan minimnya pendampingan tenaga profesional. Kedua, adanya ketergantungan pada bantuan dana pihak luar, terutama untuk permodalan. Ketiga, sosialisasi implementasi program yang terbatas, sehingga muncul interpretasi dan mekanisme pelaksanaan yang berbeda-beda antarpihak yang terlibat. Keempat, desain program tidak sepenuhnya memperhatikan kebutuhan riil penerima manfaat program, sehingga tak jarang jumlah pinjaman yang disediakan terlalu kecil, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan dan tidak memberikan dampak terhadap penerima, atau terlalu besar sehingga tidak dapat diakses dan tidak dapat dikembalikan. Kelima, terdapat beberapa program keuangan mikro yang diberikan dalam waktu yang bersamaan, terutama untuk dana hibah bergulir, yang menyebabkan masyarakat tidak mampu menyerap dana yang tersedia. Keenam, minimnya supervisi dan aturan yang ketat mengenai pengembalian pinjaman menyebabkan timbulnya moral hazard terkait bantuan kredit bergulir, di mana masyarakat memahami bantuan tersebut sebagai pemberian pemerintah, sehingga menimbulkan kredit macet dan menghambat operasionalisasi program dalam jangka panjang.

Pengalaman panjang Indonesia dalam memberikan program bantuan keuangan mikro mengimplikasikan perlunya kesinambungan kebijakan dan koordinasi antar lembaga dalam menyelesaikan isu-isu nasional, seperti kemiskinan dan inklusi keuangan.

Sinkronisasi kebijakan antarlembaga dan kesinambungan program keuangan mikro yang dilakukan oleh berbagai lembaga ini menjadi salah satu tantangan bagi OJK untuk terus mendukung perkembangan LKM. Sejauh ini, upaya untuk berbagi informasi dan proses demokratisasi dalam pengambilan keputusan sudah mulai berjalan. Namun demikian,

proses ini perlu diarahkan agar mampu memberikan insentif bagi setiap pihak dan sekaligus mampu menempatkan masyarakat sebagai penerima manfaat terbesar dari program-program tersebut.

9.2. Program Layanan Keuangan Mikro dengan Inisiatif dari Pemerintah Daerah

Dalam dokumen TINJAUAN KEUANGAN MIKRO INDONESIA 2015 (Halaman 101-105)