• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik dan Saran

Dalam dokumen COVER SKRIPZ - Digilib UIN SUKA (Halaman 49-71)

BAB I PENDAHULUAN

B. Kritik dan Saran

1. Kepada ustadz

a) Ustadz sebaiknya menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan materi pengkaderan supaya Kader Ustadz dapat cepat memahami materi- materi yang diajarkan,

b) Ustadz sebaiknya selalu memberikan motivasi atau dorongan dan pendekatan pada kader ustadz ketika acara pengajian dengan tujuan supaya kader ustadz dapat lebih meningkatkan kemampuan mereka dengan muthola’ah (menelaah) sehingga prestasi belajar kader lebih baik.

2. Kepada santri ustadz

a). Kader ustadz sebaiknya tetap semangat belajar, mempelajari kitab-kitab kuning karya ulama salaf maupun kontemporer sehingga menjadi Kader

Ustadz yang kredibel dan kompeten dapat terwujud yaitu dapat menguasai dan mengajarkan ilmunya sekaligus mengamalkannya.

b) Kader Ustadz sebaiknya bermuhasabah dan menyadari akan pentingnya mempelajari kitab kuning, apabila Kader Ustadz sudah menguasai ilmu alat/tata bahasa arab maka Kader Ustadz pasti akan dengan mudah mengkaji kitab/referensi berbahasa arab, selain itu juga supaya wawasan santri bertambah luas.

c) Kader Ustadz sebaiknya mampu mengkontekstualisasikan kandungan kitab-kitab berbahasa arab untuk menjawab berbagai problematika yang terjadi saat ini dan masa yang akan datang.

C. Kata Penutup

Alhamdulillah, rasa syukur kepada sang Khaliq yang telah melimpahkan kasih dan sayang–Nya, sehingga dengan semangat yang ada penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Meskipun penyusunan skripsi ini telah penulis usahakan semaksimal mungkin untuk menghasilkan skripsi yang baik, namun penulis yakin masih banyak terdapat kekurangan untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan dalam rangka menyempurnakan skripsi ini. Semoga kesederhanaan skripsi dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan pembaca

pada umumnya. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Penyusun hanya dapat mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Rasa terima kasih dan doa penyusun ucapkan kepada orang tua dan keluarga yang tidak henti- hentinya memberikan dorongan, doa, dan semangat.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga Allah SWT. senantiasa bersama kita dan meridhoi dalam setiap langkah kita, amin.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Muiz Kabry, Kerangka Pendidikan Kader Kepemimpinan Islam, Bandung; Al Ma’arif, 1988.

Abu Ahmad, Joko Prasetiyo, Strategi Belajar Mengajar untuk fak. Tarbiyah komponen MKOK, Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Aunur Rohim Fakeh dan Iip Wijayanto, Kepemimpinan Islam, Yogyakarta; UII Press, 2001.

Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.

Depag RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, Jakarta: 2003.

Ferdi Tjiptono, Strategi Pemasaran, Yogyakarta: Andi, 2000.

Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, Yogyakarta; Gadjah Mada University Press, 1993.

Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya; Kartika, 1997.

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.

Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta : PT. Hidakarya Agung, 1990.

Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, Yogyakarta : Global Pustaka Utama, 2001.

Masruri, Moralitas Pesantren Meneguk Kearifan dari Telaga Kehidupan, Yogyakarta:

Safiria Indonesia Press, 2004.

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta: INIS, 1994.

Mohammad Djasman, Muhammadiyah Peran Kader dan Pembinaanya, Surakarta;

Muhammadiyah University Press, 1989.

Mukti Ali, Beberapa persoalan Agama Dewasa Ini, Jakarta: Rajawali Press, Cet. I, 1987.

M. Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global, Jakarta: IRD PRESS, 2004.

M. Sulthon Masyhud, dkk, Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta: Diva Pustaka, 2005.

Sutrisno Hadi, Metodologi Research II, Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM,1993.

Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002.

Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002.

S. Nasution M.A., Metode Research (Penelitian Ilmiah), Jakarta: Bumi Aksara, 2000.

S. Pamudji, Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia, Jakarta; Balai Pustaka, 1985.

T. Hani Hondoko, Manajemen, Yogyakarta, BBFE, 1992.

Tim Majelis Pendidikan Kader PP. Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, Yogyakarta; MPK PP Muhammadiyah, 2007.

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran, Al-Quran dan Terjemahan Juz 1 –30, Kitab Suci Al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia (Bandung: CV.

Diponegoro, 2000).

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1994.

Lampiran-Lampiran

Foto-Foto

Gambar 1

Pendampingan dengan metode Bandongan

Gambar 2

Metode Badal/Asistensi yaitu menjadwal Kader Ustadz untuk menggantikan Ustadz yang berhalangan untuk memasuki kelas.

Gambar 3

Pendampingan dengan Metode Sorogan

Gambar 4

Pendampingan dengan Metode Diskusi

Hasil Wawancara dengan Pengasuh PPLQ (Hj. Siti Chamnah) Yang diwakili oleh Gus Nur Kharis (9 Januari 2013) 1. Apa tujuan pendidikan Kader Ustadz?

2. Bagaimana Konsep pendidikan Kader Ustadz?

3. Siapa yang diberikan tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan Kader Ustadz?

4. Bagaimana kebijakan pengasuh dalam menetapkan kriteria kader yang layak untuk ditugaskan sebagai ustadz?

Hasil Wawancara/Jawaban Pengasuh PPLQ

1. Untuk melestarikan kelangsungan sistem pendidikan di PPLQ dengan bekal kader ustadz yang cakap di segala bidang keilmuan Islam sekaligus mampu mendidik dan mengajarkan ilmunya di pesantren maupun di masyarakat.

2. Konsepnya adalah berilmu dan beramal (mengajarkan dan melaksanakan), fikir dan dzikir. Selain memiliki keilmuan juga harus berhati bersih. Untuk membentuk kader yang kompeten maka kurikulum harus berjalan dengan maksimal. Sedangkan untuk membentuk kualitas spiritual yang kokoh ada beberapa upaya yang di ditetapkan, yaitu:

a. Kegiatan membaca Al-Qur’an setiap ba’da maghrib dan sebelum shubuh/setelah sholat tahajjud

b. Kegiatan Mujahadah atau dzikir/wirid dengan melafalkan kalimat- kalimat thoyyibah setiap ba’da maghrib dan sebelum shubuh/setelah sholat tahajjud

c. Kegiatan pembacaan sholawat kitab al-Barzanji dan simthudduror dengan sarana hadroh setiap malam Jum’at.

3. Tanggung jawab sebagai konseptor dan pelaksana adalah Dewan Asatidz.

Sedangkan di wilayah administratif yang berperan adalah Pengurus PPLQ dan MPO. Disamping itu peranan untuk menjembatani pesantren dengan dunia luar/mediator adalah ditugaskan kepada LPM

4. Kriteria Kader yang layak menjadi ustadz di pondok pesantren Al- Luqmaniyyah:

a. Santri berada di jenjang kelas paling atas (takhtim)

b. Santri menguasai nahwu dan shorof sebagai bekal dalam penguasaan tekstual (membaca, memaknai, menterjemah dan menjelaskan teks kitab berbahasa arab)

c. Kader dinilai cakap dan pintar oleh dewan asatidz berdasarkan hasil prestasi sewaktu mengaji kitab di kelas,

d. Kader telah ditetapkan pengasuh sebagai Ustadz walaupun tidak mengaji di PPLQ

Pertanyaan Wawancara dengan Dewan Asatidz (9 Januari 2013)

1. Apa tujuan dari pengkaderan ustadz di PPLQ?

2. Siapa/kelas apa yang di arahkan secara khusus menjadi kader ustadz?

3. Bagaimana strategi pendidikan kader Ustadz ditinjau dari manajemen program dan perencanaan agenda kegiatan yang harus dilaksanakan oleh Kader Ustadz?

4. Kapan dan dimana kegiatan pengkaderan ustadz dilaksanakan ?

5. Bagaimana konstribusi pengurus PPLQ, MPO, dan LPM dalam pengkaderan ustadz?

6. Bagaimana kebijakan pengasuh dalam mengkader Dewan Asatidz?

7. Bagaimana cara Dewan Asatidz mengevaluasi peserta kader ustadz ? (format penilaian terhadap santri ader ustadz)

8. Bagaimana penggunaan teknologi dan sistem komputerisasi dalam pengkaderan ustadz?

9. Bagaimana faktor-faktor pendukung dan upaya memaksimalkannya?

Bagaimana faktor-faktor penghambat dan upaya mengatasinya?

10. Bagaimana kriteria yang menjadi standar bagi santri kader yang layak menjadi ustadz?

Hasil wawancara dengan Ustadz Abbas (9 Januari 2013)

1. Mencetak ustadz untuk mengajar di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah (PPLQ) agar regenerasi Dewan Asatidz berjalan dengan baik.

2. Para santri yang dikader menjadi Dewan Asatidz adalah para santri yang berada di kelas Takhtim

3. Pendidikan kader ustadz diselenggarakan dengan perencanaan yang matang, pengorganisasian kurikulum dan administrasi, bimbingan dan pengawasan terhadap seluruh elemen yang berkait dalam pendidikan kader ustadz.

Disamping itu pengorganisasian kurikulum harus didukung penentuan pengkader dan metode pembelajaran: Sorogan, Bandongan dan Diskusi, Tanya Jawab dan Ceramah.

4. Selama satu tahun di kelas Takhtim dengan kurikulum yang telah ditetapkan.

5. Pengurus PPLQ menindak lanjuti seluruh kebijakan Dewan Asatidz, LPM dan MPO. Sedangkan LPM dan MPO selalu berkoordinasi dengan Dewan Asatidz.

6. Pengasuh menetapkan kriteria standar pengangkatan Dewan Asatidz.

7. A. Evaluasi di lakukan secara berkala dengan ujian semester dikelas Takhtim B. Evaluasi dilakukan dilapangan baik di kelas maupun di masyarakat Berikut ini Format penilaian:

No. Nama Penguasaan materi

Kemampuan Tekstual dan Kontekstualisasi

materi

Kemampuan verbal/Retorika

Hasil evaluasi santri yang di ajar oleh kader

Hasil Evaluasi Kader Asatidz

1.

2 3 4

8. Pesantren menyediakan seperangkat komputer yang dilengkapi perpustakaan referensi kitab-kitab (maktabah syamilah) dan internet.

9. Faktor pendukung dan upaya memaksimalkannya a. Kondisi santri

Mayoritas santri adalah mahasiswa sehingga telah memiliki bekal wawasan yang luas. Pengkader memaksimalkan latar belakang para santri sebagai mahasiswa dengan menekankan kreatifitas santri kader dalam menguasai keilmuan mereka agar dituangkan sacara lisan dalam praktek sebagai pembimbing.

b. Kondisi Dewan Asatidz

Sebagian besar Dewan Asatidz adalah para mahasiswa, alumni bahkan bergelar master dari fakultas yang jurusannya adalah keilmuan Islam dari perguruan tinggi Islam. Upaya pengkader dalam memaksimalkan diri adalah dengan mengkolaborasikan keilmuan pesantren dan keilmuan islam yang didapat di perguruan tinggi islam.

c. Pengurus, LPM dan MPO

Mayoritas pengurus, LPM dan MPO adalah para mahasiswa bahkan alumni dari perguruan tinggi. Upaya pengkader dalam memaksimalkan kondisi ini melakukan koordinasi bersama LPM dan MPO.

Faktor penghambat dan upaya mengatasinya a. Kondisi kader ustadz

Konsentrasi kader ustadz dalam pembelajaran di pesantren bersifat divergen/terpecah karena disamping kader ustadz memiliki tanggung jawab sebagai kader juga tanggung jawab sebagai mahasiswa sehingga semangat belajar di pesantren fluktuatif dan kurang fokus. Upaya

pengkader dalam mengatasi kondisi santri tersebut adalah dengan cara memberikan motivasi, kegiatan dzikir dan wirid/mujahadah setiap selesai sholat maghrib.

b. Kondisi Dewan Asatidz

Metode pembelajaran yang digunakan Dewan Asatidz terkadang kurang sesuai dengan kondisi santri. Upaya yang ditempuh Dewan Asatidz adalah dengan mengadakan koordinasi di dalam internal Dewan Asatidz.

c. Kondisi pengurus, LPM dan MPO

Kurangnya kekompakan pengurus, LPM, MPO dalam menerapkan kebijakan yang mendukung kegiatan belajar mengajar santri, upaya mengatasinya melakukan koordinasi secara intensif oleh pimpinan pengurus, pimpinan LPM, pimpinan MPO disertai pengawasan oleh dewan Asatidz dan Pengasuh.

d. Kondisi sarana dan prasarana

Terbatasnya referensi buku-buku atau kitab-kitab pendukung dan keterbatasan ruang kelas yang ada. Upaya yang ditempuh adalah merencanakan pengembangan fasilitas pendukung.

10. Adapun kriteria yang ditetapkan dalam pelaksanaan kaderisasi ustadz untuk menetapkan Ustadz di pondok pesantren Al-Luqmaniyyah adalah:

a. Kader berada di jenjang kelas paling atas (Takhtim)

b. Kader menguasai nahwu dan shorof sebagai bekal dalam penguasaan tekstual (membaca, memaknai, menterjemah dan menjelaskan teks kitab berbahasa arab),

c. Kader dinilai pandai oleh Dewan Asatidz berdasarkan hasil prestasi d. Kader mempunyai kehendak untuk mengabdi di pesantren,

e. Santri telah ditetapkan Pengasuh dan Dewan Asatidz untuk menjadi ustadz.

Hasil wawancara dengan Ustadz Irfan Antono (9 Januari 2013) 1. Membentuk ustadz untuk mengajar di PPLQ

2. Kelas kaderisasi adalah kelas Takhtim sebagai kelas tertinggi

3. Pendidikan kader ustadz diselenggarakan dengan perencanaan, pengorganisasian kurikulum/administrasi, pengawasan dan evaluasi terhadap seluruh elemen yang berkaitan dalam pendidikan kader ustadz. Sedangkan program kegiatannya adalah tetap mengaji seperti biasa, kader harus melaksanakan pendampingan di kelas, KKN dan bersosialiasi dengan masyarakat

4. Pendidikan kader diselenggarakan Selama satu tahun di kelas Takhtim dengan kurikulum yang telah ditetapkan

5. Pengurus PPLQ adalah sebagai pelaksana kebijakan Dewan Asatidz, LPM dan MPO. Sedangkan LPM dan MPO berada dalam koordinasi Dewan Asatidz. Jadi Dewan Asatidz berperan sebagai koordinator bagi LPM Dan MPO

6. Pengasuh memberikan arahan mengenai berbagai usulan kebijakan LPM, MPO, Pengurus dan Dewan Asatidz dalam penyelenggaraan Pendidikan Kader Ustadz serta menetapkan kriteria yang menjadi standar untuk mengangkat Dewan Asatidz yang ditetapkan dari kader.

7. A. Evaluasi di lakukan secara berkala dengan ujian semester dikelas Takhtim B. Evaluasi dilakukan dilapangan baik di kelas maupun di masyarakat Berikut ini Format penilaiannya:

No. Nama Penguasaan materi

Kemampuan Tekstual Kontekstualisasi materi

Kemampuan verbal/Retorika

Hasil evaluasi kader 1.

2 3 4

8. Terdapat seperangkat komputer yang dilengkapi perpustakaan referensi kitab- kitab (Maktabah Syamilah) dan internet.

9. Faktor pendukung dan upaya memaksimalkannya a. Kondisi santri

Pelaksanaan pengkaderan yang maksimal dimana santri selalu belajar dan melaksanakan seluruh program pengkaderan dengan maksimal dan penuh tanggug jawab. Upaya yang ditempuh Dewan Asatidz adalah selalu memantau penyelenggaraan Pendidikan Kader Ustadz dengan memberikan instruksi kepada pengurus PPLQ dan berkoordinasi dengan LPM dan MPO.

b. Kondisi Dewan Asatidz

Beberapa Ustadz adalah alumni pondok pesantren lain yang memiliki bobot keilmuan yang tidak diragukan dan tidak pernah mengenyam pendidikan di PPLQ. Upaya Dewan Asatidz dalam memaksimalkan kondisi ini adalah dengan memberikan arahan tentang sistem pendidikan dan pengajaran di PPLQ.

c. Pengurus, LPM dan MPO

Mayoritas pengurus, LPM dan MPO adalah para mahasiswa bahkan alumni dari perguruan tinggi. Upaya pengkader dalam memaksimalkan kondisi ini adalah dengan melakukan koordinasi bersama LPM dan MPO.

Faktor penghambat dan upaya mengatasinya a. Kondisi kader ustadz

Kader ustadz yang diproyeksikan sebagai ustadz di PPLQ terkadang tidak dapat memenuhi kebijakan tersebut dikarenakan kendala pribadinya

untuk segera keluar dari pesantren. Upaya yang ditempuh untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menetapkan/mengangkat ustadz dari kader ustadz yang memiliki kesiapan dan berkesempatan untuk tetap tinggal di pesantren walaupun telah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.

b. Kondisi Dewan Asatidz

Dewan Asatidz mempunyai kendala yang bersifat pribadi sehingga memaksa mereka untuk keluar dari pesantren. Upaya mengatasinya adalah dengan .

c. Kondisi pengurus, LPM dan MPO

Kurangnya kekompakan pengurus, LPM, MPO dalam menerapkan kebijakan yang mendukung kegiatan belajar mengajar santri, upaya mengatasinya adalah melakukan koordinasi secara intensif oleh pimpinan pengurus, pimpinan LPM, pimpinan MPO disertai pengawasan oleh Dewan Asatidz dan Pengasuh.

d. Kondisi sarana dan prasarana

Terbatasnya referensi buku-buku atau kitab-kitab pendukung dan keterbatasan ruang kelas yang ada. Upaya yang ditempuh adalah merencanakan pengembangan fasilitas baik fasilitas primer maupun fasilitas pendukung.

10. Adapun kriteria yang ditetapkan dalam pelaksanaan kaderisasi ustadz untuk menetapkan kader yang diperkenankan mengajar di Pondok Pesantren Al- Luqmaniyyah adalah:

a. Santri berada di jenjang kelas paling atas (Takhtim)

b. Santri menguasai nahwu dan shorof yang nantinya akan memudahkan dalam memaknai dan membaca kitab,

c. Santri mempunyai kehendak untuk mengabdi di pesantren

d. Santri dinilai cakap dan pintar oleh Dewan Asatidz berdasarkan hasil prestasi sewaktu mengaji kitab di kelas,

e. Santri telah mendapat izin dari Dewan Asatidz untuk membimbing kelas dibawahnya (terutama ketika diskusi ahad sore dan selasa malam) sebagai strategi pendidikan kader ustadz.

Hasil Wawancara dengan Ustadz Burhan (9 Januari 2013) 1. Mempersiapkan generasi ustadz agar menjadi ustadz yang kompeten 2. Di mulai dari Kelas Alfiyah 2

3. Manajemennya di lakukan dengan baik dengan mengacu pada fungsi-fungsi manajemennya yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.

4. Ketika mengaji (pengajian kitab selama setahun), di pondok, di masjid.

5. Pengurus PPLQ bertanggung jawab dalam hal operasional dan administrasi, sedangkan LPM dan MPO berkoordinasi dengan Dewan Asatidz.

6. Memilih dan menetapkan kader ustadz yang sesuai dengan tujuan dan visi misi PPLQ.

7. Evaluasi di lakukan lewat ujian semester dikelas Takhtim, Evaluasi dilakukan dilapangan baik di kelas maupun di masyarakat

8. Terdapat seperangkat komputer yang dilengkapi perpustakaan referensi kitab- kitab (Maktabah Syamilah) dan internet.

9.

10. Penguasaan materi kitab, kapasitas keilmuan harus mumpuni.

Hasil Wawancara dengan Ketua Dewan Asatidz: Ustadz Syamsul Huda (9 Januari 2013)

1. Mewujudkan regenerasi ustadz yang berkualitas 2. Kelas Takhtim selama satu tahun

3. Program Perencanaan: a. Praktek ngajar/pendampingan di kelas bawahnya b. KKN c. Terjun di masyarakat. Metode pembelajaran seperti pada umumnya. Mengenai manajemen terdiri dari perencanaan, pengorganisasian kurikulum dan adminstrasi, pemantauan dan evaluasi.

4. Mengenai jadwal pengkaderan itu telah ditentukan dalam kurikulum, sementara tempat dan ruangan yang digunakan dikoordinasi oleh MPO dan ditindaklanjuti oleh pengurus PPLQ. Dewan Asatidz hanya memberikan arahan agar secara teknis Pendidikan Kader Ustadz berjalan dengan lancar.

5. Kontribusi dalam hal operasional bukan pada konten pengkaderan

6. Pengasuh memberikan amanat dengan kepercayaan secara penuh dalam kebijakan Dewan Asatidz, pengasuh hanya memantau dan memberikan arahan.

7. Evaluasi berdasarkan kesepakatan Dewan Asatidz

8. Mayoritas kader adalah mahasiswa jadi mereka telah memiliki bekal dalam hal teknologi, bila sarana teknologi di pesantren lengkap maka kader akan mampu mengakses

9. Para kader adalah mayoritas mahasiswa dan ada juga yang merupakan alumnus pondok pesantren lainnya sehingga akan mempermudah proses kaderisasi. Namun terkadang kader juga kurang fokus memperdalam keilmuan di pesantren karena konsentrasinya terbagi. Mengenai upaya memaksimalkan faktor pendukung dan mengatasi hambatan itu dengan

mengadakan koordinasi dengan seluruh elemen yang terkait baik pengurus PPLQ, LPM, MPO dan terutama Dewan Asatidz.

10. Kader yang dinilai cakap mengemban tugas sebagai ustadz dan loyal terhadap pesantren. Kriteria pokok telah ditetapkan oleh pengasuh dan ustadz-ustadz senior seperti ustadz Abbas dan Ustadz Irfan.

Hasil Wawancara dengan Ketua LPM: Abdul Rozak (9 Januari 2013)

1. Apa itu LPM dan sejauh mana wilayah tugas dan fungsinya?

LPM itu kependekan dari Lembaga Pengabdian Masyarakat. LPM memiliki tanggung jawab, tugas dan fungsinya sebagai berikut

a. Melakukan bakti sosial di tengah masyarakat

b. Menjadi mediator antara pesantren dan masyarakat berkenaan aspirasi masyarakat terhadap pesantren

c. Melaksanakan pengembangan Islam di masyarakat

2. Bagaimana kebijakan dan kontribusi LPM dalam Pendidikan Kader Ustadz di PPLQ?

LPM berperan secara teknis dalam pendidikan Kader Ustadz. LPM menjadi panitia dan pengawas dalam proses penerjunan Kader Ustadz di tengah masyarakat untuk menertibkan jalannya pendidikan Kader Ustadz walaupun secara konseptual Dewan Asatidz yang memiliki peranan dalam Pendidikan Kader.

3. Bagaimana konsolidasi LPM dengan Dewan Asatidz dalam hal Pendidikan Kader Ustdaz?

LPM itu di bawah koordinasi Dewan Asatidz dalam hal pelaksanaan Pendidikan Kader Ustadz dengan cara penerjunan Kader Ustadz di tengah masyarakat. Disamping itu LPM bertanggung jawab secara teknis dan senentiasa melakukan pengawasan dan penertiban dalam penerjunan Kader Ustadz.

Hasil Wawancara dengan Ketua Pengurus/Lurah PPLQ: Syukron (9 Januari 2013)

1. Apa tugas dan fungsi pengurus PPLQ?

Pengurus memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pelaksana seluruh kebijakan Pengasuh, Dewan Asatidz, LPM dan MPO.

2. Bagaimana kebijakan dan wilayah kerja Pengurus PPLQ dalam penyelenggaraan pendidikan kader?

Menentukan/menyediakan sarana prasarana atas koordinasi Dewan Asatidz dan MPO ditindaklanjuti Pengurus PPLQ. Adapun sarana dan prasarana tersebut antara lain: Ruang kelas Takhtim, Mushola, meja, taplak, perangkat sound sistem dan mic. Fasilitas lain yang tersedia juga harus mendukung dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan: kertas, spidol, white board.

Selain itu terdapat sarana tata usaha atau humas yang secara tidak langsung berfungsi sebagai sarana penunjang dalam kegiatan pengkaderan ustadz sekaligus sebagai sarana administrasi seperti pembuatan daftar hadir atau buku absensi dan lain-lain. Ini adalah kontribusi dari pengurus PPLQ

3. Bagaimana kebijakan LPM dalam menempatkan ruang/lokasi pelaksanaan Pendidikan Kader Ustadz?

Pelaksanaan kader ustadz di fokuskan di ruang kelas Takhtim dan Musholla PPLQ. Sedangkan untuk pengembangan potensi kemasyarakatan difokuskan di beberapa mesjid sekitar pesantren yang telah bekerjasama dengan pihak pesantren.

Hasil Wawancara dengan Ketua Majlis Pertimbangan Organisasi (MPO)

M. Kholid Mawardi Irma (9 Januari 2013)

Dalam dokumen COVER SKRIPZ - Digilib UIN SUKA (Halaman 49-71)

Dokumen terkait