Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (6.131) (7.420) (8.129) 21,0 9,5
Kredit yang Diberikan – Bersih 170.526 170.117 172.035 (0,2) 1,1
Aset Tetap – Bersih 2.485 3.362 6.752 35,3 100,8
Aset lain-lain – Bersih 12.223 12.248 12.058 0,2 (1,6)
Total Aset 233.162 238.849 241.572 2,4 1,1
Giro 39.224 40.444 44.598 3,1 10,3
Tabungan 39.166 43.123 47.211 10,1 9,5
Deposito 96.332 94.966 88.763 (1,4) (6,5)
Total Simpanan dari Nasabah 174.723 178.533 180.571 2,2 1,1
Simpanan dari Bank Lain 2.067 5.654 4.557 173,6 (19,4)
Efek-efek yang diterbitkan dan Pinjaman Subordinasi
8.774 9.443 6.387 7,6 (32,4)
Pinjaman yang diterima 8.815 6.685 5.436 (24,2) (18,7)
Liabilitas lain-lain 10.337 9.855 10.413 (4,7) 5,7
Total Liabilitas 204.715 210.170 207.364 2,7 (1,3)
Total Ekuitas 28.448 28.679 34.208 0,8 19,3
Total Liabilitas dan Ekuitas 233.162 238.849 241.572 2,4 1,1
Sampai dengan akhir tahun 2016, Perusahaan mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 1,1% dengan total Rp241,6 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2015: Rp238,8 triliun). Peningkatan aset di tahun 2016 terutama karena peningkatan aset tetap sebesar Rp3,4 triliun atau meningkat 100,8%
dibandingkan tahun 2015. Selain Itu, pertumbuhan aset tersebut juga didorong oleh peningkatan kredit sebesar Rp2,6 triliun atau meningkat sebesar 1,5%
pada tahun 2016. Efek-efek dan obligasi pemerintah juga meningkat sebesar Rp2,0 triliun atau meningkat 7,8% dibandingkan tahun 2015. Pertumbuhan aset tersebut memperkokoh Perusahaan sebagai bank ke-5 terbesar di Indonesia dari sisi aset. Perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan dana dari simpanan nasabah sebesar Rp2,0 triliun atau tumbuh 1,1%
dibandingkan tahun sebelumnya dengan deposito sebagai penyumbang terbesar yaitu 49,2% dari total simpanan dari nasabah di tahun 2016.
Kredit
Pada tahun 2016, jumlah kredit yang diberikan oleh Perusahaan – kotor mencapai Rp180,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat sebesar 1,5%
dibandingkan dengan pencapaian di tahun 2015 yaitu sebesar Rp177,5 triliun. Peningkatan kredit yang cukup konservatif ini sejalan dengan strategi Perusahan untuk selalu mengedepankan kualitas kredit dalam pemberian kredit, sehingga menekan laju pertumbuhan kredit yang berkualitas buruk.
Disamping itu untuk meningkatkan pertumbuhan kredit, Perusahaan juga melakukan ekspansi kredit melalui inovasi produk-produk baru yang lebih kompetitif, menawarkan kredit dengan tingkat bunga yang kompetitif dan juga beberapa strategi pemasaran kredit lainnya. Pencapaian pertumbuhan kredit ini tetap menempatkan Perusahaan sebagai bank terbesar ke-5 dari sisi pemberian kredit.
Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang
Selama tahun 2016, komposisi kredit yang disalurkan dalam mata uang Rupiah dan mata uang asing adalah masing-masing sebesar 86,1% dan 13,9%
atau mengalami perubahan komposisi apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2015:
Rupiah 85,7% dan mata uang asing 14,3%). Kredit dalam mata uang Rupiah tercatat sebesar Rp155,1 triliun atau meningkat sebesar 1,9% dibandingkan tahun sebelumnya (2015: Rp152,1 triliun). Sedangkan untuk kredit dalam mata uang asing tercatat sebesar Rp25,1 triliun atau menurun sebesar 1,3% (2015:
Rp25,4 triliun). Fokus pada peningkatan kredit Rupiah dan penurunan kredit valas sebagai salah satu manajemen risiko seiring dengan tren pelemahan nilai tukar Rupiah selama tahun 2016.
Tinjauan Kinerja Keuangan
Komposisi Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang (%)
86,1 % 13,9 %
85,7 % 14,3 %
81,2%
18,8%
2014 2015 2016
Valas Rupiah
Seperti telihat dalam tabel Kredit berdasarkan Jenis Mata Uang dan Suku Bunga Rata-rata, suku bunga rata-rata kredit berdenominasi Rupiah untuk tahun 2016 tercatat sebesar 11,7% turun dari 12,6% di tahun 2015. Penurunan suku bunga kredit Perusahaan ditujukan agar Perusahaan dapat memberikan tingkat suku bunga yang lebih kompetitif juga sejalan dengan tingkat suku bunga acuan yang ditetapkan BI 12 bulan. Selama tahun 2016 suku bunga acuan BI 12 bulan mengalami penurunan hingga 150 basis poin menjadi 6,0% pada akhir 2016 dibandingkan dengan 7,5% pada akhir 2015.
Rincian Kredit berdasarkan Jenis Mata Uang dan Suku Bunga Rata-rata
Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang dan Suku Bunga Rata-Rata
Rp triliun 2014 2015 2016 Perubahan (%)
2014-2015 2015-2016
Rupiah 143,4 152,1 155,1 6,1 1,9
Suku Bunga Rata-rata (%) 12,8 12,6 11,7 (0,2) (0,9)
Valas 33,3 25,4 25,1 (23,7) (1,3)
Suku Bunga Rata-rata (%) 5,6 4,6 4,6 (1,0) (0,1)
Total 176,7 177,5 180,2 0,5 1,5
Kredit Berdasarkan Geografis
Berdasarkan wilayah penyebarannya, distribusi penyaluran kredit Perusahaan terbesar terdapat di pulau Jawa dengan porsi penyaluran kredit sebesar 85,0% terhadap total kredit yang diberikan Perusahaan selama tahun 2016 dengan area Jakarta sebagai wilayah dengan kontribusi terbesar mencapai 64,5%, diikuti oleh daerah Jawa Timur dengan jumlah presentase penyaluran kredit sebesar 10,1%.
Komposisi Kredit Berdasarkan Geografis (%)
Jakarta Jawa Timur Sumatera Jawa Tengah Jawa Barat Indonesia Timur Lainnya
64,5% 10,1%
8,1% 5,8%
4,5%3,3%3,7%
Rincian Kredit Berdasarkan Geografis
Kredit Berdasarkan Geografis
Rp triliun 2014 2015 2016 Perubahan (%)
2014-2015 2015-2016
Jakarta 108,4 108,4 116,2 0,1 7,2
Jawa Timur 17,6 18,8 18,2 6,8 (3,2)
Sumatera 16,3 14,6 14,5 (10,1) (0,7)
Jawa Tengah 11,8 12,4 10,5 5,3 (15,6)
Jawa Barat 10,6 9,5 8,2 (10,8) (13,8)
Indonesia Timur 4,7 6,9 5,9 47,9 (14,4)
Lainnya 7,3 6,8 6,6 (6,5) (3,3)
Total 176,7 177,5 180,2 0,5 1,5
Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaannya
Tercatat penyaluran kredit modal kerja Perusahaan selama tahun 2016 mencapai Rp85,2 triliun atau menurun 3,1% apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2015: Rp87,9 triliun), dan untuk kredit investasi mencapai Rp48,5 triliun atau meningkat 8,0% apabila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar Rp44,9 triliun. Sedangkan untuk kredit konsumsi meningkat 3,8% menjadi Rp46,5 triliun (2015: Rp44,7 triliun).
Kredit modal kerja memberikan kontribusi terbesar terhadap total kredit yang diberikan Perusahaan selama tahun 2016 yaitu sebesar 47,3%, kemudian diikuti oleh kredit investasi dengan kontribusi 26,9%
dan kredit konsumsi menyumbangkan 25,8% dari total kredit Perusahaan.
Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan (Rp triliun)
Konsumsi Investasi Modal Kerja
Total
48,9% 49,5% 47,3%
26,7% 25,3% 26,9%
24,3% 25,2% 25,8%
176,7 177,5 180,2
Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi
Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kontribusi terbesar berasal dari sektor perindustrian 20,4% (2015: 19,3%), diikuti oleh sektor perdagangan, restoran, hotel dan administrasi sebesar 20,2% (2015: 20,0%) dan sektor jasa usaha sebesar 16,2% (2015: 15,1%).
Komposisi Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi (%)
Perindustrian
Perdagangan, restoran, hotel dan administrasi Jasa usaha
Perumahan Konsumsi Pertanian Lainnya
20,4%
20,2% 16,2%
13,0% 12,2
7,4% 10,7%
Rincian Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi
Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi
Rp triliun 2014 2015 2016 Perubahan (%)
2014-2015 2015-2016
Perindustrian 29,5 34,3 36,7 15,9 7,3
Perdagangan, restoran, hotel, dan administrasi 38,2 35,6 36,4 (6,9) 2,4
Jasa usaha 28,0 26,7 29,1 (4,6) 9,0
Perumahan 22,5 23,6 23,3 4,9 (1,0)
Konsumsi 19,9 20,0 21,9 0,2 9,7
Pertanian 16,5 15,9 13,3 (3,4) (16,4)
Lainnya 22,0 21,5 19,3 (2,3) (10,2)
Total 176,7 177,5 180,2 0,5 1,5
Kredit Berdasarkan Segmentasi
Berdasarkan segmentasi usaha, perbankan korporasi yang mewakili 33,9% dari total kredit yang disalurkan oleh Perusahaan tumbuh 7,1% menjadi Rp61,0 triliun di tahun 2016 dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp56,9 triliun. Diikuti oleh perbankan konsumer yang memberikan kontribusi terhadap total kredit Perusahaan 28,5% yang menurun sebesar 1,4%
menjadi Rp51,4 triliun (2015: Rp52,2 triliun).
Tinjauan Kinerja Keuangan
Komposisi Kredit Berdasarkan Segmentasi (%)
Perbankan Korporasi Perbankan Komersial Perbankan UMKM Perbankan Konsumer
33,9%
18,4% 19,2%
28,5%
Rincian Kredit berdasarkan Segmentasi
Kredit berdasarkan Segmentasi*
Rp triliun 2014 2015 2016 Perubahan (%)
2014-2015 2015-2016
Perbankan Korporasi 55,4 56,9 61,0 2,7 7,1
Perbankan Komersial 36,1 34,2 33,2 (5,1) (3,0)
Perbankan UMKM 34,9 34,2 34,5 (2,0) 1,0
Perbankan Konsumer 50,3 52,2 51,4 3,8 (1,4)
Total 176,7 177,5 180,2 0,5 1,5
* Termasuk alokasi Syariah
Perbankan Korporasi mengalami pertumbuhan sebesar 7,1% pada 2016 menjadi Rp61,0 triliun (2015:
Rp56,9 triliun) dengan kontribusi sebesar 33,9% dari seluruh portofolio kredit, diikuti dengan perbankan UMKM yang tumbuh sebesar 1,0% menjadi Rp34,5 triliun dibandingkan tahun sebelumnya (2015: Rp34,2 triliun) dengan kontribusi sebesar 19,2% dari seluruh portofolio kredit.
Kredit Bermasalah
sektor ekonomi khususnya pada sektor yang terkait dengan pertambangan. Sampai dengan akhir tahun 2016, tercatat rasio kredit bermasalah pada sektor pertambangan meningkat sebesar 3,0% menjadi 7,2% (2015: 4,1%). Penurunan kualitas kredit pada sektor pertambangan juga diikuti oleh penurunan kualitas kredit sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi yang meningkat sebesar 1,0% menjadi sebesar 4,8% (2015: 3,8%) dan sektor perindustrian yang mencapai 3,4% atau meningkat sebesar 0,9%
Rasio NPL Industri (%)
Total Industri Perindustrian Pertambangan Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi
2014 2015 2016
2,2
2,5
3,4
1,9
2,5
2,9
2,5
4,1
7,2
3,2 3,8 4,8
Penurunan kualitas kredit pada beberapa sektor ekonomi tersebut secara langsung berdampak pada kualitas kredit yang diberikan oleh Perusahaan. Total kredit bermasalah (non performing loan atau NPL) mengalami peningkatan sebesar Rp0,3 triliun menjadi Rp6,9 triliun di tahun 2016 (2015: Rp6,6 triliun). Hal tersebut berakibat rasio kualitas kredit bermasalah Perusahaan meningkat, sebagaimana ditunjukkan oleh rasio NPL gross sebesar 3,9% di tahun 2016 (2015: 3,7%).
Dari sisi segmentasi usaha, NPL rasio perbankan korporasi membaik dari 4,5% ditahun 2015 menjadi 3,3% di tahun 2016, namun NPL perbankan konsumer dan perbankan komersial mengalami peningkatan masing-masing menjadi sebesar 2,7% (2015: 2,0%) dan 6,8% (2015: 6,0%), diikuti oleh perbankan UMKM sebesar 3,7% (2015: 2,9%).
Rasio NPL (%)
Perbankan Konsumer Total
Perbankan UMKM Perbankan Komersial Perbankan Korporasi
2014 2015 2016
3,9% 3,7% 3,9%
1,7% 2,0% 2,7%
2,4% 2,9% 3,7%
3,3% 6,0% 6,8%
7,3%
4,5% 3,3%
Komposisi Kredit Berdasarkan Segmentasi (%)
Lancar
Dalam perhatian khusus Kurang lancar
Diragukan Macet
89,6% 6,50,6% % 0,3%
3%
Komposisi Kredit Bermasalah Berdasarkan Sektor Ekonomi
Komposisi Kredit Bermasalah Berdasarkan Sektor Ekonomi
2014 2015 2016 Perubahan (%)
Rp miliar % Rp miliar % Rp miliar % 2014-2015 2015-2016 Perdagangan, restoran, hotel, dan administrasi 1.928,2 28,0 1.608,2 24,2 2.132,2 30,8 (16,6) 32,6
Jasa usaha 1.223,4 17,7 1.439,7 21,7 1.524,1 22,0 17,7 5,9
Perindustrian 1.094,3 15,9 1.347,1 20,3 1.494,8 21,6 23,1 11,0
Perumahan 561,4 8,1 531,7 8,0 577,7 8,4 (5,3) 8,6
Konsumsi 263,3 3,8 270,2 4,1 490,5 7,1 2,6 81,5
Pengangkutan, pergudangan, dan komunikasi 493,7 7,2 252,1 3,8 216,3 3,1 (48,9) (14,2)
Pertanian 27,9 0,4 196,0 3,0 215,4 3,1 602,8 9,9
Jasa pelayanan sosial 66,5 1,0 387,6 5,8 158,4 2,3 482,7 (59,1)
Konstruksi 109,4 1,6 354,4 5,3 61,1 0,9 223,9 (82,8)
Pertambangan 920,6 13,4 233,8 3,5 40,2 0,6 (74,6) (82,8)
Listrik, gas dan air 204,2 3,0 14,7 0,2 5,5 0,1 (92,8) (62,5)
Total 6.892,9 100,0 6.635,5 100,0 6.916,0 100,0 (3,7) 4,2
Dari sisi sektor ekonomi, total kredit bermasalah dari sektor perdagangan, restoran dan hotel memberikan kontribusi tertinggi sebesar 30,8% di tahun 2016 (2015:
24,2%) , diikuti oleh sektor jasa usaha sebesar 22,0%
(2015: 21,7%).
Kredit yang Mengalami Penurunan Nilai (Impaired Loan)
Pada tahun 2016, kredit yang mengalami penurunan nilai (impaired loan) mengalami kenaikan sebesar 5,9% menjadi Rp9,4 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2015: Rp8,9 triliun). Hal tersebut menyebabkan rasio kredit yang mengalami penurunan nilai meningkat dari 5,0% di tahun 2015 menjadi 5,2% di tahun 2016.
Tinjauan Kinerja Keuangan
Cadangan kerugian penurunan nilai selama tahun 2016 adalah sebesar Rp8,1 triliun atau meningkat dari tahun sebelumnya (2015: 7,4 triliun).
Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Kredit (Rp miliar)
Saldo Des 15 7.420
Pembentukan cadangan 4.574
Penerimaan kembali kredit 172
Hapus buku (3.896)
Lainnya* (141)
Saldo Dec 16 8.129
* Termasuk selisih kurs karena penjabaran mata uang asing
Asset Quality Committee
Penentuan penurunan nilai kredit yang diberikan tersebut dapat dilakukan secara individual (individual assessment) dan kolektif (collective assessment).
Kredit tidak signifikan OS<15 miliar
Kredit Collective Assessment
Kredit Individual Assessment Kredit signifikan
OS>15 miliar
Ya Ya
Tidak
Tidak Buku Objektif
Penurunan Nilai
Buku Objektif Penurunan
Nilai
Persetujuan Asset Quality
Committee
Collective Assessment dilakukan dengan mengevaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang, tingkat kerugian historis dari kelompok kredit dan periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kecil sampai bukti objektif dapat diidentifikasi. Individual assestment dievaluasi berdasarkan estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (revocable amount). Evaluasi atas Individual Assestment dilakukan setiap bulan dan diputuskan pada Asset Quality Committee.
Asset Quality Committee terdiri dari:
• Sekretaris: Head of Credit Committee Secretariat
& Delegation Authority Holder Management, Financial Accounting & Standards Group Head
• Anggota: Direktur Strategi dan Keuangan, Direktur Perbankan Bisnis, Direktur Perbankan Korporasi, Direktur Perbankan Syariah serta pihak-pihak terkait yang ditunjuk dengan level minimum satu tingkat di bawah direksi.
Tugas dan tanggung jawab Asset Quality Committee adalah memeriksa kualitas aset Perusahaan sehingga tetap sejalan dengan risk appetite Perusahaan secara keseluruhan termasuk di dalamnya adalah
penentuan cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk Perusahaan. Asset Quality Committee ini berjalan efektif untuk dapat meningkatkan kualitas aset dan menekan laju pertumbuhan aset bermasalah.