BAB 2 PEMAHAMAN KESESUAIAN LAHAN RITEL MODERN
2.3 Konsep dan Analisis Space Syntax
Ruang dapat diartikan sebagai suatu wadah aktivitas. Beragam aktivitas membutuhkan konfigurasi ruang yang efektif dan efisien yang ditentukan dari pembentukan struktur ruang. Sebagai bagian dari sebuah konfigurasi, ruang tidak hanya berbentuk node, tetapi juga path / jalur yang umumnya bersifat publik. Keduanya menghubungkan lahan-lahan dan mengikat mereka dalam suatu sistem hubungan (linkage system) (Siregar, 2014). Beberapa guna lahan seperti ritel dan aktivitas komersial secara alami mencari dan berpindah ke jalan-jalan yang lebih terintegrasi untuk mengambil keuntungan ekonomis dari adanya pergerakan yang terbentuk oleh suatu konfigurasi (Berhie dan Haq, 2017).
Konfigurasi dapat diartikan sebagai satu set hubungan di mana terdapat objek- objek yang saling bergantung satu sama lain dalam suatu struktur (Hillier, 2007). Dalam perkotaan, hubungan tersebut terwujud dalam interaksi ruang yang dapat dilihat dari adanya pergerakan dari satu ruang ke ruang lainnya.
Kekuatan interaksi ini dipengaruhi oleh properti morfologi sistem ruang tersebut, antara lain guna lahan, struktur bangunan, pola kapling, dan pola jaringan jalan (Conzen dalam Carmona dkk., 2003) dan bangunan ruang terbuka, pola kapling, dan jaringan jalan (Moudon, 1997). Pola jaringan menjadi komponen penting dalam perancangan kota karena memengaruhi aspek kualitas ruang berupa permeabilitas dan aksesibilitas (Carmona dkk., 2003). Permeabilitas merupakan parameter yang mengukur sejauh mana konfigurasi ruang menyediakan pilihan dalam menempuh perjalanan dan aksesibilitas adalah parameter yang diukur dari interaksi antara individu dengan sistem ruang.
Hillier dalam Carmona (2003) menjelaskan bahwa pola dan intensitas pergerakan individu sangat dipengaruhi oleh konfigurasi ruang, bahkan struktur ruang dapat dianggap sebagai penentu tunggal yang paling memengaruhi pergerakan dalam ruang. Pola hubungan antar ruang dikenal dengan istilah Syntax. Karakteristik khas suatu masyarakat dapat dilihat melalui sistem penataan ruang dan dari pengetahuan yang mereka miliki dapat disampaikan melalui ruang dan organisasi ruang itu sendiri (Dursun dan Saglamer, 2003 dalam Suryani, 2012). Untuk mengukur interaksi dalam konfigurasi ruang, space syntax mempergunakan beberapa dimensi yang diukur dengan mempergunakan konsep jarak topologi (topological distance) yang disebut kedalaman (depth). Konsep space syntax ini dikemukakan pertama kali oleh Ben Hillier dan Julienne Hanson dalam buku yang berjudul The Social Logic of Space pada tahun 1984. Buku ini berisi prinsip-prinsip penting mengenai konfigurasi ruang dan bagaimana membangun generalisasi pola hubungan yang disebut sebagai space syntax. Pengembangan dilakukan untuk membangun metode yang akurat dan valid dalam mengukur interaksi dalam dua skala, yaitu lokal dan global dengan menggabungkan visualisasi grafis dan statistik (Siregar, 2014). Teori pergerakan ekonomi menegaskan bahwa kegiatan ritel dan komersial berpindah ke lokasi yang secara konfigurasi lebih baik untuk mengambil keuntungan kesempatan secara ekonomi yang terbentuk dari pergerakan (Hillier, 1996 dalam Berhie dan Haq, 2017). Space syntax menggunakan konsep jarak yang disebut depth yang diukur dalam langkah / step yang disebut sebagai jarak topologis (Hillier dkk, 1987 dalam Siregar, 2014). 1 langkah berarti jarak antara dua buah ruang yang terhubung secara langsung.
Gambar 2.1: Ilustrasi Jaringan Jalan 1 (Siregar, 2014)
Pada gambar diatas dapat diartikan, jarak antara a ke b adalah 1 step depth, jarak b ke c adalah 1 step depth, sedangkan jarak a ke c adalah 2 step depth.
Konsep jarak topological distance dipergunakan dalam analisis axial line, untuk menghitung hubungan antara garis-garis yang saling berpotongan atau saling bertemu pada vertex di mana dalam analisis ini ruang direpresentasikan
dalam bentuk garis (axial line). Depth sebagai dimensi jarak kemudian dipergunakan sebagai ukuran dalam perhitungan connectivity dan integrasi (Hillier, dkk, 1987).
1. Connectivity
Konektivitas adalah dimensi yang mengukur properti lokal dengan cara menghitung jumlah ruang yang secara langsung terhubung dengan masing- masing ruang lainnya dalam suatu konfigurasi ruang (Hillier dkk, 1987).
Disebut properti lokal karena yang dihitung berupa hubungan ruang yang secara langsung diamati dari ruang pengamatan (secara langsung berhubungan). Pengukuran konektivitas dilakukan untuk menemukan tingkat interaksi setiap ruang terhadap ruang-ruang yang langsung berhubungan.
Kegunaan utama nilai konektivitas adalah untuk mengukur tingkat intelligibility dengan cara mengkorelasikan nilai konektivitas dengan nilai integrasi (Siregar, 2014).
Gambar 2.2: Ilustrasi Jaringan Jalan 2 (Siregar, 2014)
Contoh perhitungan pada gambar di atas, ruang a secara langsung berhubungan dengan ruang b, c, dan d sehingga memiliki nilai konektivitas sebesar 3. Ruang b, c, dan d masing-masing berhubungan langsung dengan ruang a dan ruang e secara langsung sehingga masing-masing ruang tersebut memiliki nilai konektivitas sebesar 2. Ruang e terhubung secara langsung dengan ruang b, c, d, dan f sehingga memiliki nilai konektivitas 4. Sedangkan ruang f terhubung secara langsung dengan ruang e sehingga memiliki nilai konektivitas sebesar 1. Analisis konektivitas belum cukup untuk membuktikan tingkat aksesibilitas ruang, perlu dilakukan analisis integrasi untuk
membuktikan posisi relatif setiap ruang berdasarkan kedalaman relatifnya (Siregar, 2014).
2. Integration
Integrasi adalah dimensi yang mengukur properti global berupa posisi relatif dari masing-masing ruang terhadap ruang-ruang lainnya dalam suatu konfigurasi ruang (Hillier dkk, 1987). Integrasi merupakan ukuran seberapa mudah suatu objek / pengamat untuk bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya dan seberapa terhubungnya tiap ruang dengan ruang lainnya dalam suatu wilayah (Demetriou, 2017). Disebut properti global karena perhitungan nilai integrasi melibatkan ruang-ruang yang secara tidak langsung terkoneksi dengan ruang pengamatan (penilaian integrasi suatu ruang akan melibatkan seluruh ruang lainnya dalam suatu konfigurasi ruang (Hillier dkk, 2007).
Gambar 2.3: Ilustrasi Jaringan Jalan 3 (Siregar, 2014)
Pada gambar di atas, ruang a dan ruang d sebagai ruang pengamatan memiliki nilai integrasi yang relatif lebih renah karena memiliki lebih banyak ruang antara, antara lain ruang b dan c. Nilai integrasi dapat diinterpretasikan sebagai nilai hipotesis atas kemudahan bagi seseorang untuk mencapai sebuah ruang dari setiap ruang lainnya (Holanda, 2017). Nilai integrasi yang tinggi (kedalaman yang rendah) berarti ruang tersebut dapat dengan mudah dicapai dari setiap ruang lainnya sementara nilai integrasi yang rendah (kedalaman yang tinggi) berarti ruang tersebut tidak dapat dicapai dengan mudah sebab observer harus melewati beberapa ruang antara terlebih dahulu (Siregar, 2014).
Ruang yang memiliki nilai integrasi tinggi dapat diinterpretasikan sebagai ruang yang memiliki derajat kesatuan yang tinggi terhadap konfigurasi ruang secara global. Nilai integrasi dibagi menjadi 5 strata, dengan integrasi yang paling tinggi berwarna hitam dan garis dengan nilai integrasi rendah berwarna abu-abu pucat. Garis dengan nilai integrasi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam peta yang kemudian integrasi dengan nilai tertinggi disebut sebagai pusat integrasi / integration core (Ahmed, Hasan, dan Ahmad, 2008). Jalan dengan nilai integrasi tinggi memiliki guna lahan sebagai mixed-use dan guna lahan pada jalan dengan integrasi yang tinggi di area mixed-use (Kampung Al
Maabilah, Seeb, Oman) dimanfaatkan sebagai guna lahan komersil (Alalouch, dkk, 2019).
3. Intelligibility
Intelligibility merupakan tahap pengukuran tertinggi dalam space syntax. Nilai ini menunjukkan tingkat korelasi antara pengukuran skala lokal (konektivitas) dengan pengukuran skala global (integritas), menjadikan nilai intelligibility sebagai pengukuran atas struktur dari suatu konfigurasi ruang (Siregar, 2014).
Intelligibility merupakan hipotesis atas kemudahan pengguna ruang / pengamat dalam memahami struktur ruang dalam suatu konfigurasi ruang.
Nilai intelligibility mengukur seberapa jauh seluruh wilayah dapat dipahami oleh individu ketika berada dalam suatu ruang tertentu (Demetriou, 2017).
Nilai intelligibility yang tinggi menunjukkan bahwa konektivitas pada skala lokal mencerminkan kemudahan dalam pencapaian ke ruang-ruang lainnya (Hillier dkk, 1987). Intelligibility dapat diukur dengan menggunakan analisis korelasi dalam dua cara (Hillier dkk, 1987 dan 2007), antara lain dengan:
1. Koefisien korelasi produk momen Pearson (r). Analisis ini menghasilkan nilai korelasi dalam rentang mulai dari -1 (terendah) sampai 1 (tertinggi) di mana nilai 0 menunjukkan tidak ada korelasi.
2. Regresi sederhana, menggunakan aplikasi Depthmap yang dikembangkan oleh laboratorium space syntax UCL atau dengan memanfaatkan aplikasi Excel. Nilai korelasi dapat ditentukan dari R2 yang menunjukkan tingkat keandalan model regresi yang dihasilkan.
Tabel 2.5: Sintesa Variabel Analisis Space Syntax (Analisis Peneliti, 2019) Johannes
Parlindungan Siregar (2014)
Hillier dkk
(1987) Simon
Demetriou (2017)
Bin Jiang dan Christophe Claramunt
(2000)
Sintesa
Connectivity Connectivity Connectivity Connectivity
Integrity Integration Integration Integration Integration Intelligibility Intelligibility Intelligibility Intelligibility Intelligibility
Connectivity adalah dimensi yang mengukur properti lokal dengan cara menghitung jumlah ruang yang secara langsung terhubung dengan masing- masing ruang lainnya dalam suatu konfigurasi ruang (Hillier dkk, 1987).
Integration merupakan nilai keterhubungan suatu jaringan semakin terintegrasi atau semakin terpisah dalam suatu sistem (Jiang dan Claramunt, 2000). Nilai Intelligibility menunjukkan tingkat korelasi antara pengukuran skala lokal (konektivitas) dengan pengukuran skala global (integrasi), menjadikan nilai intelligibility sebagai pengukuran atas struktur dari suatu konfigurasi ruang (Siregar, 2014). Nilai intelligibility mengukur seberapa jauh seluruh wilayah dapat dipahami oleh individu ketika berada dalam suatu ruang tertentu (Demetriou, 2017).
Tabel 2.6: Perumusan Indikator dan Variabel Analisis Space Syntax (Analisis Peneliti, 2019)
Variabel Indikator Nilai Keterangan
Konektivitas
Konektivitas Jalan Tinggi
Nilai konektivitas pada peta ditunjukkan dengan
nilai >30
Jaringan jalan dengan konektivitas tinggi berarti
jalan tersebut terhubung dengan banyak jalan secara langsung disekitarnya dalam suatu sistem (kota) (Siregar,
2014) Konektivitas
Jalan Sedang
Nilai konektivitas pada peta ditunjukkan dengan
nilai 13-29
Jumlah jaringan jalan yang tershubung secara langsung terhadap suatu jalan yang diobservasi memiliki jumlah yang berada di antara kategori
tinggi dan rendah dibandingkan konektivitas
jalan lainnya dalam suatu sistem (kota) Konektivitas
Jalan Rendah
Nilai konektivitas pada peta ditunjukkan dengan
nilai <13
Jumlah jaringan jalan yang tershubung secara langsung terhadap suatu jalan yang diobservasi memiliki jumlah
yang sedikit dibandingkan konektivitas jalan lainnya dalam suatu sistem (kota)
(Ahmed, Hasan, dan Ahmad, 2008)
Integrasi
Integrasi
Jalan Tinggi Nilai integrasi pada peta ditunjukkan dengan nilai >1,66
Jaringan jalan dengan nilai integrasi tinggi menunjukkan bahwa jaringan jalan tersebut memiliki aksesibilitas yang
tinggi (Holanda, 2017) Integrasi
Jalan Sedang Nilai integrasi pada peta ditunjukkan dengan nilai 1,45-
1,66
Jaringan jalan dengan nilai integrasi sedang menunjukkan
bahwa jaringan jalan tersebut memiliki aksesibilitas yang
edang Integrasi
Jalan Rendah
Nilai integrasi pada peta ditunjukkan dengan nilai <1,45
Jaringan jalan dengan nilai integrasi rendah menunjukkan
bahwa jaringan jalan tersebut memiliki aksesibilitas yang
rendah
Intelligibility
Intelligibility Tinggi
Nilai regresi antara konektivitas dan
integrasi sama dengan 1 atau mendekati 1
Nilai intelligibility yang tinggi menunjukkan bahwa konektivitas pada skala lokal
mencerminkan kemudahan dalam pencapaian ke ruang- ruang lainnya (Ahmed, dkk,
2014) Intelligibility
Rendah
Nilai regresi antara konektivitas dan
integrasi sama dengan 0 atau mendekati 0
nilai yang rendah mencerminkan bahwa struktur
ruang (global) tidak dapat dipahami dari keberadaan ruang secara parsial (lokal) sehingga observer cenderung
akan mudah tersesat Konektivitas dapat dihitung dengan melihat seberapa banyak jalan yang terhubung secara langsung terhadap jalan yang lainnya dengan mempergunakan konsep jarak yang disebut kedalaman atau depth.
Konektivitas yang tinggi ditunjukkan dengan garis warna merah pada peta hasil analisis space syntax dan sebaliknya, warna biru menunjukkan
konektivitas yang rendah pada jalan tersebut (Siregar, 2014). Garis merah pada peta hasil analisis konektivitas space syntax menunjukkan bahwa garis / jalan tersebut terhubung secara langsung dengan beberapa jalan yang ada disekitarnya dengan jumlah yang banyak. Nilai integrasi hasil analisis space syntax dibagi menjadi 5 strata warna (Hasan, Ahmed, dan Ahmad 2008) dengan pembagian warna nilai integrasi kuat oleh warna merah, oranye, dan kuning, nilai integrasi sedang berwarna hijau, dan nilai integrasi lemah ditunjukkan dengan warna hijau-kebiruan / teal dan biru (Pramudito, 2013).
Nilai R2 pada hasil regresi antara variabel x (konektivitas) dan variabel y (integrasi) menunjukkan nilai intelligibility suatu ruang pengamatan. Nilai intelligibility sama dengan 1 atau mendekati 1 memiliki makna bahwa konektivitas pada skala lokal mencerminkan kemudahan bagi pengamat dalam pencapaian menuju ruang-ruang lainnya, sebaliknya apabila nilai inteligibility rendah maka struktur ruang (global) tidak dapat dipahami dari keberadaan ruang secara lokal sehingga pengamat cenderung akan mudah tersesat (Siregar, 2014).