E. Tujuan Penelitian
2. Koperasi Simpan Pinjam
22
a) Kemungkinan mengumpulkan sejumlah modal yang besar biasanya dikesampingkan, karena pada umumnya kemampuan para anggota koperasi dalam mengumpulkan modal terbatas.
b) Jumlah calon anggota terbatas c) Modal berubah-ubah
d) Anggota kurang berminat mengambil saham lebih dari minimum saham yang diperlukan, sebab hak keanggotaan pribadi tetap sama untuk semua anggota berapapun kontribusi modal saham dan keuntungan atas modal saham.
23
Dalam memberikan pinjaman, koperasi simpan pinjam wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan peminjam untuk melunasi pinjaman sesuai dengan perjanjian. Selain itu, dalam memberikan pinjaman, koperasi simpan pinjam wajib menempuh cara yang tidak merugikan koperasi simpan pinjam dan kepentingan penyimpan serta menyediakan informasi mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian terhadap penyimpan. Koperasi simpan pinjam dilarang melakukan investasi usaha pada sektor riil. Koperasi simpan pinjam yang menghimpun dana dari anggota harus menyalurkan kembali dalam bentuk pinjaman kepada anggota.
3. Evaluasi Kinerja Koperasi a. Kinerja
Menurut kamus besar bahasa Indonesia “Kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kinerja merupakan kemampuan kerja”. Priansa dan Suwatno (2011) mendefinisikan kinerja sebagai hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku, dalam kurun waktu tertentu, berkenaan dengan pekerjaan serta perilaku dan tindakannya. Sementara itu, Wilson Bangun (2012) mendefinisikan kinerja atau performance sebagai hasil pekerjaan yang dicapai seseorang berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan. Selanjutnya Suyadi Prawirosentono (1999) mendefinisikan kinerja sebagai hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam
24
rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Suyadi Prawirosentono (1999) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi organisasi dan kinerjanya, yaitu:
1) Efektivitas dan Efisiensi
Efektivitas dari kelompok (organisasi) adalah bila tujuan kelompok tersebut dapat dicapai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan.
Sementara itu, efisiensi berkaitan dengan dengan jumlah pengorbanan yang dikeluarkan dalam upaya mencapai tujuan. Bila pengorbanannya dianggap terlalu besar, maka dapat dikatakan tidak efisien. Dalam hubungannya dengan organisasi, ukuran baik buruknya kinerja diukur oleh efektivitas dan efisiensi.
2) Otoritas dan Tanggung Jawab (Authority and Responsibility)
Otoritas merupakan wewenang yang dimiliki seseorang untuk memerintah bawahan untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada masing masing bawahan dalam suatu organisasi. Selanjutnya tangggung jawab merupakan bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat dari adanya wewenang.
3) Disipilin
Disiplin merupakan taat kepada peraturan yanng berlaku, masalah disiplin anggota organisasi baik atasan maupun bawahan akan memberi corak terhadap kinerja organisasi.
25 4) Inisiatif
Inisiatif seseorang berkaitan dengan daya pikir, kreativitas dalam bentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi. Inisiatif peserta organisasi merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja organisasi.
Selanjutnya Suyadi Prawirosentono (1999) menjelaskan bahwa untuk mengukur kinerja organisasi dan kinerja perorangan, diperlukan membangun standar kinerja terlebih dahulu. Kriteria standar kinerja harus jelas dan objektif, jangan memihak dan tidak pilih kasih. Setelah standar kinerja tersebut ditentukan, langkah selanjutnya adalah mengukur kinerja yang sebenarnya telah dilakukan. Standar kinerja yang telah ditentukan, digunakan untuk dibandingkan dengan kinerja sebenarnya. Selanjutnya, dari hasil membandingkan kinerja yang telah dilakukan dengan standar kinerja, akan tercermin bagaimana kinerja organisasi tersebut. Apabila kinerja yang telah dilakukan lebih buruk dari standar kinerja, berarti perlu adanya umpan balik bagi organisasi untuk memperbaiki kinerjanya.
Menurut Darsono dan Ashari (2005), kinerja perusahaan adalah gambaran posisi keuangan perusahaan dan menunjukkan hasil usaha selama periode tertentu, yang diperoleh dengan melakukan analisa laporan keuangan. Untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, dapat dilakukan dengan melakukan analisis terhadap tingkat kesehatan perusahaan.
Berdasarkan beberapa pengertian kinerja di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu hasil yang telah dicapai dari perusahaan
26
itu sendiri. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan adalah dengan menganalisis tingkat kesehatan perusahaan. Dalam hal ini, analisis tingkat kesehatan dilakukan terhadap Usaha Simpan Pinjam Koperasi. Tingkat kesehatan koperasi merupakan kondisi atau keadaan koperasi yang dinyatakan sehat, cukup sehat, tidak sehat atau sangat tidak sehat
b. Teori Evaluasi
Menurut Supardi (2005), penelitian evaluasi (evaluation research) merupakan penelitian yang dilakukan untuk merumuskan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan yang dilakukan agar diperoleh umpan balik bagi upaya perbaikan perencanaan, sistem dan metode kerja yang telah dilakukan. Sementara itu, Mudrajad Kuncoro (2003) menyatakan bahwa penelitian evaluasi atau Evaluation Research merupakan penelitian yang diharapkan dapat memberikan masukan/mendukung pengambilan keputusan tentang nilai relatif dari dua atau lebih alternatif tindakan.
Selanjutnya Suharsimi (2010) menyatakan bahwa dengan adanya penelitian evaluatif, maka sebuah lembaga dapat ditingkatkan mutu kinerjanya, atau dengan kata lain, penelitian evaluatif ini bermanfaat dalam pengembangan kualitas atau quality improvement.
Wirawan (2011) menyatakan bahwa evaluasi merupakan alat dari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk menganalisis dan menilai fenomena ilmu pengetahuan dan aplikasi ilmu pengetahuan dalam penerapan ilmu pengetahuan, beberapa model evaluasi yaitu:
27
1) Model evaluasi berbasis tujuan secara umum mengukur apakah tujuan yang ditetapkan oleh kebijakan, program atau proyek dapat dicapai atau tidak.
2) Model Evaluasi Bebas Tujuan (Goal-free Evaluation Model) Menurut Scriven, model evaluasi bebas tujuan (Goal-free Evaluation Model) merupakan evaluasi mengenai pengaruh yang sesungguhnya, objektif yang ingin dicapai oleh program.
3) Formatif-sumatif Evaluation Model Menurut Scriven, evaluasi formatif merupakan loop balikan dalam memperbaiki produk. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan untuk mengukur kinerja akhir objek evaluasi.
4) CIPP Model Evaluation Stufflebeam menyatakan bahwa model evaluasi CIPP merupakan kerangka yang komprehensif untuk mengarahkan pelaksanaan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif terhadap objek program, proyek, personalia, produk, institusi dan sistem.
5) Model Evaluasi Ketimpangan (The Discrepancy Evaluation Model) Model evaluasi ketimpangan dikembangkan oleh M. Provus (1971) yang mengemukakan bahwa evaluasi merupakan suatu seni melukiskan ketimpangan antara standar kinerja dengan kinerja yang terjadi.
c. Evaluasi Kinerja Koperasi
Evaluasi kinerja koperasi merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan kerja dari koperasi.
Suryani, dkk (2008) menyatakan bahwa salah satu tujuan dari evaluasi
28
kinerja yaitu untuk mengidentifikasi dan menentukan kebutuhan program pengembangan. Sedangkan menurut Werther dan Davis (Suwatno dan Priansa, 2011), salah satu tujuan dari evaluasi kinerja adalah memberikan umpan balik (feedback) bagi urusan kekaryawanan.
Wilson Bangun (2012) menyebutkan manfaat dari evaluasi kinerja yaitu:
1) Pengembangan dalam diri setiap individu 2) Pemeliharaan sistem
3) Dokumentasi
Jadi, dapat disimpulkan bahwa evaluasi kinerja yang dilakukan terhadap koperasi, diharapkan dapat memberikan umpan balik bagi koperasi dalam meningkatkan kinerja koperasi. Dalam penelitian ini, untuk mengevaluasi kinerja Usaha Simpan Pinjam (USP) Koperasi digunakan Analisis Trend. Evaluasi kinerja koperasi ini didasarkan pada Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 06/Per/Dep.6/IV/2016 tentang pedoman penilaian kesehatan koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam koperasi. Evaluasi dilakukan dengan menilai aspek-aspek dan indikator-indikator yang sudah ditentukan dalam peraturan, yang menunjukkan bahwa koperasi dinyatakan kondisi sehat, cukup sehat, dalam pengawasan, atau dalam pengawasan khusus. Aspek-aspek tersebut meliputi:
29 1) Permodalan
Berdasarkan UU No 25 Tahun 1992, modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri dapat bersumber dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan dan hibah. Modal pinjaman dapat berasal dari anggota, koperasi lain dan/atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya, penerbitan obligasi dan surat berharga lainnya, dan sumber lain yang sah.
Analisis untuk aspek permodalan menyangkut kemampuan Koperasi dalam memanfaatkan apa yang terkandung dalam barang modal. Permodalan koperasi dinilai berdasarkan rasio modal sendiri terhadap total asset, rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang beresiko dan rasio kecukupan modal sendiri.
a) Rasio Modal Sendiri terhadap Total Asset
Untuk memperoleh rasio antara modal sendiri terhadap total asset dengan membandingkan komponen tersebut dan ditetapkan sebagai berikut:
(1) Untuk rasio antara modal sendiri dengan total asset lebih kecil atau sama dengan 0% diberikan nilai 0.
(2) Untuk setiap kenaikan rasio 4% mulai dari 0% nilai ditambah 5 dengan maksimum nilai 100.
(3) Untuk rasio lebih besar dari 60% sampai rasio 100% setiap kenaikan rasio 4% nilai dikurangi 5.
(4) Nilai dikalikan bobot sebesar 6% diperoleh skor permodalan.
30
Tabel 1. Standar Perhitungan Rasio Modal Sendiri terhadap Total Aset
Rasio Modal
(%) Nilai Bobot
(%) Skor
0 0 0
1 - 20 25 6 1.50
21 - 40 50 6 3.00
41 - 60 100 6 6,00
61 - 80 50 6 3.00
81 - 100 25 6 1,50
Sumber:Perdep No. 06/Per/Dep.6/VI/2016
b) Rasio Modal Sendiri terhadap Pinjaman Diberikan yang Berisiko Untuk memperoleh rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang berisiko adalah dengan membandingkan kedua komponen tersebut dan ditetapkan sebagai berikut:
(1) Untuk rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang berisiko lebih kecil atau sama dengan 0% diberi nilai 0.
(2) Untuk setiap kenaikan rasio 1% mulai dari 0% nilai ditambah 1 dengan nilai maksimum 100.
(3) Nilai dikalikan bobot sebesar 6%, maka diperoleh skor permodalan.
31
Tabel 2. Standar Perhitungan Rasio Modal Sendiri terhadap Pinjaman Diberikan yang Berisiko Rasio Modal
(dinilai dalam %) Nilai
Bobot (dinilai dalam %)
Skor
0 0 0
1 - 10 0 6 0,6
11 - 20 10 6 1,2
21 - 30 20 6 1,8
31 - 40 30 6 2,4
41 - 50 40 6 3,0
51 - 60 50 6 3,6
61 - 70 60 6 4,2
71 - 80 70 6 4,8
81 - 90 80 6 5,4
91- 100 90 6 6,0
Sumber: Perdep No. 06/Per/Dep.6/VI/2016 c) Rasio Kecukupan Modal Sendiri
(1) Rasio kecukupan modal sendiri yaitu perbandingan antara Modal Sendiri Tertimbang dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dikalikan dengan 100%.
(2) Modal tertimbang adalah jumlah dari hasil kali setiap komponen modal KSP/USP koperasi yang terdapat pada neraca dengan bobot pengakuan risiko.
(3) ATMR adalah jumlah dari hasil kali setiap komponen aktiva KSP dan USP Koperasi yang terdapat pada neraca dengan bobot pengakuan risiko.
(4) Menghitung nilai ATMR dilakukan dengan cara menjumlahkan hasil perkalian nilai nominal aktiva yang ada dalam neraca dengan bobot risiko masing-masing komponen aktiva.
32
(5) Rasio kecukupan modal sendiri dapat dihitung/diperoleh dengan cara membandingkan nilai modal tertimbang dengan nilai ATMR dikalikan dengan 100%.
Tabel 3.Standar Perhitungan Rasio Kecukupan Modal Sendiri Rasio
Modal (%) Nilai Bobot (%) Skor
< 4 0 3 0,00
4 < X < 6 50 3 1.50
6 < X < 8 75 3 2.25
> 8 100 3 3.00
Sumber: Perdep No. 06/Per/Dep.6/VI/2016 2) Kualitas Aktiva Produktif
Aktiva produktif merupakan kekayaan koperasi yang mendatangkan penghasilan bagi koperasi. Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif didasarkan pada 4 (empat) rasio, yaitu:
a) Rasio Volume Pinjaman pada Anggota Terhadap Total Volume
Pinjaman Diberikan Untuk mengukur rasio antara volume pinjaman kepada anggota terhadap total volume pinjaman ditetapkan berikut :
Tabel 4. Standar Perhitungan Rasio Volume Pinjaman pada Anggota terhadap Total Pinjaman Diberikan Rasio
(%) Nilai Bobot
(%) Skor
≤ 25 26 - 50 51 - 75
> 75
0 50 75 100
10 10 10 10
0,00 5,00 7,50 10,00 Sumber: Perdep No.06/Per/Dep.6/VI/2016
33
b) Rasio Risiko Pinjaman Bermasalah Terhadap Pinjaman Diberikan
Untuk memperoleh rasio risiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan, ditetapkan sebagai berikut:
(1) Menghitung perkiraan besarnya risiko pinjaman bermasalah (RPM) sebagai berikut:
(a) 50% dari pinjaman diberikan yang kurang lancar (PKL) (b) 75% dari pinjaman diberikan yang diragukan (PDR) (c) 100% dari pinjaman diberikan yang macet (Pm)
(2) Hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan pinjaman yang disalurkan.
RPM= (50% x PKL)+(75% x PDR)+(100% x Pm) Pinjaman yang diberikan
Perhitungan penilaian:
(a) Untuk rasio 45% atau lebih diberi nilai 0
(b) Untuk setiap penurunan rasio 1% dari 45 % nilai ditambah 2 dengan maksimum nilai 100
(c) Nilai dikalikan dengan bobot 5% diperoleh skor
34
Tabel 5. Standar Perhitungan RPM Rasio
(%) Nilai Bobot
(%) Skor
≥ 45 40 < x <45 30 < x ≤ 40 20 < x ≤30 10< x ≤ 20 0< x ≤ 10
0
0 10 20 40 60 80 100
5 5 5 5 5 5
0 0,5 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 Sumber: Perdep No.06/Per/Dep.6/VI/2016
c) Rasio Cadangan Risiko terhadap Risiko Pinjaman Bermasalah Dihitung dengan Cara sebagai berikut:
(1) Untuk rasio 0%, berarti tidak mempunyai cadangan penghapusan diberi nilai 0
(2) Untuk setiap kenaikan 1% mulai dari 0%, nilai ditambah 1 sampai dengan maksimum 100 dan
(3) Nilai dikalikan bobot sebesar 5% diperoleh skor penilaian.
Tabel 6. Standar Perhitungan Rasio Cadangan Risiko terhadap Risiko Pinjaman Bermasalah
Sumber: Perdep No.06/Per/Dep.6/VI/2016
Rasio (%) Nilai Bobot (%) Skor
0 0 5 0
1-10 10 5 0,5
11-20 20 5 1,0
21-20 30 5 1,5
31-30 40 5 2,0
41-40 50 5 2,5
51-60 60 5 3,0
61-70 70 5 3,5
71-80 80 5 4,0
81-90 90 5 4,5
91-100 100 5 5,0
35
d) Rasio Pinjaman yang Berisiko terhadap Pinjaman yang Diberikan
Rasio pinjaman yang berisiko terhadap pinjaman yang diberikan diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 7. Standar Perhitungan Rasio Pinjaman Berisiko Rasio (%) Nilai Bobot (%) Skor
> 30 26-30 21 -25
< 21
0 10 20 40
5 5 5 5
1,25 2,50 3,75 5,00 Sumber: Perdep No.06/Per/Dep.6/VI/2016