BAB III LAPORAN HASIL DAN PEMBAHASAN
3.2. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.2.8. Kontrak Kerja
Tujuan pembuatan perjanjian kerja bersama adalah untuk mempertegas dan memperjelas hak dan kewajiban,menetapkan secara bersama mengenai syarat- syarat kerja yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sehingga dapat mendorong terciptanya hubungan industrial yang harmonis.
Beberapa manfaat tersebut meliputi: Mempertegas dan memperjelas hak serta kewajiban perusahaan dan pekerja. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis sehingga dapat meminimalisir konflik atau perselisihan. Menjaga kelancaran proses produksi sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.
1. Pengertian dan Manfaat Konsultan Asuransi
Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan dan produk asuransi bermunculan, jasa konsultan di bidang ini semakin dibutuhkan. Konsultan asuransi memegang peran penting dalam pengambilan keputusan masyarakat terhadap produk asuransi yang akan dimiliki. Mari berkenalan lebih jauh dengan jasa konsultan ini dan apa manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
2. Pengertian Jasa Konsultan Asuransi
Jasa konsultan akan menjalankan tugasnya dalam memberikan konsultasi di bidang tertentu. Konsultan asuransi atau insurance advisor merupakan seorang profesional yang akan memberikan layanan konsultasi kepada klien baik yang sudah memiliki asuransi atau calon pengguna asuransi. Konsultan ini akan bekerja atas nama klien baik perorangan maupun perusahaan.
Asuransi memiliki lingkup yang cukup luas. Masyarakat awam mungkin akan sulit untuk memahami produk asuransi yang ingin dibeli hanya melalui brosur maupun penjelasan singkat. Insurance advisor akan membantu masyarakat untuk memahami lebih dekat tentang produk asuransi yang ingin dimiliki. Profesi ini harus memiliki integritas yang tinggi terhadap
tugas atau tanggung jawab yang dijalankan. Ia harus punya integritas terhadap klien yang sudah memberikan kepercayaan sekaligus terhadap perusahaan tempat dirinya bekerja. Selain itu insurance advisor juga harus punya integritas terhadap rekan sejawat di industri ini dengan saling menjaga kode etik profesinya. Insurance advisor ini bisa bekerja sebagai bagian dari perusahaan asuransi atau bisa juga berasal dari pihak eksternal.
Perannya adalah memberikan nasihat dan konsultasi mengenai kebijakan asuransi. Selain itu insurance advisor juga akan mengelola hubungan antara klien dan perusahaan asuransi. Bagi perusahaan, konsultan ini juga menjadi salah satu kunci dalam perekrutan klien.
3. Tugas terhadap Klien
Dari penjelasan tadi bisa dipahami bahwa insurance advisor ini akan memiliki jalinan hubungan dengan dua pihak yaitu klien dan perusahaan asuransi. Oleh sebab itu tugasnya pun dibagi menjadi dua yaitu tugas terhadap klien dan tugas terhadap perusahaan. Berikut adalah tugas seorang konsultan asuransi terhadap klien:
1. Mempelajari Profil Klien
Tugas pertama yang harus dijalankan adalah mempelajari profil klien.
Saat ini ada banyak tipe produk asuransi yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Tentunya setiap orang memiliki kebutuhan produk asuransi yang berbeda sesuai profilnya. Agar bisa memberikan saran dan nasihat yang tepat mengenai produk asuransi maka insurance advisor harus mengenal profil kliennya dengan sebaik mungkin.
2. Melakukan Analisis Keuangan
Konsultan di bidang asuransi juga perlu melakukan analisis keuangan dari kliennya. Pembelian produk asuransi ini berhubungan erat dengan kondisi keuangan klien. Tentunya pilihan asuransi yang sebaiknya dibeli harus disesuaikan dengan keuangan klien saat ini. Dengan begitu
36
klien tidak akan merasa keberatan dengan premi asuransi yang dibebankan. Analisis keuangan ini juga mencakup penelusuran tujuan keuangan klien. Setiap orang memiliki tujuan keuangan yang berbeda- beda. Produk asuransi yang dibeli sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan klien. Dengan begitu asuransi ini bisa membantu klien untuk mencapai tujuan finansialnya secara optimal.
3. Menganalisis Risiko Klien
Insurance advisor juga perlu melakukan analisis risiko yang dimiliki oleh klien. Analisis risiko ini sangat penting untuk dilakukan sehingga bisa diketahui produk asuransi seperti apa yang paling cocok dan menguntungkan. Tentunya analisis risiko ini memang penuh dengan prediksi namun bisa dibuat seakurat mungkin berdasarkan profil yang dimiliki oleh klien.
4. Memberi Saran kepada Klien
Sesuai dengan namanya, konsultan tentu saja akan memberikan saran dan nasihat kepada klien. Nantinya insurance advisor akan memberikan saran kepada klien mengenai produk asuransi apa yang layak untuk dibeli. Saran ini diberikan berdasarkan analisis yang sudah dilakukan oleh konsultan tadi. Saran yang disampaikan kepada klien harus sudah melalui pemikiran yang matang.
5. Menjawab Pertanyaan Klien
Salah satu alasan klien menggunakan jasa konsultan ini adalah untuk menjawab semua pertanyaan yang ingin diajukan terkait layanan asuransi. Insurance advisor harus bisa menjawab semua pertanyaan klien secara spesifik. Tentunya semua jawaban ini akan mengarahkan klien untuk membeli produk asuransi yang tepat. Bagi masyarakat, keberadaan insurance advisor ini sangatlah penting. Tugasnya dalam menjawab semua pertanyaan klien mengenai produk asuransi sangatlah bermanfaat. Calon pengguna asuransi dapat memahami dengan baik apa
itu asuransi dan produk apa yang cocok untuk digunakan. Dengan begitu tidak akan terjadi kesalahan pembelian produk karena sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Untuk menjalankan tugas ini dengan baik maka insurance advisor harus memahami dunia asuransi secara menyeluruh. Ia harus bisa menguasai semua hal terkait penggunaan layanan asuransi. Dengan begitu berbagai jenis pertanyaan dari klien dapat dijawab secara optimal dan lengkap.
6. Membantu Klien Membeli Asuransi
Insurance advisor akan membantu klien dalam melakukan pembelian asuransi. Jika klien sudah merasa yakin dengan produk asuransi yang akan dibeli maka proses pembelian dapat dibantu oleh konsultan tersebut. Proses pembelian asuransi memang seringkali terasa membingungkan terutama bagi masyarakat awam yang belum pernah punya pengalaman. Jasa konsultan ini akan mempermudah proses pembelian sehingga klien dapat segera terdaftar sebagai pengguna asuransi. Ini sangat menguntungkan bagi klien karena bisa lebih mudah menyelesaikan proses pembelian. Selain itu klien juga tak perlu ribet dan bisa lebih hemat waktu. Berikut contoh jurnalnya :
Jurnal umum saat pembayaran Asuransi dibayar dimuka xxx
Kas xxx
Jurnal penyesuaian asuransi dibayar di muka akhir periode
Biaya asuransi xxx
Asuransi dibayar dimuka xxx
7. Membantu Klien Mengajukan Klaim
Jasa insurance advisor ini tidak hanya membantu klien yang akan membeli produk asuransi. Mereka juga akan membantu klien yang sudah memakai produk asuransi tertentu. Jika ada masalah terkait penggunaan produk asuransi tersebut maka jasa konsultan ini bisa
38
membantu klien untuk mengatasinya. Termasuk membantu klien dalam mengajukan klaim asuransi. Urusan asuransi ini memang seringkali sulit untuk dipahami oleh pengguna asuransi itu sendiri. Jadi akan jauh lebih efektif jika ada jasa profesional yang membantu klien. Insurance advisor ini akan memastikan bahwa klien mengikuti prosedur pengajuan klaim sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jadi pengajuan klaim juga bisa lebih hemat waktu dan tenaga. Berikut contoh jurnalnya :
Jurnal mengajukan kliem
Beban klaim xxx
Utang klaim xxx
8. Tugas terhadap Perusahaan
Lalu seperti apa tugas konsultan asuransi terhadap perusahaan tempat ia bekerja? Jika insurance advisor tidak bekerja secara mandiri maka ia akan bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan dari perusahaan.
Berikut adalah tugas-tugas yang harus dijalankan oleh jasa konsultan ini:
9. Output kerja CT PRIMA
a. Konsep Dasar Penilaian Kinerja Penyedia
Dalam iklim persaingan usaha di era modern ini sebagai akibat globalisasi, keterlibatan positif para pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan barang/jasa untuk melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan kepada masyarakat sangat diharapkan. Hal ini menyebabkan tuntutan agar para pelaku usaha secara kompetitif memperlihatkan daya saing dalam memberikan performance baik dari sisi kemampuan maupun motivasi dalam memberikan layanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan. Evaluasi penilaian kinerja penyedia barang/jasa adalah proses mengukur, menganalisis, dan mengelola kinerja penyedia yang bertujuan mengurangi biaya, mengurangi risiko, dan mengarahkan perbaikan berkelanjutan
dalam nilai dan operasional. Manajemen yang efektif dari penyedia mengharuskan perusahaannya untuk selalu menjaga agar kinerjanya utamanya pada bidang bidang tersebut diatas selalu baik, bila ingin berhubungan dengan mitra kerja. Kriteria evaluasi kinerja penyedia perlu dipertimbangkan sebelum melakukan komunikasi dengan penyedia pada suatu kontrak tertentu ( M.Syarif ,2020).
b. Definisi Penilaian Kinerja Penyedia Barang/Jasa
Kinerja adalah perbandingan realisasi dan target pada keluaran (output), hasil (outcome) dan manfaat/dampak (benefit/impact).
Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan- kegiatan dalam satu program. Manfaat (benefit) dan Dampak (impact) adalah segala sesuatu yang mencerminkan kemanfaatan secara langsung dan tidak langsung setelah hasil (outcome) suatu program dapat dicapai. Penilaian kinerja penyedia adalah:
• Cara menentukan apakah penyedia akan berkinerja seperti yang diharapkan
• Dasar mengembangkan daftar penyedia yang disetujui
• Dasar mengembangkan program perbaikan bagi penyedia
• Dasar Mengembangkan Sistem Penilaian Penyedia
Apa yang ingin dinilai dari penyedia bergantung dari apa yang ingin dicapai oleh pengguna barang/jasa, juga bergantung seberapa kompleks pekerjaan dan tipe hubungan bisnis yang diharapkan dengan penyedia. Hal ini akan menentukan penyedia terbaik yang sesuai dalam merespon persyaratan yang dibutuhkan pengguna.
Penilaian penyedia juga dapat dilakukan jika terdapat penyedia potensial baru. Jika penilaian bagi suatu penyedia adalah positif,
40
maka penyedia tersebut dapat dimasukkan pada “daftar penyedia yang disetujui atau sah”, dan penyedia dapat dimasukkan sebagai penyedia terundang untuk pekerjaan atau kontrak yang baru.
c. Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Penyedia Barang/Jasa Tujuan pokok pengukuran kinerja adalah untuk membantu dalam menetapkan standar dan target, sarana untuk kemajuan, memotivasi, mengkomunikasikan strategi dan organisasi serta mempengaruhi perubahan perilaku. Pengukuran kinerja bertujuan:
• Mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan dalam rangka menjamin kaulitas barang/jasa pekerjaan penyedia
• Memperoleh profil Penyedia berdasarkan kinerja dalam pelaksanaan kontrak;
• Melaksanakan mitigasi risiko pelaksanaan pekerjaan;
• Menghasilkan umpan balik bagi Penyedia untuk dapat meningkatkan kinerjanya berdasarkan pada hasil kinerja sesuai kontrak; dan
• Memberikan indikator peningkatan kapasitas yang dibutuhkan oleh Penyedia
Menurut Gordon,2008, manfaat yang didapatkan dari pengukuran kinerja penyedia adalah :
• Mengidentifikasi apakah penyedia dapat memenuhi persyaratan pengguna.
• Untuk mengetahui dimana perbaikan dibutuhkan
• Mengetahui apakah perbaikan telah terjadi
• Untuk memahami proses yang telah dilakukan penyedia
• Memperbaiki pembuatan keputusan
• Mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan penyedia
• Identifikasi sumber-sumber yang perlu diperbaiki
• Memotivasi orang melakukan pekerjaan terbaik
• Mengenal apakah tim bekerja dengan kinerja tinggi atau rendah Menurut Sudarto, Dr. Ir. (2011) dalam buku Meningkatkan Kinerja Perusahaan Jasa Konstruksi, Pengukuran kinerja diperlukan agar setiap proses dapat dikontrol. Jika sebuah kegiatan tidak dapat diukur, artinya tidak dapat dikontrol. Jika tidak dapat dikontrol, maka tidak dapat dikelola dengan baik. Tanpa pengukuran yang dapat diandalkan, keputusan cerdas tidak dapat dilakukan. Oleh karenanya, pengukuran kinerja dilakukan untuk:
• Kontrol atau pengendalian; sehingga pengukuran kinerja dapat mengurangi variasi
• Penilaian sendiri; pengukuran dilakukan untuk memastikan seberapa baik proses berjalan, termasuk perbaikan yang telah dibuat
• Perbaikan berkelanjutan; pengukuran ini dilakukan untuk mengidentifikasi sumber cacat, tren proses, dan pencegahan cacat dan menentukan efisiensi dan keefektifan sebuah proses
• Penilaian manajemen; Tanpa pengukuran tidak ada cara untuk memastikan dalam pemenuhan tujuan, nilai tambah atau menilai apakah proses dilakukan secara efektif dan efisien
4. Area Kinerja Utama Penyedia
Pada umumnya perusahaan/instansi akan menetapkan target kinerja sendiri untuk penyedianya terkait dengan:
a. Kuantitas
42
Aspek yang dievaluasi adalah kesempurnaan dalam memenuhi jumlah order yang tertuang dalam kontrak. Idealnya jumlah pasokan yang akurat adalah 100% dari kuantitas yang disebutkan dalam kontrak, tidak lebih dan tidak kurang.
b. Kualitas
Beberapa hal yang dapat dijadikan kriteria evaluasi dalam aspek kualitas adalah:
• spesifikasi,
• Fleksibilitas dan kapasitas,
• laju penolakan barang,
• interval perawatan,
• Konsumsi suku cadang,
• keandalan,
• waktu rata-rata kerusakan,
• umur barang, dan
• garansi
c. Ketersediaan
Ketersediaan adalah tentang kemampuan penyedia untuk dapat menawarkan apa yang dibutuhkan di lokasi dan saat yang diinginkan oleh organisasi. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan untuk mengevaluasi kinerja penyedia adalah:
• penyerahan tepat waktu,
• daftar pengiriman yang terlambat,
• segmen pasar yang dilayani,
• kapasitas,
• stok barang,
• pengalaman ekspor,
• keandalan dalam penyerahan,
• sistem pelacakan (tracking system).
d. Daya tanggap
Daya tanggap berkaitan langsung dengan pelayanan penyedia kepada organisasi pembeli. Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam mengevaluasi penyedia dalam aspek ini seperti:
• pengukuran respon dalam menyelesaikan permasalahan,
• pengukuran respon dalam menanggapi permintaan,
• ketepatan waktu dalam mengajukan penawaran.
e. Biaya
Biaya adalah aspek yang sangat menentukan dalam kriteria evaluasi penyedia. Secara keseluruhan aspek biaya tidak hanya ditentukan oleh harga produk tetapi total biaya kepemilikan. Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi penyedia seperti:
• daftar atau harga standar atau tarif,
• tingkat diskon, ketentuan pembayaran,
• biaya pendanaan (kredit penyedia),
• penggunaan formula harga, mata uang , biaya pengiriman.
Penetapan target kinerja suatu organisasi disesuaikan dengan kategori dan karakteristik barang/jasa menentukan rancangan kriteria yang akan dibuat sehingga area kinerja utama penyedia akan berbeda berdasarkan
44
jenis barang/jasa. Daftar harapan (wish list) dari penyedia barang jasa disusun sedemikian rupa mencerminkan karakteristik kebutuhan barang/jasa itu sendiri. Daftar Keinginan dibuat bukan karena organisasi benar-benar harus memiliki atau dapat memperoleh semua informasi untuk penyedia tertentu. Sebaliknya, Daftar Keinginan dibuat untuk melihat bahwa pada waktu yang berbeda, akan diperlukan berbagai jenis informasi yang berbeda pula. Sebagai contoh, pada saat membeli peralatan suku cadang, daftar keinginan kita akan lebih menekankan pada kualitas dan keandalan. Sedangkan dalam pemenuhan barang- barang kantor, kita mungkin akan melihat pada harga dan tanggapan dari penyedia sebagai faktor utama. Alternatif lain bagi pembeli dalam mengevaluasi kinerja penyedia adalah dengan menggunakan Supply Positioning Model.
5. Penilaian Kinerja Penyedia
Kinerja pengadaan adalah hasil dari dua kombinasi Efektifitas dan Efisiensi. Efektivitas merupakan rasio dari Hasil Aktual / Hasil perencanaan. Kriteria Kinerja dalam kelompok ini berupa : Kualitas, Ketersediaan , Layanan dan Daya Tanggap. Efisiensi merupakan rasio Biaya Aktual / Biaya perencanaan. Kriteria Kinerja dalam kelompok ini berupa : Kuantitas dan Biaya
Pengumpulan data dapat dilakukan melalui pendapat ahli, wawancara langsung, diskusi, pengisian kuesioner pembobotan kriteria evaluasi penyedia dan pengumpulan data sekunder yang berkaitan dengan kriteria evaluasi kinerja tersebut. Data sekunder dapat diperoleh dari pihak-pihak terkait, seperti klien masa lalu penyedia berdasarkan hasil kontrak sebelumnya, website organisasi penyedia, pihak ketiga, serta data lain yang harus diverifikasi dan divalidasi. Data yang digunakan untuk evaluasi adalah data dalam rentang yang ditentukan oleh sistem melalui kebijakan/ketentuan Organisasi, misalnya data 1 (satu) tahun terakhir pada saat dilakukan evaluasi kinerja.
45
BAB IV PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Perkembangan usaha dalam dunia perasuransian saat ini semakin pesat dan kompleks. Kondisi ini menuntut adanya sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pada setiap perusahaan untuk seragam dan dapat diterima secara umum sehingga perusahaan perlu menyusun laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku umum agar dapat menghasilkan laporan keuangan yang relevan dan andal.
Sistem akuntansi yang mengatur kontrak asuransi diantaranya yaitu PSAK 74, PSAK 28, PSAK 36, IFRS 4, dan IFRS 17. Yang berlaku saat ini dengan tingkat kualitas yang baik adalah PSAK 74 atau IFRS 17.
Pengakuan kontrak asuransi diakui entitas pada saat mana yang paling awal dari pilihan awal periode pertanggungan dari kelompok kontrak, tanggal ketika pembayaran pertama dari satu pemegang polis dalam kelompok jatuh tempo, dan pada saat kelompok menjadi merugi untuk kelompok kontrak yang merugi. Entitas melakukan pengakuan dan penyajian kontrak dengan memisahkan jumlah yang diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain (selanjutnya disebut sebagai laporan kinerja keuangan) ke dalam hasil jasa asuransi dan penghasilan atau beban keuangan asuransi. Selanjutnya, untuk menilai dampak yang ditimbulkan kontrak asuransi terhadap laporan posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas, entitas melakukan pengungkapan. Entitas mengungkapkan informasi kualitatif dan kuantitatif mengenai jumlah yang diakui dalam laporan keuangan untuk kontrak, pertimbangan signifikan dan perubahan dalam pertimbangan tersebut, sifat dan tingkat risiko dari kontrak asuransi.
4.2. SARAN
Pembahasan penelitian telah memberikan hasil-hasil penelitian yang dapat disimpulkan oleh peneliti untuk memberikan beberapa saran yaitu:
1. Penerapan perlakuan akuntasi untuk kontrak asuransi diharapkan terus konsisten sebagaimana PSAK 74 dan IFRS 17 yang berlaku.
46
2. Dengan adanya penjelasan serta pembahasan terkait kontrak asuransi, maka diharapkan dapat membantu para pembaca agar lebih mudah dalam memahami lebih lanjut terkait kontrak asuransi (PSAK 74), sehingga dapat diterapkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan.
48
DAFTAR PUSTAKA
Albab,Ulil:” Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 1, N0.8 Juli 2022,
“Kontrak Asuransi ,”Universitas Telkom Bandung”.
Alnajjar, Mohd & Rashwan Abd. El Rahman (2019), The Effect of Disclousure on Risk Arising from Insurance Contracts According to The International, Vol. 22, Issue published in June of 2022.
CT PRIMA, “Our Credentials”,Geneva Consulting Group, Independent Member, Jakarta: 2005
Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia,IAI.
(2018). Draf Eksposur PSAK 74: Kontrak Asuransi. 170.
Morasa, J., & Horman, I. (2016). Analisis Penerapan Psak No.36 Tentang Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa Pada Pt. Asuransi Jiwasraya (Persero) Cabang Manado. Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 4(1), 2963.
Gordon (2018), The Impacts of IFRS Adoption of Value Relevance of Accounting Information Evidence from The Insurance, Canadian Center of Scince and Education, vol 13, no.8 ,Sept. 2023
Owais, W. O., & Dahiyat, A. A. (2021). “Readiness and Challenges for Applying IFRS 17 (Insurance Contracts): The Case of Jordanian Insurance Companies”. Journal of Asian Finance, Economics and Business, 8(3) 8.no3.0277 Pratiwi, Fina.,”Marketing: Strategi Pemasaran Jasa”, 5 Maret 2023, diakses pada 16 September 2023, dari https://www. Harmony.co.id
48
Qadri, R. A., Sari, Y. M., Andriani, A. F., & Kusumawati, R. (2022).
Contextualizing the Universe of PSAK 74 [IFRS 17] in Indonesia and Insurance Industry Vigilance Through the Cosmology of Yoga“
Rajala, M. (2020). Expected Effects Of IFRS 17 On The Transparency And Comparability Of Insurance
Sudarto, (2011). Meningkatkan Kinerja Perusahaan Jasa Konstruksi di Indonesia. Jakarta: PT. Ghassan
Sunyoto, D., & Putri, W. H. (2017). Manajemen Risiko dan Asuransi:
Tinjauan Teoritis dan Implementasinya. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service).
Syarif, M.,” Penilaian Kinerja Dalam Pengadaan Barang/Jasa,”,17 Januari 2020.Diakses dari https://www.msarif.id, 16 September 2023.