BAB 8 MODAL VENTURA
9.1. Kondisi Terkini Program Pemerintah untuk Layanan Keuangan Mikro
BAB 9
PROGRAM PEMERINTAH
Pemerintah Indonesia memiliki perhatian yang besar dan telah melaksanakan berbagai program untuk membantu mengembangkan keuangan mikro. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi rakyat. Banyak dari bantuan pemerintah terbukti berhasil menjadi program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.
Beragam bantuan pemerintah disalurkan secara langsung kepada penerima manfaat maupun secara tidak langsung melalui lembaga keuangan tertentu (channeling).
Untuk menjalankan program-program pemerintah tersebut, berbagai lembaga yang melayani keuangan mikro juga dibentuk, baik yang dibentuk secara khusus sebagai keluaran suatu program maupun yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan program.
Sebagian upaya berlangsung dengan baik, namun sebagian lainnya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Bab ini membahas secara singkat berbagai bantuan pemerintah yang terkait dengan layanan keuangan mikro. Pembahasan diawali dari kondisi terkini program- program pemerintah. Bagian selanjutnya menjelaskan empat kelompok utama program pemerintah yang terkait dengan layanan keuangan mikro, yaitu program yang merupakan inisiatif pemerintah daerah, progam yang merupakan bagian dari pengembangan sektoral, program penanggulangan kemiskinan dan dampak krisis ekonomi, serta program pengembangan UMKM.
yang telah berhenti. Daftar beberapa program pemerintah yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 9.1.
Tabel 9.1
Keberlangsungan Program Pemerintah dalam Keuangan Mikro
LKM/Program Sumber Dana Tahun
Dimulai Kondisi Saat Ini Kredit Bimbingan Masal
(Bimas) KLBI 1966 Selesai tahun 1985
Badan Kredit Kecamatan (BKK) Jawa Tengah
APBD Provinsi, APBD
Kabupaten, BPD Jateng 1972
Sebagian besar berubah menjadi BPR
Lumbung Pitih Nagari (LPN) Sumatera Barat
Iuran anggotan dan APBD Provinsi
1972 dihidupkan kembali
Sudah banyak yang bubar, sisanya menjadi BPR, koperasi atau tetap Lembaga Perkreditan
Kecamatan (LPK) Jawa Barat
APBD Provinsi, APBD
Kabupaten 1973
Sebagian besar berubah menjadi BPR
Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)
APBN 1976 Masih berjalan
Kredit Candak Kulak
(KCK) APBN 1979 Berhenti
Proyek Peningkatan Pendapatan Petani- nelayan Lecil (P4K)
APBN 1979 Selesai tahun 2005
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Bali
APBD Provinsi dan
swadaya masyarakat 1984
Tetap menjadi LPD, mendapatkan perkecualian dalam UU No. 1/2013 Kredit Usaha Tani (KUT) KLBI 1985 Selesai tahun 2000 Lembaga Kredit Usaha
Rakyat Kecil (LKURK) Jawa Timur
APBD Provinsi 1987
Sebagian besar berubah atau dilebur menjadi BPR
Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP) DI Yogyakarta
APBD Provinsi, APBD
Kabupaten, kas desa 1987
Masih berdiri di kecamatan-
kecamatan wilayah kab/kota DIY Usaha Sosial Ekonomis
Produktif Keluarga Miskin (USEP-KM)
APBD Kabupaten 1993 Masih berjalan Inpres Desa Tertinggal
(IDT) APBN 1994 Selesai tahun 1997
LKM/Program Sumber Dana Tahun
Dimulai Kondisi Saat Ini Tabungan Keluarga
Sejahtera (Takesra) dan Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra)
APBN 1995 Masih berjalan
Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP)
APBN dan simpanan
anggota 1995 Masih berjalan
Kelompok Usaha
Bersama (KUBE) APBN 1997
Selesai tahun 2010 dan akan diteruskan kembali
Program Pengembangan
Kecamatan (PPK) APBN 1998
Berubah menjadi PNPM Mandiri Pedesaan kemudian berhenti tahun 2015 Proyek Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan (P2KP)
APBN 1999
Berubah menjadi PNPM Mandiri Perkotaan kemudian berhenti tahun 2015 Program Pemberdayaan
Masyarakat Pesisir (PEMP)
APBN 2001 Selesai tahun 2007
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)
APBD Provinsi, APBD Kabupaten, kas desa, simpanan masyarakat
2004 Masih berjalan
Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Bank pelaksana, jaminan dari pemerintah
2007
Diberhentikan tahun 2014 dan sedang dikaji ulang untuk diluncurkan kembali Pengembangan Usaha
Agribisnis Pedesaan (PUAP)
APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten, BUMN
2008
Masih berjalan, diintegrasikan dengan PNPM Mandiri
Program-program yang tergolong sukses dan masih berjalan sampai saat ini adalah Badan Kredit Kecamatan (BKK), Lumbung Pitih Nagari (LPN), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP), dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sebagian program telah bertransformasi menjadi lembaga keuangan mikro (LKM) yang dikelola secara profesional, meskipun sebagian lainnya berjalan dengan tertatih-tatih. Selain itu, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) juga terbilang sukses, meskipun masa program telah berakhir di awal tahun 2015.
Terdapat beberapa pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman program dan lembaga yang mampu bertahan sampai saat ini. Pertama, kemampuan lembaga untuk mengelola modal dan adanya dukungan pemerintah daerah untuk merespons berbagai kebijakan di tingkat pusat. Kedua, adanya sistem pendampingan, supervisi atau evaluasi, yang didukung oleh sumber daya manusia yang memadai. Ketiga, adanya kepemimpinan lokal dan rasa kepemilikan masyarakat akan program dan lembaga tersebut.
Sebagian lembaga lainnya yang dibentuk sebagai bagian dari atau untuk mendukung program pemerintah tidak dapat bertahan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ketidaksiapan lembaga untuk menjalankan program pemerintah, terutama karena ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah dan minimnya pendampingan tenaga profesional. Kedua, adanya ketergantungan pada bantuan dana pihak luar, terutama untuk permodalan. Ketiga, sosialisasi implementasi program yang terbatas, sehingga muncul interpretasi dan mekanisme pelaksanaan yang berbeda-beda antarpihak yang terlibat. Keempat, desain program tidak sepenuhnya memperhatikan kebutuhan riil penerima manfaat program, sehingga tak jarang jumlah pinjaman yang disediakan terlalu kecil, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan dan tidak memberikan dampak terhadap penerima, atau terlalu besar sehingga tidak dapat diakses dan tidak dapat dikembalikan. Kelima, terdapat beberapa program keuangan mikro yang diberikan dalam waktu yang bersamaan, terutama untuk dana hibah bergulir, yang menyebabkan masyarakat tidak mampu menyerap dana yang tersedia. Keenam, minimnya supervisi dan aturan yang ketat mengenai pengembalian pinjaman menyebabkan timbulnya moral hazard terkait bantuan kredit bergulir, di mana masyarakat memahami bantuan tersebut sebagai pemberian pemerintah, sehingga menimbulkan kredit macet dan menghambat operasionalisasi program dalam jangka panjang.
Pengalaman panjang Indonesia dalam memberikan program bantuan keuangan mikro mengimplikasikan perlunya kesinambungan kebijakan dan koordinasi antar lembaga dalam menyelesaikan isu-isu nasional, seperti kemiskinan dan inklusi keuangan.
Sinkronisasi kebijakan antarlembaga dan kesinambungan program keuangan mikro yang dilakukan oleh berbagai lembaga ini menjadi salah satu tantangan bagi OJK untuk terus mendukung perkembangan LKM. Sejauh ini, upaya untuk berbagi informasi dan proses demokratisasi dalam pengambilan keputusan sudah mulai berjalan. Namun demikian,
proses ini perlu diarahkan agar mampu memberikan insentif bagi setiap pihak dan sekaligus mampu menempatkan masyarakat sebagai penerima manfaat terbesar dari program-program tersebut.
9.2. Program Layanan Keuangan Mikro dengan Inisiatif dari Pemerintah Daerah