• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP INDONESIA SEBAGAI NEGARA HUKUM

Negara hukum merupakan konsep yang berawal dari istilah nomokrasi yang berkembang dari pemikiran barat. Istilah nomokrasi tersebut berasal dari kata nomos yang artinya norma, dan cratos yang artinya kekuasaan. Negara hukum merupakan suatu konsep pemerintahan negara yang didasarkan atas hukum.

Berikut pandangan Aristoteles mengenai negara hukum:

Yang dimaksud dengan Negara Hukum adalah negara yang berdiri diatas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari pada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Demikian pula peraturan hukum yang sebenarnya hanya ada jika peraturan hukum itu mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup antar warga negaranya.43

43 Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Sinar Bakti, 1983, h. 153-154.

36

Dalam perkembangannya, penerapan paham negara hukum tidak dapat dipisahkan dengan konsep Rechtsstaat dan The Rule of Law. Di zaman modern, konsep Negara Hukum di Eropa Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant, Paul Laband, Julius Stahl, Fichte, dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman, yaitu “Rechtsstaat”.

Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika, konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A.V. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”. Tiga prinsip “Rule of Law” yang dikembangkan oleh A.V. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara yaitu44:

1. Supremacy of law

Adapun dari pengertian di atas Supremacy of Law adalah adanya pengakuan normatif dan empirik akan prinsip hukum, yaitu bahwa semua masalah diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman tertinggi. Dalam perspektif supremasi hukum, pada hakikatnya pemimpin tertinggi negara yang sesungguhnya, bukanlah manusia, tetapi konstitusi yang mencerminkan hukum yang tertinggi.

Pengakuan normatif atas supremasi hukum tercemin dalam perumusan hukum atau konstitusi.

Sedangkan pengakuan empirik atas supremasi

44 Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Ichtiar, Jakarta, 1962, h. 9-12

37

hukum tercermin dalam perilaku sebagian masyarakatnya bahwa hukum itu memang supreme.

2. Equality before the law

Persamaan dalam hukum (equality before the law) yaitu adanya persamaan kedudukan setiap orang dalam hukum dan pemerintahan, yang diakui secara normatif dan dilaksanakan secara empirik. Dalam rangka prinsip persamaan ini, segala sikap dan tindakan diskriminatif dalam segala bentuk dan penerapannya diakui sebagai sikap dan tindakan yang terlarang, kecuali tindakan-tindakan yang bersifat khusus. Sedangkan yang dinamakan affirmative actions digunakan mendorong dan mempercepat kelompok masyarakat tertentu atau kelompok warga tertentu untuk mengejar kemajuan sehingga mencapai tingkat perkembangan yang sama dan setara dengan masyarakat yang sudah lebih maju.

3. Due process of law

Dalam setiap negara yang menganut prinsip negara hukum, maka asas legalitas (Due Process of Law) dipersyaratkan dalam segala bentuk tindakan pemerintahan yang harus didasarkan atas perundang-undangan yang sah dan tertulis. Jadi, peraturan perundang-undangan tertulis harus ada dan berlaku lebih dulu atau mendahului tindakan

38

atau perbuatan administrasi yang dilakukan. Dengan demikian setiap perbuatan atau tindakan administrasi badan/pejabat negara harus didasarkan aturan atau rules and procedures.

Dengan demikian, dalam paham negara hukum, hukumlah yang memegang kekuasaan tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Oleh karena itu, badan atau pejabat negara dalam melakukan suatu tindakan, harus berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Menurut Shandi Patria Airlangga45, Negara hukum adalah negara yang sistem penyelenggaraan negaranya berdasarkan aturan Hukum. Konsep hukum merupakan konsep yang lahir dari konsep nomoklasi yang berkembang dari pemikiran Barat. Kata tersebut berasal dari kata Nomos yang berarti norma dan Kratos yang berarti kekuasaan. Negara hukum adalah sebuah konsep pemerintahan negara berdasarkan undang-undang..

Kemudian Negara hukum menurut Udiyo Basuki bermakna kontrol tata kelola berbasis hukum. Menurut prinsip negara hukum yang harus menjamin kepastian, ketertiban dan keadilan, serta penegakan hukum, khususnya pemerintah atau penggaris. Hukum dikenal sebagai aturan terbaik yang harus dipatuhi masyarakat saat terlibat dalam interaksi sosial. Dan oleh penguasa

45 Airlangga, S. P. (2019). Hakikat Penguasa dalam Negara Hukum Demokratis. Cepalo, 3(1), 1.

https://doi.org/10.25041/cepalo.v3no1.1783

39

dalam menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat berdasarkan konsep, gagasan dan cita- cita. Sistem sosial yang melekat dalam hukum adalah semaraknya nilai-nilai yang bersemayam di hati masyarakat yang tinggal di sana.46

Oleh karena itu, menurut Hananto Widodo, Fradhana Putra Disantara dalam suatu negara berpaham hukum, suatu badan atau instansi pemerintah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan dalam menjalankan tindakannya. Secara konstitusional, Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pasal 1 (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Terdapat perbedaan penting antara konsep negara hukum menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebelum Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan konsep negara hukum setelah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, konsep negara hukum diatur dalam pasal-pasal dalam UUD NRI 1945., bukan lagi didalam penjelasannya.

Aspek kepastian hukum erat kaitannya dengan perkembangan kebijakan dalam norma hukum, baik dalam bentuk pengambilan keputusan (bechicking)

46 Basuki, U. (2020). Refleksi atas Upaya Meningkatkan Kesadaran Hukum dalam Kerangka Penegakan Hukum di Indonesia. Literasi Hukum, 4(2), 1–

20.

40

maupun pengaturan (regeling). Aspek keadilan, di sisi lain, berkaitan erat dengan putusan yudisial, yaitu putusan terhadap para pihak yang beracara, baik berdasarkan asas ketidak berpihakan atau tidak. Oleh karena itu, aspek keadilan biasanya selalu berkaitan dengan proses peradilan. Konstitusi dan hukum administrasi. Salah satunya terkait dengan pengambilan keputusan pejabat pemerintah. Dalam mengambil keputusan, baik Presiden maupun aparatur negara lainnya mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.47.

Menurut Leah Levin bahwa konsep HAM mempunyai dua pengertian dasar, yaitu48

pertama, bahwa hak-hak yang tidak dapat dipisahkan dan dicabut karena merupakan seorang manusia.Hak- hak ini adalah hak-hak moral yang berasal dan kemanusiaan setiap insan dan hak-hak tersebut bertujuan untuk menjamin martabat setiap manusia.

Arti yang kedua, hak asasi manusia adalah hak-hak menurut hukum, yang dibuat sesuai dengan proses pembentukan hukum dari masyarakat itu sendiri, baik secara nasional maupun internasional. Dasar hak-hak itu adalah persetujuan yang diperintah, yaitu persetujuan dari para warga yang tunduk kepada hak-

47 Widodo, H., & Disantara, F. P. (2021). Problematik Kepastian Hukum Darurat Kesehatan Masyarakat Pada Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Suara Hukum, 3(1), 197. https://doi.org/10.26740/jsh.v3n1.p197-226

48 Ibid, hlm..6

41

hak tersebut dan tidak hanya tata tertib alamiah yang merupakan dasar dari arti yang pertama.

Konsep perlindungan HAM melalui mekanisme hukum mengakui bahwa sejak lahir manusia membawa serta hak-haknya yang melekat dalam dirinya sebagai manusia. Sekalipun lebih tepat jika dikatakan bahwa konsepsi perlindungan HAM bahkan, sudah ada sebelum manusia itu lahir kedunia.49

Hak Asasi Manusia sebagai seperangkat hak dasar atau hak pokok manusia yang sebenarnya sudah dibawa sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan yang wajib dilindungi dan dihargai oleh setiap manusia untuk melindungi harkat dan martabat setiap manusia.

Interpretasi hak ini terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kesatu yang menyatakan bahwa

“Kemerdekaan ialah hak segala bangsa”. Pernyataan itu berarti pengakuan secara yuridis hak asasi manusia.50 Pada Pasal 28 D UUD 1945 ayat 1 “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.51

49 O.C. Kaligis, Antologi Tulisan Ilmu Hukum, Bandung: P.T. Alumni, 2007, hlm. 61

50 Ibid, hlm.102

51 Suwantoro, dkk, “Perlindungan hukum bagi tersangka dalam batas waktu penyidikan tindak pidana umum menurut hak asasi manusia“

JurnalHukum Magnus Opus(Online), Volume I Nomor 1 (Agustus 2018), hlm.

43

42

Pengakuan akan hak seorang tersangka, terdakwa dan terpidana juga telah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia untuk selanjutnya disebut Undang-undang HAM yang menempatkan kedudukan sama dihadapan hukum. Dan lebih terperinci diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. UU Kekuasaan Kehakiman juga telah menetapkan asas-asas bagi tersangka seperti asas non deskriminasi Pasal 4 ayat (1) “Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang” lalu asas praduga tidak bersalah Pasal 8 ayat (1) “Setiap orang yang disangka, ditangkap, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.

43

BAB 4

SISTEM PERADILAN DI NEGARA

Dokumen terkait