BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Konsep Partisipasi Politik
Setiap warga negara berhak dan wajib untuk berpartisipasi dalam setiap aspek kehidupan dan bernegara. Partisipasi warga negara dapat mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam kehidupan politik. Dalam kehidupan politik partisipasi warga negara tidak hanya berkaitan dengan pemilihan pimpinan negara saja, tetapi partisipasi warga negara tersebut juga mampu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sesuai dengan istilah partisipasi, maka partisipasi berarti keikutsertaan warga negara biasa (yang tidak mempunyai kewenangan) dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik berupa kebijakan publik. Kegiatan warga negara pada dasarnya dibagi dua, yakni: (1) mempengaruhi isi kebijakan umum, dan (2) ikut menentukan pembuatan dan pelaksana keputusan politik. Dengan kata lain, partisipasi politik merupakan perilaku politik, tetapi perilaku politik tidak selalu berupa partisipasi politik (Agustino, 2007).
Menurut (Syahrial, 2011) bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan
politik, seperti memilih pimpinan negara atau upaya-upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sedangkan (Budiardjo, 2008), menjelaskan sebagai definisi umum bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan, secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kebijakan pemerintah (publik policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, mengadakan hubungan (contacting) atau lobbying dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dengan partai politik sebagai pelaku utama.
Menurut (Rahman, 2007), “kegiatan politik yang tercakup dalam konsep partisipasi politik mempunyai berbagai macam bentuk”. Bentuk-bentuk partisipasi politik yang terjadi berbagai negara dan waktu dapat dibedakan menjadi kegiatan politik dalam bentuk konvensional dan non konvensional, termasuk yang mungkin legal (seperti petisi) maupun illegal, penuh kekerasan, dan revolusioner. Bentuk-bentuk frekuensi partisipasi politik dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai stabilitas sistem politik, integritas kehidupan politik, kepuasan/ ketidakpuasan warganegara. Bentuk-bentuk partisipasi politik yang dikemukakan oleh Almond (Sitepu, 2012) yang terbagi dalam
“dua bentuk yaitu partisipasi politik konvensional dan partisipasi politik non konvensional”.
Berbeda dengan Conway, Huntington dan Nelson (Priambodo, 2000) membedakan bentuk-bentuk partisipasi politik dalam kategori sebagai berikut:
a) Electoral Activity, yaitu segala bentuk kegiatan yang secara langsung atau pun tidak langsung berkaitan dengan pemilu. Electoral Activity ini juga mencakup pemberian suara, sumbangan untuk kampanye, bekerja dalam suatu pemilihan, mencari dukungan bagi seorang calon, atau setiap tindakan yang bertujuan mempengaruhi hasil proses pemilihan umum.
b) Lobbying, yaitu tindakan dari individu atau pun sekelompok orang untuk menghubungi pejabat pemerintah atau pun tokoh politik dengan tujuan untuk mempengaruhi pejabat atau pun tokoh pilitik tersebut terkait masalah yang mempengaruhi kehidupan mereka.
c) Organizational activity, yaitu keterlibatan warga masyarakat ke dalam berbagai organisasi sosial dan politik.
d) Contacting, yaitu partisipasi yang dilakukan oleh warga negara dengan cara langsung misalnya melakukan komunikasi untuk membangun jaringan kerjasama.
e) Violence, yaitu cara-cara kekerasan untuk mempengaruhi pemerintah.
Penggunaan kekerasan mencerminkan motivasi-motivasi partisipasi yang cukup kuat. Kekerasan dapat ditujukan untuk mempengaruhi kebijakankebijakan pemerintah (huru-hara, pemberontakan) atau mengubah seluruh sistem politik dengan cara revolusi.
Sementara itu, Verba (Priambodo, 2000) menemukan bahwa individu- individu cenderung memilih bentuk-bentuk partisipasi politik yang dilakukan secara tetap sesuai motivasi dan tujuan, tidak berubah-ubah seperti diasumsikan banyak analist. Bentuk-bentuk partisipasi yang sejenis
membentuk kelompok (cluster) bersama. Pengelompokan tersebut kemudian dimodifikasi oleh (Dalton, 2009) sebagai berikut:
1. Pemberian suara dalam pemilu (Voting), yaitu bentuk-bentuk partisipasi politik yang terkait dengan pemilihan (voting/electing). Voting adalah bentuk yang paling sederhana untuk mengukur partisipasi.
2. Keikutsertaan dalam kampanye politik (Campaign activity), yaitu aktivitas kampanye yang mewakili bentuk- bentuk partisipasi yang merupakan perluasan dari pemilihan (extension of electoral participation). Termasuk di dalamnya bekerja untuk partai atau seorang kandidat, menghadiri pertemuan-pertemuan kampanye, melakukan persuasi terhadap orang lain untuk memilih, dan segala bentuk aktivitas selama dan antara pemilihan.
3. Menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan (Communal activity). Bentuk-bentuk partisipasi ini berbeda dengan aktivitas kampanye karena aktivitas komunal mengambil tempat di luar setting pemilihan (out side the electoral setting). Termasuk keterlibatan dalam kelompok- kelompok masyarakat yang interest dan concern dengan kebijakan umum seperti kelompok studi lingkungan, kelompok wanita, atau proteksi terhadap konsumen.
4. Mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah (Contacting personal on personal matters). Bentuk partisipasi ini berupa individu melakukan kontak terhadap individu berkait dengan suatu materi tertentu yang melekat pada orang tersebut. diperlukan inisiatif dan informasi yang tinggi terkait isu yang spesifik, dalam kontak yang bersifat perseorangan ini.
Bentuk partisipasi ini seringkali digunakan untuk membangun pengertian, kepercayaan, mencari koneksi, atau pun membangun jaringan.
5. Kritik terhadap kebijakan pemerintah (Protest), yaitu bentuk-bentuk partisipasi yang unconventional seperti demonstrasi dan gerakan protes.
Walaupun individu-individu yang memilih bentuk partisipasi ini sering berada di luar jalur/saluran yang normal, namun mereka seringkali menjadi bagian penting dalam proses demokratisasi.
Sedangkan menurut (Ajeng, 2014) yang dimaksud dengan partisipasi politik adalah pemberian suara dalam pemilihan umum, partisipasi dalam diskusi politik informal, partisipasi dalam rapat umum dan ikut kampanye.
Menurut (Budiardjo, 2008), mengemukakan bahwa unsur-unsur partisipasi politik terdiri dari:
1) Kriteria yang pertama adalah Pemberian Suara Dalam Pemilihan Umum, Merupakan bentuk partisipasi politik yang paling luas tersebar. Tujuan pemberian suara antara lain untuk memilih secara langsung badan legislative ataupun eksekutif. Pemberian suara pada pemilihan umum meliputi pemlihan umum dan pemilihan kepala daerah.
2) Kriteria yang kedua adalah Menghadiri Rapat Umum, Merupakan suatu bentuk partisipasi yang dapat terjadi secara formal. Rapat merupakan partisipasi politik yang dituangkan kedalam bentuk diskusi-diskusi oleh individu-individu dalam keluarga masing-masing, ditempat kerja atau diantara sahabat-sahabat maupun antar masyarakat secara formal.
3) Kriteria yang ketiga adalah Hubungan Dengan Pejabat Pemerintah, Dengan melakukan hubungan dengan pejabat pemerintah mengenai komunikasi individual dengan pejabat pemerintah sebagai rambu-rambu partisipasi politik. Kegiatan yang diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksanaan kebijakan politik, kegiatan mempengaruhi pemerintah yang di lakukan secara langsung atau tidak langsung. Kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat di lakukan dengan melalui prosedur yang wajar dan tidak berupa kekerasan..
4) Kriteria yang keempat adalah Menjadi Anggota Partai Politik, Merupakan suatu kegiatan yang dapat di nyatakan sebagai agen-agen mobilisasi politik, karena melalui kelompok ini anggota-anggota masyarakat dapat mengeluarkan berbagai gagasan dan mempertanyakan lewat sistem politik yang bersangkutan.