BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
3. Konsepsi dan Miskonsepsi
a. Konsepsi
Seorang anak pertama kali memperoleh konsep melalui pembentukan konsep, selanjutnya anak tersebut akan mengasimilasi konsep yang diperolehnya dan memodifikasi konsep tersebut sehingga konsep yang dimiliki semakin berkembang karena pengalamannya.
Konsep yang dimiliki seseorang berkembang melalui satu seri tingkatan dengan kecepatan pencapaian berbeda-beda, dengan demikian penafsiran tiap orang mengenai konsep akan berbeda-beda.
Tafsiran seseorang dari suatu konsep ilmu disebut konsepsi.
Tafsiran/konsepsi siswa mengenai suatu konsep dalam ilmu kimia berbeda dari konsep guru atau buku, walaupun dalam ilmu kimia kebanyakan konsepnya mempunyai arti yang jelas dan sudah disepakati bersama oleh para pakar ilmu kimia (kimiawan). Tetapi kalau konsepsi siswa itu bertentangan atau tidak cocok dengan konsepsi para kimiawan, maka dalam hal ini siswa mengalami salah konsepsi yang disebut dengan istilah miskonsepsi (misconception).
b. Pengertian Miskonsepsi
Miskonsepsi adalah tafsiran (persepsi) yang kurang memadai terhadap suatu konsep. Seseorang dikatakan miskonsepsi bila konsepsi terhadap suatu konsep bertentangan dengan konsepsi para ilmuwan.
Miskonsepsi berarti suatu konsep yang berbeda dari pengertian umum yang disajikan dalam materi. Sekali miskonsepsi itu masuk dalam struktur kognitif siswa, maka akan berlanjutlah miskonsepsi tersebut. Siswa selanjutnya akan terhambat menerima informasi baru kedalam struktur kognitifnya yang kurang tepat memahami konsep yang ada. Maka informasi baru tersebut tidak dapat dicerna dan terjadilah kesalahpahaman.
Menurut Skelly and Hall (1993) dalam Nakiboglu (2003:1) menyatakan miskonsepsi adalah suatu pemahaman konsep yang tidak sesuai dengan teori ilmiah. Selanjutnya Berg (1991) dalam Efendi (2002:10) menyatakan miskonsepsi sebagai suatu kesalahan yang diperbuat siswa dalam belajar yang terjadi secara terus menerus dari sumber tertentu. Paul (1997:86) memandang misconceptions atau salah pengertian adalah ”pengertian yang ”salah” atau yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah/ilmuwan”.
Pengertian Alternatif (alternative conceptions) adalah pengertian atau konsep yang berbeda dengan konsep ilmiah yang sekarang diterima (Paul, 1997:86). Pengertian alternatif banyak dipakai untuk menggantikan istilah ” salah pengertian” yang terlalu keras, sekaligus dengan menggunakan pengertian alternatif, kita menghargai usaha siswa yang telah mengkonstruksi pengertian itu. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa miskonsepsi adalah suatu konsepsi yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau yang tidak sesuai dengan pendapat para ilmuwan.
Pada umumnya terjadinya kesalahan pemahaman dalam kimia berhubungan dengan kesulitan dalam memahami materi ilmu kimia.
Kirkwood dan Symington (1996) dalam Efendi (2002:12) berpendapat bahwa penyebab terjadinya kesalahan pemahaman dalam belajar kimia dapat ditinjau dari siswa, pengajar dan materi pelajaran. Dari segi siswa penyebab terjadinya kesalahan pemahaman antara lain adalah pengetahuan yang telah diperoleh siswa dari hasil proses pembelajaran sebelumnya, pengalaman, interaksi sosial, kemampuan berpikir, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Dari segi pengajar penyebab terjadinya kesalahan pemahaman kemungkinan terletak pada metode dan pendekatan belajar yang digunakan. Dari segi materi penyebab terjadinya kesalahan pemahaman antara lain adalah konsep - konsep yang kompleks dan abstrak, aplikasi konsep yang nyata dalam kehidupan dan materi kajian yang terlalu padat. Berg (1991) dalam Efendi (2002:13) mengungkapkan bahwa terjadinya miskonsepsi dapat disebabkan oleh gagasan-gagasan yang muncul dari pikiran siswa yang bersifat pribadi. Gagasan ini umumnya kurang bersifat ilmiah, akan tetapi bila pengajar tidak berupaya untuk melihat gagasan yang dimiliki oleh siswa sebelum mengenalkan konsep yang berhubungan akan memungkinkan untuk terjadinya salah konsep. Menurut Paul (1997:77) karena siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi itu tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuwan. Inilah yang memunculkan salah pengertian (misconceptions) atau konsepsi alternatif.
Menurut yang dilaporkan Berg (1991) (dalam Efendi, 2002:14) beberapa fakta yang dikemukakan oleh para peneliti miskonsepsi seperti Osborne, Freyberg, dan Driver menyimpulkan bahwa :
a. Miskonsepsi sulit diperbaiki.
b. Seringkali “sisa” miskonsepsi terus-menerus mengganggu.
c. Soal - soal sederhana dapat dikerjakan, tetapi pada soal yang lebih sulit miskonsepsi muncul kembali tanpa disadari.
d. Seringkali terjadi regresi, yaitu siswa yang sudah pernah mengatas miskonsepsi setelah beberapa bulan akan kambuh lagi. Dengan ceramah, miskonsepsi belum dapat dengan sepenuhnya dihilangkan.
e. Guru umumnya tidak mengetahui miskonsepsi yang terjadi pada siswa, sehingga proses belajar mengajar tidak disesuaikan dengan prakonsepsi yang dimiliki siswa.
f. Siswa yang pandai maupun yang kurang pandai keduanya dapat mengalami miskonsepsi.
Apabila guru dalam proses pembelajaran tidak memperhatikan miskonsepsi yang dialami siswa sebelumnya, maka guru tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar kepada siswa. Jika miskonsepsi ini dibiarkan berkelanjutan dan tidak diketahui oleh guru, dapat menyebabkan terhambatnya proses rekonstruksi pengetahuan siswa yang berdampak pada hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa yang rendah, bisa
jadi disebabkan karena siswa tidak paham dengan konsep secara benar dan akan terbawa sampai ke tingkat yang lebih tinggi.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan miskonsepsi dapat terjadi pada siswa di negara maju atau negara berkembang, baik siswa pandai ataupun kurang pandai. Miskonsepsi yang terjadi pada siswa cendrung menetap dan sulit untuk diubah serta akan berpengaruh terhadap hasil belajar berikutnya. Altenatif yang diupayakan oleh para konstruktivisme adalah adanya pergeseran sistem pengajaran dari guru sebagai sumber otoritas ilmu ke guru sebagai fasilitator.
Menurut Oemar (2010:2) miskonsepsi merupakan kesalahan siswa dalam pemahaman suatu konsep. Hal ini terjadi disebabkan karena siswa tidak mampu menghubungkan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan sehari- hari dengan pengetahuan yang diperoleh di sekolah.
Biasanya miskonsepsi menyangkut kesalahan siswa dalam pemahaman hubungan antar konsep sehingga mengakibatkan proposisi salah. Hal tersebut berkaitan dengan konsep prasyarat atau pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Pada satu sisi konsep tersebut menjadi prasyarat untuk dikaitkan dengan konsep baru agar terjadi belajar bermakna, sedangkan disisi lain umumnya siswa memisahkan pengalaman sehari-hari dengan pengalaman belajar IPA secara formal. Akibatnya pada saat siswa dihadapkan pada situasi baru, seperti ketika diminta memberikan alasan atau hubungan antara konsep, siswa biasanya mengalami miskonsepsi.
c. Penyebab terjadinya miskonsepsi
Terjadinya miskonsepsi pada dasarnya adalah disebabkan karena siswa kesulitan dalam memahami materi ilmu kimia yang banyak mempelajari konsep- konsep abstrak. Terjadinya miskonsepsi dapat pula disebabkan karena gagasan- gagasan yang tidak ilmiah yang muncul dalam pikiran siswa. Guru seringkali tidak mampu merekonstruksi gagasan ini, sehingga menyebabkan terjadinya miskonsepsi pada siswa.
Menurut Kirkwood dan Symington (Effendy, 2002:12) terjadinya miskonsepsi dalam belajar kimia dapat ditinjau dari siswa, pengajar, dan materi pelajaran. Dari segi siswa kesalahan pemahaman ini disebabkan pengetahuan yang diperoleh oleh siswa dari hasil belajar sebelumnya, kemampuan berfikir, motivasi belajar, dan kesiapan untuk belajar. Dari segi pengajar miskonsepsi disebabkan karena metode dan media yang digunakan. Sedangkan dari segi materi, miskonsepsi disebabkan karena konsep- konsep yang kompleks dan abstrak serta materi yang terlalu padat.
Selain penyebab yang diuraikan di atas, Suparno (Salirawati, 2010:30) memberi ringkasan berkenaan dengan faktor penyebab miskonsepsi, ringkasan tersebut dimuat dalam Tabel 2:
Tabel 2. Penyebab Miskonsepsi
Sebab utama Sebab Khusus
Siswa Prakonsepsi, pemikiran asosiatif, pemikiran humanistik, reasoning yang tidak lengkap, intuisi yang salah, tahap perkembangan kognitif siswa, kemampuan siswa, minat
belajar
Pengajar Tidak menguasai bahan, bukan lulusan dari bidang ilmu kimia, tidak membiarkan siswa mengungkapkan gagasan/ide, relasi guru-siswa tidak baik
Buku Teks Penjelasan keliru, salah tulis terutama dalam rumus, tingkat penulisan buku terlalu tinggi bagi siswa, tidak tahu membaca buku teks, buku fiksi dan dan kartun sains sering salah konsep karena alasan menariknya yang perlu
Konteks Pengalaman siswa, bahasa sehari- hari berbeda, teman diskusi yang salah, keyakinan dan agama, penjelasan orang tua/orang lain yang keliru, konteks hidup siswa (tv, radio, film yang keliru), perasan senang tidak senang, bebas atau tertekan
Cara mengajar Hanya berisi ceramah dan menulis, langsung ke dalam bentuk matematika, tidak mengungkapkan miskonsepsi, tidak mengoreksi PR, model analogi yang dipakai kurang tepat, model demonstrasi sempit,dll
d. Upaya Mengatasi Miskonsepsi
Bagi pendidik mencari cara/kiat untuk terus memperbaiki mutu pendidikan khususnya kimia adalah sudah menjadi tugas pengelola pendidikan,. Menurut pandangan Konstruktivisme, fungsi guru bukan lagi sebagai satu-satunya penyaji informasi di dalam kelas yang tujuannya mengajari siswa supaya tahu, tetapi seorang narasumber yang berperan aktif dalam mempersiapkan fasilitas belajar dan membangun suasana
belajar mengajar yang kondusif. Guru tidak lagi fungsinya hanya mengajar, tetapi dia juga perlu belajar untuk memahami pandangan siswanya atas konsep-konsep sains yang sedang dibahas,mempelajari dan memahami kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsp itu,serta mempelajari cara untuk membantu mereka untuk memahaminya.
Miskonsepsi juga berhubungan dengan konsepsi-konsepsi lain dalam suatu kerangka berpikir seseorang. Oleh karena itu dalam usaha memperbaiki suatu miskonsepsi, maka perlu bagi seorang guru memahami kerangka berfikir siswanya secara umum. Tidak bisa dia hanya berkonsentrasi pada perbaikan miskonsepsi tertentu saja. Dalam manjelaskan latar belakang kimia yang menimbulkan suatu peristiwa,siswa tentu mencari keterkaitan peristiwa itu dengan kerangka berfikir yang mendasari pengetahuannya mengenai peristiwa itu. Berarti siswa akan merumuskan penjelasan atas suatu peristiwa alam berdasarkan kerangka berpikir yang sudah dibangun.
Untuk mengubah miskonsepsi itu bukanlah suatu yang mudah.
Seseorang perlu merubah struktur dan mengorganisasikan kembali pengetahuan yang telah ia miliki.Untuk dapat melakukan restrukturisasi siswa perlu menyadari kelemahan pemahaman yang sudah ia miliki. Yang bersangkutan perlu ditunjukan kelemahan pemahamannya lewat pengamatan langsung atas suatu gejala kimia. Sedangkan proses reorganisasi memerlukan waktu dan prosesnya sangat kompleks, karena
siswa harus membangun kembali kerangka berpikir baru dengan mengadakan perubahan pada kerangka berfikir yang sudah dimilikinya.
Miskonsepsi dapat bertahan lama dan dapat sangat kuat dipegang siswa. Perubahan hanya terjadi kalau siswa merasa tidak yakin lagi dengan pengetahuan yang dimilikinya sehingga dia berusaha mencari alternative penjelasan. Kalau alternative itu dirasa memuaskan, unggul dan dapat menyelesaikan persoalan yang bervariasi maka dia akan melakukan reorganisasi pengetahuan yang dia miliki.
Dalam teori piaget, ada 3 bentuk pengetahuan yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika-matematik dan pengetahuan sosial. Pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom, nama unsure dapat dipelajari langsung, yaitu dari pikiran guru ke pikiran siswa, tetapi pengetahuan fisik dan pengetahuan logika-matematik tidak dapat secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa.Setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.
Salah satu pendekatan mengajar yang dapat dianggap memenuhi syarat dilihat dari kerangka konseptual adalah pendekatan konstruktivisme.
Sesuai dengan prinsip mengajar menurut konstruktivisme, mengajar bukan proses dimana gagasan guru diteruskan kepada para siswa, tetapi proses untuk mengubah gagasan-gagasan anak yang sudah ada yang mungkin”
salah”. Dasar pemikiran konstruktivisme adalah pengajaran efektif menghendaki guru mengetahui bagaimana para siswa memandang fenomena yang menjadi subjek pengajaran. Belajar menurut teori ini
adalah suatu perubahan konseptual, yang dapat berupa pengkonstruksian ide baru atau mengkonstruk ide yang sudah ada sebelumnya.
Menurut Efendi (2002:1), miskonsepsi dapat dihilangkan dengan menggunakan konflik kognitif, dimana strategi ini meliputi 4 langkah pokok sebagai berikut :
a. Identifikasi miskonsepsi.
b. Penciptaan situasi konflik pada struktur kognitif siswa.
c. Pemberian bimbingan pada siswa untuk melakukan proses ekuilibrasi.
d. Rekonstruksi pemahaman siswa.
Selain untuk mengatasi miskonsepsi siswa strategi konflik kognitif juga dapat untuk meningkatkan kemampuan intelek siswa.