• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1

BAB I

2 sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pinjaman atau hutang (debt financing) dan modal sendiri (equity financing).

Perusahaan yang memiliki nilai perusahaan tinggi akan menumbuhkan rasa kepercayaan dari pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut maupun dari masyarakat luas. Hal ini disebabkan karena nilai perusahaan yang tinggi menunjukkan kinerja perusahaan baik, sehingga perusahaan dengan nilai perusahaan yang baik merupakan perusahaan dengan kinerja yang baik dan memiliki tingkat pengembalian yang baik pula (Maria, 2014).

Menurut Suranto & Walandouw, (2017) nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan suatu perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat. Semakin tinggi harga sahamnya maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan sangat ditentukan oleh komposisi hutang dan ekuitas dalam struktur modal perusahaan tersebut.

Struktur modal suatu perusahaan menunjukkan sumber pendanaan finansial perusahaan yang berasal dari hutang dan modal sendiri. Perusahaan yang struktur modalnya optimal maka menghasilkan tingkat pengembalian yang optimal pula, sehingga tidak hanya perusahaan yang mendapat keuntungan, tetapi pemegang saham juga akan mendapatkan keuntungan tersebut, sedangkan bila stuktur modalnya tidak optimal maka akan timbul biaya modal yang terlalu besar sehingga biaya hutang semakin besar (Tia et al., 2018).

3 Struktur modal dapat digunakan para calon investor sebagai dasar untuk menanamkan investasinya ke dalam perusahaan karena variabel ini menggambarkan modal sendiri, total hutang dan total aset dimana ketiganya dimanfaatkan oleh mereka untuk melihat tingkat risiko, tingkat pengembalian (return) dan pendapatan (revenue) yang akan diterima oleh perusahaan. Tingkat risiko, tingkat pengembalian (return) dan pendapatan (revenue) perusahaan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya permintaan akan saham dimana hal tersebut juga akan mempengaruhi nilai perusahaan (Mudjijah et al., 2019).

Dalam penelitian ini memasukkan siklus hidup perusahaan sebagai variabel kontrol karena ada kemungkinan pengaruh struktur modal dengan nilai perusahaan tergantung pada daur hidup perusahaan. Menurut Frielinghaus et al (2005), struktur modal berkaitan dengan siklus hidup (life cycle) perusahaan.

Kebutuhan rasio hutang akan berbeda-beda sesuai dengan tahapan hidup perusahaan karena kebutuhan pendanaan dapat berubah sesuai dengan kondisi perusahaan.

Pemahaman tentang siklus hidup diperlukan perusahaan dalam menganalisis kebutuhan pendanaan. Sumber pendanaan mencerminkan pada tahap apa perusahaan itu berada. Bagi perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan dan laba yang tinggi kencenderungan penggunaan hutang sebagai sumber dana eksternal yang lebih besar dibandingkan perusahaan-perusahaan yang tingkat pertumbuhannya penjualanya rendah (Savitri, 2014).

Dalam menjalankan bisnis, kemampuan perusahaan untuk bertumbuh sangat penting bagi perkembangan ekonomi. Perusahaan mengalami pertumbuhan

4 dari satu tahapan ke tahapan lainnya sehingga membentuk suatu siklus hidup perusahaan. Menurut Dickinson (2011) mengkalsifikasikan siklus hidup perusahaan ke dalam lima tahap, yaitu tahap introduction, gorwth, maturity, shake-out dan decline. Pada tiap tahapan, perusahaan memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda-beda sehingga memiliki kebutuhan pendanaan, ketersediaan sumber pendanaan, dan biaya modal yang beragam (Owen dan Yawson, 2010). Siklus hidup dapat menjadi salah satu variabel yang dapat menjelaskan kegiatan perusahaan menjadi lebih jelas, tidak terkecuali dalam penentuan hutang yang berujung pada struktur modal perusahaan. Dengan memperoleh laba yang maksimal maka perusahaan dikatakan memiliki kinerja perusahaan yang baik sehingga nilai perusahaan pun dianggap baik (Savitri, 2014).

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai salah satu regulator dan penyelenggara perdagangan di Pasar Modal Indonesia menyediakan berbagai solusi produk Data Pasar yang dikembangkan untuk memberikan informasi kepada publik agar dapat membuat keputusan yang tepat. Salah satu sektor yang terdapat didalam BEI adalah sektor pertambangan. Sektor pertambangan dapat dijadikan penopang dalam hal pembangunan ekonomi karena menyediakan sumber daya energi yang diperlukan untuk pertumbuhan perekonomian nasional.

Perusahaan tambang merupakan komoditas tambang unggulan di Indonesia yang produknya dibutuhkan market dalam dan luar negeri. Terbukanya peluang pertumbuhan perusahaan yang bergerak pada sektor tersebut ditunjukkan dengan adanya dukungan dari pemerintah dalam hal menciptakan iklim investasi

5 yang kondusif serta potensi alam Indonesia yang kaya akan sumber daya mineralnya. Pendanaan atau permodalan dijadikan isu utama terkait dengan adanya pengembangan perusahaan pada sektor pertambangan terutama pada perusahaan yang sudah go public karena sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh sektor atau industri tersebut yang padat modal atau memerlukan biaya investasi yang sangat besar, berjangka panjang, padat resiko atau sarat risiko serta adanya ketidakpastian yang tinggi atau besar.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh penelitian terdahulu, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Tia, et al., 2018, hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal pada tahap start up, growth, dan mature berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perusahaan. Dimana, struktur modal pada setiap tahapan siklus hidup perusahaan tersebut berbeda-beda, semakin besar struktur modal maka kinerja perusahaan semakin meningkat, sehingga nilai suatu perusahaan pun akan semakin baik.

Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Noviana (2016) yang menyatakan bahwa variabel siklus hidup perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap struktur modal. Oleh karena itu, struktur modal yang optimal dan dapat meningkat nilai perusahaan. Sedangkan, penelitian yang dilakukan oleh Heru Cahyo (2020) menemukan bahwa siklus hidup pada tahap pertumbuhan berpengaruh positif dan signifikan, pada tahap dewasa tidak berpengaruh dan pada tahap penurunan juga tidak berpengaruh. Penelitian lain yang dilakukan oleh Irawan dan Kusuma (20190 menunjukkan bahwa struktur

6 modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Artinya apabila perusahaan mengubah struktur modalnya maka nilai perusahaan tidak akan terpengaruh.

Berikut ini tabel tingkat pertumbuhan penjualan dalam tahapan siklus hidup perusahaan :

Tabel 1.1

Tingkat Pertumbuhan Penjualan Dalam Siklus Hidup Perusahaan Tahap Siklus Hidup Perusahaan Rata-rata Pertumbuhan Penjualan

Start Up >50%

Growth 10% - 49,9%

Mature 0 – 9,9%

Decline < 0%

Tabel 1.1 di atas menunjukkan pengukuran daur hidup yang mengacu pada metode Agrawal dan Gup (1996) dalam Arifin (2009) yang mengelompokkan daur hidup perusahaan berdasarkan pertumbuhan penjualan kumulatif dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan Penjualan adalah perbandingan dari perubahan (kenaikan ataupun penurunan) dalam jumlah total penjualan pada aktiva akhir tahun terhadap awal tahun. Pertumbuhan penjualan dinyatakan dalam satuan persentase. Berikut ini adalah data struktur modal, siklus hidup perusahaan dan nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2017-2021 :

7 Tabel 1.2

Data Struktur Modal, Siklus Hidup Perusahaan, dan Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Pertambangan Periode 2017-2021

Nama Perusahaan Tahun

Struktur Modal

(%)

Siklus Hidup Perusahaan

(%)

Nilai Perusahaan

(x)

PT. Aneka Tambang Tbk

2017 62,32 38,96 0,88

2018 68,73 99,48 0,96

2019 66,52 29,62 1,07

2020 66,65 -16,34 1,87

2021 57,97 40,45 0,37

PT. Citra Mineral Investindo Tbk

2017 192,87 48,97 1,55

2018 117,95 176,42 2,44

2019 91,71 94,48 2,01

2020 19,71 11,55 3,02

2021 17,31 5,38 3,11

PT. Citatah Tbk

2017 117,87 -15,62 0,72

2018 124,59 20,73 0,75

2019 149,75 -46,17 0,72

2020 202,02 -32,05 0,77

2021 237,29 -9,00 0,79

PT. Mitra Investindo Tbk

2017 181,68 -26,24 0,95

2018 96,17 10,04 0,97

2019 568,17 -100 1,68

2020 28,31 0 0,97

2021 13,03 0 3,72

PT. Bukit Asam Tbk

2017 59,33 13,85 1,66

2018 48,58 4,51 2,20

2019 41,66 12,56 1,43

2020 42,02 -6,00 0,43

2021 48,94 8,59 1,19

PT. Golden Eagle Energy Tbk

2017 73,04 2,80 1,00

2018 69,95 230,36 1,02

2019 49,12 31,43 4,74

8

2020 56,19 -16,31 4,50

2021 28,59 142,68 6,27

PT. Timah Tbk

2017 95,93 27,93 0,49

2018 131,80 19,70 0,57

2019 287,21 90,50 0,74

2020 193,87 -21,33 0,66

2021 57,06 -4,00 0,57

PT. Elnusa Tbk

2017 59,09 37,52 0,37

2018 71,42 33,05 0,42

2019 90,26 26,57 0,47

2020 102,16 -7,85 0,85

2021 91,49 5,30 0,76

Sumber : Data diolah (2022)

Tabel 1.2 diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2017 PT. Aneka Tambang Tbk memiliki struktur modal sebesar 62,32% dengan pertumbuhan penjulan sebesar 38,96% dan nilai perusahaan 0,88 kali mengalami kenaikan di tahun 2018 struktur modal sebesar 68,73%, petumbuhan penjualan sebesar 99,48% dengan nilai perusahaan sebesar 0,96 kali. Hal ini terjadi pula pada PT . Citatah Tbk yang mengalami kenaikan struktur modal pada tahun 2018 sebesar 124,59% yang semula 117,87% pada tahun 2017 dengan pertumbuhan penjualan semula -15,62% menjadi 20,73% dan nilai perusahaan 0,72 kali menjadi 0,72 kali.

PT. Timah Tbk dan PT. Elnusa Tbk di tahun 2018 mengalami kenaikan struktur modal dan nilai perusahaan dari tahun 2017, namun mengalami penurunan pada pertumbuhan penjualan. Sedangkan, PT. Mitra Investindo, PT.

Bukit Asam Tbk, PT. Citra Mineral Investindo Tbk dan PT. Golden Eagle Energy Tbk justru mengalami penurunan penggunaan utang terhadap ekuitas yaitu masing-masing 181,689% menjadi 96,17%, 59,33% menjadi 48,58%, 192,87%

9 menjadi 117,95% dan 73,04% menjadi 69,95%. Hal tersebut diiringi pula dengan naik turunnya struktur modal, pertumbuhan penjualan dan nilai perusahaan dari masing-masing perusahaan tersebut di tahun 2019-2021.

Fenomena yang terjadi pada delapan perusahaan pertambangan tersebut dari tahun 2017-2021 dapat disimpulkan bahwa struktur modal yang optimal mempunyai tingkat resiko dan tingkat pengembaliannya dalam keadaan seimbang sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Perusahaan dapat dikatakan memiliki tingkat pendanaan yang efisien apabila memiliki struktur modal yang optimal. Selain itu, dapat pula dilihat dari pertumbuhan penjualan setiap tahunnya agar investor dapat mengambil keputusan dalam berinvestasi. Semakin besar struktur modal maka nilai perusahaan semakin meningkat.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul tesis “Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan Berdasarkan Siklus Hidup Perusahaan Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2017-2021”.

Dokumen terkait