3.2. Kualitas Air
3.2.3. Kualitas Air Laut
59 Gambar 3.2o. Persentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Total Coliform Tahun
2017
Gambar di atas menunjukkan bahwa 58% sampel air di Kabupaten Kulon Progo yang mengandung Total Coliform sesuai baku mutu, sedangkan 42%
sampel air mengandung total coliform tidak sesuai baku. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama mengingat air yang tercemar total coliform dapat berbahaya bagi tubuh manusia apabila dikonsumsi secara terus menerus. Pencemaran tersebut diperparah apabila terdapat adanya industri yang membuang limbahnya sembarangan tanpa ada pemerosesan terlebih dahulu. Selain itu, limbah rumah tangga juga berperan cukup besar dalam pencamaran air dari total coliform.
60 kegiatan industri yang membuang limbahnya ke laut. Selain itu, kegiatan pariwisata menyebabkan pencemaran dari sampah, juga kerusakan ekosistem akibat penambangan dan pola penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Kegiatan pertanian lahan pantai yang terlalu banyak menggunakan pupuk dan pestisida serta pengambilan air tanah berlebihan juga menyebabkan degradasi lingkungan pesisir.
Pengukuran kualitas air laut Kabupaten Kulon Progo dilakukan sebanyak dua kali periode yaitu periode Maret dan Agustus. Pengukuran periode Maret dilakukan padadua tempat yaituPantai Bugel dan Pantai Glagah. Sedangkan periode Agustus dilakukan pada satu tempat yaitu Pantai Glagah. Pengukuran kualitas air laut menggunakan tiga parameter yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi. Namun demikian pada pengukuran kualitas air laut tahun 2017 hanya menggunakan dua parameter yaitu parameter fisika dan kimia. Parameter fisika meliputi warna, bau, kekeruhan, TSS, dan temperatur. Parameter kimia meliputi pH, salinitas, DO, BOD, amonia, sulfida, dan fenol.
1. Warna
Air laut memiliki warna yang bersumber dari kandungan sedimen, kandungan zat organik dan anorganik yang terlarut pada air laut serta efek cahaya yang diserap oleh air laut. Kekeruhan air laut menyebabkan penetrasi sinar matahari lemah dan hanya dapat mencapai kedalaman antara 15 – 40 meter saja.
Sedangkan pada air yang jernih, sinar matahari dapat menembus hingga kedalaman 200 meter. Warna air laut yang jernih ini merupakan lingkungan yang baik bagi terumbu karang dan coral untuk berkembangbiak. Warna dinyatakan dalam Pt-Co dengan nilai baku mutu sebesar 30 Pt-Co.
Tabel 3.35 Hasil Uji Parameter Warna Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling (tgl /bulan)
Warna (Mt)
Baku Mutu (Pt-Co)
1. Pantai Bugel 17 Maret 0,993 30
2. Pantai Glagah 17 Maret 0,812 30
3. Pantai Glagah 17 Agustus 1,4441 30
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
61 Tabel 3.9 menunjukkan parameter warna dibawah baku mutu, artinya air dalam keadaan jernih sehingga sinar matahari dapat menembus air dan makhluk hidup yang berada pada kedalaman air laut dapat memperoleh cahaya yang cukup dan dapat berkembangbiak dengan baik.
2. Bau
Bau merupakan salah satu parameter fisik kualitas air laut. Adanya pencemaran pada air laut akan menimbulkan bau yang menyengat. Artinya air tersebut tidak baik untuk perkembangbiakan ikan maupun makluk hidup lain di dalam dan di sekitar air laut. Hasil uji pada parameter bau ditahun 2017 menunjukkan air laut daerah Kabupaten Kulon Progo “tidak berbau” artinya air laut dalam keadaan baik dan cocok untuk perkembangbiakan ikan dan terumbu karang.
3. Kekeruhan
Kekeruhan merupakan kandungan bahan organik maupun anorganik yang terdapat di perairan dan berpengaruh terhadap proses kehidupan organisme yang ada di perairan tersebut. Kekeruhan yang tinggi menyebabkan turunnya kandungan oksigen. Hal ini disebabkan intensitas cahaya matahari yang masuk dalam perairan menjadi terbatas karena kekeruhan yang tinggi, sehingga tumbuhan/phytoplanktonyang berada di dalam laut tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk dapat menghasilkan oksigen.
Tabel 3.36 Hasil Uji Parameter Kekeruhan Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling (tgl/th/bulan)
Kekeruhan (NTU)
Baku Mutu (NTU)
1. Pantai Bugel 17 Maret 8,77 5
2. Pantai Glagah 17 Maret 5,68 5
3. Pantai Glagah 17 Agustus 12,9 5
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Kekeruhan air laut di Pantai Bugel dan Pantai Glagah pada pengujian kualitas air laut tahun 2017 menunjukan bahwa parameter kekruhan air laut melebihi baku mutu yang ditetapkan. Keruhnya air laut pada pantai tersebut disebabkan kondisi di Daerah Aliran Sungai (DAS) pada daerah hulu kurang baik.
62 Hal ini sebagai akibat terjadinya erosi yang kemungkinan disebabkan tutupan pohon yang kurang memadai, pengambilan pasir yang intensif atau adanya sampah di aliran sungai yang bermuara pada Pantai Bugel dan Glagah.
4. TSS
TSS atau Total Suspended Solid air laut adalah kandungan zat padat yang tersuspensi dalam air laut, dapat berupa pasir, lumpur, tanah maupun logam berat atau partikel tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel anorganik. Hasil uji TSS pada kualitas air laut di Kabupaten Kulon Progo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.37 Hasil Uji Parameter TSS Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling
(tgl/th/bulan) TSS (mg/L) Baku Mutu (mg/L)
1. Pantai Bugel 17 Maret 87,9 20
2. Pantai Glagah 17 Maret 76 20
3. Pantai Glagah 17 Agustus 126 20
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Berdasarkan data dalam tabel di atas, diketahui bahwa konsentrasi TSS air laut di Pantai Bugel dan Pantai Glagah Kabupaten Kulon Progo tahun 2017 telah melebihi baku mutu. Tingginya nilai TSS pada Pantai Bugel dan Pantai Glagah dimungkinkan karena aktivitas wisata pada kedua pantai tersebut. Selain itu kadungan TSS tinggi kemungkinan berasal dari muara sungai Serang yang banyak membawa material terlarut dari daerah hulu. Bila dibandingakan dengan data tahun 2016, nilai parameter TSS di patai Kulon Progo tahun 2017 tidak kunjung membaik. Seluruh titik lokasi pemantauan menunjukan nilai angka yang jauh melebihi batasan baku mutu parameter TSS yaitu 20 (mg/L). Diperlukan pemantauan terhadap aktivitas pariwisata dan kondisi air sungai yang bermuara pada pantai-pantai di Kabupaten Kulon Progo agar dapat menekan kandungan zat padat yang larut dan menyatu dengan air laut.
63 5. Temperatur
Berikut hasil uji temperatur pada kualitas air laut di Kabupaten Kulon Progo tahun 2017:
Tabel3.38 Hasil Uji Parameter Temperatur Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling
(tgl/th/bulan) Temperatur(ºC)
1. Pantai Bugel 17 Maret 27,4
2. Pantai Glagah 17 Maret 26,8
3. Pantai Glagah 17 Agustus 26,8
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Temperatur atau suhu air laut di wilayah Kabupaten Kulon Progo tahun 2017 menunjukkan angkaantara 26 sampai dengan 28C. Pada pengamatan dua lokasi menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan pengamatan dengan rentang waktu yang tidak terlalu jauh. Temperatur terendah di adalah 26,8C, sedangkan temperatur adalah 27,4C. Tingginya temperatur air laut sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Pada pagi hari temperatur relatif masih rendah antara 25 - 26C, sedangkan pada siang hari temperatur mengalami kenaikan menjadi 27 - 30C. Selain intensitas matahari, besarnya temperatur juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, biasanya bila terjadi hujan maka temperatur air laut akan turun. Hasil pengukuran temperatur tersebut masih berada dalam batas normal, tidak ada kenaikan temperatur maupun penurunan temperatur yang signifikan.
Pengaruh temperatur air laut terhadap lingkungan laut antara lain jumlah oksigen terlarut, kecepatan reaksi kimia dan kehidupan binatang laut. Pada temperatur normal maka kehidupan dan proses-proses kimia juga akan berlangsung normal, dan sebaliknya pada temperatur yang lebih tinggi kecepatan reaksi akan menjadi lebih cepat demikian pula sebaliknya, karena kenaikan temperatur sebesar 10C akan meningkatkan kecepatan reaksi dua kali lipat.
6. Derajat Keasaman (pH)
Derajat Keasaman atau Nilai pH menunjukkan konsentrasi ion hydrogen dalam air. Air dianggap asam jika nilai pH kurang dari 7 dan dianggap basa jika
64 lebih dari 7. Baku Mutu pH untuk laut bahari berkisar antara 7 – 8,5, di luar nilai itu berarti air laut mengalami pencemaran. Berikut hasil uji pH kualitas air laut di Kabupaten Kulon Progo:
Tabel 3.39 Hasil Uji Parameter pH Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling
(tgl/th/bulan) pH Baku Mutu
1. Pantai Bugel 17 Maret 7,79 7 – 8,5
2. Pantai Glagah 17 Maret 7,82 7 – 8,5
3. Pantai Glagah 17 Agustus 7,69 7 – 8,5
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Berdasarkan hasil uji kadar parameter pH, air laut di Pantai Bugel dan Pantai Glagah masih berada pada nilai ketetapan baku mutu. Artinya kondisi air lautdi wilayah Kabupaten Kulon Progo tahun 2017 untuk parameter derajat keasaman (pH) dalam kondisi baik untuk kehidupan makhluk hidup.
7. Salinitas
Salinitas merupakan kadar garam yang terkandung dalam air laut.
Berikut hasil uji salinitas air laut yang ada di Kabupaten Kulon Progo:
Tabel 3.40 Hasil Uji Parameter Salinitas Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling
(tgl/th/bulan) Salinitas (‰) Baku Mutu
1. Pantai Bugel 17 Maret 5,5 Alami
2. Pantai Glagah 17 Maret 5,8 Alami
3. Pantai Glagah 17 Agustus 32,4356 Alami
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Hasil pengukuran salinitas air laut di Kulon Progo tahun 2016 adalah 37‰, sedangkan pada tahun 2017 salinitas tertinggi 32,4‰. Tidak ada batas maksimal salinitas yang ditentukan, sehingga semua masih dalam batas alami perairan. Keberadaan garam-garaman di laut mempengaruhi sifat fisik air laut, seperti densitas, titik beku, temperatur, daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.Semakin tinggi salinitas maka daya hantar listrik semakin tinggi demikian juga tekanan osmosisnya.
65 Tinggi rendahnya salinitas ditentukan oleh tiga faktor, yaitu penguapan, curah hujan dan banyak sedikitnya sungai yang bermuara. Semakin besar tingkat penguapan air laut, maka kadar salinitasnya akan semakin tinggi. Di daerah tropis seperti Indonesia, salinitas air di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibat tingginya curah hujan. Semakin banyak sungai yang bermuara ke laut maka salinitas semakin rendah, demikian pula sebaliknya, karena sungai membawa air tawar yang bersifat mengencerkan salinitas air laut.
8. DO (Dissolved Oxygen)
DO (dissolved oxygen) atau Oksigen terlarut disebut dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar.
Tabel 3.41 Hasil Uji Parameter DO Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling
(tgl/th/bulan) DO (mg/L) Baku Mutu
1. Pantai Bugel 17 Maret 6.28 >5
2. Pantai Glagah 17 Maret 6.44 >5
3. Pantai Glagah 17 Agustus 6.92 >5
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Kadar DO tahun 2016 di Patai wilayah Kabupaten Kulon Progo adalah 6,25 mg/L, sedangkan pada tahun 2017 kadar DO tertinggi adalah 6,92 mg/L dengan baku mutu minimal 5 mg/L. Hal ini menandakan bahwa kandungan oksigen pada air laut di pantai wilayah Kabupaten Kulon Progo cenderung meningkat. Tingginya kadar DO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pergerakan air di permukaan air, luas daerah permukaan perairan terbuka, tekanan atmosfer dan presentase oksigen di sekelilingnya.
9. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
BOD atau Biochemical Oxygen Demand merupakan suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme
66 (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. BOD dapat diartikan sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.
Tabel 3.42 Hasil Uji Parameter BOD Pada Kualitas Air Laut di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017
No. Nama Lokasi Waktu Sampling
(tgl/th/bulan) BOD5 (mg/L) Baku Mutu
1. Pantai Bugel 17 Maret 0.03 10
2. Pantai Glagah 17 Maret 0.36 10
3. Pantai Glagah 17 Agustus 0.87 10
Sumber: Badan Lingkungan Hidup DIY, 2017
Konsentrasi BOD air laut di pantai wilayah Kulon Progo tahun 2016 adalah 0,43 mg/L, sedangkan tahun 2016 konsentrasi BOD tertinggiadalah 0,87 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa BOD air laut masih jauh di bawah ambang batas baku mutu yaitu 10 mg/L. Rendahnya kadar BOD menunjukkan bahwa bahan pencemar organik yang mudah membusuk yang terkandung dalam air laut masih dapat ditoleran, sehingga tidak menimbulkan pencemaran. Kadar bahan pencemar yang masih rendah secara alami akan mengalami proses swapentahiran di perairan.
10. Amoniak
Amoniak merupakan senyawa nitrogen yang menjadi NH4 pada pH rendah dan disebut ammonium. Amoniak berasal dari air seni dan tinja, dari oksidasi zat organis secara mikrobiologi yang berasal dari air alam atau air limbah industri dan penduduk. Kadar amoniak yang tinggi dalam perairan mengindikasikan adanya pencemaran, selain menimbulkan rasa tidak enak juga bau yang tidak sedap. Dan hal yang lebih penting adanya amoniak tinggi akan menyebabkan kematian ikan. Sifat toksik dari Amoniak ini juga bergantung dengan pH air laut. Apabila pH rendah dan kadar Amoniak cukup tinggi maka akan menyebabkan racun, tetapi jika pH tinggi, hanya dengan kadar amoniak yang rendahpun sudah bersifat racun. Selain pH, toksisitas amoniak juga dipengaruhi oksigen terlarut (DO). Dalam DO perairan yang tinggi, maka kadar amoniak akan