• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN LENGKAP KP PRINT

N/A
N/A
21-019 -Tari Pebrina Purba

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN LENGKAP KP PRINT"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

BOTTOM ASH HASIL DARI PEMBAKARAN DI PT. PLN INDONESIA POWER PLTU PANGKALAN SUSU UBP

DISUSUN OLEH :

ELIZABETH MARGARETHA SIDABUTAR TARI PEBRINA PURBA

210407018 210407019

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTEK

PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH NON B3 FLY ASH DAN BOTTOM ASH HASIL DARI PEMBAKARAN DI PT. PLN INDONESIA POWER

PLTU PANGKALAN SUSU UBP DISUSUN OLEH :

ELIZABETH MARGARETHA SIDABUTAR TARI PEBRINA PURBA

210407018 210407019

Mengetahui dan Mengesahkan Pangkalan Susu, Januari 2024

Asistant Manager K3 dan Lingkungan

Herman Susanto 7294038A

Manager Operasi Manager Administrasi

Nursiswo Edrian

7093010A 7095085R

Senior Manager

Usvizal Z.

7090027

(3)

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktek yang berjudul

“PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH NON B3 FLY ASH DAN BOTTOM ASH HASIL DARI PEMBAKARAN DI PT. PLN INDONESIA POWER PLTU PANGKALAN SUSU UBP”.

Adapun laporan ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Kerja Praktek pada Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu baik berupa kritik maupun saran yang berguna dalam penulisan laporan ini, dan tidak lupa pula terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Orang tua dan saudara-saudara yang telah memberikan dorongan moril dan materil.

2. Bapak Dekan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan izin melaksanakan kerja praktek.

3. Bapak Zaid Perdana Nasution ST. MT. Ph.D selaku ketua Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Ir. Meutia Nurfahasdi ST., M.Sc sebagai koordinator kerja praktek

5. Bapak Zaid Perdana Nasution ST. MT. Ph.D sebagai Dosen Pembimbing Kerja Praktek.

6. Bapak Usvizal Z. sebagai Senior Manager PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP.

7. Bapak Nursiswo sebagai Manajer Operasi PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP.

(4)
(5)

9. Seluruh operator yang tidak bisa disebutkan satu-persatu namanya yang telah banyak membantu dan menemani kami selama di lapangan.

10. Bang Affandi, Bang Indra, Bang Roma, Bang Rawi, Bang Dicky, Bang Wanda, Kak Tia, Kak Ria, Kak Chindy, dan Kak Shintia, yang sudah banyak membantu kami selama pelaksanaan kerja praktek.

11. Seluruh teman-teman sesama mahasiswa yang sedang melaksanakan kerja praktek di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP

12. Seluruh teman-teman mahasiswa Teknik Lingkungan USU 2021.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik, saran dan masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan agar masa yang akan datang Laporan Kerja Praktek ini lebih sempurna. Semoga Laporan Kerja Praktek ini dapat memberikan sumbangan yang berarti dan bermanfaat.

(6)
(7)

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR ASISTENSI

KATA PENGANTAR………....i

DAFTAR ISI ... 1

DAFTAR GAMBAR ... 1

DAFTAR TABEL ... 1 BAB I. PENDAHULUAN ... I-Error! Bookmark not defined.

1.1 Latar Belakang ... I-Error! Bookmark not defined.

1.2 Tujuan ... I-3 1.3 Identifikasi Masalah ... I-3 1.4 Ruang Lingkup ... I-3 1.5 Batasan Masalah ... I-4 1.6 Sistematika Penulisan Laporan ... I-4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... II-Error! Bookmark not defined.

2.1 Pengertian Limbah B3 dan Limbah Non B3 II-Error! Bookmark not defined.

2.2 Pengertian Fly Ash ... II-2 2.3 Karakteristik atau Sifat-sifat Fly Ash ... II-Error! Bookmark not defined.

2.4 Klasifikasi Jenis Fly Ash ... II-4 2.5 Kandungan Fly Ash ... II-5

(8)

2.6 Pengertian Bottom Ash ... II-6 2.7 Keuntungan Penggunaan Bottom Ash ... II-7

(9)

2.9.1 Ruang Lingkup Pengelolaan Limbah Non B3 ... II-Error!

Bookmark not defined.

BAB III. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... III-Error! Bookmark not defined.

3.1 Sejarah Perusahaan ... III-Error! Bookmark not defined.

3.2 Lokasi Eksisting Perusahaan ... III-Error! Bookmark not defined.

3.3 Visi dan Misi Perusahaan ... III-Error! Bookmark not defined.

3.4 Unit dan Lokasi Operasional ... III-4 3.5 Struktur Organisasi dan Tugas Pokok ... III-9 3.5.1 Struktur Organisasi ... III-Error! Bookmark not defined.

3.5.2 Tugas Pokok Organisasi ... III-10 3.6 Susunan Jabatan, Position grade, dan Formasi Tenaga Kerja III-12 3.5.1 Bidang Operasi ... III-12 3.5.1 Bidang Pengelolaan Energi Primer ... III-13 3.5.1 Bidang Pemeliharaan ... III-14 3.5.1 Bidang Enjiniring ... III-15 3.5.1 Bidang Administrasi... III-16 3.5.1 Bidang Pengadaan Barang dan Jasa ... III-17 BAB IV. SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN IV-Error! Bookmark not defined.

4.1 Umum ... IV-Error! Bookmark not defined.

4.2 Kondisi EksistingPerusahaan ... IV-Error! Bookmark not defined.

(10)

4.3 Aspek Lingkungan Yang Dikelola .. IV-Error! Bookmark not defined.

4.3.1 Limbah Cair.... ... IV-Error! Bookmark not defined.

(11)

4.3.4 Emisi ... IV-Error! Bookmark not defined.

BAB V. PENGAMATAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN

LIMBAH NON B3 FLY ASH DAN BOTTOM ASH ... V-Error! Bookmark not defined.

5.1 Umum ... V-Error! Bookmark not defined.

5.2 Pengelolaan Limbah Non B3 Fly ash dan bottom ash ... V-3 5.2.1 Siklus Bahan Bakar...V-3 5.2.2 Pengelolaan Limbah Non B3...V-11 5.3 Pemanfaatan Limbah Non B3 Fly ash dan bottom ash ... V-15 5.3.1 Pemanfaatan Limbah Non B3 Fly Ash dan Bottom Ash Internal...V-15 5.3.1.1 Pemanfaatan Limbah Non B3 Fly Ash dan Bottom Ash Menjadi Paving block...V-16 5.3.1.2 Pemanfaatan Limbah Non B3 Fly Ash dan Bottom Ash Menjadi Pupuk Kompos...V-18 5.3.2 Pemanfaatan Limbah Non B3 Fly Ash dan Bottom Ash Eksternal...V-21 5.3.2.1 Pemanfaatan Limbah Non B3 Fly Ash dan Bottom Ash Pada Stabilisasi Lahan...V-22 BAB VI. TUGAS KHUSUS...VI-1 6.1 Monitoring Pengelolaan Limbah Non B3 Fly Ash dan Bottom

Ash...VI-1

(12)
(13)

Bottom Ash......VI-3 BAB VII. PENUTUP ... VII-Error! Bookmark not defined.

7.1 Kesimpulan ... VII-Error! Bookmark not defined.

7.2 Saran ... VII-2 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(14)
(15)

Gambar 2.2 Jenis Fly Ash ... II-5 Gambar 2.3 Bottom Ash ... II-Error! Bookmark not defined.

Gambar 2.4 Daftar Limbah Non B3 (Lampiran XIV PP No.22/2021) ... II-10 Gambar 3.1 Lokasi PLTU Pangkalan Susu ... III-3 Gambar 3.2 Strategi Building Block ... III-4 Gambar 3.3 Layout PLTU Pangkalan Susu ... III-6 Gambar 3.4 Peta Jaringan Sumatra Bagian Utara ... III-8 Gambar 3.5 Struktur Organisasi K3L PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu PGU ... III-9 Gambar 3.6 Gambar Bidang Operasi ... III-12 Gambar 3.7 Gambar Bidang Energi Primer ... III-13 Gambar 3.8 Gambar Bidang Pemeliharaan ... III-14 Gambar 3.9 Gambar Bidang Enjiniring ... III-16 Gambar 3.10 Gambar Bidang Administrasi ... III-17 Gambar 3.11 Gambar Bidang Pengadaan Barang dan Jasa ... III-18 Gambar 5.1 Siklus Produksi ... V-2 Gambar 5.2 Ship Unloader ... V-4 Gambar 5.3 Coal Yard ... V-5 Gambar 5.4 Diagram Coal Bunker, Coal Feeder, Coal Mill ... V-6 Gambar 5.5 Electrostatic Precipitator (ESP) ... V-7

(16)
(17)

Gambar 5.8 Ash Yard ... V-11 Gambar 5.9 Truck Pengangkutan fly ash dan bottom ash ... V-14 Gambar 5.10 Mixer Alat Pengaduk Bahan ... V-17 Gambar 5.11 Mesin Hidrolik ... V-17 Gambar 5.12 Paving Block ... V-18 Gambar 5.13 Pencacahan Daun Ke Mesin Pencacah ... V-20 Gambar 5.14 Kegiatan Penggamburan ... IV-20 Gambar 5.15 Penambahan EM4 ... IV-20 Gambar 5.16 Pemanfaatan Pupuk Kompos di Internal ... IV-21 Gambar 5.17 Alur Permintaan FABA ... IV-22 Gambar 5.18 Loading FABA ke Dump Truck ... IV-23 Gambar 5.19 Unloading FABA ke Area Penimbunan Mayarakat ... IV-23 Gambar 5.20 Pemerataan Penimbunan FABA Oleh Masyarakat ... IV-23

(18)
(19)

defined.

Tabel 5.2 Pemantauan CEMS Bulan Oktober Unit II ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.3 Lokasi Sampling Udara Ambien ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.4 Desa Pulau Sembilan ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.5 Desa Pintu Air ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.6 Desa Tanjung Pasir ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.7 Desa Sei Siur ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.8 Desa Paya Tampak ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 5.9 Desa Beras Basah ... V-Error! Bookmark not defined.

Tabel 6.1 Hasil Sampel Udara Ambien Triwulan ( Juli, Agustus dan

September) ... VI-Error! Bookmark not defined.

(20)
(21)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup besar. Sumber daya alam Indonesia sangat beragam, khususnya di sektor pertambangan dan energi. Kekayaan ini meliputi sumber daya minyak bumi, batubara, mineral, dan lain-lain. Salah satu sumber daya unggulan yang terdapat di Indonesia adalah batubara. Di Indonesia, batubara merupakan salah satu sumber daya yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) (Asof dkk, 2022).

Tenaga listrik merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa.

Semakin maju suatu masyarakat, semakin tinggi pula ketergantungan kebutuhan listrik masyarakat. Sebagai upaya pemenuhan kebutuhan tersebut, maka dibangunlah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Seperti sektor industri lainnya, kegiatan yang dilakukan pada industri PLTU akan menghasilkan limbah.

Salah satu limbah yang dihasilkan berupa limbah non bahan berbahaya dan beracun (B3). Mengingat adanya dampak negatif yang ditimbulkan oleh limbah non B3, maka industri pembangkit listrik tenaga uap wajib melakukan pengelolaan serta pemanfaatan limbah non B3 yang dihasilkannya. Pengelolaan dan pemanfaatan tersebut bertujuan untuk mencegah dan meminimalisasi potensi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah non B3, serta memanfaatakan.

Abu sisa pembakaran terbagi dua, yaitu fly ash dan bottom ash. Fly ash adalah material yang memiliki ukuran butiran yang halus yang terbawa gas buang dan

(22)
(23)

diperoleh dari hasil pembakaran batubara, sedangkan bottom ash adalah abu halus yang tertinggal dan dikeluarkan dari bawah tungku proses pembakaran (Samosir, 2021).

Fly ash dan bottom ash sebagai abu sisa hasil pembakaran batubara pada proses pembangkitan PLTU Batubara merupakan satu diantara beberapa sumber yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Limbah fly ash dan bottom ash mengandung logam beracun dalam konsentrasi yang jauh lebih tinggi apabila dilepaskan ke lingkungan oleh pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Oleh karenanya bukan merupakan hal yang berlebihan apabila Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP101/2014 PLB3) menetapkan fly ash dan bottom ash sebagai Limbah kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) (Aditama dkk, 2021).

Namun dengan terbitnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UUCK) yang mengusung konsep Omnibus Law, Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PP22/2021 PPPLH) sebagai peraturan pelaksana klaster lingkungan hidup UUCK, terjadi perubahan status fly ash dan bottom ash menjadi Limbah kategori bukan Bahan Berbahaya dan Beracun (non- B3). Hal ini tentu mengundang sejumlah konsekuensi, khususnya terhadap kegiatan penyimpanan dan pemanfaatan yang telah selama ini telah berjalan (Aditama dkk, 2021).

PT. PLN Indonesia Power PLTU di Pangkalan Susu Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) merupakan Perusahaan yang bergerak dibidang penyedia tenaga listrik dengan proses pembakaran batubara. Pembakaran batubara ini menghasilkan

(24)
(25)

limbah non B3 yaitu fly ash dan bottom ash. Oleh karena itu, dilakukan studi lapangan tentang pengelolaan dan pemanfaatan limbah B3 fly ash dan bottom ash hasil dari pembakaran batubara di PT PLN Indonesia Power PLTU Pangkalan Susu UBP Sumatera Utara.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah :

1. Untuk memperoleh gambaran secara nyata dalam mengimplementasikan teoriteori terutama dalam bidang sistem manajemen lingkungan yang selama ini diperoleh melalui bangku kuliah dan membandingkannya dengan kondisi nyata yang ada di lapangan.

2. Untuk mengetahui pengelolaan dan pemanfaatan limbah B3 fly ash dan bottom ash hasil dari pembakaran batubara di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, Sumatera Utara.

3. Untuk memberikan saran terkait rancangan perbaikan sistem manajemen lingkungan apabila terdapat beberapa syarat-syarat yang belum terpenuhi.

1.3 Indentifikasi Masalah

Masalah yang menjadi perhatian dari kerja praktek ini adalah terkait bagaimana Pengelolaan dan Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, Sumatera Utara.

1.4 Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup dari kerja praktek ini adalah pada unit 1 dan 2 dikawasan industri PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, Sumatera Utara.

(26)
(27)

1.5 Batasan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah diuraikan diatas, maka kerja praktek ini dibatasi oleh kondisi lapangan dan data-data pirvasi lapangan.

1.6 Sistematika Penulisan Laporan

Adapun sistematika penulisan laporan kerja praktek ini adalah sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan

Berisi latar belakang, tujuan, identifikasi masalah, ruang lingkup dan batasan masalah serta sistematika penulisan laporan.

Bab II : Tinjauan Pustaka

Menguraikan tentang beberapa teori dasar yang digunakan sebagai pedoman dalam analisa dan pembahasan masalah.

Bab III : Gambaran Umum Perusahaan

Memberikan gambaran tentang sejarah singkat, visi dan misi, tugas dan fungsi, struktur organisasi dan gambaran secara umum sistem kegiatan perusahaan/ instansi. Menjelaskan secara detail dan lengkap tentang kondisi eksisting objek KP.

Bab IV : Sistem Pengelolaan Lingkungan

Berisi tentang penjelaskan secara detil dan lengkap cara operasi dan pemeliharaan atau sistem pengelolaan lingkungan objek KP.

Bab V : Pengamatan Pengelolaan dan Pemanfaatan Fly ash dan Bottom ash Berisi tentang uraian secara detail dan lengkap cara operasi dan pemeliharaan atau sistem pengelolaan dan pemanfaatan objek kerja praktik.

(28)
(29)

Bab VI : Tugas Khusus

Berisi tentang analisis dan pemecahan masalah terhadap hasil pemanfaatan dan pengelolaan fly ash dan bottom ash.

Bab VII : Penutup

Berisi tentang kesimpulan dan saran.

(30)
(31)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Limbah B3 dan Limbah Non B3

Limbah merupakan sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang tidak dikehendaki lingkungan. Limbah yang dihasilkan terdapat limbah yang bersifat berbahaya dan beracun (B3) maupun limbah non berbahaya dan beracun (B3) (Fajriyah dan Eka, 2020).

Limbah Bahan Berbahaya, dan Beracun (B3) adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar, 2014).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 101 Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun tahun 2014, limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.

Limbah B3 yang dihasilkan harus dikelola dengan baik dan benar agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pengelolaan limbah B3 merupakan rangkaian kegiatan yang diawali dengan proses penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan dan pengelolaan limbah B3 termasuk penimbunan. Pengelolaan tersebut, diharapkan dapat meminimasi timbulan Limbah B3 yang dihasilkan dengan melakukan upaya yang dimulai dari pengurangan timbulan dari sumber dengan meminimasi penggunaan bahan baku atau bahan penolong yang semula B3 menjadi non B3, melakukan pemilihan dan penerapan

(32)
(33)

proses produksi yang lebih efisien serta menggunakan teknologi yang ramah lingkungan (Fajriyah dan Eka, 2020).

Adapun limbah Non B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan berupa sisa, skrap, atau reja yang tidak tcrmasuk dalam klasifikasi atau kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (Fajriyah dan Eka, 2020).

2.2 Pengertian Fly Ash

Menurut SNI 2460, abu terbang (fly ash) adalah residu halus yang dihasilkan dari pembakaran atau pembubukan batu bara dan ditransportasikan oleh aliran udara panas (SNI 2460, 2014). Fly ash merupakan residu mineral dalam butir halus yang dihasilkan dari pembakaran batubara yang dihaluskan pada suatu pusat pembangkit listrik. Fly ash terdiri dari bahan inorganik yang terdapat di dalam batu bara yang telah mengalami fusi selama pembakarannya (Samosir, 2021).

Fly ash atau abu terbang yang merupakan sisa-sisa pembakaran batu bara, yang dialirkan dari ruang pembakaran melalui ketel berupa semburan asap, yang berbentuk partikel halus dan merupakan bahan anorganik yang terbentuk dari perubahan bahan mineral karena proses pembakaran dari proses pembakaran batubara pada unit pembangkit uap (boiler) akan terbentuk dua jenis abu yaitu abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) (Umboh dkk, 2014).

Fly ash memiliki butiran yang lebih halus daripada butiran semen dan mempunyai sifat hidrolik. Fly ash bila digunakan sebagai bahan tambah atau pengganti sebagian semen maka tidak sekedar menambah kekuatan mortar, tetapi secara mekanik fly ash ini akan mengisi ruang kosong (rongga) di antara butiran- butiran dan secara kimiawi akan memberikan sifat hidrolik pada kapur mati yang

(34)
(35)

dihasilkan dari proses hidrasi, dimana mortar hidrolik ini akan lebih kuat daripada mortar udara (kapur mati dan air) (Kurniasari, 2017).

Pemanfaatan fly ash sebagai material pembentuk beton memberikan dampak positif jika ditinjau dari segi lingkungan. Fly ash merupakan sisa pembakaran batu bara yang sangat halus. Kehalusan butiran fly ash ini berpotensi terhadap pencemaran udara. Penanganan fly ash pada saat ini masih terbatas pada penimbunan di lahan kosong. Dalam penelitian ini, akan mengidentifikasi manfaat fly ash sebagai material pengganti semen pada beton. Identifikasi material fly ash menitikberatkan pada pengaruh penggunaan material ini terhadap kuat tekan beton khususnya pada awal umur beton (Setiawati, 2018).

Gambar 2.1 Fly ash Sumber: Kurniasari, 2017

2.3 Karakteristik atau Sifat-Sifat Fly Ash a. Sifat Fisik

Menurut ACI Committee 226, dijelaskan bahwa abu terbang (fly ash) mempunyai butiran yang halus, yaitu lolos ayakan No. 325 (45 mili micron) 5-27

%. Fly ash umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Abu terbang memiliki

(36)
(37)

densitas 2,23 gr/cm3, dengan kadar air sekitar 4%. Fly ash memiliki specific gravity antara 2,15-2,6 dan berwarna abu-abu kehitaman. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075 mm. Fly ash memiliki luas area spesifiknya 170- 1000 m2/kg. Ukuran partikel rata-rata abu terbang batu bara jenis sub bituminous 0,01 mm – 0,015 mm, luas permukaannya 1-2 m2/g, bentuk partikel mostly spherical, yaitu sebagian besar berbentuk bola, sehingga menghasilkan kelecakan yang lebih baik (Nugroho, P dan Antoni, 2007).

b. Sifat Kimiawi

Sifat kimia dari fly ash dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar, teknik penyimpanan, dan penanganannya. Pembakaran batu bara lignit dan sub- bituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak daripada jenis bituminous. Komponen utama fly ash batu bara adalah silica (SiO2), alumina (AleO3), besi oksida (Fe2O3), kalsium (CaO); dan magnesium , potassium, sodium, titanium, dan belerang dalam jumlah yang sedikit (Setiawati, 2018).

2.4 Klasifikasi Jenis Fly Ash

Fly ash dapat dibedakan menjadi 3 jenis ( ACI Manual of Concrete Practice 1993 Parts 1 226.3R-3) dan ASTM C 618, yaitu :

a. Kelas C

1. Fly ash yang mengandung CaO lebih dari 10%, dihasilkan dari pembakaran lignite atau sub bitumen batubara.

2. Kadar (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3) > 50%

3. Kadar Na2O mencapai 10%

4. Pada campuran beton digunakan sebanyak 15% - 35% dari total berat binder.

(38)
(39)

b. Kelas F

1. Fly ash yang mengandung CaO kurang dari 10%, dihasilkan dari pembakaran anthrachite atau bitumen batubara.

2. Kadar (SiO2 + Al2O3 + Fe2O3) > 70%

3. Kadar Na2O < 5%

4. Pada campuran beton digunakan sebanyak 15% - 25% dari total berat binder.

c. Kelas N

Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digolongkan antara lain tanah diatomic, opaline chertz dan shales, tuff dan abu vulkanik, dimana bisa diproses melalui pembakaran atau tidak. Selain itu juga berbagai hasil pembakaran yang mempunyai sifat pozzolan yang baik.

Gambar 2.2 Jenis Fly ash Sumber: Kurniasari, 2017

2.5 Kandungan Fly ash

Fly ash merupakan material yang memiliki ukuran butiran yang halus, berwarna keabu-abuan dan diperoleh dari hasil pembakaran batubara. Pada intinya fly ash mengandung unsur kimia antara lain silika (SiO2), alumina (Al2O3), fero oksida (Fe2O3) dan kalsium oksida (CaO), juga mengandung unsur tambahan lain yaitu

(40)
(41)

magnesium oksida (MgO), titanium oksida (TiO2), alkalin (Na2O dan K2O), sulfur trioksida (SO3), pospor oksida (P2O5) dan carbon (Wardani, 2008).

2.6 Pengertian Bottom ash

Bottom ash adalah limbah dari sisa pembakaran batubara. Pada waktu pembakaran batubara pada suatu pembangkit tenaga batubara, akan menghasilkan sisa pembakaran yang terdiri dari 80 % berupa fly ash dan sisanya 20 % berupa bottom ash. Bottom ash mempunyai karakteristik fisik berwarna abu-abu gelap, berbentuk butiran, berporos, mempunyai ukuran butiran antara pasir hingga kerikil.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jesse J. Nowak, Alliant Energy, Coal Combustion Products Manager – Western Region (2004) bahwa limbah batu bara berupa bottom ash mengandung larutan kapur dan lumpur dengan jumlah terkecilnya Oksida yang mengandung alumunium (Al), besi (Fe), Magnesium (Mg), Sulfur (S) dan sisa-sisa material (Kurniasari, 2017).

Bottom ash adalah sisa proses pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dan lebih berat dari pada fly ash, sehingga Bottom ash akan jatuh pada dasar tungku pembakaran (boiler). Bottom ash dikategorikan menjadi dry bottom ash dan wet bottom ash/boiler slag berdasarkan jenis tungkunya. Dry bottom boiler yang menghasilkan dry bottom ash dan slag-tap boiler serta cyclone boiler yang menghasilkan wet bottom ash (boiler slag).

Sifat dari bottom ash sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya. Komposisi kimia dari bottom ash sebagian besar tersusun dari unsur-unsur Si, Al, Fe, Ca, serta Mg, S, Na, dan unsur kimia lain.

Kandungan silikat dan alumina yang terkandung dalam bottom ash ini bersifat aktif

(42)
(43)

karena dapat bereaksi dengan komponen lain. Silika dalam bottom ash berperan membantu pelarutan unsur P dalam media tanam yang mengandung unsur hara phospat.

Gambar 2.3 Bottom ash Sumber: Kurniasari, 2017

2.7 Keuntungan Penggunaan Bottom ash

Ada beberapa keuntungan yang dapat kita peroleh apabila kita menggunakan bottom ash antara lain:

a. Bagi pembeli / pengguna

Bottom ash lebih murah dan tidak beracun b. Bagi perusahaan / industri

Penggunaan limbah batubara sebagai bahan yang bermanfaat akan mengurangi pencemaran lingkungan dan menekan biaya penggunaan lahan untuk menampung limbah tersebut

(44)
(45)

c. Bagi masyarakat

Penggunaan limbah batubara merupakan solusi yang tepat untuk mengurangi permasalahan lingkungan akibat pencemaran limbah sehingga lingkungan menjadi lebih nyaman.

2.8 Karakteristik Bottom ash

Karakteristik dari bottom ash ini telah diteliti oleh American Coal Ash Association, (2004).

a. Karakteristik Fisik

Bottom ash mempunyai butiran partikel sangat berpori pada permukaannya.

Partikel bottom ash mempunyai batasan ukuran dari kerikil sampai pasir. Bottom ash merupakan material dengan gradasi yang baik, dengan variasi ukuran partikel.yang berbeda-beda. Ukuran bottom ash lebih mendekati ukuran pasir, biasanya 50 % - 90 % lolos pada saringan 4.75 mm (No. 4), 10 % - 60 % lolos pada saringan 0.6 mm (No. 40), 0 % - 10 % lolos pada saringan 0.075 mm (No. 200), dan ukuran paling besar berkisar antara 19 mm (3/4 in) sampai 38.1 mm (1- 1/2 in).

b. Karakteristik Kimia

Komposisi kimia dari bottom ash yaitu silika, alumina dan besi dengan sedikit kalsium, magnesium, sulfat, dan komponen yang lain. Tabel 2.5 menyajikan analisis kimia dari contoh bottom ash dari tipe batubara yang berbeda dan dari kawasan yang berbeda pula.

2.9 Regulasi Terkait Bottom ash dan Fly ash

Terdapat Beberapa Perubahan Mendasar PP No. 101/2014 dengan PP No.

21/2022

(46)
(47)

1. Peraturan Menteri ini dapat menjadi acuan bagi instansi pemerintah dan swasta dengan penyesuaian struktur organisasi di unit organisasi masing – masing.

Terdapat Beberapa Perubahan Mendasar PP No. 101/2014 dengan PP No.

21/2022

2. Perubahan frasa Izin Lingkungan menjadi Persetujuan Lingkungan

3. Perubahan frasa Persetujuan Uji Coba menjadi Kewajiban Pelaporan dan dilakukan Post Audit (setelah Persetujuan Teknis Pengelolaan Limbah B3 terbit)

4. Izin Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Limbah B3 menjadi Standar Teknis/Rincian Teknis Penyimpanan Limbah B3 yang diintegrasikan ke dalam Persetujuan Lingkungan;

5. Adanya Surat Persetujuan/ Layak Operasional (SLO) apabila hasil verifikasi memenuhi Persetujuan Teknis;

6. Dumping hanya dapat dilakukan oleh Penghasil Limbah B3;

7. Dumping membutuhkan pesetujuan dari pemerintah pusat

8. Khusus fasilitas Penimbunan Akhir (Landfill), verifikasi dilakukan melalui 3 (tiga) tahapan, yaitu : penentuan lokasi, pembangunan fasilitas Penimbunan Akhir, dan operasional penimbunan;

9. Terdapat beberapa limbah B3 yang berubah menjadi limbah non B3 (ada 9 jenis limbah);

10. Persetujuan Teknis Pengelolaan Limbah B3 diintegrasikan ke dalam Persetujuan Lingkungan;

11. Pengawasan oleh pemerintah dapat dilakukan setelah terbitnya Surat Kelayakan Operasional (SLO) dan Pemenuhan Komitmen Persetujuan Teknis

(48)
(49)

Gambar 2.4 Daftar Limbah Non B3 (Lampiran XIV PP No. 22/2021) Sumber: PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, 2024

2.9.1 Ruang Lingkup Pengelolaan Limbah Non B3

Adapun ruang lingkup pengelolaan limbah non B3 yaitu pada MENLHK No.

19 Tahun 2021.

Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut Limbah non B3 adalah sisa suatu Usaha dan/atau kegiatan yang tidak menunjukkan karakteristik Limbah B3

a. Pengurangan Limbah Non B3;

b. Penyimpanan Limbah Non B3;

c. Pemanfaatan Limbah Non B3;

d. Penimbunan Limbah Non B3;

e. Pengangkutan Limbah Non B3;

f. Perpindahan lintas batas Limbah Non B3; dan g. Pemaantauan dan pelaporan.

(50)
(51)

BAB III

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1 Sejarah Perusahaan

Pembangunan PT. PLTU Pangkalan Susu UBP diprakarsai oleh PT. PLN (Persero) Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera Utara dan Aceh. Tujuan pembangunan PLTU ini adalah untuk meningkatkan ketersediaan pasokan energi listrik tenaga uap (PLTU) dalam upaya mengatasi krisis pasokan energi listrik di Sumatera Utara.

Pembangunan unit operasi dilakukan 2 tahap yaitu pembangunan unit 1&2 dan pembangunan unit 3&4. Pembangunan unit 1&2 dimulai pada tahun 2007 sedangkan unit 3&4 dimulai pada tahun 2011. Penambahan unit 3&4 bertujuan untuk menambah suplai daya listrik di daerah Sumatera bagian utara agar mengurangi krisis daya

Lokasi pembangunan PLTU Sumut unit 1&2 sebesar 2 x 200 MW terletak di Desa Tanjung Pasir Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. PLTU 2 Sumut 2 x 200 MW menempati lahan seluas 84 ha, dengan alokasi 75,5 ha sebagai lokasi tapak proyek, dan 8,5 ha untuk fasilitas waterway & coal conveyor. Lahan yang digunakan merupakan hutan mangrove yang telah dikonversi menjadi areal pertambakan dengan deskripsi sebagai berikut: 75,5 ha merupakan hutan hutan mangrove yang telah dikonversi menjadi areal pertambakan, 4,3 ha merupakan kawasan hutan lindung, dan 4,2 ha merupakan kawasan hutan produksi.

Dalam upaya memaksimalkan produksi daya listrik di sumatera utara, makan dilakukan penambahan unit operasi yatu unit 3&4 yang dimulai pada tahun 2011 dan memerlukan luas lahan sekitar 40 ha. Unit ini juga memiliki kapasitas 2x200

(52)
(53)

MW, sehingga total suplai daya listrik yang dapat dihasilkan oleh PLTU Pangkalan Susu adalah sebesar 4x200 MW untuk saat ini.

PT. Indonesia Power adalah salah satu anak perusahaan milik PT. PLN (Persero) yang didirikan pada tanggal 03 Oktober 1995 dengan nama PT. PLN Pembangkitann Tenaga Listrik Jawa Bali I (PT. PLN PJB I) dan pada tanggal 03 Oktober 2000 PT. PLN PJB I resmi berganti nama menjadi PT. Indonesia Power.

PT. Indonesia Power membentuk anak perusahaan PT. Cogindo Daya Perkasa yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan dan manajemen energi dengan penerapan konsep cegeneration dan distributed generation, juga mempunyai saham 60% di PT. Arta Daya Coalindo yang bergerak dibidang usaha perdagangan batu bara. Aktifitas kedua anak perusahaan ini diharapkan dapat lebih menunjang peningkatan dan pendapatan perusahaan dimasa mendatang.

3.2 Lokasi Eksisting Perusahaan

PT. Indonesia Power Unit Jasa Pembangkitan Pangkalan Susu mempunyai luas area 105 Ha dengan titik koordinat 98°15’45” Bujur Timur dan 04°06’58” Lintang Utara, berlokasi di Desa Tanjung Pasir, Kec. Pangkalan Susu, Kab. Langkat, Sumatera Utara. Sekitar 120 km dari Medan (5 jam dari bandara terdekat – Kuala Namu, Lubuk Pakam, Medan). Peta lokasi eksisting perusahaan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

(54)
(55)

Gambar 3.1 Lokasi PLTU Pangkalan Susu Sumber: Google Earth, 2024

3.3 Visi dan Misi Perusahaan

PT Indonesia Power memilki visi “Menjadi Perusahaan Energi Terbaik yang Tumbuh Berkelanjutan” dan misi ‘Menyediakan Solusi Energi yang Andal, Inovatif, Ramah Lingkungan dan Melampaui Harapan Pelanggan” serta tiga Strategic Themes OME, LCE, BBD dalam menjalankan bisnisnya sesuai harapan pemegang saham. Untuk menjalankan Strategic Themes OME, Perusahaan

(56)
(57)

menggunakan Unit Bisnis (UBP, POMU, OMU, dan MSP) sebagai kendaraan utamanya.

Adapun Visi, Misi, dan Strategic Themes tergambarkan dalam Strategy Building Block seperti berikut.utamanya. Adapun Visi, Misi, dan Strategic Themes tergambarkan dalam Strategy Building Block seperti berikut.

Gambar 3.2 Strategi Building Block Sumber: PT. Indonesia Power, 2024

3.4 Unit dan Lokasi Operasional

PLTU Pangkalan Susu berkapasitas 4x400MW merupakan pembangkit buatan negara China pabrikan Dongfang dan jenis Sub Critical. PLTU Pangkalan Susu menjadi salah satu tulang punggung karena kapasitasnya yang besar untuk sistem jaringan di Sumatera. Seiring dengan kebutuhan sistem yang meningkat, maka peralatan-peralatan PLTU Pangkalan Susu dituntut untuk selalu handal dan efisien, sehingga kebutuhan jaringan dapat terpenuhi. Strategi utama untuk meningkatkan kehandalan dan efisiensi adalah dengan menjaga kehandalan setiap sistem di PLTU.

PLTU Pangkalan Susu Unit 1&2 telah beroperasi sejak tahun 2014 dan COD ditahun 2015, sedangkan untuk Unit 3&4 telah COD dan beroperasi sejak tahun

(58)
(59)

2019, masuk dalam sistem jaringan 275 kilo Volt (kV) Sumatra Bagian Utara (SUMBAGUT). Memiliki Daya Terpasang (DTP) sebesar 220 MW dan Daya Mampu Netto sebesar 180 MW untuk setiap unitnya.

Komponen Operasional PLTU Pangkalan Susu adalah sebagai berikut:

a. Unit Pembangkit dan Pembuangan Gas Buang 1. Power House (Turbin + Generator)

2. Boiler

3. ESP (Electrostatic Precipitation) 4. Cerobong Asap

b. Sarana Transportasi, Pembongkaran dan Penyimpanan Batubara 1. Coal Storage

2. Coal Unloadins Wharf 3. Coal Conveyor

c. Sarana Penyediaan Air Pendingin 1. Cooling Water Pump House 2. Cooling Water Intake Pipe

d. Sarana Administrasi, Perbengkelan dan Pengolahan Air Limbah 1. Tangki Solar

2. Maintenance Shop 3. WareHouse

4. Instalasi Pengolahan Air Limbah 5. Instalasi Pengolahan Air Bersih 6. Gedung Administrasi

(60)
(61)

e. Ruang Kontrol/Pengendali 1. Substation Control Building 2. 150 kV Switch yard

f. Sarana Pembuangan Limbah Bahang 1. CW Discharge Pipe

2. Discharge Canal g. Sarana Penimbunan Abu

1. Ash Disposal Area h. Alur Masuk Tongkang

1. Intake Canal

i. Sarana Peribadatan, Ruang Jaga dan Perumahan 1. Dormitory

2. Fasilitas ibadah 3. Komplek Perumahan

Skema (layout) dari komponen operasional di PLTU Pangkalan Susu dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.3 Layout PLTU Pangkalan Susu Sumber: PT. Indonesia Power, 2024

(62)
(63)

Keterangan :

1. Jetty (Ship Unloader) 13. WTP

2. Conveyor 14. Ash Yard

3. Trans Tower 15. Kolam lindi

4. Crusher 16. Gudang Oli

5. Coal yard 17. Gudang BOP

6. Dome coal yard 18. Area Boiler dan CCR

7. Workshop 19. Area Turbin dan Generator

8. Gudang material 9. Gudang bahan kimia 10. HSD Tank

11. Demin Tank 12. WWTP

20. Switchyard 21. Intake Canal 22. Stack

23. Safety Center 24. Gedung Olahraga

(64)
(65)

Gambar 3.4 Peta Jaringan Sumatra Bagian Utara Sumber : PT. Indonesia Power, 2024

(66)
(67)

3.5 Struktur Organisasi dan Tugas Pokok

Struktur organisasi yang baik sangat diperlukan dalam suatu perusahaan, semakin besar perusahaan tersebut semakin kompleks organisasinya. Secara umum dapat dikatakan, struktur organisasi merupakan suatu gambaran secara skematis yang menjelaskan tentang hubungan kerja, pembagian kerja, serta tanggung jawab dan wewenang dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan semula.

PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, secara struktural puncak pimpinannya dipegang oleh seorang Senior Manager yang dibantu oleh Manager Operasi, Manager Pengelolaan Energi Primer, Manager Pemeliharaan, Manager Engineering, Manager Administrasi, dan Assistant Manager Pengadaan Barang dan Jasa.

Dalam pelaksanaan kerja praktek, kami berada di divisi K3 dan Lingkungan.

Secara lengkap struktur organisasinya, diperlihatkan pada bagan di bawah ini:

3.5.1 Struktur Organisasi

Struktur organisasi bagian K3 dan lingkungan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.5 Struktur Organisasi K3L PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP

Sumber : PT. Indonesia Power, 2024

(68)
(69)

3.5.2 Tugas Pokok Organisasi 1. Senior Manager

Memimpin jalannya perusahaan, mengepalai manager operasi, manager pengelolaan energi primer, manager pemeliharaan, manager enjinering, manager administrasi dan assistant manager pengadaan barang dan jasa.

2. Manager Operasi

Bertugas mengatur jalannya proses operasional unit, mulai dari pengadaan bahan bakar, air, sampai menghasilkan energi listrik

3. Assistant Manager K3 dan Lingkungan

Bertugas membantu manager operasi dalam pelaksanaan K3 dan pengelolaan lingkungan di kawasan perusahaan.

4. Team Leader K3

Adapun tugas dari team leader K3 antara lain:

a. Bertugas membantu Assistant Manager K3 dan Lingkungan didalam memastikan pelaksanaan K3 di perusahaan berjalan dengan baik.

b. Sebagai garda terdepan dalam antisipasi tanggap darurat bilamana terjadi keadaan darurat dalam ruang lingkup kerja

c. Memastikan ketersediaan alat keselamatan kerja di setiap unit operasional 5. Officer Lingkungan

Adapun tugas dari officer lingkungan antara lain:

a. Bertugas membantu Assistant Manager K3 dan Lingkungan didalam pelaksanaan manajemen lingkungan perusahaan.

b. Menyusun dokumen terkait sistem manajemen lingkungan untuk sertifikasi ISO 14001:2015

(70)
(71)

c. Menyusun keperluan dokumen untuk kegiatan PROPER

d. Membuat laporan mengenai pengelolaan lingkungan ke situs resmi SIMPEL dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

e. Melakukan pemantauan dan pengendalian kualitas lingkungan di kawasan perusahaan, meliputi TPS LB3, CEMS, dan pengelolaan fly ash dan bottom ash.

(72)
(73)
(74)
(75)

3.6 Susunan Jabatan, Position grade, dan Formasi Tenaga Kerja 3.6.1 Bidang Operasi

Officer Perencanaan, Evaluasi dan kinerja Operasi

Manager Operasi

Assistant Manager Operasi (A-D) Assistant Manager

Perencanaan dan Pengendalian Operasi dan Niaga

Assistant Manager K3 dan Lingkungan

Assistant Manager Kimia dan BOP

Junior Technician Operasi Control Room Unit 2 (A-D)

Junior Technician Operasi Control Room Unit 1 (A-D)

Junior Technician Operasi Control Room Unit 4 (A-D)

Junior Technician Operasi Control Room Unit 3 (A-D) Team Leader

Operasi Unit 1-2 (A-D)

Team Leader Operasi Unit 3-4 (A-D)

Officer Kimia

Team Leader BOP (A-D)

Officer Lingkungan Team Leader

K3

Gambar 3.6 Gambar Bagan Bidang Operasi

(76)
(77)

3.6.2 Bidang Pengelolaan Energi Primer

Officer Perencanaan,dan Pengendalian Pemeliharaan Instalasi Eneri Primer dan Abu

Manager

Pengelolaan Energi Primer

Assistant Manager Inventory Energi Primer dan Abu Assistant Manager

Pemeliharaan Instalasi Energi Primer dan Abu

Assistant Manager Penyaluran Energi Primer

Dan Abu

Officer Perencanaan dan Pengendalian Energi Primer dan

Abu Team Leader

Pemeliharaan Mekanik Instalasi Energi Primer dan Abu

Team Leader Pemeliharaan Listrik, Kontrol dan Instrumen Instalasi Energi

Primer dan Abu

Team Leader Operasi Penyaluran Energi

Primer dan Abu

Gambar 3.7 Gambar Bagan Bidang Pengelolaan Energi Primer

(78)
(79)

3.6.3 Bidang Pemeliharaan

Manager Pemeliharaan

Asisten Manager Pemeliharaan Mesin

Asisten Manager Pemeliharaan Listrik

Asisten Manager Perencanaan dan Pengendalian Pemeliharaan dan Inventory

Asisten Manager Pemeliharaan Kontrol dan Instrumen

Officer perencanaan dan evaluasi pemeliharaan

Officer Inventory

Officer perencanaan outage

Junior technician pemeliharaan mesin turbin 1-2

Junior technician pemeliharaan mesin turbin 3-4

Junior technician pemeliharaan mesin boiler 1-2 Team leader pemeliharaan

mesin turbin 3-4

Team Leader pemeliharaan mesin boiler unit 1-2 Team leader pemeliharaan

mesin turbin unit 1-2

Junior technician pemeliharaan listrik Team leader pemeliharaan

listrik

Team leader pemeliharaan listrik BOP

Team leader pemeliharaan control dan instrumen

Team leader pemeliharaan control dan instrumen BOP

Junior technician pemeliharaan listrik

(80)
(81)

Gambar 3.8 Gambar Bagan Bidang Pemeliharaan Sumber: PT. Indonesia Power, 2024

(82)
(83)

3.6.4 Bidang Enjiniring

Manager Enjiniring

Asistant manager perencanaan unit, kinerja dan sistem

informasi

Officer pengelolaan RJP dan kinerja

Officer manajemen risiko

Officer investasi

Officer system manajemen terintegrasi dan knowledge

management Officer pengelolaan RJP dan

kinerja

Asisten manager reliability, efisiensi dan condition based

maintenance

Officer reliability

Officer reliability

Officer reliability

Ahli madya enjiniring turbin dan auxiuliary

Ahli madya enjiniring boiler dan auxiuliary

Ahli madya enjiniring listrik Ahli madya enjiniring control dan

instrumen

Ahli madya enjiniring penyaluran energy primer dan abu Ahli madya enjiniring kimia, K3,

dan lingkungan Ahli madya life cycle

management Ahli madya pengendalian

kontrak Gambar 3.9 Gambar Bagan Enjiniring

(84)
(85)

3.6.5 Bidang Administrasi

Gambar 3.10 Gambar Bagan Administras Sumber: PT. Indonesia Power, 2024

Team leader gudang Manager Administrasi

Officer budaya dan GCG

Officer SDM

Officer sipil, sarana dan fasilitas

Officer CSR, HUMAS dan keamanan

Manager Administrasi

Asistant manager keuntungan

Officer keuangan dan pajak

Officer akuntansi

Officer anggaran

(86)
(87)

3.6.6. Bidang Pengadaan Barang dan Jasa

Gambar 3.11 Gambar Bagan Bidang Pengelolaan Energi Primer Sumber: PT. Indonesia Power, 2024

Assistant Manager Pengadaan Barang

Dan Jasa

Officer Pengadaan Barang dan Jasa

(88)

BAB IV

SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN 4.1 Umum

PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP merupakan salah satu anak perusahaan PLN yang bergerak di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara yang memproduksi listrik dan terletak di Dusun VI Sei Dua Desa Tanjung Pasir Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara, lokasi PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP berjarak 103 km dari Kota Medan. PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP memiliki 4 unit pembangkit dengan kapasitas 2 x 200 MW. PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP berkontribusi terhadap pasokan listrik ke sistem Sumatera Bagian Utara.

Dengan adanya energi baru terbarukan PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP menggunakan batu bara sebagai energi primer dan biomassa (sekam padi) sebagai energi sekunder. PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP unit 3&4 menggunakan batu bara sebagai bahan bakar yang dapat mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Dalam hal ini proses produksi akan menghasilkan limbah yang jika tidak dikelola dapat mencemari lingkungan. Dalam melakukan pengelolaan lingkungan hidup, PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP melakukan beberapa pendekatan yang digunakan sesuai dengan jenis dampak dan karakteristiknya agar sasaran pengelolaan tercapai. Pendekatan yang digunakan

(89)

diantaranya mencakup pendekatan teknologi, sosial-ekonomi, dan institusi, yang penerapannya dapat berdiri sendiri maupun gabungan dua atau tiga pendekatan.

Salah satu contoh pengelolaan lingkungan hidupiahlah mengelolan limbah non B3 fly ash dan bottom ash agar tidak mencemari lingkungan melainkan dapat

bermanfaat bagi banyak orang.

4.2 Kondisi Eksisting Perusahaan

Selama proses kerja praktek di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, kami mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan seperti pengelolaan limbah B3, pengelolaan fly ash dan bottom ash (Fly ash dan Bottom ash), pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah cair, pengelolaan limbah padat, dan manajemen lingkungan di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP .

Pada hari pertama, kami diberikan pengarahan safety induction oleh Tim Leader K3L PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP. Dari pengarahan tersebut, kami diperintahkan menggunakan alat pelindung diri seperti safety shoes, helm, wearpack, ear plug, sarung tangan dan masker.

Selanjutnya kami diberi catatan mengenai peraturan yang terdapat pada PT.

PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP. Kemudian kami di tempatkan di kantor Safety Center, serta membahas mengenai time schedule pelaksanaan kerja praktek yang telah kami susun.

Setiap melakukan kegiatan di area unit produksi semua pekerja wajib memakai alat pelindung diri dimana akan diperiksa dan dipantau oleh pihak K3 PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP . Pada minggu pertama di PT. PLN

(90)

IV-3

Indonesia Power Pangkalan Susu UBP kami membahas mengenai gambaran umum perusahaan dan ikut membantu persiapan audit internal pada tanggal 8-10 November 2023. Kami melihat dan membantu proses pengangkutan LB3 dan membersihkan area TPS LB3.

Pada minggu kedua, kami melihat langsung proses produksi yang terdapat di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP, dimulai dari proses bahan bakar batu bara serta proses air dan gas pada PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP.

Dari kegiatan yang telah dilakukan kami lebih memahami mengenai pengelolaan lingkungan yang telah diterapkan oleh PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP.

4.3 Aspek Lingkungan Yang Dikelola 4.3.1 Limbah Cair

Limbah cair di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP berasal dari proses utama dan proses pendukung. Limbah dari proses utama diantaranya air limbah laboratorium, air limbah blowdown boiler, air limbah regenerasi resin.

Sedangkan limbah pendukung meliputi air limbah desalinasi, air limbah pendingin (bahang), air limbah domestik, dan air limbah oily water. Parameter yang dijadikan indikator dalam penilaian mutu limbah cair desalinasi adalah pH dan salinitas. Air bahang (pendingin) adalah temperatur dan Cl2. Air limbah domestik adalah pH, BOD, COD, TSS, minyak lemak, amoniak dan total coliform. Oily water adalah TOC (Total Organic Carbon). Reject RO (Reverse Osmosis) merupakan air sisa pengolahan dari WTP yang tidak digunakan lagi. Parameter yang dipantau adalah pH dan salinitas.

(91)

Limbah cair dari kegiatan operasi dan pemeliharaan di PLTU Pangkalan Susu dikumpulkan dan diolah di WWTP (Wastewater Treatment Plant). Ada beberapa pengolahan limbah cair yang dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah cair tersebut, yaitu wastewater treatment industrial, limbah domestik, limbah minyak, serta coal wastewater treatment.

Limbah cair dari proses utama dan pendukung dilakukan pengolahan tersendiri sebelum masuk ke WWTP kecuali air bahang. Parameter di dalam WWTP antara lain pH, TSS, minyak dan lemak, klorin bebas Cl2, kromium total (Cr), tembaga (Cu), besi (Fe), Seng (Zn), Fosfat (PO-4 ).

1. Wastewater Treatment InduLstrial

Limbah industri merupakan limbah hasil pengolahan dari unit, regenerasi WTP dan dari laboratorium. Limbah tersebut dilakukan pengolahan di WWTP dengan kapasitas produksi 60 m3 /jam. Pada WWTP terdiri dari beberapa unit pengolahan yaitu :

a. Wastewater Pond

Wastewater Pond merupakan bak penampung limbah yang akan diolah.

Terdapat 3 kolam limbah yang masing-masing kolam dilangkapi blower udara yang berasal dari kompresor. Blower udara ini berfungsi untuk menurunkan suhu air limbah sebelum masuk ke unit pengolahan selanjutnya. Adapun suhu diturunkan dengan tujuan agar tidak mengganggu proses selanjutnya dan tidak merusak material unit pengolahan.

Pada bangunan wastewater pond, masing-masing kolam memiliki panjang: 24 meter, lebar: 11,5 meter, dan kedalaman : 4,2 meter.

(92)

IV-5

b. pH Adjusting Basin

Bak pH Adjusting Basin merupakan bak untuk menyesuaikan Ph dengan penambahan senyawa asam HCl atau senyawa basa NaOH sehingga pH air mencapai 6-9. Didalam bak ini juga dilangkapi agitator yang berfungsi sebagai pengaduk untuk mempercepat reaksi. Pada bangunan PH Adjusting Basin, masing- masing bak memiliki panjang: 2,3 meter, lebar: 2,35 meter, dan ketinggian: 2,8 meter.

c. Mixed Basin

Bak ini merupakan bak pencampuran air yang telah disesuaikan pH-nya dengan koagulan. Penambahan koagulan bertujuan untuk membantu pengendapan lumpur pada proses selanjutnya. Pada proses ini juga dilengkapi agitator yang berfungsi untuk mempercepat reaksi. Mixed basin memiliki panjang: 2,3 meter, lebar: 2,35 meter, dan ketinggian: 2,8 meter.

d. Reaction Basin

Pada bak ini air limbah ditambah senyawa PAC yang berfungsi untuk mempercepat proses pembentukan lumpur.

e. Titled- Plate Clarifier

Setelah air limbah tercampur dengan koagulan dan koagulan aid, partikel- partikel yang ada didalam air akan membentuk flok-flok. Pada proses ini flok- flok tersebut akan diendapkan. Proses ini bertujuan juga untuk mengurangi tingkat kekeruhan air yang dipengaruhi oleh partikel tersuspensi didalam air. Kejernihan air yang harus dicapai yaitu ≤10 NTU. Air dan lumpur akan dipisahkan pada proses ini dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Air yang sudah terpisah akan mengalir melalui lubang pipa menuju kolam final neuralitation pond, sedangkan lumpur

(93)

yang mengendap dibawah akan dialirkan menuju bak konsentrator. Bangunan titled- plate clarifier ini memiliki dimensi 1,6 x 2,4 x 3 meter.

f. Final Neutralitation Pond

Pada proses ini air limbah yang sudah diolah akan disesuaikan pH-nya dengan cara penambahan senyawa asam ataupun senyawa basa (disesuaikan dengan pH air saat itu) sehingga pH air menjadi 6-9. Pada bak ini dilengkapi agitator untuk mempercepat reaksi.

Bak ini juga dilengkapi pH meter untuk mengukur pH dan turbidity meter untuk mengukur kejernihan air limbah yang sudah diolah. Pada bangunan final neutralization pond memiliki panjang: 7,7 meter, lebar: 6,1 meter, dan kedalaman:

5 meter. Letak final neutralization pond berada dibawah tanah (under ground).

g. Bak Konsentrator

Pada proses ini dilakukan proses pengendapan lanjutan. Air yang terpisah dari lumpur akan dialirkan melalui sebuah pipa ke drainase disebelah bak konsentrator, kemudian air tersebut dimasukkan kembali ke wastewater pond. Sedangkan lumpur yang mengendap akan dipompakan menuju filter press. Adapun bak konsentrator juga berfungsi sebagai bak pengumpul sementara lumpur sebelum masuk kedalam filter press. Filter press tidak digunakan secara continuous. Hal ini bertujuan untuk menjaga life time alat filter press. Bangunan bak konsentrator memiliki diameter:

5 meter dan kedalaman: 5,25 meter (yang mana pada bangunan ini 3 meter dibawah tanah).

h. Filter press

Filter press yaitu alat yang digunakan untuk mengurangi kadar air didalam lumpur. Lumpur dari bak konsentrator dipompakan menuju filter press, kemudian

(94)

IV-7

lumpur akan masuk kedalam ruang-ruang kecil pada alat ini dan akan diberikan tekanan sehingga air yang masih terkandung dalam lumpur akan keluar melalui pipa-pipa kecil, sedangkan lumpur yang sudah berkurang kadar airnya akan berbentuk seperti batu bata, yang mana akan diangkut ke tempat penampungan sementara limbah B3.

i. Reuse Pond

Air yang telah diolah akan dialirkan kedalam kolam reuse sebagai tempat penampungan akhir. Adapun air yang telah diolah akan digunakan untuk menyiram coal yard dan mengisi fire fighting.

2. Limbah Cair Domestik

Limbah cair domestik berasal dari kegiatan perkantoran PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP bersumber dari kamar mandi. Limbah cair ini mengandung grey water yang kemudian akan dialirkan ke drainase kemudian diolah dan dilepaskan ke laut.

Proses pengolahan limbah cair domestik yaitu dengan sistem biofilter anaerob- aerob. Air limbah domestik dialirkan dan akan melewati bar screen untuk menyaring sampah, grit, maupun material kasar yang terikut dengan air limbah.

Setelah melewati proses penyaringan, air limbah dialirkan kedalam bak pengendap awal. Didalam bak pengendap awal, lumpur mulai dipisahkan dengan air. Setelah itu, air limbah dialirkan kedalam bak kontaktor anaerob dari atas. Penguraian zat- zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau facultatif aerobik. Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikro-organisme. Mikro-organisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap.

(95)

Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir.

Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak klorinasi. Di dalam bak kontaktor klor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa klor untuk membunuh mikro-organisme patogen. Air yang sudah diolah dialirkan ke reuse pond yang ada di WWTP.

3. Limbah Cair Limpasan Batu Bara (Coal Wastewater Treatment)

Salah satu limbah cair yang dihasilkan PLTU ini yaitu limbah cair batubara.

Limbah cair limpasan barubara bersumber dari timbunan batubara yang menghasilkan air limbah berupa air limpasan dan air hujan yang membasahi tempat penampungan dan penyimpanan batubara di PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP. Limbah cair limpasan batubara merupakan campuran antara material batubara dengan air hujan (Coal Run Off Setting Pond). Limbah cair limpasan batubara akan disalurkan ke CWWTP (Coal Waste Water Treatment Plant) dengan menggunkan jalur drainase yanga ada di sekeliling area penampungan. Sebelum air limbah dialirkan ke CWWTP limbah cair limpasan batubara akan ditampung di area kolam penampungan (Setting Pond).

Pada kolam penampungan ini dilengkapi dengan scraber yang berfungsi untuk mengangkat sedimen batubara yang berada didalam kolam penampungan dan

(96)

IV-9

dikembalikan ke coal yard. Setelah itu air limbah batubara dialirkan kedalam suatu bak yang mana didalamnya akan diberlakukan proses koagulasi dengan penambahan bahan kimia koagulan dan koagulan aid untuk membantu proses pembentukan flok. Setelah itu proses selanjutnya yaitu proses sedimentasi, yang mana flok-flok yang sudah terbentuk diendapkan. Parameter: pH, TSS, Fe, dan Mn.

Proses selanjutnya yaitu proses filtrasi, yang mana partikel-partikel tersuspensi disaring menggunakan pasir buatan dan karbon aktif. Setelah air bersih, air dialirkan kedalam reuse pond. Adapun instalasi pengolahan limbah batubara dengan instalasi pengolahan limbah industri dibedakan tempatnya.

4. Limbah Minyak (Oily Water)

Limbah oily water merupakan limbah air limbah yang terkena minyak berasal dari drainase, kebocoran air limbah dari pencucian peralatan-peralatan, dan tumpahan dari kegiatan operasional, area oil sewage of ignition pump house, area penyimpanan bahan bakar (HSD), oil dewatering ingition oil tank, washing water of steam turbin dan area rain water of oil tank and transformer area.

Limbah minyak diolah menggunakan oil separator yang mana berfungsi untuk memisahkan antara minyak dengan air. Terdapat 3 tabung dengan fungsi yang berbeda-beda. Pada tabung pertama, air dari bak limbah minyak yang dipompa masuk akan menjalani pemisahan dimana air – minyak tersebut akan melewati plat- plat pemisah utama.

Air yang masih mengandung minyak yang melewati plat-plat utama ini akan menjalani proses pemisahan pada plat-plat kedua, sehingga lumpur yang ringan akan tertahan. Selanjutnya dalam tabung ini akan terjadi proses pemisahan dimana prinsip kerjanya berdasarkan berat jenis cairan sehingga minyak yang memiliki

(97)

berat jenis lebih rendah dari air akan berada dipermukaan air dan terkumpul dalam ruang pengumpulan minyak. Kemudian air limbah dialirkan ke tabung kedua, pada tabung kedua, air dari bak pengumpul akan disaring kembali melalui separator sehingga partikel-partikel minyak akan dialirkan keluar tabung pemisah. Kemudian pada tabung ketiga, kandungan minyak yang terkumpul dalam ruang pengumpul minyak akan terus bertambah selama pompa bilge masih bekerja, hingga pada saat tingkat minyak dalam ruang sudah tinggi, maka alat pengontrol tingkat ketinggian minyak akan bekerja sehingga mengaktifkan katup solenoid untuk membuka.

Maka pada saat itulah minyak yang terkumpul dalam ruang pengumpulan akan mengalir ke Waste Oil Tank, dengan adannya pengeluaran minyak dalam tabung, maka tingkat ketinggian minyak akan menurun kembali sehingga alat sensor akan mengaktifkan katup solenoid untuk menutup.

4.3.2 Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP sudah mendapat izin untuk kegiatan penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (LB3) dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (LB3) PT. PLN Indonesia Power Pangkalan Susu UBP berasal dari limbah abu batubara, limbah B3 umum diantaranya kain majun bekas, perlumas bekas, drum kosong bekas, drigen bekas bahan kimia, IBC Tank kosong, bahan kimia kadaluarsa, aki bekas, bola lampu TL bekas, pasir terkontaminasi, limbah resin (penukar ion), limbah terkontaminasi B3, dan limbah klinis infeksius. Limbah B3 yang sudah terkumpul di TPS LB3 selanjutnya diserahkan kepada pihak ketiga yang sudah mempunyai izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pusat yaitu PT. Dame Alam Sejahtera (DAS).

Gambar

Gambar 2.1 Fly ash  Sumber: Kurniasari, 2017
Gambar 2.2 Jenis Fly ash  Sumber: Kurniasari, 2017
Gambar 2.3 Bottom ash  Sumber: Kurniasari, 2017
Gambar 3.1 Lokasi PLTU Pangkalan Susu Sumber: Google Earth, 2024
+7

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan fly ash dan bottom ash sebagai campuran pada lapisan tanah dasar ( subgrade ) untuk pembangunan jalan di

Menurut penelitian yang dilakukan Indah Handayasari (2014) dengan judul “Stabilisasi Tanah Pada Lahan Bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Dengan Pemanfaatan

Pemanfaatan Fly Ash (Abu Hasil Pembakaran Boiler Pabrik Pulp) untuk Meningkatkan Kandungan Kalium (K) dan Tembaga (Cu) pada Tanah Gambut.. Telaah

Tugas Akhir dengan judul “Stabilisasi Semen dan Fly Ash Pada Tanah Lempung Ekspansif” disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana tingkat Strata

2.3 Memetakan lahan gambut dan tanah organik Lahan gambut tropis sulit diakses, sehingga pemetaan area menjadi problematis. Akan tetapi, pengindraan jarak jauh

Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, penulis akan melakukan penelitian tentang steel slag, fly ash dan serbuk botol kaca sebagai bahan tambah stabilisasi tanah

Pak Harun mempunyai sebidang tanah untuk membuka usaha ada 2 pilihan yang dapat dilakukan untuk lahan pertanian atau lokasi perumahan, kebutuhan yang paling mendesak

Perubahan nilai terbesar pada pengujian tekan bebas dengan pemeraman 7 hari pada variasi campuran kapur 5%, fly ash 30% dan bottom ash 20% dengan nilai daya dukung tanah qu 3,2 kg/cm2