ءِ ﺪَااﻟ
B. Local Wisdom Masyarakat Sasak dalam Ragam Budaya di Indonesia
30 | ISLAM LOMBOK
Kata kuncinya adalah karakter tidak mempunyai fungsi dalam ruangan hampa.
Karakter hanya bermakna dalam ruang sosial, dalam hubungannya dengan diri dan begitu juga dengan orang lain. Pengetahuan, perasaan, dan tindakan moral dalam implementasinya adalah kualitas karakter yang menjadikan nilai-nilai moral itu menjadi suatu realitas yang hidup.43
B. Local Wisdom Masyarakat Sasak dalam Ragam
BAIQ MULIANAH | 31
Andvanced Learner’s Dictionary sebagai sesuatu yang hadir secara natural di satu daerah tertentu bukan yang datang dari luar sehingga ia menjadi milik dan jamak diketahui oleh penduduk asli yang menempati daerah tersebut. Dengan demikian, local wisdom dapat diartikan sebagai “the systematic body of knowledge acquired by local people through the accumulation of experiences, informal experiments, and an intimate understanding of the environtment in a given culture.”46
Local wisdom mempunyai beberapa karakteristik, yaitu kolektif, empirik, praksis, lokalitas, moralitas, holistik, protektif, dan integratif.
Local wisdom ini mempunyai dua bentuk, yaitu kearifan sosial dan kearifan ekologi. Kearifan sosial menjadikan masyarakat arif dan bijaksana sebagai makhluk sosial. Kearifan ekologi menjadikan masyarakat arif dan bijaksana dengan lingkungannya.47 Kearifan ekologi ini merupakan bentuk dari ekspresi budaya benda (tangible culture) ataupun budaya tidak benda (intangible culuture) masyarakat Sasak. Budaya benda, seperti masjid
46 Azka Muharom Albantani dan Ahmad Madkur. “Think Globally, Act Locally: The Strategy of Incorporating Local Wisdom in Foreign Language Teaching in Indonesia.” International Journal of Applied Linguistics & English Literature (IJALEL) 7 no. 2, (Maret, 2018): 2.
47Dwi Wahyudiati, Buku Model Pembelajaran, 22-24.
32 | ISLAM LOMBOK
kuno, makam keramat, dan pura. Sedangkan budaya tidak benda, seperti nyongkolan dan peresean.48
Local wisdom lahir dari sinkretisasi atau akulturasi berbagai budaya karena budaya tidak lahir dalam ruang yang kosong.49 Para ahli bahasa menyebutnya “kerangka budaya.” Para ahli ilmu sosial menyebutnya “kerangka pikir.” Para pemikir/ahli filsafat menyebut “nalar pembentuk/nalar umum.” Seluruhnya merujuk kepada lingkungan agama, sejarah, pemikiran, sosial, budaya, dan kesenian yang memengaruhi masyarakat tertentu dalam memproduksi pikiran dan tindakan. Setiap anggota dalam masyarakat tersebut tidak bisa keluar dari kerangka tersebut dalam seluruh pikiran dan tindakannya.50
R. Goris menyebutkan kata Sasak berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Sahsaka. Sah bermakna pergi, dan saka berarti asal/tempat tinggal. Sahsaka berarti pergi meninggalkan tanah asal dan berkumpul di Lombok. Ia menegaskan bahwa nenek moyang suku Sasak adalah dari tanah Jawa. Ada
48Lihat I Gusti Ayu Armini dkk., Peresean di Lombok Nusa Tenggara Barat (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), 1.
49Nur Syam, “Islam Wetu Telu: Islam dan Lokalitas di Tengah Perubahan” dalam M. Ahyar Fadly, Islam Lokal: Akulturasi Islam di Bumi Sasak (Bagu: STAIIQ Press, 2008), xiii-xxi.
50Dalam pandangan al-Jabiri, ini disebut nalar acuan (la raison constituee/al-aql al-mukawwan). Lihat Muhammad Abed al- Jabiri, Takwīn al-‘Aql al-‘Arabī (Beirut: Markaz Dirāsāt al-Wahdah al-
‘Arabiyyah, 2009), cet x, 15.
BAIQ MULIANAH | 33
juga pendapat yang menyatakan bahwa istilah Sasak adalah sudah menjadi sebutan dan panggilan bagi indigenous Lombok.51 Walaupun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa pendatang yang berdarah campuran (non indigenous) pun disebut sebagai orang Sasak.52 Orang Sasak tidak bisa keluar dari kerangka budaya/kerangka pikir/nalar pembentuk Sasak dalam berpikir dan bertindak. Hal ini berlangsung relatif ajeg dan langgeng sebelum ada perubahan radikal yang menggantikan kerangka itu dengan kerangka yang lain.
Untuk menemukan local wisdom keluarga Sasak diperlukan penelusuran lebih jauh tentang kerangka pikir yang membentuknya dan faktor- faktor apa saja yang memengaruhi kerangka pikir tersebut. Penelusurannya bisa dilakukan secara integratif-interkonektif di wilayah agama, sejarah, sosial, budaya, dan kesenian masyarakat suku Sasak.
Penelusuran literatur di wilayah-wilayah tersebut kemudian harus dikonfirmasi oleh kenyataan tentang atmosfer sosial yang secara nyata dirasakan, dialami dan berlaku dalam kehidupan sehari-hari orang/masyarakat Sasak. Inilah
51Kamarudin Zaelani, Satu Agama Banyak Tuhan: Melacak Akar Sejarah Teologi Waktu Telu (Mataram: Pantheon, 2007), 38.
Lihat I Wayan Suca Sumadi dkk., Tradisi Nyongkol dan Eksistensinya di Pulau Lombok (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), 32-33.
52Warni Djuwita, Psikologi Perkembangan: Stimulasi Aspek Perkembangan Anak dan Nilai Kearifan Lokal Melalui Permainan Tradisional Sasak (Mataram: LKIM Mataram, 2011), 108.
34 | ISLAM LOMBOK
tantangan intelektual untuk memberi kerangka teoritis bagi variabel pola asuh keluarga Sasak pada kajian ini.
Mayoritas masyarakat Sasak adalah muslim (94,8%);53 alamnya kaya dan indah; sejarah kekuasaannya adalah sejarah pendudukan dan penjajahan oleh kekuatan luar; kekuatan sosialnya berada di tangan elit tuan guru dan bangsawan;
ekonominya berbasis penggarapan tanah pertanian dengan kepemilikan yang terus terbatasi sejak era Kerajaan Karangasem54; wajah seni-budayanya adalah ekspresi kepasrahan atas nasib buruk.
Begitulah sketsa kerangka budaya yang membentuk imajinasi, kepribadian, cara pikir, dan perilaku orang Sasak.
Islam telah menjadi “marker of identity”-nya orang Sasak.55 Darinya, ia menginternalisasi ajaran,
53Muhammad Harfin Zuhdi dkk., Peta Dakwah Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggara Barat (Mataram: Sanabil, 2017), 12, 15.
54Lihat Alfons van Der Vaart, Lombok Penaklukan, Penjajahan dan Keterbelakangan 1870-1940 Terj. M. Donny Supanra (Mataram:
Lengge, 2009).
55Ketika sebagian bangsawan Sasak main mata dengan penjajah Belanda, tuan guru mengambil alih kepemimpinan rakyat, bergeser ke bagian timur pulau Lombok, dan menjadi semacam panacea dari kegetiran berabad-abad di bawah kekuasaan Kerajaan Karangasem dan penjajahan Belanda. Lihat John Klock, “Historic Hidrologic Landscape Modification and Human Adaptation in Central Lombok Indonesia from 1894 to the Present” Geo 522, (March, 2008): 10., Jeremy Kingsley, “Tuan Guru, Community, and
BAIQ MULIANAH | 35
nilai dan cara pandang di bawah bimbingan para tuan guru. Di sisi lain, bauran tradisi Jawa-Majapahit, Hindu-Bali, dan adat-istiadat lokal membentuk budaya, pranata sosial, bahasa, dan ekspresi kesenian yang khas Sasak. Keduanya ada dalam hubungan yang belum sepenuhnya menyatu (blended) tetapi menjadi unsur-unsur yang bergejolak-kelindan dalam diri orang Sasak. Jika boleh disederhanakan, masyarakat Sasak adalah masyarakat yang dibentuk oleh dua unsur utama:
Islam dan tradisi.56
Hal ini bisa dikonfirmasi pada kenyataan yang secara sekilas kontradiktif: jumlah masjid dan haji bertambah secara dramatis tetapi di akhir pekan prosesi adat nyongkolan menyesaki jalan-jalan utama juga secara dramatis.57 Meskipun Islam diakui sebagai identitas mayoritas suku Sasak tetapi preferensi primordial yang lebih lokal seperti Islam Wetu Telu dan riwayat afiliasi kerajaan di masa lalu tetap eksis bahkan tetap meneruskan cerita fragmentasi suku Sasak tempo dulu. Setali tiga uang, imajinasi politik orang Sasak tidak pernah tunggal sehingga sulit diwakili oleh kelompok Conflict in Lombok Indonesia” (Disertasi, Melbourne Law School, The University of Melbourne, 2010), 95.
56Dedy Wahyudin, “Identitas Orang Sasak: Studi Epistemologis Terhadap Mekanisme Produksi Pengetahuan Masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok NTB” El-Tsaqafah 16, no. 2 (Desember 2017): 106.
57Klock, Historic Hidrologic, 13.
36 | ISLAM LOMBOK
apalagi tokoh tertentu di level yang lebih tinggi dari yurisdiksi Pulau Lombok atau NTB.58
Dalam kenyataan sosial yang berlaku sehari- hari, masyarakat Sasak adalah masyarakat yang harmoni, naturalis (menyatu dengan alam: darat dan laut), tidak menyukai konflik, mudah menerima orang lain (multiculturalist), polos, tidak ambisius (political sense), guyub, tidak suka dikhianati, ikatan kekeluargaannya kuat, dan patuh terhadap otoritas (sosial, politik, keagamaan) yang riil berkuasa. Anak- anak Sasak secara tradisional tumbuh dalam kredo
“menjadi orang baik”. Bagi orang tua Sasak, memiliki anak yang baik (patut-patuh-pacu) adalah segala-galanya.
Masyarakat Sasak mempunyai tiga nilai utama, yaitu 1) titi krame, yakni adat yang diatur berdasarkan awig-awig (peraturan) yang disepakati oleh masyarakat Sasak; 2) base krame, yakni bahasa yang santun dan sopan diimplementasikan sesuai dengan adat Sasak; dan 3) aji krame,59 yakni lebih
58http://lombokpost.net/2017/01/20/anomali-mudjitahid-dan- sesudah-tgb/ diakses 15 Juni 2019, jam 19.20 wita.
59Aji Krame berasal dari kata aji dan Karma. Aji berarti nilai, harga, status komponen tertentu, dan nilai strata. Aji juga berarti raja atau orang tua sesepuh. Sedangkan krame berarti aturan.
Karma berarti masyarakat yang mempunyai tatatan hidup dan aturan yang dijunjung tinggi. Karma juga berarti kekuasaan. Aji krame ini dalam pernikahan masyarakat Sasak bergantung pada status sosialnya, yaitu Permenak: 100, perbape/perwangse: 66, jajar karang: 33, dan kaule/panjak: ¾. Lihat Nur Yasin, Hukum Perkawinan Islam Sasak (Malang: UIN Malang Press, 2008), 227-228. Lihat
BAIQ MULIANAH | 37
dimaknai sebagai harga status sosial seorang dalam masyarakat atau nilai martabat yang diakui oleh masyarakat adat Sasak.60
C. Model Implementasi Budaya dalam Pendidikan