• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah I. Identifikasi data dasar

Dalam dokumen Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ny (Halaman 91-96)

BAB IV PEMBAHASAN

A. Langkah I. Identifikasi data dasar

Pada langkah ini, kegiatan yang dilakukan adalah pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi klien, riwayat kesehatan klien, pemeriksaan fisik secara lengkap sesuai dengan kebutuhan, meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya, meninjau data laboratorium.

Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Pada langkah ini, bidan mengumpulkan data dasar awal secara lengkap (Mangkuji, 2012: 5)

Kegiatan pengumpulan data dimulai saat klien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus selama proses asuhan berlangsung. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber yang dapat memberikan informasi paling akurat yang dapat diperoleh secepat mungkin dan upaya sekecil mungkin. Pasien adalah sumber informasi yang paling akurat dan ekonomis yang disebut dengan sumber data 35

primer. Sumber data alternatif atau sumber data sekunder adalah data yang sudah ada, praktikan kesehatan lain dan anggota keluarga (Asri, 2010: 27-28).

Nn “A” usia 16 tahun, di dapatkan mengalami sindrom pre menstruasi di MAN Guppi Gowa pada tanggal 08 Oktober 2021 pada pukul 11.05 wita, dengan keluhan nyeri perut bagian bawah sehingga menganggu aktitasnya. Setiap menstuasi pasien merasakan nyeri pada perut bagian bawah dan merasa mengganggu aktifitasnya dan akan mereda apabila diberikan kompres air hangat dan istirahat. Pasien merasa nyeri hebat pada perut bagian bawah sejak tanggal 04 Oktober 2021, pasien mengatakan sebelum haid sering merasa nyeri pada perut bagian bawah dengan siklus haid normal yaitu 28-30 hari dan lama haid 7 hari.

Pasien mengatakan belum menikah dan tidak pernah hamil, keguguran serta melahirkan dan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun.

Pasien mengatakan saat ini sedang menstruasi hari kedua dan merasakan nyeri hebat pada perut bagian bawah sehingga mengganggu aktifitasnya. Pasien mengatakan dirinya belum pernah mendapat pengobatan apapun dan pasien mengatakan tidak ada alergi obat serta pasien mengatakan tidak sedang dan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti dada berdebar- debar (Jantung), sering makan, minum dan kencing (DM), sesak nafas (Asma), tekanan darah >140/90 mmHg (Hipertensi), Sakit kuning (Hepatitis), Kejang sampai keluar busa (Epilepsi) dan keputihan gatal-gatal (PMS). Pasien mengatakan tidak pernah mengalami operasi apapun.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran komposmentis, status emosional stabil, keadaan umum baik, Tekanan Darah: 100/70 mmHg, N:

80x/menit, S: 36.5˚C, P: 18x/menit, ekspresi wajah ibu tampak cemas, tidak tenang dan tampak pucat, tidak ada edema dan nyeri tekan, kedua konjungtiva tampak sedikit pucat dan sclera putih, bibir pucat, tidak ada sariawan, gigi tidak tanggal dan tidak ada caries pada gigi. Dibagian leher tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis dan pada payudara tampak simetris kiri dan kanan, puting susu menonjol, tidak ada benjolan dan nyeri tekan.

Tidak ada luka bekas operasi pada bagian abdomen dan tidak ada benjolan serta nyeri tekan, tidak ada kelainan pada organ genetalia, tidak ada pembengkakan dan nyeri tekan, tidak ada hemoroid pada anus. Ekstremitas simetris kiri dan kanan, tidak ada varices, tidak ada edema, refleks patella kiri (+) kanan (+). Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil laboratorium di lakukan di PKM Pattalassang pada tanggal 08 Oktober 2021 hemoglobin 11,9 gr%, albumin (-) negatif dan HbsAg negatif (-), golongan darah AB.

Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder dan berakhir jika sudah ada kemampuan reproduksi. Pada wanita,tahap pra puber di usia 10-13 tahun,puber 13-17 tahun,dan pasca puber 17-21 tahun. Pada pria, tahap pra puber 14-16 tahun, puber 14-17 tahun,dan pasca puber 17-21 tahun.

Datangnya menstruasi pertama merupakan salah satu peristiwa penting pada masa pubertas remaja putri sekaligus petanda biologis dari kematangan seksual (Nurul, 2018: 33).

Adapun perubahan fisik yang terjadi pada remaja putri saat terjadi menstruasi yaitu : pertambahan tinggi badan, pertumbuhan rambut di sekitar alat

kelamin dan ketiak kulit menjadi lebih halus suara menjadi lebih halus dan tinggi, payudara mulai membesar, pinggul semakin membesar, paha membulat, mengalami menstruasi pertama (Menarche) (Desta, 2019: 119).

Menstruasi pertama atau menarche adalah menstruasi awal yang biasa terjadi pada masa pubertas dalam rentang usia sepuluh tahun sampai 16 tahun yang menjadi pertanda biologis kematangan seksual wanita, pada permulaan menstruasi hanya hormone estrogen saja yang dominan, Coad dan Dunstal (2006).

Hormon estrogen dominan inilah yang berperang sangat penting untuk terjadinya pertumbuhan dan perkembangan tanda seks sekunder pada seorang wanita, Manuaba dkk (2009) (Nurul, 2018: 12).

Sindrom pre menstruasi atau yang sering dikenal dengan sindrom prahaid.

Sindrom pre menstruasi dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan berupa keluhan dan atau beberapa gejala seperti gejala fisik, gejala perilaku dan gejala emosional yang terjadi pada perempuan saat usia reproduksi. Sindrom prahaid biasanya akan dirasakan pada 7-10 hari sebelum menstruasi datang dan akan menghilang setelah darah menstruasi keluar dan seringkali sindrom prahaid dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari (Fasha, dkk: 2020: 59).

Sindrom pre menstruasi adalah sekumpulan gejala berupa gangguan fisik dan mental, yang biasanya muncul mulai satu minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadang berlangsung sampai haid. Sindrom pre menstruasi dapat menimbulkan depresi yang terkadang dapat memunculkan perasaan ingin bunuh diri, bahkan keinginan

untuk melaksanakan kekerasan pada diri sendiri ataupun pada orang lain (Yoga, 2015: 2).

Penyebab pasti PMS tidak diketahui, tetapi beberapa teori menunjukkan adanya kelebihan estrogen atau defisit progesteron dalam fase luteal dari siklus menstruasi. Selama bertahun-tahun teori ini mendapat dukungan yang cukup banyak dan terapi progesteron biasa dipakai untuk mengatasi PMS.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa terapi progesteron kelihatan tidak efektif bagi kebanyakan wanita, selain kadar progesteron pada penderita tidak menurun secara konsisten. Bila kadar progesteron yang menurun dapat ditemukan hampir pada semua wanita yang menderita PMS, maka dapat dipahami bahwa kekurangan hormon ini merupakan sebab utama. Sebagian wanita yang menderita PMS terjadi penurunan kadar progesteron dan dapat sembuh dengan penambahan progesteron, akan tetapi banyak juga wanita yang menderita gangguan PMS hebat tapi kadar progesteronnya normal (Brunner & Suddarth, 2013: 99).

Teori lain menyatakan bahwa penyebab PMS adalah karena meningkatnya kadar estrogen dalam darah, yang akan menyebabkan gejala PMS. Terdapat banyak teori tentang etiologi dari PMS, dan tidak ada teori atau patofisiologi yang dapat diterima secara universal. Kenaikan estrogen dikemukakan sebagai penyebab. Satu faktor yang memegang peranan ialah ketidakseimbangan antara estrogen dan progesterone dengan akibat retensi cairan dan natrium, penambahan berat badan, dan kadang-kadang edema (Prawirohardjo, 2011: 90).

Ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Kecemasan yang tidak diatasi segera akan dapat menimbulkan berbagai respon kecemasan, antara lain gelisah, keringat 4 dingin, takut, dan berbagai gangguan kesehatan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Ricka & Wahyuni, 2010: 76).

Kecemasan merupakan salah satu gejala dari stress psikologis. Stress akan mengaktivasi sistem saraf simpatis yang menyebabkan peningkatan pengeluaran hormon adrenalin dari bagian medulla kelenjar adrenal. Selain itu stres baik kejadian akut maupun stres yang berlangsung terus-menerus akan mengaktifkan aksis hipotalamus-pituitariadrenal (HPA) yang menyebabkan pengeluaran dari hormon kortisol. Respon ini berakibat pada keterlibatan hipotalamus dan pituitari pada beberapa siklus, salah satunya siklus menstruasi (Prawirohardjo, 2011: 92).

Dalam dokumen Manajemen Asuhan Kebidanan pada Ny (Halaman 91-96)

Dokumen terkait