• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar Teori Bayi Baru Lahir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Konsep Dasar Teori

3. Konsep Dasar Teori Bayi Baru Lahir

3) Standar 11 : Penatalakasanaan Aktif Persalinan Kala III

Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.

4) Standar 12 : Penanganan Kala II dengan Gawat Janin Melalui Episiotomi

Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.

Menurut Permenkes RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 Bab III mengenai Penyelenggaraan Praktik Kebidanan pasal 10 ayat (2c) Pelayanan Kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan persalinan normal, ayat (2f) fasilitas/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu eksklusif dan ayat (2g) pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum

3. Konsep Dasar Teori Bayi Baru Lahir

b. Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir

Gambar 2. 3 Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir

c. Periode Perkembangan Bayi Baru Lahir 1) Periode Transisi

Periode transisi adalah waktu ketika bayi menjadi stabil dan menyesuaikan diri dengan kemandirian ekstrauteri. Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6 sampai jam pertama kehidupan, yang akan dilalui oleh seluruh bayi, dengan mengabaikan usia gestasi atau sifat persalinan dan melahirkan

Kompresi paru selama persalinan

Udara masuk ke dalam paru

Usaha bernafas

Paru berfungsi normal Sistem peredaran darah

Foramen ovale dan duktus

arteriosus tertutup

Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir

Sistem Gastrointestinal

Refleks menelan belum

sempurna

Gumoh

Sistem peredaran darah

Tali pusat dipotong

Sistem pengaturan tubuh

Timbunan lemak dan kadar glukosa yang

normal

Panas tubuh normal

Tabel 2. 2 Sistem Penilaian APGAR Nilai

Tanda 0 1 2

Frekuensi jantung Tidak ada Lambat dibawah 100 Diatas 100

Usaha Nafas Tidak ada Lambat tidak teratur

Menangis dengan baik

Tonus Otot Tidak ada

Beberapa fleksi ekstermitas

Gerakan aktif

Refleks mudah terjadi

Tidak ada Menyeringai Menangis kuat

Warna Biru Pucat

Tubuh merah muda, ekstermitas biru

Merah muda seluruhnya Sumber : dari APGAR, V. The newborn (APGAR) scoring sistem : reflections and advice. Pediatri. Clin. North Am. 113 (3): 645 (August) 1996

Interpretasi : Nilai 1-3 asfiksia berat, Nilai 4-6 asfiksia sedang, Nilai 7-10 asfiksia ringan atau normal (Dewi, 2011).

Tabel 2. 3 Tanda-tanda Transisi Normal

PENGKAJIAN NILAI NORMAL

Tonus Sebagian fleksi Refleks menghisap Utuh

Perilaku Terjaga dan tidur bergantian Bising usus Ada setelah 30 menit kelahiran

Nadi

180 x/menit selama beberapa menit pertama kehidupan 120-160 x/menit, bervariasi ketika tidur atau menangis (100-180 x/menit)

Pernafasan

40-60 x/menit, namun dapat mencapai 80 x/menit, pernafasan diafragma disertai gerakan dinding abdomen dan dapat terjadi pernapasan cuping hidung sementara

Suhu

Aksila : 36,5–37,5 °C Kulit : 36–36,5 °C

Dextrosix

Lebih dari 45 mg%

Hemtokrit kurang dari 65–70 %

2) Periode Reaktivitas Pertama

Periode reaktivitas pertama dimulai pada saat bayi lahir dan berlangsung selama 30 menit. Warna bayi baru lahir memperlihatkan sianosis sementara atau akrosianosis. Pernafasan cepat, berada ditepi teratas rentang normal, dan terdapat rales atau ronchi. Rales seharusnya hialng dalam 20 menit. Adanya mucus biasanya akibat keluarnya cairan paru yang tertahan.

Selama periode reaktivitas pertama setelah bayi lahir, mata bayi baru lahir terbuka dan bayi memperlihatkan perilaku terjaga. Bayi mungkin menangis, terkejut atau mencari putting susu ibu (Stright, 2005)

3) Periode tidur yang berespons

Tidur pertama ini dikenal sebagai fase tidur. Frekuensi jantung bayi baru lahir menurun pada periode ini hingga kurang dari 140 x/menit. Murmur dapat terdengar, ini semata-mata merupakan indikasi bahwa duktus arteriosus tidak sepenuhnya tertutup dan tidak dipertimbangkan sebagai temuan abnormal (Stright, 2005).

4) Periode rektivitas kedua

Selama periode reaktivitas kedua (tahap ketiga transisi), dari usia sekitar 2 sampai 6 jam atau dimulai waktu bayi bangun, ditandai dengan respons berlebihan terhadap stimulus, perubahan warna kulit dari merah muda menjadi agak sianosis, frekuensi jantung bayi labil (cepat), frekuensi nafas harus tetap berada dibawah 60 x/menit dan seharusnya tidak ada lagu dan rales atau ronchi.

Pemberian makan segera sangat penting untuk mencegah hipoglikemia dan dengan menstimulasi pengeluaran feses, mencegah ikterus. Pemberian makan segera juga memungkinkan kolonisasi bakteri di usus, yang menyebabkan pembentukan vitamin K oleh saluran cerna. Titik mucus bercampur empedu selalu merupakan tanda penyakit pada bayi baru lahir dan pemberian makan harus di tunda sampai penyebabnya telah diselidiki menyeluruh (Stright, 2005) d. Kebutuhan Dasar Bayi Baru Lahir

1) (zat asam atau udara segar), setelah bayi lahir, kebutuhan dipenuhi oleh pemasukan (intake) paru-parunya sendiri. Bila bayi baru lahir tidak langsung menangis dan terlihat warna kulit bayi

membiru/pucat segera bebaskan jalan nafas bayi sambil menilai APGAR menit I

2) Gizi, air susu ibu (ASI) adalag makanan yang terbaik untuk menjamin kesehatan dan pertumbuhan bayi/anak, diberikan pada usia 0-2 tahun 3) Eliminasi, bayi baru lahir harus sudah buang air kecil dalam waktu 24

jam setelag lahir, selanjutnya buang air kecil 6-8 x/hari. Feses bayi baru lahir berwarna hijau (meconium), dan bayi baru lahir harus sudah buang air besar dalam 24 jam.

4) Istirahat dan tidur, akan sangat bermanfaat jika bayi diletakkan di tempat tidur yang hangat, tempat tidur seharusnya diletakkan dekat tempat tidur ibu sehingga bisa dihangatkan dan bisa diberikan ASI saat bayi menginginkannya

5) Kebersihan (personal hygiene), menjaga kebersihan bayi baru lahir sangat penting guna menunjang kesehatan diri bayi. Perawatan utuk menjaga kebersihan bayi adalah sperti memandikan bayi, memakaikan pakaian hangat pada bayi, merawat tali pusat, dan mengganti pojok bayi.

e. Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir

Tanda bahaya bayi baru lahir : sianosis/kebiruan, demam, kedinginan/hipotermi, perdarahan, kuning (kulit bayi terlihat berwarna kunign, warna kuning ini terjadi karena penumpukan zat kimia yang disebut bilirubin).

f. Standar Asuhan dan Kewenangan Bidan Pada Bayi Baru Lahir Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia.

Menurut Permenkes RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 Bab III mengenai Penyelengaraan Praktik Kebidanan pasal 11 ayat 2 dikatakan bahwa Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk:

1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini, injeksi vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari) dan perawatan tali pusat

2) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dengan segara merujuk 3) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan 4) Pemberian imnisasi ruton sesuai program pemerintah

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan pra sekolah 6) Pemberian konseling dan penyuluhan

7) Pemberian surat keterangan kelahiran 8) Pemberian keterangan kematian

4. Konsep Dasar Teori Nifas