PENDAHULUAN
E. Landasan Teori
Penelitian ini merupakan penelitian terhadap buku ”Cara Nabi Mendidik Anak” terkait dengan kompetensi anak usia sekolah dasar dalam buku Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid. Agar mempermudah dalam menganalisa data dalam penelitian ini selanjutnya, perlu kiranya untuk mengemukakan landasan teori dalam melakukan penelitian ini, yaitu:
1. Kompetensi Anak Usia Sekolah Dasar
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.23
23E.Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi:Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 37.
14 Seperti yang dikutip oleh E. Mulyasa, McAhsan mengemukakan bahwa kompetensi:”...is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors”. (kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku- perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya).24
Gordon menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut:25
a) Pengetahuan (knowledge) yaitu kecerdasan dalam bidang kognitif.
b) Pemahaman (understanding) yaitu ke dalam kognitif dan afektif yang dimiliki individu.
c) Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
d) Nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.
e) Sikap (attitude) yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.
f) Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
Kompetensi juga dapat diartikan sebagai kemampuan, keahlian atau keterampilan yang mutlak dimiliki oleh seseorang yang mencakup kognitif, afektif dan perbuatan atau aspek psikomotorik dan bersifat
24E.Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi..., hlm. 38.
25Ibid., hlm. 38.
15 mengikat pada disiplin keilmuan yang ditekuninya serta mutlak diterapkan serta memiliki standar yang jelas sesuai apa yang telah dijadikan standar kompetensi.26
Dalam tujuan pendidikan nasional disebutkan bahwa tujuan tersebut ialah mengembangkan potensi peserta didik. Dari proses kegiatan belajar mengajar, potensi ini akan diubah menjadi kompetensi. Pendidikan yang diperuntukkan bagi anak bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.27
Sementara itu, pendidikan dasar diartikan sebagai jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah, yang diselenggarakan pada satuan pendidikan berbentuk Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, atau bentuk lain yang sederajat.28
Dengan demikian kompetensi anak usia sekolah dasar dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai kemampuan, keahlian atau
26Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika, (Yogyakarta: Graha Guru, 2009), hlm. 29.
27Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
28Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
16 keterampilan yang mutlak dimiliki oleh peserta didik usia sekolah dasar yang mencakup kognitif, afektif dan perbuatan atau aspek psikomotorik sehingga dapat mencapai standar kompetensi lulusan yang telah dirumuskan serta dapat menjadi bekal pada jenjang selanjutnya dan di masa depannya.
2. Upaya dalam Mengembangkan Kompetensi Anak Usia Sekolah Dasar Upaya merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu maksud. Dapat juga sebagai jalan untuk memecahkan persoalan.
Sementara itu, mengembangkan adalah jalan yang ditempuh untuk menjadikan sempurna. Istilah pengembangan yang memiliki satu kata dasar dengan mengembangkan, memiliki makna suatu proses, cara, perbuatan mengembangkan. Istilah pengembangan memiliki konsep yang hampir sama dengan istilah perkembangan. Seperti yang dikemukakan oleh Reni Akbar Hawadi dalam Desmita, menyatakan bahwa perkembangan menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar. Dalam perkembangan terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi
17 jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan, dan belajar.29
Proses yang baik dalam mengembangkan kompetensi anak akan memberikan dampak yang baik terhadap masa depannya. Rangsangan yang kaya dan tepat pada masa anak-anak akan sangat besar artinya. Peran utama dan pertama adalah tanggung jawab orang tua. Pengembangan kompetensi anak sebagai generasi emas bangsa tidak mungkin berhasil apabila tidak dipersiapkan dan bersikap adaptif terhadap perubahan dan perkembangan tuntutan kebutuhan anak untuk membekali dirinya menghadapi hidup dan kehidupan.30 Oleh karena itu, orang tua atau pendidik harus mampu berupaya dalam mengembangkan potensi yang telah dikaruniakan oleh Allah swt. kepada anak.
Perlu ada sebuah usaha yang tidak mudah ketika seseorang menyemai benih dan kemudian menginginkan benih itu tumbuh seperti yang diharapkan oleh penanam benih. Sama halnya berlaku bagi para pendidik dalam memelihara dan membina anak. Seorang anak dengan banyak potensi yang ada dalam dirinya, sangat disayangkan apabila orang tua tidak mengembangkan apa yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa. Dalam jiwa anak sendiri, dia tidak memiliki sense of competence atau kesadaran bahwa dirinya memiliki kompetensi, sehingga secerdas
29Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 4.
30Sariono, ”Kurikulum 2013: Kurikulum Generasi Emas” dalam E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Vol. 3, hlm. 6.
18 apapun menganggap selalu merasa dirinya tidak mampu.31 Sikap demikian harus kita kembangkan ke arah yang positif, sehingga anak dapat berkembang kemampuannya.
Dalam penelitian ini, upaya yang dilakukan oleh pendidik dalam mengembangkan kompetensi anak adalah anak usia sekolah dasar yang merupakan jenjang memasuki fase kanak-kanak akhir. Pada masa ini anak sudah semakin luas lingkungan pergaulannya. Anak sudah banyak bergaul dengan orang-orang di luar rumah baik teman-temannya atau di lingkungan sekolahnya.32
Masa kanak-kanak akhir atau usia sekolah dasar ini dibagi menjadi dua fase:33
a. Masa Sekolah Dasar kelas rendah, berlangsung antara usia 6/7 tahun sampai 9/10 tahun, biasanya mereka duduk di kelas I, II dan III Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
b. Masa Sekolah Dasar kelas tinggi, yang berlangsung antara usia 9/10 tahun sampai 12/13 tahun, biasanya mereka duduk di kelas IV, V, dan VI Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
Mengenai usaha pendidikan anak, banyak keistimewaan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. yang sejalan dengan fitrah manusia yakni agama Islam, sehingga fitrah yang ada padanya akan berjalan dan
31Mohammad Fauzil Adhim, Positive Parenting: Cara-cara Islami Mengembangkan Karakter Positif Pada Anak Anda,(Bandung: Mizania,2006), hlm.187.
32Rita Eka Izzaty, dkk, Perkembangan Peserta Didik..., hlm. 103.
33Ibid., hlm. 116.
19 berkembang menurut sunnahnya. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan sebagai asas pembangunan kepribadian manusia yang berkomitmen terhadap nilai-nilai ketuhanan.34 Metode tersebut salah satunya adalah metode Ahlulbait. Metode ini dapat digunakan dalam rangka proses pendidik. Beberapa karakteristik metode Ahlul Bait, yaitu:35 a) Metode Pendidikan Rabbani, metode ini ditetapkan oleh Tuhan,
Pencipta Manusia, bukan produk manusia. Sifat rabbani mengondisikan metode pendidikan yang suci di dalam seseorang, karena bersumber pada Dzat Yang Maha Mutlak atau dari tokoh- tokoh ma’sum yang disaksikan oleh al-Quran dan Rasulullah saw.
Keterkaitan seorang hamba dengan Sang Pencipta akan mewujudkan keistiqomahan perilaku. Sehingga akan merasakan ketenteraman dan kenyamanan dan menjadi penawar dari penyakit moral dan sosial.
b) Metode Pendidikan Universal, metode ini mengiringi tahapan perkembangan manusia mulai dari janin hingga tahap anak-anak.
Serta ditetapkan dengan aturan dan bimbingan yang sesuai dengan akal, kebutuhan material dan spiritual. Dan juga menyusup ke seluruh pengaruh pendidik, karena menyerukan perbaikan lingkungan pendidikan. Sisi lain, juga menyinggung pengenalan pemikiran serta pengembangannya, emosi, keinginan, dan perilaku. Peningkatan metode dilakukan melalui intensifikasi pendidikan dan pelatihan
34Rod Lahij, Dalam Buaian Nabi: Merajut Kebahagiaan Si Kecil, terj. M.ilyas dan Ali bin Umar, (Jakarta: Zahra, 2005), hlm. 269.
35Ibid., hlm. 269.
20 berbagai bentuk ketaatan menurut kemampuan serta tingkat kesiapan menerima dan perbedaan usia. Metode pendidikan ini menyinggung pemakaian cara yang lembut dan keras, serta memperhatikan hak dan kewajiban.
c) Metode Pendidikan yang Realistis, metode pendidikan ini memperhatikan realitas manusia dari segala sisi mereka. Metode tersebut juga merupakan metode yang memiliki tujuan dan target yang realistis, diantaranya mengenalkan manusia dengan dirinya dan alamnya, pada Tuhan Penciptanya, pada para Nabi, pada sesama dan hubungan sosial mereka, menyiapkan pribadi yang balance secara intelektual, emosional, dan perilaku, memberdayakan kemampuan untuk tujuan kebaikan dan kedamaian, serta keagungan dan kemuliaan, memelihara emosi manusiawi dan mengejawentahkan konsep dan nilai luhur dalam kehidupan.
d) Metode Pendidikan yang Seimbang dan Moderat, metode yang membimbing manusia dan masyarakat pada akhirat dan dunia.
Memiliki pandangan yang proporsional mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Di sisi lain menyeimbangkan antara taklif (beban tanggung jawab) dan kemampuan serta tidak membebani manusia di luar kemampuan fisik dan ruh mereka.
Adapun metode pendidikan yang dapat digunakan oleh pendidik untuk mengembangkan potensi dalam diri anak yang juga digunakan oleh
21 Ahlulbait dalam mendidik anak-anak mereka, antara lain pidato, kisah- kisah, perumpamaan, ibrah dan nasihat, mengikuti jejak dan dialog.36
Anak usia sekolah dasar pengajarannya harus tetap berdasarkan sifat-sifat ataupun ciri-ciri perkembangan pada masa umur sekolah dasar.
Pada usia ini, mereka mempunyai keterampilan kognitif dan sosial yang dibutuhkan untuk belajar, akan tetapi belum sampai pada masa-masa krisis remaja.37 Prinsip penting bahwa sebagian besar anak-anak jenjang sekolah dasar berada dalam tahap perkembangan operasional konkret. Mereka kurang mampu untuk berpikir abstrak seperti masa remaja. Oleh karena, proses yang digunakan dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang diajarkan pada jenjang sekolah dasar, yakni:38
(1) Ilmu pengetahuan, meliputi meraba, membentuk, memanipulasi, mengalami, dan merasakan.
(2) Ilmu sosial, meliputi wisata, mengundang ahli, bermain peran, dan berdiskusi.
(3) Seni bahasa dan aktivitas membaca, sebaiknya meliputi mencipta, membayangkan, dan menulis karangan.
(4) Ilmu hitung, sebaiknya dengan menggunakan objek konkret untuk menunjukkan konsep dan membiarkan peserta didik memanipulasi objek mewakili prinsip-prinsip matematika.
36Rod Lahij, Dalam Buaian Nabi..., hlm. 254.
37Sri Esti Wuryani Dijiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002), hlm.
86.
38Ibid., hlm. 86.
22 Berkenaan dengan keterampilan dasar, hal yang penting pula pada peserta didik sekolah dasar yang sedang belajar adalah tentang konsep diri apakah mereka ”pandai” atau ”bodoh”, ”anak baik” atau ”anak tidak baik”.
Konsep diri ini dibentuk terutama pada masa-masa ini. Perkembangan sosial anak dapat dibentuk oleh pendidik dengan menunjukkan keterbukaan, kekonsistenan, kesopanan, kebijaksanaan, dan tingkah laku yang tepat. Sedangkan perkembangan moral dengan cara mendiskusikan dilema moral, misalnya apa yang dilakukan apabila anak-anak berbohong dan apa pula konsekuensinya.39
Sementara itu, berdasarkan berbagai perkembangan yang dihadapi anak di masa sekolah dasar terdapat upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan berbagai perkembangan tersebut, antara lain:40
(1) Perkembangan fisik, kegiatan fisik sangat perlu untuk mengembangkan kestabilan tubuh dan kestabilan gerak serta untuk melatih berbagai keterampilan fisik. Di sisi lain, kegiatan fisik juga dapat diperlukan untuk lebih menyempurnakan berbagai keterampilan menuju keseimbangan tubuh.
(2) Perkembangan kognitif, masa ini anak berkembang dari tingkat yang sederhana dan konkret ke tingkat yang lebih rumit dan abstrak serta sudah dapat memecahkan masalah-masalah ynag bersifat konkret, sehingga seorang pendidik diharapkan dapat
39Ibid., hlm. 87.
40Rita Eka Izzaty, dkk, Perkembangan Peserta Didik..., hlm. 104.
23 membantu peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berfikir.
(3) Perkembangan bahasa, berkaitan dengan perkembangan ini, perubahan anak nampak pada perbendaharaan kata dan tata bahasa. Bagi anak di masa ini menulis adalah tugas yang dirasa lebih sulit daripada membaca. Pendidik dapat meningkatkan kemampuan menganalisis kata karena dapat membantunya untuk mengerti, yang secara tidak langsung berhubungan dengan pengalaman pribadinya.
(4) Perkembangan moral, perkembangan ini akan terlihat dari perilaku moralnya di masyarakat yang menunjukkan kesesuaian dengan nilai dan norma di masyarakat. Pengaruh pola asuh orang tua serta perilaku moral orang di sekitarnya memberikan dampak perkembangan moral anak.
Pengembangan moral termasuk nilai-nilai agama juga merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk sikap dan kepribadian anak.
(5) Perkembangan emosi, emosi memainkan peran yang penting dalam mewarnai kehidupan anak. Kasih sayang, kebahagiaan, rasa ingin tahu, suka cita, tidak saja membantu perkembangan anak akan tetapi juga sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan emosi anak.
24 (6) Perkembangan sosial, perkembangan emosi tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan ini karena berpengaruh juga terhadap perkembangan tingkah lakunya. Interaksi yang kuat dengan keluarga dan teman sebaya memiliki peran penting.
Begitu juga sekolah dan hubungannya dengan guru akan menjadi hal penting dalam hidup anak. pemahaman tentang diri dan perubahan dalam perkembangan gender dan moral menandai perkembangan anak selama masa kanak-kanak akhir atau masa usia sekolah dasar ini.
3. Mata Pelajaran PAI dan Budi Pekerti SD/MI pada Kurikulum 2013
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan istilah dari nama mata pelajaran di dalam Kurikulum 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan agama tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan tentang aqidah, akan tetapi juga mengajarkan tentang seperangkat nilai- nilai kehidupan bagi manusia sekaligus nilai-nilai karakter bangsa Indonesia. Demikian juga bahwa pada periode kanak-kanak akhir, pendidikan budi pekerti memiliki peran yang sangat penting dan harus mendapat perhatian penuh.41 Pada jenjang anak usia sekolah dasar, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti sebagai bekal untuk membentuk perilaku moral agama pada perkembangan anak di masa selanjutnya.
41M.Athiyah Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, terj. H.Bustami, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1993), hlm. 105.
25 Dalam Ahmad Munjin Nasih, menurut Pusat Kurikulum Depdiknas bahwa pendidikan agama Islam di Indonesia adalah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah swt., serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara.42
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.43 Kurikulum berisikan susunan bahan ajar dan pengalaman belajar, tujuan pembelajaran, metode, media dan evaluasi hasil belajar.
Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran yang memberikan pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik
42Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran..., hlm. 7.
43Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm.
1.
26 menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.44
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Kurikulum 2013 merupakan mata pelajaran yang berlandaskan pada aqidah yang berisi tentang keesaan Allah swt.
sebagai sumber utama nilai-nilai kehidupan bagi manusia dan alam semesta serta akhlak yang merupakan manifestasi dari aqidah. Sehingga Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sebagai pendidikan yang ditujukan untuk dapat menserasikan, menselaraskan dan menyeimbangkan antara iman, Islam, dan ihsan.45