• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DASAR DESENTRALISASI ORGANISASI

Dalam dokumen MANAJEMEN PENDIDIKAN (Halaman 61-67)

BAB IX BAB IX

B. KONSEP DASAR DESENTRALISASI ORGANISASI

swasta. Sedangkan otonomi merupakan arah balik dari desentralisasi. Desentralisasi berangkat dari otoritas pusat yang diserahkan ke daerah sedangkan otonomi merupakan pengakuan atas otoritas daerah.

TAP MPR Nomer XV/MPR/1998 tentang otonomi daerah yang dijabarkan dengan UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Atas dasar ketentuan yuridis ini, maka desentralisasi dalam bentuk otonomi daerah di Indonesia merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan keefektifan dan efesiensi lembaga pemerintahan dalam melayani masyarakat.

Menurut Hamidjoyo (1999, dlm Sufyarma, 2003) bahwa alasan pentingnya desentralisasi adalah luasnya wilayah Indonesia, keragaman sosial- budaya, agama dan etnik, perkembangan politik dan ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari beragamnya upaya meningkatkan lembaga pendidikan dalam setting pembangunan nasional. Pada masa orde baru bahwa pembangunan nasional berlangsung pada sistem sentralistis, yang tidak menghargai keragaman masyarakat Indonesia. Sehingga pembangunan merupakan perencanaan dan petunjuk pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat, yang kurang melibatkan masyarakat dan pemerintah kabupaten/kota. Hal ini mengakibatkan bahwa pembangunan terkadang tidak relevan dengan kebutuhan daerah.

Desentralisasi merupakan pemberian wewenang dari pusat ke tingkat daerah. Sistem ini membangun kemandirian atau otonomi organisasi serta menciptakan keefektifan dan efesiensi di

tingkat lembaga. Menurut Mantja (2002) bahwa desentralisasi sebagai pendelegasian wewenang dari pusat ke daerah, khsususnya dalam bidang pendidikan untuk meningkatkan kontrol dan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, yang muaranya pada kualitas pendidikan yang semakin membaik.

Ada dua pola hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah; 1) the seperation of power, dan 2) the delegation of authority. Pertama, pemisahan kekuasaan (the seperation of power) yaitu pemerintah pusat memberikan kekuasaan penuh kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerahny sendiri. Kedua, pendelegasian wewenang (the delegation of authority) merupakan pemberian wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengelola sektor pembangunan. Pada konteks pemerintahan Indenesia kedua pola dilakukan masing- masing pada tingkat pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten atau kota. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan pemerintah pada masyarakat, khususnya dalam pembangunan pada berbagai sektor seperti pendidikan, pertanian, industri dan lain-lain.

Menurut Varghese (1995 dlm Faslil & Jalal (ed.), 2001) bahwa desentralisasi mempunyai pengertian tentang pengalihan kekuasaan dan wewenang dalam mempersiapkan dan melaksanakan perencanaan. Karakteristik desentralisasi perencanaan, yaitu: 1) unit perencana yang lebih rendah mempunyai wewenang untuk memformulasikan targetnya sendiri, termasuk penentuan strategi untuk mencapai target tersebut, dengan mengacu pada tujuan pembangunan nasional. 2)unit

perencana yang lebih rendah diberi wewenang dan kekuasaan yang memobilisasi sumber-sumber lainnya, dan keleluasan merelolaksi sumber-sumber yang diberikan kepadanya sesuai dengan prioritas kebutuhan daerah. 3) unit perencana yang lebih rendah turut berpartisipasi dalama proses perencanaan dengan unit yang lebih tinggi dengan hubungan kerja sama.

2. Ruang Lingkup Desentralisasi

Desentralisasi diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu layanan pemerintah pada masyarakat. Desentralisasi merupakan pemberian keterlibatan yang lebih tinggi kepada pemerintah kota/ kabupatenncul. Akibat dari desentralisasi ini maka implikasi-implikasi pemerdayaan oragnisatoris agar efektif dan efesien. Implikasi administrasi berupa diberikan wewenang daerah yang lebih luas pada pengelolaan pemerintahan hingga lebih leluasa untuk mengelola potensi- potensi lokal. Implikasi kelembagaan berupa perencanaan tingkat unit kerja, implikasi keuangan berupa dana yang lebih besar untuk daerah dan implikasi pendekatan perencanaan berupa perencanaan dari bawah. (Tamin , 1997 dalam Faslil dan Supriadi, 2001).

Sistem desentralisasi pemerintahandiharap mampu menjembatani kesenjangan pengelolaan pembangunan selama ini terjadi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Semangat desentralisasi untuk meningkatkan keefektifan dan efesiensi pemerintahan hendaknya tercermin pada semua perilaku aparat birokrasi dalam memeberikan layanan publik (public service) kepada masyarakat. Sehingg sistem ini hendaknya melahirkan implikasi positif bagi pemerataan pembangunan di

tingkat daerah, yang selama ini terabaikan. Di mana bahawa tujuan desentralisasi untuk memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah(kota/ kabupaten) untuk mengelola daerahnya secara otonom dan bertanggungjawab.

Terciptanya kemandirian dan otonomi lembaga sayarat mutlak terciptanya desentralisasi organisasi. Organisasi pendidikan diarahkan untuk dapat mengelola sumber daya pendidikan (SDP) agar berdaya guna secara optimal. Sekolah pun diharap mampu mengembang prinsip-prinsip desentralisasi organisasi secara tepat dan benar. Otonomi lembaga yang baik dapat dilihat dari tingkat keefektifan dan efesiensi dalam meningkatkan akuntabilitas, relevansi dan jaminan mutu.

Desentralisasi pendidikan pun saat ini masih terhenti pada pengelolaan dana di tingkat pemerintah daerah belum melaksanakan apa dan bagaimana desentralisasi sebenarnya dalam suatu organisasi. Esensi desentralisasi untuk meningkatkan peran serta komponen pendidikan, pada tingkat lokal, untuk mengelola proses pendidikan secara mandiri belum menjadi kewenangan nyata di tingkat sekolah. Hal ini pun telah menjadi hambatan untuk menciptakan inisiatif dan kreativitas para pimipinan bagi pengembangan inovasi di tingkat sekolah.

Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kemandirian lembaga dalam mengelola sumber daya pendidikan (SDP). Aspek-aspek yang berkaitan dengan pengelolaan seperti perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, kontrol dan evaluasi, sebagai fungsi-fungsi manajemen, harus dilaksanakan secara otonom dan akuntabilitas. Untuk meningkatkan otonomi, juga anggota organisasi mempunyai keterlibatan partisipatif dalam

pengelolaan, seperti perencanaan dan proses pengambilan keputusan . Dalam bidang pendidikan misalnya, bahwa para anggota dan stakeholder (orang tua, murid, masyarakat) hendaknya mempunyai akses langsung untuk memantau proses pendidikan. Selain guru, murid, dan karyawan, juga keterlibatan orang tua dan masyarakat akan membatu untuk mewujudkan iklim dan budaya yang kondusif untuk berlangsungnya pembelajaran.

Akuntabilitas sekolah merupakan bagian penting untuk meningkatkan pengelolaan sekolah. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap orang tua dan masyarakat luas akan keefektifan dan efesiensi pengelolaan dalam mencapai visi dan tujuan sekolah. Akuntabilitas lembaga mencakup akuntabilitas eksternal dan internal. Akuntabilitas eksternal berhubungan dengan kemampuan sekolah dalam membangun komunikasi kepada masyarakat luas, khsusnya orang tua, alumni, dan tokoh masyarakat, sebagai bentuk pertanggungjawaban. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas kerja sama antara sekolah dan masyarakat luas.

Akuntabilitas eksternal sebagai upaya menciptakan

“harmoni sosial sekolah” di tengah masyarakat. Akuntabilitas ini sebagai bentuk pertanggung jawaban/laporan kepada publik secara terbuka; apakah sekolah dikelola secara profesional atau tidak. Kemudian masyarakat memberi penilaian apakah sekolah memiliki kemajuan atau kemunduruan dalam mencapai visi, tujuan dan program, khususnya terkait dengan pencapaian mutu dan prestasi siswa, selama jangka waktu yang telah ditentukan.

Sedangkan akuntabilitas internal terkait dengan kemampuan lembaga dalam meningkatkan kinerja melalui

penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan yang efektif dan efesien. Sekolah yang mempuyai akuntablitas internal yang baik dilihat dari kemamapuannya untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi visi, tujuan dan program organisasi secara efektif dan efesien. Akuntabilitas internal yang baik dapat dipahami dari kemampuan sekolah untuk mengelola input, proses, dan lulusan untuk mencapai tujuan. Keseimbangan antara pengelolaan SDS dengan pencapaian tujuan sebagai bentuk nyata akuntabilitas sekolah. Inilah yang kemudan disebut “harmoni organisatoris” . Harmoni organisatoris sekolah sebagai pencapaian kualitas kinerja dan sinergisitas antara kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa untuk mencapai visi, misi, tujuan dan program sekolah secara bersama-sama. Untuk itulah bahwa inti akuntablitas internal sekolah yaitu tercapainya harmoni organisatoris sekolah.

Dalam dokumen MANAJEMEN PENDIDIKAN (Halaman 61-67)

Dokumen terkait