• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Mutu dalam Pendidikan

MUTU PENDIDIKAN

C. Konsep Mutu dalam Pendidikan

Isu tentang mutu sangat cepat berkembang di lingkungan pendidikan pada penghujung abad XX terutama di Indonesia sebagai negara berkembang. Salah satu sebabnya adalah karena dari tahun ke tahun lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi sebagai angkatan kerja yang tidak memperoleh kesempatan kerja semakin besar. Identifikasi terhadap kondisi tersebut dialamatkan pada rendahnya kualitas (mutu) lulusan, dalam arti pengetahuan, keterampilan, dan keahlian yang dikuasainya tidak sesuai dengan kualifikasi yang dituntut lapangan kerja yang ada atau sangat rendah kemampuannya untuk mandiri dalam bekerja. Issu seperti itu menimbulkan keyakinan dan dorongan untuk membenahi proses pendidikan yang lebih beroreintasi pada out put atau lulusan peserta didik. Hal ini sebagai usaha memperbaiki kualitas lulusan dengan mengimplementasikan Manajemen Mutu di lingkungan

pendidikan.

Beeby melihat mutu pendidikan dari tiga perspektif yaitu:

perspekstif ekonomi, sosiologi dan pendidikan. Berdasarkan perspektif ekonomi, yang bermutu adalah pendidikan yang mempunyai kontribusi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Lulusan pendidikan secara langsung dapat memenuhi angkatan kerja di dalam berbagai sektor ekonomi. Dengan bekerjanya mereka pertumbuhan ekonomi dapat didorong lebih tinggi.

Menurut pandangan sosiologi, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat merubah keadaan masyarakat dari ketertinggalan menuju suatu kemajuan yang berarti, sesuai dengan kebutuhan.

Edward Sallis mengemukakan konsep mutu dalam kaitan dengan Total Quality Management, dimana menurutnya mutu itu harus dipandang sebagai konsep yang dapat berubah sewaktu- waktu dan bukan konsep yang mutlak . Mutu dapat dikatakan ada apabila sebuah layanan memenuhi spesifikasi sesuai dengan acuan yang ada. Mutu merupakan sebuah cara yang menentukan apakah produk terakhir sesuai dengan standar atau belum. Produk atau layanan yang memiliki mutu, dalam konsep relatif ini tidak harus mahal dan ekslusif. Definisi relatif tentang mutu tersebut memiliki dua aspek. Pertama adalah menyesuaikan diri dengan spesifikasi dan kedua, memenuhi kebutuhan pelanggan.

Cara pertama, penyesuaian diri terhadap spesifikasi, sering disimpulkan sebagai Kesesuaian tujuan dan manfaat‟. Kadangkala definisi ini sering dinamai definisi produsen tentang mutu. Mutu bagi produsen bisa diperoleh melalui produk atau layanan yang memenuhi spesifikasi awal yang telah ditetapkan dalam sebuah acuan yang konsisten. Mutu dapat diperagakan oleh produsen dalam sebuah sistem sebagai jaminan mutu, dimana produksi konsisten dengan produk dan jasa yang dapat memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Bilamana produk atau jasa yang dihasilkan telah memenuhi spesifikasi atau standar-standar yang telah ditetapkan tadi, maka produk atau jasa itu dapat dikatakan

pendidikan.

Beeby melihat mutu pendidikan dari tiga perspektif yaitu:

perspekstif ekonomi, sosiologi dan pendidikan. Berdasarkan perspektif ekonomi, yang bermutu adalah pendidikan yang mempunyai kontribusi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Lulusan pendidikan secara langsung dapat memenuhi angkatan kerja di dalam berbagai sektor ekonomi. Dengan bekerjanya mereka pertumbuhan ekonomi dapat didorong lebih tinggi.

Menurut pandangan sosiologi, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat merubah keadaan masyarakat dari ketertinggalan menuju suatu kemajuan yang berarti, sesuai dengan kebutuhan.

Edward Sallis mengemukakan konsep mutu dalam kaitan dengan Total Quality Management, dimana menurutnya mutu itu harus dipandang sebagai konsep yang dapat berubah sewaktu- waktu dan bukan konsep yang mutlak . Mutu dapat dikatakan ada apabila sebuah layanan memenuhi spesifikasi sesuai dengan acuan yang ada. Mutu merupakan sebuah cara yang menentukan apakah produk terakhir sesuai dengan standar atau belum. Produk atau layanan yang memiliki mutu, dalam konsep relatif ini tidak harus mahal dan ekslusif. Definisi relatif tentang mutu tersebut memiliki dua aspek. Pertama adalah menyesuaikan diri dengan spesifikasi dan kedua, memenuhi kebutuhan pelanggan.

Cara pertama, penyesuaian diri terhadap spesifikasi, sering disimpulkan sebagai Kesesuaian tujuan dan manfaat‟. Kadangkala definisi ini sering dinamai definisi produsen tentang mutu. Mutu bagi produsen bisa diperoleh melalui produk atau layanan yang memenuhi spesifikasi awal yang telah ditetapkan dalam sebuah acuan yang konsisten. Mutu dapat diperagakan oleh produsen dalam sebuah sistem sebagai jaminan mutu, dimana produksi konsisten dengan produk dan jasa yang dapat memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Bilamana produk atau jasa yang dihasilkan telah memenuhi spesifikasi atau standar-standar yang telah ditetapkan tadi, maka produk atau jasa itu dapat dikatakan bermutu. Pandangan mutu ini sering disebut mutu sebenarnya

(quality in fact), quality in fact ini adalah dasar dari sistem jaminan mutu yang ditemukan seperti dalam Thebritish Standards Institution in the 8S5750 atau the indentical International standard ISO 9000.52

Suatu produksi yang dapat memberikan pelayanan, dimana konsumen merasa terlayani dengan puas, maka produk itu berkualitas. Sallis mengelompokan konsumen khusus pendidikan ke dalam dua kelompok pelanggan besar, yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Pelanggan internal meliputi para tenaga pendidik dan non kependidikan. Sedangkan pelanggan eksternal meliputi pelanggan dari unsur peserta didik; pelanggan eksternal sekunder adalah orang tua, pemerintah dan employers; serta pelanggan eksternal tersier adalah pasaran kerja, pemerintah dan masyarakat. Sallis menyarankan agar pendidikan dipandang sebagai industri jasa, dan usaha memenuhi kebutuhan peserta didik harus menjadi fokus utama dalam mengelola mutu. Sekalipun demikian menurutnya tidak berarti harus mengabaikan pandangan- pandangan dari kelompok pelanggan lainnya.53

Menurut Murgatroyd & Morgan implementasi manajemen mutu (MMT) yang sukses di lembaga pendidikan didasarkan pada lima kata kunci: visi (vision), strategi dan tujuan (strategy and goals), team (teams) dan alat (tools) serta Three Cs of MMT (3Cs.), yaitu budaya (culture), komitmen (commitment), dan komunikasi (communication)54

Dari beberapa pendapat tentang mutu pendidikan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa mutu itu merupakan derajat sesuatu yang dihasilkan dari kegiatan evaluasi yang dilakukan dan dirasakan oleh pengguna sebagai pelanggan dari suatu layanan yang diberikan. Mutu pendidikan itu dapat

52 Edward Sallis. Total Quality Management In Education. (Philadelphia - London:

Kogan Page Limited). 1993

53 Ibid hal 93

54 Murgatroyd, S. and Morgan, C. Total Quality Management and The School.

(Buckingham - Philadelphia: Open University Press). 1993 h. 63

dilihat dari berbagai dimensi, seperti dimensi input, proses dan lulusan (output dan outcomes). Oleh karena itu, indikator dan standar mutu pendidikan dikembangkan secara menyeluruh (holistic) mulai dari input, proses dan out put. Dengan demikian yang dimaksud dengan Mutu Institusi Pendidikan adalah kebermutuan dari berbagai pelayanan/services yang diberikan oleh institusi pendidikan kepada peserta didik maupun kepada tenaga staf pengajar untuk terjadinya proses pernbelajaran yang bermutu sehingga lulusan dapat berguna dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat sebagai pengguna sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.

Menurut Murgatroyd pendidikan yang bermutu mengacu pada standar, metode yang tepat, dan kualitas yang dipersyaratkan oleh suatu badan ahli, dengan melakukan pengujian sebagai proses evaluasi secara praktis untuk menentukan kesesuaian hasil pekerjaan dengan standar yang telah ditentukan. Paling tidak ada 5 jenis pelayanan yang bisa diberikan kepada pelanggan dalam institusi pendidikan, yaitu: (a) pelayanan administrasi pendidikan (administration services); (b) pelayanan pernbelajaran (curriculum services); (c) pelayanan ko-kurikuler (co- curriculum services);

(d) pelayanan penelitian (researhes services) dan (e) pelayanan keinformasian pendidikan (information sistemservices).

Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan55

1. Input pendidikan: segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses, meliputi: unsur pimpinan, tenaga pendidikan, tenaga kependidikan dan peserta didik.

2. Proses pendidikan: merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Proses yang dimaksud adalah pengambilan keputusan, proses belajar mengajar, proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan proses belajar mengajar memiliki

55 Hari Suderadjat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, (Bandung: Cv.

dilihat dari berbagai dimensi, seperti dimensi input, proses dan lulusan (output dan outcomes). Oleh karena itu, indikator dan standar mutu pendidikan dikembangkan secara menyeluruh (holistic) mulai dari input, proses dan out put. Dengan demikian yang dimaksud dengan Mutu Institusi Pendidikan adalah kebermutuan dari berbagai pelayanan/services yang diberikan oleh institusi pendidikan kepada peserta didik maupun kepada tenaga staf pengajar untuk terjadinya proses pernbelajaran yang bermutu sehingga lulusan dapat berguna dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat sebagai pengguna sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.

Menurut Murgatroyd pendidikan yang bermutu mengacu pada standar, metode yang tepat, dan kualitas yang dipersyaratkan oleh suatu badan ahli, dengan melakukan pengujian sebagai proses evaluasi secara praktis untuk menentukan kesesuaian hasil pekerjaan dengan standar yang telah ditentukan. Paling tidak ada 5 jenis pelayanan yang bisa diberikan kepada pelanggan dalam institusi pendidikan, yaitu: (a) pelayanan administrasi pendidikan (administration services); (b) pelayanan pernbelajaran (curriculum services); (c) pelayanan ko-kurikuler (co- curriculum services);

(d) pelayanan penelitian (researhes services) dan (e) pelayanan keinformasian pendidikan (information sistemservices).

Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan55

1. Input pendidikan: segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses, meliputi: unsur pimpinan, tenaga pendidikan, tenaga kependidikan dan peserta didik.

2. Proses pendidikan: merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Proses yang dimaksud adalah pengambilan keputusan, proses belajar mengajar, proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan proses belajar mengajar memiliki

55 Hari Suderadjat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, (Bandung: Cv.

Cipta CekasGrafika), h. 7-8

tingkatan tertinggi dibanding dengan proses yang lain.

3. Output pendidikan: merupakan kinerja lembaga pendidikan.

Kinerja lembaga pendidikan adalah prestasi lembaga pendidikan yang dihasilkan dari proses atau prilaku lembaga pendidikan. Kinerja lembaga pendidikan dapat diukur dari kualitas, efektivitas, efesiensi, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya.

Berangkat dari dari ketiga kriteria mutu tersebut yakni input, proses, dan output yang harus lebih dominan dan harus di diperhatikan adalah proses, yaitu proses belajar mengajarnya, karena untuk menghasilkan output yang baik tergantung dari proses belajar mengajar. Penilaian lembaga pendidikan terhadap output atau hasilnya terletak pada prosesnya. Selanjutnya, mutu adalah sebuah hal yang berhubungan dengan spirit, kegiatan dan self esteem ( harga diri)56 Maksudnya adalah seorang yang ingin meningkatkan mutu maka ia harus mempunyai semangat dan kegiatan untuk memikirkan bagaimana mutu tersebut dapat berkembang, karena mutu juga disebut sebagai vitalitas dan harga diri. Dengan meningkatnya mutu, spirit lembaga pendidikan akan meningkat. Bagi setiap institusi, mutu merupakan agenda utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Mutu berkaitan dengan penilaian bagaimana suatu produk memenuhi kriteria, standar dan rujukan tertentu. Dalam dunia pendidikan, standar ini menurut Depdiknas dapat dirumuskan melalui hasil belajar skolastik yang dapat diukur secara kuantitatif, dan pengamatan yang bersifat kualitatif, khususnya untuk bidang-bidang pendidikan sosial.57

56 Edward Sallis, Total Quality Management in Education, IRCiSoD, Jogjakarta, 2007.

h. 29

57 Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu

Pendidikan, Alvabeta,Cv.Bandung, 2007. h. 169