BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pengembangan Objek Wisata
Atraksi merupakan pusat dari industri pariwisata. Maksudnya atraksi mampu menarik wisatawan yang ingin mengunjunginya. Biasanya mereka tertarik pada suatu lokasi karena ciri- ciri khas tertentu. Ciri-ciri
77
khas yang menarik wisatawan adalah : a) Keindahan alam. b) Iklim dan cuaca. c) Kebudayaan.
Atraksi obyek wisata yang berada di Desa Bonto Lojong sangat memenuhi. Dimana pada Keindahan alam yang disugukan di lokasi tersebut sangat memuaskan karena di sepanjang jalan menuju lokasi obyek wisata terdapat beberapa pemandangan yang dapat dinikmati. Iklim dan cuaca di Desa Bonto Lojong sangat baik karena desa ini terletak di kaki gunung Lompo Battang, sehingga memiliki udara yang sangat sejuk.
Kebudayaan warga di Desa Bonto Lojong sangat baik karena warga pedesaan masih memiliki sifat gotong royong yang mendalam, yang membuktikan bahwa kehidupan selalu dibarengi dengan berbagai upaya yang dapat menghasilkan bekal, bagi kelangsungan hidup.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat di Desa Bonto Lojong yang mengatakan bahwa :
“Keindahan alam yang disugukan di lokasi Desa Bonto Lojong sangat memuaskan karena di sepanjang jalan menuju lokasi obyek wisata terdapat beberapa pemandangan yang dapat dinikmati.
Iklim dan cuaca di Desa Bonto Lojong sangat baik karena desa ini terletak di kaki gunung Lompo Battang, sehingga memiliki udara yang sangat sejuk. Kebudayaan warga di Desa Bonto Lojong sangat baik karena warga pedesaan masih memiliki sifat gotong royong sehingga hubungan antar masyarakat masih sangat dekat”(Hasil wawancara dengan ANW, 8 Juli 2020)
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Keindahan alam yang disugukan di lokasi Desa Bonto Lojong sangat memuaskan karena di sepanjang jalan menuju lokasi obyek wisata
78
terdapat beberapa pemandangan yang dapat dinikmati. Iklim dan cuaca di Desa Bonto Lojong sangat baik karena desa ini terletak di kaki gunung Lompo Battang, sehingga memiliki udara yang sangat sejuk. Kebudayaan warga di Desa Bonto Lojong sangat baik karena warga pedesaan masih memiliki sifat gotong royong sehingga hubungan antar masyarakat masih sangat dekat.
Masyarakat dan kebudayaan cenderung mengalami perubahan yang diakibatkan oleh keberadaan pariwisata di suatu wilayah.
Perkembangan pariwisata akan memicu beberapa dampak positif maupun dampak negatif. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari pihak- pihak yang berwenang (stake holder). Tatanan pola kehidupan masyarakat Desa Bonto Lojong yang sebagian masih diilhami oleh adat merupakan daya tarik tersendiri. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kerasnya pengaruh arus globalisasi dan modernisasi sedikit demi sedikit telah mengikis karakteristik pola tatanan kehidupan tersebut.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat di Desa Bonto Lojong mengatakan bahwa :
“Pengaruh globalisasi di Desa Bonto Lojong dalam hal ini kemajuan transportasi yang sebelumnya sulit untuk akses ke Desa sekarang ini sudah dapat terakses karena adanya perbaikan dalam infrastruktur. Akses internet di Desa agak sulit untuk dinikmati sehingga seperti ketergantungan dengan kemajuan teknologi hampir tidak dirasakan oleh masyarakat”( Hasil wawancara dengan ANW, 8 Juli 2020)
79
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Pengaruh globalisasi di Desa Bonto Lojong dalam hal ini kemajuan transportasi yang sebelumnya sulit untuk akses ke Desa sekarang ini sudah dapat terakses karena adanya perbaikan dalam infrastruktur. Akses internet di Desa agak sulit untuk dinikmati sehingga seperti ketergantungan dengan kemajuan teknologi hampir tidak dirasakan oleh masyarakat.
Keterbukaan informasi yang semakin bebas dewasa ini baik dari media cetak maupun elektronik yang tidak mengenal batas ruang dan waktu menjadi sebuah momok bagi tatanan perilaku masyarakat saat ini yang masih berpegang pada norma dan adat yang berlaku di daerah masing-masing. Dengan berkembangnya agrowisata di Desa Bonto Lojong pada masa yang akan datang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi transformasi pola kehidupan adat dan modern di wilayah ini.
Interaksi yang akan terjalin antara wisatawan dan masyarakat lokal (host- guest) akan membawa dampak khususnya pada sisi perubahan moral yang tujuan wisata. Selain itu, pola pikir masyarakat yang cenderung latah (meniru-niru) akan semakin mengikis dan merubah pola tatanan kehidupan yang akan berimbas pada perilaku masyarakat lokal. Oleh karena itu, antisipasi dini merupakan cara yang terbaik dalam menjaga dan mempertahankan kearifan dan kebudayaan lokal yang dapat tergambar dari perilaku masyarakat sehari-hari. Pendekatan keagamaan dan
80
pendekatan adat dalam kehidupan sehari-hari perlu ditanamkan sekaj dini seperti budaya agar perkembangan pariwisata tidak menjadi alasan masyarakat untuk meninggalkan adat dan budaya mereka.
b. Amenitas
Amenitas merupakan berbagai fasilitas penunjang para wisatawan untuk berwisata ke suatu daerah tujuan wisata dengan kenyamanan dan kepuasan tersendiri. Hal tersebut antara lain lain akomodasi yang nyaman, restoran, bar, layanan informasi, pramuwisata, sikap masyarakat setempat, keamanan dan lain-lain.
Amenitas pada Obyek wisata kebun apel seperti adanya gazebo yang disediakan oleh Pemerintah sebagai tempat untuk beristirahat para wisatawan yang datang berkunjung di lokasi kebun apel. Sikap mayarakat yang ramah serta mendukung adanya obyek wisata kebun apel tersebut.
Tingkat keamanan kebun apel yang juga cukup baik karena warga sekitar kebun ikut serta dalam menjaga keamanan kendaraan yang digunakan oleh pengunjung.
Industri pengelolaan merupakan Salah satu penunjang utama dalam menjalankan usaha agroindustri dalam rangka menciptakan kualitas dan kuantitas yang baik Desa Bonto Lojong belum mempunyai industri untuk pengelolaan pertanian sehingga di perlukan Industri pengelolaan berfungsi sebagai alat yang akan mengelolah bahan mentah yang dihasilkan para
81
petani dari kegiatan pertanian. Sehingga hasil pertanian tidak mudah rusak, Desa Bonto Lojong yang mempunyai hasil pertanian yang melimpah perlu industri pengelolaan pertanian untuk menajaga kualitas dan menambah mutu dari hasil pertanian. Sehingga wisatawan yang datang bisa langsung menikmati hasil pertanian dan perkebunan langsung dari hasil pengelolaannya.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu warga yang bertugas merawat Perkebunan Apel yang mengatakan bahwa :
“Untuk pengelolaan hasil panen buah Apel apabila waktu panen tiba di Kabupaten Bantaeng khususnya di Desa Bonto Lojong belum ada pabrik pengelolaan bahan mentah menjadi suatu makanan atau jajanan yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan. Akan tetapi jika wisatawan ingin mengkonsumsi buah apel mereka dapat langsung memetiknya dikebun apel” .(Hasil wawancara dengan DC, 8 Juli 2020)
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pengelolaan hasil panen buah Apel apabila waktu panen tiba di Kabupaten Bantaeng khususnya di Desa Bonto Lojong belum ada pabrik pengelolaan bahan mentah menjadi suatu makanan atau jajanan yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan. Akan tetapi jika wisatawan ingin mengkonsumsi buah apel mereka dapat langsung memetiknya dikebun apel.
Desa Bonto Lojong dalam pengembangannya sebagai Desa agrowisata yang dimana sarana dan Prasarana Penunjang Wisata yang terdapat di Desa Bonto Lojong tersebut masih belum memadai dan belum berkembang sehingga perlu strategi dalam pengembangannya untuk
82
mencapai tujuan sebagai Desa Agrowisata. Industri pengelolaan hasil pertanian dapat berupa industri rumah tangga dan industri pabrik buah dan hasil-hasil pertanian lainnya. Sehingga wisatawan dapat langsung menikmati hasil olahan dilokasi Objek wisata yang dikunjungi.
c. Aksesibilitas
Aksesibilitas berhubungan dengan segala jenis transportasi, jarak atau kemudahan pencapaian suatu objek wisata. Serta unsur pendukung lainnya (pelaku industri pariwisata, masyarakat dan institusi pengembangan) yang membentuk sistem yang sinergis dalam menciptakan motivasi kunjungan wisatawan.
Berikut hasil wawancara dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantaeng mengenai akses Transportasi menuju Kebun Apel yang mengatakan bahwa :
“Sekarang ini akses transportasi menuju kebun Apel sudah lumayan baik tidak seperti beberapa tahun sebelumnya dimana kondisi jalan yang tidak terlalu bagus untuk dilewati karena kondisi jalan yang berkerikil dan terjal sangat berbahaya apabila para wisatawan tidak berhati-hati”(Hasil wawancara dengan HS, 8 Juli 2020)
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa akses transportasi menuju kebun Apel sudah lumayan baik tidak seperti beberapa tahun sebelumnya dimana kondisi jalan yang tidak terlalu bagus
83
untuk dilewati karena kondisi jalan yang berkerikil dan terjal sangat berbahaya apabila para wisatawan tidak berhati-hati.
Aksesbilitas menuju obyek wisata kebun apel sangat baik untuk dilalui. Tingkat aksesbilitas pada Desa Bonto Lojong sudah cukup baik karena jalan yang ada di Desa Bonto Lojong bisa digunakan moda transportasi kendaraan roda dua (motor) dan kendaraan roda empat (mobil). Jarak Desa Bonto Lojong dengan ibu kota Kecamatan Ulu Ere adalah 6 km dengan waktu tempuh sekitar 15 – 20 menit.
84 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan penulis terkait penelitian Strategi Pemerintah Daerah dalam Mengembangkang Obyek Pariwisata Kebun Apel di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Strategi Pemerintah tidak berfokus ke satu titik atau satu obyek wisata saja, akan tetapi pengembangan dilakukan secara menyeluruh dalam satu kawasan atau areal.
b. Strategi Pemerintah Daerah dalam Mengembangkan Obyek Wisata Kebun Apel Teori Pengembangan Pariwisata (Robert Christie Mill Tahun 2000) : Wisata kebun apel merupakan obyek wisata” yang pertama ada di Desa Bonto Lojong dan diresmikan pada tahun 2008. Akan tetapi pada tahun 2016 kebun apel mengalami penurunan pengunjung karena pada saat itu tidak adanya perawatan yang dilakukan oleh petani, sehingga ada beberapa pohon yang terganggu karena adanya jamur yang menempel.
Fasilitas yang tersedia ditempat wisata kebun apel yaitu tempat beristirahat atau gazebo. Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat agar dapat digunakan oleh para pengunjung dengan jumlah pengunjung yang lebih banyak.
85
Tingkat aksesbilitas pada Desa Bonto Lojong sudah cukup baik karena jalan yang ada di Desa Bonto Lojong bisa digunakan moda transportasi sepeda motor dan kendaraan roda empat. Promosi atau pemasaran obyek wisata kebun apel dilakukan dengan cara melalui social media serta melalui mulut ke mulut atau dengan cara penyebaran informasi melalui warga sekitar atau wisatawan yang pernah berkunjung ke lokasi obyek wisata. Ketesediaan Komunikasi atau signal di daerah Bonto Lojong tidak terlalu mendukung. Akan tetapi ada beberapa jaringan selular yang dapat digunakan pada lokasi tertentu. Hal ini dikarenakan Lokasi Desa Bonto Lojong berada di daerah Pegunungan. Lahan yang merupakan lokasi tempat perkebunan Apel ini sebagian berasal dari Dinas Pertanian dan Warga setempat. Pada lokasi perkebunan apel per 2 hektar lahan terdapat 300 Pohon apel yang ditanam akan tetapi yang berhasil tumbuh hanya kurang lebih 200 pohon. Lokasi perkebunan terdapat beberapa tanaman tidak hanya buah apel, akan tetapi juga ada bawang merah dan sayuran berupa kol, sawi, wortel, kentang dan daun bawang. Dampak yang ditimbulkan oleh obyek wisata kebun apel ini sangat baik dalam sektor pemberdayaan masyarakat. Selain itu keadaan atau kondisi baik dari segi tanah maupun udara pegunungan yang sangat baik untuk bercocok tanam sehingga untuk tanaman apel cocok di budidayakan di Desa Bonto Lojong. Hal ini juga dapat menjadi sarana untuk warga bercocok tanam di lokasi perkebunan apel karena kondisi tanah dan kebutuhan air yang
86
cukup memadai sehingga warga tidak terlalu kesulitan dalam bercocok tanam.
B. Saran
a. Diharapkan kepada warga Desa Bonto Lojong agar kiranya tidak melupakan ikon dari kebun apel karena para warga sekarang ini lebih mengutamakan tanaman lainnya yang lebih menjanjikan.
b. Diharapkan kepada Pemerintah untuk menyediakan akomodasi di sekitaran kawasan wisata desa Bonto Lojong.
c. Diharapkan kepada Pemerintah agar lebih meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
87
DAFTAR PUSTAKA
Itamar, Hugo. (2016). Strategi Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja. Skripsi tidak diterbitkan Makassar: Universitas Hasanuddin Makassar.
Prastiti, Intan Dia (2018). Strategi Pengembangan Wisata Agro Kebun Apel untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Tulungrejo.
Budiardjo, Miriam. (2010). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.
Budi, Winarno. (2012). Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus.Yogyakarta: CAPS.
Junaid, Ilham. (2014). Perencanaan Strategi Pariwisata Budaya: Mekanisme menuju Pariwisata Berkelanjutan.
Usman. (2012). Strategi Pemerintah Daerah dalam Mengembangkan Agrowisata di Kabupaten Bantaeng.
Hadi, Minto. (2014). Pengembangan Objek Pariwisata Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Ekonomi Lokal (Studi Kasus Objek Wisata BanyuBiru di Kabupaten Pasurua).
Anshar, Muhammad. (2015). Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan Agrowisata di Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng.
Kuriawati, Eva. (2018). Peran Masyarakat dalam Perencanaan dan Pengembangan Desa Wisata Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
88
Pramono, Aditya. (2017). Strategi Pengembangan Objek Wisata Pantai di Kabupaten Gunungkidul.
Dwiridotjahjono, Jojok. (2017). Pengembangan Agrowisata Berbasis Perkebunan Kopi Rakyat di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan.
Fatimah, Siti. (2015). Strategi Pengembangan Objek Daya Tarik Wisata Religi.
Skripsi tidak diterbitkan Semarang. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Putri, Rezi Kurnia. (2015). Pengembangan Pariwisata Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) Kota Bukitinggi untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Skripsi tidak diterbitkan Padang.
Universitas Andalas Padang.
N, Saharuddin. (2018). Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Desa dalam Pengembangan Agrowisata Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng. Skripsi tidak diterbitkan Makassar.
Universitas Muhammadiyah Makassar.
Sinaga, Supriono. (2010). Potensi dan Pengembangan Objek Wisata di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kertas Karya, Program dan Lain-lain Pariwisata.
Skripsi tidak diterbitkan Sumatra Utara. Universitas Sumatra Utara.
Undang-undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
Zuluku, Sukawati & Mayers, Koen. (2009). Panduan Dasar Ekowisata Pelaksanaan Ekowisata. Jakarta Unnesco Office.
Undang-undang No. 32 Tahun 2004. Tentang Pemerintah Daerah, Bandung Fokus Media.
Malyadin, Ina. (2013). Pengertian Dokumen & Dokumentasi. Jakarta: Balai Pustaka.
89
Meleong, Lexi. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nanga, Muana. (2005). Makro Ekonomi Teori Masalah dan Kebijakan. Jakarta:
Raja Grafindo.
Onong Uchjana, Effendi. (2005). Ilmu Komunikasi, Teori, dan Praktek. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sahid, Rahmat. (2011). Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Miles dan Huberman. Surakarta: UMS
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sukirno, Sadono. (2013). Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suyanto. (2009). Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Perdana Media.
David, Fred R. (2010). Http://repo.iain-tulungagung.ac.id/ Diakses pada tanggal 1 Desember 2019.
Allison. (2013). Strategi Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik Di Lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Bolalaang Mongondow Utara. Jurnal Manajemen/ Volume XX, No.02, Juni 2016.
David. (2006). Strategi Pemerintah Desa Dalam Meningkatkan Status Desa Menuju Desa Mandiri. Skripsi tidak diterbitkan. Bandar Lampung:
Universitas Lampung.
Hoessein. (2007). Http://repository.ut.ac.id/ Diakses pada tanggal 10 Januari 2020.
A. G Subarsono. (2005). Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ahmadin. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
90
Budiardjo, Miriam. (2010). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.
Budi, Winarno. (2012). Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus.Yogyakarta: CAPS.
Fuidah, Tu’nas. (2011). Metode Penelitian Tringulasi. Yogyakarta: Pusat Belajar.
Makmur. (2019). Strategi Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik Di Lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Bolalaang Mongondow Utara. Jurnal Manajemen/ Volume XX, No.02, Juni 2016.