• Tidak ada hasil yang ditemukan

71

konseli. Ini merupakan kunci untuk menghilangkan keraguraguan pada diri konseli.

Selain ini sikap menerima dengan tulus dan ikhlas serta sikap hangat akan menambah kepercayaan konseli kepada konselor.

Tahapan-tahapan tersebut untuk memudahkan konselor mengklasifikasikan kedalam kegiatan konseling, sekalipun sebenarnya pada waktu konseling dilakukan kadang-kadang tidak menggunakan tahap-tahapan tersebut. Inti pokok yang sifatnya aplikatif yang pasti digunakan oleh konselor dalam proses konseling individual seperti yang dibahas di dalam model keterampilan konseling pada bagian berikut nanti.

72

arti bahwa konselor harus dapat menghayati dan memahami diri secara mendalam serta nilai-nilai yang dianut, (2) komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai, (3) konselor harus menyadari pentingnya kebutuhan yang diinginkan oleh konseli khusunya berkenaan dengan masalah kesehatan mental dan juga fisik, (4) dalam proses kerjasama harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan konseli bebas berkembang dan tidak ada rasa takut, (5) konselor harus dapat menciptakan suasana konseling yang memberikan motivasi kearah perubahan perilaku kearah lebih baik, sehingga akan semakin matang dalam memecahkan masalah yang dihadapi, (6) konselor harus mampu menguasai perasaannya sendiri (self regulation emosion) secara bertahap baik perasaan sedih, marah, gembira dan bahkan frustasi, (7) mampu menentukan batas waktu yang sesuai serta dapat mempertahankan konsistensi dalam proses konseling, (8) konselor harus memahami arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan terapeutik, (9) keterbukaan dalam komunikasi dan kejujuran konselor, adalah merupakan dasar hubungan yang bernilai terapeutik, (10) berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan yang sifatnya kemanusiaan, (11) konselor dihadapkan kepada tanggung jawab dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab kepada konseli sebagai orang lain.

Prinsip hubungan komunikasi konseling, yakni konselor dan konseli berhadapan agar dapat berkomunikasi dengan lancar satu dengan yang lainnya.

Kontek hubungan dan komunikasi konseling tersebut, konselor mengarahkan diri sendiri untuk dapat meyediakan penerimaan, pemahaman, dan kebebasan agar supaya dapat memudahkan komunikasi. Demikian juga konseli mengharapkan kondisi- kondisi tersebut ada dalam suasana konseling. Menurut Carl Rogers (1951) hal tersebut dinamakan sebagai experience processing (proses pengalaman), hal tersebut penting bagi konselor untuk mengetahui bahwa konseli datang dengan permasalahan

73

yang mereka hadapi, tetapi juga bagaimana tingkah laku konseli tidak gagal memenuhi kebutuhanya, juga apa hambatan untuk memenuhinya.

Selanjutnya Rogers mengatakan bahwa seringkali konseli mengabaikan pengalamannya yang sangat berarti. Pengabaian masalah tersebut biasanya dengan sensasi suka menarik nafas dan lain-lain. Untuk mensinkronkan antara sensasi dengan self concept-nya, konselor harus pandai mengeksplorasi masalah dengan keterampilan mengkonfrontasi, untuk mengetahui konsistensi dan tanggung jawab konseli.

Carl Roger (1951) juga mengatakan bahwa hubungan antara pribadi yaitu konselor dengan konseli dinamakan dengan istilah Creating the counselling climate yaitu bagaimana konselor menciptakan hubungan baik atau iklim hubungan bimbingan dalam kontek konseling individual. Untuk membangun kesuksesan hubungan antara konseli dan konselor diperlukan kondisi yang mendukung meliputi:

(1) genuineness (asli), sesuai, (2) acceptance (penerimaan), (3) emphaty (merasakan seperti yang dirasakan konseli), dan (4) tenderness (kelembutan hati), tidak ada ketegangan antara emosi, fisik, mistik, dan dunia kognitif.

Selain hal yang telah diuraikan di atas maka dalam kriteria-kriteria begi seorang konselor menurut Roger dan lainnya mengandung arti bahwa jalannya konseling jangan ada ketegangan. Kata-kata humor perlu ada pada kondisi yang tepat.

Konselor juga perlu mampu memecahkan suasana tegang pada konseli yang sedang memikirkan hal-hal troumatis, ketakutan yang tak menentu. Konselor yang sedang berusaha untuk memahami apa yang dijelaskan konseli dalam suatu kisah yang tidak jelas dengan perilaku yang ditunjukkan dengan alasan tidak jelas. Namun, tidak perlu dijalani dengan ketegangan tapi perlu bagi konselor dan konseli untuk tertawa di sepanjang jalannya komunikasi sebagai proses konseling. Perlunya tertawa sebelum terawa itu dilarang.

Keadaan tentu perlu diperhitungkan karena segala sesuatu ketika menyangkut suatu hal, mungkin dapat menimbulkan suasana tidak nyaman, namun ketika konselor

74

mengetahui cara membentuk hubungan relasional dengan seseorang hingga mengembangkan rasa humor bersama adalah keterampilan yang tidak boleh diabaikan. Humor dan pemahaman yang bernuansa tentang penggunaannya dalam lingkungan terapeutik adalah halal dan berharga.

Selanjunya, seorang konselor yang efektif tahu bahwa sama pentingnya untuk melihat kedalam diri mereka sendiri seperti mengamat i orang lain dengan saksama. Gagasan tentang "Diri sebagai Instrumen"

merupakan pusat pendidikan dan karir yang sukses dalam bidang kesehatan mental. Seorang mahasiswa BK diajarkan untuk merasa sehat, berpikir baik, dan bertindak dengan baik. Dengan merasa baik, nantinya kalau jadi seorang konselor akan dapat berhubungan dengan baik dan berempati dengan konselinya.

Berpikir dengan baik berarti berpikir kritis, mengonseptualisasikan konseli dalam istilah teoretis, dan menunjukkan kemampuan akademis yang baik. Bertindak dengan baik berarti mengabdikan diri sen diri dala m melayani konseli, komunitas, dan bidang profesional. Melalui penggunaan diri sebagai Instrumen, konselor dapat lebih baik berhubungan dengan konselinya dan memfasilitasi perubahan positif yang diharapkan.

Dilihat dari teori kepribadian Nelson-Jones (1995) menjelaskan bahwa konselor sebagai pengambil keputusan, mereka secara terus menerus membuat pilihan mengenai cara perilaku konseli, bagaiman menangani, memberikan respon selama sesi konseling dan seterusnya. Teori menyediakan konsep bagi konselor untuk berpikir secara sistimatis mengenai perkembangan manusia dan praktik konseling.

75

Teori kepribadian dan konseling memiliki empat elemen utama jika semuanya dianggap adekuat. Elemen tersebut adalah: 1) pernyataan mengenai asumsi yang mendasari teori; 2) penjelasan mengenai akuisis i perilaku menolong dan perilaku tidak menolong; 3) penje lasan mengena i cara memelihara perilaku menolong dan perilaku tidak menolong; dan 4) penjelasan mengenao cara menolong konseli untuk berubah perilaku dan mengonsilidasinya ketika konseling berakhir.

Secara umum, tidak ada perbedaan kerangka kerja yang jelas pada berbagai teori kepribadian dan konseling. Alport (1962) menyatakan bahwa cara pandang yang baik dari konselor adalah selalu melihat konseli dari kacamata profesional. Menurutnya, ada tiga kacamata yang tepat untuk digunakan agar memperoleh kecermat an khusus (special scrutiny) yaitu 1) manusia dipandang sebagai reaktif, seperti pandangan behaviorisme;

2)menusia dipandang sebagai reaktif mendalam (reactive in depth), seperti dalam psikoanalisis; dan 3) manusia dipandang sebagai orang yang berada dalam proses menjadi, seperti dalam humanistik eksistensialis. Lebih dari 30 tahun, tiga kacamata Alport akhirnya ditambah dengan kacamata konseling tampabahan (suppmenting), yaitu cognitive dan cognitive -behavioral.

Selanjutnya, beberapa konselor menemukan le nsa tunggal yang lebih membatasi dan lebih integratif (menetakkan berbagai teori dalam kesatuan yang bermakna dan konsisten).