BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kerangka Pikir
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan harus memiliki kualifikasi minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah, dan atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah, maka keberadaan pendidik dan tenaga kependidikan sangat mutlak. Dua unsur tersebut saling mendukung satu sama lain. Tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah adalah mereka yang memiliki kualiflkasi akademik sebagai pendidik, pengelola, dan tenaga penunjang pendidikan. Djaali (2012) berpendapat bahwa pendidik memiliki kewajiban melakukan perencanaan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran, sehingga pendidik harus selalu dinamis dalam mengembangkan desain, metodologi, maupun sistem evaluasi pembelajaran. Pengelola sekolah sebagai salah satu unsure tenaga kependidikan bertugas mengelola dan memimpin tenaga pendidik dan tenaga penunjang di sekolah. Tenaga penunjang sekolah adalah mereka yang bertugas mendukung penyelenggaraan proses pembelajaran di sekolah.
Tenaga kependidikan antara lain meliputi guru, konselor, kepala sekolah dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya. Tenaga kependidikan sekolah
secara umum bertugas melaksanakan perencanaan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan, pengelolaan, penilaian, pengawasan, pelayanan teknis dan kepustakaan, penelitian dan pengembangan hal-hal praktis yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tenaga kependidikan merupakan komponen utama sebuah sekolah sementara sekolah hanyalah wadah sebuah sistem pendidikan, sehingga tenaga kependidikan merupakan kunci keberhasilan bagi pengembangan kualitas sekolah secara berkelanjutan (Delors, 2011).
Oleh karena itu, pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Gambar 2.1 Bagan kerangka pikir Tindakan urgen
pemerintah
Kinerja guru tanpa kualifikasi sarjana Faktor - faktor penyebab
keberadaan guru tanpa kualifikasi sarjana
Problematika Profesi Guru di Indonesia
Standar Sistem Pendidikan
46
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriftif dengan dasar penelitian studi kasus. Kualitatif yang dimaksud adalah suatu proses kegiatan penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi objektif di lapangan, tanpa adanya manipulasi atau rekayasa. Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah bersifat deskriptif dimana data yang di kumpulkan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka.
Metode ini dipilih oleh peneliti untuk mengungkapkan kesesuaian antara mata pelajaran yang diajarkan dengan latar belakang pendidikan guru SDI Baopukang yang belum memiliki kualifikasi pendidikan sarjana dan juga bagaimana argumen/tanggapan masyarakat mengenai perihal masalah yang akan diteliti.
Studi kasus yang dimaksud adalah strategi riset penelaan (penelitian) empiris yang menyelidiki suatu gejala dalam latar kehidupan nyata. Strategi ini dapat menyertakan bukti kualitatif yang berdasar pada berbagai sumber. Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuan untuk memperoleh deskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah identitas.
Studi kasus (case study) merupakan satu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem”.Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan
tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang dearahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Kasus sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk mempeoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kasus lainnya. Dalam studi kasus digunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan studi dokumenter, tetapi semuanya difokuskan kearah mendapatkan kesatuan dan kesimpulan.
B. Lokus Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SDI Baopukang kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, NTT. Adapun alasan memilih lokasi tersebut, karena secara langsung dengan pertimbangan SDI Baopukang merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar yang banyak memiliki guru-guru tanpa kualifikasi sarjana.
C. Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah para guru dan siswa serta orang tua wali murid di SDI Baopukang. Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling atau judgmental sampling). Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, dimana peneliti cenderung memiliki responden secara variatif berdasarkan (alasan), sehingga dalam penelitian ini menggunakan maximum variation sampling.
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitian yang dilakukan sehingga subjek penelitian yang telah tercermin
dalam fokus penelitian ditentukan secara sengaja.Subjek penelitian akan menjadi informan yang akan memberikan berbagai macam informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan penelitian ini meliputi tiga macam, yaitu informan kunci (key informan), informan utama, informan tambahan. Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan utama adalah mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Sedangkan informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti.
Berapa jumlah responden atau informan dalam penelitian kulitatif belum diketahui sebelum peneliti melakukan kegiatan pengumpulan data di lapangan.
Hal ini karena pengumpulan data suatu penelitian kualitatif mempunyai tujuan tercapainya kualitas data yang memadai, sehingga sampai dengan responden yang keberapa data telah dalam keadaan tidak berkualitas lagi dalam arti sudah mencapai titik jenuh karena responden tersebut sudah tidak lagi memberi informasi baru lagi, artinya responden tersebut ceritanya sama saja dengan responden-responden sebelumnya.
Berikut ini kriteria informan sebagai berikut :
No Nama Pekerjaan Umur
1 Ramdan Guru 28
2 Ahmad Amrula Guru 30
3 Lusia Ose Guru 35
4 Saidah Guru 25
5 Safrudin laba petani 45
6 Nuarat gesi petani 41
7 Surah siswa 11
8 Fitri siswa 11
9 Mustapa petani 34
10 Muhidin petani 30
D. Fokus Penelitian
Spradley dalam Sugiyono (2013: 286) menyatakan bahwa fokus merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial.
Dengan demikian penentuan fokus penelitian dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situai sosial (lapangan).
Adapun menurut Spradley dalam (Prastowo, 2014: 137) mengemukakan bahwa ada empat alternatif untuk menetapkan fokus penelitian, yaitu sebagai berikut :
1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan.
2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain.
3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk mengembangkan iptek.
4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang ada.
Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif berkaitan erat dengan rumusan masalah, dimana rumusan masalah penelitian dijadikan acuan dalam menentukan fokus penelitian. Dalam hal ini fokus penelitian dapat berkembang atau berubah sesuai dengan perkembangan masalah penelitian di lapangan.
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah keberadaan guru tanpa kualifikasi sarjana di SDI Baopukang. Fokus ini diambil untuk mengetahui kinerja guru yang belum memiliki kualifikasi sarjana dan juga faktor- faktor penyebab keberadaan mereka serta tindakan urgen pemerintah dalam menanggapi problem seperti ini.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam mengumpulkan data.Yang menjadi instrument utama (key instrument) atau key instrument yang dimaksud adalah peneliti sendiri. Sebagai instrument utama dalam penelitian ini, maka peneliti mulai dari tahap awal penelitian sampai pada hasil peneliti.
Seluruhnya dilakukan oleh peneliti. Selain itu, untuk mendukung tercapainya hasil penelitian maka peneliti menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, dokumentasi (kamera) personal computer (PC).
F. Jenis dan Sumber Data
Guna mendapatkan data dalam penelitian, peneliti menggunakan dua jenis data, yaitu :
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari lapangan dengan mengadakan wawancara secara langsung dengan pihak yang terkait sehubungan dengan penulisan proposal ini.
2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas dalam penulisan proposal ini dan juga dokumentasi.
Sumber data terdiri dari sumber informan kunci, informan utama dan informan tambahan.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik penelitian merupakansalah satu unsur yang penting dalam sebuah penelitian.Teknikyang digunakan dalam penghimpunan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Wawancara yang digunakan oleh penelitian ini adalah wawancara bebas artinya peneliti bebas mengajukan pertanyaan kepada responden sesuai dengan jenis-jenis pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya.
2. Dokumentasi yaitu permanfaatan informasi melalui dokumen-dokumen tertentu yang dianggap mendukung.
Adapun manfaat penggunaan dokumen dalam hal ini adalah:
a. Dokumen membantu pemverifikasian ejaan atau judul dan nama yang benar dari mobilitas pekerjaan yang telah disinggung dalam wawancara
b. Dokumen dapat membantu rincian spesifik lainnya guna mendukung informasi dari sumber-sumber lain; jika bukti dokumentasi bertentangan bukanya mendukung, penelitian mempunyai alasan untuk meneliti lebih jauh topic yang bersangkutan.
3. Partisipasi berasal bahasa inggris ‘’participation’’ ada pengambil bagian atau pengikutsertaan. Peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diteliti. Klasifikasi partisipasi yaitu :
a. Partisipasi pasif ialah peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut;
b. Partisipasi moderat ialah peneliti dalam mengumpulkan data, ikut survei partisipatif dalam beberapa kegiatan tetapi tidak semuanya (ada keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dan menjadi orang luar);
c. Partisipasi aktif ialah peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh narasumber tetapi belum sepenuhnya lengkap;
d. Partisipasi lengkap ialah peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data. Dengan kata lain, pada survei ini memerlukan suasana yang natural sehingga peneliti tidak terlihat melakukan penelitian. survei ini memerlukan keterlibatan peneliti tertinggi terhadap aktivitas kehidupan yang diteliti.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, penjabaran kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga muda dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono, 2013:244).
Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan analisi data model interaktif Miles dan Huberman yaitu terdapat tiga proses yang berlangsung secara interaktif.
1. Reduksi data, yaitu proses memilih, memfokuskan, menyederhanakan, dan mengabstraksikan data dari berbagai sumber data misalnya dari catatan lapangan dokumentasi, arsip, dan sebagainya, sedangkan proses
mempertegas, memperpendek, membuang yang tidak perlu, menentukan fokus, dan mengatur data sehingga kesimpulan bisa di buat.
2. Kedua, penyajian data, seperti merakit data dan menyajikan dengan baik supaya lebih mudah di pahahami, penyajian bisa berupa matrik, gambar, skema, jaringan kerja, table, dan seterusnya.
3. Ketiga, menarik kesimpulan/verifikasi, proses penarikan kesimpulan awal belum masih kuat, terbuka dan skeptic. Kesimpulan akhir akan di lakukan setelah pengumpulan data berakhir (Sugiyono, 2010:246).
Gambar 3.1
Analisis data Model Interaktif dari Milles & Huberman (1992) I. Teknik Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengabsahan data merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena tanpa pengabsahan data yang diperoleh dari lapangan maka akan sulit seorang peneliti untuk mempertanggung jawabkan hasil penelitiannya. Dalam hal pengabsahan data, peneliti menggunakan metode
Pengumpulan data
Reduksi data
Penyajian data
Kesimpulan- kesimpulan :
triangulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
1. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dengan wawancara lalu di cek dengan observasi, dokumentasi, angket dan partisifatif.
2. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu digunakan untuk validitas data yang berkaitan dengan perubahan suatu proses dan perilaku manusia, karena perilaku manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkan data yang sahih melalui observasi, peneliti perlu mengadakan pengamatan tidak hanya satu kali pengamatan saja.
3. Triangulasi Sumber Data
Triangulasi sumber data dilakukan untuk menguji keabsahan data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber.
56
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
A. Letak Geografis Objek Penelitian
Kabupaten Lembata adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan luas 1266,39 km² (126.648 ha) dan populasi penduduk sebanyak 123.679 jiwa (Permendagri No.66 Tahun 2015). Lembata adalah sebuah pulau gugusan kepulauan Solor yang terletak dalam Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor. Secara astronomis Lembata terletak pada posisi : 8°10' - 8°11' LS dan 123°12' - 123°57' BT.
Secara administratif Kabupaten Lembata meliputi 9 Kecamatan, 137 Desa dan 7 Kelurahan. Batas wilayah Kabupaten Lembata adalah sebagai berikut : 1. Sebelah utara : Laut Flores
2. Sebelah selatan : Laut Sawu 3. Sebelah timur : Selat Alor
4. Sebelah barat : Selat Boleng dan Lamakera
Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Lembata (Tabel 4.1)
No Kecamatan Luas Wilayah
(Km2)
1. Nagawutung 185,70
2. Wulandoni 121,44
3. Atadei 150,42
4. Ile Ape 96,86
5. Ile Ape Timur 38,26
57
6. Lebatukan 241,90
7. Nubatukan 165,64
8. Omesuri 161,91
9. Buyasuri 104,26
Jumlah 1.266,39
(Sumber: BPS Kabupaten Lembata , Tahun 2016)
Gambar 4.1 Peta Administrasi Kabupaten Lembata
Adapun lokasi penelitian ini yaitu Kecamatan Nagawutung merupakan salah satu dari sembilan kecamatan di Kabupaten Lembata. Secara geografis, luas Kecamatan Nagawutung 185,70 Km2 (14,66 % dari luas wilayah kecamatan keseluruhan Kabupaten Lembata).
Adapun batas wilayah Kecamatan Nagawutung yaitu, sebelah utara berbatasan dengan Selat Boleng, sebelah selatan Laut Sawu, sebelah timur Kecamatan Nubatukan dan Kecamatan Wulandoni sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Laut Sawu dan Selat Lamakera.
58 Sebagian besar wilayah ditumbuhi padang rumput dan hanya sebagian kecil ditumbuhi hutan belukar, lebih didominasi dengan tumbuhan Palawan putih dan dihuni pula beberapa jenis hewan liar seperti Babi hutan, Rusa dan Ayam hutan. Untuk keadaan iklim, kawasan Kecamatan Nagawutung memiliki iklim tropis dengan musim hujan antara 5-6 bulan dan 6-7 bulan berikutnya musim kemarau.
Berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut total dari luas wilayah Kecamatan Nagawutung (185,70 km2) terdapat 12 desa berada di dataran rendah yang memiliki ketinggian 0‐100 meter dpl (seluas 107,06 km2), sementara 6 desa lainnya berada di dataran tinggi yang memiliki ketinggian antara 100 – 500 meter dpl (seluas 78,64 km2).
Kondisi topografi Kecamatan Nagawutung menunjukkan permukaan tanah datar, landai bergelombang dan berbukit-bukit. Desa‐desa yang sebagian besar wilayahnya berada di daerah pesisir/tepi laut meliputi : Desa Pasir Putih, Lolong, Babokerong, Duawutun, Wuakerong, Penikene, Lusiduawutun, Tewaowutung, Baobolak, Ria Bao, Idalolong dan Warawatung. Sementara desa-desa lainnya yang berada di daerah lereng/perbukitan meliputi : Desa Atawai, Belabaja, Labalimut, Ileboli, Bolibean, dan Liwulagang.
B. Sejarah Kabupaten Lembata
Pulau Lembata mulanya bernama pulau Lomblen dan Pulau Kewula.
Kedua nama ini dijuluki oleh Belanda melalui politik dagangnya yaitu VOC ( Verenigde Oost Indice Companny). Pulau ini pernah difoto oleh Belanda dan sampai sekarang foto tersebut masih tersimpan di Kantor Camat Atadei (salah
59 satu kecamataan di Selatan Kabupaten Lembata). Dalam perjalanan sejarah pulau ini terus berubah nama menjadi Lembata, nama ini diberi oleh Alm. Yan Kia Poli pada saat diadakannya MUBESRATA (Musyawarah Besar Rakyat Lembata) pada tanggal 7 Maret 1967 di Lewoleba, dan kemudian diresmikan oleh mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur El Tari. Nama ini dipakai sampai sekarang.
Sebenarnya, lahirnya pulau Lembata diperkirakan pada tahun 1400 ketika terjadi zaman Gletzer yaitu zaman dimana mencairnya es di Kutub sehinga banyak pulau yang tenggelam dan kemudian penduduknya migran ke berbagai daerah untuk mencari tempat tinggal yang baru. Dalam penuturan sejarah dari Leo Boli Ladjar (alm), orang Lembata sebenarnya bermigran dari dua pulau yaitu pulau Lapang dan pulau Batang yang terletak dibagian barat Kabupaten Alor Lapang dan Batang ( dua pulau kosong tak berpenghuni) yang terletak di bagian barat pulau Alor dan bagian timur ke utara dari pulau Lembata. Lepanbata atau Lapang dan Batang menurut orang Alor adalah dua buah pulau tak berpenghuni.
Lapang artinya datar/rata seperti lapangan sedangkan Batang artinya tinggi.
Kedua pulau ini memiliki kekayaan alam yang tak akan habisnya yaitu rumput laut yang kini menjadi primadona orang Alor.
Rencana ke arah terbentuknya Kabupaten Lembata bertolak pada 2 (Dua) Pernyataan / Statement, yaitu :
1. Pernyataan / Statement 7 Maret 1954.
2. Pernyataan / Memorandum 7 Maret 1999.
3. Memorandum 7 Maret 1999 sebagai cikal bakal berdirinya kabupaten Lembata yang terpisah dari kabupaten induk Flores Timur, dan tahun 1999 dikenal sebagai hari lahir atau berdirinya kabupaten Lembata.
60 Sejak 12 Oktber 1999 Lembata merupakan kabupaten sendiri, memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur sebagai kabupaten induk. Disahkan melalui UU Nomor 52/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata.
C. Cuaca iklim
Iklim di Lembata tergolong kering dengan curah hujan rata-rata 001,95 mm pertahun atau 230 mm tertinggi pada Bulan Maret dan 14 mm terendah pada Bulan Mei. Suhu udara rata-rata 26°C - 29°C dengan suhu minimum dan maksimum berkisar antara 23°C - 30°C. Sedangkan kecepatan angin tergolong rendah rata-rata hanya 8,4 knot/jam.
Ditinjau dari hidrologinya Lembata memiliki 5 buah sungai yang mengalir sepanjang tahun, masing-masing :
1. Sungai Waikomo di Kecamatan Nubatukan
2. Sungai Riangdua (Waibajar) di Kecamatan Nubatukan 3. Sungai Wowong di Kecamatan Omesuri
4. Sungai Bean di Kecamatan Buyasuri 5. Sungai Wailowong di Kecamatan Buyasuri
Dari data diperoleh bahwa jumlah curah hujan dan banyaknya curah hujan tahun 2016 relatif kecil dan bervariasi antara bulan yang satu dengan bulan yang lainnya. Jumlah curah hujan dan banyaknya hujan lebih besar pada bulan‐bulan Oktober - April (keadaan tahun 2016). Perubahan suhu harian sangat menonjol musim panas dan ketimbang musim dingin. Rata-rata amplitudo suhu harian 68.
61 D. Mata pencaharian
Mayoritas penduduk di Kecamatan ini adalah sektor pertanian dan hasil laut. Pada tahun 2016, tanaman padi dan palawija masih merupakan komoditi andalan bagi masyarakat Kecamatan Nagawutung pada umumnya, hal ini bisa dilihat dari luas panen padi ladang 1.076 Ha bisa memproduksi sebanyak 2.496,00 Ton, begitu pun pada tanaman jagung dari luas panes 893 Ha bisa memproduksi sebanyak 1.920,00 Ton.
Luas Panen dan Produksi Padi / Palawija Menurut Jenis Tanaman Tahun 2016 ( Tabel 4.2)
No Jenis Tanaman Luas Panen (Ha) Produksi (Ton)
1 Padi sawah - -
2 Padi ladang 1.076 2.96
3 Jagung 893 1.920
4 Ubi kayu 800 9.002
5 Ubi jalar 10 83
6 Kacang tanah 12 16
7 Kacang hijau 15 13
(Sumber : PPK Nagawutung)
Dilihat dari letak wilayahnya di tepi pantai, dimana desa‐desa di Kecamatan Nagawutung termasuk desa pesisir, kehidupan masyarakat Nagawutung tidak bisa terlepas dari hasil‐hasil laut. Melaut adalah warna turun menurun Nagawutung. Kebanyakan kehidupan nelayan masyarakat Nagawutung termasuk kategori nelayan sambilan tambahan, artinya disamping memiliki pekerjaan utama ( sebagai petani, misalnya ) penduduk juga pergi melaut sebagai pekerjaan tambahan mereka.
62 Desa yang paling banyak warganya menjadikan sektor perikanan sebagai penghasilan utama adalah desa Babokerong.
E. Penduduk
Berdasarkan hasil Registrasi Penduduk Tahun 2016, jumlah penduduk di Kecamatan Nagawutung sebanyak 9.374 jiwa dengan rincian Laki‐laki sebanyak 4.369 jiwa dan Perempuan sebanyak 5.005 jiwa.
Desa dengan jumlah penduduk terbesar adalah Desa Pasir Putih (1.117 jiwa), sedangkan desa dengan jumlah penduduk terkecil adalah Desa Ile Boli (240 jiwa).
Banyaknya Penduduk menurut Desa dan Jenis Kelamin ( Tabel 4.3)
No Desa Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Pasir Putih 526 598 1.124
2 Lolong 128 133 261
3 Babokerong 417 505 922
4 Duawutun 354 462 922
5 Wuakerong 266 297 563
6 Penikene 158 165 323
7 Atawai 262 338 600
8 Lusiduawutun 135 144 279
9 Belabaja 369 401 770
10 Labalimut 318 388 706
11 Ileboli 120 127 147
12 Tewaowutung 161 172 333
13 Baobolak 134 155 289
14 Bolibean 155 183 338
15 Riabao 384 398 782
16 Idalolong 223 237 460
63
17 Warawatung 138 159 297
18 Liwulagang 121 141 264
2014 4.369 5.005 9.374
(Sumber: Registrasi Penduduk, 2016)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan perempuan lebih besar (5.005 jiwa) bila dibandingkan dengan penduduk laki-laki (3.639 jiwa) F. Sarana dan Prasarana
1. Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kemajuan suatu daerah. Oleh karena itu, ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berupa sumber daya manusia dan sarana fisik sangatlah penting.
Pada tahun 2014 di Kecamatan Nagawutung terdapat beberapa sarana dan prasarana di bidang pendidikan formal antara lain :
a. Taman Kanak-Kanak
Untuk sekolah Taman Kanak‐kanak terdapat 11 sekolah yang tersebar di 10 Desa dengan jumlah murid keseluruhan pada tahun 2014 sebanyak 326 anak yang terdiri dari 155 murid laki‐laki dan 171 murid perempuan. Sedangkan untuk jumlah Guru dan Pegawai terdapat sebanyak 10 guru Negeri dan 24 guru Honor.
Banyaknya Murid dan Guru TKK Menurut Nama Sekolah (Tabel 4.4)
No
Nama Sekolah
Jumlah Murid
Jumlah Guru /Pegawai L P Negeri Honor
1 TK. Nelly Adam Malik 14 13 2 2
2 TK. Yohana Gesien 11 19 1 4
3 TK. Kartini 12 18 1 2
64
4 TK. St. Don Bosco 34 27 1 2
5 TK. St. Nikolaus 17 17 - 2
6 TK. Sta. Maria Goreti 7 12 - 2
7 TK. St. Fransiskus Xaverius 9 12 1 1
8 TK. St. Yoseph 12 9 1 1
9 TK. Sta. Ursula 13 13 1 3
10 TK. St. Michael 10 16 1 1
11 TK. Amana Pertiwi 16 15 1 4
2016 155 171 10 24
(Sumber : UPTD PPO Kecamatan Nagawutung, Tahun 2016) b. Sekolah Dasar
Untuk Sekolah Dasar (SD)/sederajat terdapat 16 sekolah dengan perincian 9 SD Negerib dan 7 SD Swasta yang tersebar di 13 Desa dengan jumlah murid keseluruhan pada tahun 2014 sebanyak 1.498 murid yang terdiri dari 790 murid laki‐laki dan 705 murid perempuan. Sedangkan untuk jumlah Guru dan Pegawai terdapat sebanyak 97 guru Negeri dan 79 guru Honor.
Banyaknya Murid dan Guru Sekolah Dasar Menurut Nama Sekolah (Tabel 4.5)
No
Nama Sekolah
Jumlah Murid
Jumlah Guru /Pegawai L P Negeri Honor
1 SDI Loang I 57 60 10 3
2 SDI Loang II 96 86 11 7
3 SDI Baopukang 85 90 6 8
4 SDI Bata 26 25 6 3
5 SDI Lamalewar 23 17 3 4
6 SDK Liwulagang 23 14 4 1
7 SDI Labalimut 70 56 5 5