PENDIDIKAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF PENGENTASAN KEMISKINAN
B. Konsep Belajar Pendidikan Mata Pencaharian bagi Orang Dewasa
karena pengaruh pendidikan dan budaya lokal, sehingga dibutuhkan adanya konsep inovasi atau pembaharuan melalui intervensi pendidikan di antaranya pendidikan luar sekolah. Dengan adanya intervensi pendidikan ini, diharapkan akan muncul kesadaran yang terinternalisasi untuk terciptanya belajar sebagai kebutuhan yang bermuara terbentuknya konsep dan implementasi belajar tanpa mengenal batas waktu (no limits to learning). Dalam implementasi belajar tanpa mengenal batas waktu ini diharapkan akan masuk pada tahapan zona Belajar Inovatif (Inovative Learning). Setelah masyarakat berada pada kondisi belajar inovatif, maka masyarakat akan diarahkan untuk Belajar Antisipatif (Anticipative learning) dan belajar partisipatif (Participatory learning). Dikatakan belajar antisipatif karena masyarakat diarahkan untuk belajar terkait dengan kecenderungan-kecenderungan yang diperkirakan akan terjadi ke depan, sehingga yang dipelajari benar-benar mengantisipasi kemungkinan kecenderungan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan Belajar partisipatif, masyarakat diajak untuk melakukan tindakan belajar terhadap kebutuhan belajar dan rencana belajar yang telah ditetapkan.
B. Konsep Belajar Pendidikan Mata Pencaharian bagi
didik (Pedagogy). Karakteristik pendidikan orang dewasa mempunyai gaya belajar yang unik dan yang lebih bersifat mandiri. Terdapat 5 gaya belajar orang dewasa menurut Stephen Brookfield (2018) yaitu: (1). Self directed learning, (2).
Outonomous learning, (3). Self teaching, (4). independents learning and (5). voluntary learning.
Belajar dengan mengendalikan diri sendiri Self directed learning, ini terjadi karena orang dewasa belajar dengan mengendalikan diri sendiri. Artinya dia yang menentukan materi apa yang dia hendak pelajari. Selanjutnya Outonomous learning yaitu orang dewasa belajar secara otonom artinya orang dewasa yang menentukan kapan waktunya untuk belajar, dan kapan waktunya untuk berhenti atau selesai belajar. Kemudian Self teaching yaitu orang dewasa cenderung mengajar dirinya sendiri baik dari aspek keberhasilannya maupun dari aspek kegagalannya.
Sedangkan independents learning bahwa Orang dewasa belajar secara mandiri baik melalui korenpondensi, atau mencari dan menemukan sumber dan media belajar secara mandiri dalam jaringan internet. Dan yang terakhir voluntary learning dimana orang dewasa pada hakikatnya belajar dengan sukarela dan tidak ada untur paksaan.
Dari pemahaman karakteristik belajar orang dewasa ini maka dalam proses pendidikan mata pencaharian pendidikan luar sekolah dibutuhkan adanya kemampuan analisis kebutuhan belajar orang dewasa sebagai warga belajar, dan materi belajarnya lebih cenderung kepada pemenuhan kebutuhan untuk menopang atau menciptakan sumber pekerjaan utama yang nantinya menjadi sumber pendapatan keluarga. Dengan demikian, Pendidikan mata pencaharian terbuka untuk semua keterampilan yang siap
dipilih untuk dipelajari, ditekuni, dikembangkan dan dilestarikan.
Untuk menjawab sejumlah kebutuhan belajar masyarakat, pemerintah telah dan sedang melaksanakan program pendidikan dan pelatihan melalui sejumlah keterampilan khusus oleh sejumlah instansi teknis terkait bagi masyarakat dengan harapan akan melahirkan inkubator-inkubator baru sebagai pelaku-pelaku usaha baru guna menciptakan jaringan-jaringan belajar (learning werb) sebagai sumber belajar bagi masyarakat. Hal ini menjadi penting untuk terjadinya kesadaran yang terinternalisasi bagi masyarakat yang menjadikan belajar sebagai kebutuhan dan sekaligus menjadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan yang bermuara pada masyarakat gemar belajar (Knowless, 2020). Jika hal ini terwujud maka akan terjadi proses penguatan potensi sumber daya masyarakat (Empowering process in human reseouces center).
Kenyataan di lapangan menunjukkan data dan fakta tidak sedikit masyarakat selesai mengikuti pelatihan dan keterampilan kursus tertentu pada gilirannya tidak ditindaklanjuti dengan implementasi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki di lapangan. Hal ini Menurut Turang (2002) diduga terjadi karena pelaksanaannya lebih berorientasi pada mata anggaran yang tersedia (Project oriented), dan bukan pada kebermanfatan program (out come oriented) karena hanya sampai pada tahapan lulusan atau luaran yang tidak disertai dengan pendampingan ke arah kemandirian (Wullur, 2010).
Universitas Negeri Manado sebagai salah satu Lembaaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan
Perguruan Tinggi yang menghasilkan lulusan ilmu-ilmu murni non kependidikan mengemban tugas dan panggilan mulia menuju Visi UNIMA yang unggul, inovatif berdasarkan Mapalus yaitu berbasis kearifan budaya lokal (local wishdom) dan diimplementasikan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat terus berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi daerah Provissi Sulawesi Utara melalui Pemerintah Kabupaten/Kota yang ada. Unima dengan sejumlah program dan produk penelitiannya sebagian telah diimplementasikan melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat melalui pendidikan mata pencaharian dalam bentuk berbagai pelatihan kewirausahaan dan, penyuluhan bagi masyarakat. Untuk suksesnya program ini diperlukan adanya Program pendampingan bagi masyarakat sebagai warga belajar pendidikan mata pencaharian dari aspek perencanaan usaha, permodalan, dan pendampingan pemasaran produksi. Hal ini yang perlu diagendakan dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan desa binaan atau kelompok binaan dengan rancangan program pembinaan tahunan bagi ppembangunan masyarakat (multi years planning program in comunity development).
Menyikapi gejala permasalahan tersebut di atas, maka ijinkan saya menawarkan Model Manajemen Pendidikan Mata Pencaharian bagi Masyarakat sebagai Warga Belajar PLS secara konseptual yang telah diimplementasikan dalam dunia usaha dan industri secara terbatas melalui gambar berikut ini:
Sumber: (M.Wullur, 2021)
Gambar 5.2 Model Manajemen Pendidikan Mata Pencaharian Warga Belajar PLS
Gambar tersebut dipahami bahwa Tahapan Perencanaan: Warga belajar dipastikan mereka yang mempunyai kebutuhan khusus untuk lapangan pekerjaan sebagai hasil indentifikasi kebutuhan belajar. Dilanjutkan dengan analisis peluang pasar kerja, kebutuhan materi
belajar, sumber belajar dan media belajar, dan sumber biaya sebagai modal usaha. Selanjutnya Tahapan Koordinasi : Pastikan Sumber belajar, materi belajar, media belajar, tempat belajar, waktu belajar dan biaya belajar telah dikoordinasikan secara kolaboratif dengan pihak-pihak terkait. Tahapan Pelaksanaan: Pastikan pelaksanaan pendidikan mata pencaharian bagi warga belajar PLS terkait dengan sumber belajar, materi belajar, media belajar, tempat belajar, waktu belajar dan biaya belajar sesuai dengan perencanaan program. Sedangkan Tahapan Evaluasi program: Pastikan Evaluasi pelaksanaan Pendidikan Mata Pencaharian bagi warga belajar PLS memiliki indikator standar yang terukur yang ditetapkan sebelum dilaksanakan program kegiatan. Pada tahapan ini akan diketahui hasil- hasil yang dicapai dalam kegiatan pendidikan mata pencaharian masyarakat, kelemahan-kelemahan yang dihadapi untuk mendapatkan solusi alternatif pemecahan permasalahannya, maupun untuk mengkaji keunggulan- keunggulan yang dicapai guna pengembangan program selanjutnya.