Pada Bab III, penulis memaparkan desentralisasi dan sekolah menengah sebagai upaya meningkatkan kualitas, relevansi, otonomi, dan akuntabilitas sekolah. Bab IV menjelaskan bagaimana guru, siswa dan kurikulum digambarkan sebagai tiga dimensi penting pendidikan nasional. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram mempunyai komitmen untuk terus terlibat aktif dalam peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam mempersiapkan guru dan tenaga kependidikan.
Segenap sivitas akademika FKIP Universitas Mataram dapat mewujudkan center of excellency pendidikan yang berkualitas dengan melakukan berbagai penelitian dan pengembangan di setiap sekolah binaan dan mitra sebagai wujud pengabdian tanpa batas terhadap dunia pendidikan. Pembelajaran telah membuka ruang virtual yang lebih berkualitas bagi peningkatan mutu pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 saat ini dan mendatang.
BAB IX
MAZHAB PEDAGOGI HUMANISTIK-SPIRITUALIS
Dimana pola kehidupan manusia global telah hidup dan hidup dalam persaingan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan religiusitas. Sedangkan spiritualitas dipahami sebagai pemahaman yang mendasari kuatnya dimensi nilai-nilai agama bagi kemajuan umat manusia. Dalam konsep di atas, humanisme menekankan pada pemberdayaan manusia dan nilai-nilai agama untuk menciptakan budaya kerukunan.
Pemahaman ini tentu membawa kita pada pemahaman humanisme-spiritualisme tentang manusia dan nilai-nilai spiritual. Cakupan tersebut tentunya memberikan ruang yang lebih kuat terhadap pendidikan pada tiga dimensi keutuhan manusia yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik dalam taksonomi Bloom.
PENDIDIKAN HUMANISME-SPIRITUALIS BAGI
Ia mampu mengembangkan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa, sehingga menarik untuk memahami materi pembelajaran secara keseluruhan. Humanisme-spiritualis memahami siswa sebagai individu utuh yang terlibat dan aktif dalam proses pendidikan. Di sinilah ditemukan kekuatan spiritual-humanisme dalam menempatkan siswa pada konteks nyata sehingga multiinteraksi di sekolah semakin hidup.
Penilaian dalam perspektif pendidikan humanistik-spiritualistik bertujuan untuk mengungkap potensi peserta didik dalam dimensi berkelanjutan. Sekolah pendidikan humanistik-spiritual sebagai paradigma alternatif pendidikan nasional bagi pengembangan pribadi peserta didik secara utuh, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.
Pendahuluan
Untuk memahami tujuan pendidikan menengah, fahami terlebih dahulu intipati asas, fungsi dan tujuan pendidikan negara. Tujuan pendidikan menengah adalah untuk mengembangkan kesediaan pelajar menjadi warganegara yang baik, menunjuk kepada pendidikan sebagai barometer kemajuan kehidupan bangsa. Aspek kedua, pendidikan menengah menekankan aspek ekonomi bertujuan untuk menyediakan pelajar memasuki alam pekerjaan.
Tujuan ekonomi pendidikan menengah adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh dunia industri atau dunia kerja. Aspek ketiga, bahwa tujuan pendidikan menengah adalah mempersiapkan lulusan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Pendidikan Menengah: Perspektif Pembangunan SDM
Artinya, pendidikan menengah erat kaitannya dengan kompleksitas sosial peserta didik, sebagaimana tujuan pendidikan ini, termasuk dunia kerja dimana lulusannya dapat memperoleh pekerjaan kelak. Kecenderungan tersebut menjadi tugas pendidikan menengah untuk lebih proaktif dalam menghadapi perubahan dan gaya hidup sosial, khususnya di kalangan remaja, yang semakin membutuhkan sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan era globalisasi. Dalam bidang yang lebih spesifik, kompetensi yang dimiliki oleh lulusan pendidikan menengah hendaknya merupakan perpaduan antara potensi lokal yang memiliki akses ke tingkat nasional dan internasional.
Dalam upaya menjalin keterkaitan dan kesetaraan pendidikan menengah dengan dunia industri, pemerintah menetapkan kebijakan program link-and-match pada tahun 1997. Pada pendidikan menengah dibuka CSA sesuai disiplin ilmunya masing-masing, seperti sekolah kejuruan industri, sekolah kejuruan teknik, sekolah kejuruan kelautan, sekolah kejuruan pertanian, sekolah kejuruan kesehatan dan lain-lain.
Pendidikan Menengah: Realitas dan Masa Depan
Pendidikan pada jenjang ini juga harus memperhatikan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia industri akan kebutuhan sumber daya manusia. Triqendra pendidikan yaitu sekolah, keluarga-masyarakat dan dunia industri semakin penting untuk dibahas dalam tulisan ini. Hubungan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja dan industri sangatlah penting, bersifat timbal balik, saling melengkapi dan mendukung.
Upaya peningkatan kerjasama antara sekolah dan dunia industri merupakan langkah menuju peningkatan kualitas relevansi pendidikan. Peran sekolah menengah adalah untuk mempunyai akses yang memadai terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya yang berkembang di dunia industri.
PENDAHULUAN
Keempat, institusi yang terdesentralisasi menghasilkan semangat kerja yang lebih tinggi, komitmen yang lebih tinggi, dan produktivitas yang lebih efektif. Institusi yang terdesentralisasi di tingkat sekolah memberikan peluang bagi institusi tersebut untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran secara dinamis dan inovatif. Ketiga, sebagai konsekuensi mendapat dukungan dari masyarakat, sekolah menengah harus mampu menunjukkan akuntabilitas, tidak hanya kepada pemerintah, tetapi juga kepada masyarakat kita sebagai pemangku kepentingan.
Keempat, setiap sekolah menengah beroperasi dalam situasi yang unik karena memiliki konteks sosial dan perkembangan yang unik. Oleh karena itu, penyelenggaraan sekolah menengah bertujuan untuk menciptakan peningkatan mutu manajemen secara menyeluruh dan meningkatkan mutu lulusan.
KONSEP DASAR DESENTRALISASI ORGANISASI
Berdasarkan ketentuan undang-undang tersebut, maka desentralisasi berupa otonomi daerah di Indonesia merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi lembaga pemerintah dalam pelayanan kepada masyarakat. Kedua, delegasi wewenang yaitu memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola sektor pembangunan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat khususnya dalam pembangunan di berbagai sektor seperti pendidikan, pertanian, industri dan lain-lain.
Semangat desentralisasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemerintahan hendaknya tercermin pada seluruh perilaku aparatur birokrasi dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Hakikat desentralisasi adalah meningkatkan peran serta komponen pendidikan di tingkat daerah untuk mengelola proses pendidikan secara mandiri, namun belum menjadi kewenangan nyata di tingkat sekolah.
Sekolah Menengah dan Desentralisasi Pendidikan
Sekolah yang mempunyai akuntabilitas internal yang baik dilihat dari kemampuannya dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi visi, tujuan dan program organisasi secara efektif dan efisien. Akuntabilitas internal yang baik dapat dipahami dari kemampuan sekolah dalam mengelola masukan, proses dan lulusan untuk mencapai tujuan. Keharmonisan organisasi sekolah sebagai tercapainya kinerja bermutu dan sinergi antara pimpinan sekolah, guru, staf dan siswa untuk bersama-sama mencapai visi, misi, tujuan dan program sekolah.
Pada tingkat sekolah menengah fokusnya adalah pada desentralisasi, artinya selain perlunya peningkatan mutu manajemen, semakin besar pula relevansi pendidikan, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional, dengan dunia industri. lebih penting. Untuk meningkatkan mutu manajemen pendidikan, pemerintah berupaya mengatur sistem manajemen pendidikan nasional. Sistem yang sebelumnya terpusat tidak mampu memberikan kontribusi signifikan dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas, sehingga menyebabkan terjadinya inefisiensi di tingkat pusat, daerah, dan sekolah.
Dan salah satu penyebab dunia pendidikan nasional belum membuahkan hasil yang menggembirakan adalah lemahnya sistem manajemen di tingkat sekolah (Bank Dunia, 1998). Desentralisasi pendidikan berimplikasi pada semakin mandirinya manajemen sekolah dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pendidikan. Sekolah menengah bertujuan untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan sosial dan dunia kerja serta melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hal ini memerlukan pola pengelolaan yang profesional.
Dengan demikian, kebutuhan sekolah dalam meningkatkan mutu lulusan akan efektif dan berhasil jika didukung oleh sistem pengelolaan sumber daya pendidikan yang tepat dan baik. Disini sekolah seperti kepala sekolah, guru dan staf memerlukan kepemimpinan dan manajemen yang baik untuk membimbing siswanya. Desentralisasi pendidikan di tingkat sekolah memberikan peluang bagi sekolah; guru, kepala sekolah dan karyawan serta siswa sehingga dapat mengambil kebijakan dan keputusan organisasi untuk memecahkan permasalahan pendidikan yang timbul.
Sekolah Menengah: Desentralisasi Pengelolaan
Sementara itu, sekolah menengah belum memiliki kewenangan di tingkat sekolah untuk merencanakan, mengembangkan dan mengevaluasi kurikulum sekolah serta mengembangkan program pengajaran untuk meningkatkan relevansi keterampilan lulusan. Pembiayaan pendidikan pada sekolah menengah dengan sistem desentralisasi merupakan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Sekolah menengah: Kualitas, relevansi, otonomi dan akuntabilitas Tugas utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan kualitas, relevansi dan akuntabilitas pengelolaan sekolah.
Artinya SMA merupakan jenjang pendidikan yang akan mempersiapkan peserta didik dengan berbagai keterampilan yang dapat dipasarkan di dunia kerja atau masyarakat luas. Setidaknya dalam tiga pertimbangan mengenai mutu sekolah menengah saat ini, yaitu pertama, proses pembelajaran di sekolah harus sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan di sekolah menengah atas hendaknya memunculkan keterampilan master yang dapat digunakan dalam pekerjaan dan kehidupan sosial.
Otonomi kepemimpinan pada tingkat sekolah menengah merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dan pembelajaran di kelas. Kepemimpinan sekolah menengah memerlukan peran serta yang tinggi dari pimpinan sekolah, guru, siswa, orang tua dan masyarakat dalam memperkuat kemampuan sekolah untuk meningkatkan mutu. Model desentralisasi yang dikemukakan Watson dan Supovitz di atas menjelaskan bahwa desentralisasi sekolah menengah harus menekankan peran guru, tim kerja dan pimpinan sekolah untuk meningkatkan pembelajaran di sekolah menengah.
Hal ini akan semakin menarik bila siswa SMA yang sudah duduk di bangku SMP dilibatkan dalam proses pembelajaran awal. Konsep sekolah berbasis tim sangat efektif diterapkan di sekolah menengah karena siswa sekolah menengah secara psikologis mengalami perkembangan dalam kehidupan sosial yang memerlukan pengakuan sosial. Manajemen sekolah menengah hendaknya mengedepankan keterlibatan semua pihak dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik.
Daftar Rujukan
Pendidikan Sebagai Investasi SDM
Sistem pendidikan harus berupaya mencapai efisiensi internal dalam pengelolaan, pemanfaatan dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kuantitas dan meningkatkan kualitas pendidikan. Psacharopoulos mengambil pendekatan “human capital” dalam menjelaskan kontribusi pendidikan terhadap pembangunan ekonomi dan potensi manusia. Konsentrasi pendidikan dalam membangun sumber daya manusia berupa pengetahuan dan keterampilan akan sangat mendukung pembangunan ekonomi.
Untuk itu, investasi sumber daya manusia di bidang pendidikan merupakan isu yang sangat strategis untuk meningkatkan pertumbuhan masyarakat. Pendidikan dalam arti luas harus menghasilkan lulusan yang “memberi nilai tambah” terhadap kebutuhan sumber daya manusia dalam pembangunan ekonomi. Upaya ini terutama ditekankan oleh analisis pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia dan keterkaitan pendidikan dengan dunia kerja, dan lebih khusus lagi karena banyak pakar pendidikan yang mengungkapkan kurikulumnya.
Untuk itu pendidikan dan pelatihan akan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghasilkan tenaga-tenaga yang terdidik dan terlatih, manakala tingkat relevansinya dapat meningkatkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Karena telah dibuktikan dalam beberapa kajian ekonomi pendidikan bahwa pendidikan dan pelatihan mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi melalui upaya pengembangan sumber daya manusia. Artinya pendidikan dalam sistem pengembangan sumber daya manusia harus menciptakan kondisi yang kondusif bagi tercapainya tujuan pendidikan dalam konteks di atas.
Kompleksitas sekolah terletak pada perlunya manajemen pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan, kompleksitas tersebut tercermin pada cakupan manajemen sekolah; pembelajaran, fasilitas, sumber daya manusia, pendanaan, hubungan masyarakat dan budaya sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah, pengelolaan sumber daya sekolah (SDS) harus mengarah pada terciptanya proses pembelajaran yang sukses dan efektif. Karena sekolah sebagai organisasi berkewajiban untuk meningkatkan mutu sumber daya pendidikan, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan mutu sekolah.