• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Landasan Pemikiran

2. Landasan Teoritis

antara pandangan Islam dan filsafat eksistensialisme. Hal ini di- pertegas dengan apa yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad saw; “Setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrahnya (potensinya). Hanya keduanya orangtuanya lah yang dapat menjadikannya menjadi seorang Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari- Muslim).

pendidikan mengandung sejumlah karakteristik subtansial, antara lain, yaitu;

a) Education fulfills the purpose, it is ability to develope coming in useful for the life.

b) For reaching the purpose, education does planned effort by choosing materials, strategies, and techniques of assessment exactly.

c) Educational program which is done in family domain, educational institution and society (formal and non formal education).

Pandangan tersebut mengindikasikan bahwa pendidikan se- bagai sebuah program merupakan sistem yang mencakup sejum- lah komponen yang saling berkaitan sekaligus memiliki relevansi dalam pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Pendidi- kan sebagai sebuah program yang bersifat sistemik dapat digam- barkan secara sederhana melalui gambar berikut;

Gambar. 2.1. Program Pendidikan sebagai Sebuah Sistem

INPUT OF  RESOURCES 

EDUCATIONAL  PROCESS  1. Purpose and 

priority  2. Students   3. Management  4. Structure  5. Matter  6. Educators  7. Facilities  8. Teaching  9. Technology  10. Quality control  11. Research  12. Social Service  13. Cost

EDUCA

TIONAL  OUTPUT 

Sumber: Crown dan Crow, dalam A Introduction to Education (1992:61)

2). Teori Pendidikan Kneller (1989)

Teori ini pada intinya berupaya memetakkan program pendi- dikan menjadi program pendidikan praksis dan akademis. Seba- gai sebuah disiplin akademik, pendidikan tertata dalam pro- sesnya, produknya, dan profesinya, yang didasarkan pada sejarah, filsafat dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Secara praksis, kajian ilmu pendidikan menurut Kneller (1989: 63) dapat digolongkan ke dalam beberapa sub bagian:

(a). A system that covers subsystems; formal, nonformal and infor- mal education which followed by its component, input, output, and outcome; (b). Institutions that have same position with politics, eco- nomics, law, and culture dimension; (c). Functions (educational administration, research and educational development, guidance and counseling, curriculum dan educational technology); (d). Educational unit covers formal educational unit consisting elementary education, high education, and higher education; nonformal educational unit con- sisting training institution, counseling, and etc; and (e). As study prog- ram on a discipline of educational science and education of science dis- cipline.

b. Teori Manajemen Mutu Pendidikan

1). Teori Juran (1991), serta Sallis (2001) dan Besterfield (1999) Teori ini merupakan pengembangan dari teori trilogi Juran untuk melihat aplikasi manajemen mutu program pendidikan yang nantinya akan penulis gunakan sebagai pisau analisis dalam melihat aplikasi manajemen mutu program pendidikan di UII dan UMY tersebut yang dipetakkan ke dalam sejumlah langkah manajemen mutu, yaitu: a) perencanaan mutu, b) pelaksanaan mutu berorientasi pada upaya pengendalian, serta c) evaluasi

mutu yang berorientasi pada upaya peningkatan. Ketiga elemen operasional-teknis tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar.2.2. Paradigma Operasional-Teknis Manajemen Mutu Sumber: Besterfield, dalam Total Quality Management (1999:135)

Secara teknis, ketiga langkah tersebut dapat penulis jelaskan secara lebih komprehensif serta relevansi aplikasinya bagi pergu- ruan tinggi Islam di Indonesia sebagai berikut:

a) Perencanaan mutu perguruan tinggi (PT) merupakan penyu- sunan langkah-langkah dan proses-proses untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan para pelanggan, baik di- tingkat strategis maupun teknis. Hal ini mengasumsikan bah- wa PTAIS di Indonesia harus memiliki daya kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam merancang berbagai prosedur pelak- sanaan mutu program pendidikan tingginya agar nantinya

Quality Management 

Quality Evalua‐

tion  Quality Action 

Quality Planning 

Strategic Quality  Technical Quality 

Top Management  Operational  Management 

mampu menghasilkan produk pendidikan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan maupun harapan PTAIS itu sen- diri yang tergambar dalam visi dan misi perguruan tingginya.

b) Pelaksanaan mutu perguruan tinggi (PT) merupakan pelaksa- naan rencana mutu, baik ditingkat strategis maupun teknis, dengan pengawasan yang cermat terhadap semua proses yang terjadi, sehingga tidak ada kesalahan dan dengan demikian mutu produk terjamin. Dalam konteks itu, PTAIS harus me- miliki komitmen dan konsistensi yang tinggi dalam menjalan- kan program pendidikan tingginya sesuai dengan rencana mu- tu program yang telah ditetapkan semula dengan selalu mem- perhatikan proses pelaksanaannya secara cermat, teliti, dan produktif.

c) Evaluasi mutu perguruan tinggi (PT) merupakan usaha untuk memperbaiki kelemahan yang terjadi, dan/atau membuat su- atu terobosan mutu sehingga produk lebih unggul, baik di tingkat strategis maupun teknis. Dalam konteks itu, PTAIS ha- rus senantiasa memiliki tingkat transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal agar mutu proses dan produk pendidikan tinggi yang dihasilkannya sesuai dengan yang diharapkan sekaligus sebagai bahan evaluasi komprehensif dalam rangka mewujudkan upaya perbaikan, se- kaligus peningkatan mutu program pendidikan tingginya seca- ra berkelanjutan dan simultan sehingga diharapkan mampu menghasilkan mutu pendidikan yang kompetitif dan unggul di berbagai level kompetisi.

2). Teori Blue Ocean Strategy

Teori ini dijadikan sebagai landasan berpikir maupun apli- katif dalam melihat dinamika perbedaan dan persamaan penera-

pan manajemen mutu program pendidikan yang dijalankan oleh UII Yogyakarta dan UMY dalam konteks otonomi pendidikan.

Blue ocean strategy sekaligus dijadikan sebagai pisau analisis dalam melihat berbagai perubahan sekaligus strategi yang digunakan oleh kedua institusi tersebut dalam menjalankan manajemen mu- tu programnya. Apalagi dalam konteks otonomi pendidikan, ek- sistensi dan keberhasilan program pendidikan tinggi pada suatu perguruan tinggi sangat ditentukan oleh internal institusi itu sen- diri sekaligus sebagai media strategis dalam menyikapi berbagai perubahan, perkembangan sekaligus peluang (opportunity) dalam kompetisi dunia pendidikan tinggi yang semakin cepat, pesat dan penuh dengan tantangan. Blue ocean strategy yang merupakan inovasi dari pengembangan 150 strategi yang pernah berkembang dalam rentang waktu yang cukup lama (128 tahun) akan dapat memberikan beragam inovasi bagi suatu lembaga pendidikan, ter- masuk dalam hal ini PTAIS untuk terus berkompetisi, memper- tahankan eksistensi sekaligus “membangun” inovasi pendidikan yang lebih unggul (baik menyangkut produk, layanan, pangsa pasar, rasionalisasi biaya yang lebih murah dan lain sebagainya) di tengah pusaran kompetisi pendidikan global. Teori ini memiliki kerangka kerja atau metodologi yang dapat diaplikasikan dalam penerapan strategi, yang meliputi:

a) Memberi poin tambahan berdasarkan pendekatan kepemim- pinan

b) Empat kerangka kerja rintangan organisatoris

c) Pendekatan kelenturan berdasarkan manajemen gerakan ikan d) Pendekatan advantori yang didukung oleh mobilitas dan

dinamisasi tim dan organisasi.

3). Teori Mutu Crosby

Teori ini menjelaskan orientasi mutu yang dilihat dari 3 perspektif: a). mutu in put, b). mutu proses, dan c). mutu out put (hasil). Dalam konteks penelitian ini, peneliti menggunakan perspektif mutu out put (hasil/produk) yang dihasilkan oleh UII Yogyakarta dan UMY Yogyakarta dalam konteks penerapan manajemen mutu program pendidikan tingginya di era otonomi perguruan tinggi saat ini.

Berdasarkan landasan filosofis dan teoritis tersebut dalam rangka mengungkap penelitian ini yang akan ditelaah dan di- ungkap tentang implementasi manajemen mutu program pendi- dikan tinggi Islam sekaligus melihat mutu hasil pendidikan tinggi Islam di UII Yogyakarta dan UMY Yogyakarta. Secara lebih teoritis, penelitian ini akan berangkat dari aspek pemahaman pimpinan perguruan tinggi yang diteliti tentang konsep manajemen mutu program pendidikan, termasuk di dalamnya komponen strategis manajemen mutu program pendidikan yang terdiri dari perencanaan mutu program pendidikan, pelaksanaan mutu program pendidikan dan evaluasi mutu program pen- didikan tingginya.

Secara lebih operasional pada aspek perencanaan mutu prog- ram pendidikan akan dijabarkan tentang visi, misi, tujuan, stra- tegi, dan kebijakan mutu operasional program pendidikan pergu- ruan tinggi dalam rangka memetakkan secara lebih jelas dan kom- prehensif komponen perencanaan mutu program lembaga yang ingin dilaksanakan dan dicapai. Kerangka ini pada tahap selan- jutnya akan ditopang oleh pelaksanaan mutu program pendi- dikan dan evaluasi mutu strategis program pendidikan yang di- support oleh sejumlah langkah strategis, semisal perbaikan secara

terus menerus (continues improvement), penentuan standar mutu, perubahan kultur (change of culture), perubahan organisasi serta mempertahankan hubungan dengan pelanggan (keeping close to the customer), serta sejumlah perangkat hardware pendidikan seperti sarana-prasarana pendidikan, SDM, dan lain sebagainya sehingga mutu pendidikan tinggi Islam di PTAIS Yogyakarta dan Jawa Tengah diharapkan akan semakin unggul dan kompetitif karena ditopang oleh implementasi manajemen mutu program pendidikan yang komprehensif, tepat dan berkualitas, terlebih bagi kedua institusi tersebut, UII dan UMY. Secara sederhana landasan pemikiran ini dapat dideskripsikan secara sederhana dalam gambar kerangka pikir penelitian sebagai berikut;

Gambar.2.3. Kerangka Pikir Penelitian

Perencanaan Mutu Pro‐

gram pendi‐

dikan 

Pelaksanaan  Mutu Program 

pendidikan 

Evaluasi Mutu  Program  pendidikan  SDM Bermutu 

Tim Mutu  Kepemimpinan

Sarana‐

prasarana Analisis 

Lingkungan  Internal dan  Eksternal 

Kebutuhan  pelanggan  dan peruba‐

han budaya 

Simpulan implemen‐

tasi manajemen mutu  Program pendidikan 

UII dan UMY  Alat‐alat 

Mutu  Mutu  Hasil  Pendidikan 

B. Konsep Manajemen Mutu Program Pendidikan Tinggi