• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kongres Wanita di Palembang

Liberal

D. Kongres Wanita di Palembang

istri Duta Besar RI, (5). Paramaribo dengan diadakan pameran.

Juga diterima dana dan bantuan berupa mesin tik dan lain-lain.21 Pada tanggal 20 April 1964 di Jakarta didirikan Badan Penghubung Organisasi Wanita (BPOW) dalam rangka melancarkan aksi Pemberantasan Buta Huruf (PBH) di kalangan wanita yang diselenggarakan bersama-sama dengan Jawatan Pendidikan Ma syarakat. Pembentukan BPOW tersebut segera diikuti oleh pem bentukan badan kerja sama organisasi wanita di daerah tingkat II (Kabupaten) dengan berbagai nama, antara lain: Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKSOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW). Gabungan organisasi di daerah tingkat I hanya terdapat di Jakarta.22

Perempuan pada Masa Demokrasi Liberal 181 b. Dasar:

Pancasila Negara Republik Indonesia c. Tujuan:

1) Kesempurnaan kemerdekaan negara Republik Indonesia 2) Terlaksananya hak-hak wanita sebagai manusia dan

sebagai warga negara

3) Ketenteraman dan keamanan dunia d. Keanggotaan:

1) Anggota biasa:

a) Organisasi wanita yang berpusat

b) Bagian wanita dari organisasi atau partai yang mempunyai organisasi wanita yang berdiri sendiri c) Organisasi wanita lokal yang sedikitnya mempunyai

anggota 50 orang.

2) Anggota luar biasa:

Seksi atau departemen wanita atau Urusan Kewanitaan dari partai atau organisasi.

e. Hak Suara:

Organisasi lokal 1 suara; organisasi yang bercabang 2-5, 2 suara; organisasi yang bercabang 6-10, 3 suara;

organisasi yang bercabang 15, 4 suara. Lebih dari 15 cabang, tiap 10 cabang men dapat satu suara dengan maksimum 15 suara.

f. Pengambilan Keputusan:

1) Keputusan-keputusan yang prinsipil (mengenai dasar dan tujuan) harus diambil dengan suara bulat.

2) Keputusan-keputusan lain diambil dengan suara terbanyak.

3) Pimpinan Kongres dipilih dengan suara terbanyak 4) Hal-hal di luar Kongres diputuskan oleh Majelis

Permusyawaratan.

Mendesak kepada Pemerintah supaya memberikan instruksi kepada instansi-instansi daerahnya agar mengadakan kerja sama yang erat dengan organisasi- organisasi wanita dalam lapangan sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

h. Setiap wanita diwajibkan agar berusaha ke arah terlaksananya hak-hak wanita. Usaha tersebut supaya dititikberatkan pada pem bangunan masyarakat yang menumbuhkan ”Self-help”, dengan cara gotong royong di kalangan wanita.

i. Organisasi anggota Kongres Wanita Indonesia diwajibkan beru saha menambah pengetahuan dan memperbaiki ekonomi untuk wanita pada umumnya, dengan mempergunakan hasil penyelidikan dari Pemerintah supaya dapat bekerja secara efisien. Usaha perbaikan sosial yang bersifat pencegahan (preventif) dan perbaikan (kuratif) agar diperluas ke Desa-desa. Pelaksanaan dari usaha tersebut seperti dengan hal-hal lain diserahkan kepada organisasi anggota di Daerah masing-masing.

j. Mendesak:

1) Supaya segera dikeluarkan Undang-Undang Perkawinan yang pokok dan khusus.

2) Kepada Jawatan Kepolisian Negara supaya diadakan lagi Ang katan Polisi Wanita dan Polisi Susila diperkuat.

3) Kepada Menteri Kehakiman supaya diadakan pengadilan anak, dan mengirim ahli hukum Indonesia untuk mempelajari soal itu di Luar Negeri.

4) Kepada Menteri Perburuhan dan Menteri Negara Urusan Perencanaan disampaikan keputusan Kongres Wanita Indo nesia untuk mempertahankan peraturan hadiah.

Perempuan pada Masa Demokrasi Liberal 183 5) Kepada Menteri Luar Negeri dikirim pernyataan

mendukung sepenuhnya usaha Pemerintah untuk mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia.

k. Agar ditentukan syarat-syarat bagi pegawai yang ditempatkan di luar Negeri, sebagai berikut:

1) Pegawai laki-laki yang ditempatkan di Luar Negeri sedapat mungkin yang telah kawin dengan wanita Indonesia dan men junjung tinggi kebudayaan Nasional.

2) Istri dari semua pegawai yang ditempatkan di Luar Negeri, perlu diberi pendidikan dalam bahasa asing, cara bergaul dan etiket, kebudayaan Nasional dan pergerakan wanita.

2. Pimpinan Sekretariat baru masa 1955-1957:

Ketua : Ny. Mr. Maria Ulfah Santoro (perorangan) Wakil Ketua : Ny. Mr. Nani Soewondo (Perwari) Penulis I : Ny. Artinah Samsuddin (Muslimat) Penulis II : Ny. Theodora Walandouw (PWKI) Bendahari : Nn. Muljati (PPI sekarang Kolonel Muljati) Ketua Komisi Hukum : Ny. Mr. Tuti Harahap.

3. Peristiwa-peristiwa dun kegiatan-kegiatan penting sesudah Kongres ke-X tahun 1955.

a. Tahun 1955/1956.

1) Pada bulan Oktober 1955 oleh Kepala Jawatan Agama Jawa Barat di Bandung bersama organisasi anggota Kongres Wanita Indonesia tingkat Propinsi, didirikan Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian (BP 4). Dalam bulan Maret 1956 di Jakarta dibentuk oleh Kepala Jawatan Agama bersama organisasi anggota Kongres Wanita Indonesia, Panitia Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian

(P5). Kemudian menyusul pembentukan P 5/BP 4 di Kabupaten-kabupaten di Pulau Jawa. Kongres Wanita Indonesia mendukung pembentukan Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian (BP 4), karena BP 4 melanjutkan pekerjaan yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda telah dirintis, mula-mula oleh Komite Perlindungan Kaum Perempuan dan Anak-Anak Indonesia (KPKPAI) dan kemudian menjadi Badan Perlindungan Perempuan Indonesia dalam Perkawinan (BPPIP).

2) 20 Mei 1956 Peresmian Gedung Persatuan Wanita di Yogya karta, yang dihadiri oleh Sekretariat Kongres Wanita Indone sia, Ny. Maria Ulfah Santoso dan Nn.

Muljati.

3) 17 Agustus sampai dengan 17 November 1956, Yayasan Hari Ibu menyelenggarakan kursus Pembangunan Masyarakat Desa yang diikuti oleh 20 orang wanita.

4) September 1956, mengirim peninjau ke Seminar Status of Women Commission dari UN di Moskwa, yaitu ply. Mr. Tuti Harahap dan Nn. Muljati, sedangkan dari Kementerian Luar Negeri diutus Nn. Mr. Laili Rusad.

5) Mengirim 7 orang utusan ke USA atas undangan Pemerintah Amerika Serikat, yaitu: Ny. K. Sojono Prawirobismo (Bhayangkari), Ny. Sutedjo (PSII Wanita) Ny. Syamsuridjal (Yayasan Kesejahteraan Anak-Anak), Ny. Sh. Said (Partai Wanita Rakyat) Ny. Zaenal Abidin (GPII Putri), Ny. D. Soeharto (Yayasan Hari Ibu dan Ny. S. Kartowijono Perwari).

6) Oktober 1956, menerima undangan dari Sovyet Women’s Committee untuk mengadakan peninjauan

Perempuan pada Masa Demokrasi Liberal 185 dan 10 orang berangkat, yaitu: Ny. Maruto Nitimihardjo (Yayasan Seri Darma), Ny. Emma Sumanegara (Parkiwa), Ny. Abdulgani Surjoku sumo (Wanita Demokrat), Nn. Siti Mudiyah (PPI), Ny. Kusnafsiah Slamet (Gerwani), Ny. Lutan Madjid (Perwamu), Ny.

Abdurachman (Wanita Indonesia), Ny. Wahid Sutan Radjo lelo (Wanita Nasional), Ny. Djuarsa (Budi Istri), dan Ny. Mah judin (Persit).

7) 11 November 1956, pernyataan berhubung dengan keadaan internasional. Kongres Wanita Indonesia mengeluarkan pernyataan yang mengutuk tindakan- tindakan kekerasan senjata:

a) Israel terhadap Mesir

b) Inggris dan Perancis terhadap Mesir dalam persengketaan mengenai terusan Suez.

c) Rusia terhadap Hongaria

8) November 1956. Komisi Hukum dari Kongres Wanita Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Agama, menye lenggarakan kursus dan ujian Pendidikan Calon Anggota Wanita Pengadilan Agama. Diikuti oleh 40 pengikut, 27 orang lulus, yang ijazahnya disahkan oleh Kementerian Agama.

9) 22 Desember 1956 bertepatan dengan peringatan Hari Ibu diresmikan Gedung Wanita Jakarta, di Jalan Diponegoro 26. b. Tahun 1957:

a) Maret 1957, Kongres Wanita Indonesia mengutus Ny. Rusiah Sardjono S.H. sebagai wakil Kongres Wanita Indonesia ke sidang Status of Women Commission U.N. di New York.

b) 9-11 Mei 1957, Ny. dr. Soebandrio dan Nn.

Sunarin mewakili Kongres Wanita Indonesia dalam konferensi pendahuluan dari 5 negara

penyelenggara Konferensi Wanita Asia Afrika yang diadakan di Karachi, Pakistan.

c) Agustus 1957, mengirim 3 wakil Kongres Wanita Indonesia ke Seminar Wanita Asia di Bangkok, Thailand mengenai ”Increa sed Participation of Asian Women in Publik Life” yang di selenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Utusan terdiri dari: Ny. Mr. Maria Ulfah Santoso, Ny.

Mr. Nani Soewondo dan Ny. Yetty Rizali Noor.

4. Membentuk panitia yang bertugas untuk mempelajari hal-hal yang bersangkutan dengan polisi wanita dan peningkatannya.

5. Kementerian Agama mengangkat 12 (Duabelas) orang lulusan Kursus Pendidikan Calon Anggota Wanita Pengadilan Agama menjadi anggota Pengadilan Agama, yaitu:

a. Ny. Samsuri di Lamongan, b. Ny. Abu Amar di Mojokerto, c. Ny. Murtinah Nur di Bondowoso, d. Ny. Prayitno di Temanggung,

e. Ny. M. Titi Humam di Banjarnegara, f. Ny. Marnani di Pekalongan,

g. Ny. Sunaryono di Sidorejo, h. Ny. Wasinah di Kendal, i. Ny. Arifiah Khaeri di Tegal, j. Ny. Surtati Saputro di Tegal.

k. Ny. A.R.C. Salim Maemunah di Malang, l. Ny. Munatun Priyoatmojo di Purwodadi.

6. Mengadakan Majelis Permusyawaratan Kilat pada tanggal 10 November 1957 untuk membicarakan rencana kerja sama Kongres Wanita Indonesia dengan BKSPM (Badan Kerja sama Pemuda Militer) mengenai persoalan Irian Barat serta undangan untuk menghadiri Musyawarah Nasional

Perempuan pada Masa Demokrasi Liberal 187 Pembangunan (Munap) yang akan diadakan pada tanggal 25 November 1957.23