BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Konsep Lansia
Menurut (Etika, 2017) Lanjut usia adalah seseorang yang sudah memasuki usia 60 tahun keatas, yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya dan akan terjadi proses anging process atau proses penuaan.
2.2.2 Klasifikasi lansia
Klasifikasi menurut (Muhith & Siyoto, 2016)dibagi menjadi:
2.2.2.1 Usia pertengahan (middle age), yaitu 45 tahun sampai 59 tahun 2.2.2.2 Lanjut usia (elderly), yaitu 60 tahun sampai 74 tahun
2.2.2.3 Lanjut usia tua (old), yaitu 60 – 75 tahun dan 90 tahun 3.2.2.4 Usia sangat tua (very old), yaitu diatas 90 tahun
2.2.3 Ciri – ciri lansia
Menurut (Kemenkes, 2014) ciri – ciri lansia sebagai berikut:
2.2.3.1 Lansia merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lanjut usia salah satunya disebabkan karena faktor motivasi, faktor motivasi mempunyai peran yang sangat berarti dalam kemunduran lansia. Contoh lanjut usia yang memiliki motivasi rendah dalam melakukan aktivitas, maka akan mempercepat kemunduran fisik. Sebaliknya lansia yang memiliki motivasi tinggi dalam melakukan aktivitas, maka akan memperlambat kemunduran fisik.
2.2.3.2 Lansia memiliki status kelompok minoritas
Kondisi sebagai akibat dari sikap social yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia yang di akibatkan oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia contohnya seperti: lansia lebih suka
mempertahankan pendapatnya sendiri dari pada mendengarkan pendapat dari orang lain.
2.2.3.3 Menua membutuhkan sebuah peran
Perubahan tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala hal dan perubahan peran tersebut sebaiknya dilakukan atas keinginanya sendiri bukan karena atas dasar tekanan dari lingkungan.
2.2.3.4 Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perilaku yang buruk terhadap lansia membuat mereka cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. akibat dari perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk pula
.
2.2.4 Perubahan pada lansia
Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, sosial dan seksual (Azizah, 2011).
2.2.4.1 Perubahan fisik 1) Sistem Respirasi
Pada proses penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru, kapasitas total paru tetap tetapi volume cadangan paru bertambah untuk mengkompensasi kenaikan ruang paru, udara yang mengalir ke paru berkurang. Perubahan pada otot, kartilago dan sendi torak
mengakibatkan gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan peregangan toraks berkurang.
2) Sistem kardiovaskuler
Perubahan pada sistem kardiovaskuler pada lanjut usia adalah massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertropi sehingga terjadi peregangan jantung berkurang, kondisi ini terjadi karena perubahan jaringan ikat.
3) Sistem persarafan
Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi yang progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
4) Sistem reproduksi
Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan menciutnya ovary dan uterus. Terjadi atropi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
5) Sistem pencernaan
Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan produksisebagai kemunduran fungsi yang nyata karena kehilangan gigi, indra pengecap menurun, rasa lapar menurun (kepekaan rasa lapar menurun), liver (hati) makinmengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, dan berkurangnya aliran darah
6) Sistem musculoskeletal dan intergumen
Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia: Jaringan penghubung (kolagendan elastin), kartilago, tulang, otot dan sendi. Kolagen sebagai pendukungutama kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur.
Sistem integumen pada lansia akan mengalami atropi, kendur, tidak elastis, kering dan berkerut. Kulit akan mengalami kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan bercak.
7) Sistem pengindraan
Sistem pendengaran: Prebiakusis (gangguan pada pendengaran) oleh karenahilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.
8) Sistem perkemihan
Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi, ekskresi, dan reabsorpsi oleh ginjal.
2.2.4.2 Kognitif
1) Daya ingat (Memory) 2) IQ (Intelleegent Quotient) 3) Kemampuan belajar (Learning)
4) Kemampuan pemahaman (Comprehension) 5) Pemecah masalah (Problem solving) 6) Pengambilan keputusan (Decision making)
7) Kebijakan (Wisdom) 8) Kinerja (Performance) 9) Motivasi (Motivation) 2.2.4.3 Perubahan mental
Faktor yang mempengaruhi yaitu perubahan fisik, kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan, lingkungan, dll
2.2.4.4 perubahan psikososial
2.3. Konsep Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus 2.3.1 Pengkajian
2.3.1.1 Identitas
Pada penyakit Diabetes Mellitus sering menyerang pada usia diatas 45 tahun terlebih dengan orang yang memiliki berat badan yang tinggi.
Wanita berpeluan besar menderita penyakit Diabetes Mellitus. Dengan pola hidup yang tidak sehat dan pengetahuan yang kurang juga akan menyebabkan Diabetes Mellitus (Gloria, 2012 dalam Anugraheni et al., 2021)
2.3.1.2 Biodata
Prevelansi DM pada tahun 2018 berdasarkan diagnose dokter, jenis kelamin, dan daerah domisili. Berdasarkan kategori usia, penderita Diabetes Mellitus terbesar berada pada rentang usia 55-64 tahun dan 65-74 tahun. Selain itu, penderita Diabetes Mellitus di Indonesia lebih banyak berjenis kelamin perempuan (1,8%) daripada laki-laki (1,2%). Kemudian untuk daerah domisili lebih banyak penderita diabetes melitus yang berada
di perkantoran (1,9%) dibanding dengan di perdesaan (1,0%) (Riskesdas, Badan Litbangkes 2018 dalam Sintia et al., 2020).
2.3.1.3 Keluhan utama
Keluhan utama merupakan factor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat kerumah sakit. Biasanya pada klien ditandai dengan banyak minum (polidipsi), sering kencing (polyuria), banyak makan (polifagia), pengelihatan kabur, nyeri pada luka gangren dan penurunan BB secara drastis atau peningkatan BB (Putra, 2019 dalam Lestyaningsih et al., 2020).
2.3.1.4 Riwayat penyakit sekarang
Pada umumnya penyakit pada pasien DM adalah sering lelah, lemas, kesemutan, nafsu makan bertambah, banyak minum, sering kencing, BB menurun, sering kesemutan, adanya gatal pada kulit dan nyeri yang tak tertahankan pada luka gangrene dikaki yang rasanya seperti tertusuk – tusuk, nyerinya muncul saat melakukan aktivitas dan terdapat banyak pus sehingga menyebabkan pasien dengan DM dibawa ke rumah sakit (Putra, 2019 dalam Lestyaningsih et al., 2020).
2.3.1.5 Riwayat kesehatan dahulu
1) Perlu ditanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit DM atau menderita penyakit lainnya
2) Penderita penyakit DM pernah mengalami kondisi suatu penyakit dan mengkonsumsi obat-obatan atau zat kimia tertentu (Putra, 2019 dalam Lestyaningsih et al., 2020).
2.3.1.6 Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit diabetes mellitus kalau keturunan dari ibu sebanyak 50%
dari ayah 30%, sedangkan keturunan penyakit diabetes mellitus dari kedua orang tua maka sang anak akan mengidap penyakit diabetes mellitus sebanyak 80% (Putra, 2019 dalam Lestyaningsih et al., 2020).
2.3.1.7 Riwayat psikososial
Klien yang dirinya terkena diabetes mellitus tipe 2 biasanya mengalami denial dan akan takut mengkonsumsi makanan dan minuman sembarangan atau malah enggan mengatur makanannya karena sudah merasa bosan dengan penyakitnya yang bersifat kronis. Klien juga bisa mengalami putus asa, serta cemas karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit diabetes mellitus yang dideritanya (Utami, 2020).
2.3.1.8 Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
1) Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat dari nasi dan roti bisa menyebabkan penyimpanan dalam bentuk gula darah dalam darah (glikogen).
2) Banyak mengkonsusmsi makanan yang mengandung gula seperti sirup, minuman dalam kemasan, permen, dan lain sebagainya.
3) Merokok dan minuman beralkohol dapat merusak pancreas dimana hormone insulin diproduksi sehingga dapat mengganggu produksi insulin didalam kelenjar pancreas.
4) Kurangnya aktifitas fisik mengakibatkan terjadinya penumpukan lemak didalam tubuh yang lambat laun BB menjadi berlebih. (Putra, 2019 dalam Lestyaningsih et al., 2020).
2.3.1.9 Riwayat nutrisi
Pola nutrisi berisi kebiasaan klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi meliputi diet, jenis dan jumlah makanan atau minuman, riwayat peningkatan atau penurunan berat badan dan pantangan makanan (Nikmatur & saiful, 2012) penderita Diabetes Melitus mengeluh ingin selalu makan tetapi berat badannya turun karena glukosa tidak dapat ditarik kedalam sel dan terjadi penurunan massa sel (Tarwoto et al., 2012).
2.3.1.10 Pemeriksaan fisik 1) Umum
Pada klien Diabetes Melitus biasanya tampak kelelahan, adanya perubahan berat badan klien, dan mengalami hipertermi karena terjadi infeksi (Susilawati, 2014).
2) Sistem Respirasi (B1)
Inspeksi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya tidak terjadi gangguan pernafasan, akan tetapi pada penderita Diabetes Melitus juga mudah terjadi infeksi pada sistem pernafasan, jika terjadi infeksi maka akan mengakibatkan sesak nafas, dan batuk
Palpasi : Pada lansia yang menderita Diabetes Melitus jika sistem pernafasan tidak terjadi nyeri
Perkusi : Pada lansia dengan Diabetes Melitusjika terjadisesak nafas atau batuk maka akan terdengar pekak karena terdapat lendir Auskultasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus jika terjadi sesak biasanya ada nafas tambahan seperti ronchi (Mulyati, 2014 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem pernafasan
pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah pada dinding dada, tulang-tulang mengalami osteoporosis, rawan mengalami osifikai sehingga terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif mengecil dan volume rongga dada mengecil. Otot-otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi. Volume dan kapasitas paru menurun, hal ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu kelemahan otot nafas, elastisitas jaringan parenkim paru menurun, resistensi saluaran nafas (menurun sedikit). Secara umum dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru (Tamtomo, 2016 dalam Anugraheni et al., 2021).
3) Sistem Kardiovaskuler (B2)
Inspeksi : Pada lansia akan terjadi peningkatan vikositas plasma darah yang menyebabkan resiko tersumbatnya pembuluh darah, Selain itu terjadi peningkatan pada resitensi pembuluh darah perifer sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. (Udjianti, 2011 dalam Anugraheni et al., 2021). Pada lansia dengan Diabetes Melitus tidak ada pembesaran kelenjar limfa leher. Pada lansia dengan Diabetes Melitus dada terlihat simetris, penyembuhan luka yang lama.
Palpasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitustidak ada nyeri tekan, ictus cordis tidak teraba, CRT < 2 detik (bisa terjadi > 3 detik dan sianosis). Pada lansia dengan Diabetes Melitus tidak ada pembendungn vena jugularis (Susilawati, 2014).
Perkusi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya terdengar suara dullnes atau redup atau pekak
Auskultasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus bunyi jantung normal, tidak ada suara jantung tambahan seperti gallop dan rhytme (Putra, 2019) Secara umum perubahan sistem kardiovaskuler pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah katup jantung menebal dan menjadi kaku sehingga menyebabkan bising jantung (murmur), jantung serta arteri kehilangan elastisitasnya (Muhith &
Siyoto, 2016).
4) Sistem Persyarafan (B3)
Secara umum perubahan sistem susunan saraf pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah Terjadi penurunan sensori, anastesia, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi (Sudarta,2012 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem susunan saraf pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah mengalami perubahan anatomi dan atropi yang progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (Kholifah, 2016 dalam Anugraheni et al., 2021).
Palpasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya akan mengalami sakit kepala. Diabetes bisa menyebakan saraf kranial salah satu saraf yang ada didalam otak mengalami pembesaran. Neoropati pada saraf ini menyebabkan sakit kepala pada penderita Diabetes Melitus (Susilawati, 2014).
5) Sistem Genetalia (B4) Genitalia pria
Inspeksi : Pada klien dengan Diabetes Melitus terdapat merah disekitar genetalia yang dapat menyababkan gatal, dan mengalami penurunan fungsi seksual (Sudarta, 2012 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem reproduksi pria pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah testis masih dapat memproduksi sperma meskipun adanya penurunan secara berangsur- angsur, dan prostat mengalami pembesaran hingga 75% dari normalnya dengan usia diatas 65 tahun (Muhith & Siyoto, 2016).
Genetalia wanita
Inspeksi : Pada klien dengan Diabetes Melitus terdapat merah disekitar genetalia yang dapat menyababkan gatal, dan mengalami penurunan fungsi seksual, terdapat keputihan pada area genetalia (Sudarta, 2012 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem reproduksi wanita pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah selaput lendir vagina menurun / kering, dan menciut pada Ovarium dan Uterus (Muhith & Siyoto, 2016).
6) System Pencernaan (B5)
Inspeksi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus abdomen tampak simetris, biasanya terjadi mual muntah karena kadar kalium yang menurun, Pada lansia dengan Diabetes Melitus konjungtiva anemis pada penderita yang kurang tidur karena banyak BAK pada malam hari
Palpasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus tidak ada nyeri pada abdomen
Perkusi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus terdapat suara tympani
Auskultasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus peristaltik 10x/menit (Putra, 2019 dalam Lestyaningsih et al., 2020). Secara umum perubahan sistem gastrointestinal pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah sensitivitas akan rasa lapar menurun, peristaltik lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi (Muhith & Siyoto, 2016).
Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan produksi sebagai kemunduran fungsi yang nyata karena kehilangan gigi, indra pengecap menurun, rasa lapar menurun (kepekaan rasa lapar menurun), liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, dan berkurangnya aliran darah (Azizah, 2011).
7) Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6)
Inspeksi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya terdapat luka yang kemerehan hingga kehitaman seringkali pada ektremitatas bawah. Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya tampak warna merah pada lipatan payudara karena terjadi infeksi dan akan terjadi gatal. Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya ada luka gangren pada bagian ekstremitas, tampak warna kemerahan atau kehitaman pada luka, serat rasa kesemutan dan kebas pada ekstremitas.
Palpasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus akan mengalami nyeri pada luka, akan tetapi saat aliran darah kurang lancar dan saraf-
saraf kurang sensitif terhadap rangsangan akan menyebabkan mati rasa sehingga penderita diabetes kerap tidak menyadari adanya luka. Tektur kulit penderita yang tidak mengalai diuresis osmosis dan tidak mengalami dehidrasi. Kering pada penderita yang mengalami deuresis, osmois dan dehidrasi (Susilawati, 2014). Secara umum perubahan pada kulit lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik, menurunya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, berkuranya elastisitas akibat menurunnya cairan dan vaskularisasi Secara umum perubahan pada rambut lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu, pertumbuhan rambut menjadi lambat, dan rambut banyak yang rontok. Secara umum perubahan pada kuku lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah pertumbuhan kuku menjadi lambat, kuku jari menjadi keras dan rapuh, dan kuku pada kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk (Udjianti, 2011 dalam Anugraheni et al., 2021). Pada lansia dengan Diabetes Melitus tidak ada nyeri tekan (Susilawati, 2014). Secara umum perubahan sistem payudara pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita yang gemuk, dimana payudara tetap besar dan menggantung. Keadaan ini disebabkan oleh karena atrofi hanya mempengaruhi kelenjar payudara saja (Tamtomo, 2016 dalam Anugraheni et al., 2021). Pada lansia dengan Diabetes Melitus terasa nyeri, terdapat edema (Sudarta, 2012
dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem muskuluskeletal pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah tulang kehilangan kepadatan, semakin rapuh, persendian mengalami kekakuan dan nyeri, otot akan mengalami kelemahan sehinggan kesulitan untuk berdiri dan berjalan (Muhith & Siyoto, 2016).
8) Sistem Pengindraan (B7) Mata
Inspeksi : Pada lansia yang mengalami Diabetes Melitus terdapat kantung mata atau hitam disekitar mata disebabkan kurangnya tidur pada malam hari karena sering buang air kecil pada malam hari. Juga pada penderita Diabetes Melitus akan mengalami gangguan penglihatan karena menyerang pada nervus optikus (penglihatan), nervus okulomotorius (gerakan bola mata), nervus traklear (Gerakan bola mata).
Palpasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus bola mata teraba kenyal, dan tidak teraba nyeri (Rahmawati & Amiruddin, 2017).
Secara umum perubahan sistem penglihatan pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah kekendoran kelopak mata, kulit pada palpebra mengalami atropi dan kehilangan elastisitasnya sehingga menimbulkan kerutan dan lipatan kulit yang berlebihan. Pada lansia sering dijumpai keluhan “nerocos” yang disebabkan kegagalan fungsi pompa pada sistem kanalis lakrimalis yang menimbulkan keluhan mata kering yaitu adanya rasa tidak enak seperti terdapat benda asing atau seperti ada pasir. Mata terasa lelah dan kabur, perubahan kornea terjadi
arcus senilis yaitu kelainan beberapa infiltrasi lemak berwarna keputihan berbentuk cincin dibagian tepi kornea. Selain itu pada lansia terjadi presbiopia, terjadi kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan penurunan kemampuan membedaan warna antara biru dan ungu. Perubahan pada iris mengalami proses degenerasi menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi, tampak ada bercak berwarna merah muda sampai putih dan strukturnya menjadi lebih tebal. Perubahan pada pupil yaitu terjadi penurunan kemampuan akomodasi (Tamtomo, 2012 dalam Anugraheni et al., 2021).
Telinga
Inspeksi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus biasanya akan terjadi gangguan pendengaran, karena pada penderita Diabetes Melitus dapat merusak nervus vestibulocochlear (Nervus 8) pada organ pendengaran yang dapat mengakibatkan gangguan pendengaran.
Palpasi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus tidak mengalami nyeri pada daerah tragus (Edward, Y, dkk. 2018 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem pendengaran pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah terjadi perubahan pendengaran (prerbiakusis) karena hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga terutama terhadap nada/suara yang tinggi dan suara yang tidak jelas atau sulit dimengerti (Udjianti, 2011 dalam Anugraheni et al., 2021).
Hidung dan Sinus
Inspeksi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus hidung terlihat simetris, adanya gangguan pada penciuman karena terganggu pada nervus olfaktori (Nervus 1)
Palpasi : Pada lansia dengan diabetes melitus tidak megalami nyeri pada hidung (Fadila, 2012 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem penciuman pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah mengalami penurunan atau kehilangan sensasi penciuman sehingga terjadinya penurunan sensivitas bau pada lansia (Sunaryo et al, 2016 dalam Anugraheni et al., 2021).
Mulut dan Tenggorokan
Inspeksi : Pada lansia dengan Diabetes Melitus terjadi peradangan pada mulut (mukosa mulut, gusi, uvula, dan tonsil), adanya caries gigi, adanya bau nafas seperti bau buah yang menunjukkan terjadinya kateodosis diabetik
Palsapsi : Pada lansia dengan Daibetes Melitus tidak ada nyeri tekan (Rohman, 2010 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan mulut dan tenggorokan pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah hilangnya sensitivitas dari indra pengecap di lidah terutama rasa manis dan asin, berkurangnya kekuatan otot rahang akan menyebabkan kelelahan pada lansia saat mengunyah makanan (Sanjaya, 2016 dalam Anugraheni et al., 2021).
9) Sistem Endokrin dan Kelenjar Limfe (B8)
Inspeksi : Pada Klien dengan Diabetes Melitus biasanya akan mengalami peningkatan BAK dan saat berkemih akan terasa panas dan sakit (Sudarta,2012 dalam Anugraheni et al., 2021). Secara umum perubahan sistem perkemihan pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah aliran darah ke ginjal menurun dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan untuk mengkonsentrasi urin ikut menurun (Maryam, 2011 dalam Anugraheni et al., 2021) Sistem perkemihan banyak mengalami kemunduran, seperti laju filtrasi ekskresi dan reabsorsi ginjal (Ma’rifatul, 2011 dalam Anugraheni et al., 2021). Pada penderita Diabetes Melitus biasanya mengalami polifagia (Banyak makan), Polidipsi (Banyak Makan), Poliuria (Banyak BAK).
2.3.2 Pemeriksaan diagnostik
2.3.2.1 Glukosa darah : meningkat 200-100 mg/dl atau lebih 2.3.2.2 Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
2.3.2.3 Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 300 mOsm/l 2.3.2.4 Natrium : mungkin normal, meningkat atau menurun
2.3.2.5 Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun
2.3.2.6 Fosfor : lebih sering menurun
2.3.2.7 Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik
2.3.2.8 Trombosit darah : hematokrit mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi, merupakan respons terhadap stress atau infeksi.
2.3.2.9 Fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
2.3.2.10 Urin : gula positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
2.3.3 Kultur dan sensitivitas
Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernafasan, dan infeksi pada luka.
2.3.4 Analisa data
Analisa data ialah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data secara alamiah dalam bentuk table atau grafik (Nursalam, 2015).
2.3.5 Diagnosa keperawatan (SDKI, 2016)
2.3.5.1 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
2.3.5.2 Hipovolemia berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi
2.3.5.3 Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorsi nutrient 2.3.5.4 Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan neuropati perifer
2.3.5.5 Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis
2.3.5.6 Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif berhubungan dengan konflik pengambilan keputusan
2.3.5.7 Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi 2.3.5.8 Ketidakpatuhan berhubungan dengan ketidakadekuatan pemahaman
2.3.6 Intervensi keperawatan
Tabel 2.4 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis Tujuan & Kriteria hasil Intervensi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x kunjungan maka tingkat nyeri menurun Kriteria Hasil:
a. Keluhan nyeri menurun b. Meringis menurun c. Sikap protektif menurun d. Gelisa menurun
e. Kesulitan tidur menurun f. Frekuensi nadi membaik
Observasi
a. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
b. Identifikasi skala nyeri
c. Identifikasi respon nyeri non verbal
d. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
e. Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
a. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres
hangat/dingin, terapi bermain.) b. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
c. Fasilitasi istirahat dan tidur d. Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemeliharaan strategi meredahkan nyeri Edukasi
a. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
b. Jelaskan strategi meredahkan nyeri
c. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
d. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
e. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk menurangi rasa nyeri Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu