• Tidak ada hasil yang ditemukan

Limbah Minyak (Oily Water)

Dalam dokumen LAPORAN LENGKAP KP PRINT (Halaman 96-102)

Bab VII Penutup

4. Limbah Minyak (Oily Water)

Limbah oily water merupakan limbah air limbah yang terkena minyak berasal dari drainase, kebocoran air limbah dari pencucian peralatan-peralatan, dan tumpahan dari kegiatan operasional, area oil sewage of ignition pump house, area penyimpanan bahan bakar (HSD), oil dewatering ingition oil tank, washing water of steam turbin dan area rain water of oil tank and transformer area.

Limbah minyak diolah menggunakan oil separator yang mana berfungsi untuk memisahkan antara minyak dengan air. Terdapat 3 tabung dengan fungsi yang berbeda-beda. Pada tabung pertama, air dari bak limbah minyak yang dipompa masuk akan menjalani pemisahan dimana air – minyak tersebut akan melewati plat- plat pemisah utama.

Air yang masih mengandung minyak yang melewati plat-plat utama ini akan menjalani proses pemisahan pada plat-plat kedua, sehingga lumpur yang ringan akan tertahan. Selanjutnya dalam tabung ini akan terjadi proses pemisahan dimana prinsip kerjanya berdasarkan berat jenis cairan sehingga minyak yang memiliki

berat jenis lebih rendah dari air akan berada dipermukaan air dan terkumpul dalam ruang pengumpulan minyak. Kemudian air limbah dialirkan ke tabung kedua, pada tabung kedua, air dari bak pengumpul akan disaring kembali melalui separator sehingga partikel-partikel minyak akan dialirkan keluar tabung pemisah. Kemudian pada tabung ketiga, kandungan minyak yang terkumpul dalam ruang pengumpul minyak akan terus bertambah selama pompa bilge masih bekerja, hingga pada saat tingkat minyak dalam ruang sudah tinggi, maka alat pengontrol tingkat ketinggian minyak akan bekerja sehingga mengaktifkan katup solenoid untuk membuka.

Maka pada saat itulah minyak yang terkumpul dalam ruang pengumpulan akan mengalir ke Waste Oil Tank, dengan adannya pengeluaran minyak dalam tabung, maka tingkat ketinggian minyak akan menurun kembali sehingga alat sensor akan mengaktifkan katup solenoid untuk menutup.

4.3.2 Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP sudah mendapat izin untuk kegiatan penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (LB3) dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (LB3) PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP berasal dari limbah abu batubara, limbah B3 umum diantaranya kain majun bekas, perlumas bekas, drum kosong bekas, drigen bekas bahan kimia, IBC Tank kosong, bahan kimia kadaluarsa, aki bekas, bola lampu TL bekas, pasir terkontaminasi, limbah resin (penukar ion), limbah terkontaminasi B3, dan limbah klinis infeksius. Limbah B3 yang sudah terkumpul di TPS LB3 selanjutnya diserahkan kepada pihak ketiga yang sudah mempunyai izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pusat yaitu PT. Dame Alam Sejahtera (DAS).

IV-11

Permasalahan yang ditemukan pada pengelolaan limbah B3 di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP antara lain:

1. Masih terdapat tumpahan limbah B3 seperti limbah pelumas serta limbah resin 2. Terdapat genangan air di area depan TPS apabila terjadi hujan.

3. Ketidaksesuaian batas area penyimpanan jenis limbah B3.

4. Alat tanggap darurat seperti eye shower tidak berfungsi

5. Tidak ada label, simbol, dan tanda panah pada kemasan limbah B3 (IBC Tank, drum, drigen, jumbo bag).

Untuk mengurangi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan cara memetakan bahan-bahan kimia di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP seperti membuat denah/layout, membuat simbol dan label pada saat limbah masuk ke TPS, menandai tempat bahan kimia digunakan dan disimpan serta menemukan bahan kimia pada area yang sudah di tandai dan segera melakukan maintetnance pada area kerusakan seperti atap TPS.

4.3.3 Limbah Non B3

Limbah non B3 yang dihasilkan dari proses pengolahan PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP bersumber dari hasil operasional kantor yang nantinya akan ditempatkan pada tempat penampungan sampah sementara yang disediakan untuk selanjutnya setiap hari akan diangkut sebanyak 3-4 ritasi oleh truk sampah ke TPA sampah. Limbah padat yang berupa logam atau besi-besi dari proses produksi disebut juga dengan scrap ditempatkan di TPS Scrap dan tidak langsung dilakukan pengolahan karena merupakan inventaris perusahaan.

Untuk limbah padat berupa abu sisa pembakaran batu bara baik bottom ash dan fly ash akan ditampung pada silo tersedia dan 2-3 hari sekali diangkut dengan truk

ke ash yard. Sebenarnya abu sisa pembakaran terutama fly ash dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan seperti paving block, tetra-pot (pemecah ombak), sedangkan bottom ash dapat dimanfaatkan sebagai stabilisasi lahan.

4.3.4 Emisi

Pengendalian kualitas udara emisi di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP menggunakan ESP (Electrostatic Presipitator). ESP didesain memiliki empat ruang sehingga proses penangkapan debu sebanyak empat kali dengan tingkat efisiensi masing-masing penangkapan sebesar 90%. ESP berfungsi untuk menangkap abu yang terdapat pada gas buang hasil pembakaran bahan bakar (batu bara) pada sebuah industri.

Gas buang yang keluar dialirkan melalui inlet ESP kemudian dilewatkan ke collecting plate system yang sudah diberi muatan listrik sehingga abu akan menempel pada dinding collecting plate, lalu dilakukan pengetukan oleh rapping system dan abu akan jatuh kedalam hopper, setelah itu gas buang menjadi bersih dan terpisah dari abu, kemudian gas tersebut akan keluar melalui stack menuju atmosfer.

Pemantauan kualitas udara emisi di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP menggunakan alat CEMS (Contonious Emission Monitoring System) pada unit 1 dan 2, pemantauan udara emisi ini dilakukan selama 24 jam, dilakukan juga pemantauan secara manual oleh pihak ketiga per triwulan. Unit 3 dan 4 masih belum menggunakan CEMS, sehingga pemantauan dilakukan secara manual oleh pihak ketiga (PT.Sucofindo) pada setiap 3 bulan sekali (triwulan). Hasil pemantauan kualitas udara emisi di sesuaikan dengan peraturan PerMen LH No. 15 Tahun 2019 Lampiran I Tentang Baku Mutu Emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

BAB V

PENGAMATAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH NON B3 FLY ASH DAN BOTTOM ASH

5.1 Umum

Dalam melakukan pengelolaan lingkungan hidup, PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP melakukan beberapa pendekatan yang digunakan sesuai dengan jenis dampak dan karakteristiknya agar sasaran pengelolaan tercapai.

Pendekatan yang digunakan diantaranya mencakup pendekatan teknologi, sosial- ekonomi, dan institusi, yang penerapannya dapat berdiri sendiri maupun gabungan dua atau tiga pendekatan. Salah satu contoh pengelolaan lingkungan hidup iahlah mengelola limbah non bahan berbahaya dan beracun (B3) fly ash dan bottom ash agar tidak mencemari lingkungan melainkan dapat dimanfaatkan untuk keperluan perusahaan maupun asyarakat (internal dan eksternal).

Gambar 5.1 Siklus Produksi

Sumber: PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, 2024

V-3

5.2 Pengelolaan Limbah Non B3 Fly ash dan Bottom ash 5.2.1 Siklus Bahan Bakar

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah pembangkit yang mengandalkan energi mekanik dari uap untuk menghasilkan energi listrik dengan memggunakan batu bara sebagai bahan bakar. PT PLN Indonesia Power UBP Pangkalan Sasu menggunakan tiga jenis bahan bakar yaitu batu bara, HSD (High Speed Diesel), dan tambahan biomassa (sekam padi, serbuk gergaji, BBJP) Batu bara digunakan sebagai bahan bakar utama, HSD sebagai bahan bakar pemanas, dan biomassa sebagai energi terbarukan untuk mengurangi emisi. Pada siklus bahan bakar ini akan dijelaskan mulai dari tempat penyimpanan batu bara, proses pembakaran, limbah non B3 yang dihasilkan hingga tempat penimbunan limbah non B3 fly ash dan bottom ash.

Dalam dokumen LAPORAN LENGKAP KP PRINT (Halaman 96-102)

Dokumen terkait