• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Metode Penelitian

5. Langkah Penelitian

28 bertujuan sebagai evaluasi empiris terhadap konstruk teoretik perilaku cemas perspektif Al-Qur`ān.

29 6) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna,

sistematis, dan utuh.

7) Melengkapi penjelasan ayat dengan ḥadīś, Riwayat sahabat dan lain-lain yang relevan bila dipandang perlu, sehingga pembahasan menjadi semakin sempurna dan semakin jelas.

8) Setelah tergambar keseluruhan kandungan ayat-ayat yang dibahas, langkah berikutnya adalah menghimpun masing- masing ayat pada kelompok uraian ayat dengan menyisihkan yang telah terwakili, atau mengompromikan yang ‘ām (umum) dengan yang khāsh (khusus), muţlaq dan muqayyad, atau yang pada lahirnya bertentangan sehingga semuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan sehingga lahir satu simpulan tentang pandangan Al-Qur`ān menyangkut tema yang dibahas.

b. Tahap 2: Transformasi konsep teoretis mengenai kecemasan menjadi indikator perilaku cemas.

1) Membangun konstruk

Berbagai variabel psikologi bukanlah sesuatu yang ada secara fisik, melainkan sekedar rumusan konsep teoretik yang digunakan untuk menjelaskan mengenai fenomena psikologis yang mendasari adanya perbedaan karakter individual dan perbedaan perilaku manusia. Penelitian tesis ini bertujuan untuk membangun konstruk teori perilaku cemas perspektif Al-Qur`ān, di mana rumusan konsep teoretiknya diperoleh melalui penafsiran ayat-ayat Al-Qur`ān dengan metode tafsir tematik (tafsir mauḍū‘ī) sebagaimana yang telah dipaparkan pada tahap 1. Dilakukan pendekatan analitis dengan melibatkan teori kecemasan perspektif Psikologi Barat terhadap perolehan penafsiran ayat-ayat Al-

30 Qur`ān yang mengandung pembahasan mengenai perilaku cemas. Pendekatan analitis ini dilakukan dalam proses membangun konstruk teori perilaku cemas perspektif Al- Qur`ān.

Tujuan selanjutnya dalam penelitian ini adalah melakukan konstruksi skala pengukuran perilaku cemas perspektif Al- Qur`ān. Langkah kerja sistematik yang perlu dilakukan agar diperoleh suatu alat ukur yang benar-benar akan menghasilkan skor yang valid diawali dengan membangun suatu konstruk yang secara konseptual dan operasional merupakan perwujudan yang representatif dari atribut yang hendak diukur.

Membangun konstruk teori sebagai dasar dari konstruksi instrumen pengukuran perilaku dapat dilakukan melalui tiga langkah berikut:

a) Memilih konsep teoretik

Pada tahap ini, peneliti memilih dan menetapkan teori mengenai atribut perilaku yang hendak dibuat skala ukurnya.

b) Menemukan aspek-aspek keperilakuan

Berdasarkan konsep teoretik yang telah diperoleh dari tahap sebelumnya, pada tahap ini peneliti merumuskan aspek-aspek keperilakuan dari atribut perilaku yang hendak diukur.

c) Menciptakan indikator keperilakuan

Aspek-aspek keperilakuan yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya, kemudian dijadikan sebagai landasan bagi peneliti untuk merumuskan indikator-indikator

31 keperilakuan yang operasional dan konkrit sebagai acuan dalam penulisan item pada skala pengukuran.

Ketiga langkah konstruksi teori yang dilakukan menghasilkan bangunan konstruk dari atribut kecemasan, di mana bangunan konstruk yang telah terbentuk dapat disajikan dalam bentuk ilustrasi berupa bagan yang dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antara atribut perilaku, aspek-aspek keperilakuan, dan indikator keperilakuan dari setiap aspeknya.

2) Menyusun blueprint

Penyajian model skematis dalam bentuk bagan kemudian ditransformasikan kedalam bentuk tabel, yang mana dalam penelitian ini disebut dengan blueprint. Selain memuat aspek-aspek keperilakuan beserta indikatornya, blueprint juga menyajikan muatan atau bobot dari setiap aspek secara proporsional dalam bentuk persentase, di mana bobot persentase tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bilangan yang menunjukkan banyaknya item yang dapat terbentuk dari setiap aspek. Blueprint yang telah dirumuskan berperan sebagai acuan bagi peneliti dalam menyusun item skala yang mengukur perilaku cemas pada individu.

c. Tahap 3: Penulisan item pengukuran perilaku cemas.

Item merupakan stimulus dalam instrumen pengukuran perilaku yang ditulis untuk disjikan kepada subjek penelitian sehingga melalui respon terhadap item-item tersebut, terkumpul indikasi adanya atribut perilaku yang diukur dalam diri subjek.

1) Penyusunan item

Dalam aktivitas penyusunan item, peneliti perlu menetapkan tipe item beserta metode penskalaan sebagai pengukuran

32 respon subjek terhadap item, kedua hal ini perlu dilakukan sebelum peneliti mulai menyusun redaksi dari setiap item.

2) Uji keterbacaan dan review eksternal

Pada tahap ini melibatkan penilai (judge atau rater) untuk menguji keterbacaan redaksi dari setiap item dan instruksi pengerjaan yang tercantum dalam instrumen pengukuran.

Aktivitas ini menghasilkan rekomendasi bagi peneliti untuk perbaikan tata bahasa, tata letak, hingga jenis dan ukuran huruf yang digunakan dalam instrumen pengukuran.

d. Tahap 4: Analisis dan seleksi item pengukuran perilaku cemas.

1) Real-testing situation

Instrumen pengukuran perilaku cemas yang telah tersusun pada tahap 3, kemudian disebar kepada populasi untuk memperoleh data kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini merupakan mahasiswa IIQ Jakarta Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Program Studi Sarjana Ilmu Al-Qur`ān dan Tafsir.

2) Analisis faktor exploratory

Dalam penyusunan blueprint pada tahap 2, dijelaskan bahwa peneliti melakukan analisis untuk menguraikan atribut kecemasan ke dalam aspek-aspek perilaku cemas, di mana analisis faktor exploratory bertujuan untuk mengungkapkan banyaknya faktor yang mungkin terbentuk dari atribut perilaku50. Aspek perilaku yang ada pada blueprint disebut dengan istilah ‘faktor’ pada analisis faktor exploratori. Hasil

50 Analisis faktor exploratori (EFA) merupakan analisis faktor yang tidak ilmiah (arbitrary/interminasi) dikarenakan tidak adanya kesepakatan yang pasti antara peneliti yang satu dengan yang lainnya dalam membuat kesimpulan disetiap tahapan EFA (mulai dari menentukan banyaknya faktor yang ada, merotasi hingga memberi nama pada faktor yang ada), tidak ada hipotesis dan tidak ada uji signifikan. Jahja Umar (2015). Bahan Ajar Statistika 3. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: Jakarta. Tidak diterbitkan (t.d)

33 dari analisis ini berupa estimasi jumlah faktor yang terbentuk dari pengolahan statistik terhadap data penelitian, sehingga peneliti dapat melakukan komparasi mengenai jumlah aspek yang ada pada blueprint, dengan banyaknya faktor yang terbentuk dari hasil analisis faktor exploratori. Jika ditemukan perbedaan jumlah, peneliti dapat melakukan analisis kualitatif lanjutan untuk mengkompromikan hal tersebut dan menyusun ulang blueprint, perbedaannya dengan penyusunan blueprint di tahap sebelumnya adalah pada tahap ini hasil dari analisis faktor exploratori juga menunjukkan item-item yang ada ikut dengan faktor yang mana, karena pada dasarnya hasil dari analisis faktor exploratori berupa himpunan item-item yang membentuk kelompok dan banyaknya faktor dapat dilihat dari jumlah kelompok item yang terbentuk. Seperti hal nya uji pendahuluan, analisis faktor exploratori juga dapat dilakukan dengan bantuan software IBM SPSS 27.

e. Tahap 5: Menguji validitas konstruk instrumen pengukuran perilaku cemas.

Uji validitas konstruk dilakukan untuk menguji apakah instrument pengukuran yang digunakan benar mengukur konstruk yang hendak diukur. Pengujian validitas konstruk dilakukan terhadap item pengukuran perilaku cemas perspektif Al-Qur`ān.

Uji validitas konstruk yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis faktor konfirmatori (CFA) dengan bantuan software LISREL 8.8.

f. Tahap 6: Estimasi reliabilitas instrumen pengukuran perilaku cemas.

34 Setelah dilakukan seleksi terhadap item-item pada instrumen pengukuran dan dilakukan eliminasi terhadap item-item yang tidak memenuhi syarat kualitas psikometrik berdasarkan prosedur pada tahap 4, selanjutnya dilakukan estimasi reliabilitas dari item-item yang tersisa.

g. Tahap 7: Penyusunan norma instrumen pengukuran perilaku cemas.

Sisi diagnostika suatu pengukuran atribut psikologi adalah pemberian makna atau interpretasi terhadap skor. Interpretasi terhadap skor yang diperoleh dari instrumen pengukuran atribut psikologi bersifat normatif, artinya makna skor mengacu pada posisi relatif skor terhadap suatu norma skor populasi teoretik sebagai parameter sehingga hasil ukur yang berupa angka dapat diinterpretasikan secara kualitatif. Acuan normatif tersebut memudahkan pengguna memahami hasil pengukuran.

h. Tahap 8: Merakit instrumen pengukuran perilaku cemas.

Item-item yang telah terseleksi dan telah ditetapkan sebagai muatan instrumen pengukuran akan dirakit dengan pertimbangan estetika dan kemudahan administrasi bagi subjek penelitian.

Dokumen terkait