BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
1. Konstruksi Media Online
Media online atau dikenal juga dengan istilah jejaring sosial merupakan media berbasis web yang memiliki kekuatan secara sosial serta memiliki kemampuan untuk mempengaruhi opini publik yang berkembang di masyarakat. Media Sosial juga mampu mempermudah penggunanya untuk ikut berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, twitter, Facebook, Whatsapp, Instagram, Path, Wikipedia, konten youtube dan sebagainya.20
Menurut Endah dkk, media sosial adalah sebuah situs yang di dalamnya dilengkapi dengan fitur-fitur aplikasi yang berbasis internet. Dengan aplikasi ini mendorong penggunanya untuk saling terhubung dengan siapa saja tanpa terkecuali baik orang-orang terdekat maupun orang asing yang tidak pernah dikenal sekalipun selama memiliki ketertarikan yang sama. Dalam hal menggunakan aplikasi dalam internet tersebut, pengguna dapat melakukan komunikasi satu sama lain melalui beberapa fitur chatting yang tersedia pada kolom komentar baik berupa teks maupun dalam bentuk gambar dan video.21 Sedangkan Mulawarman dkk menyimpulkan media sosial adalah alat komunikasi yang dapat digunakan oleh pengguna dalam proses interaksi sosial satu sama lain.22
Dalam pandangan aliran konstruksionis, media bukanlah sekedar saluran yang bebas, akan tetapi media bisa menjadi subjek yang mengkonstruksi realita, bahkan lengkap dengan pandangan, bias dan pemihakannya terhadap salah satu objek.
Artinya media memiliki kebebasan untuk memilih suatu peristiwa mana yang akan diangkat untuk menjadi topik pemberitaan.23
Konstruksi menurut kamus Besar Bahasa Indonesia setidaknya memiliki dua makna, yaitu: pertama konstruksi bermakna susunan (model, tata letak) suatu
20Errika Dwi Setya Watie, “Komunikasi dan Media Sosial (Communication and Social Media)”, ”, The Messenger III, No. 1 (Juli 2011), 71, diakses 10 Juli 2020, http://journals.usm.ac.id/index.php/the- messenger/article/download/270/172
21 Endah, Dimas Adrianto dan Akmal Nurul, Kajian Dampak Penggunaan Media Sosial Bagi Anak dan Remaja, (Depok: Puskakom FISIP UI, 2017), 16-17.
22Mulawarman, Aldila Dyas Nurfitri, “Perilaku Pengguna Media Sosial Beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan”, Buletin Psikologi 25, No. 1 diakses 10 Juli 2020, https://dx.doi.org/10.22146/buletinpsikologi.22759
23 Eriyanto, Analisisi Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, Yogyakarta: LkiS, 2009
bangunan yang kedua artinya susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata.24
Teori konstruktivisme adalah model pandangan yang melihat suatu kebenaran realitas dalam masyarakat sosial dilihat sebagai hasil konstruksi atau hasil pengolahan dari waktu ke waktu yang sebelumnya dilatih untuk menjalankan tindakan tertentu menjadi tindakan-tindakan selanjutnya.25
Proses konstruksi realitas merupakan suatu cara untuk “menceritakan” sebuah peristiwa atau keadaan. Sedangkan konten pada media adalah hasil para pekerja di media mengkonstruksikan realitas-realitas yang dipilih oleh suatu media berdasarkan kebutuhan atau pilihan, dan kemudian realitas-realitas tersebut disusun ke dalam sebuah cerita atau wacana yang memiliki makna karena semua media baik media cetak maupun media digital memiliki sifat menceritakan suatu peristiwa. Dengan demikian konten-konten yang disajikan di dalam media merupakan realitas yang sudah dikonstruksikan.
Dengan demikian, berdasarkan sifat dan kelebihan media masa, konstruksi media terhadap realita berdasarkan substansi teori konstruksi media masa berada pada proses sirkulasi yang cepat dan luas serta sebarannya yang merata tanpa batas.26 Menurut McQuail sebagaimana telah dikutip oleh Muslim mengatakan media massa memiliki kemampuan sebagai alat ideologi karena media lebih-lebih media online mampu menarik serta mengarahkan perhatian publik kemudian membujuk pendapat dan anggapan, dan media juga bisa mempengaruhi sikap, memberikan status dan mendefinisikan legitimasi dan realitas, sehingga di sini media dipandang sebagai agen konstruksi yang menjembatani kebutuhan atau pikiran berbagai elemen masyarakat atau kelompok tertentu.27
Dennis McQuail dalam penjabarannya tentang media, mengatakan proporsi utama dari teori konstriksionisme sosial mengungkapkan bahwa:28
24https://kbbi.web.id/konstruksi
25Karman, “Konstruksi Realitas Sosial Sebagai Gerakan pemikiran ẒSebuah Telaah Teoritis Terhadap Konstruksi Realitas Peter L, Berger”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Komununikasi dan Informatika 5, (3 Maret 2015), diakses pada 12 Agustus 2020, https://openlibrary.ipih telkomuniversity.ac.id/pustaka/115686.
26 Burhan, Bungin, 2014, Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Pranada Media Grup, hal. 192
27Muslim, “Konstruksi Media Tentang Serangan Israel Terhadap Libanon ẒAnalisis Framing terhadap Berita tentang Peperangan antara Israel dan Libanon dalam Surat Kabar Kompas dan Republika”, Jurnal Studi Komunikasi dan Media, Vol. 17 No. 1 (Januari-Juni 2013) hal.75
28Karman, “Konstruksi Realitas ... hal.14
1. Masyarakat adalah konstruk, bukan suatu realitas yang sudah final
2. Media bisa menyiapkan dan memberikan bahan-bahan bagi proses konstruksi sosial
3. Makna yang ditawarkan oleh suatu media masih ada ruang negosiasi maupun penolakan
4. Media mereproduksi makna-makna tertentu
5. Media tidak bisa menyajikan realitas sosial yang objektif karena setiap fakta yang ada merupakan hasil interpretasi.
Lebih lanju Dennis McQuail, secara metaforik menunjukkan ada 6 kemungkinan besar yang bisa dilakukan oleh setiap media dalam rangka mengajukan realitas yang dikonstruksikannya.29
1. Media sebagai jendela yang bisa membukakan cakrawala kepada setiap orang mengenai berbagai hal, realitas tersebut disampaikan dengan apa adanya.
2. Media berfungsi sebagai cermin dari setiap tindakan-tindakan di sekitar. Konten pada media adalah cerminan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga realitas media lebih kurang sebangun dengan realitas yang sebenarnya.
3. Media sebagai penyaring atau penjaga dalam menyeleksi realitas apa yang menjadi pokok perhatian publik mengenai masalah yang sedang terjadi.
4. Media bisa sebagai penunjuk arah, pembimbing atau penterjemah atau segala laporan dalam konten, sehingga realitas bisa dibentuk berdasarkan keperluan media.
5. Media sebagai forum atau wahana diskusi untuk mendapatkan kesepakatan bersama atas suatu perbedaan sampai terbentuknya realitas baru.
6. Media bisa menjadi tabir atau penghalang antara publik dengan realitas yang sesungguhnya. Realitas yang ada di media bisa menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya.
Oleh karena itu, fokus penelitian pada konstruksi media online Nahdlatul Wathan adalah bagaimana media online Nahdlatul Wathan memframing berita dan bagaimana media tersebut mengkonstruksi Islam Moderat dalam pemberitaan.
Sehingga peran media masa seperti media online Nahdlatul Wathan bisa memenuhi fungsinya sebagai penyalur informasi, pendidikan, hiburan dan sarana
29Israwati Suryadi, “Peran Media Massa .... hal.639
mempengaruhi masyarakat dalam penyebaran suatu ideologi dan mengontrol wacana publik.30