• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: NILAI-NILAI RELIGIOUS CULTURE DALAM

D. Analisis

Setelah paparan data dilakukan maka langkah selanjutnya dilakukan analisis data yang didasarkan pada informasi yang diperoleh dari temuan hasil penelitian tentang nilai-nilai pendidikan religious culture yang terdapat pada mata pelajaran akidah akhlak ditiga Madrasah Aliyah.

Menurut Novan Ardy Wiyana, pembentukan religious culture dilingkungan sekolah yang mendukung kualitas iman dan taqwa guru dan siswa, diantaranya dapat dilakukan dengan proggram-program berikut: a) Membiasakan membaca al-Qur’an/ tadarus setiap mengawali kegiatan belajar mengajar, b) Membiasakan menghubungkan setiap pembahasan disiplin ilmu tertentu dengan perspektif ilmu agama, c) Membudayakan ucapan salam ketika masuk kelas, d) Memberikan hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan seperti terlambat masuk ke sekolah, dan d) Membiasakan menghentikan semua kreatifitas setiap tiba waktu shalat dan adanya petugas keamanan sekolah bagi siapapun yang tidak mengerjakan shalat berjamaah.117

Pembelajaran yang dilaksanakan pada tiga madrasah semuanya telah menggunakan kurikulum 2013 kemudian diimplementasikan pada pembelajaran pada kelas X, XI dan XII. Masing-masing madrasah memiliki program/peminatan yang berbeda-beda. Dengan struktur kurikulum masing- masing madrasah terdiri atas 51 jam pelajaran dari pusat (Kementrian Agama), dan 3 jam untuk pembelajaran mata pelajaran muatan lokal dari yayasan pondok pesantren.

Pelaksanaan pembelajaran di Madrasah Aliyah Qamarul Huda Bagu, Madrasah Aliyah Mu’allimin NW Pancor dan Madrasah Aliyah Abu Hurairah Mataram menggunakan sistem paket yaitu semua siswa diwajibkan mengikuti

117Novan Anly Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Iman dan Taqwa, (Yogyakarta:

Teras, 2012), 170-171.

semua mata pelajaran pada satu satuan semester berjalan sesuai dengan pilihan minat maupun lintas minat yang sediakan oleh sekolah.

Kegiatan proses belajar mengajar di madrasah tidak terlepas dari kurikulum yang sudah disusun dan ditetapkan oleh masing madrasah untuk menjadi acuan dalam proses pembelajaran. Dalam Implementasi kurikulum di tiga Madrasah Aliyah telah memuat nilai-nilai pendidikan religious culture, nilai-nilai tersebut dalam materi ajar yang disampaikan kepada siswa, yaitu:

nilai keimanan dan ketaqwaan, nilai ketaatan dalam menjalankan agama, nilai kejujuran, nilai kesopanan (santun), nilai kedisiplinan, nilai tanggung jawab, nilai cinta ilmu, nilai ingin tahu, nilai percaya diri, nilai kepatuhan pada aturan, nilai sosial, nilai hidup sehat, nilai kesadaran akan hak dan kewajiban, nilai kerja keras dan nilai keadilan.

Kepatuhan umat Islam dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan atan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamannya. Terutama yang menyangkut peleksanaan sholat, puasa, zakat, haji, membaca al-Qur’an, zikir, ibadah qurban, i’tikaf dimasjid pada bulan puasa dan lain sebagainya.Pengamalan atau akhlak menunjuk pada seberapa tingkat muslim berprilaku yang bisa saja dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan duniannya, terutama dengan manusia lain, meliputi prilaku suka menolong, bekerjasama, berderma, menegakkan keadilan dan kebenaran, berlaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak minum-

minuman yang memabukkan, mematuhi norma-norma Islam dalam prilaku, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran Islam dan sebagainya.

Dengan demikian bahwa seorang yang memiliki keyakinan, pengetahuan ritual dan pengalaman keagamaan yang kuat akan melakukan prilaku-prilaku yang dimotivasi oleh ajaran-ajara agamanya seperti menutup aurat, meninggalkan judi, dan seterusnya. Hal ini terbukti dari sikap keagamaan siswa yang mengikuti kegiatan keagamaan di madrasah.

1. Persamaan

a. Kurikulum madrasah.

Implementasi kurikulum MA Qamarul Huda Bagu, MA Mu’allimin NW Pancor dan MA Abu Hurairah Mataram menggunakan kurikulum 2013.

b. Religious Culture

MA Qamarul Huda Bagu, MA Mu’allimin NW Pancor dan MA Abu Hurairah Mataram dilihat dari religious culture madrasah adalah sama- sama mengacu kepada visi, misi dan tujuan madrasah untuk dilaksanakan oleh semua unsur atau unit yang ada di madrasah.

Keterlibatan semua unsur sangat penting dalam rangka membangun dan mewujudkan madrasah menjadi lebih baik. Adanya komitmen dari semua unsur yang ada di madrasah dan kebijakan dari kepala madrasah baik secara tertulis maupun tidak tertulis yang menjadi dasar dalam pengembangan program yang sudah di tetapkan secara bersama-sama untuk dilaksanakan.

c. Nilai budaya keagaman dalam materi akidah akhlak

Nilai-nilai religious culture yang terdapat dalam mata pelajaran akidah akhlak di MA Qamarul Huda Bagu, MA Mu’allimin NW Pancor, dan MA Abu Hurairah Mataram adalah nilai keimanan dan ketaqwaan, jujur, disiplin, tanggungjawab, cinta ilmu, percaya diri, sosial, kerja keras, adil dan toleransi.

2. Perbedaan

a. Kurikulum muatan lokal

Kurikulum muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak menjadi bagian dari mata pelajaran lain atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Semua kurikulum muatan lokal yang dikembangkan di madrasah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan siswa akan penanaman dan peningkatan nilai-nilai keagamaan.

Muatan lokal yang dikembangkan di Madrasah Aliyah Qamarul Huda Bagumengembangkan nahwu/shorf dan aswaja, Madrasah Aliyah Mu’allimin NW Pancor mengembangkan nahwu/shorf dan ke-NW-an, dan Madrasah Aliyah Abu Hurairah Mataram mengembangkan tahfiz al-Qur’an.

b. Kajian Kitab

Pelaksanaan kajian kitab di MA Qamarul Huda Bagu menggunakan kitab nahwu/shorf dan aswaja, MA Mu’allimin NW Pancor mengkaji kitab ta’lim muta’allim, bahsul masail, kitab fathul qarib, kitab sa’

Adah (tauhid), hadis arbain an-Nawawiyah, dan MA Abu Hurairah Mataram mengkaji kitab surah min hayatittabiin dan kitab tauhid.

Dokumen terkait