• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Deposito Mudharabah

2. Mudharabah

27

28 a. Landasan Yuridis Akad Mudharabah

Ketetapan hukum islam berkaitan dengan muamalah sebagian merupakan penetapan dan penegasan kembali atas praktik-praktik yang telah berlangsung pada masa sebelum Islam. Hal itu disebabkan praktik muamalah tersebut selaras dengan prinsip dasar ajaran Islam. Selain itu dalam praktik muamalah terkandung manfaat yang besar, salah satu bentuk muamalah tersebut adalah mudharabah.

Landasan yuridis mengenai kebolehannya akad mudharabah terdapat dalam Al-Quran, Hadist, Ijma‟ (consensus), dan Qiyas (analogi).

1. Landasan yurudis akad mudharabah dalam Al-Quran

Secara eksplisit, Al-Quran tidak menyebutkan mudharabah sebagi bentuk muamalah yang dibolehkan dalam Islam. Secara umum beberapa ayat menyiratkan kebolehannya dan para ulama menjadikan beberapa ayat tersebut sebagai dasar hukum mudharabah.

1) Surah Al-Maidah ayat 1

















































“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[388]. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang

29

akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.

Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.38

2) Surah An-Nisa‟ ayat 29

















































“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama- suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”39 2. Landasan yuridis akad mudharabah dalam hadis

Hadits Riwayat Al-Thabrani, Baihaqi, dan Al-dharuqutni

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibn Basyir ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibn „Uqbah al- sadusi ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yunus Ibn Arqam

38 Al-Quran Terjemahan, Surah Al-Maidah Ayat 1

39 Al- Quran Terjemahan, surah An-Nisa‟ Ayat 29

30

dari Abi Al- Jarud dari Habib Ibn Yasar dari Ibn Abbas ia berkata:

“Adalah Abbas Ibn Abd al-Muthalib, apabila ia menyerahkan sejumlah harta dalam investasi mudharabah, maka ia membuat syarat kepada muhdarib, agar harta itu tidak dibawa melewati lautan, tidak menuruni lembah dan tidak diberikan kepada binatang. Jika mudharib melanggar syarat-syarat tersebut, maka ia bertanggung jawab menanggung risiko. Syarat-syarat yang diajukan Abbas tersebut sampai kepada Rasulullah SAW., dan lalu Rasul membenarkannnya (mengizinkannya).40

b. Rukun dan Syarat Mudharabah

Faktor-faktor yang harus ada (rukun) dalam akad mudharabah adalah: .41

1. Pelaku (pemilik modal maupun pelaksana usaha) 2. Objek mudharabah ( modal dan kerja)

3. Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul) 4. Nisbah keuntungan

Adapun syarat-syarat mudharabah adalah sebagai berikut: 42 1. Pemodal dan pengelola

a. Pemodal dan pengelola harus mampu melakukan transaksi dan sah secara hukum.

40 Panji adam, Fikih Muamalah Maliyah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2017), h. 97-101

41 Adiwarman A Karim, Bank Islam Analisis Fikih dan Keuangan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), Ed. 5, Cet. 9, h. 205

42 Panji Adam, Fikih…, h. 107-108

31

b. Keduanya harus mampu bertindak sebagai wakil dan Kafil dari pihak masing-masing

c. Shighat yang dilakukan bisa secara eksplisit dan implisit yang menunjukkan tujuan akad.

d. Sah sesuai dengan syarat-syarat yang diajukan dalam penawaran, dan akad busa dilakukan secara lisan dan verbal, secara tertulis ataupun ditandatangani.

2. Modal

Modal adalah sejumlah uang yang diberikan oleh penyedia dana kepada pengelola untuk tujuan menginvestasikannya dalam aktivitas mudharabah. Untuk itu, modal disyaratkan harus:

a. Dinyatakan dengan jelas jumlah dan jenisnya, yaitu mata uang.

b. Harus berbentuk tunai dan bukan piutang, (namun sebagian ulama membolehkan modal mudharabah berbentuk asset perdagangan, misalnya Investory).

c. Harus diserahkan kepada mudharib untuk memungkinkannya melakukan usaha.

3. Keuntungan

Keuntungan adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. Keuntungan adalah tujuan akhir mudharabah.

Keuntungan dipersyaratkan sebagai berikut:

32

a. Keuntungan harus dibagi untuk kedua belah pihak.

b. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam persentase dari keuntungan yang mungkin dihasilkan nantinya.

c. Rasio persentase (nisbah) harus dicapai melalui negosiasi dan dituangkan dalam kontrak.

d. Waktu pembagian keuntungan dilakukan setelah mudharib mengembalikan seluruh (atau sebagian) modal kepada shahib al-mal.

e. Jika jangka waktu akad mudharabah relatif lama, nisbah keuntungan dapat disepakati untuk ditinjau dari waktu ke waktu.

f. Jika penentuan keuntungan dihitung berdasarkan keuntungan kotor (gross profit), biaya-biaya yang timbul disepakati oleh kedua belah pihak karena dapat mempengaruhi nilai keuntungan.

4. Pekerjaan/usaha perniagaan adalah konstribusi mudharib dalam kontrak mudharabah yang disediakan sebagai pengganti untuk modal yang disediakan oleh shahib al-mal.

c. Implementasi Mudharabah Di Lembaga Keuangan Syariah

Akad mudharabah di bank syariah diterapkan pada produk- produk penghimpunan dana masyarakat (funding) dan penyaluran dana (financing). Pada funding, mudharabah ditetapkan pada: 43

43 Panji adam, Fikih Muamalah Maliyah (Bandung: PT Refika Aditama, 2017), h. 127- 128

33

1. Tabungan, baik tabungan biasa maupun tabungan berjangka, seperti tabungan haji, dan kurban. Produk penghimpun dana ini didasarkan pada Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 2/DSN-MUI/IV/2000 tentang tabungan. Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet gito/atau tukar lainnya yang dipersamakan dengan itu.

2. Deposito, baik deposito biasa maupun deposito spesial (special investment) dimana dana yang dititipkan pada bank khusus untuk bisnis tertentu. Produk ini didasarkan pada Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 03/DSN-MUI/IV/200 tentang deposito. Pada fatwa ini, yang dimaksud dengan deposito adalah simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpanan dengan baik.

Sementara pada posisi financing, mudharabah pada perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah diterapkan untuk pembiyaan mudharabah, baik pembiayaan modal kerja maupun investasi khusus (mudharabah Muqayyadah).

Dokumen terkait