• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III

imunisasi DPT-HB-Hib, Polio Tetes, Rotavirus, dan PCV. Ibu mengatakan saat ini anaknya sedang tidak sakit atau tidak sedang dalam pengobatan.

2. Riwayat Kesehatan Bayi a. Riwayat Kehamilan

P2 A0 H2

Komplikasi pada kehamilan : tidak ada b. Riwayat Persalinan

1) Tanggal/Jam Persalinan : 21-12-2023/ 12.22 WIB 2) Usia kehamilan : Aterm

3) Jenis Persalinan : Spontan 4) Lama Persalinan : 4 jam 5) Warna air ketuban : jernih 6) Trauma perslinan : tidak ada 7) Penolong persalinan : bidan 8) Penyulit dalam persalinan : tidak ada 9) Bounding attachment : baik

c. Riwayat Kesehatan yang lalu : ibu mengatakan bayinya tidak pernah menderita penyakit menurun, menular, dan menahun.

d. Riwayat Perawatan : ibu mengatakan bayinya tidak pernah dirawat

e. Riwayat Operasi : ibu mengatakan bayinya tidak pernah menjalani operasi apapun f. Riwayat Kesehatan Keluarga (Ayah, ibu, adik, paman, bibi) yang

pernah menderita sakit:

[ ] Kanker [ ] Penyakit Hati [ ] Hipertensi [ ] Diabetes Melitus [ ] Penyakit Ginjal [ ] Penyakit Jiwa [ ] Kelainan Bawaan [ ] Hamil Kembar [ ] TBC

[ ] Epilepsi [ ] Alergi

Ibu mengatakan keluarganya tidak pernah menderita penyakit menurun, menular, dan menahun.

g. Riwayat Imunisasi

[√ ] Hepatitis 0 [ ] DPT-HB-Hib 3 / Polio 4 RV1/IPV 1

[√ ] BCG / Polio 1 [ ] MR/ IPV 2

[√ ] DPT-HB-Hib 1 / Polio 2/RV1/PCV 1 [ ] DPT-HB-Hib booster/MR Booster [ ] DPT-HB-Hib 2 / Polio 3 RV2/PCV 2 [ ] Lain-lain: …………

h. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari a. Nutrisi : ASI

Keluhan : tidak ada b. Pola Istirahat

Tidur Siang : 8-10 jam Tidur Malam : 8-10 jam c. Eliminasi

BAK : 5-8 kali

BAB : 2-3 kali

d. Personal Hygiene

Mandi : 2 kali sehati Ganti pakaian : 1-2 kali sehari

D. DATA OBJEKTIF 1. Pemeriksaan umum

a. Keadaan umum : Baik 2. Tanda tanda vital

a. Heart Rate : 101 x/ menit b. Respirasi : 48x/ menit c. Suhu : 36,7° C 3. Pemeriksaan Antropometri

BB: 4900 gram, PB: 52 cm, LK: 33,5 cm, LiLA: 12,8 cm 4. Pemeriksaan Fisik Khusus

a. Kulit : Tidak ada oedema, warna kulit merah

b. Kepala : Keadaan ubun-ubun tertutup, tidak terdapat molase, tidak terdapat caput succedaneum, dan terdapat lanugo disekitar rambut bayi

c. Mata : Simetris, sclera putih, konjungtiva merah muda

d. Telinga : Simetris kiri dan kanan, terbentuk dengan baik, struktur telinga lengkap, tidak ada benjolan

e. Hidung : Simetris kiri dan kanan, bernafas tanpa kesulitan, tidak ada cuping hidung, tampak bersih dan tidak ada kelainan

f. Mulut : Bibir kemerahan-merahan, bibir tidak sumbing, Refleks isap baik dan pallatum terbentuk baik, tidak ada oral trush

g. Leher : Tidak ada pembesaran, pembengkakan, dan peradangan

h. Klavikula : tidak ada trauma

i. Dada : Simetris, tidak ada bunyi wheezing, tidak ada retraksi dinding dada

j. Perut : tidak ada pembesaran perut yang abnormal, tidak ada tanda infeksi atau perdarahan pada tali pusat bayi, bising usus 10 kali/menit

k. Ekstremitas

Jari/bentuk : lengkap normal Gerakan : aktif

Kelainan : tidak ada

l. Punggung : tulang punggung simetris, tidak ada benjolan/spina bifida, tidak ada kelainan

m. Genetalia : Labia mayora sudah menutupi labia minora, lubang n. Anus : berlubang

5. Pemeriksaan Refleks a. Moro : ada b. Rooting : ada c. Sucking : ada d. Grasping : ada e. Tonik Neck : ada f. Babinski : ada

g. Ekstruasi : ada h. Galant’s : ada 5. Data Penunjang

Buku KIA (catatan imunisasi anak)

E. ASSESMENT

Diagnosa Kebidanan : By.A Cukup Bulan usia 3 Bulan sesuai masa kehamilan dengan kondisi sehat

Masalah Potensial : Demam, Bengkak

Tindakan Segera : Berikan obat penurun panas paracetamol, sarankan ibu untuk melakukan kompres dingin pada daerah

penyuntikan saat di rumah, dan berikan ASI lebih sering

F. PERENCANAAN

1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan.

2. Beritahu ibu informasi tentang prosedur, tujuan, efek samping/reaksi pasca imunisasi.

3. Lakukan informed consent/persetujuan tindakan.

4. Lakukan tindakan pemberian imunisasi seuai program.

5. Berikan ibu informasi cara mengatasi KIPI.

6. Beri tahu ibu jadwal kunjungan selanjutnya.

7. Lakukan dokumentasi.

G. PELAKSANAAN

1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan saat ini bayi dalam keadaan baik, seperti nafas, jantung, dan suhunya normal, semua pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan pada bayi. Saat ini bayi bisa diberikan imunisasi DPT-HB-Hib, OPV, Rotavirus, dan PCV.

2. Memberitahu ibu tentang prosedur, tujuan, efek samping/reaksi pasca imunisasi.

a. DPT-HB-Hib:

Lokasi penyuntikan: paha kanan.

Tujuan: untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis, dan Tetanus KIPI: demam tinggi, rewel, di tempat suntikan timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari.

b. OPV:

Lokasi pemberian: secara oral sebanyak 2 tetes Tujuan: untuk mencegah penyakit polio

KIPI: Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio c. Rotavirus:

Lokasi pemberian: secara oral sebanyak 5 tetes Tujuan: untuk mencegah penyakit diare

KIPI: Demam, muntah, buang air besar cair (diare) dapat terjadi sebagai bagian dari respon imun terhadap imunisasi RV.

d. PCV:

Lokasi pemberian: di paha kiri

Tujuan: untuk mencegah penyakit pneumonia dan meningitis

KIPI: Vaksin PCV adalah vaksin yang sangat aman, namun seperti sifat semua obat, vaksin juga memiliki reaksi simpang. Reaksi simpang yang mungkin terjadi dapat berupa demam, mual, muntah, nafsu makan menurun, iritabilitas, mengantuk, tidur tidak nyenyak 3. Ibu bersedia dan menandatangani informed consent/persetujuan tindakan.

4. Melakukan tindakan pemberian imunisasi seuai program.

a. DPT-HB-Hib: disuntikan secara intramuskular pada anterolateral paha kanan atas, dengan dosis anak 0,5 ml.

b. OPV: diberikan secara oral sebanyak 2 tetes c. Rotavirus: diberikan secara oral sebanyak 5 tetes

d. PCV: disuntikan secara intramuskular pada anterolateral paha kiri atas, dengan dosis anak 0,5 ml.

5. Memberikan ibu informasi cara mengatasi KIPI. Menganjurkan ibu untuk memberikan minum lebih banyak (ASI), jika demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin, jika

demam berikan parasetamol 15 kg/kgbb setiap 3 - 4 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut berat dan menetap, atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi / anak ke dokter.

6. Memberithu ibu jadwal kunjungan selanjutnya 1 bulan lagi, tanggal 27 April 2024.

7. Melakukan pendokumentasian.

G. EVALUASI

1. Ibu sudah tahu hasil pemeriksaan.

2. Ibu sudah tahu tentang prosedur, tujuan, efek samping/reaksi pasca imunisasi.

3. Ibu sudah memandatangani lembar informed consent/persetujuan tindakan.

4. Imunisasi sudah diberikan.

5. Ibu sudah tahu cara mengatasi KIPI .

6. Ibu sudah tahu ibu jadwal kunjungan selanjutnya.

7. Pendokumentasian sudah dilakukan.

BAB IV PEMBAHASAN

Ny. M datang ke UPT Puskesmas Bengkalis pada tanggal 27 Maret 2024 pada jam 10.00 WIB. Setelah dilakukan pengkajian data subjektif Ibu datang membawa anaknya bernama By. A yang berusia 3 bulan. Ibu mengatakan ingin anaknya di imunisasi, 1 bulan yang lalu ibu sudah membawa anaknya untuk imunisasi, anaknya sudah pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB-Hib, Polio Tetes, Rotavirus, dan PCV. Ibu mengatakan saat ini anaknya sedang tidak sakit atau tidak sedang dalam pengobatan. Hasil pengkajian data objektif yaitu keadaan umum tidak ada masalah. Keadaan umum: Baik, Tanda tanda vital: Heart Rate:

101 x/ menit, Respirasi : 48x/ menit, Suhu : 36,7° C, Pemeriksaan Antropometri:

BB: 4900 gram, PB: 52 cm, LK: 33,5 cm, LiLA: 12,8 cm, pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan maupun tanda-tanda infeksi. Setelah dilakukan pengkajian data, hasil pemeriksaan terkait kondisi bayi saat ini dalam kondisi sehat dan dapat dilakukan pemberian imunisasi sesuai program, yaitu DPT-HB- Hib2, OPV3, Rotavirus 2, dan PCV2. Kemudian dilaksanakanlah asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah pada By. A.

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Kemenkes,2017).

Imunisasi bertujuan untuk merangsang sistem imunitas tubuh agar membentuk kekebalan didalam tubuh. Imunisasi dasar lengkap mencegah terjangkitnya berbagai macam penyakit diantaranya penyakit tuberculosis, hepatitis B, tetanus toxoid, pertusis, influenza tipe B, dan campak. pemberian imunisasi terbukti cost effective bagi kesehatan masyarakat, karena bertujuan untuk menjaga kesehatan anak dan merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. (Ritonga, dkk., 2014 & Giving, dkk., 2011).

Imunisasi merupakan suatu strategi yang dengan sengaja meningkatkan daya tahan seseorang terhadap suatu penyakit sehingga pada saat Anda sakit lagi, Anda tidak akan sakit seperti itu atau hanya mengalami sedikit penyakit.

Meningitis, polio, campak, rubella, TBC, difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B dan pneumonia termasuk penyakit menular yang dicakup oleh PD3I. (Profil Kesehatan Indonesia, 2021). Setiap bayi berusia antara 0 dan 11 bulan harus menerima vaksinasi lengkap yang dianjurkan, meliputi Hepatitis B, BCG, DPT-HB-HiB, 4 dosis obat tetes polio oral atau Vaksin Polio Oral (OPV), 1 dosis vaksin polio oral. vaksin polio inaktif (IPV), 1 dosis campak rubella, dan 1 dosis BCG. (Profil Kesehatan Indonesia, 2021).

Salah satu penyebab anak tidak mendapat vaksin adalah karena ibu belum cukup mengetahui tentang vaksin, terutama manfaat imunisasi pada anak.

Kemungkinan seorang perempuan akan mengimunisasi anaknya meningkat seiring dengan tingkat pendidikannya. Salah satu hal yang membuat masyarakat cenderung berubah pikiran adalah pengetahuan, terutama dalam hal pemberian vaksin kepada anak. (Putri dkk, 2022)

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adverse events following immunization (AEFI) yaitu kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi yaitu efek samping/ efek vaksin, toksisitas, reaksi sensitifitas, efek farmakologis, ataupun akibat dari kesalahan progam, koinsidensi, reaksi penyuntikan, ataupun hubungan kausal yang tidak dapat diketahui. Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat ataupun lambat, gelaja tersebut dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, dll. Pada umumnya makin cepat terjadinya KIPI makin berat gejalanya (Ranuh et al., 2011).

Idealnya vaksin tidak menimbulkan efek samping, kalau pun ada sangat ringan. Pemberian vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan dengan cara sistem kekebalan penerima imunisasi bereaksi terhadap antigen yang ada didalam vaksin. Reaksi vaksin ini biasanya muncul sehari atau dua hari setelah imunisasi (kecuali ruam setelah imunisasi campak muncul pada hari ke 6 –12 pasca imunisasi) dan berlangsung selama satu sampai beberapa hari.

Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi (Dokter Anak Indonesia, 2013).

Gejala klinis pasca imunisasi dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta

reaksi lainnya. Tanda dan gejala yang muncul dari efek samping setelah imunisasi pada bayi satu dengan yang lain akan berbeda, tergantung daya tahan tubuh bayi. Beberapa bayi akan akan sulit tidur, lebih mudah menangis dan gelisah.

Hal tersebut bukan karena vaksin yang tidak cocok, namun disebabkan karena naiknya suhu badan yang membuat bayi anda tidak nyaman. Bahkan berhasil atau tidaknya imunisasi bisa dilihat setelah dilakukan imunisasi, dengan tanda perubahan suhu tubuh bayi yang meningkat atau bengkak disekitar area suntikan. Efek samping imunisasi, seperti peningkatan suhu tubuh sering membuat orangtua panik, serba salah bahkan ikut menangis melihat kondisi bayi (Susanti, 2014). Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors) (Noviana & Hasinuddin, 2019).

Sesuai dengan Buku Pedoman Praktis Manajemen Program Imunisasi di Puskesmas yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2023, Pemberian imunisasi sesuai program untuk anak usia 3 bulan adalah DPT-HB-Hib2, OPV3, Rotavirus 2, dan PCV2. Berdasarkan uraian di atas, terdapat persamaan antara teori dengan temuan dilapangan. Hal ini membuktikan bahwa tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Secara umum kegiatan yang di laksanakan dalam rangka pratikum mahasiswa profesi kebidanan Insitut Kesehatan dan Teknologi AL Insyirah di UPT Puskesmas Bengkalis dapat berjalan lancar sesuai rencana,walaupun terdapat hambatan-hambatan yang sudah dapat di atasi pada saat pelaksanaan kegiatan.

Setelah melakukan asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah pada By. “A” di UPT Puskesmas Bengkalis, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Mampu melakukan pengkajian data dasar pada By. “A” di UPT Puskesmas Bengkalis.

2. Mampu melakukan interpretasi data pada pada By. “A” di UPT Puskesmas Bengkalis.

3. Mampu menentukan diagnosa potensial sesuai dengan prioritas pada By.

“A” di UPT Puskesmas Bengkalis.

4. Mampu melakukan tindakan segera sesuai dengan kebutuhan pada By. “A”

di UPT Puskesmas Bengkalis.

5. Mampu merencanakan asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah pada By. “A” di UPT Puskesmas Bengkalis.

6. Mampu melaksanakan rencana asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah pada By. “A” yang sudah ditentukan di UPT Puskesmas Bengkalis.

7. Mampu mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah pada By. “A” di UPT Puskesmas Bengkalis.

B. Saran

Berdasarkan hasil studi kasus, maka disarankan disarankan kepada : 1. Bagi Klien

Diharapkan dengan adanya asuhan kebidanan secara komprehensif ini dapat memberi manfaat bagi pasien untuk menambah pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah.

2. Bagi institusi Pendidikan

Diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah ada serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya asuhan kebidanan pada bayi, balita, dan anak prasekolah pada By. A usia 3 bulan dengan pemberian imunisasi sesuai program di Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

3. Bagi Penulis

Diharapkan hasil laporan kasus ini dapat menjadi sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswi tentang asuhan komprehensif pada bayi, balita, dan anak prasekolah dan menjadi bahan tambahan kepustakaan sehingga dapat dilakukan upaya pengembangan penulisan laporan tugas selanjutnya .

DAFTAR PUSTAKA

Arlenti, L., & Zainal, E. 2021. Manajemen Pelayanan Kebidanan. Bengkulu : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Saptabakti

Asih, P. R., & Putri, N. K. 2022. Faktor- Faktor yang Berhubungan Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar di Kabupaten Bojonegoro.

Media Gizi Kesmas, 11(1), 72–78.

Astuti, H., & Fitri. 2017. Analisi Faktor Pemberian Imunisasi Dasar. Jurnal Ners Dan Kebidanan Indonesia, 3(1), 1.

Azis, A., Nurbaya, S., & Sari, A. P. 2020. Pattingalloang. 15, 168–174.

Behrman, et. al. 1999. Ilmu kesehatan anak nelson.Vol 1. Jakarta: EGC.

Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak.1998. Penerbit FK UI

Giving, dkk. 2011. Univariabel, “Hubungan sikap dan perilaku ibu dalam pemberian imunisasi Hepatitis B 07 hari di Kota Banjarmasin,” vol. 25, no. 1, pp. 12–20.

Handayani, S. R., & Mulyati, T. S. 2017. Dokumentasi Kebidanan.

He, C., et.al. 2017. National and subnational all-cause and cause- specific child mortality in China, 1996–2015: a systematic analysis with implications for the Sustainable Development Goals. The Lancet Global Health, 5(2), e186–e197.

Hidayah, N., Sihotang, H. M., & Lestari, W. 2018. Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Tahun 2017.

Jurnal Endurance, 3(1), 153.

IDAI. 2013. Artikel Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi.

https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada- orangtua-mengenai-imunisasi

InfoDatin Kementerian Kesehatan. 2016. Situasi Imunisasi di Indonesia. In InfoDATIN.

Kemenkes RI, 2018. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

___________. 2017. Peratran Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi

___________. 2020. Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi Covid-19. In Covid-19 Kemenkes (p. 47).

___________. 2022. Profil Kesehatan Indonesia, 2021.Jakarta.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

___________. 2022. Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Imunisasi Pneumokokus Konyugasi (PCV). Jakarta: Direktorat Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

____________. 2022. Buku Petunjuk Teknis Pemberian Imunisasi Rotavirus (RV). Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

____________. 2023. Buku Pedoman Praktis Manajemen Program Imunisasi di Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Liu, L., et.al. 2015. Global, regional, and national causes of child mortality in 2000-13, with projections to inform post-2015 priorities: An updated systematic analysis. The Lancet, 385(9966), 430–440.

Marmi, Rahardjo, Kukuh. 2015. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Nandi, A & Shet, A. 2020. Why vaccines matter: understanding the broader health,economic, and child development benefitsof routine vaccination’, HumanVaccinesand Immunotherapeutics. Taylor & FrancisNo Title.

Noviana & Hasinuddin, 2019. Review Penanganan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Di SDN Petemon 1. Jurnal Paradigma (Pemberdayaan &

Pengabdian Kepada Masyarakat), 1(2): 26-33

Prihanti, G. S., Rahayu, M. P., Abdullah, M. N., Kedokteran, F., Muhammadiyah, U., Bendungan, J., & Malang, S. A. 2016. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Di Wilayah Kerja Puskesmas X Kota Kediri. 12, 120–128.

Proverawati, Atikah dan Citra Setyo Dwi Andini. 2010. Imunisasi dan Vaksinasi.

Yogyakarta: Nuha Medika

Rahmawati. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi Dasar di Kelurahan Krembangan Utara Kota Surabaya sebagai Upaya Pencegahan Penyakit.

Ranuh, G. I. G. ., dkk. 2011. Pedoman Imunisasi di Indonesia (ke 4). Badan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.

Ranuh, I.G.N.Gde,dkk. 2014.Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 5. Jakarta:

IDAI

Riskesdas. 2018. Hasil Utama Riset Kesehata Dasar (RISKESDAS). In Journal of Physics A: Mathematical and Theoretical (Vol. 44, Issue 8).

Ritonga, dkk. 2014. “Hubungan antara dukungan keluarga terhadapt kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi dasar pada anak di Desa Tigabolon Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun,” J. Univ. Sumatra Utara.

Sari, W., & Nadjib, M. 2019. Determinan Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap pada Penerima Program Keluarga Harapan. Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia, 4(1), 1–9.

Sudarti dan Khoirunnisa, E. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Yogyakarta : Nuha Medika

UNICEF. 2020. Laporan UNICEF tentang mitos atau fakta tentang imunisasi.

WHO. 2013. Introduction of Pneumococcal Vaccine PCV13. Geneva: World Health Organization.

Dokumen terkait