• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

5. Konsep Partisipasi Masyarakat

tahunan dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDesa) untuk rencana tahunan desa yang ditetapkan dalam Peraturan Kepala desa.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa bahwa perencanaan pembangunan desa sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan daerah kabupaten yang disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya dan wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa.

rencana/program pembangunan dilakukan skala perioritas (urutan berdasarkan besar kecilnya tingkat kepentingannya),dengan demikian pelaksanaan (implementai) program pembangunan akan terlaksana pula secara terarah dan serasi terhadap kebutuhan masyarakat dan pelaksanaan (implementasi) program pembangunan berjalan secara efektif dan efisien (Ardilah dan Bratakusumah. 2014:98).

Pelaksanaan pembangunan meliputi segala aspek kehidupan baru akan berhasil apabila kegiatan melibatkan seluruh anggota masyarakat.

Hal ini secara tegas dikemukakan oleh Tjokromidjodjo (2012:235) disatu pihak partisipasi penting bagi pembangunan dan bahkan menjadi salah satu tujuan pembangunan itu sendiri.

Cohen dan Uphoff (1990:114) membagi partisipasi dalam beberapa tahapan, sebagai berikut:

1. Tahap pengambilan keputusan, yang diwujudkan melalui keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat.Tahap pengambilan keputusan yang dimaksud adalah perencanaan kegiatan.

2. Tahap pelaksanaan, yang merupakan tahap penting dalam pembangunan, karena inti dalam pembangunan adalah pelaksanannya. Wujud nyata dalam partisipasi pada tahap ini, keterlibatan masyarakat dalam pemaparan program.

3. Tahap menikmati hasil, yang dapat dijadikan indicator keberhasilan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dan pelaksanaan program. Selain itu, dengan melihat posisi masyarakat sebagai subjek pembangunan, maka semakin besar mamfaat program dirasakan,berarti program tersebut berhasil mengenai sasaran.

4. Tahap Evaluasi, dianggap penting sebab partisipasi masyarakat pada tahap ini merupakan umpan balik yang dapat member masukan demi perbaikan pelaksanaan program selanjutnya.

Pelaksanaan suatu kegiatan pembangunan semestinya meleawati tahapan-tahapan yang merujuk pada Coben dan Uphoff (1977:154) yaitu diawali dengan perencanaan dan dilanjudkan dengan tahap pelaksanaan,

kemudian akan memasuki tahap pemamfaatan hasil dari pembangunan, dan yang terakhir akan menimbulkan penilaian dari hasil pembangunan yang telah dilaksanakan atau dengan yang disebut dengan tahapan evaluasi pembangunan. Partisipasi masyarakat yang dilibatkan dalam setiap tahapan tersebut akan menjadikan hasil pembangunan akan berkelanjutan karena disusun berdasarkan kebutuhan dasar dari masyarakat setempat (Local community).

Soekanto (1993: 355) menyebutkan bahwa partisipasi merupakan setiap proses identifikasi atau menjadi peserta, suatu proses komunikasi atau kegiatan berasama dalam suatu situasi sosial tertentu. Partisipasi itu terdiri dari beberapa jenis diantaranya partisipasi sosial dan partisipasi politik.Partisipasi sosial merupakan derajat partisipasi individu dalam kehidupan sosial.Masyarakat merupakan penyumbang utama sumber penerimaan dalam APBD melalui pajak dan retribusi maka sudah sepantasnya masyarakat dilibatkan dalam proses penyusunannya.

Implementasi hak rakyat dalam APBD dapat diwujudkan dalam keterlibatan masyarakat secara partisipatif dalam proses perencanaan dan penganggaran.

Persoalan dalam perencanaan dan penganggaran ini sangat penting untuk dicermati karena dapat dijadikan penilaian terhadap pemerintah mengenai keberpihakan terhadap masyarakat lemah dan dapat mempengaruhi kebijakan yang nantinya akan diterapkan pada suatu daerah baik pada bidang perencanaan dan penganggaran maupun dalam bidang partisipasi masyarakatnya. Persoalan partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan penganggaran melibatkan berbagai stakeholder baik dari DPRD, Pemerintah Daerah, Masyarakat, maupun organisasi non- pemerintah, Masing-masing pelaku mempunyai peranan penting yang saling terkait satu dengan yang lain.

Proses perencanaan yang ada dimulai dari penggalian gagasan masyarakat untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di daerahnya masing-masing. Sebelum keluarnya perundang-undangan, peran masyarakat tidak begitu diperhitungkan. Pergeseran ini terjadi karena masyarakat di tiap daerah dituntut dan merasa perlu berperan dalam perkembangan daerahnya. Hal ini sesuai dengan amanat otonomi daerah yang menginginkan masyarakat untuk terlibat aktif memberikan masukan penyusunan APBD.

Berbagai kalangan menginginkan supaya pemerintah daerah memperbaiki kinerjanya, sebab selama ini masyarakat belum merasakan kualitas pelayanan yang transparan, akuntabel, efisien, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, banyak keluhan masyarakan yang mengatakan pelayanan yang diberikan terkesan berbelit-belit sehingga menghabiskan waktu yang lama dan biaya yang tinggi.

Partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan penganggaran tersebut mencerminkan hubungan masyarakat sebagai peyumbang pemasukan APBD terbesar dari dana pajak dan retribusi dan pemerintah sebagai pelaksana amanat masyarakat. Usulan yang telah disampaikan masyarakat dalam tahapan perencanaan patut direspon oleh Pemerintah sehingga kegiatan yang direalisasikan dalam APBD merupakan wujud aspirasi masyarakat untuk memperbaiki kesejahteraannya. Tujuan umum yang ingin dicapai dari pelibatan masyarakat dalam bidang perencaaan dan penganggaran adalah terciptanya suatu kondisi anggaran yang murni

sehingga dapat menciptakan mekanisme pelaksanaan anggaran yang transparan.

Peran serta masyarakat sangat di butuhkan seperti dalam Pasal 8 (Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme ) menyebutkan :

a. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan tanggungjawab masyarakat untuk ikut mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih.

b. Hubungan antara Penyelenggara Negara dan masyarakat dilaksanakandengan berpegang teguh pada asas-asas umum penyelenggaraannegara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.

Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diwujudkan dalam bentuk:

a. Hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi tentang penyelenggaraan negara;

b. Hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari Penyelenggara Negara;

c. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab terhadap kebijakan Penyelenggara Negara; dan

d. Hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal:

1) Melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b,dan c;

2) Diminta hadir dalam proses Penyelidikan, penyidikan, dan disidang pengadilan sebagai saksi pelapor, saksi, atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dokumen terkait