PEMAHAMAN KONSEP PENGUKURAN DEBIT
4. Koneksi Matematik
Koneksi matematik merupakan salah satu standar yang dikemukakan oleh NCTM (1989 : 12) yang bertujuan untuk membantuk pembentukan persepsi siswa dengan cara melihat matematika sebagai bagian terintegrasi dengan dunia nyata dan mengenal relevansi serta manfaat matematika baik di dalam maupun di luar sekolah. Begitupun kurikulum (Depdikbud, 1995 : 21) mengemukakan salah satu tujuan umum pembelajaran matematika di sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Berdasarkan klasifikasi NCTM mengenai koneksi matematik, diharapkan siswa mampu :
a. Mengenal representasi yang ekuivalen dari konsep yang sama.
b. Mengenal hubungan prosedur satu representasi ke prosedur representasi yang ekuivalen.
c. Menggunakan dan menilai koneksi beberapa topik-topik matematika.
d. Menggunakan dan menilai koneksi antara matematika dan disiplin ilmu lain.
Contoh Soal Koneksi Matematik
Dibawah ini disajikan data ulangan fisika dari 50 orang siswa kelas XI IPA SMA sebagai berikut
Nilai 1 2 3 4 5
Frekuensi X 11 Y 8 9
Apabila mean dari nilai fisika tersebut = 2,7. Tentukanlah nilai X dan Y! Sifat apa yang mendasari penyelesaian persoalan di atas? Berikan penjelasan.
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
Dengan unsur koneksi matematik ini diharapkan siswa mempunyai karakter sebagai berikut :
1) Mandiri, yaitu sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas
2) Kerja keras, yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
3) Kreatif, yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimilikinya.
4) Gemar membaca, yaitu Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya
5) Rasa ingin tahu, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka penulis mempunyai kesimpulan sebagai berikut :
1) Pembelajaran matematika yang berorientasi pada kemampuan berpikir matematik tingkat tinggi diprediksi dapat membangun karakter bangsa.
2) Jika pembelajaran matematika yang berorientasi pada kemampuan berpikir matematik tingkat tinggi berhasil diterapkan dengan baik maka diprediksi hasil belajar siswa dalam matematika akan meningkat dan pengembangan karakter siswa dalam pembelajaran matematika akan mengarah kepada terbentuknya pribadi- pribadi masa depan yang berorientasi kepada eksplorasi, penemuan, kemandirian dan prestasi.
Saran
Selain itu, berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
1) Keberhasilan peserta didik menyelesaikan pendidikannya di suatu satuan pendidikan lebih diseimbangkan antara aspek kongnitif/psikomotor dengan aspek afektif.
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
2) Pembelajaran matematika yang ‘kering nilai’ dapat dikembangkan guru matematika dengan mengintegrasikan dan/atau menekankan pentingnya nilai-nilai positif dari budaya dan karakter bangsa dalam kegiatan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Effendy. O. U. (1993). Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Kariadinata, R. (2006). Aplikasi Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Matematika sebagai Upaya Mengembangkan Kemampuan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Sisw SMA. Disertasi UPI. Bandung : Tidak Dipublikasikan.
Kemendiknas. (2010). Desain Induk Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan Nasional. Jakarta : Kemendiknas.
Puskur. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta : Puskur Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional.
Sumarmo, U. (1987). Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa SMA dikaitkan dengan Kemampuan Penalaran Logik Siswa dan Beberapa Unsur Proses Belajar Mengajar. Disertation at Post Graduate Studies at Indonesia University of Education, Bandung , not published
Sumarmo, U. (1993). Peranan Kemampuan Logik dan Kegiatan Belajar terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika pada Siswa SMA di Kodya Bandung. Indonesia University of Education, Bandung , not published
Sumarmo, U. (1994). Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Guru dan Siswa SMA di Kodya Bandung. Research Report at Indonesia University of Education, Bandung , not published
Sumarmo, U. (2002). Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Report of Research Grant at Post Graduate Study. Indonesia University of Education, Bandung , not published
Sumarmo, U. (2003). Pengembangan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi pada Siswa SLTP dan SMU serta Mahasiswa Strata Satu (S1) melalui berbagai Pendekatan Pembelajaran. Bandung, Report of Research Grant at Post Graduate Study.
Indonesia University of Education, Bandung , not published
Sumarmo, U. (2004). Kemandirian Belajar: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik. Paper presented at National Mathematics Education Seminar at State University of Yogyakarta.
Sumarmo, U. (2005). Pengembangan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP dan SMU serta Mahasiswa Strata Satu melalui Berbagai Pendekatan
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
Pembelajaran. Report of Research Grant at Post Graduate Study. Indonesia University of Education, Bandung , not published
Suryadi, D. (2004). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangkaian Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP.
Disertation at Post Graduate Studies at Indonesia University of Education, Bandung , Indonesia, not published
Webb, N.L. dan Coxford, A.F. (1993). Assesment in Mathematics Classroom.
Yearbook. NCTM : Reston, Virginia.
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
PEMBELAJARAN CONNECTED MATHEMATICS PROJECT (CMP) UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA
Adi Asmara1
Program Studi Pendidikan Matematika1
1FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Berbagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, mulai dari penyempurnaan kurikulum, penyesuaian materi pelajaran, dan metode pembelajaran terus dilakukan sehingga benar-benar tercipta sebuah terobosan pembelajaran yang cocok dengan kondisi siswa di sekolah. Perubahan sikap, keterampilan dan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa merupakan sebuah harapan yang diidam-idamkan oleh berbagai pihak terkait dalam dunia pendidikan. Ciri-ciri kognitif berpikir kreatif matematis adalah 1. fluency, 2. fleksibilitas, 3. Kebaharuan, 4. Mengelaborasi, 5.
Mengevaluasi. Indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa adalah : 1. Sensitivity yaitu kemampuan siswa mendeteksi pernyataan atau pertanyaan serta memberikan jawaban dengan benar dan lengkap dalam memecahkan masalah. 2. Kefasihan merupakan kemampuan siswa dalam membuat jawaban yang beragam dan benar. 3. Elaborasi merupakan kemampuan siswa dalam memberikan jawaban benar dan rinci dalam memecahkan masalah. 4. Fleksibilitas merupakan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda dan benar. 5. Kebaharuan merupakan kemampuan siswa dalam membuat berbagai jawaban yang lain dari yang sudah biasa dan jawabannya benar dalam memecahkan masalah. Langkah-langkah pembelajaran connected mathematics project (CMP) menurut Lappan (2001) adalah : (1) Phase Launching, (2) Phase Exploring, dan (3) Phase Summarizing
Kata Kunci: Pembelajaran CMP, Berpikir Kreatif Matematis Siswa
PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan, matematika mempunyai peranan yang sangat penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Matematika sebagai disiplin ilmu, menjadi pendukung bagi keberadaan ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu siswa diharapkan memiliki penguasaan matematika pada tingkat tertentu, sehingga berguna bagi siswa dalam berkompetensi di masa depan. Ilmu matematika dapat
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
diperoleh dengan menempuh pendidikan formal yang dilaksanakan disekolah-sekolah yang erat kaitannya dengan kegiatan pembelajaran. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, bahkan oleh mahasiswa di perguruan tinggi untuk membekali siswa maupun mahasiswa untuk berkemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan bekerja sama.
Hal ini juga dijelaskan dalam kurikulum 2006 yang mengamanatkan pentingnya mengembangkan kreativitas siswa dan kemampuan berpikir kreatif melalui aktivitas- aktivitas kreatif dalam pembelajaran matematika. Kreativitas dikatakan juga sebagai produk berpikir kreatif, sedangkan aktifitas kreatif merupakan kegiatan dalam proses pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong atau memunculkan kreativitas siswa.
Uraian diatas menyatakan pentingnya berpikir kreatif.
Connected Mathematics Project (CMP) adalah suatu pembelajaran yang berpusat pada masalah yang akan diselesaikan dan didiskusikan oleh siswa, sehingga siswa akan tampil aktif dalam belajar dan dapat dengan mudah diterapkan oleh guru dan siswa (Lappan, 2001). Berdasarkan definisi ini dapat disimpulkan bahwa CMP merupakan suatu pembelajaran yang dapat membantu siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan ide-ide dan menyelesaikan masalah melalui diskusi, sehingga siswa lebih aktif, memiliki keberanian mengungkapkan pendapat, dapat mengembangkan strategi pemecahan masalah yang mereka miliki dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.
Menurut Lappan (2001) sintaks pembelajaran CMP meliputi tiga fhase yaitu : Launch, Explore dan Summarize. Dapat dilihat pada tabel 1. berikut:
Tabel 1. Sintaks Pembelajaran CMP
No. Phase Belajar Peran Guru Peran Siswa
1. Launching Guru untuk mengantarkan ide baru, mengklarifikasikan definisi, mereview konsep lama dan mengaitkan masalah yang akan diluncurkan dengan pengalaman siswa sebelumnya.
Guru membantu siswa memahami pengaturan masalah.
Siswa diharapkan dapat berusaha untuk memahami masalah.
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011 Tabel 1. Lanjutan
2. Exploring Guru membentuk kelompok untuk bekerja dengan mengajukan pertanyaan dan
mengkonfirmasikan apa yang dibutuhkan siswa.
Guru berkeliling mengawasi siswa dan senantiasa memberikan motivasi kepada siswa untuk menemukan pemecahan masalah yang telah diberikan.
Siswa bekerja untuk memecah- kan masalah secara ber-kelompok, kerja siswa seperti me-ngumpulkan data berbagai ide, membuat pola dan mengem-bangkan strategi pemecahan masalah.
3. Summarizing Guru membantu siswa
meningkatkan pemahaman siswa tentang masalah dan memperbaiki strategi mereka agar teknik pemecahan masalahnya bisa efisien dan efektif.
Siswa berdiskusi tentang solusi yang mereka dapatkan, juga strategi yang di-gunakan untuk menyelesaikan masalah, meng- organisasi kan data, dan me- nemukan solusi.
Dari sintaks di atas, jadi langkah-langkah pembelajaran connected mathematics project (CMP) menurut Lappan (2001) adalah sebagai berikut: (a) Pada Phase Launching. Pada awal kegiatan pembelajaran, guru memberi gambaran kepada siswa atau menghubungkan hal-hal yang telah dikenal siswa. Guru memberi informasi, konsep tentang materi dan memberi LKS kepada siswa sehingga siswa diharapkan dapat menemukan sendiri definisi dari materi yang di ajarkan. Guru membantu siswa memahami masalah; (b) Phase Exploring. Guru membagi siswa beberapa kelompok.
Siswa memahami LKS, kemudian siswa berdiskusi, mengenai definisi, sifat-sifat yang terkait dengan materi pelajaran; (c) Phase Summarizing. Pada tahap ini kebanyakan siswa telah mendapat data-data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan guru. Siswa mempresentasikan hasil kerjanya didepan kelas. Selanjutnya menguji kembali penyelesaian yang diperoleh. Pada tahap ini guru mengarahkan siswa untuk menunjukkan kembali penyelesaian yang diperoleh.
Berpikir kreatif dalam matematika lebih menekankan pada kemampuan siswa berpikir terbuka yang tidak hanya sebatas pada materi yang baru saja disampaikan dan
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
bersifat rutin. Pemaknaan berpikir kreatif dalam matematika yang disesuaikan dengan karakteristik keilmuwan matematika.
Berpikir kreatif dalam matematika mengacu pada pengertian berpikir secara umum. Bishop dalam Siswono (2008:20) menjelaskan ”bahwa seseorang memerlukan 2 (dua) model berpikir yang komplementer dalam matematika yaitu berpikir kreatif yang bersifat intuitif dan berfikir analitik yang bersifat logis”. Berfikir analitik yang bersifat logis adalah kemampuan berpikir siswa untuk menguraikan, memerinci dan menganalisis informasi-informasi yang digunakan untuk memahami suatu pengetahuan dengan menggunakan akal dan pikiran yang logis, bukan berdasar perasaan atau tebakan. Ketika seseorang menerapkan berpikir kreatif dalam suatu praktik pemecahan masalah, maka pemikiran divergen yang intuitif menghasilkan banyak ide. Hal ini akan berguna dalam menemukan penyelesaiannya.
Krutetski mengutip gagasan Shaw dan Simon memberikan indikasi berpikir kreatif yaitu (1) produk aktivitas mental mempunyai sifat kebaharuan (novelty) dan bernilai baik secara subjektif maupun objektif; (2) proses berpikir juga baru, yaitu memerlukan suatu transfomasi ide yang diterima sebelum maupun penolakannya; (3) proses berpikir dikarakterisasikan oleh adanya motivasi yang kuat dan kestabilan, yang teramati pada periode waktu yang sama lama atau dengan intensitas yang tinggi (Siswono, 2008:22).
Kreatifitas merupakan produk dari berpikir kreatif. Munandar (1987:47) mengemukakan bahwa ”Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada”. Kreativitas atau sering juga disebut daya cipta diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru.
Sesungguhnya ciptaan itu tidak perlu seluruhnya hal-hal baru, mungkin saja gabunganya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya.
Angelo dalam Padmono (2010) mengemukakan berpikir kreatif merupakan kemampuan menjalin secara akrab dengan hal yang baru yang tak disangka dan dengan jalan dirangsang (Creative thinking is the ability to interweave the familiar with the new in unexpected and stimulating ways). Lebih jauh Fisher dalam Padmono (2010) mengemukakan berpikir kreatif merupakan cara membangkitkan ide-ide yang dapat diterapkan ke dunia dalam banyak cara.
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
Munandar (1987:48) mengemukakan “Berpikir kreatif adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban”. Makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan seseorang terhadap suatu masalah maka makin kreatiflah seseorang itu.
Tentu saja jawaban-jawaban itu harus sesuai dengan masalahnya. Jadi, tidak hanya banyaknya jawaban yang dapat diberikan seseorang untuk menentukan kreatif atau tidaknya seseorang, tetapi juga yang harus diperhatikan kualitas atau mutu dari jawabannya. Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa berpikir kreatif merupakan kemampuan untuk menghasilkan ide yang dapat digunakan atau diterapkan menjadi sesuatu yang baru atau kombinasi baru dengan berbagai cara.
Ciri-ciri berpikir kreatif ada 2 (dua) yaitu ciri-ciri Kognitif Kreatif dan ciri-ciri Afektif. Menurut Williams dalam Munandar (1987:88). Ciri-ciri kognitif berpikir kreatif adalah:
(1) Keterampilan berpikir lancar (fluency), definisi: mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian atau pertanyaan, memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal, selalu memikirkan lebih dari satu jawaban;
(2) Keterampilan berpikir luwes (fleksibilitas), definisi: menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran;
(3) Keterampilan berpikir orisinal (Kebaharuan), definisi: mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur;
(4) Keterampilan Memperinci (Mengelaborasi), definisi: mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk, menambahkan atau memperinci detil- detil dari suatu obyek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik;
(5) Keterampilan Menilai (Mengevaluasi), definisi: menentukan patokan penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat atau suatu tindakan bijaksana, mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka, tidak hanya mencetuskan gagasan, tetapi juga melaksanakannnya, kelancaran
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
(kefasihan), fleksibilitas, orisinal, elaborasi, dan mengevaluasi merupakan ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif seseorang. Makin kreatif seseorang maka ciri-ciri tersebut semakin dimiliki.
Menurut Williams dalam munandar (1987:91). Ciri-ciri afektif berpikir kreatif adalah:
(1) Rasa ingin tahu, definisi: selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak, mengajukan pertanyaan, selalu memperhatikan orang, objek dan situasi, peka dalam pengamatan dan ingin mengetahui/ meneliti;
(2) Bersifat imajinatif, definisi: mampu memperagakan atau membayangkan hal- hal yang tidak atau belum pernah terjadi, menggunakan khayalan, tetapi mengetahui perbedaan antara khayalan dan kenyataan:
(3) Merasa Tertantang oleh Kemajemukan, definisi: terdorong untuk mengatasi masalah yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit, lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit;
(4) Sifat Berani Mengambil Resiko, definisi: berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar, tidak takut gagal atau mendapat kritik, tidak menjadi ragu- ragu karena ketidakjelasan, hal-hal yang tidak konvensional, atau yang kurang berstruktur;
(5) Sifat Menghargai, definisi: dapat menghargai bimbingan dan pengarahan dalam hidup, menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang. Rasa ingin tahu, bersifat imajinatif, merasa tertantang oleh kemajemukan, sifat berani mengambil resiko dan sifat menghargai merupakan ciri-ciri afektif (sikap) seseorang yang kreatif. Semakin kreatif seseorang semakin tampak ciri-ciri tersebut.
Menurut Guilford dalam Suryosubroto (2009:193) kemampuan berpikir kreatif dicerminkan melalui lima macam perilaku yaitu: (1) Fluency, kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan atau ide; (2) Fleksibility, kemampuan menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan; (3) Originality, kemampuan menyatakan gagasan-gagasan asli; (4) Elaboration, kemampuan menyatakan gagasan secara terperinci; (5) Sensitivity, kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.
Menurut Haylock dalam Siswono (2008 : 22-23) menunjukkan kriteria berpikir kreatif matematis, yaitu: (a) Kefasihan artinya banyak respons (tanggapan) yang dapat
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
diterima atau sesuai; (b) Fleksibilitas artinya banyaknya jenis respons yang berbeda; (c) Keaslian artinya kejarangan tanggapan (respon) dalam kaitan dengan sebuah kelompok pasangannya.
Tes kreativitas untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif (Munandar,1987:35). Silver dalam Siswono (2008 : 23) menjelaskan bahwa untuk menilai kemampuan berpikir kreatif anak-anak dan orang dewasa sering digunakan
”The Torrance Tests of Creative Thinking (TTCT). Tiga komponen kunci yang dinilai dalam kreativitas TTCT adalah kefasihan (fluency), fleksibilitas dan kebaharuan (novelty) ”.
Menurut Siswono (2008 : 45-46) indikator kemampuan berpikir kreatif matematika ditunjukkan dari:
(1) Kefasihan (fluency). Kefasihan (fluency) merupakan kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, serta selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
Kefasihan dalam pemecahan masalah mengacu pada kemampuan siswa memberi jawaban masalah yang beragam dan benar. Beberapa jawaban masalah dikatakan beragam, bila jawaban-jawaban tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu, seperti jenis bangun datarnya sama tetapi ukurannya berbeda;
(2) Fleksibilitas. Keluwesan (flexsibility) merupakan kemampuan menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan. Fleksibilitas dalam penyelesaian masalah mengacu pada kemampuan siswa memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda;
(3) Kebaruan (originality). Kebaruan (originality) merupakan kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan baru dan unik. Kebaruan dalam penyelesaian masalah mengacu pada kemampuan siswa menjawab masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh individu (siswa) pada tingkat pengetahuannya. Beberapa jawaban dikatakan berbeda, bila jawaban itu tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu, seperti bangunan datar yang merupakan gabungan dari beberapa macam bangun datar.
Menurut Siswono (2009:7) kefasihan dan kebaharuan dapat ditunjukkan dengan pertanyaan “Tunjukkan paling sedikit dua jawaban lain yang berbeda?” Fleksibilitas ditunjukkan dengan pertanyaan “Tunjukkan dua cara yang berbeda untuk mendapatkan jawaban itu ?”. Berkaitan dengan berbagai pendapat di atas dan berdasarkan pengertian
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
berpikir kreatif di simpulkan bahwa indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa adalah:
(1) Sensitivity (kepekaan) yaitu kemampuan siswa mendeteksi pernyataan atau pertanyaan serta memberikan jawaban dengan benar dan lengkap dalam memecahkan masalah. Kemampuan sensitivity dalam memecahkan masalah terlihat dari siswa dapat membuat apa yang diketahui, ditanya dari pertanyaan yang diberikan dan siswa dapat menyelesaikan masalah yang diberikan dengan benar dan lengkap;
(2) Kefasihan merupakan kemampuan siswa dalam membuat jawaban yang beragam dan benar dalam memecahkan masalah;
(3) Elaborasi (memperinci) merupakan kemampuan siswa dalam memberikan jawaban benar dan rinci dalam memecahkan masalah. Kemampuan elaborasi dalam memecahkan masalah terlihat dari siswa dapat memberikan jawaban yang disertai perincian yang jelas atau terlihat dari siswa dapat mengembangkan (memperkaya) gagasan jawaban suatu soal; (
4) Fleksibilitas merupakan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda dan benar;
(5) Kebaharuan merupakan kemampuan siswa dalam membuat berbagai jawaban yang lain dari yang sudah biasa dan jawabannya benar dalam memecahkan masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofian dan Iif Khoiru Ahmadi. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif Dalam Kelas. Jakarta : Erlangga.
Glazer, E. 2006. Using Web Sources to Promote Critical Thinking in High School Matematics. (online). Tersedia : http:/math.It/nsrim/aglazer.79-84.PDF (19 Februari 2009).
Lappan, Glenda, et al.2001. Getting to Know Connected Mathematics : an Implementation Guide. New Jersey : Prentice Hall
Munadar, Utami. 1987. Mengembangakan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Penuntun Bagi Guru dan Orang Tua. Jakarta : Gramedia.
. 2009. Mengembangkan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : Gramedia
Seminar Nasional Pendidikan MIPA, Unila, 2011
Padmono. 2010. Berpikir Kreatif Pengantar Menuju Kreativitas. Di ambil pada tanggal 24 Februari 2011, dari http://ypadmonofkipuns-pdm.blogspot.com/2010/02/
berpikir-kreatif-pengantar-menuju.html.
Semiawan, Conny., Munandar, A.S dan Munadar, Utami. 1990. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah Petunjuk Bagi Guru dan Orang Tua.
Jakarta : Gramedia
Marzano, R. J. et. al. 1989. Demension of Thinking : A frawork for curriculum and Instruction. Alexandria US : Association for Supervision and Curriculum Development.
Santrock, J.W. 2008. Gpsikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.
Siswono, Tatag Yuli Eko. 2005. Menilai Kreativitas Siswa dalam Matematika.
Proseding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Di Jurusan Matematika FMIPA. UNESA. Diambil pada tanggal 25 Februari 2011, dari http://suaraguru.wordpress.com/2009/02/23/menilai-kreativitas-siswa-dalam- matematika
. 2008. Model Pembelajaran Matematika Berbasis Pengajuan dan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif.
Unesa University Press.
. 2009. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif siswa Melaui Pemecahan Masalah Tipe WHAT’S ANOTHER WAY’. Diambil pada tanggal 25 Februari 2011, dari http://tatagyes.files.wordpress.com/2009/
11/paper07jurnalpgriyogya.pdf.