Bab 9 Lingkungan Kerja dan Produktivitas Kerja
9.2 Lingkungan kerja
9.2.2 Lingkungan Kerja Fisik
Kecanggihan dan kemajuan teknologi mengharuskan suatu organisasi untuk menyediakan fasilitas ruang kerja yang memadai agar karyawan bebas berpikir dan berbagi ide secara efektif. Satu kondisi yang mampu meningkatkan keterlibatan karyawan adalah tempat kerja yang dirancang dengan baik, ramah pengguna dan berkualitas (Amina dan Shehla, 2009; Leblebici, 2012).
Lingkungan kerja fisik merupakan aspek lingkungan kerja. Lingkungan tempat kerja merupakan hasil dari keterkaitan yang ada antara karyawan dan lingkungan tempat mereka bekerja (Chandrasekar, 2011). Srivastava (2008) menegaskan bahwa lingkungan ini melibatkan lokasi fisik serta lingkungan sekitarnya yang semuanya memengaruhi cara karyawan melakukan pekerjaannya. Lingkungan kerja fisik sebagai aspek lingkungan kerja berkaitan dengan tata letak dan desain kantor. Ini merupakan hal-hal seperti furniture (meja, kursi, lemari, pintu), Tata letak mesin, ventilasi dan pencahayaan.
Lainnya adalah tingkat kebisingan, alat pelindung, workstation, gadget kantor, komputer dan ruang kantor.
Seringkali kita memiliki workstation yang dirancang dengan buruk, furnitur yang tidak sesuai, ventilasi yang kurang udara bahkan tidak ada, pencahayaan yang tidak terang, kebisingan yang berlebihan, keamanan dari situasi gawat darurat seperti kebakaran, dan kurangnya peralatan pelindung diri (Ushie, Ogaboh dan Okorie, 2015). Chandrasekar (2011) mengemukakan bahwa orang yang bekerja di lingkungan seperti itu rentan terhadap penyakit akibat kerja dan berdampak pada kinerja mereka. Perusahaan yang terfokus hanya berusaha memastikan bahwa karyawan mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk mengoperasikan mesin untuk meningkatkan kinerja, namun tampaknya masih sedikit perusahaan yang memastikan workstation sesuai dengan kenyamanan karyawannya.
Akinyele (2007) mengemukakan bahwa banyak perusahaan membatasi peningkatan produktivitas karyawan mereka untuk memperoleh keterampilan.
Jenis lingkungan kerja tempat karyawan beroperasi menentukan cara perusahaan tersebut berkembang. Dia lebih lanjut menyatakan bahwa sekitar 80% masalah produktivitas adalah lingkungan kerja organisasi. Lingkungan kerja yang kondusif memastikan kesejahteraan karyawan, memungkinkan mereka menjalankan peran mereka dengan semua kemampuan untuk menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Suhu (temperatur)
Suhu dalam ruangan merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah gedung perkantoran. Ini memiliki variasi efek pada pengguna gedung, yang meliputi kenyamanan termal karyawan dan performa kerja (Seppanen et al., 2006). Menurut pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja, kantor harus dimungkinkan untuk menyesuaikan suhu di gedung perkantoran. Misalnya, karyawan yang duduk lebih dekat dengan sinar matahari langsung akan merasa lebih hangat dibandingkan dengan mereka yang duduk di bawah ventilasi AC. Jika kantor menggunakan AC, maka sebaiknya suhu harus dijaga antara 23 dan 26 ° C.
Terlalu sering tubuh terpapar suhu dingin dapat menyebabkan tubuh membatasi suplai darah ke ekstremitas. Hal ini dapat menyebabkan luka kulit (chilblains) , penyakit ketika tubuh terasa kaku (Raynaud disease), dan jari pucat (white finger) . suhu yang terlalu dingin juga bisa menimbulkan kerusakan permanen pada kulit. Kulit terasa sangat dingin kemudian mati rasa, keras dan pucat (Frostbite) akibat kelelahan karena tubuh menggunakan energi untuk menjaga kehangatan. Ada juga peningkatan risiko kecelakaan karena jari
mati rasa, obstruksi oleh pelindung pakaian, dan tergelincir di atas es. Dingin yang ekstrim untuk waktu yang lama dapat menyebabkan hipotermia, kehilangan kesadaran, dan akhirnya koma hingga menyebabkan jantung berhenti. Tidak hanya dingin, namun suhu di ruang kerja yang terlalu panas juga berdampak pada tubuh. Panas membuat tubuh merasa lelah dan kurang energik, hilangnya konsentrasi, emosi marah meningkat, menyebabkan panas (otot) kram, detak pada jantung lebih kencang dan sesak pada paru-paru.
Kelelahan dan kehilangan konsentrasi yang diakibatkan suhu terlalu panas juga dapat menyebabkan peningkatan risiko kecelakaan kerja.
Pencahayaan (lighting)
Di tempat kerja, baik di kantor atau di industri, pencahayaan dibutuhkan untuk memastikan tempat kerja aman dan memungkinkan semua tugas diselesaikan tepat waktu dan efektif. Pencahayaan di lingkungan kerja digunakan untuk berbagai tujuan misalnya untuk memastikan pekerjaan visual dapat dilakukan secara akurat, aman, dan nyaman, kemudian untuk meningkatkan produksi tepat waktu, dan selanjutnya untuk meningkatkan keamanan dan untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan pekerja, serta untuk membuat tempat kerja menjadi lingkungan yang menarik dan menyenangkan.
Kontrol pencahayaan yang tepat, termasuk penyediaan pencahayaan darurat, sangat penting agar tenaga kerja dapat melakukan aktivitasnya dan bergerak dengan aman. Pencahayaan yang tidak memadai dapat menyulitkan karyawan melihat dengan jelas pekerjaannya dan dapat menyebabkan bahaya seperti terpeleset, tersandung dan jatuh, sementara pencahayaan yang berlebihan dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada mata karyawan. Tujuan utama pencahayaan yang memadai adalah untuk memastikan bahwa tugas visual dilakukan dengan cepat, aman, dan akurat, memberikan tingkat dan kontras cahaya yang sesuai dan cukup di tempat kerja. Tidak hanya membantu mengurangi gejala kesehatan negatif, tetapi pencahayaan juga membantu dalam persepsi potensi bahaya. Tanpa pencahayaan yang tepat, orang mungkin akan kesulitan untuk melihat objek, yang dapat menyebabkan kelelahan mata.
Pencahayaan adalah komponen yang sangat penting bagi mereka yang sering menggunakan komputer untuk melakukan tugas yang berhubungan dengan pekerjaan. Objek dapat terlihat berbeda saat di area gelap dan terang.
Perusahaan bisa memperbaiki situasi pencahayaan yang buruk dengan menggunakan lampu atau cahaya matahari yang memadai dan memasang tirai penutup jendela. Perbaikan kondisi pencahayaan dapat menghasilkan
peningkatan produktivitas sebanyak 10% dan pengurangan kesalahan sebesar 30% (Haynes, Suckley dan Nunnington, 2017)
Kebisingan (noise)
Kebisingan adalah salah satu elemen lingkungan kerja fisik yang menyebabkan ketidakpuasan karyawan dan memiliki dampak negatif pada produktivitas (Fronczak et al., 2012; Mak dan Lui, 2012). Kebisingan kantor dapat mengganggu dan merusak kemampuan orang untuk fokus dan berkonsentrasi pada aktivitas kerja yang kemudian dapat menimbulkan perasaan frustasi dan meningkatnya stres. Kebisingan kantor dapat memengaruhi fisiologis karyawan yakni sakit kepala dan kelelahan, sementara itu secara psikologis dalam jangka pendek menyebabkan kegagalan memori, kurangnya konsentrasi, dan dapat memicu stres, secara kognitif karyawan mengalami kegagalan dalam mendapatkan informasi, dan secara sosial perasaan kurang dekat dengan lawan bicara (Rasila dan Jylha, 2015).
Tingkat kebisingan yang berlebihan dalam jangka waktu lama akan merusak pendengaran. Hal ini mungkin terjadi secara bertahap dan tanpa rasa sakit sehingga karyawan mungkin tidak melihat penurunan minor dari satu hari ke hari berikutnya. Kebisingan yang berlebihan di tempat kerja menimbulkan risiko kerusakan pendengaran dan masalah kesehatan lainnya. Bagian telinga yang memproses suara frekuensi tinggi biasanya yang pertama terpengaruh.
Tingkat gangguan pendengaran tergantung pada kenyaringan suara dan berapa lama karyawan terpapar. Suara ledakan yang tiba-tiba, seperti suara tembakan, dapat menyebabkan kerusakan langsung. Beberapa orang yang terpapar kebisingan berlebihan menyebabkan penyakit pada syaraf telinga (Tinitus), yang digambarkan sebagai suara dering yang konstan. Untuk sebagian besar kasus gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan, tidak ada obatnya. Alat bantu dengar hanya memperkuat suara dan tidak dapat menggantikan pendengaran normal.
Tata letak kantor (Office Layout)
Tata letak kantor dapat dirancang untuk mendukung interaksi dan komunikasi antar pekerja. Peponis et al. (2007), mengungkapkan terdapat 2 model ruang kerja: flow model dan serendipitious model. Flow model mendukung ruang kerja yang dirancang agar mengalirnya informasi di antara pekerja, dengan demikian para pekerja yang menjadi satu tim ditempatkan dengan jarak yang dekat. Dengan cara ini interaksi didorong antara sejumlah individu, tetapi kedekatan seperti ini rentan dalam penyadapan kreativitas yang dimiliki oleh
rekan kerja lain. Ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Allen dan Henn (2006) yang menemukan bahwa komunikasi tatap muka cenderung menurun jika individu terpisah lebih dari 30 meter. Pendekatan desain ruang kerja ini lebih sulit dilakukan saat mengumpulkan banyak pekerja karena tidak tidak dapat ditampung semua dalam jarak dekat. Sementara untuk model kedua, model serendipitious merancang ruang kerja dengan kedekatan jarak yang lebih jauh sehingga mereka harus pindah secara fisik dari meja atau kantor mereka untuk berinteraksi dengan rekan kerja mereka dan ketika mendatangi meja rekan kerja tersebut mereka mungkin bertemu dengan rekan kerja lain. Menggunakan model ini bisa jadi dinilai kurang efisien dari segi waktu, dan dapat mendorong pekerja untuk menggunakan telepon atau email internal dalam berkomunikasi.