• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya-Karya Said Nursi

BAB II: DISKURSUS UKHUWAH

F. Karya-Karya Said Nursi

Badiuzzaman Said Nursi adalah seorang intelektual yang produktif dalam menghasilkan karya. Terbukti dengan karya-karya yang beliau hasilkan dan telah disebarluaskan. Master piece karya said nursi adalah Risalah an-Nur.

Risalah an-Nur atau dikenal juga dengan “Kulliyat al-Rasail al-Nur” adalah kumpulan kitab Risalah an-Nur yang merupakan karya monumental Said Nursi yang berisi dengan berbagai tema dan pembahasan. Berikut ialah kumpulan 14 jilid Risalah an-Nur yang merupakan master piece dari kitab Risalah an-Nur.

No Judul Buku Tahun Penulisan

Bahasa yang digunakan

Keterangan

1 Sozler 1926-1929 Turki Asli dan

Masih Terbit 2 Maktubat 1929-1932 Turki Asli dan

Masih Terbit 3 Lem‟alar 1921-1934 Turki Asli dan

Masih Terbit

4 Su‟alar 1936-1940 Turki Asli dan

Masih Terbit 5 Isyarotul I‟jaz 1916-1918 Turki Asli dan

Masih Terbit

48 Muhammad Labib Syauqi, Mengenal Rislah Nur Karya Said Nursi Dan Metodelogi Penafsirannya, h.121-122

6 Mesnavi

Nuriye 1922-1923 Turki Asli dan Masih Terbit

7 Barla

Lakihasi 1925-1930 Turki Asli dan Masih Terbit 8 Emirdag

Lakihasi 1044-1949 Turki Asli dan Masih Terbit 9 Kostamonu

Lakihasi 1936 Turki Asli dan

Masih Terbit 10 Tarihce

Hayati 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit

11 Asyari Musa - Turki Asli dan

Masih Terbit 12 Iman ve Kufur

Munavazeleri 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit 13 Sikke-i Tadikc

Qaibi 1948-1950 Turki Asli dan Masih Terbit

14 Muhakamet 1911 Turki Asli dan

Masih Terbit

Demikian keempat belas kitab Risalah an-Nur yang merupakan master piece dari kitab-kitab Risalah an-Nur. Adapun kitab-kitab lain yang ditulis oleh said nursi sebagai berikut:

No Judul Buku Bahasa yang

digunakan Keterangan

1 Talimat

(Mantik) Arab Asli dan Masih Terbit 2 Kull Icaz Turki Asli dan Masih Terbit

50

3 Isarat Turki Asli dan Masih Terbit

4 Munazarat Turki Asli dan Masih Terbit 5 Divani Harbi-

Orfi Turki Asli dan Masih Terbit

6 Sunuhat Turki Asli dan Masih Terbit

7 Iserat Turki Asli dan Masih Terbit

8 Sunuat

Nubuwuyat Turki Asli dan Masih Terbit 9 Hutbei Saniye Turki Asli dan Masih Terbit 10

Nutqah Min Ma‟rifatillah

Jalla Jalahu

Turki Asli dan Masih Terbit

11 Nutuk (Khutbah)

Pidato Turki Asli dan Masih Terbit 12 Hair Risalasi Turki Asli dan Masih Terbit 13 Geclik Rehberi Turki Asli dan Masih Terbit 14 Konsferan

Ankara Turki Asli dan Masih Terbit 15 Konsferan

Ankara 1950 Turki Asli dan Masih Terbit 16 Yirni Ucucu Soz Turki Asli dan Masih Terbit 17 Otuz Ucu

Pencere Turki Asli dan Masih Terbit 18 Nur Alemini

Anahtara Turki Asli dan Masih Terbit 19 Uhuwet Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit 20 Ramazan Iktire Turki Asli dan Masih Terbit

Risaleler

21 Was Risafeleri Turki Asli dan Masih Terbit 22 Tabiat Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit 23 Haftimlar

Rehberi Turki Asli dan Masih Terbit 24 Hastalar

Risalasi Turki Asli dan Masih Terbit 25 Sunnet Seniyye

Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit 26 Latief Nukteler Turki Asli dan Masih Terbit 27 Zahretin Nur Turki Asli dan Masih Terbit 28 Ayat-i Kubra Turki Asli dan Masih Terbit 29 Meyve Risalesi Turki Asli dan Masih Terbit 30 El Huccetuz

Zahra Turki Asli dan Masih Terbit 31 Hakekat Nurlar Turki Asli dan Masih Terbit

32 Iman

Hakikatleri Turki Asli dan Masih Terbit 33 Miftahul Iman Turki Asli dan Masih Terbit 34 Siracin Nur Turki Asli dan Masih Terbit 35 Tilsinflar

Mecmuast Turki Asli dan Masih Terbit 36

Ecnebi Filozoflarm

Sehadetleri

Turki Asli dan Masih Terbit

37 Encebi

Filozoflarin Turki Asli dan Masih Terbit

52

Sehadtleri 38 Adfikar

Mecmuasi Turki Asli dan Masih Terbit 39 Nur Gegmesl Turki Asli dan Masih Terbit

40 Tuluit Turki Asli dan Masih Terbit

41 Runifiz Turki Asli dan Masih Terbit

42 Tiryak Turki Asli dan Masih Terbit

43

Risale-i Nur Kulliyatindan Fihrist Risalesi

Turki Asli dan Masih Terbit

Tabel diatas merupakan beberapa karya Said Nursi yang dirangkum oleh Afriantoni dalam bukunya yang berjudul “Konsep Pendidikan Akhlak Badiuzzaman Said Nursi”. Adapun karya-karya Said Nursi yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab sebagai berikut:

Koleksi Risalah an-Nur (Terjemahan Bahasa Indonesia)

1. Sukran Vahide, Biografi Intelektual Said Nursi diterjemahkan oleh penerbit Anatolia pada tahun 2007.

2. Badiuzzaman Said Nursi, Risalah Bala: Ila Kulli Mariid wa Mubtala ditejemahkan oleh penerbit Anatolia Pada tahun 2007.

3. Badiuzzaman Said Nursi, Tuntunan Bagi Perempuan diterbitkan oleh penerbit Anatolia pada tahun 2009.

4. Badiuzzaman Said Nursi, al-Matsnawi an-Nuri: Menyibak Rahasia Ilahi diterjemahkan oelh penerbit Anatolia pada tahun 2009.

5. Badiuzzaman Said Nursi, al-Lama‟at: Menikmati Hidangan Langit diterjmahkan oleh penerbit Rabbani Press pada tahun 2010.

6. Badiuzzaman Said Nursi, Rahasia Kenikamatan Beribadah diterbitkan oleh penerbit Zaman pada tahun 2011.

Selanjutnya ialah koleksi Risalah an-Nur terjemahan bahasa arab, yang merupahakan kitab induk Risalah an-Nur.

1. Al-Kalimat 2. Al-Maktubat 3. Al-Lama‟at 4. Al-syu‟at 5. Isyatul al-Ijaz 6. Al-Matsnawi 7. Al-Malahiq 8. Shaiqal

G. Karakteristik Penafsiran Said Nursi

Dalam perkembangan pemikiran dan corak tafsir, Nursi muncul sebaagai sosok fenomenal, namun lebih banyak berguru kepada ulama. Nursi cenderung menjaga keaslian pada teks dan khazanah klasik, dan tetap menjaga universalitas nilai-nilai ajaran islam. Tidak mengherankan, jika Nursi amat mewarnai dalam pola pikir dalam corak keilmuannya, termasuk metodelogi tafsirnya.

Nursi mensyaratkan, seorang mufassir harus memenuhi kualifikasi kemerdekaan berfikir dalam melakukan interpretasi ayat.

Karena itu, akan tereduksi (pengurangan) oleh aspek penting dalam kajian objektif al-Qur`an sebagaimana yang diharapkan oleh Nursi.49 Berikut bagaimana Nursi melakukan interpretasi al-Qur`an;

49Said Nursi , Isharat al-I‟jaz (Kairo:Sozler,2012).

54

1. Menggunakan pendekatan sufistik, Risalah Nur merupakan bukti konkret tentang interpretasi al-Qur`an, ia merupakan tafsir yaang bernilai tinggi.

2. Nursi secara intens menggabungkan antara makana eksplisit tekstual dan arti implisit kontekstual.

3. Meski Nursi melakukan penafsiran secara komprehensif berlandaskan berbagai realitas sosial masyarakat, namun ia tidak melakukan penafsiran yang berlebih-lebihan dalam penafsiran isyari sebagaimana kita temukan dibeberapa corak tafsir lainnya.

4. Cermat dan detail dalam melakukan interpretasi ayat, karema ia selalu menghubungkan dan bahkan menggabungkan dengan persoalan-persoalan ayat yang didasarkan pada konsep akidah dan syari’ah secara argumentatif.

5. Aspek rasionalitas dilakukan secara holistik dan berimbang.

6. Nursi memberi penekanan dalam tafsirnya pada teks, yang dirajut dalam ilmu balaghah. Karena i‟jaz al-Qur`an akan terlihat jelas pada kontruksi teks nya. Dikuatkan dengan penjelasan yang utuh tentang aspek keserasian ayat dengan ayat lain atau surah dengan surat lain.50

Diantara karakteristik penafsiran Nursi yang paling menonjol adalah tidak menggunakan sumber penafsiran dan literatur apapun kecuali dari sinaran al-Qur`an. Karena hampir semua karyanya ditulias oleh Nursi secara nomadik yaitu berpindah-pindah dari penjara ke penjara. Sebagaimana yang disimpulkan oleh Ihsan Kasim Al-Salihi berikut ciri yang menonjol dalam Tafsir Said Nursi;

50 Sujiat Zubaidi, Thesis, Tafsir kontemporer Badiuzzaman said Nursi Dalam Risale-i Nur, h.310-314

1. Menjadikan al-Qur`an sebagai mahaguru utama. al-Qur`an sebagai satu-satuya guru, pembimbing bagi Nursi, dan tidak pernah berpaling pada kitab lain atau menggunakan literatur lain ketika menulis buku karyanya.

2. Memunculkan dan menafsirkan al-Qur`an seutuhnya, al-Qur`an adalah kitab suci yang memuat semua hakikat ilmu. Maka, Nursi mensyaratkan bagi mufassir untuk menguasai berbagai disiplin ilmu secara mendalam, baik linguistik, teologi dan sains. Mufassir haarus mempunyai cakrawala berpikir luas komprehensif dengan analisis yang tajam, dan tetap didasari oleh keikhlasan total dan ijtihad yang kokoh dengan kemampuan intelektualitas yang prima.

Namun tetap harus menjauhkan diri dari motif personal yang mengotori kemurnian tafsir.

3. Secara ikhlas, karena Nursi menfsirkan Risalah Nur dengan niatan untuk meraih ridhanya Allah. Tidak ada interes apapun baik materi maupun immateri.

4. Mendialogkan al-Qur`an dengan semua sastra dan unsur masyrakat. Al-Qur`an tampil sebagai wajah peradaban untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman, seakan ia diturunkan Allah untuk setiap zaman. Maka penafsiran yang ideal menurut Nursi adalah penafsiran yang mampu mendialogkan Al-Qur`an dengan semua strata masyarakat dengan berbagai kondisi etnis, agama, sosio geografisnya. Penafsiran al-Qur`an tidak hanya untuk kepentingan suatu komunitas saja, melainkan untuk manusia global tanpa batas. Pada titik ini semakin nyata tentang karakteriustik Nursi yang elastis dan kontekstual, namun tetap berpijak pada otentitas teks.

56

5. Afirmasi (pernyataan/penegasan) Positif. Berbagai bukti yang dipakai oleh mufassir dalam memberikan penerangan dan afirmasi tentang prinsif iman dalam al-Qur`an secara permanen adalah merupakan bukti konkret dan kuat akan kebenaran al-Qur`an yang tak tergoyahkan. Maka tidak perlu lagi merujuk pada adanya teori- teori ilmiah yang kebenarannya relatif dan selalu berganti dari masa ke masa.

6. Meluruskan akhlak karena risalah Muhammad Nabi berorientasi pada pembentukan masyarakat yang baik, maka kandungan al- Qur`an adalah untuk memperbaiki moral yang rendah.

7. Membebaskan diri dari berbagai motif pribadi, dan tidak takut mati. Nursi mengikrarkan, akan tetap menyuarakan isi dan kandungan al-Qur`an meski harus menghadapi resiko apapun.

Maka, layak bagi Nursi diberi gelar pelayan al-Qur`an. Seorang penafsir al-Qur`an harus memiliki keberanian mengungkap kebenaran, dengan mentalitas yang kuat dan keimanan yang kokoh.51

Sebagaimana ditulis oleh Subiat Zubaidi, menyimpulkan beberapa karakteristik penafsiran Said Nursi terbagi menajdi tiga, yaitu sebagai berikut;

Pertama, Nursi tidak menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an secara lengkap, namun ia menafsirkan sebagiannya untuk penajaman pembahasan yang relevan dengan persoalan kekinian. Baginya, menafsirkan seluruh al-Qur`an merupakan suatu tugas yang sulit untuk dilakukan oleh mufassir secara individual.

51 Sujiat Zubaidi, Thesis, Tafsir kontemporer Badiuzzaman said Nursi Dalam Risale-i Nur, h.316-318

Kedua, untuk mengeksplorasi kedalaman makna al-Qur`an dan menelusuri esensi kaidah sastranya, meskipun harus mengungkap aspek sastra/seni dan kolerasinya dengan kelimuan modern yang dilakukan oleh para ulama yang cakap dan mahir dibidangnya, disertai kejelian cara pandangnya dan keluasan wawasannya dalam menafsirkan al-Qur`an.

Ketiga, tidak menjustifikasi metode tertentu dalam menafsirkan al-Qur`an sebagaimana para mufassir lainnya. Namun, Nursi menggabungkan dari berbagai metode dalam menafsirkan al- Qur`an. Bahkan, sebagaimana pembaca tafsir Nursi, beranggapan ia menggunakan metode ishariy. Padahal, sekali lagi Nursi tidak menyatakan terikat dengan corak tafsir manapun dalam menafsirkan Al-Qur`an.52

Tafsir adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang teknis dan tata cara mengucapkan lafadz-lafadz al-Qur`an, apa yang ditunjukan oleh lafadz tersebut, hukum-hukumnya, baik secara berdiri sendiri atau tersusun dalam satu kalimat, serta mengkaji makna-makna yang terkandung didalamnya.

1. Al-Qur`an Sebagai Hudan li al-nas (Petunjuk Bagi Manusia) Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam konteks ini, berarti apapun bentuk dan narasi dalam al-Qur`an, ia adalah Hudan li al-Nas, termasuk kisah-kisah dalam al-Qur`an yang sangat mendominasi isi dan kontennya.

Nursi tidak berpaling pada pandangan yang bertentangan dengan esensi dan substansi kisah yang memaknainya secara

52 Sujiat Zubaidi, Thesis, Tafsir kontemporer Badiuzzaman said Nursi Dalam Risale-i Nur, (Surabaya:UIN Sunan Ampel,2015), h.333

58

bebas dan tidak mendasar. Ia tetap komitmen dan konsentrasi pada makna yang harus diambil dai kisah-kisah tersebut. Nursi berpendapat, jika tujuan utama dari cerita adalah untuk teladan, peringatan dan petunjuk, maka hal itu tidak boleh menjadikan kita terpaku pada detail kisah yang berlebihan.53

Menurut Said Nursi terdapat empat manfaat dalam kisah dalam al-Qur`an

1. Meninggikan karakter manusia, moral etos kerja dan jiwanya.

2. Mengerti akan pentingnya berbagai faktor material dan immaterial bagi kemajuan umat mengacu pada kisah masa lampau.

3. Menjauhkan diri dari semua unsur yang menyebabkan jatuh dan rusaknya peradaban dan kemanusiaan.

4. Semakin memahami akan adanya hukum alam dan hukum dari sejarah yang berlaku bagi semua bangsa baik keselamatan maupun kehancurannya.54

2. Teks terbatas dan konteksnya tiada batas

Dalam menafsirkan ayat-yat al-Quran, seorang mufassir berusaha mendeskripsikan pesan-pesan teks atau ayat yang ditafsirkannya, akan tetapi disisi lain, penafsir juga diperbolehkan untuk menggunakan berbagai pendekatan keilmuan yang dijadikan kerangka berfikir dalam menafsirkan ayat-ayat al- Qur`an, agar pesan-pesan yang terkandung dapat terefleksikan dengna baik pada umat secara menyeluruh.55

53 Sujiat Zubaidi, Thesis, Tafsir kontemporer Badiuzzaman said Nursi Dalam Risale-i Nur, h.279

54 Sujiat Zubaidi, Thesis, Tafsir kontemporer Badiuzzaman said Nursi Dalam Risale-i Nur, h.280

55 M.Solahudin, Jurnal “Pendekatan Tektual dan Kontekstual Dalam penafsiran Said Nursi”, (Bandung:Uin Sunan Gunung Djati,2016), h.128

Dalam konteks tafsir, Said Nursi selalu menjaga interpretasi al-Qur`an dari aspek teks dan konteks secara porposional dan berimbang. Sebagaimana pendapat Muhbib Abdul wahab dalam kata pengantar kitab al-Lamaat Nursi membahas berbagai topik dengan pendekatan filosofis, logis, dan kontektual. Ketika membahas kekuatan dan keberkahan basmalah mislanya, Nursi bukan hanya menguraikan makna, fungsi, dan nilai basmalah, melainkan juga mengkontekstualisasikan dalam kehidupan nyata melaluin tamsil atau perumpamaan yang tepat dan menyentuh hati.56

3. Unifikasi Al-Qur’an

Harus diakui, para ulama kita masih belum sepenuhnya mengakui adanya korelasi, kesatuan antara ayat dengan ayat lainnya, atau surah dengan surah lainnya dalam al-Quran, dan antara surah dengan konteknya. Pembahasan tentang kesatuan tematik degan analisis munasabah ini, kurang mendapat perhatian dari sebagian mufassir, dan apalagi membahas persoalan ini mendalam dan menyeluruh.

Tentang teori kesatuan, Nursi menegaskan, bahwa meskipun al-Qur`an diturunkan secara periodik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pewahyuan dalam rentang waktu 23 tahun, namun terlihat adanya keterpaduan dan keserasian yang sempurna seakan ia diturunnkan dalam satu waktu sekaligus, sama dengan adanya keterkaitan yang amat erat dari aspek sebab turunnya ayat, apadahal ia diturunkan dalam rentang jarak yang amat berbeda.

Al-Qur`an juga seakan hadir menjawab persoalan yang sama.

56 Badiuzzaman said Nursi “Al-Kalimat” terj Fauzi faisal Bahreisy (Jakarta:Anatolia,2011), h.v

60

Jika ditelusuri, paling tidak ada tiga faktor yang menjelaskan adanya prinsip kesatuan al-Quran

a. Al-Qur`an berasal dari Allah, meski dari kata yang sama, namun Allah berkuasa untuk menyusunnya dalam berbagai struktur yang saling berkaitan.

b. Hubungan dan ketepatan susunan al-Qur`an, banyak mufassir klasik dan kontemporer yang menyatakan bahwa al-Qur`an sebagai mukjizat, yang susunan redaksi dan keindahan katanya terdapat saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dengan akurat.

c. Susunan ayat-ayat dan surah-surah dalam al-Qur`an adalah tauqifiy (pasti). Para ulama sepakat bahwa susunan al-Qur`an berdasarkan petunjuk langsung dari Rasulullah yang mendapat bimbingan dari Allah melalui malaikat Jibril.57

57Sujiat Zubaidi, Thesis, Tafsir kontemporer Badiuzzaman said Nursi Dalam Risale- i Nur,)h.293

61 BAB IV

PANDANGAN SAID NURSI TENTANG UKHUWAH A. Penafsiran Said Nursi Terhadap Ayat-Ayat Ukhuwah dalam

Al-Quran

Ukhuwah antar manusia merupakan suatu kebutuhan. Hal ini tidak lepas dari sifat manusia yang merupakan makhluk sosial, artinya manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan

membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan, manusia pertama di dunia pun membutuhkan orang lain agar dapat hidup bahagia. Pentingnya persaudaraan secara gamblang dibahas dalam agama islam, baik melalui ayat al-Qur‟an maupun hadits tentang persaudaraan (ukhuwah).1

Sebelum sampai pada penelitian langsung dalam penafsiran ayat. Maka peneliti hendak mengumpulkan seluruh ayat-ayat yang menghimpun gambaran Ukhuwah (persaudaraan) dalam Al-Qur‟an baik yang menggunakan kata dasar (خأ) maupun ayat-ayat yang juga menghimpun perubahan kata dari خأ. Dan yang peneliti cantumkan adalah ayat yang mengandung kata أ َخ dan perubahan katanya, sebagai berikut:

No Kata Nama Surat dan No Ayat

Jumlah

1 خأ An-Nisa (4) : 12, 23 4 ayat

1 Muttaqin, “Kumpulan Hadits Tentang Persaudaraan”

https://www.muttaqin.id/2018/04/kumpulan-hadits-tentang-persaudaraan-perdamaian.html, (Diakses 16 September 2019)

62

Yusuf (12) : 59, 77

2 ا َخَا Al-Ahqof (46) : 21 1 ayat

3 ناخ َا Yusuf (12): 63, 65 2 ayat

4 ياَخ َا

Al-A‟raaf (7):111

7 ayat Yusuf (12):69,76

Maryam (19) : 53 Al-Mu‟minuun (23):45

Al-Furqaan (25): 35 Asy Syu'araa' (26) : 36

5 ى ٌاَخ َا

Al-A‟raaf (7) : 65, 73, 85

8 Ayat Huud (11) : 50, 61, 84

An-Naml (27) : 45 Al-„Ankabuut (29) : 36

6 َك ُ َخ َا Thaha (20): 42 1 ayat 7 ي ُ َخ َا Yuusuf (12) : 8 1 ayat 8 ى ٌ ُ َخ َا Asy-Syu'araa'(26):106,

124, 142, 161

4 ayat

9 ً خ َا

Al-Maa‟idah (5) : 25, 31

7 ayat Al-A‟raaf (7) : 151

Yuusuf (12) : 90 Thahaa (20) : 30 Al-qashshash (28) : 34

Shaad (38) : 23 10 َل ٍ خ َا Al-Qashshash (28) : 35

11 ً ٍ خ َا

Al-Baqarah (2) : 178

10 ayat Ali ‘Imron (7) : 142, 150

Yunus (10) : 87 Yuusuf (12) : 64, 70, 87, 89

Al-Ma’aarij (70) : 12

‘Abasa (80) : 34

12 ى ك ٌََُخَا Al-Hujuraat (15) : 10 1 ayat

13 ناَُ خ أ

Al-Israa‟ (17) : 27

4 ayat Qaaf (50) : 12

Ali „Imron (3) : 102 Al-Hijr (15) : 47

14 اَواَُ خ أ Ali ‘Imron (3) : 103 1 ayat

15 ى كَواَُ خ أ

Al-Baqarah (2) : 220

6 ayat At-Taubah (9) : 11, 22, 24

An-Nur (24) : 61 Al-Ahzab (33) : 5

16 اَى وَاَُ خ أ Al-Hasyr (59) : 10 1 ayat

17 ى ٍ وَُ خ أ

Ali ‘Imron (3) : 156, 168

7 ayat Al-An‟am (6): 87

Al-A’raaf (7) : 202 Al-Ahzab (33): 18 Al-Mujaadalah (58): 22

Al-Hasyr (59): 11

18 ه ٍ وَُ خ أ An-Nur (24) : 31 2 ayat

64

Al-Ahzab (33) : 55

19 َيَُ خ أ

An-Nisa (4): 11, 176

4 ayat Yuusuf (12) : 58

Al-hujuraat (49) : 10

20 َل تَُ خ أ Yuusuf (12): 5 1 ayat 11 ً تَُ خ أ Yuusuf (12) : 7 1 ayat 22 ً تَُ خ أ Yuusuf (12) : 100 1 ayat

23 تخأ An-Nisa (4) : 176

2 ayat Maryam (19) : 28

24 َل ت خ أ Thaaha (20) : 40 1 ayat 25 ً ت خ أ Al-Qashshash (28) : 11 1 ayat 26 اٍَ ت خ أ Al-A’raaf (7) : 38

2 ayat Az-Zukhruf (43) : 48

27 ه ٍَت خ أ - -

28 ى ك تاََُخَأ - -

29 ه ٍ تاَُخَأ Al-Ahzaab (33): 55 1 ayat

Total ayat 82 yat

Jika dihitung kembali, dari hasil penelitian di atas terdapat banyak pengulangan kata akhun dan perubahannya dalam al-Qur‟an.

Bahkan satu ayat mengandung beberapa kata yang merupakan perubahan dari kata akhun. Akan tetapi jika diringkas kembali peneliti

dapat menemukan setidaknya 82 ayat yang memiliki kandungan Ukhuwah berdasar dari penelusuran kata خأ dan perubahannya.2

Namun, dalam penelitian ini, dikarenakan keterbatasan waktu dalam melakukan penelitian, maka penulis tidak mungkin melakukan penelitian dengan jumlah ayat sebanyak itu, sehingga peneliti memilih pada ayat-ayat tentang ukhuwah dan penafsirannya secara maknawi dalam kitab al-Maktubat koleksi Risalah Nur, Diantaranya:

1. Surat Al-Hujurot ayat (10)























“orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

2. Surat Fushishilat ayat (34)





































“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah- olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S Fushishilat ayat :34)

2 Muahmmad Fuad Abdul Baqi, Mu‟jam Al Mufahras, (Kairo Dar Al Hadits 1996), h.23-24.

66

3. Surat Al-Imran ayat (132)





























“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Fanatisme, keras kepala dan kedengkian yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan permusuhan diantara orang-orang beriman adalah suatu keburukan dan kezaliman. Sifat-sifat itu tidak dapat dibenarkan dalam pandangan hakikat dan hikmah. Ia tidak sesuai dengan ajaran Islam, yang merupakan representasi dari spirit kemanusiaan yang agung. Di samping itu, sifat-sifat permusuhan itu bisa menghancurkan kehidupan pribadi, kehidupan social dan kehidupan maknawi. Bahkan itu merupakan racun mematikan bagi kehidupan bagi seluruh umat manusia.3

Berdasarkan 3 ayat diatas, said nursi menafsirkan menjadi enam aspek sebab terjadinya konflik. Dan bukan hanya itu, tetapi said nursi juga memberikan solusi agar tidak terjadi konflik sehingga ukhuwah tetap terjaga.

1. Permusuhan adalah suatu kedholiman dalam pandangan hakikat.

Memendam rasa permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kedhaliman dan kejahatan. Sebab orang beriman

3 Baduzzaman Said Nursi, Risalah Ikhlas dan Ukhuwah, (Jakarta: Risalah Nur Press, 2016), h. 54

diibaratkan suatu bangunan rabbani. 4 Jangan sampai hanya karena saudara seiman mempunyai satu sifat buruk, sementara ia memiliki sembilan atau bahkan dua puluh sifat baik. seperti iman, islam, dan tetangga yang pernah menolong. Sehingga karna masih ada sifat baik yang dimilikinya kita tidk patut untuk memusuhi dan mendengkinya. Permusuhuhan dan kedengkian selalu mendorong untuk menenggelamkan perahu eksistensi atau bangunan wujudnya.5

2. Permusuhan adalah kedzaliman dalam pandangan hikmah

Cinta dan permusuhan adalah dua hal yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan. pada dasarnya, keduanya tidak dapat bersatu. Jika sebab-sebab cinta lebih dominan rasa permusuhan akan berubah menjadi permusuhan artifisial (buatan), bahkan bisa merubah wujud menjadi kasih sayang dan rasa iba.

Sebaliknya, jika sebab-sebab permusuhan lebih dominan, maka cinta akan berubah menjadi cinta semu yang dibungkus dengan kepura-puraan.6

Kebencian dan permusuhan terhadap saudara seiman merupakan kedzaliman yang besar. Sebab persatuan dalam iman menghedaki persatuan hati orang-orang mukmin, sementara kesatuan akidah menuntut kesatuan kehisupan sosial msyarakat.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa penciptamu satu, pemilikmu satu, sesembahan satu, pemberi rezeki satu. Demikian

4 Bangunan rabbani merupakan istilah yang digunakan said nursi. Diibaratkan sebuah bangunan ketika satu tiang runtuh maka bangunan itupun akan runtuh. Begitupun saudara seiman diibaratkan sebuah bangunan rabbani, jangan sampai karna satu keburukannnya sehingga lupa dengan kebaikannya yang lain.

5 Badiuzzaman Said Nursi, Al-Maktubat Terj. Dari Al-Maktubat- Oleh Fauzi Faishal Bahreisy, (Tangerang Selatan: Risalah Nur Press, 2017) h.454

6 Badiuzzaman Said Nursi, Al-Maktubat Terj. Dari Al-Maktubat- Oleh Fauzi Faishal Bahreisy,h.455

Dokumen terkait