BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR
D. Konsep Pengembangan Pariwisata dan Teori Pengembangan
23
D. Konsep Pengembangan Pariwisata dan Teori Pengembangan Pariwisata
24
c) Dalam jangka panjang dititik-beratkan pada pengembangan dan penyebaran dalam:
a. Pengembangan kemampuan pengelolaan,
b. Pengembangan dan penyebaran produk dan pelayanan, c. Pengembangan pasar pariwisata baru,
d. Pengembangan mutu dan jumlah tenaga kerja (Suwantoro, 1997:55).
Pengembangan pada dasarnya adalah hal, usaha, atau cara untuk mengembangkan sesuatu kearah yang lebih baik. Sedangkan pariwisata berasal dari bahasa sangsekerta yang terdiri dari dua suku kata yaitu pari dan wisata.
Pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan secara berulang-ulang atau berkali-kali. Orang yang melakukan perjalanan disebut traveler, sedangkan orang yang melakukan pejalanan untuk wisata disebut tourist.
Menurut Sowantoro (2004) manfaat pengembangan pariwisata, yaitu:
a) Bidang ekonomi, yaitu :
a. Dapat meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha, baik secara langsung maupun tidak langsung;
b.meningkatkan devisa, mempunyai peluang besar untuk mendapatkan devisa dan dapat mendukung kelanjutan pembangunan di sektor lain;
c. meningkatkan dan memeratakan pendapatan rakyat, dengan belanja wisatawan akan meningkatkan pendapatan dan pemerataan pada masyarakat setempat baik secara langsung maupun tidak langsung
25
d. meningkatkan penjualan barang-barang lokal keluar; dan
e. menunjang pembangunan daerah, karena kunjungan wisatawan cenderung tidak terpusat di kota melainkan pesisir, dengan demikian sangat berperan dalam menunjang pembangunan daerah.
b) Bidang sosial budaya, dengan keanekaragaman sosial budaya merupakan modal dasar bagi pengembangan pariwisata. Oleh karena itu harus mampu melestarikan dan mengembangkan budaya yang ada.
c) Bidang lingkungan hidup, karena pemanfaatan potensi sumberdaya alam untuk pariwisata pada dasarnya adalah lingkungan yang menarik, maka penhembangan wisata alam dan lingkungan senantiasa menghindari dampak kerusakan lingkungan hidup, melalui perencanaan yang teratur dan terarah.
Pariwisata merupakan fenomena yang sangat kompleks dan bersifat unik, karena pariwisata bersifat multidimensi baik fisik, sosial, ekonomi, politik dan budaya. Pariwisata juga menawarkan jenis produk dan wisata yang beragam, mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata buatan, hingga beragam wisata lainnya. Pariwisata juga merupakan suatu aktivitas relatif baru bagi banyak daerah di Indonesia, yang mempunyai sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengalaman mengembangkan sektor ekonomi. Pengembangan pariwisata akan menjadi fenomena besar. Adanya perencanaan pariwisata yang terintegrasi untuk dipertimbangkan, dan disertai adanya konsentrasi yang cukup pada pendekatan
26
secara komprehensif untuk jangka panjang merupakan sesuatu yang penting. Hal ini dimaksud agar bisa tercapai pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dengan serasi dan maksud tujuan pengembangan sesuai yang diharapkan pemerintah. Sektor pariwisata merupakan sektor yang diharapkan akan dapat menjadi penghasil devisa nomor satu. Sehingga pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata perlu ditingkatkan melalui kebijakan-kebijakan pengembangan kepariwisataan. Pada dasarnya tujuan utama dari pengembangan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan nilai ekonomi.
Menurut Undang-undang No 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, pasal 4, tujuan pengembangan pariwisata adalah :
a. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi b. Meningkatkan kesejahteraan rakyat c. Menghapus kemiskinan,
d. Mengatasi pengangguran
e. Melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, f. Memajukan kebudayaan,
g. Mengangkat citra bangsa, h. Memupuk rasa cinta tanah air, i. Memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa,
j. Mempererat persahabatan antarbangsa,
Dalam konteks pariwisata, pengembangan pariwisata adalah meningkatkan objek wisata, meningkatkan mutu pelayanan, perluasan dan penganekaragaman objek wisata serta akomodasi lainya. Jadi pengembangan pariwisata adalah upaya
27
pemanfaatan potensi alam dan budaya, dengan mempehatikan aspek-aspek pelestarian. Pengembangan pariwisata merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menggali, memperbaiki dan memajukan potensi yang ada di suatu daerah tujuan wisata baik secara fisik maupun sosial untuk meningkatkan pendapatan masyarakat maupun devisa negara dengan melestarikan identitas budaya dan meminimalkan dampak negatifnya. Pengembangan pariwisata bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan distribusi pendapatan secara merata.
Robert Christie Mill mengemukakan pengembangan pariwisata harus memperhatikan empat hal berikut:
a. Analisa pasar
b. Analisa teknik dan perencanaan c. Analisa sosio-ekonomi
d. Analisa bisnis dan hukum
Dari empat analisa dalam pengembangan pariwisata tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ;
a) Analisa Pasar
a. Inventaris daya tarik wisatawan
Tujuan inventaris adalah merangkum pembangunan pariwisata di sebuah kawasan, karena harus diketahui objek wisata apa yang dimiliki sehingga bisa menarik wisatawan datang. Salah satu cara untuk menentukan subyek ini adalah membedakan antara daya tarik inti dan
28
daya tarik pendukung. Daya tarik inti merupakan alasan utama mengapa wisatawan mau datang ketempat itu. Daya tarik inti bisa berupa daya trik alam seperti iklim, flora dan fauna, ciri lingkungan alam khusus, goa, jeram niaga, panorama alam. Daya tarik budaya seperti monumen purbakala, sejarah dan budaya, seni, kerajinan dan arsitektur lokal, festival budaya, keramahan penduduk. Sedangkan daya tarik pendukung adalah daya tarik yang dibangun disekeliling daya tarik inti, daya tarik pendukung berupa jenis atraksi khusus, seperti taman hiburan, pusat perbelanjaan, rekreasi dan fasilitas olahraga.
b. Inventaris fasilitas untuk wisatawan
Tujuan dari inventaris fasilitas untuk wisatawan ini adalah melakukan pendataan terhadap fasilitas-fasilitas yang sudah ada bagi wisatawan dikawasan objek wisata dan yang belum ada sehingga harus dibangun untuk para wisatawan seperti : tempat penginapan, akomodasi, tempat penjualan makanan dan minuman, fasilitas kesehatan, keamanan, informasi wisata, jaringan telekomunikasi, pompa bensin, listrik dan toko-toko eceran para wisatawan.
c. Modal trasportasi
Tanpa dihubungkan dengan jaringan transportasi tidak mungkin sesuatu objek wisata mendapat kunjungan wisatawan. Objek wisata merupakan akhir perjalanan wisata dan harus memenuhi syaratsyarat aksebilitas, artinya objek wisata harus mudah dicapai dan dengan
29
sendirinya juga mudah ditemukan. Jalan merupakan jalan akses yang harus berhubungan dengan jalan prasarana umum. Kondisi jalan umum dan jalan akses merupakan syarat yang penting sekali dan menentukan aksebilitas suatu objek wisata.
d. Pasar
Pasar wisata secara faktual dapat dimaknai sebagai unsur-unsur industri yang sering disebut para pelaku pariwisata, seperti melakukan promosi wisata, penyedia informasi wisata, biro perjalanan, transportasi, pengurusan visa, jasa atraksi, hotel, restoran serta mekanisme yang mempertemukan permintaan dan penawaran produk dan jasa wisata.
Oleh karena itu pemasaran memainkan peranan penting dalam pariwisata karena pelanggan melihat, merasa atau mencoba produk yang akan dibelinya. Untuk dapat menilai suatu produk seseorang harus berpergian ke tempat tujuan. Karena itu fokus pemasaran pariwisata adalah mengkomunikasikan secara keseluruhan alam maupun fasilitas pendukung yang disediakan dikawasan objek wisata, karena merupakan faktor kunci yang mempengaruhi keputusan konsumen atau wisatawan.
b) Analisa Teknik dan Perencanaan a. Komunikasi dan transportasi
Ketersediaan secara komunikasi seperti telepon umum, pelayanan pos, serta terjangkau oleh signal komunikasi dan kondisi
30
sarana transportasi seperti jalan-jalan menuju objek wisata sehingga bisa sampai dan keluar dari tempat tujuan wisata dengan mudah.
b. Ketersediaan lahan untuk pariwisata
Dalam pengembangan daya tarik dan fasilitas pariwisata membutuhkan tersedianya lahan yang cukup di daerah kawasan tujuan wisata sehingga diketahui lahan yang tersedia siapa pemilinya serta apakah pemiliknya mau menjual atau mengizinkan pembangunan di atas tanahnya.
c. Aspek lingkungan dan ekologis
Setiap pembangunan yang besar membutuhkan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan akibat terhadap lingkungan.
Karena kawasan lingkungan wisata yang berhasil tergantung kualitas lingkungan kawasan secara fisik.
c) Analisa Sosio-ekonomi a. Penduduk setempat
a. Pariwisata akan mempengaruhi kehidupan penduduk dikawasan tersebut karena akan lebih banyak pengunjung datang kekawasan tersebut. Masalahnya adalah menentukan sikap umum penduduk dikawasan tempat pengembangan atau pembangunan pariwisata.
b. Mengadakan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan kepada kelompok atau komunitas masyarakat dikawasan wisata sebagai bagian dari program pengembangan pariwisata.
31
c. Berhubungan dengan peran penduduk setempat sebagai bagian dari produk wisata. Seringkali keramahan penduduk lokal adalah daya tarik utama itu sendiri.
b. Produk dan pelayanan pendukung
Pariwisata membutuhakan banyak sistem pendukung seperti makanan, arena bermain, peralatan tidur, perabot, perlengkapan permanen lainnya. Untuk memaksimalkan dampak positif pariwisata terhadap ekonomi, dan hubungan dengan sektor-sektor ekonomi lain yang harus didorong. Pada titik ini yang penting untuk diketahui adalah apakah dikawasan wisata tersebut tersedia produk dan pelayanan pendukung serta sumber tenaga kerja dari lokal atau luar.
d) Analisa bisnis dan hukum
Tujuan analisis ini adalah menenukan perlu atau tidaknya diadakan perubahan suasana bisnis dan hukum bagi keberhasilan pengembangan pariwisata. Kegiatan ini harus meliputi masalah-masalah bisnis dan hukum yang berhubungan dengan pariwisata.
a. Lingkungan bisnis
Lingkungan bisnis pariwisata meliputi bisnis yang mempunyai hubungan dengan pariwisata, sektor publik, dan organisasi kemasyarakatan serta pelayanan yang diberikan oleh kelompok masyarakat. Lingkungan bisnis meliputi :
32
a. Bagaimana sikap sektor-sektor swasta, pemerintah, instansiinstansi terkait terhadap peningkatan pariwisata?
b. Apa sekarang yang dilakukan dalam upaya meningkatkan pariwisata? Serta sikap lembaga keuangan terhadap pariwisata, seperti pemberian insentif keuangan dari lembaga keuangan yang berguna untuk pengembangan pariwisata seperti pemberian pinjaman.
b. Ruang lingkup hukum
Aturan pemerintah sangat mempengaruhi semua bisnis, dan bisinis termasuk juga pariwisata. Tujuan analisis ini adalah menentukan kemana arah pemerintah mempengaruhi pengembangan pariwisata dan juga mengidentifikasi landasan hukum atau aturan-aturan, baik itu Undang- undang maupun Peraturan Daerah yang akan menjadi pedoman dalam pengembangan pariwisata.
Analisa ini berfungsi sebagai pedoman bagi para pengembang pariwisata atau pihak swasta dalam melewati aturan-aturan resmi yang rumit dan mempengaruhi dalam pengembangan pariwisata.
Adapun alasan peneliti menggunakan teori dari konsep pengembangan pariwisata yang dikemukan oleh Robert Christie Mill tersebut adalah untuk mengetahui bagaimana pengembangan pariwisata yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bantaeng dan agar pengembangan wisata dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya
33
dengan memperhatikan konsep pengembangan pariwisata, yang terdiri dari analisa pasar, analisa teknik dan perencanaan, analisa sosioekonomi, analisa bisinis dan hukum, karena konsep tersebut sebagai penunjang keberhasilan pengembangan wisata yang dilakukan di suatu daerah tujuan wisata.
a. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu Seperti halnya dengan Intan Dia Prastiti pada Tahun 2017 dengan judul penelitian “Strategi Pengembangan Wisata Agro Kebun Apel Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Desa Tulungrejo” yang menjelaskan bahwa ada 3 pengembangan yang dapat mewujudkan strategi pengembangan wisata agro yaitu: pengembangan berbasis kemasyarakatan, pengembangan berbasis sektoral dan pengembangan berbasis kewilayahan.
Dalam pengembangan berbasis kemasyarakatan adalah masyarakat lokal, institusi-institusi lokal dan lembaga non pemerintahan. Penjelasan dari masyarakat lokal adalah masyarakat Desa Tulungrejo yang belum memiliki pengetahuan tentang pengelolaan pertanian yang baik, sehingga membutuhkan bantuan dari pihak pemerintah dan pihak sektoral.
Sedangkan institusi-institusi lokal adalah kelompok yang menaungi dan memberikan arahan kepada para petani yang masih belum dapat beradaptasi dengan peraturan pemerintah yang sudah menjadikan desa mereka sebagai salah satu desa wisata agro yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
34
Lembaga non pemerintahan adalah suatu lembaga yang diharapkan dapat menjadi wadah kegiatan perekonomian dalam industri pariwisata yang dilaksanakan oleh kelompok yang terbentuk dari desa. Pengembangan berbasis sektoral dalam pengembangan wisata agro dilaksanakan oleh 3 pihak. Pertama masyarakat setempat, keterlibatan masyarakat setempat dalam penyelenggaraan strategi pengembangan wisata agro kebun apel untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Tulungrejo, ini sudah cukup memberikan pengaruh yang besar dalam pelaksanaannya, seperti masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam tahap perencanaan, partisipasi dalam tahap implementasi, dan partisipasi dalam tahap pengawasan.
Kedua keterlibatan pihak swasta dalam pengembangan wisata alam di Desa Tulungrejo dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tentunya perlu pelaku usaha dikawasan lokasi wisata. Ketiga keterlibatan pemerintah Kota Batu peran pemerintah sendiri sebagai penyelenggara pariwisata yang harus terlibat penuh dalam pengambilan kebijakan. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan suatu kegiatan disuatu daerah, pemerintah membuat suatu kebijakan yang mampu menjalankan kebijakan tersebut dengan melibatkan masyarakat sebagai komponen utama dalam suatu pengembangan.
Penelitian serupa di lakukan oleh Eva Kurniawati dengan Judul Peran masyarakat dalam perencanaan dan pengembangan Desa Wisata Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Dalam penelitiannya, peneliti menjelaskan
35
terdapat beberapa objek wisata di desa wisata Tulungrejo yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Selain itu terdapat potensi daya tarik wisata yaitu Atraksi wisata yang terdiri dari (Something to see (dilihat), something to do (dilakukan), something to buy (dibeli)), promosi wisata, market (pasar), kuantitas dan kualitas transportasi, fasilitas umum dan pelayanan. Kegiatan atraksi wisata di desa wisata Tulungrejo bentuknya sangat beraneka ragam dari yang dapat dilihat, apa yang dapat dilakukan, dan apa yang dapat dibeli.
Sebagian besar penduduk sebagai petani buah dan sayur merupakan ciri khas budaya social yang dapat dijadikan atraksi wisata dari desa wisata Tulungrejo. Tingkat partisipasi masyarakat Desa Wisata Tulungrejo terhadap perencanaan dan pengembangan desa wisata mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terbukti banyak aktivitas pariwisata dan diversifikasi produk yang beragam.
Penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang akan saya lakukan dalam Strategi Pemerintah Daerah Mengembangkan Objek Pariwisata Kebun Apel di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng. Pada penelitian ini saya menggunakan dua Indikator Analisa dari empat Indikator Teori Pengembangan Pariwisata (Robert Christie Mill Tahun 2000). Adapun Indikator analisa yang saya gunakan yaitu Analisa pasar dan Analisa teknik dan perencanaan. Pada Analisa Pasar memiliki bagian yaitu Inventaris daya tarik wisatawan, Inventaris fasilitas untuk wisatawan, Modal trasportasi, dan Pasar.
Sedangkan Analisa Teknik dan Perencanaan juga memiliki bagian yaitu
36
Komunikasi dan transportasi, Ketersediaan lahan untuk pariwisata, dan Aspek lingkungan dan ekologis.
Potensi yang terdapat di kawasan agrowisata di Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata sangat beraneka ragam. Potensi tersebut antara lain adalah kebun strawberry dan apel serta taman.
E. Kerangka Fikir
Menurut Pitana dan Diarta (2009) strategi pengembangan pariwisata harus mampu menggabungkan aspek-aspek penunjang kesuksesan dunia pariwisata. Aspek- aspek tersebut adalah aspek transportasi dan saluran pemasaran, infrastruktur pariwisata, interaksi social dan keterkaitan dengan sektor lain, daya tahan terhadap dampak pariwisata, resistensi komunitas lokal dan lain-lain.
Daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah potensi di bidang pariwisata dan telah dikunjungi oleh banyak wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah adalah keindahan alamnya. Sulawesi selatan mempunyai banyak daerah seperti diantaranya adalah Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere yang terletak di Kabupaten Bantaeng.
Kecamatan Ulu Ere merupakan wilayah administrasi dari Kabupaten Bantaeng, dengan luas wilayah keseluruhan adalah 67, 29 km2 dan jarak dari ibu Kota Kabupaten Bantaeng yaitu 21 Km. Jumlah penduduk Kecamatan Ulu Ere sebanyak 7.316 jiwa yang terdiri dari laki-laki sekitar 3.478 jiwa dan perempuan sebanyak
37
3.838 jiwa dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya pada umumya berprofesi sebagai petani utamanya petani sayuran dan buah, sedangkan non pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.
Kecamatan Ulu Ere juga merupakan salah satu kecamatan yang terletak di dataran tinggi di Kabupaten Bantaeng atau berada di daerah pegunungan. Kecamatan Ulu Ere terletak pada ketinggian antara 1.200-1.700 Mdpl. Ditinjau dari segi kemiringan lereng Desa Bonto Lojong berada pada kemiringan lereng 8-40% atau sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan. Penetapan Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere sebagai lokasi Rencana Kawasan Agrowisata ini tidak lepas dari adanya potensi dominan seperti hasil perkebunan, serta arahan yang tertuang dalam Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bantaeng Tahun 2008- 2013.
Pada tahun 2010 jumlah wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata Desa Bonto Lojong sekitar 8.307 jiwa. Sedangkan pada tahun 2011 jumlah wisatawan yang berkunjung yaitu 7.514 jiwa. Dari data diatas dapat disimpulkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata Desa Bonto Lojong pada tahun 2011 mengalami penurunan jika dibandingkan pada tahun 2010 sebesar 793 jiwa. Saat ini masih dirasakan bahwa sinergi dari upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengembangkan pariwisata nasional masih belum berjalan secara optimal, disebabkan masih adanya perbedaan persepsi yang perlu mendapatkan klarifikasi.
Setiap objek wisata perlu ditangani dengan baik, mulai dari kesiapan ojeknya sampai upaya pemasarannya sehingga dapat diketahui wisatawan baik wisatawan lokal
38
maupun wisatawan mancanegara. Salah satu obyek wisata di Desa Bonto Lojong adalah pariwisata kebun apel.
Kerangka Fikir
Gambar 2.1
Strategi Pemerintah Daerah dalam Mengembangkan Obyek Wisata
Kebun Apel di Kabupaten Bantaeng
Indikator Teori Pengembangan Pariwisata (Robert Christie Mill Tahun 2000):
a. Analisa Pasar
b. Analisa Teknik dan Perencanaan
Pengembangan Obyek Wisata Atraksi
Amenitas Aksesibilitas
39 F. Fokus Penelitian
a. Strategi Pemerintah Daerah dalam Mengembangkan Obyek Wisata Kebun Apel di Kabupaten Bantaeng menggunakan Teori Pengembangan Pariwisata (Robert Christie Mill Tahun 2000) :
a.) Analisa Pasar
a. Inventaris daya tarik wisatawan
Tujuan iventaris adalah merangkum pembangunan pariwisata di sebuah kawasan, karena harus diketahui objek wisata apa yang dimiliki sehingga bisa menarik wisatawan datang. Salah satu cara untuk menentukan subyek ini adalah membedakan antara daya tarik inti dan daya tarik pendukung. Daya tarik inti merupakan alasan utama mengapa wisatawan mau datang ketempat itu.
Daya tarik inti bisa berupa daya trik alam seperti iklim, flora dan fauna, ciri lingkungan alam khusus, goa, jeram niaga, panorama alam.
Daya tarik budaya seperti monumen purbakala, sejarah dan budaya, seni, kerajinan dan arsitektur lokal, festival budaya, keramahan penduduk. Sedangkan daya tarik pendukung adalah daya tarik yang dibangun disekeliling daya tarik inti, daya tarik pendukung berupa jenis atraksi khusus, seperti taman hiburan, pusat perbelanjaan, rekreasi dan fasilitas olahraga.
40 b. Inventaris fasilitas untuk wisatawan
Tujuan dari inventaris fasilitas unyuk wisatawan ini adalah melakukan pendataan terhadap fasilitas-fasilitas yang sudah ada bagi wisatawan dikawasan objek wisata dan yang belum ada sehingga harus dibangun untuk para wisatawan seperti : tempat penginapan, akomodasi, tempat penjualan makanan dan minuman, fasilitas kesehatan, keamanan, informasi wisata, jaringan telekomunikasi, pompa bensin, listrik dan toko-toko eceran para wisatawan.
c. Modal trasportasi
Tanpa dihubungkan dengan jaringan transportasi tidak mungkin sesuatu objek wisata mendapat kunjungan wisatawan. Objek wisata merupakan akhir perjalanan wisata dan harus memenuhi syaratsyarat aksebilitas, artinya objek wisata harus mudah dicapai dan dengan sendirinya juga mudah ditemukan. Jalan merupakan jalan akses yang harus berhubungan dengan jalan prasarana umum. Kondisi jalan umum dan jalan akses merupakan syarat yang penting sekali dan menentukan aksebilitas suatu objek wisata.
d. Pasar
Pasar wisata secara faktual dapat dimaknai sebagai unsur-unsur industri yang sering disebut para pelaku pariwisata, seperti melakukan promosi wisata, penyedia informasi wisata, biro perjalanan, transportasi, pengurusan visa, jasa atraksi, hotel, restoran serta
41
mekanisme yang mempertemukan permintaan dan penawaran produk dan jasa wisata.
Oleh karena itu pemasaran memainkan peranan penting dalam pariwisata karena pelanggan melihat, merasa atau mencoba produk yang akan dibelinya. Untuk dapat menilai suatu produk seseorang harus berpergian ke tempat tujuan. Karena itu fokus pemasaran pariwisata adalah mengkomunikasikan secara keseluruhan alam maupun fasilitas pendukung yang disediakan dikawasan objek wisata, karena merupakan faktor kunci yang mempengaruhi keputusan konsumen atau wisatawan.
b) Analisa teknik dan perencanaan
a. Sosialisasi/Pembinaan Masyarakat
Sosialisasi/pembinaan masyarakat merupakan pengarahan yang dilakukan pemerintah kepada para anggota masyarakat tentang agrowisata, agar mempunyai persepsi yang sama dalam menghadapi berbagai permasalahan manakalah wilayahnya akan di jadikan agrowisata.
b. Komunikasi dan transportasi
Ketersediaan secara komunikasi seperti telepon umum, pelayanan pos, serta terjangkau oleh signal komunikasi dan kondisi sarana transportasi seperti jalan-jalan menuju objek wisata sehingga bisa sampai dan keluar dari tempat tujuan wisata dengan mudah.
42 c. Ketersediaan lahan untuk pariwisata
Dalam pengembangan daya tarik dan fasilitas pariwisata membutuhkan tersedianya lahan yang cukup di daerah kawasan tujuan wisata sehingga diketahui lahan yang tersedia siapa pemiliknya serta apakah pemiliknya mau menjual atau mengizinkan pembangunan di atas tanahnya.
d. Aspek lingkungan dan ekologis
Setiap pembangunan yang besar membutuhkan sejumlah pernyataan yang berhubungan dengan akibat terhadap lingkungan.
Karena kawasan lingkungan wisata yang berhasil tergantung kualitas lingkungan kawasan secara fisik.
e. Budi Daya Tanaman
Budi daya tanaman umumnya mencakup kegiatan-kegiatan pengelolaan lahan/tanah, penanaman, dan pemeliharaan agrowisata.
Berbagai budi daya mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, penanaman dan pemeliharaan hingga panen dapat menjadi kegiatan- kegiatan yang sangat menarik wisatawan apabila kita dapat mengemasnya menjadi satu kegiatan yang unik atau langka.
43
b. Dengan adanya objek daya tarik wisata yang kuat maka menjadi magnet untuk menarik para wisatawan. Pengembangan Kepariwisataan haruslah memiliki tiga aspek penting produk pariwisata, yaitu:
a) Atraksi merupakan pusat dari industri pariwisata. Maksudnya atraksi mampu menarik wisatawan yang ingin mengunjunginya. Biasanya mereka tertarik pada suatu lokasi karena ciri- ciri khas tertentu. Ciri- ciri khas yang menarik wisatawan adalah : a) Keindahan alam. b) Iklim dan cuaca. c) Kebudayaan.
b) Amenitas merupakan berbagai fasilitas penunjang para wisatawan untuk berwisata ke suatu daerah tujuan wisata dengan kenyamanan dan kepuasan tersendiri. Hal tersebut antara lain lain akomodasi yang nyaman, restoran, bar, layanan informasi, pramuwisata, sikap masyarakat setempat, keamanan dan lain-lain.
c) Aksesibilitas berhubungan dengan segala jenis transportasi, jarak atau kemudahan pencapaian suatu objek wisata. Serta unsur pendukung lainnya (pelaku industri pariwisata, masyarakat dan institusi pengembangan) yang membentuk sistem yang sinergis dalam menciptakan motivasi kunjungan wisatawan.