• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI SMA NEGERI 1 LUBUK ALUNG

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "DI SMA NEGERI 1 LUBUK ALUNG "

Copied!
143
0
0

Teks penuh

Analisis Proses Pembelajaran Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan di SMA Negeri 1 Lubuk Alung”. Budhi Oktavia, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan masukan dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah
  • Identifikasi Masalah
  • Batasan Masalah
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Bagaimana proses pembelajaran (perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan di kelas XI SMAN 1 Lubuk Alung. Analisis konsepsi siswa (pemahaman, miskonsepsi dan ketidakpahaman) pada materi kelarutan dan perkalian kelarutan.

Tabel 1. Persentase Hasil Ulangan Harian Siswa yang Tidak Tuntas       pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Tahun Ajaran  2009-2010
Tabel 1. Persentase Hasil Ulangan Harian Siswa yang Tidak Tuntas pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Tahun Ajaran 2009-2010

KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

  • Proses Pembelajaran
  • Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
  • Pelaksanaan Pembelajaran
  • Konsepsi dan Miskonsepsi
  • Tes Diagnostik Bertingkat Dua

Oleh karena itu, belajar adalah proses interaksi antara guru dan siswa dalam lingkungan tertentu. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus dicapai siswa setelah KD.

Tabel 2. Penyebab Miskonsepsi
Tabel 2. Penyebab Miskonsepsi

Deskripsi Materi Kelarutan dan Hasil kali Kelarutan

Berikut disajikan peta konsep kelarutan dan produk kelarutan Selain informasi kelarutan, nilai Ksp juga bisa. Hasil kali konsentrasi molar ion-ion konstituen dengan pangkat koefisien stoikiometrinya dalam persamaan kesetimbangan.

Gambar 1. Peta konsep Kelarutan dan hasil kali kelarutan
Gambar 1. Peta konsep Kelarutan dan hasil kali kelarutan

Kerangka Pemikiran

Pada kenyataannya tujuan pendidikan tersebut belum sepenuhnya tercapai karena proses pembelajaran tidak sesuai dengan standar proses menurut Permendiknas nomor 41 tahun 2007. Dalam pembelajaran, guru tidak mengidentifikasi keyakinan awal siswa, tetapi guru tidak merevisi konsep-konsep yang diperlukan agar siswa memahami kesulitan memahami konsep selanjutnya yang harus dikuasai pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, metode dan media yang digunakan guru kurang efektif dalam pembelajaran. Penyebab rendahnya pemahaman konsep siswa adalah anggapan sebagian besar guru yang percaya bahwa pengetahuan dapat ditransfer sepenuhnya dari pikiran guru ke pikiran siswa.

Pembelajaran adalah usaha sadar yang dilakukan guru untuk membuat siswa belajar dengan menggunakan segala sumber belajar yang tersedia, yang berakibat pada perubahan tingkah laku siswa yang sedang belajar. Pengalaman belajar yang diberikan oleh guru tanpa mempertimbangkan prakonsepsi siswa dan proses pembelajaran yang tidak disesuaikan dengan standar yang berlaku mengakibatkan tujuan pembelajaran kelarutan dan hasil kali kelarutan tidak tercapai.

Gambar 2. Skema kerangka pemikiran penelitian
Gambar 2. Skema kerangka pemikiran penelitian

Jenis Penelitian

Obyek dan Subyek Penelitian

Observasi, studi dokumentasi dan wawancara digunakan untuk menganalisis proses pembelajaran pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Tes diagnostik adalah tes yang dilakukan untuk menentukan dengan tepat jenis kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam mata pelajaran tertentu (Anas: 2005). Tes diagnostik juga bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai pengetahuan yang menjadi dasar atau dasar untuk menerima tambahan pengetahuan.

Tes diagnostik yang diberikan berbentuk pilihan ganda dengan dua pilihan jawaban disertai empat alternatif alasan mengapa siswa memilih jawaban tersebut. Validitas isi suatu tes adalah validitas yang diperoleh setelah menganalisis dan menelusuri isi tes diagnostik atau meninjau sejauh mana isi tes tersebut dapat mewakili keseluruhan materi atau topik yang diajarkan.

Prosedur Penelitian

Tes diagnostik dua tingkat ini hanya digunakan untuk mengidentifikasi keyakinan (pemahaman, miskonsepsi, dan ketidakpahaman) pada siswa setelah mereka mempelajari suatu topik dan bukan merupakan tes hasil belajar. Item item yang belum valid kemudian direvisi, hingga akhirnya dihasilkan tes diagnostik dua tingkat yang valid dari segi validitas isi. Validitas isi tes diagnostik two-tier adalah validitas yang diperoleh setelah konten yang terkandung dalam tes tersebut dianalisis dan dideteksi.

Validitas isi tes diagnostik dua bagian ini dapat ditentukan dengan membandingkan isi tes dengan indikator atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Setelah proses pembelajaran tentang materi kelarutan dan hasil kali kelarutan selesai, diberikan tes diagnostik dua tingkat.

Teknik Analisis Data

Pada tahap perencanaan proses pembelajaran dilakukan analisis RPP guru berdasarkan standar proses dalam Permendiknas No. Analisis tahapan pelaksanaan proses pembelajaran berdasarkan kesesuaian antara pelaksanaan proses pembelajaran di kelas dengan RPP dan standar proses guru dalam Permendiknas No. Berdasarkan Tabel 5, siswa termasuk dalam kategori pemahaman jika kedua tingkat jawaban baik tingkat pertama maupun tingkat kedua menunjukkan respon yang benar.

Kesalahpahaman dikategorikan jika siswa tidak merespon atau memberikan jawaban yang salah pada kedua level. Untuk mengetahui penyebab miskonsepsi dan ketidakpahaman dilakukan analisis dengan menghubungkan hasil tes diagnostik dua tingkat dengan proses pembelajaran dan hasil wawancara dengan siswa.

Tabel 5. Kriteria PengelompokkanTtingkat Pemahaman Siswa BerdasarkanTes  Diagnostik Bertingkat Dua (Sumber : Chandrasegaran,  2009:15)
Tabel 5. Kriteria PengelompokkanTtingkat Pemahaman Siswa BerdasarkanTes Diagnostik Bertingkat Dua (Sumber : Chandrasegaran, 2009:15)

Temuan Penelitian

Indikator yang dibuat guru memiliki rumusan yang jelas, ruang lingkup rumusan lengkap dan sesuai dengan kompetensi dasar. Hal ini tidak sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 yang mensyaratkan agar fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan dituliskan dalam bentuk poin-poin sesuai dengan rumusan indikator kinerja kompetensi. Pada kegiatan awal yang direncanakan belum sesuai dengan standar proses, karena tidak mencakup pencapaian tujuan pembelajaran, kegiatan awal hanya meliputi apresepsi dan motivasi.

Kegiatan inti yang direncanakan dan kegiatan penutup sesuai dengan standar proses, kegiatan inti meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sedangkan kegiatan penutup yang direncanakan meliputi meringkas, memberikan pekerjaan rumah dan tugas membaca. Hal ini sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, dimana rasio kebutuhan buku pelajaran dengan siswa adalah 1:1.

Tabel 6.  Rumusan Indikator dalam RPP guru berdasarkan SK dan KD   Standar
Tabel 6. Rumusan Indikator dalam RPP guru berdasarkan SK dan KD Standar

Kelas XI-IPA2 (26 April 2011)

25 April 2011)

Guru menegaskan bahwa: jika senyawa sukar larut terdiri dari dua ion maka Ksp= s2, jika terdiri dari tiga ion maka Ksp= 4s3, jika terdiri dari empat ion maka Ksp=27s4 dan jika terdiri dari lima ion maka Ksp= 108s5. Guru memberikan contoh mencari hubungan kelarutan dengan Ksp, kemudian guru memberikan beberapa soal dan siswa diminta mengerjakannya di papan tulis.

29 April 2011)

29 April 2011)

Kegiatan Inti Guru langsung menjelaskan pengertian ion sejenis dan pengaruhnya terhadap kelarutan, jika ditambahkan ion sejenis ke dalam larutan maka kelarutannya akan semakin berkurang, semakin tinggi konsentrasi ion sejenis yang ditambahkan ke dalam larutan jenuh larutan, semakin rendah kelarutannya. Guru menjelaskan konsep ini dengan menggunakan prinsip Lee Chatelier dan menjawab soal berikut: Jika Ksp AgCl = 1x10-10, tentukan kelarutan AgCl dalam larutan AgNO3 0,1M Untuk menjawab soal b, guru menjelaskan Ksp= [Ag+][Cl-] , konsentrasi Cl- adalah (0,1+s) karena nilai s sangat kecil, sehingga kita dapat mengabaikan s.

Guru menuliskan materi yang akan diajarkan di papan tulis, dan langsung menjelaskan pengaruh penambahan ion persekutuan terhadap kelarutan. Guru tidak menjelaskan mengapa penambahan ion senama dapat menurunkan kelarutan, guru tidak menjelaskan dengan mengaitkannya dengan prinsip lee chatelier. Kemudian guru memberikan pertanyaan dan meminta siswa untuk mengerjakan soal tersebut di papan tulis.

3 Mai 2011)

5 Mai 2011)

Jika Qs=Ksp, maka larutan akan mulai mengendap dan jika Qs>Ksp , maka larutan akan mengendap.

10 Mai 2011)

9 Mai 2011)

Dia XI I

Dari Gambar 4 terlihat bahwa siswa kelas XI IPA1 dan XI IPA2 secara umum memahami konsep konstanta hasil kali kelarutan (soal nomor 1,2,3), namun persentase siswa yang memahami pada kelas XI IPA1 lebih dari persentase siswa yang paham IPA2 di kelas XI. Begitu pula pada soal nomor 5 yang membahas tentang konsep solvabilitas, persentase siswa yang paham pada kedua kelas lebih dari 65%. Dari Gambar 5 terlihat bahwa siswa XI IPA1 secara umum cenderung lebih banyak mengalami miskonsepsi dibandingkan siswa XI-IPA2.

Persentase Tingkat pemahaman Siswa (Miskonsepsi)

Gambar 6 menunjukkan bahwa siswa kelas XI-IPA2 umumnya lebih bodoh dibandingkan siswa kelas XI-IPA1. Ketidakpahaman siswa khususnya konsep pengaruh pH (soal no. 13), persentase siswa yang tidak memahami soal ini mencapai lebih dari 60%.

Persentase Tingkat Pemahaman Siswa (Tidak Paham)

Pembahasan

Setelah konfirmasi dengan kedua guru yang mengajar kelas XI IPA1 dan XI IPA2 dengan alasan tidak melakukan percobaan materi deposisi. Kedua guru di kelas XI-IPA1 dan XI-IPA2 juga gagal dalam mengidentifikasi kemampuan awal siswa, yang menyebabkan banyak siswa XI-IPA1 dan XI-IPA2 mengalami kesulitan dalam mempelajari materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Di kelas XI-IPA1, guru belum menguasai konsep yang dipersyaratkan tentang kelarutan dan hasil kali kelarutan.

Hal ini dapat menyebabkan siswa kurang memahami kelarutan bahan dan hasil kali kelarutan. Miskonsepsi dan kegagalan memahami konsep materi kelarutan dan hasil kali kelarutan sering terjadi pada siswa kelas XI-IPA1 dan kelas XI-IPA2 SMAN 1 Lubuk Alung. Mengenai konsep konstanta hasil kali kelarutan pada soal 2, siswa yang paham lebih banyak dibandingkan siswa yang mengalami miskonsepsi dan tidak paham.

Secara umum, siswa memiliki pemahaman yang baik tentang konsep kelarutan dan konstanta hasil kali larut, dan hanya sedikit yang mengalami miskonsepsi dan tidak paham.

Simpulan

Siswa kelas XI-IPA1 dan XI-IPA2 menghadapi miskonsepsi dan tidak memahami perbedaan konsep materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Siswa XI-IPA1 dan XI-IPA2 cenderung mengalami miskonsepsi dan tidak memahami konsep yang sama, namun persentase miskonsepsi dan kesalahpahaman siswa XI-IPA1 lebih tinggi dibandingkan siswa XI-IPA2. Kesalahpahaman sering terjadi dengan konsep pengaruh ion senama terhadap kelarutan dan reaksi pengendapan, sedangkan kesalahpahaman sering terjadi dengan konsep hubungan antara kelarutan dan pH.

Faktor penyebab miskonsepsi dan kesalahpahaman siswa tentang materi kelarutan dan hasil kali kelarutan adalah faktor pembelajaran yang melibatkan guru, siswa dan materi pembelajaran. Dari sisi guru, dimana metode yang digunakan guru lebih cenderung berpusat pada guru, guru tidak meninjau kembali konsep-konsep yang menjadi prasyarat dalam pembelajaran.

Implikasi

Hal ini terlihat dari masih banyaknya siswa yang mengalami miskonsepsi dan tidak memahami materi kelarutan dan perkalian kelarutan. Melihat berbagai faktor penyebab siswa mengalami miskonsepsi dan tidak paham memberikan peluang bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Sehingga miskonsepsi dan ketidakpahaman yang dialami siswa dapat diketahui dan segera ditindaklanjuti.

Pada konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan, salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi terjadinya miskonsepsi dan ketidakpahaman siswa adalah dengan melakukan percobaan. Miskonsepsi dan pemahaman yang kurang yang dialami siswa harus segera diperbaiki karena hal ini akan mempengaruhi penanaman konsep selanjutnya.

Saran

Penggunaan Model Pembelajaran Konstruktivisme Dalam Meminimalisir Miskonsepsi Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika Di SMP 3 Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009. Model pembelajaran mengatasi miskonsepsi pada pembelajaran fisika sekolah menengah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Sumatera Barat, FMIPA UNP. Jakarta: Pusat peningkatan dan pengembangan kegiatan pendidikan antar universitas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.

Kegiatan Pendahuluan

  • Guru menyiapkan peserta didik secara psikis untuk mengikuti proses pembelajaran
  • Guru mempersiapkann peserta didik secara fisik untuk mengikuti proses pembelajaran
  • Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan di pelajari
  • Guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus
  • Guru melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam, tentang topik / tema materi yang akan dipelajari dengan
  • Guru memfasilitasi terjadinya interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya
  • Guru memfasilitasi terjadinya interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar lainnya seperti internet, dll
  • Guru melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran
  • Guru memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium
  • Guru memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis
  • Guru memfasilitasi peserta didik melalui diskusi unuk
  • Guru memberikan kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut
  • Guru memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif can kolaboratif
  • Guru memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar
  • Guru memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual
  • Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan kerja individual maupun kelompok
  • Guru memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan
  • Guru memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang v
  • Guru memberikan informasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber
  • Guru memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan

Guru memfasilitasi siswa dengan memberikan tugas untuk mengemukakan ide-ide baru baik secara lisan maupun tulisan. Guru memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar guna meningkatkan prestasi belajar. Guru memfasilitasi siswa untuk membuat laporan eksploratif yang dilakukan baik secara lisan maupun tulisan, secara individu yang dilakukan baik secara lisan maupun tulisan, secara individu maupun kelompok.

Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan dari turnamen, festival dan produk yang dihasilkan. Guru memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan untuk mendapatkan pengalaman belajar yang telah dilakukan.

Kegiatan Penutup

  • Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman/simpulan pelajaran
  • Guru melakukan penilaian atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram
  • Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran
  • Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi atau memberikan tugas baik tugas
  • Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya

Guru memberikan informasi tentang hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber elaborasi siswa melalui berbagai sumber.

Komponen RPP

  • Indikator pencapaian kompetansi v
  • Kegiatan pembelajaran

Prinsip-prinsip Penyusunan RPP

  • Memperhatikan perbedaan individu peserta didik v 13. Mendorong partisipasi aktif peserta didik v
  • Mengembangkan budaya membaca dan menulis v 15. Memperhatikan keterkaitan antar komponen RPP

Petunjuk

  • Tidak baik 2. Kurang baik
  • Kejelasan dalam pembagian materi
  • Penulisan dan ukuran huruf Isi
  • Kebenaran isi materi dalam soal
  • Di kelompokkan dalam bagian-bagian yang logis
  • Kesesuaian butir soal dengan konsep / materi 4. Kesesuaian butir soal dengan silabus
  • Kebenaran tata bahasa
  • Kesederhanaan kalimat dengan taraf berpikir siswa
  • Kesederhanaan kalimat dengan kemampuan siswa
  • Kalimat soal tidak mengandung arti ganda 5. Kejelasan petunjuk penggunaan soal
  • Standar Kompetensi
  • Kompetensi Dasar
  • Indikator
  • Tujuan Pembelajaran
  • Materi Pokok/Uraian
  • Pendekatan pembelajaran
  • Media pembelajaran
  • Sumber pembelajaran

Siswa dapat menghitung kelarutan suatu larutan elektrolit yang sulit larut berdasarkan data nilai Ksp atau sebaliknya. Tanya jawab tentang pengertian larutan tak jenuh, jenuh tepat dan jenuh dalam kehidupan sehari-hari. Satu minggu sebelum mempelajari materi digesti dan produk digesti, siswa diberi tugas pekerjaan rumah.

Guru memberikan tugas kepada siswa Tugas membaca tentang hubungan pH dan kelarutan serta pengaruh ion sejenis terhadap kelarutan.

Persaman hasil kali kelarutan dari Ag 2 CrO 4 yang benar adalah…

2 Alasannya

  • Jika kelarutan Ag 2 CO 3 dalam air adalah a mol/L , maka hasil kali kelarutan Ag 2 CO 3 dapat dinyatakan dengan…
  • x 10 -8 Alasannya
    • Jika diketahui Ksp Ag 2 CO 3 = 3,2 x 10 -5 , maka kelarutan Ag 2 CO 3 pada saat jenuh adalah…
  • x 10 -2 M Alasannya
    • Pengenceran menyebabkan Ksp menjadi lebih kecil 2. Pengenceran tidak mempengaruhi Ksp
    • Pengenceran menyebabkan Ksp menjadi lebih besar 4. ___________________________________________
    • Diketahui harga Ksp dari senyawa-senyawa berikut
    • Harga Ksp yang sangat besar, sehingga paling sukar larut dalam air
    • Harga Ksp yang sangat kecil, sehingga paling sukar larut dalam air
  • Air murni
    • Adanya penambahan ion sejenis akan mempengaruhi kesetimbangan AgCl, sehingga menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kiri
    • Adanya penambahan ion sejenis akan mempengaruhi kesetimbangan AgCl,sehingga menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan
    • Dalam air murni tidak ada yang mempengaruhi kesetimbangan AgCl
    • Adanya penambahan ion sejenis tidak akan mempengaruhi kesetimbangan AgCl
    • AgI '  Ag + + I - , maka S
    • AgI '  Ag + + I - , maka S: ,
    • Larutan AgCl akan lebih banyak mengendap jika dilarutkan dalam…
  • Larutan NaCl 0,1 M
    • Penambahan konsentrasi ion sejenis akan menggeser kesetimbangan ke kiri, sehingga larutan AgCl mudah mengendap
    • Penambahan konsentrasi ion sejenis akan menggeser kesetimbangan ke kanan, sehingga larutan AgCl sulit mengendap
    • Penambahan konsentrasi ion sejenis tidak akan mempengaruhi kesetimbangan
  • Belum terbentuk endapan
  • Terbentuk endapan jika larutan dipanaskan
  • Terbentuk endapan jika konsentrasi HCl di kurangi . Alasannya
  • Terbentuk endapan PbCl 2
  • Larutan tepat jenuh
  • Terbentuk endapan jika konsentrasi NaCl dikurangi

Nilai Ksp Pb(OH)2 pada suhu tertentu adalah 4 x 10-15, pH larutan jenuh Pb(OH)2 yang terbentuk adalah sama dengan.

Gambar

Tabel 1. Persentase Hasil Ulangan Harian Siswa yang Tidak Tuntas       pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Tahun Ajaran  2009-2010
Tabel 2. Penyebab Miskonsepsi
Tabel 3. Definisi Konsep-Konsep dalam materi  Kelarutan  dan  Hasil  Kali     Kelarutan
Gambar 1. Peta konsep Kelarutan dan hasil kali kelarutan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Công nghệ ngăn ngừa sa lắng muối tại các giếng khoan khai thác bằng chất phụ gia ức chế DPEC Antiscalant-2 ở Vietsovpetro Xử lý chất phụ gia ức chế sa lắng muối tại các giếng khoan