RAGAM PERSPEKTIF DALAM SOSIOLOGI KELUARGA
E. Konsep Keluarga Dalam Perspektif Postmodernisme
62
keluarga yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan pasti ada hal yang memicu untuk membedakan kedua anak tersebut. Contohnya seorang anak laki-laki dibebaskan untuk keluar rumah sedangkan anak perempuan hanya diperbolehkan di rumah untuk membantu ibunya, hal tersebut sudah menjadi pemicu dan adanya sikap tidak saling menghargai.
Oleh karena itu paham feminisme cukup baik untuk diterapkan di dalam bangsa ini dan khususnya di dalam sebuah keluarga untuk menghilangkan segala perbedaan yang mungkin bisa menyudutkan satu bela pihak. Selain itu perempuan di dalam sebuah keluarga tidak dibatasi ruang geraknya, mereka juga bisa untuk berkarir dan menjadi orang yang sukses di dalam keluarga maupun karirnya.
E. Konsep Keluarga Dalam Perspektif
63
yang memiliki arti bahwa manusia tidak memiliki arti dalam hidupnya.
Postmodernisme muncul sebagai akibat dari kegagalan modernisme dalam mengangkat harkat dan martabat manusia. Modernisme dalam pandangan postmodernisme telah gagal dalam mewujudkan janjinya untuk membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik dan tidak ada kekerasan di dalamnya. Modernisme telah membawa kehancuran bagi manusia, peperangan dan konflik terjadi dimana-mana sehingga manusia menjadi menderita. Kondisi ini yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya paham postmodernisme yang merupakan keberlanjutan dari keterputusan dan sebagai sebuah koreksi terhadap modernisasi yang memberikan sebuah pemikiran yang baru dan solusi untuk menjalani kehidupan yang semakin kompleks.
Orang yang pertama kali mengatakan atau memperkenalkan paham postmodern adalah Jean Francois Lyotard. Dalam ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan pada tahun 1970 dalam bukunya yang bertajuk “The Postmodern Condition: A Report On Knowledge: Jean Francois lyotard menguraikan bahwa postmodernisme adalah sebuah kritikan pada ilmu yang masih bersifat universal, tradisi
64
metafisika, fungsionalisme dan atas modernisme (Setiawan & Sudrajat, 2018)
Dari penjelasan Lyotard, Ia menjelaskan postmodern adalah suatu pemutusan hubungan secara total dengan kultur modern yang bukan sekedar sebuah koreksi atas berbagai pemikiran dan kultur yang modern. Dari postmodernis menyatakan bukanlah sebuah kebenaran maupun kesalahan tetapi membiarkan segala sesuatu itu terbuka, yang kemudian sensitif terhadap berbagai perbedaan.
Untuk memperdalam pemahaman kita tentang konsep postmodernisme berikut pengertian dari beberapa para ahli mengenai paham postmodern:
1. Louis Leahy, menurutnya postmodern adalah sebuah gerakan yang ide utamanya adalah menggantikan isu-isu di jaman modern.
2. Emanuel, menurutnya postmodernisme adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mengganti atau merombak kembali paradigma modern.
3. Ghazali dan Effendi, menurut keduanya postmodern adalah suatu ide yang mengkritik modernisme yang telah berlangsung secara tidak terkendali yang muncul sebelumnya.
(Setiawan & Sudrajat, 2018)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa postmodernisme adalah suatu ide baru yang berupaya menolak segala bentuk perkembangan
65
teori sebelumnya yaitu teori modernisme.
Postmodernisme adalah ide gagasan baru yang memberikan kritik terhadap paham modernisme yang telah dianggap gagal serta seharusnya bertanggung jawab pada kehancuran martabat manusia. Selain itu postmodernisme dalam pandangan sosiologi juga erat kaitannya dengan hadirnya di dalam dunia yang telah dipenuhi oleh informasi dalam globalisasi. Oleh karena itu dunia telah dianggap sebagai sebuah kampung global yang tidak lagi dipermasalahkan oleh batasan geografis.
(Ilham, 2018) adapun ciri- ciri pemikiran dari postmodernisme, antara lain :
1. Dekonstruktivisme, merupakan bagian dari sebuah kritik postmodernisme dan modernisme yang memiliki tujuan untuk mengakhiri dominasi arsitektur modern (Suryanatha &
Darmayanti, 2018).
2. Relativisme, adalah merupakan sebuah filsafat yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan, kebenaran dan moralitas dalam kaitannya dengan budaya masyarakat yang tidak mutlak.
(Angelianawati, 2017).
3. Pluralisme, pluralisme merupakan suatu paham dalam sebuah kelompok atau dalam artian sebuah paham yang menghargai adanya
66
perbedaan di dalam masyarakat (Rachman, 2010)
Dalam pandangan postmodernisme keluarga merupakan sebuah wadah untuk melatih serta mengajarkan anak tentang pendidikan moral serta melatih untuk anak bagimana cara berfikir dari manusia postmodernisme. Manusia postmodernisme selalu mengutamakan pengetahuan mengenai seni dan estetika. Selain itu manusia postmodernisme adalah manusia tanpa agama, sejarah, dan filsafat melainkan manusia yang memiliki teknologi, sekuler dan kontemporer. Pendidikan moral anak dalam budaya atau konsep postmodernisme harus dikembangkan sehingga di dalam sebuah keluarga tidak hanya menjaga dan mewujudkan model pendidikan tradisional saja. Di dalam sebuah keluarga peran didikan orang tua harus lebih membuka diri kepada kemajuan teknologi yang ada pada zaman ini, sehingga keluarga harus merubah model atau cara pendidikan moral pada anak yang berhubungan dengan keadaan sekarang ini.
Adapun contoh cara atau model pendidikan moral pada anak yang harus disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang ini, yaitu: 1) Kenyataan keseharian;
2) Kenyataan pluralitas sejarah; 3) Humor atau suasana hati; 4) Kebebasan dan kedangkalan.
Keluarga dalam perspektif Postmodernisme sangat
67
diperlukan untuk menjadi dasar nilai moral dan agama untuk menghadapi masa depan yang realis sosial dan perkembangan atau perubahan kebudayaan yang begitu cepat. Tanpa adanya pendidikan moral dan pendidikan agama di dalam sebuah keluarga, hanya kan sampai kepada sikap nihilisme, fatalisme dan keputusan-keputusan yang akan menjadi sebuah konflik dan tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada. (Hidayat, 2019).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan postmodernism keluarga adalah: 1) Family as permeable; artinya keluarga memiliki kemampuan untuk melakukan difusi, memodifikasi atau mengubah aturan yang telah menjadi entitas atau kesatuan yang memiliki tujuan pokok.; 2) Kesopansantunan/ Urbanity adalah karakteristik keluarga postmodern; 3) Batasan antara ruang publik dengan ruang pribadi atau rumah tangga lebih terbuka dan fleksibel.
Kesimpulan
Dalam ilmu sosiologi secara garis besar ada lima perspektif yang bisa digunakan untuk menganalisis keluarga. Kelima perspektif ini berbeda dalam melihat keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Adapun ke lima perspektif tersebut adalah sebagai berikut
68
1. Keluarga dalam perspektif Fungsionalisme adalah: a) memberikan penekanan pada pentingnya keluarga untuk menjaga stabilitas masyarakat serta kesejahteraan individu; b) keluarga memiliki fungsi yang unik yang tidak dimiliki atau tidak bisa dipenuhi oleh institusi sosial lain; c) dalam keluarga ada pembagian kerja antara suami dan istri; d) keluarga memiliki 4 fungsi yaitu: keluarga memiliki empat fungsi yaitu: sexual regulation/ pengaturan seksual, sosialization/ Sosialisasi, economic and psychological support/ dukungan ekonomi dan psikologis, Provision of sosial status/ pemberian status sosial.
2. Keluarga di dalam perspektif konflik adalah; a) keluarga berada pada kondisi ekonomi yang kapitalis, sehingga bisa disamakan dengan pekerja dalam sebuah pabrik; b) dirumah, perempuan/ istri berada di bawah dominasi laki-laki/ suami; kondisi yang sama dengan para pekerja yang berada di bawah dominasi kapitalis dan manager di pabrik; c) adanya konflik kelas dalam keluarga akan menciptakan masalah dalam bentuk percekcokan, perceraian dan ketidakharmonisan.
3. Keluarga dalam perspektif interaksionisme simbolik adalah: a) sebuah lembaga untuk memahami peran yang disandang sebagai anggota keluarga serta bagaimana individu memodifikasi dan mengadaptasi peran yang dimiliki agar sesuai dengan harapan
69
orang lain; b) fokus utama atau penekanannya pada bagaimana cara individu berkomunikasi dengan individu lain serta bagaimana menginterpretasikan interaksi tersebut.
4. Keluarga dalam perspektif feminisme adalah a) sebagai sumber ketidakadilan dalam keluarga yang berfokus pada patriarki dan matriarki kelas dan kelompok; b) dominasi laki-laki pada perempuan telah berlangsung lama, jauh sebelum munculnya kapitalisme dan pemilikan modal pribadi; c) dalam keluarga laki-laki memiliki keistimewaan berupa hak istimewa yang diperoleh dari statusnya sebagai pencari nafkah keluarga.
5. Keluarga dalam perspektif postmodernisme adalah: : a) Family as permeable; artinya keluarga memiliki kemampuan untuk melakukan difusi, memodifikasi atau mengubah aturan yang telah menjadi entitas atau kesatuan yang memiliki tujuan pokok.; b) Kesopansantunan/ Urbanity adalah karakteristik keluarga postmodern; c) Batasan antara ruang publik dengan ruang pribadi atau rumah tangga lebih terbuka dan fleksibel.
Soal Sumatif
A. Pilihan Ganda
1. Berikut ini, yang merupakan bagian dari sebuah kritik postmodernisme dan modernisme
70
yang memiliki tujuan untuk mengakhiri dominasi arsitektur modern adalah…
a. Relativisme
b. Dekonstruktivisme c. Pluralisme
d. Rasisme
2. Postmodern adalah sebuah gerakan yang ide utamanya adalah menggantikan isu-isu di jaman modern. Pernyataan tersebut merupakan pengertian Postmodern menurut…
a. Ghazali dan Effendi b. Emmanuel
c. Francois Lyotard d. Louis Leahy
3. Berikut ini, yang merupakan suatu paham dalam sebuah kelompok atau dalam artian sebuah paham yang menghargai adanya perbedaan di dalam masyarakat …
a. Relativisme
b. Dekonstruktivisme c. Pluralisme
d. Rasisme
4. Manusia melihat dirinya secara mental pada posisi orang lain. Hal ini dimaksudkan agar mereka mampu memahami makna dari perbuatan yang dilakukan orang lain sehingga
71
terjadi interaksi dan komunikasi. Interaksi tersebut dalam bentuk gerak gerik dan simbol yang memiliki makna. Pernyataan tersebut merupakan pengertian dari…
a. Konsep Aksi atau Perbuatan b. Konsep Interaksi Sosial c. Konsep Objek
d. Konsep Tindakan Bersama
5. Berikut ini, yang merupakan sebuah filsafat yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan, kebenaran dan moralitas dalam kaitannya dengan budaya masyarakat yang tidak mutlak
…
a. Relativisme
b. Dekonstruktivisme c. Pluralisme
d. Rasisme B. Essay
1. Ada beberapa konflik yang terjadi dalam sebuah keluarga. Sebut dan jelaskan…
2. Ada empat faktor penyebab ketidakseimbangan relasi feminisme dalam rumah tangga. Apa sajakah tersebut? Sebut dan jelaskan…
3. Di dalam Feminisme, terdapat tiga komponen penting. Sebut dan jelaskan…
72
4. Secara sosiologis proses interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat dan keluarga memiliki dua syarat utama. Sebut dan jelaskan…
5. Ada lima prinsip yang terdapat pada fungsionalisme secara mendasar. Sebut dan jelaskan…
Referensi
Adibah, I. Z. (2017). Struktural Fungsional Robert K.
Merton: Aplikasinya Dalam Kehidupan Keluarga.
INSPIRASI: Jurnal Kajian Dan Penelitian Pendidikan Islam, 1(2), 171–184.
Agustin Wulandari, T. (2018). Konsep Diri (self-concept).
Ahmadi, D. (2008). Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar.
Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(2), 301–316.
Ahmadi, D., & Nuraini, A. (2005). Teori penjulukan.
Mediator: Jurnal Komunikasi, 6(2), 297–306.
Angelianawati, L. (2017). PHILOSOPHICAL LINGUISTIC RELATIVITY: SEBUAH KAJIAN TENTANG POKOK PIKIRAN FILSAFAT RELATIVISME BAHASA. Jurnal Dinamika Pendidikan, 10(3), 332–345.
Blumer, H. (1986). Symbolic interactionism: Perspective and method. Univ of California Press.
Derung, T. N. (2017). Interaksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat. SAPA-Jurnal Kateketik Dan Pastoral, 2(1), 118–131.
Dewi Puspita, E. M. (2008). konflik terselubung dalam keluarga perspektif ralf dah rendof. Uin, 12(2), bab 2.
Hidayat, M. A. (2019). Menimbang Teori-Teori Sosial Postmodern: Sejarah, Pemikiran, Kritik Dan Masa
73
Depan Postmodernisme. Journal of Urban Sociology, 2(1), 42–64.
Ilham, I. (2018). Paradigma Postmodernisme; Solusi Untuk Kehidupan Sosial? Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 12(1), 1–23.
Johnson, P. D. (1988). Theory of Sociology Classic and Modern. Jakarta: Gramedia.
Manis, J. G., & Meltzer, B. N. (1978). Intellectual antecedents and basic propositions of symbolic interactionism. Symbolic Interaction, 1–9.
Mead, G. H. (1934). Mind, self and society (Vol. 111).
Chicago University of Chicago Press.
Rachman, B. M. (2010). Sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Grasindo.
Ratna, M. (1999). Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan.
Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi: Dari sosiologi klasik sampai perkembangan terakhir postmodern.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 11, 25.
Saefullah, U. (2007). Kapita Selekta Komunikasi:
Pendekatan Agama dan Budaya. Simbiosa Rekatama Media.
Sanderson, S. K. (2000). Makro sosiologi : sebuah pendekatan terhadap realitas sosial. Raja Grafindo Persada.
Setiawan, J., & Sudrajat, A. (2018). Pemikiran postmodernisme dan pandangannya terhadap ilmu pengetahuan. Gadjah Mada University.
Supriyantini, S. (2002). Hubungan antara peran gender dengan keterlibatan Suami dalam kegiatan Rumah Tangga. Sumut: Fakultas Kedokteran Program Studi
74
Psikologi, Universitas Sumatera Utara.
Suryanath, M. G., & Darmayanti, L. P. K. (2018).
LINGUISTIK DALAM PERANCANGAN KARYA ARSITEKTUR. SENADA (Seminar Nasional Desain Dan Arsitektur), 1, 384–393.
Suwastini, N. K. A. (2019). Perkembangan feminisme barat dari abad kedelapan belas hingga postfeminisme:
Sebuah Tinjauan Teoritis. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1).
Turner, J. H., & Turner, P. R. (1978). The structure of sociological theory. Dorsey Press Homewood, IL.
Zulkarnaini, Z. (2017). ANALISIS PERKEMBANGAN FILSAFAT KLASIK-MODERN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak (JIPA), 2(3).
75