• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah Kerja Analisis Aplikasi Allpile 6.5E

Dalam dokumen HALAMAN JUDUL - Unissula (Halaman 49-62)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisis Menggunakan Aplikasi Allpile

4.3.1 Langkah Kerja Analisis Aplikasi Allpile 6.5E

45 Gambar 4.4 Grafik Pembuatan Ulang dengan Ms. Excel

46 1. Pile Type

Dalam jendela ini, pemilihan tipe pondasi berdasarkan jenis dan diameter pondasi yang ada di lapangan yaitu pondasi bor berdiameter 1,0 m. Dengan demikian, maka dipilih tipe Drilled Shaft (dia >24 in.

Or 60 cm), dan memberi judul Project. Untuk Unit, digunakan metric karena menyesuaikan satuan SI yang digunakan dalam Tugas Akhir ini.

Gambar 4.5 Jendela Pile Type 2. Pile Profile

Dalam jendela ini, diisi dengan panjang pondasi (Pile Length) 32,5 m. untuk Top Height diisi 0 karena permukaan pondasi dan permukaan tanah diasumsikan rata, untuk Surface Angle diisi 0 karena permukaan tanah tidak ada kemiringan (rata), untuk Buttler Angle diisi 0 karena pondasi yang tertanam tegak lurus.

47 Gambar 4.6 Jendela Pile Profile

3. Pile Properties

Dalam jendela ini, dilakukan pengisian yang lebih mendetai mengenai data-data teknis pondasi seperti bentuk pondasi, bahan pondasi, diameter, dan variasi diameter. Dari data pondasi yang ada, pondasi benbentuk lingkaran dengan bahan beton (Concrete [rough]), diamater 1,0 m (100 cm) tanpa ada variasi diameter (Straight). Untuk data pondasi seperti luas permukaan, perimeter, Inersia, Modulus elastisitas, dan berat pondasi akan secara otomatis terkalkulasi oleh aplikasi Allpile saat kita memasukan nilai diameter dan meng-klik

β€œcalculate”.

48 Gambar 4.7 Jendela Pile Profile

4. Load and Group

Dalam jendela ini, ada tiga jenis pembebanan yaitu Singel Pile, Group Pile, dan Tower Foundation. Untuk analisa dalam Tugas Akhir ini digunakan pembeban untuk Single Pile dengan tipe Free Head.

Dimana besarnya beban Vertical, Shear, dan Moment diisi sesuai dengan beban rencana. Namun dalam tugas ini diisi 10 kN sesuai dengan aplikasi, karena tidak diketahui data untuk beban rencana.

Setelah didapatkan hasil analisa, dilakukan pengecekan ulang dengan memasukan beban ijin. Dengan hasil analisa tersebut, nilai besaranya beban harus lebih kecil dari nilai beban ijin.

49 Gambar 4.8 Jendela Load and Group

5. Soil Properties

Dalam jendela ini, dilakukan pengisian sesuai dengan data-data parameter tanah dari pengolahan bor log (tabel 4.1). untuk elevasi muka air diasumsikan rata dengan elevasi tanah atau sama dengan nol (0). Penginputan dimulai dari kedalaman, kemudian Soil Data Input dilakukan penginputan Soil Parameter untuk memilih jenis tanah dan nilai N-SPT sehingga aplikasi akan secara otomatis melakukan kalkulasi untuk nilai G (berat jenis tanah), Phi (sudut geser dalam), C (kohesi), k (koefisien pegas) dan e (angka pori).Untuk nilai k-MN/m3 dan nilai e50 tidak dilakukan perubahan (sesuai dengan hasil kalkulasi dari aplikasi).

50 Gambar 4.9 Jendela Soil Properties

6. Advanced Page

Dalam jendela ini, dilakukan penginputan untuk nilai SF (Safety Factor) dengan nilai sebesar 3 pada kotak dialog Analysis Parameter.

Sedangkan pada kotak dialog Zero Friction and Negative Friction, diasumsikan nol (0) karena tanah dilapangan dapat dikategorikan kedalam tanah keras.

51 Gambar 4.10 Jendela Load and Group

Setelah proses penginputan data-data pondasi, tanah, dan angka keamanan selesai, kemudian dilakukan dilakukan analisis untuk gaya vertikal. Dari hasil analisis, didapatkan besaran nilai daya dukung total, daya dukung selimut, daya dukung ujung dan nilai penurunan dalam bentuk data table dan grafik seperti pada tabel 4.6 dan gambar 4.11.

52 Tabel 4.6 Output Analisa Allpile

Gambar 4.11 Grafik Hubungan Beban dan Penurunan

53 Gambar 4.11 menunjukan grafik hubungan antara beban dan penurunan untuk tiap-tiap daya dukung yang dianalisis mulai dari beban awal yang diterima pondasi sampai dengan nilai beban terbesar atau daya dukung total (garis hitam) yaitu sebesar 10064,7 KN (1006,47 ton) daya dukung selimut (garis biru) sebesar 9387,2 (938,72 ton), daya dukung ujung (garis merah) sebesar 677,6 KN (67,76 ton), dengan penurunan sebesar 1,96 (19,6 mm).

Berdasarkan nilai daya dukung total yang diperoleh dari hasil analisis allpile, kemudian didapatkan nilai tegangan tanah total dan nilai tahanan samping per satuan luas yang ditunjukan pada gambar 4.12.

Gambar 4.12 Tegangan Tanah Berdasarkan Beban Ultimit

Nilai tagangan tanah total ditunjukan pada grafik Vertical Stress sebesar 321,627 KN/m2 pada kedalaman 32,5 m dan nilai tahanan samping sebesar 106,46 KN/m2 yang ditunjukan oleh garis merah pada grafik side resistance.

Dari nilai-nilai daya dukung dan penurunan yang diperoleh dari analisis menggunakan Allpile, kemudian dibuat ulang grafik hubungan daya dukung dan penurunan menggunakan Ms. Excel untuk mempermudah analisis selanjutnya.

54 Gambar 4.13 Grafik Hubungan Daya Dukung Total dan Penurunan

Gambar 4.14 Grafik Hubungan Daya Dukung Selimut dan Penurunan

55 Gambar 4.15 Grafik Hubungan Daya Dukung Ujung dan Penurunan 4.4 Interpretasi Beban

Setelah analisa dengan program Allpile dilakukan, kemudian dilakukan interpretasi beban pada daya dukung total untuk mendapatkan besarnya beban ultimit menggunakan tiga metode yaitu metode Davisson, metode Mazurkiewich dan metode Chin berdasarkan grafik hubungan beban dan penurunan yang didapatkan.

1. Metode Davisson

Metode yang digunakan untuk mendapatkan beban ultimit dengan cara menarik garis lurus yang terjadi dari grafik hubungan beban dan penurunan kemudian dibuat garis lurus sejajar dengan garis tersebut, dengan jarak yang ditentukan menggunakan persamaan (3.5).

Dari penarikan garis tersebut, akan bersinggungan dengan garis kurva yang ada kemudian ditentukan nilai beban ultimit dengan menarik garis lurus ke sumbu beban. Berikut merupakan grafik hasil dari interpretasi beban menggunakan metode Davisson.

56 Gambar 4.16 Grafik Metode Davission

Pada gambar diatas garis O-A membentuk garis lurus, kemudian dibuat garis B-C sejajar dengan O-A, yang kemudian diletakkan kurva Allpile yang menyebabkan terjadinya perpotongan pada garis B-C. Perpotongan tersebut menyababkan terbentuknya Q (beban) ultimit dengan beban 1000 ton pada metode ini.

2. Metode Mazurkiewich

Metode yang digunakan untuk mendapatkan besaranya beban ultimit dengan mebuat garis tegak lurus dengan sumbu beban dan penurunan, dari perpanjangan garis yang memotong sumbu beban kemudian dibuat garis dengan sudut 45o yang kemudian ditarik sudut ini ditarik lagi garis lurus hingga memotong sumbu beban.

Hasil yang diperoleh jika menggunakan metode mazurkiewich adalah sebagai berikut:

57 Gambar 4.17 Grafik Metode Mazurkiewich

Titik perpotongan yang terbentuk dari garis dengan sudut 45o kemudian dihubungkan dengan menarik garis lurus hingga memtong sumbu beban hingga dapat ditentukan besarnya beban ultimit yaitu sebesar 1000 ton.

3. Metode Chin

Metode untuk menentukan beban ultimit berdasarkan dengan persamaan garis y= ax+b atau s/Q = C1.s + C2

Gambar 4.18 Grafik Metode Chin.

58 Pada gambar 4.18 terdapat grafik dengan menggunakan metode Chin, yang diasumsikan hanya terjadi deformasi geser pada grafik settlement/load vs settlement, sehingga grafik tersebut membentuk garis lurus miring keatas pada kisaran koordinat 0,002 dengan koordinat 20.

Besarnya daya dukung ultimit diperoleh dari persamaan 𝑦 = π‘Žπ‘₯ + 𝑏 atau 𝑠 𝑄 = 𝐢1. 𝑠 + 𝐢2⁄ dengan C1 diperoleh dari persamaan garis atau gradien.

Sehingga, beban ultimitnya adalah 1 𝐢1 = 1111,11 ton ⁄ untuk metode Chin.

Dalam dokumen HALAMAN JUDUL - Unissula (Halaman 49-62)

Dokumen terkait