• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Manusia Menurut Humanisme dan Al Quran

Dalam dokumen Teori Dasar Psikologi Agama oleh Moh. Mofid (Halaman 65-77)

58 BAB 6

MANUSIA MENURUT HUMANISME DAN AL QURAN

A. Konsep Manusia Menurut Humanisme dan Al

59

Secara terminologi, humanisme berarti martabat dan nilai dari setiap manusia, dan semua upaya untuk meningkatkan kemampuan- kemampuan alamiahnya (fisik nonfisik) secara penuh. (Hasan Hanafi dalam Haryanto Al-Fandi, 2011:71).

Abdurrahman Mas’ud (2004:135) mengemukakan bahwa humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu untuk mengukur dan mencapai ranah ketuhanan dan menyelesaikan permasalahan-permasalah sosial.

Menurut pandangan ini, individu selalu dalam proses menyempurnakan diri.

Humanisme sebagai suatu aliran dalam filsafat, memandang manusia itu bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri, dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri.

Pandangan ini disebut pandangan humanistis atau humanisme.

Pemakaian istilah humanisme mula-mula terbatas pada pendirian yang terdapat di kalangan ahli pikir di zaman Renaissance yang mencurahkan perhatian kepada pengajaran kesusateraan Yunani dan Romawi Kuno dan kepada perikemanusiaan.

Posisi humanisme sama dengan reformasi.

Keduanya sama-sama mengunggulkan pencapaian

60

individu. Perbedaannya adalah bahwa humanisme, kebenaran yang mereka pikirkan tidak terikat pada kebenaran Tuhan. Manusia adalah pusat, bukan Tuhan. Pemikiran tersebut dipengaruhi oleh ilmu alam, kelak menjadi aliran rasionalisme. Senaliknya aliran reformasi tidak memuja manusia dan keindahan, tetapi memuja Tuhan. Kebahagiaan bukan di dunia, melainkan di surga.34

Kepribadian Sehat Menurut Teori Humanistik

Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri.

Akan tetapi ada lebih banyak hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia. Kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan yang dibawa sejak lahir, yang tersusun dalam satu tingkat, dari yang paling kuat sampai kepada yang paling lemah. Jadi, prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah:

(1) kebutuhan-kebutuhan fisiologis,

(2) kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, (3) kebutuhan-kebutuhan akan rasa cinta,

34 Noesjirwan, joesoef. 2000. Konsep Manusia Menurut Psikologi Transpersonal (dalam Metodologi Psikologi Islami). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

61

(4) kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan.

(5) Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang- kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini,

sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan- kebutuhan yang jelas terhadap makanan, air, udara, tidur, dan seks. Kebutuhan akan rasaaman meliputi kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan, dan kecemasan. Kebutuhan akan rasa cinta dapat menggabungkan diri dengan suatu kelompok atau kumpulan, menerima nilai-nilai dan sifat-sifat atau memakai pakaian seragammya dengan maksud supaya merasakan perasaan memiliki. Kebutuhan akan penghargaan di bagi menjadi dua, penghargaan yang berasal dari orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri. Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita.

Pengertian Al Qur’an

Al-Quran sebagai landasan atau sumber yang utama memuat nilai-nilai yang universal, baik dari segi lingkuap, ruang maupun dimensi waktu. Ini berarti, Al-Quran mengandung tuntutan hidup bagi manusia dari segala bidang dan aspek kehidupannya

62

(tak terkecuali bidang pendidikan) pada ruang dan waktu (space and time) yang idak terbatas. Dalam AL-Quran sering kali terdapat formulasi yang terlampau global (mujmal), dan disinilah Al-Sunnah sebagai penjelas (Al-Bayan) dari nash Al-Quran yang masih bersifat mujmal tadi.

Karena kehiduapan manusia tidak pernah berhenti dengan progresivitasnya yang tinggi sehingga memunculkan berbagai problematika yang mungkin sama sekali baru, yang kemungkinan Al- Quran dan Al-Sunnah tidak eksplisit (gambling) menyinggungnya,maka dipergunakanlah cara penetapan hokum yang lain, yakni ijtihad. Namun, ijtihad ini harus dialkukan dengan kriterium yang sangat ketat, serta msih menggunakan Al-Quran dan Al-Sunnah sebagai rujukan dalam melakukan istimbat hukumnya.

Al- Quran adalah kitab suci yang berisi firman Allah yang ditunrunkan kepada Nabi melalui perantaran malaikat Jibril. Lebih terperinci lagi, Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar mengatakan: Al-Quran adalah kalam yang diturunkan oleh Allah kepada jiwa nabi yang paling sempurna (Muhammad) yang ajarannya mencakup pengetahuan yang tinggi dan menjadi sumber yang mulia yang esensinya tidak dapat dimengerti kecuali

63

bagi ornag-orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.

Al-Quran merupakan sumber pokok dan utama bagi manusia dalam ber-islam. Di dalamnya terdapatpenjuk-penjuk tentang kebenaran. Al- Quaran adalah kebenaran absolute dan mutlak. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al- Baqarah. Dapat dipahami bahwa yang dimaksud penjuk adalah penjuk yang berhubungan dengan segalaaktivitas hidup manusia. Penjuk bagaimana manusia beragama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan sebagainya, tidak terkecuali juga penjuk bagaimana manusia sebagai insane pedagogi melaksanakan aktivitas pendidikan.

Mengawali proses pendidikan dalam sejarah kemanusia, Allah menampilkan figure Adam sebagai sasaran pendidikan-Nya melalui transformasi pengetahuan berupa nama-nama benda –asma’a kullaha- , sebagaimana firman Allah dalam surat Al- Baqarah ayat 31.

Dari ayat tersebut, bisa di ambil pemahaman bahwa yang memulai proses pendidikan Islam (al- Tarbiyah al-Islamiyyah) adalah Allah yang secara lansung mentranser ilmu pengetahuan berupa nama-nama benda kepada Nabi Adam. Sebagai rasu allah, adam mempunyai tugas untuk menyaikan

64

risalah yang datang dari allah itu kepada umatnya.

Ini merupakna proses kependidikan pada tahap selanjutnya. Jadi, adam merupakan peristis awal bagi terwujudnya budaya dalam historissitas kehidupan manusia dengan penjuk Allah.

Al-sunah

Secara etimologis, Sunnah berartibal- thariq al-maslukah, jalan yang ditempuh baik terpuji maupun tidak. Sunnah juga berarti cara, sistem, baik cara Nabi Muhammad ataupun lawan daripada bid’ah. AL-Sunnah secara istilah diartikan oleh para ulama hadis mengeartikan sunnah sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan perbuatan,perkataan, ketetapan.

Ulama ushulm Fiqh memberikan pengertian sunnah sebagai segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hokum. Sedangkan para Fuqaha mengartikan sunnah dengan perbuatan yang dilaksanakan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai Wajib atau Fardu, yang mana perbuatan tersebut adalahsesuatu yang utama bila dikerjakan.

Dengan demikian, nilai kebenaran Sunnah berada setingkat dibawah Al-Quran, sebab pada

65

haikikatnyabSunnah merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasullah, sedangakn aklhlak dan perilaku Nabi merupakan cermin totalAl-Quran Karim. Dan ini seperti yang pernah dikatakan oleh Aisyah: kana khuluqubu Al-Quran bahwa sesunggunya akhlak Nabi adalah Al- Quran.Rasulullah merupakan teladan yang sempurnah bagi manusia sebagai firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21.

Berangkat dari statemen naqli di atas, dalam kerangka menempatkan Al-Sunnah sebagai landasan pendidikan Islam, rasullah merupakan figure tunggal bagi terpulangnya segala problematika dalam tinjauan sunnah, semua perilaku rasullah harus dijadikan teladan yang paripurna bagi pelaksanaan pendidikan pada masa mendatang.

Konsep pendidikan yang di contohkan nabi Muhammad kepada umatnya memiliki corak rahmatan lil alamin yang ruang lingkupnya tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga pada makhluk lain (QS Al-Anbiya’[21]:107), sampaikan secara universal, mencakup dimensi kehidupan apa pun yang berguna untuk kegembiraan dan peringatan bagi umatnya (QS Saba’ [34]:28). Apa yang disamapaikan merupakan kebenaran yang mutlak

66

(QS Al-Baqarah [2]: 119) dan keautentikan kebenaran it uterus terjadi (QS Al-Hijr [15]: 9). Nabi adalah evaluator yang mengawasi serta bertanggu jawab atas aktivitas kependidikan (QS Asy-Syura [42]:48;

QS Al-Ahzab [33]: 4-5; QS Al-fath [48]:8). Perilaku Nabi Muhammad merupakan uswatun hasanah, yaitu seorang figure yang patut diteladani semua tindak tanduknya (QS Al-Najm [53]:3-4), dan Nabi juga terpelihara dari perbuatan dosa (ma’sh`um).

Namun demikian, masalah teknis-praktis dalam pelaksanaan pendidikan Islam sepenuhnya diserahkan kepada umat, seperti disabdannya:

“Engkau lebih tahu dengan urusan duniamu.”(HRMuslim dari Abu Hurairah).

Pernyataan Robert L.Gulick dalam Muhammad the Educator, bahwa “ Muhammad betul-betul seorang pendidikan yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar sertabmelahirkan ketertiban dan kestabilan yang mendorong perkembangan budaya Islam, suatu revolusi yang memliki tempo yang tidak tertandingi dan gairah yang menantang. Dari sudut pragmatis, seorang yang mengangkat dan memperbaiki perilaku manusia adala seorang pangertan diantara para pendidik.

Ijtihad

67

Hasil pemikiran para pelaku ijitihad (mujtahid) dapat dijadikan landasan pendidikan Islam, terlebih apabila ijtihad itu merupakan kesepakatan umum (ijama’), maka eksistensinya akan menjadi semakin kuat. Hasil pemikiran mujtahid dalam pendidikan Islam sangat penting artinya dalam pengembangan pendidikan Islam dimasa mendatang, karena hal itu memungkinkan pendidikan akan mengalami perkembangkan yang tinggi.

Dalam hal ini, Abu Hamid Hakim mendefinisikan ijhihad sebagai upaya yang sungguh-sungguh dalam memperoleh hukum syara' berupa konsep yang operasioanal melalui metode istinbat (deduktif maupun induktif) dari Al-Quran dan Al-Sunnah.

Pengertian dan perbedaan zaman, tempat, keadaan juga kemajuan ilmu dan teknologinakan bermuara pada perubahan kehidupan sosial, sehingga menutut peranan ijtihad untuk member jawaban atas problematika kehidupan yang muncul.

Situasi sosial-kultural kita sekarang ini tentunya akan jauh berbeda dengan kondisi masyarakat pada zaman Rasulullah dijazirah Arab. Keadaan kita disini secara geografis juga menampilan gejala serupa, tak terkecuali perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melompat begitu cepat

68

menimbulkan kemajuan yang luar biasa dibanding era Nabi Muhammad.

Karena begitu pentingnya peran para mujtahid tersebut, Allah sangat menghargai kesungguhan mereka dalam melakukan usaha ijtihadnya. Tentang hal ini Rasulullah bersabda yang artinya;

“ Apabila hakim telah menetapkan hokum, kemudian berijihad dan ijihadnya itu benar maka baginaya dua pahala. Tetapi apabila ia sudah membuat keputusan dan keputusannya itu salah, maka baginya satu pahala.”(HR Bukhari-Muslim dari Arm bin`Ash)

Penggunaan dalil-dalil ijihad dalam lapangan kependidikan Islam pada dasarnya merupakan pantulan dan cerminan fleksibiltas hokum Islam dalam semua bidang dan sedara khusus dalam bidang kependidikan. Dengan menggunakan dalil- dalil ijtihad dalam kegiatan kependidikan Islam, persoalan-persoalan pelik yang dihadapi dunia kependidikan (Islam) masa kini dan masa depan akan memilki tempat berpulang yang sesungguhnya yang sesungguhnya dan damai.

Untuk menompang laju perkembangan zaman yang senantiasa berubah (pantarei), dengan masih berpegang pada dogmatis Al-Quran dan Al-

69

Sunnah, dipakailah ijtihad sebagai landasan pendidikan Islam. Ijtihad merupakan hasil pemikiran para pemikir (ahli pendidikan Islam) guna mencari jalan keluar (way out) bagi segala permasalahan kependidikan Islam. Dengan dalil-dalil ijtihad, segala problematika pendidikan islam- terutama yang menyangkut dimensi filosofisnya masa kini, bahkan yang akan datang, bakal memliki tempat berpulang.

Dengan demikian pendidikan Islam dimasa depan akan tetap eksis dan adaptif.

70 BAB 7

JIWA KEAGAMAAN PADA ANAK-ANAK

A. Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak-Anak

Dalam dokumen Teori Dasar Psikologi Agama oleh Moh. Mofid (Halaman 65-77)