Pencapaian Visi, misi, target organisasi Visi, Misi, Target Organisasi
Strategi / Perencanaan / Program Kerja yang disusun dalam Indikator
Target Organisasi
Target Ideal Masing- Masing Strategi/
Program Kerja/ KPI Organisasi
Yang sudah tercapai
Yang belum tercapai
(Gap) Alat Pengumpul Data
Visi
Menjadi perusahaan jasa marine yang terintegrasi dengan skala global pada tahun 2026
Penyusunan RJPP dengan target revenue 2026 sebesar Rp. 10.2 T dan EBITDA Rp. 2.2 T
Tahun 2024:
1. Penambahan Harbour Tug untuk Nusantara Regas, dan crew boat & utility boat untuk kebutuhan PHE
2. Penambahan lokasi kerja BUP
3. Penambahan volume pekerjaan Port Maintenance dan teknik bawah air
1. Penambahan Harbour Tug untuk Nusantara Regas, dan crew boat & utility boat untuk kebutuhan PHE
Terlaksana (Penambahan Unit Kapal untuk Support Kapal LNG Nusantara
Regas)
● Dokumen perusahaan
● Wawancara
2.Penambahan lokasi kerja BUP (Badan Usaha Pelabuhan)
- Penambahan BUP masih dalam progress 75%
3. Penambahan volume
pekerjaan Port Maintenance dan teknik bawah air
- Belum terealisasi MPP untuk ditempatkan port-port dan banyaknya posisi port supervisor vacant di beberapa region port (ex; port Pulau Bangka Region I) sehingga bisa terlaksana di bulan
November dan
Desember Misi
Melaksanakan kegiatan bisnis yang berorientasi pada aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment), kehandalan operasional dan
mengutamakan kepuasan pelanggan dalam bidang :
Proses Bisnis PTK : 1. Develop Vision, Strategy, Portofolio, and Business Development 2. Marketing &
Commercial Management
1. Merumuskan visi jangka panjang dengan
menyesuaikan visi induk perusahaan dan
mengembangkan layanan maritim,
1. Melakukan Market Study, visi strategis dan roadmap jangka panjang
Roadmap jangka panjang belum bisa terlaksana, terhambat
dalam operasional
● Dokumen perusahaan
● Wawancara
a. Penyediaan jasa penyewaan kapal
b. Penyediaan layanan marine
c. Penyediaan jasa logistik
3. Non-Tanker Shipping Operations
Management 4. Marine Services Management 5. Port & Shipping Engineering Management 6. Shipping Services Management 7. Logistic Services Management
8. Operational Assets Management(meningkat kan integritas asset) 9. Risk, Quality and Business Resilience Management(pembuata n risk register dan conrol risk)
10. HSSE Management
termasuk marine support, offshore support, dan pengelolaan pelabuhan.
2. mengembangkan strategi
pemasaran dengan menganalisis pasar, pelanggan, dan kapabilitas, mengidentifikasi peluang pasar dan menetapkan harga untuk setiap bisnis Perusahaan 3. Melakukan penanambah armada untuk port seperti kapal tunda, kapal support dan layanan yang ada di port
4. Menetapkan harga jual operasi untuk marine services
Mengembangkan inisiatif strategis sustainability SH IML group
-Kurangnya koordinasi dalam pengembangan strategi bisnis SH IML
(Meningktan Mutu HSSE)
11. Human Capital Management (Meningkatkan pemberdayaan SDM ) 12. Information Technology
Management(Penuingkt an keamanan IT) 13. Financial Resources Management
14. Procurement Construction & Assets Management
15. Legal, Compliance &
Internal Audit
16. Internal Stakeholder
& External Relationship
5. Memperluas jasa enggireng di seluruh port Indonesia 6. Memperluas jasa
pendukung pelayaran di seluruh port Indonesia 7. Memperluas jasa
logistic service di seluruh port Indonesia 8. melakukan
pengelolaan risiko dengan
menetapkan kebijakan, framework, dan strategi
manajemen risiko yang terintegrasi 9. Mengelola
Implementasi Kesisteman &
Regulasi HSSE dengan sistematis dan terintegrasi mencakup seluruh proses bisnis
-Melakukan tinjauan dan evaluasi strategi bisnis dan nonbisnis
Terlaksana
10. Menigkatkan pemberdayaan SDM untuk perusahaan 11. Pengembangan IT
akan keamanan, privasi dan perlindungan data 12. mengelola
keuangan melalui penganggaran, optimasi arus kas, efisiensi
pengeluaran, dan pemantauan aset.
13. Melakukan kegiatan
pengadaan barang
& jasa non kapal 14. memastikan
kepatuhan hukum, etika bisnis, dan tata kelola Perusahaan melalui dit internal berbasis risiko untuk menjaga integritas dan efisiensi operasional.
15. Memngembangka n dan membangun hubungan dengan partner usaha seperti AP dan lainya
Analisa Penyebab Permasalahan Visi, Misi, dan Target Organisasi
Permasalahan Analisis Penyebab Penjelasan Simpulan
Penyebab Masalah
Alat Pengumpulan Data
Man Method Material Environment
Penambahan BUP (Badan Usaha Pelabuhan) masih dalam progress 75%
Kurangnya kemampuan dalam manajemen tugas HCO untuk plot interview dan kurangnya kemampuan HC untuk mengadakan training expert pekerja port
Kurangnya pelatihan atau sumber daya untuk meningkatkan kapasitas SDM yang ada
Keterbatasan SDM Expert dalam penambahan Port
Terhambat dalam Operasional (terutama dalam terbatasnya kapasitas SDM expert)
Belum terealisasi MPP untuk ditempatkan port-
Kurangnya kemampuan dalam manajemen waktu
Keterbatasan SDM dalam pemenuhan MPP untuk posisi
Adanya hambatan dalam distribusi SDM (MPP) membuat kurangnya support
Pengaruh Pelatihan terhadap kinerja karyawan kapal di PT X()
Permasalahan Analisis Penyebab Penjelasan Simpulan Penyebab Masalah
Alat Pengumpulan Data
Man Method Material Environment
port sehingga banyaknya posisi port supervisor vacant
HCO untuk plot interview
vacant
Keterbatasan User tidak sebanding dengan pelaksanaan interview
dalam operasional Port
Roadmap jangka panjang belum bisa terlaksana terutama terhambat dalam operasional
Sistem alat pendukung operasional kurang memadai di beberapa Port
Kondisi pelabuhan yang menuntut infrastruktur yang lebih canggih.
Kurangnya peralatan dan fasilitas pelabuhan yang kurang memadai menghambat
operasional Kurangnya
komunikasi dan koordinasi antar SH IML (terutama terkait birokrasi)
Kurangnya koordinasi dalam berkomunikasi
Proses birokrasi yang berbelit dan panjang memperlambat aliran informasi dan keputusan.
Kurangnya platform atau sistem teknologi yang mendukung komunikasi cepat antar SH.
Tidak ada tim atau individu yang ditugaskan secara khusus untuk menjembatani komunikasi antar SH IML.
kurangnya komunikasi dan koordinasi antar SH IML menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan operasional.
PTK tidak memiliki tim development bisnis sehingga workload dibebankan ke Human Capital Support
Kurangnya
pengetahuan officer divisi QM sebagai PIC akan
pembuatan TKO baru
Tidak ada adaptasi TKO dari induk
perusahaan
Kurangnya divisi bisnis development menyebabkan workload pada divisi human capital support
Perusahaan tidak memiliki team bisnis development dan internal perusahaan karena keseluruhan mengacu pada TKO yang dimiliki induk perusahaan
menyebabkan
workload yang double pada divisi HCS.
Pelaksanaan proses kerja organisasi dan kerjasama antar fungsi (kepuasan pelanggan internal) Nama
Divisi/Departemen/Unit Kerja
Divisi/Departemen/Unit Kerja yang Dilayani
Standar Ideal Layanan
Layanan Yang sudah sesuai Standar
Layanan yang Belum Sesuai Standar (Gap)
Fungsi Human Capital &
Business Partner
Seluruh Fungsi yang berada di dalam PTK Group.
1. Pengembangan strategi, kebijakan dan mengelola perencanaan HC
-Mengembangkan strategi Sumber Daya Manusia
-Menyusun dan melaksanakan strategi dan kebijakan tenaga kerja
-Memonitor dan memutakhirkan strategi dan rencana SDM -Menyusun model manajemen kompetensi
-Pedoman menyesuaikan Induk Perusahaan dengan setting PTK sehingga tidak ada pedoman sendiri (kecuali pedoman pemberian
penghargaan murni develop sendiri) -Remunerasi dan Career Path tidak ada pedoman
2. Pengelolaan proses bisnis
-Menyusun dan
memelihara tata-kelola proses bisnis
-Menyusun dan mengelola kerangka-
-Terlalu banyak scope bisnis (29 bisnis) dengan organisasi yang lebih kecil
dibandingkan Induk Perusahaan scope
kerja proses bisnis -Mendefinisikan proses bisnis
-Mengelola kinerja proses bisnis
-Memperbaiki proses bisnis
bisnis kecil dengan organisasi lebih besar
-Tidak optimalnya organisasi dalam menjalankan seluruh bisnis yang ada
3.Pengembangan rancangan organisasi
-Mengidentifikasi struktur organisasi saat ini
-Mengelola
pengembangan desain ulang organisasi -Mengidentifikasi kebutuhan jumlah karyawan
-Jumlah pekerja tdk sebanding dengan workload, user merasa melakukan jobdesk lebih dari kapasitas jabatan (over)
-Mekanisme SSC (Shared Service Center) yang tidak
4. Rekrutmen dan seleksi
-Menyusun dan
mengembangkan proses rekrutmen pekerja -Melaksanakan rekrutmen dan seleksi (PWTT) dan (PWT) -Mengelola pekerja baru/pekerja yang dipekerjakan kembali (PWTT) dan (PWT)
-Mengelola data pelamar pasca proses rekrutmen (PWTT) dan (PWT)
berjalan optimal karena hilangnya fungsi HCS yang berhubungan sehingga workload dibebankan ke fungsi HCBP -PIC tidak dibekali dengan sertifikasi -Pengurangan struktur organisasi mengakibatkan menambah beban workload officer karena beralih fungsi beberapa divisi
-Seringnya
reformasi struktur dilakukan
menyebabkan demotivasi pekerja
-Jumlah jabatan (realisasi MPP) tdk sebanding dgn waktu yang diberikan
-User dari jabatan sama sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam interview karena
keterbatasan user tidak sebanding dengan kandidat serta waktu yg diberikan -Kurangnya
sinkronisasi dengan divisi lain (ex; IT terkait fasilitas device, email) untuk Officer baru yang onboarding.
Sedangkan di induk perusahaan SOP Sinkronisasi tidak sekaku PTK
5.Pengembangan dan pembinaan pekerja
-Mengelola program induction untuk pekerja baru dan mutasi
-Seringkali Intervensi User dalam mutasi mengakibatkan
- Mengelola
pengembangan dan pelatihan pekerja - Mengelola pembinaan
pekerja -Mengelola
pengembangan, pelatihan, dan pembinaan talenta khusus (HiPo) - Mengelola kinerja
pekerja
tidak memenuhi SLA (teknis request mutasi ke ssc tanggal 12-15 H- Sebulan, namun user seringkali meminta request perpindahan bulan/saat itu juga) -Officer request Mutasi karena bosan yang berakibat akan demotivasi pada jabatan saat ini -Jika Officer dgn jabatan yang berkaitan dengan vendor (ex;
Procurement) terlalu lama bisa nyari celah untuk corrupt (solusinya Crew Talent Mobility, dkk) -Tidak ada gap kompetensi antara Officer selaku
pemangku jabatan dengan Pedoman Jobdesk untuk dijadikan pedoman training
-Tidak semua fungsi menyediakan TNA - Target training sudah tercapai tapi Officer yang ditraining itu itu saja
6.Pengelolaan payroll
- Memproses
pembayaran payroll -Memproses pajak
payroll
-Terbatasnya akses data kesehatan pegawai oleh officer sehingga perlu reach out setiap kali
membutuhkan data kesehatan dari Fungsi HSSE -Klaim pembayaran dgn periode 1 bulan masuk melalui email manajer namun tidak rutin diturunkan kepada
officer sehingga officer memproses melalui request user
7.Pengelolaan kedisiplinan pekerja
-Mengelola laporan pelanggaran
kedisiplinan pekerja - Mengelola pemberian
sanksi atas pelanggaran kedisiplinan pekerja
- Kurangnya sosialisasi kepada Officer terkait peraturan dan pedoman yang harus dipatuhi
8. Pengelolaan recognition dan retention
- Menyusun dan mengelola program penghargaan, pengakuan, motivasi - Mengelola dan
memberikan benefit - Mengelola program
retensi
-Keterbatasan waktu komunikasi untuk berdiskusi dalam menentukan benefit dengan atasan karena sibuk
-Benefit yang diberikan menyesuaikan atasan (sebelumnya beasiswa namun karena tidak periode sebelumnya terealisasi
seringkali berubah sesuai keinginan
atasan ex; emas dan barang) -Kurangnya koordinasi antara PIC dengan User yang menyebabkan keterlambatan dalam pemberian penghargaan
9. Pengelolaan penempatan pekerja
- Mengelola proses kenaikan dan penurunan pangkat (promosi dan demosi) -Mengembangkan dan
melaksanakan penempatan pekerja - Melakukan pengkajian
terhadap usulan penugasan
-Kurangnya komunikasi antar SH IML terkait rotasi jabatan sehingga terhambat ketika meminta approval atasan -Seringkali request mutasi dekat dengan tenggat waktu request batas mutasi sebelum tanggal 15 H-Sebulan (bisa molor beberapa hari dengan surat dispen)
10. Pengelolaan pemberhentian pekerja
- Mengelola Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
- Masih proses manual berdasarkan
- Mengelola pensiun -Melakukan
pembayaran benefit pasca PHK
remind pekerja (tidak ada reminder by sistem)
11. Pengelolaan rekrutmen pekerja outsourcing (mandays)
-Mengidentifikasi spesifikasi pekerjaan yang dialihdayakan -Mempersiapkan
kontrak dengan pihak vendor outsourcing - Mengalokasikan
pekerja outsourcing sesuai dengan kebutuhan organisasi -Mengevaluasi aktivitas
pekerja outsourcing - Melaksanakan
administrasi
pengelolaan pekerja outsourcing
-Tidak adanya TKO (Tata Kelola Organisasi) dalam perekrutan outsourcing
12. Pengelolaan informasi pekerja
-Mengelola dan memperkini data pekerja termasuk sistem informasi SDM (HRIS)
-Pekerja bisa update data secara mandiri melalui platform namun seringkali request ke PIC HC untuk
- Mengelola pelaporan terkait data pekerja (HR Dashboard)
- Mengembangkan dan mengelola waktu dan sistem kehadiran -Mengelola data retensi
(loyalitas) dan motivasi pekerja
- Mengelola/mengumpul kan saran dari pekerja dan melaksanakan riset/survei pekerja
update (bisa karena kurang sosialisasi, kurang paham, atau tidak pengen ribet) -Kesusahan dalam berkoordinasi dengan SSC (Shared Service Center) Pertamina dalam prosesnya yang sering lambat serta PIC tidak ada koneksi dengan officer SSC, seringkali user request ulang sebagai reminder -Base data berasal dari Induk
Perusahaan, seringkali ketika update data pintu masuknya tidak dari HC saja namun divisi lain juga sering mencari data manual
-Update data
pekerja yang mutasi sering terhambat karena sistem SSC yang lama
13. Pengelolaan komunikasi pekerja
- Menyusun rencana komunikasi antar pekerja
-Melaksanakan program komunikasi pekerja
-Para pekerja cenderung kurang tertarik dan berminat terhadap program yang dibuat
-Terlambatnya dispo dari Induk Perusahaan ke PTK (proses birokrasi dibutuhkan) sehingga
pelaksanaan proker mepet dengan tanggal proker (user pengurus event biasanya akan merasa kurang bisa maksimal karena mepet).
14. Pengelolaan korespondensi dan pengarsipan perusahaan
- Membuat kebijakan korespondensi dan pengarsipan
-Sering
terlambatnya P Office (webmail Pertamina) seperti
perusahaan
- Membuat template umum korespondensi perusahaan
- Mengevaluasi dan memperbaharui template umum korespondensi perusahaan - Mengelola
korespondensi elektronik
update jabatan user karena SSC (Shared Service Center) butuh di approach oleh officer -Kurangnya sosialisasi
korespondensi dan pengarsipan kepada PIC (Sekre dan manajemen divisi) dari fungsi HC (Quality Management)
- 15. Pengelolaan
pembaharuan STK, termasuk di dalamnya pembuatan baru dan revisi STK lama guna meningkatan kualitas standar manajemen perus haaan
- Membuat kebijakan yang berisikan pengelolaan, penyusunan, dan penulisan Sistem Tata Kerja (“STK”) yang dapat dijadikan panduan
- Membuat template penulisan STK Perusahaan
- Kurangnya pengetahuan akan prosedur pembuatan STK
- kurangnya
kesadaran untuk memperbarui atau membuat STK dari manpo werr
- Pembaharuan STK meliputi revisi eksisting STK dan pembuatan STK baru - Mengadakan clinic
stk untuk percepatan pembuatan dan pemberlakuan stk
Pelaksanaan proses kerja organisasi dan kerjasama antar fungsi (kepuasan pelanggan internal)
Permasalahan Analisis Penyebab Penjelasan Simpulan
Penyebab Masalah
Alat Pengumpulan Data
Man Method Material Environment
Mekanisme SSC (Shared Service Center) yang tidak berjalan optimal
Kurangnya
kemampuan officer SSC untuk manage pekerjaan dengan efektif
User seringkali request ulang request mereka karena koordinasi SSC terhambat
Hilangnya fungsi HCS yang berhubungan dengan SSC
Officer SSC yang terbatas untuk menangani grup Pertamina
Banyaknya request user dari seluruh grup Pertamina lain ke sistem SSC
SSC yang tidak optimal dalam operasional karena hilangnya HCS sebagai jembatan dari HC PTK, yang menyebabkan koordinasi operasional lambat
Permasalahan Analisis Penyebab Penjelasan Simpulan Penyebab Masalah
Alat Pengumpulan Data
Man Method Material Environment
Terlalu banyak scope bisnis (29 bisnis) dengan organisasi yang lebih kecil dibandingkan Induk Perusahaan scope bisnis kecil dengan organisasi lebih besar
Ketersediaan tools yang lebih optimal untuk technical
Organisasi PTK lebih kecil dibandingkan Induk Perusahaan (PIS)
Merupakan anak perusahaan yang menjalankan aktivitas technical support untuk PIS
Organisasi mengalami kesulitan dalam mengelola 29 bisnis karena organisasi yang lebih kecil
menyebabkan tidak optimalnya proses bisnis organisasi dibandingkan induk perusahaan (lebih besar, proses bisnis kecil)
Pengurangan struktur organisasi menambah workload officer yang berakibat output pekerjaan tidak maksimal
Officer merasa kesulitan untuk memanage pekerjaan yang diberikan karena pengurangan struktur
Perubahan Fungsi dan Struktur organisasi mengakibatkan penambahan jobdesk
Disposisi dari Pertamina Persero untuk perubahan struktur organisasi dengan melihat acuan Induk perusahaan (PIS)
Pengurangan struktur organisasi
menyebabkan officer bekerja di luar workload karena fungsi divisi sering beralih
tanpa adanya
penyesuaian beban kerja.
Officer merasa jenuh terhadap jabatan saat ini (jabatan support) karena sudah 3 tahun dalam jabatan saat ini, sehingga request untuk mutasi
Officer merasa kesulitan
beradaptasi dengan pekerjaan support karena terbiasa dengan pekerjaan teknis
Officer merasa jenuh dan demotivasi kerja dengan jabatan saat ini karena sudah
Lingkungan pekerjaan yang monoton (umumnya dari pekerja teknis ke support)
Officer meminta untuk mutasi jabatan karena sudah lebih dari 3 tahun (durasi maksimal untuk satu jabatan) dalam jabatan kali ini dan sudah bosan, mengakibatkan demotivasi kerja pada jabatan saat ini d an mempengaruhi hasil kinerja
Permasalahan Analisis Penyebab Penjelasan Simpulan Penyebab Masalah
Alat Pengumpulan Data
Man Method Material Environment
menjabat lebih dari 3 tahun (durasi maksimal untuk mutasi yaitu 2 tahun)
Kurangnya sinkronisasi Divisi Rekrutmen dengan divisi lain
Kurang
fleksibelnya divisi lain dalam
menanggapi request HCO
Pedoman request ke divisi lain terlalu kaku dibanding induk Perusahaan
Kurangnya
sinkronisasi antara Divisi Rekrutmen dan
divisi lain
mengakibatkan keterlambatan dalam proses onboarding rekrutmen.
Target training sudah tercapai tapi Officer yang mengikuti training itu itu saja
Officer merasa training yang diberikan tidak berimpact langsung terhadap
pekerjaannya sehingga kurang bermotivasi untuk mengikuti
Unit lain tidak memberikan data kebutuhan training sehingga divisi training merasa kesulitan menentukan topik training yang diperlukan
Officer merasa pelatihan yang disediakan kurang berdampak langsung terhadap pekerjaannya, menyebabkan
kurangnya motivasi untuk mengikuti pelatihan
Permasalahan Analisis Penyebab Penjelasan Simpulan Penyebab Masalah
Alat Pengumpulan Data
Man Method Material Environment
Terbatasnya akses data kesehatan pegawai oleh officer
Prosedur yang tidak efektif dalam pengolahan data kesehatan
Officer PIC yang tidak diberikan akses data kesehatan pegawai
Officer HC tidak dapat langsung mengolah data kesehatan (ex;
BPJS, asuransi) sehingga perlu reach out setiap kali membutuhkan data kesehatan dari Fungsi HSSE
Masih proses manual berdasarkan remind pekerja untuk sistem pembayaran benefit PHK (tidak ada reminder by sistem)
Kurangnya kemampuan manajemen tugas dalam menentukan skala prioritas (karena benefit pembayaran PHK dibayarkan saat akan pensiun) dari officer terhadap pekerjaannya
Tidak ada sistem pendukung dalam reminder
Sistem pembayaran benefit PHK masih manual berdasarkan officer tersebut jika ingat yang berakibat seringnya telat H+1 / H+2 Bulan
Pekerja bisa update data secara mandiri melalui platform namun seringkali request ke PIC HC
Kurangnya inisiatif officer dalam pengisian data secara mandiri
Habit pekerja yang
Seringnya Pekerja yang meminta untuk mengisikan data pekerja (seharusnya submit mandiri)
Tidak tercapainya target pembuatan STK
Kurangnya kepemimpin divisi QM akan tentang pembuatan STK
Kurangnya pedoman dari induk perusahaan
Kurangnya motivasi officer akan tanggung jawab tugas
pembuatan STK
Penyebab masalah ini adalah rendahnya
motivasi dan
kurangnya
pengetahuan tentang format pembuatan STK di setiap divisi
Pengaruh kesadaran akan pembuatan sop kerja terhadap efektivitas pekerja
Kebutuhan Kesejahteraan Kondisi Ergonomi Organisasi Kondisi dan Fasilitas
Bangunan dan Ruang Kerja
Fasilitas dan Alat Kerja
Layanan Pemenuhan Kesehatan dan Kesejahteraan
Karyawan
Pelaksanaan
Keselamatan Kerja Alat Pengumpul Data
Permasalahan yang muncul:
1. Ruang kerja yang overload karena kurangnya space dalam setiap lantai karena 1 lantai berisikan 2 divisi (HC dan Finance) yang seharusnya 1 divisi saja 2. Beberapa divisi bergabung dalam satu lantai tanpa ada batas atau sekat menyebabkan kebisingan dan terlalu terbuka antar divisi 3. Minimnya Meeting Room yang proper dan tertutup untuk
pembahasan confidential 4. Fasilitas tempat parkir
Fasilitas:
1. Terdapat 2 Lift yang menghubungkan dari lantai resepsionis yaitu lantai 1 hingga 7.
Terdapat alternatif lain, yaitu Tangga sebagai akses selain lift.
2. Skybridge yang menghubungkan gedung transko dengan gedung kontinental.
3. Fasilitas penunjang lainnya, seperti parkiran motor, parkiran mobil, kantin, masjid, serta halaman luas. Pos satpam sebagai tempat body checking bagi visitor atau karyawan.
1. Tunjangan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan:
a. .Jaminan Hari Tua b. Jaminan Pensiun c. Jaminan Beasiswa 2. Layanan
kesehatan untuk keluarga (EMC, Siloam, dll) 3. Dana Pensiun 4. Tabungan wajib pekerja
5. Pembayaran Benefit Karyawan PHK
6. Promosi (Merit- Based)
Fasilitas Keselamatan Kerja :
1. APAR (Alat
Pemadam Api Ringan) pada setiap lobby lantai.
2. First Aid Box di seluruh ruangan office 3. Terdapat heat / fire detector dan smoke detector pada langit- langit lantai
4. Titik kumpul evakuasi
5. Emergency lamp di setiap lantai dan tangga
● Dokumen perusahaan
● Survei terkait ergonomi
● Observasi
motor yang kurang luas dan tidak beratap. (3 Perusahaan
menggunakan 1 parkiran yang sama)
5. Fasilitas tempat parkir Mobil yang kecil
menyebabkan overload jika hari-hari penting (ex:
sh lain dinas ke ptk)
Serta terdapat tempat fitness dan mini cafe.
4. Alat absensi berupa fingerprint dan face recognition di setiap pintu akses ruangan divisi.
5. Setiap lantai memiliki 2 kamar mandi, mushola, loker-loker pekerja, dan meeting room.
6. Terdapat pantry, unit kulkas, dispenser di setiap lantai beserta pewangi ruangan di setiap sudut ruangan.
7. Setiap gedung
memakai AC Central dan Beberapa unit AC Tempel tambahan untuk setiap lantai.
8. Setiap gedung memiliki 2 wifi repeater yang disebar setiap lantai.
7. Bonus insentif 8. Kesempatan melanjutkan pendidikan pascasarjana 9. Opportunity international career 10. Cuti tetap diberi upah
6. Stretcher dan Fire Blanket di setiap lobby lantai
7. Emergency Box disetiap lobby lantai
9. Unit PC yang
berspesifikasi minimum.
10. Koneksi jaringan WiFi yang seringkali unstable.
Alat Kerja :
1. Meja Kerja dengan tinggi 80 cm, panjang 150 cm, dan lebar 60 cm untuk setiap 1 pekerja.
Serta Kursi ergonomis hidrolik sebagai pelengkapnya. Meja disusun secara menyamping dan berhadapan.
2. Di setiap meja terdapat colokan listrik dan laci untuk para pekerja.
3. Unit Komputer, Laptop, Tablet untuk para pekerja.
4. Unit-unit Printer dan Scanner kecil di setiap lantai. TV sebagai
proyektor di setiap meeting room.
5. Rak untuk penyimpanan ATK (paper clip, binder clip, map kantor, etc) untuk para pekerja, khusus divisi Human Capital memiliki ruangan dosir untuk penyimpanan berkas para pekerja.