i
i
TEORI DASAR PSIKOLOGI AGAMA
Penulis
Moh. Mofid. M.Pd
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN KALIJOGO MALANG
2020
ii
TEORI DASAR PSIKOLOGI AGAMA Penulis
Moh. Mofid. M.Pd
ISBN
978-623-94254-2-5
Layout IemaZain and Ziya
Tahun Terbit:
2020
Penerbit:
Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang
Redaksi:
Jl. Keramat, Dusun Gandon Barat, Desa Sukolilo, Jabung, Malang, Jawa Timur 65155
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur kami haturkan kepada sang maha sempurna dari segalanya, bahwa penulis dapat menyelesaikan Buku ini.
Shalawat beserta salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, semoga kita mendapatkan syafaatnya.
Buku ini disusun bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa/i pada khususnya, dan pembaca pada umumnya. Materi yang tersaji dalam buku ini masih bersifat dasar, yakni mengupas tentang teori- teori dasar tentang Psikologi Agama. namun penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa Buku ini punya banyak kekurangan Sehingga masih banyak materi yang belum tersampaikan dalam buku ini. Oleh karena itu, penulis berharap ada kritikan, saran dan masukan dari pembaca.
Buku ini kami persembahkan bagi civitas akademika yang diantaranya semua fakultas dan program studi dan semua angkatan, para dosen pengampu mata kuliah, dosen pembimbing akademik, unit-unit kerja dan para pejabat struktural yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing
iv
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian buku ini, terutama kepada Tim LP2M. Harapan besar dari penulis semoga Buku ini bermanfaat bagi penulis pribadi dan pembaca secara luas. Aamiin
Malang, 14 Juli 2020
Penulis
v DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB 1 ... 1
PENDAHULUAN ... 1
BAB 2 ... 3
KONSEP DASAR PSIKOLOGI AGAMA ... 3
BAB 3 ... 18
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU ... 18
BAB 4 ... 30
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA ... 30
BAB 5 ... 51
MANUSIA MENURUT MAZDHAB ... 51
BAB 6 ... 58
MANUSIA MENURUT HUMANISME DAN AL QURAN .. 58
BAB 7...70
JIWA KEAGAMAAN PADA ANAK-ANAK ... 70
BAB 8 ... 86
JIWA KEAGAMAAN PADA ANAK REMAJA...86
vi
BAB 9... 93
JIWA KEAGAMAAN ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT... 93
BAB 10...103
ORANG YANG MATANG BERAGAMA...103
BAB 11...118
AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL...118
BAB 12...138
AGAMA ISLAM DALAM TERAPI NEUROSIS...138
BAB 13...146
PSIKOLOGI AGAMA DAN TASAWUF...146
BAB 14...154
DIMENSI PSIKOLOGIS MENGENAI SHALAT...154
BAB 15...173
KEPRIBADIAN DAN FITRAH DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI AGAMA...173
DAFTAR PUSTAKA...181
1 BAB 1 PENDAHULUAN
Psikologi Agama merupakan cabang ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan pengaruh usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan Psikologi.
Tegasnya psikologi agama mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam prilaku dan kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia.
Psikologi agama berbeda dari cabang-cabang psikologi yang lainya, karena dihubungkan dengan dua bidang pengetahuan yang berlainan. Sebagian harus tunduk kepada agama dan sebagian lainnya tunduk kepada ilmu jiwa (psikologi). Sebagaimana telah diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah-satu cabang dari psikologi, merupakan ilmu terapan.
Tujuan di tulisnya buku ini adalah untuk mempermudah mahasiswa secara khusus dan pembaca pada umumnya dalam mengkaji teori Dasar psikologi Agama.
2
Manfaatnya buku ini sangat banyak diantaranya, memudahkan mahasiswa secara khusus untuk mencari rujukan yang berkaitan langsung dengan matakuliah yang diampu, dan memudahkan pembaca secara umum untuk memahami teori-teori dasar yang berkaitan dengan Psikologi agama.
Petunjuk penggunaan buku ini yaitu dengan mencari sub-sub bab bacaan menggunakan daftar isi yang sdh di tulis di halaman awal buku ini.
3 BAB 2
KONSEP DASAR PSIKOLOGI AGAMA
A. Pengertian Psikologi Agama dan Ruang Lingkup 1. Definisi Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio yang dapat berarti obligation / kewajiban agama. Dalam Encyclopedia of Philosophy, definisi agama menurut James Martineau adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia. Menurut Edward Craid, agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu. Menurut F.H. Bradley, agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita.
Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan.1
1 Rosyidi, Hamim. 2010. Psikologi Agama. Surabaya: Jaudar press.
Hlm. 5.
4
Makna agama menurut Robert H. Thouless menimbulkan kontroversi yang sering lebih besar dari pada arti penting permasalahannya. Thoules mengutip beberapa pendapat para ahli dalam mengartikan agama. F.W.H. Myles mendefinisikan agama sebagai tanggapan yang sadar dan normal dari jiwa manusia terhadap hukum alam. Sementara menurut J.H leuba dalam bukunya yang berbicara tentang psikologi agama memasukkan lampiran yang berisi tentang 48 definisi agama yang di berikan menurut beberapa ahli.2
Definisi yang di berikan oleh J.H. Leuba menunjukkan agama sebagai cara bertingkah laku, sebagai sistem kepercyaan atau sebagai emosi yang bercorak khusus. Sementara Thouless mengemukakan definisi agama sebagai hubungan praktis yang dirasakan dengan apa yang di percayai sebagai makhluk atau sebagai wujud yang lebih tinggi dari manusia.3
Menurut Vergulius Ferm, beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat
2 Robert H. Thoules. An Introduction Psychology of Religion, alih bahasa Machnun Husein. Pengantar Psikologi agama. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet. II), halm. 14
3 Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Thought in Islam, alih bahasa Osman Raliby, membangun kembali pemikiran islam, (Jakarta : Bulan Bintang, cet. II 1988).
5
tertentu penyesuaian vital betapapun tentatif dan tidak lengkap pada apapun yang di tanggapi atau secara implisit atau eksplisit di anggap layak di perhatikan secara serius dan sungguh – sungguh.4
Menurut Oxford, agama menghadirkan manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang di sebut Tuhan atau para dewa – dewa untuk patuh menyembahnya. Sedangkan menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berfikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat di pisahkan dai keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi pribadi.
Dengan melihat dari pendapat para ahli tersebut maka dapat di ambil kesimpulan bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.
Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan
4 Ramayulis. Psikologi Agama. Kalam Mulia. 2004. 12
6
tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berfikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat di pisahka dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalan konstruksi pribadi.5
Agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia.
Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit untuk di ukur secra tepat dan teliti. Secara definitif agama menurut Harun Nasution, agama adalah : 1) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia
dengan kekuatan gaib yang harus di patuhi.
2) Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3) Mengikat diri pada suatu bentuk hudup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia.
4) Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5) Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib.
5 Ibid. Hlm. 12
7
6) Pengakuan terhadap adanya kewajiban – kewajiban yang di yakini bersumber pada sesuatu kekuatan gaib.
7) Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8) Ajaran – ajaran di wahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.6
Selanjutnya Harun Nasution merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama yaitu:
1) Kekuatan gaib yang di yakini berada di atas kekuatan manusia. Didorong oleh kelemahan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan menjaga dan membina hubungan yang baik dengan kekuatan gaib tersebut. Sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
2) Keyakinan terhadap kekuatan gaib sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk manusia.
Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
6 Nasution, Harun. 1973. Filsafat Mistisme Dalam Islam. Jakarta:
Bulan Bintang.hlm. 10.
8
3) Respon yang bersifat emosional dari manusia.
Respon ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karena dorongan oleh perasaan takut atau pemujaan yang di dorong oleh perasaan cinta, serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
4) Paham akan adanya yang kudus dan suci.
Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan gaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun tempat – tempat tertentu.7 2. Objek Kajian Psikologi Agama
Psikologi agama tidak menyelidiki tentang ajaran – ajaran secara meteriil, dasar – dasar agama dan tidak berwenang untuk membenarkan atau menyalahkan pengertian yang ada dalam agama.
Yang menjadi obyek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala – gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduanya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious
7 Nasution, Harun. 1973. Filsafat Mistisme Dalam Islam. Jakarta:
Bulan Bintang. Hlm. 11.
9
counciousness) dan pengalaman agama (religious experience).8
Dengan demikian yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat – akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala – gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.9
Sikap beragama seseorang mengalami proses sesuai dengan perkembangan jiwanya, sehingga psikologi agama di samping mengkaji tingkah laku beragama tertentu juga membahas pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama seseorang.
Mengingat proses tersebut banyak hal yang mempengaruhi maka dalam pembahasan berikut di
8 Rosyidi, Hamim. 2010. Psikologi Agama. Surabaya: Jaudar press.
Hlm. 10.
9 Ibid. Hlm. 10.
10
jelaskan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi keyakinan seseorang.10
Memang, para ahli berbeda dalam memilih objek kajian. Artinya dari ketiga aspek kajian psikologi agama, tingkah laku beragama, pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama dan faktor – faktor yang mempengaruhi sikap beragama seseorang, para ahli berbeda titik tekannya. William James, lebih memfokuskan penelitiannya pada tingkah laku beragama pada tokoh agama. Sementara Robert H. Thouless banyak mengkaji faktor – faktor yang mempengaruhi keyakinan seseorang. Spilka dan Clark hampir sama kajiannya, di samping membahas perilaku beragama, juga membahas pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama.
Pembahasan terakhir ini juga di bahas oleh Al- Malighy dan Zakiah Daradjat.11
3. Ruang Lingkup dan Kegunaannya
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingku[ pembahasan tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang
10 Surunin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.hlm. 8.
11 Surunin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.hlm. 8.
11
mempelajari masalah agama yang lainnya. Lenih lanjut, Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Oleh karena itu menurut Zakiah Daradjat ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai :
a. Bermacam – macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa, seperti rasa lega dan tentram sehabis sembahyang, pasrah dan menyerah setelah dzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
b. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan batin.
c. mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap – tiap orang.
d. meneliti dan mempelajari perasaan dan kesadaran orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut berpengaruh
12
terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e. Meneliti dan mempelajari begaimana pengaruh pengahayatan seseorang terhadap ayat – ayat suci terhadap kelegaan batinnya.12
Semuanya itu menurut Zakiah Daradjat tercakup dalam kesadaran agama dan pengalaman agama. Yang di maksud dengan kesadaran agama adalah bagian segi agama yang hadir dalam pikiran yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama.
Sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliyah).
Hasil kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, industri, antropologi, psikoterapi, dan lainnya. Seperti halnya dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran agama.
Pengobatan – pengobatan pasien rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana
12 Rosyidi, Hamim. 2010. Psikologi Agama. Surabaya: Jaudar press.hlm. 11.
13
dilembaga pemasyarakatan banyak dilakukan dengan menggunakan psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembicaraan moral dan mental keagamaan peserta didik.13
4. Hubungan Psikologi agama dan Pendidikan Islam
Pendidikan islam disini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakekat kejadiannya. Jadi dalam pengertian ini, pendidikan islam tidak dibatasi oleh institusi kelembagaan ataupun pada lapangan pendidikan tertentu.
Pendidikan islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas.
Pendekatan psikologi agama dalam pendidikan islam ternyata telah dilakukan diperiode awal perkembangan islam itu sendiri. Fungsi dan peran kedua orang tua sebagai teladan yang terdekat dengan anak telah diakui dalam pendidikan islam. Bahkan agama dan keyakinan
13 Rosyidi, Hamim. 2010. Psikologi Agama. Surabaya: Jaudar press..hlm 19.
14
seseorang anak dinilai sangat tergantung dari keteladanan para orang tua mereka.
Dalam pandangan islam, sejak dilahirkan manusia telah dianugrahkan potensi keberagamaan.
Potensi ini baru dalam bentuk sederhana, yaitu berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi ini tidak salah, maka perlu adanya bimbingan dari luar. Secara kodrati orang tua merupakan pembimbing pertama yang mula – mula dikenal anak. Oleh karena itu Rasulullah menekankan bimbingan itu pada tanggung jawab kedua orang tua. Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrahnya (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Majusi, Yahudi, atau Nasrani, sabda Rasulullah SAW.
Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa pengaruh bimbingan ibu bapak memiliki peran yang strategis dalam membentuk jiwa agama pada diri anak.
Demikian pentingnya pengaruh bimbingan itu, hingga dikaitkan dengan akidah. Sebab bila dibiarkan berkembang dengan sendirinya, maka potensi keberagamaan anak akan salah arah.
Kecenderungan untuk tunduk pada sesuatu, dapat saja di arahkan pada yang salah.
Bimbingan kejiwaan diarahkan pada pembentukan nila- nilai imani sedangkan
15
keteladanan, pemboasaan, dan disiplin dititik beratkan pada pembentukan nilai – nilai imani.
Keduanya memiliki hubungan timbal balik. Dengan demikian, kesadaran agama dan pengalaman agama dibentuk melalui proses bimbingan terpadu.
Hasil yang diharapkan adalah sosok manusia yang beriman (kesadaran agama) dan beramal saleh (pengalaman beragama). Anak dibimbing untuk tunduk dan mengabdikan diri hanya kepada Allah sesuai dengan fitahnya. Kemudian sebagai pembuktian dari pengabdian itu, direalisasikan dalam bentuk perbuatan dan aktifitas yang bermanfaat sesuai dengan perintahnya.14
5. Manfaat Mempelajari Psikologi Agama
Manfaat kita mempelajari psikologi agama yaitu bisa dimanfaatkan dalam lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi dan lapangan lainnya dalam kehidupan. Bahkan sudah sejak lama pemerintah kolonial belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Fnouck Hugronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan belanda di Indonesia.
14 Jalaluddin. 1997. Psikologi Agama. Jakarta:Raja Grafindo Persada, cet. 1.hlm 125.
16
Di bidang industri psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950an diperusahaan minyak STANFAC (Laju dan Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama islam untuk para pekerjanya.
Kita mempelajari psikologi agama juga merupakan keharusan sebagai umat islam yang sangat meyakini akan kepercayaan kepada ALLAH SWT. Jiwa dan kehendak kita sudah diatur oleh Sang Illahi. Dalam kajiannya psikologi agama menyelidiki tentang ajaran-ajaran secara meteril akan dasar-dasar agama yang menjadi dasar manusia dalam berkeyakinan dan bertindak.
Diantara kegunaan psikologi agama yaitu sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia kaitannya dengan agama yang dianutnya, perasaan keagamaan itu dapat memengaruhi ketentraman batinnya baik konflik itu terjadi pada diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan ajaran agamanya maupun tidak.
Di bidang industri, psikologi juga bisa dimanfaatkan. Misalnya, adanya ceramah agama islam guna menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan.
17
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Selain itu dalam pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaaan moral dan mental keagamaan manusia.
6. Tujuan Mempelajari Psikologi Agama
Untuk meneliti dan menelaah kehidupan beragama seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta kehidupan pada umumnya. Juga bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang diambil dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan.
18 BAB 3
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Psikologi Agama Dan Pendidikan Islam, Manfaat Dan Aplikasi Psikologi Agama Dalam Proses Belajar Mengajar.
Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, atau ilmu yamg mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia.
Pengertian psikologi menurut para ahli, di antaranya :
1. Dr. Singgih Dirgagunarsa: “Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.”
2. Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa :
“Psikologi adalah pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.”
3. Wilhelm Wundt, tokoh psikologi eksperimental, berpendapat bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman- pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, dan kehendak.
19
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu, ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Psikologi Agama merupakan cabang ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan pengaruh usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan Psikologi.
Jadi psikologi agama adalah ilmu psikologi yang mempelajari tentang sikap keberagamaan sesorang dan pengaruh agama terhadap kehidupannya.
Pengertian Belajar
1. Menurut Lyle E. Bourne, JR., Bruce R.
Ekstrand belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan.15
15 Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008), Cet.4, hlm.33
20
2. Menurut Cliford T. Morgan, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil pengalaman yang lalu.
3. Menurut Dr Musthofa Fahmi dalam Mustaqim, sesungguhnya belajar adalah ungkapan yang menunjukan aktivitas yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku atau pengalaman.
4. Jenis-jenis belajar menurut beberapa ahli di antaranya:
Menurut Muhammad Athiyah Al-Abrosyi, jenis belajar ada tiga yaitu :
• Belajar pengetahuan.
• Belajar ketrampilan.
• Belajar perasaan dan hati
Menurut Dr. Muhammad Al-Hadi Afify jenis belajar ada empat :
• Aqal
• Akhlaq
• Fisik
• Sosial
Menurut Robert M. Gagne :
• Ketrampilan motorik
• SikaP
• Kemahiran intelektual
• Informal
21
• Pengetahuan kegiatan intelektual Pengertian Mengajar
Menurut Dr. Harold Benyamin, mengajar adalah suatu proses pengaturan kondisi-kondisi dengan mana pelajaran merubah tingkah lakunya dengan sadar ke arah tujuan-tujuan sendiri.
Sedangkan menurut Prof. Dr. S. Nasution, mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak.
Menurut LD. Crow dan Alice Crow, ada lima aspek dalam mengajar, yaitu sebagai berikut:16
• Mengarahkan dan membimbing belajar.
• Menimbulkan motivasi pada siswa untuk belajar.
• Membantu siswa-siswa dalam mengmbangkan siakp yang baik dan diinginkan.
• Memperbaiki teknik belajar.
Mengenal terbentuknya pribadi yang bermutu dan berguna dalam rangka menuju sukses dalam mengajar.
Dari pengertian belajar dan mengajar dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar mengajar merupakan suatu proses penanaman pengetahuan dan pengkodisian anak sesuai dengan tujuan yang diinginkan, yakni perubahan pada tingkah laku, sebagai hasil dari proses belajar mengajar.
16 Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008), Cet.4, hlm.98.
22 Motivasi Belajar
Motif, disebut juga dorongan orang untuk bertindak.17 Misalnya suatu pertanyaan mengapa orang pagi-pagi sudah berangkat dari rumahnya.
Tentu ada sesuatu yang ditujunya. Sesuatu yang mendorngnya untuk berbuat. Hal itu dikatakan ada motif yang melatarbelakangi perbuatannya.
Motif ada yang positif dan ada yang negatif.
Motif positif mendorong orang untuk maju, memiliki daya juang tinggi untuk berhasil.
Sedangkan motif negatif adalah frustasi dan konflik.
Motif berprestasi, merupakan suatu dorongan dari dalam diri untuk meraih prestasi.
Apabila dorongan tinggi, maka keberhasilan akan besar kemungkinan untuk tercapai. Murid-murid di dalam kelas berbeda-beda motif prestasinya. Hal ini disebabkan pengaruh luar yang sedikit atau banyak dapat mempengaruhi motivasi belajar dan motivasi mereka untuk berprestasi. Anak yang selalu didorong oleh orang tuanya untuk belajar giat, maka motif berprestasi anak meningkat. Sebaliknya orang tua yang tak pernah sukses, malas dan sibuk ada kemungkinan anak akan kendor motif prestasinya.
17 Sofyan S. Willis, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2012)hlm.71
23
Dengan demikian, motivasi belajar adalah dorongan timbul dari diri seorang anak baik dipengaruhi oleh lingkungan maupun timbul dari dirinya sendiri untuk belajar dan meraih prestasi.
Faktor-faktor penentu motif berprestasi adalah sebagai berikut
• Harapan untuk sukses. Bila harapan untuk sukses besar, kemungkinan besar dia akan berhasil.
• Tingkat aspirasi atau cita-cita. Bagi anak yang bercita- cita tinggi untuk berhasil tentu ia akan berhasil. Dan sebaliknya bagi anak-anak yang tidak ada cita-cita atau hanya sekadarnya saja, aspirasinya rendah.
• Peran insentif, misalnya ada hadiah bagi yang berhasil, maka motif berprestasi akan tinggi.
Manfaat Belajar Psikologi Agama Dalam Belajar Mengajar (Motivasi Belajar)
Sebagai disiplin ilmu yang ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama.
Menurut Robert H. Thouless dalam Jalaluddin, psikologi agama memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat. Kajiannya terpusat pada pemahaman
24
terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.18
Psikologi agama, sejalan dengan dengan ruang kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianutnya.
Selain itu hasil kajian psikologi agama dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti pendidikan, psikoterapi, dan berbagai lapangan kehidupan yang lain.
Dalam dunia pendidikan, proses belajar mengajar sangatlah tidak asing di telinga kita.
Proses belajar mengajar di kelas menjadi topik tersendiri, dimana seorang guru setiap hari berusaha mencerdaskan anak bangsa Indonesia dan mencapai tujuan pendidikan nasional.
Dalam konteks pendidikan, terutama pendidikan Islam meletakan pendidikan dasarnya pada rumah tangga. Seiring dengan tanggung jawab para orang tua dan guru dalam pendidikan Islam berfungsi dan berperan sebagai pembina, pembimbing, pengembang serta pengarah potensi yang dimiliki anak supaya mereka menjadi pengabdi Allah yang taat dan setia, sesuai dengan hakikat
18 Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta : PT RajaGrafindo, 2005)hlm.15
25
penciptaan. Sesuai firman Allah dalam Qs. Adz Dzariyat : 56.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada- Ku.(Qs. Adz Dzariyat : 56)
Selain itu, manusia juga berperan sebagai khalifah Allah SWT, seperti firman Allah dalam Qs. Al Baqarah : 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ".
Selain itu dalam pelaksanaaan aktivitas pendidikan diterapkan sejak usia bayi, dalam buaian hingga ke akhir hayat, seperti tuntunan Rosul SAW.
Pendekatan psiklogi agama dalam dunia pendidikan telah dilakukan periode awal perkembangan Islam.
26
Fungsi dan peran kedua orang tua sebagai teladan terdekat kepada anak telah diakui dalam pendidikan Islam.Bahkan agama dan keyakinan seseorang dinilai sangat bergantung dari keteladanan orang tua mereka. Tak mengherankan bila Sigmund Freud menyatakan bahwa keberagamaan anak terpola dari tingkah laku bapaknya (father image).
Adapun manfaat psikologi agama dalam belajar mengajar dan kaitannya untuk menumbuhkan motivasi belajar adalah sebagai berikut :
1. Memahami individu, dalam hal ini peserta didik yang telah memiliki potensi yang perlu untuk dikembangkan dan diarahkan oleh pendidik berdasarkan pemahaman agama yang dianutnya.
2. Dapat membimbing dan mengarahkan peserta didik sesuai dengan kaidah dan norma-norma dalam agama yang dianutnya.
3. Psikologi agama digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan Islam.
Cara Menumbuhkan Motivasi Belajar Menurut Ajaran Agama Islam
Dalam Islam, menutut ilmu atau belajar sudah diatur dalam Al Qur’an, sebagai rujukan dan sumber
27
pandangan hidup umat islam. Menuntut ilmu hukumnya wajib menurut ajaran Islam, seperti hadits Rosulullah SAW:
ةملسمو ملسم ّلك ىلع ةضيرف ملعلا بلط
Menuntut ilmu adalah wajib atas tiap muslim dan muslimat”. (Muttafaq Alaih).
Selain menuntut ilmu dipandang sebagai suatu kewajiban bagi setiap muslim, Allah SWT meninggikan kedudukan seseorang yang berilmu pengetahuan beberapa drajarat, sesuai firman Allah SWT dalam Qs. Al Mujadilah ayat : 11
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah : 11)
Selain mengetahui kewajiban dan janji Allah SWT dalam Al Qur’an, pendidik dan peserta didik harus tahu bahwa ilmu memiliki banyak keutamaan, diantaranya:
28
1. Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana dalam hadits: ”jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya,” (HR Bukhori dan Muslim)
2. Menjadi saksi terhadap kebenaran sebagaimana dalam firman Allah SWT: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali dia. Yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu,). (QS. Ali Imran 18)
3. Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad SAW untuk meminta ditambahkan ilmu sebagaimana dalam firman Allah, (… dan katakanlah: Ya Rabb ku, tambahkanlah kepadaku ilmu) (QS.Thahaa 114)
4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu.
Sebagaimana firman Allah, (… Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan). (QS. Mujadilah 11)
Dengan mengetahui janji Allah dan kewajiban menuntut ilmu, dapat dijadikan sebagai dasar pagi para pendidik untuk dapat menumbuhkan motivasi
29
belajar kepada peserta didik, dengan harapan tujuan-tujuan pendidikan dapat terwujud sesuai dengan tujuan ajaran Islam, yakni sebagai khalifah Allah di muka bumi dan untuk menyembah Allah SWT.
-
30 BAB 4
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
A. Sejarah Perkembangannya, Beberapa Metode Dalam Psikologi Agama Dan Psikologi Agama Dalam Islam
Sejarah Perkembangan Psikologi Agama
Dalam kitab suci setiap agama, terdapat banyak sekali ayat- ayat yang bersinggungan dengan keadaan jiwa atau proses jiwa seseorang karena faktor pengaruh agama. Seperti contoh dalam Al- Quran misalnya, terdapat ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa seseorang yang beriman dan sebaliknya atau disebut kafir, tingkah laku, sikap perilaku, doa- doa , bahkan mencakup kesehatan mental pun banyak disinggung dalam ayat- ayat Al- Quran. Dijelaskan pula hal yang berkaitan dengan penyakit dan gangguan kejiwaan, kelainan- kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena pengaruh ataupun adannya goncangan kepercayaan.Ayat- ayat yang berbicara tentang
31
perawatan jiwa pun banyak di tafsirkan dalam ayat ini.19
Maka dari itu, tidak dapat ditentukan dengan pasti kapan agama mulai digali dan diteliti secara psikologi karena agaknya sukar atau barangkali tidak mungkin.Dalam agama itu sendiri sudah terkandung ilmu jiwa bahkan secara garis besar dari ajaran agama merupakan bimbingan dan arahan yang tidak dapat dilepaskan dari kejiwaan.20
Setelah kurang lebihnya seabad psikologi diakui sebagai disiplin ilmu yang otonom, banyak para ahli berargumen bahwa psikologi ada kaitannya dengan masalah- masalah yang bersinggungan dengan kehidupan batin manusia yang paling dalam, yaitu agama. Sejak awal abad ke- 19 kajian- kajian spesifik terkait agama menjadi marak berkembang, yang mengungkit rasa ingin tahu ahli psikologi yang bersangkutan untuk membuka lapangan baru dalam kajian psikologi, yaitu psikologi agama. Para ilmuwan pertama yang berani mengemukakan hasil penelitiannya secara
19 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta : Bulan Bintang , 1991) , Hlm. 11
20 Ramayulis, Psikologi Agama, ( Jakarta : Kalam Mulia , 2007), Hlm.
9
32
ilmiah tentang agama adalah Frazer dan Taylor.
Kedua ilmuwan ini mencoba menjabarkan berbagai macam agama awam (primitive) dan mencoba menemukan persamaan yang signifikan dan sangat jelas antara berbagai bentuk ibadah agama Kristen dan ibadah agama primitive. Pasa tahun 1881, G.
Stanley Hall sebagai ahli psikologi pada masa itu mencoba pendekatan ilmiah terhadap psikologi agama baru dengan mempelajari peristiwa konversi agama dan remaja.21
Selanjutnya, akan dijabarkan beberapa ahli psikologi yang mempunyai peranan penting dalam dunia sejarah pertumbuhan dan perkembangan psikologi agama :
1. Edwin Diller Starbuck
Pada tahun 1899 gerakan baru terhadap penelitian ilmiah dibidang Ilmu Jiwa Agama mulai diperjelas dengan diterbitkannya buku Starbuck pada tahun 1988 yang berjudul “The Psycology of Religion, an Empirical Study of the Growth of Religious Consciounsness”. Buku ini membahas tentang pertumbuhan perasaan agama pada diri seseorang. Starbuck mempunyai
21 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta : Bulan Bintang , 1991) , Hlm. 12
33
pengetahuan tentang ilmu jiwa yang amat sangat luar biasa, betapa tidak diakui oleh William James yang kala itu merupakan sang guru dari Starbuck bahwasanya perhatian James timbul dan berkembang karena hasil karya sang murid.
2. George Albert Coe
George Albert Coe tertarik untuk mengadakan penelitian ilmiah dalam bidang ilmu Jiwa Agama.Dengan menggunakan hypnotis dalam rangka untuk mencari hubungan antara reaksi-reaksi agamis dengan watak (temperamen). Buku dari George Albert Coe yang berjudul “The Spiritual Live” yang terbit pada tahun 1900 menekankan tentang konversi.22
3. James H Leuba
James menjadi bagian dari ilmuwan yang mengkaji agama dari segi ilmu jiwa. Pandangan objektifnya yang membuat ia berusaha keras untuk memisahkan ilmu jiwa agama dari unsur- unsur kepercayaan. Pada bukunya yang berjudul
“A Psychological Study of Religion “ pada tahun 1912, Ia berargumen bahwa tidak ada gunanya mendeskripsikan agama, karena hal itu hanya
22 Sapuri Rafi, Psikologi Islami (Tutntunan Jiwa Manusia Modern),(Jakarta : Rajawali Pers, 2009), Hlm 7
34
merupakan kepandaian orang bersilat lidah.
Pendapatnya ini juga pernah dimuat di dalam The Monist vol.XI Januari 1901 dengan judul
“Introduction to a Psychological Study of Religion”.
4. Stanley Hall
Stanley hall sepertinya mengikuti jejak Leuba dengan cara – cara yang sama dalam menerangkan fakta- fakta agamis, yaitu dengan tafsiran materialistis. Dalam bukunya
“Adolescene”, vol. IIch. XIV dan “Jesus the Christ”
tahun 1917, dapat ditemukan pendapat- pendapatnya diantaranya adalah pada tahun 1904 ia melakukan riset dan dalam risetnya terhadap remaja-remaja, ditemukan keselarasan antara pertumbuhan emosi dan kecenderungan terhadap jenis lain dengan pertumbuhan jiwa agama pada tiap individu. Maka usia dimana jiwa mulai terbuka untuk cinta (mengenal rasa), maka pada usia ini pula timbul perasaan- perasaan agama yang ekstrim.
5. William James
Karyanya dalam ilmu jiwa agama adalah
“The Varieties of Religion Experience”. Karya James memberikan semangat kepada banyak ahli untuk mengadakan penelitian- penelitian.
35
Pendapat James, bahwa ahli jiwa akan mampu meneliti dorongan – dorongan agama pada seseorang apabila mempelajari dorongan- dorongan jiwa lainnya dalam konteks pribadi orang tersebut. Pendapat ini diterbitkan dalam majalah yang berjudul “The Journal of Religious Psychology” pada tahun 1904 dan The American Journal of Religious Psychology and Education”
yang berlangsung sampai tahun 1915.
6. George M Stratton
Pada tahun 1911, George M. Stratton menerbitkan buku berjudul “Psychology of Religious Life”, dalam bukunya ia cukup menarik perhatian, dimana ia berpendapat bahwa sumber agama adalah konflik jiwa dalam diri individu.
7. Fluornoy
Tahun 1901 Fluornoy berusaha mengumpulkan semua riset psikologis yang pernah ia teliti terhadap agama, maka dapat ditarik kesimpulan tentang cara-cara dan metode yang harus digunakan dalam meneliti fakta-fakta tersebut. Beberapa prinsip- prinsip yang digunakan adalah :
• Menjauhkan penelitian dari Transcendance
• Prinsip Mempelajari Perkembangan
• Prinsip Perbandingan
36
• Prinsip Dinamika.
8. James B Pratt
James B Pratt dalam bukunya yang berjudul “ The Religious Consciounsness” pada tahun 1920 sepertinya menjadi penanda semakin maju perkembangan ilmu jiwa agama. Betapa tidak Pratt yang merupakan guru besar dalam ilmu filsafat , namun beliau pernah mengadakan suatu penelitian secara empiris ilmiah dalam bidang Ilmu Jiwa Agama. Dalam bukunya disinggung soal sembhayang yang ditelaah dari segi subjektif dan objektif.23
9. Rudolf Otto
Pada tahun 1923, Rudolf Otto menerbitkan buku “ Das Heilige” di Jerman dan kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa inggris. Yang perlu digaris bawahi dalam dalam buku ini adalah pengalaman-pengalaman psikologis dari pengertian kesucian, yang diambilnya sebagai pokok dalam hal ini adalah sembahyang. Buku ini memiliki daya Tarik pada zaman itu.24
23 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta : Bulan Bintang , 1991) , Hlm. 14-21.
24 Jallaluddin, Psikologi Agama,( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), Hlm. 31
37 10. Emile Durkheim
Emile Durkheim adalah seorang sosiolog dari negeri Perancis yang juga penulis buku dengan judul “The Elementary Form of the Religious Life”. Buku ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan psikologi agama.
11. Pierre Bovet
Pada tahun 1918, Pierre menerbitkan buku dengan judul“ Le Sentiment Religieux et la Psychologie de L’Enfant”.Buku ini banyak membedah tentang perkembangan jiwa keberagamaan.
12. Robert H Thouless
Robert pada tahun 1923 telah menerbitkan buku dengan judul “An Introduction to the Psychology of Religion” dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pengantar Psikologi Agama. Pierre memberikan penekanan bahwa agama dapat dipelajari dari sudut pandang psikologis dan penelitian ilmiah terhadap keberagamaan individu tidak akan menghilangkan keyakinan beragama individu tersebut.
13. Sigmund Freud
38
Beliau di kenal orang sebagai bapak psikoanalisis yang lebih mengarahkan pandangannya terhadap aspek sosial dari agama.
Misalnya, ia menganalisis upacara keagamaan yang dilakukan oleh pemeluk kepercayaan primitif dengan istilah totem atau taboo. Minat dan perhatian para pakar yang tertarik dengan psikologi agama semakin berkembang dan memunculkan berbagai hasil karya ilmiah.Diantaranya : tahun 1937 Karl R. Stolz menerbitkan buku dengan judul “The Psychology of Religion Lifing”. Elizabeth B. Hurlock, menerbitkan buku pada tahun 1942 yang berjudul “Child Development” dimana banyak membahas tentang pertumbuhan pertumbuhan jiwa agama pada anak. Tahun 1945, Paul E.
Johnson dengan karyanya yang berjudul
“Psychology of Religion “. Gordon W Allport dengan bukunya “The Individual and His Religion” yang terbit tahun 1950, W.H. Clark pada tahun 1958 dengan bukunya “ The Psychology of Religion” dan pada tahun 1969 telah mengalami cetak ulang sebanyak sepuluh kali. Buku tersebut banyak memberi penjelasan tentang perkembangan jiwa beragama dari sejak kecil hingga dewasa.
39
Di Indonesia sendiri kajian mengenai psikologi agama yang ditulis oleh orang islam dan non islam pada masa sekarang ini sudah banyak bermunculan dan terkait psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970 an yaitu oleh:Prof Dr. Zakiah Daradjat. Ada banyak buku yang sudah beliau tulis dan digunakan untuk kepentingan mahasiswa di lingkungan IAIN sebagai buku pegangan.Selain itu, kuliah terkait psikologi agama juga sudah beliau berikan, khususnya di fakultas tarbiyah oleh Prof.
Dr. A. Mukti Ali dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat sendiri.Kedua tokoh ini dikenal sebagai pelopor perkembangan psikologi agama di Indonesia.25 Metode Penelitian dalam Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah.Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta- fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif.Karna agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan bathin yang sangat mendalam, maka masalah agama
25 Jallaludin, Psikologi Agama, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2015) : Hlm. 26
40
sangat sulit untuk diteliti secara seksama terlepas dari pengaruh-pengaruh subjektivitas.
Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukan adanya sikap yang objektif. Maka dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:
1) Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran bathin manusia
2) Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris 3) Dalam penelitian harus bersikap filosofis
spiritualistis
4) Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayal
5) Mengenal dengan baik masalah psikologi dan metodenya
6) Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya
7) Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.26
26 Ramayulis, Psikologi Agama, ( Jakarta : Kalam Mulia, 2004), Hlm.
l17-18
41
Menurut Zakiah daradjat,metode yang digunakan dalam penlitian-peneliian ilmu jiwa agama adalah metode ilmiah,yakni mempelajari fakta-fakta yang ada dalam lingkungannya dengan cara yang objektif. Dimana harus diusahakan jangan sampai memihak atau menentang kepercayaan agama tertentu. 27
Dalam meneliti ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
➢ Dokumen Pribadi (Personal Document).
Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan bathin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal tersebut maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang.
Dokumen tersebut mungkin berupa autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.
Selain catatan atau tulisan, juga digunakan daftar pertanyaan kepada orang-orang yang akan
27 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,(Jakarta : Bulan Bintang , 2005 ), Hlm.10
42
diteliti. Jawaban yang diberikan secara bebas memberi kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan kesan-kesan bathin yang berhubungan dengan agama yang diyakininya.
Dalam penerapannya, metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:28
• Teknik Nomotatik
Teknik ini digunakan untuk menarik kesimpulan sejumlah dokumen yang diteliti, juga digunakan untuk mempelajari perbedaan- perbedaan individu.Dalam penerapannya nomotik ini mengasumsikan bahwa pada diri manusia terdapat suatu lapisan dasar dalam struktur kepribadian manusia sebagai sifat yang merupakan ciri umum kepribadian.
Nomotik yang digunakan dalam studi tentang kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti kejujuran, ketekunan dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok.Ternyata ditemukan bahwa sifat-sifat itu ada pada setiap individu, namun jadi berbeda oleh hubungan antara sifat itu dengan sikap seseorang.Perbedaan tentang tinggi rendah
28 Jallaluddin, Psikologi Agama,( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), Hlm. 37
43
sifat-sifat dasar itu ditampilkan dalam sikap sangat tergantung dari situasi yang ada.Jadi dapat ditarik suatu ketetapan bahwa sikap individu tergantung dari situasi yang dihadapinya.29
• Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis stastik.Data yang terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti.Teknik statistik digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.Carlson misalnya, menemukan dalam penelitiannya bahwa terdapat hubungan antara
kepercayaan dengan tingkat
kecerdasan.Didapatnya korelasi antara agama dan kecerdasan yang berarti anak-anak yang kurang cerdas cenderung berpegang erat kepada kepercayaan agama, sedangkan pada anak-anak yang cerdas kecenderungan itu lebih kecil.
• Teknik Idiografi
29 Jallaluddin, Psikologi Agama,( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), Hlm. 33
44
Teknik ini juga merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabi’at) manusia.Pelopor dari penggunaan teknik idiografi dalam psikologi agama adalah Gordon Allport.Menurutnya untuk mempelajari kepribadian semestinya menyangkut sifat-sifat dasar yang meruakan ciri khas yang ada hubungan antara seseorang dengan perspektif dirinya.Masing-masing sifat dasar yang dimiliki seseorang individu sebagai ciri khas terlihat dalam penampilan sikap seseorang secara umum.
• Teknik Penilaian terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap pers0alan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.
➢ Kuesioner dan wawancara
Metode kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam
45
secara langsung kepada responden. Metode ini dinilai memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
• Dapat memberi kemungkinan untuk memperoleh jawaban yang cepat dan segera
• Hasilnya dapat dijadikan dokumen pribadi tentang seseorang serta dapat pula dijadikan data nomotat
Selain pertimbangan tersebut, metode ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan seperti:
• Jawaban yang diberikan terikat oleh pertanyaan hingga responden tak dapat memberikan jawaban secara lebih bebas
• Sulit menyusun pertanyaan yang mengandung tingkat relevansi yang tinggi, karena itu diperlukan keterampilan yang khusus untuk
• Kadang-kadang sering terjadi salah penafsiran terhadap pertanyaan yang kurang tepat dan tidak semua pertanyaan sesuai untuk setiap orang
• Untuk memperoleh jawaban yang tepat dibutuhkan adanya jalinan kerja sama yang baik antara penanya dan responden, dan kerja sama
46
seperti itu memerlukan pendekatan yang baik dari si penanya. 30
Dalam penerapannya metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk, diantaranya adalah teknik pengumpulan data, melalui:
• Pengumpulan pendapat masyarakat (Publik opinion polls)
Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara.Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai.Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
• Skala penelitian (Rating scale)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.31
• Tes (Test)
30 Ramayulis, Psikologi Agama, ( Jakarta : Kalam Mulia, 2004), Hlm.
19-21.
31 Jallaludin, Psikologi Agama, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2015) : Hlm. 36.
47
Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu.Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.
• Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
Menurut Clark menggunakan metode eksperimen dalam ilmu jiwa agama memang sulit, namun dapat dilakukan dengan mengadakan perbandingan, misalnya antara dua orang anak yang disuruh membuat perasaan dan pengertiannya tentang keyakinan agama yang abstrak, misalnya tentang tuhan, akhirat,surga, neraka,dan lain-lain.
• Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok.Selain itu juga menjadikan unsur-unsur budaya yang bersifat materi (benda
48
budaya) dan yang bersifat spiritual (mantra, ritus) yang dinilai ada hubungannya dengan agama.
• Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi.Melalui pengukuran statistik kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan. Berdasarkan pendekatan tersebut misalnya ditentukan kategori hubungan menjadi:
- Adanya persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan
- Masalah ke-Tuhanan dan agama
- Adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas
- Bentuk-bentuk praktik keagamaan32
• Pendekatan terhadap perkembangan
Teknik ini digunakan untuk meneliti mengenai asal usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya agama yang dianutnya. Cara yang digunakan antara lain
32 Jallaludin, Psikologi Agama, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2015) : Hlm. 42.