• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi dan Waktu Penelitian

Dalam dokumen SULAWESI SELATAN (Halaman 64-71)

BAB III METODE PENELITIAN

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kantor BPS Provinsi Provinsi Sulawesi selatan pemilihan provinsi tersebut sebagai objek dan lokasi penelitian dikarenakan untuk memudahkan mengetahui kondisi masyarakat Provinsi Provinsi Sulawesi selatan.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang digunakan kurang lebih 2 bulan yaitu: Oktober – Desember 2020

C. Defenisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Untuk memudahkan penulis dalam mencari data dan menentukan variabel penelitian sekaligus untuk menyamakan persepsi tentang istilah- istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka batasan variabelnya yaitu:

Tabel 3.1

Defenisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Variabel Defenisi Indikator

Pertumbuhan Ekonomi ( Y )

proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.

Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

1.Pendapatan nasional 2.Pendapatan

perkapita

3.Tenaga kerja dan pengangguran

4.Kesejahteraan masyarakat

Ekspor ( X1 ) upaya untuk

melakukan penjualan komoditi yang kita miliki kepada negara lain atau bangsa asing sesuai dengan peraturan pemerintah dengan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. Ekspor sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, seperti yang telah dijelaskan dalam teori Hecksher-Ohlin (dalam Appleyeard, Field dan Cobb, 2008) bahwa suatu negara akan mengekspor produknya

1.Mengerti seluk beluk barang yang akan di ekspor.

2.memberitahukan barang yang akan diekspor.

3.Memahami

ketentuan barang ekspor.

4.Memahami barang dilarang ekspor`

5.Memahami barang yang dibatasi diekspor.

6.Memahami barang bebas ekspor.

7.Memahami adanya pengenaan bea keluar untuk barang ekspor.

yang produksinya menggunakan faktor produksi yang murah dan berlimpah secara intensif. Ekspor sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Impor ( X2 ) pembelian atau

pemasukan barang dari luar negeri ke

dalam suatu

perekonomian dalam negeri (Sukirno, 2006)

Impor sangat

berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, seperti yang telah dijelaskan dalam teori Hecksber-

Ohlin (dalam

Appleyeard, Field dan

Cobb, 2008)

menyatakan bahwa suatu negara akan mengimpor

produk/barang yang menggunakan faktor produksi yang tidak atau jarang dimiliki oleh negara tersebut dibandingkan

melakukan produksi sendiri namun tidak secara efisien. Impor sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.

1.Tentukan jenis barang impor serta negara asal impor tersebut.

2.Menentukan cara penyarahan barang impor.

3.Tentukan cara pembayaran impor.

4.Urus perijinan impor.

5.Tentukan transporter 6.Menentukan jadwal importasi`

7.Melakukan kegiatan pengiriman.

Investasi ( X3 ) Investasi merupakan penempatan sejumlah data yang digunakan untuk membeli barang- barang modal dan perlengkapan produksi guna menambah kemampuan produksi barang dan jasa saat ini dengan harapan

1.Moving average,untuk

mengetahui harga terkini.

2.Relative strength index,untuk

mengetahui waktu dimana stok telah sampai.

3.Moving average

memperoleh

keuntungan di masa mendatang. Investasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.

convergence divergence,untuk mengenali momentum.

4.Stochastic oscillator, untuk meliha grafik pada saham.

D. Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain) selama kurun waktu 2010- 2019 (10 tahun) dan dalam penggunaannya pada penelitian diatur dan diolah oleh penulis. Sumber data yang dipergunakan adalah data-data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS), penelitian kepustakaan, dan riset internet. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu data Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Provinsi Sulawesi selatan, Ekspor, Impor, Investasi.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan riset kepustakaan (Library Research), riset internet (Online Research) dan teknik dokumentasi dengan cara pencatatan laporan data yang telah dipublikasikan dan studi pustaka. Studi pustaka merupakan teknik untuk mendapatkan informasi melalui catatan, literatur, dokumentasi dan lain-lain yang masih relevan dalam penelitian ini.

Menurut Prajitno (2012) terdapat tiga kriteria yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian kuantitatif yaitu penjabaran (menguraikan atau menerangkan secara terperinci), penjelasan, dan perkiraan.

1. Uji t (Uji Parsial)

Menurut Ghozali dalam (Trilaksana, 2015) uji t digunakan untuk menguji signifikansi hubungan antara variabel X dan variabel Y secara parsial atau dapat dikatakan uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi-variasi dependen.

2. Uji F

Menurut Ghozali dalam (Trilaksana, 2015) uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

Dengan menguji hipotesis ini digunakan statistik F dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:

a. Dengan membandingkan nilai F tabel dengan F hitung, Apabila Ftabel > Fhitung, maka H0 diterima dan H1 ditolak, Apabila Ftabel < Fhitung, maka H0 ditolak dan H1 diterima.

b. Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi

Apabila probabilitas signifikansi > 0,05, maka H1 diterima dan Haditolaklitas signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, (Ghozali dalam Trilaksana 2015).

3. R-Square (R )

Nilai R2 menunjukan besarnya variabel-variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0 ≤ R2≤ 1). Semakin besar nilai R2, maka semakin besar variasi

variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independent.

Sifat dari koefisien determinasi adalah:

a. R2merupakan besaran yang non negatif.

b.Batasannya adalah (0 ≤ R2≤ 1).

Apabila R2bernilai 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel- variabel independen dengan variabel dependen. Semakin besar nilai R2 maka semakin tepat garis regresi dalam menggambarkan nilai-nilai observasi.

F. Teknik Analisis Data

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, yaitu analisis tentang studi ketergantungan satu variabel (variabel terikat) pada dua atau lebih variabel lain (bebas). Maksud analisis regreasi berganda adalah untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kanaikan atau penurunan. Regresi linier berganda dinyatakan dengan persamaan.

Y = f (X1, X2, X3)

Y =β0+β1 X1 +β2 X2 + β3 X3 + et Keterangan :

Y : Pertumbuhan Ekonomi

X1 : Ekspor

X2 : Impor

X3 : Investasi

β0 : Konstanta

β1, β2, β3 : Koefisien Regresi et : Variabel Pengganggu

Manfaat dari transformasi logaritma ini adalah bahwa koefisien kemiringan β mengukur elastisitas dari Y sebagai variabel dependen terhadap X sebagai variabel independen, yaitu ukuran persentase perubahan dalam Y bila diketahui persentase perubahan dalam X.

60 A. Gambaran Umum Daerah Penelitian

1 Geografis

Provinsi Provinsi Sulawesi selatan yang beribukota di Makassar terletak antara 00 12’– 80 lintang selatan dan 1160 48’ – 1220 36’ bujur timur. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara : Provinsi Sulawesi Barat

2. Sebelah Timur : Teluk Bone dan Provinsi Sulawesi Tenggara 3. Sebelah Selatan : Selat Makassar

4. Sebelah Barat : Laut Flores

Secara geografis Provinsi Provinsi Sulawesi selatan membujur dari selatan ke utara dengan panjang garis pantai mencapai 2500 km.

Mempunyai 67 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni 25 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada satu sungai yakni Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tana Toraja, Enrekang dan Pinrang. Panjang sungai tersebut masing-masing 150 km. Di Provinsi Sulawesi selatan terdapat empat danau yakni Danau Tempe dan Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo, serta Danau Matana dan Towuti berada di Kabupaten Luwu timur. Adapun jumlah gunung tercatat sebanyak 7 gunung, dengan yang tertinggi adalah Gunung Rantemario dengan ketinggian 3.470 m di atas permukaan air laut yang berdiri tegak di perbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Luwu. Berdasarkan letak geografisnya, Provinsi Sulawesi selatan mempunyai dua

kabupaten kepulauan, yaitu Kepulaan Selayar dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).

Luas wilayah Provinsi Provinsi Sulawesi selatan tercatat 46.083,944 km2 yang meliputi 21 Kabupaten dan 3 Kota. Kabupaten Luwu Utara merupakan Kabupaten terluas dengan luas 7.365,51 km2 atau luas kabupaten tersebut merupakan 15,98 persen dari seluruh wilayah Provinsi Provinsi Sulawesi selatan.

Berdasarkan pengamatan di tiga Stasiun Meteorologi (Hasanuddin dan Maritim Paotere) dan Klimatologi Maros selama tahun 2017 rata-rata suhu udara 27,40 C di Kota Makassar dan sekitarnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Suhu udara maksimum di stasiun klimatologi Hasanuddin 28,020 C dan suhu minimum 26,990 C.

2. Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Provinsi Provinsi Sulawesi selatan merupakan salah satu Provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak. Kota Makassar menjadi kota dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Sulawesi selatan dengan jumlah penduduk yang meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2010 jumlah penduduk Kota Makassar 1.342.826 jiwa, lalu tahun 2015 laju pertumbuhan meningkat 1,54% menjadi 1.449.401 jiwa, akan tetapi pada tahun 2017 laju pertumbuhan penduduknya mengalami penurunan 1,36% hingga jumlah penduduknya hanya meningkat menjadi 1.489.011 jiwa.

Tahun 2017, Rasio jenis kelamin yang dimiliki Provinsi Sulawesi Selatan berjumlah 95,54% dengan jumlah laki-laki 4.260.101 jiwa dan

perempuan 4.444.193 jiwa. Rasio jenis kelamin paling besar di kabupaten adalah TanaToraja dengan jumlah rasio 102,22%, akan tetapi jumlah jenis kelamin perempuan dan laki-laki paling banyak dimiliki oleh kabupaten bone.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk dan Ratio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Provinsi Sulawesi selatan, 2017

Sumber : BPS Provinsi Provinsi Sulawesi selatan 2018

Kepadatan penduduk di Provinsi Sulawesi selatan terbanyak di tingkat kota yaitu Kota Makassar dengan jumlah 8.471 perkm2, hal ini tentu saja dapat terjadi dengan melihat melihat perkembangan kota Makassar sebagai kota metropolitan dan Semakin banyak masyarakat yang berpindah dari daerah ke kota membuat pusat kota menjadi padat penduduk. Lalu ditingkat kabupaten yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya yaitu kabupaten takalar dengan jumlah 517 orang/km2. Hal ini tentu membuat kabupaten takalar menjadi padat karena luas daerahnya berukuran kecil.

3. Struktur Ekonomi

Manfaat lain dari angka perkembangan PDRB adalah untuk mengetahui struktur perekonomian suatu daerah dengan melihat kontribusi masing-masing sektor terhadap total PDRB daerah tersebut.

Struktur ekonomi Provinsi Sulawesi selatan pada kurun waktu 2014- 2018 tidak mengalami pergeseran yang berarti. Peranan sektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian terhadap perekonomian Provinsi Sulawesi selatan masih cukup besar yakni 15,22 persen ditahun 2014, walaupun terus menurun hingga tahun 2018 menjadi 14,04 persen. Tingginya peranan ini ditopang oleh sub- sektor tanaman pangan dengan kontribusi rata-rata 7,58 persen setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan sebagian besar penduduk Provinsi Sulawesi selatan perekonomiannya masih mengandalkan pada pertanian.

Tabel 4.2

Distribusi PDRB tahunan Provinsi Sulawesi selatan atas dasar harga berlaku menurut Lapangan Usaha, 2014-2018 (persen)

Sumber: PDRB BPS Provinsi Sulawesi selatan tahun 2018

Selain Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebagai penyumbang PDRB terbesar dengan rata-rata 23,03 persen setiap tahunnya, sektor Pertambangan dan Penggalian menyumbang PDRB sebesar 5,69 persen rata-rata pertahun, industri pengolahan dengan penyumbang PDRB terbesar kedua dengan rata-rata 13,71 persen pertahun. Perdagangan Besar dan Eceran sebagai penyumbang PDRB terbesar ketiga dengan rata-rata sebesar 13,36 persen pertahun dan Konstruksi penyumbang terbesar keempat dengan rata-rata sebesar 12,70 persen pertahun.

Bila dicermati lebih dalam, maka selama kurun waktu 2014-2018, tampak bahwa kontribusi sektor Perdagangan Besar dan Eceran mengalami peningkatan dari tahun 2014 sebesar 12,62 persen menjadi 14,37 ditahun 2018, dan Sektor Konstruksi meningkat dari tahun 2014 sebesar 12,08 persen menjadi 13,54 persen ditahun 2018.

A 22,97 23,14 23,43 23,12 22,50

B 7,11 6,32 5,19 4,95 4,91

C 13,98 13,88 14,06 13,82 12,86

D 0,07 0,06 0,06 0,06 0,06

E 0,12 0,11 0,10 0,10 0,10

F 12,08 12,39 12,63 12,88 13,54

G 12,62 12,86 13,27 13,70 14,37

H 3,97 4,19 4,29 4,21 4,27

I 1,38 1,34 1,32 1,37 1,41

J 4,90 4,62 4,66 4,79 4,93

K 3,63 3,60 3,81 3,80 3,74

L 3,87 3,99 3,95 3,82 3,71

M,N 0,44 0,44 0,44 0,44 0,46

O 4,57 4,78 4,47 4,38 4,47

P 5,20 5,08 5,07 5,23 5,28

Q 1,85 1,91 1,94 1,97 1,99

R,S,T, U

1,25 1,28 1,31 1,34 1,41 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 99,06 99,20 99,34 99,42 99,55

2014 2015 2016 2017 2018

Kate-

gori Uraian

Penyediaan Akomodasi dan Makan Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan

Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Konstruksi

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TANPA MIGAS

Tabel 4.2 Distribusi PDRB Tahunan Sulawesi Selatan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2014-2018 (Persen)

Jasa Perusahaan

Administrasi Pemerintahan, Jasa Pendidikan

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Perdagangan Besar dan Eceran;

Transportasi dan Pergudangan

B. Deksripsi Hasil Penelitan

1. Perkembangan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)

Perkembangan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga konstan. Penggunaan atas dasar harga konstan dimaksud untuk menghindari pengaruh perubahan harga, sehingga perubahan yang diukur merupakan pertumbuhan rill ekonomi. Angka PDRB suatu daerah dapat memperlihatkan kemampuan daerah tersebut dalam mengelolah sumber daya alam yang dimiliki melalui proses produksi dengan menggunakan teknologi tertentu. Oleh karena itu, besar kecilnya PDRB suatu daerah sangat tergantung pada potensi sumber daya alam dan factor-faktor yang terdapat di daerah tersebut.

Pada tabel dibawah ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan ekonomi Provinsi Sulawesi selatan selama periode 2010- 2019.

Tabel 4.3

Perkembangan PDRB di SUL-SEL Periode 2010-2019 ( Milliar rupiah )

Sumber :BPS,Sul-Sel dalam angka,2020

Tahun

Total PDRB Selisih Pertahun

Persentase Pertumbuhan (%)

2010 117.862,21 - -

2011 137.519,81 19.658 16,67

2012 159.859,93 22.340 16,24

2013 184.783,06 24.923 15,59

2014 300.124,22 115.341 62,41

2015 340.390,21 40.266 13,41

2016 377.108,91 36.719 10,78

2017 415.588,49 38.480 10,20

2018 461.719,49 46.131 11,10

2019 504.746,87 43.028 9,31

Pada tahun 2010-2011 Produk Domestik Regional Bruto mengalami pertumbuhan sebesar 16,67 %. Hal tersebut didukung oleh bahan baku yang cukup besar dimiliki sektor pertanian, pertambangan, dan penggalian. Selanjutnya pada tahun 2012 PDRB mengalami penurungan sebesar 16,24%. Pertumbuhan ini disebabkan oleh semakin membaiknya semua sektor ekonomi terutama sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dimana kemudian masyarakat dan dunia usaha dapat lebih mudah mengakses sumber-sumber pembiayaan dan modal usaha dalam hal ini perbankan.

Pada tahun 2013 PDRB mengalami penurungan ekonomi sebesar 15,59 % hal ini disebabkan memburuknya kondisi perekonomian akibat dari regulasi pemerintah yang menaikkan harga BBM. Pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 62,41 % yang disebabkan semakin sabilnya kondisi keamanan dalam negeri sehingga keamanan investasi dalam negeri. Pada tahun 2015 PDRB mengalami penurungan sebesar 13,41% didorong oleh upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program peningkatan kualitas dan kuantitas hasil-hasil pertanian yang memiliki nilai jual ekspor yang tinggi.

Pada tahun 2016 PDRB mengalami penurungan sebesar 10,78% yang diakibatkan menurunnya hasil pertanian,sektor listrik,gas,dan air bersih serta industri pengolahan. Pada tahun 2017 PDRB sebesar 10,20%

mengalami penurungan yang disebabkan kontibusi sektor perdagangan,hotel dan restoran serta sektor jasa lainnya. Pada tahun 2018 PDRB mengalami penurungan signifikan sebesar 11,10 % disebabkan tidak stabilnya kondisi keamanan dalam negeri sehingga keamanan investasi dalam negeri termasuk juga sektor perdagangan dan lembaga keuangan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi selatan sedikit mengalami

penurunan yakni sebesar 9,31% hal ini akibat penurunan hampir di semua sektor-sektor ekonomi.

2.. Perkembangan Ekspor

Ekspor adalah salah satu komponen pengeluaran agregat, oleh karena itu ekspor dapat mempengaruhi tingkat pendapatan yang akan dicapai, dalam hal ini PDRB pada wilayah Provinsi Sulawesi selatan, apabila ekspor bertambah, pengeluaran agregat bertambah tinggi dan menaikkan pendapatan tetapi tidak dapat mengalami perubahan walaupun pendapatan tetap.

Tabel. 4.4

Ekspor Provinsi Sulawesi selatan Menurut Komodity

No. Jenis barang

1 Nikel

2 Kakao

3 Ikan,udang,hewan air lainnya 4 Kayu, barang dari kayu, arang kayu 5 Minyak dan lemak hewan

6 Garam, belerang, tanah, batu

7 Barang dari batu,gips,semen,semacamnya 8 Kopi, teh,mente,rempah-rempah

9 Karet, terbuat dari padanya 10 Lainnya

Sumber: BPS,Sul-Sel dalam angka,2020

Untuk melihat perkembangan ekspor di Provinsi Sulawesi selatan yang terealisasi selama periode tahun 2010-2019 dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel. 4.5

Perkembangan Ekspor di Provinsi Sulawesi selatan Periode 2010-2019 ( Milliar rupiah )

Tahun

Ekspor Selisih Pertahun

Persentase Pertumbuhan (%)

2010 375.458.964 - -

2011 286.009.221 -89.450 -23,82

2012 217.145 -68.864 -24,07

2013 1.209.230.328 992.085 456,87

2014 739.580,88 -469.649 -38,83

2015 830.389 90.808 12,27

2016 1.087.748 257.359 30,99

2017 1.266.295,22 179.000 16,45

2018 2.081.063,00 814.768 64,34

2019 2.058.584,29 -22.479 -1,08

Sumber : BPS, SUL-SEL Dalam angka 2020

Berdasarkan data diatas, selama 10 tahun yaitu pada tahun 2010- 2019 ekspor Provinsi Sulawesi selatan menunjukkan penurunan persentase pertumbuhan sebesar yang bila diamati dari tahun 2010-2012 mengalami penurungan ekspor masing-masing sebesar -23,82 , -24,07%

yang diakibatkan oleh menurunnya volume produksi pemerintah di Provinsi Sulawesi selatan. Pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar 456,87 yang disebabkan harga ekspor. Pada tahun 2014-2017 mengalami penurungan sebesar -38,83%, 12,27%, 30,99%, 16,45% dan pada tahun 2018 mengalami kenaikan sebesar 64,34% yang berangsur-angsur pulih

nilai ekspor. Pada tahun 2019 terjadi penurunan sebesar -1,08% yang dissebabkan turunnya harga ekspor.

3. Perkembangan Impor

Impor adalah proses transportasi barang atau jasa suatu negara ke nengara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan.

Proses impor umumnya adalah tindakan memasukkan barang atau komoditas dari negara lain kedalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.

Tabel. 4.6

Jenis barang impor Provinsi Sulawesi selatan Menurut Komodity

No. Jenis barang

1 Gandum dan sejenisnyaa

2 Gula

3 Kembang gula 4 Bahan baku mineral 5 Produk keramik

6 Kapal, bahtera, dan bangunan terapung 7 Reactor, ketel,uap,dsb

8 Pupuk

9 Produk industry penggilingan 10 Kertas/karton

Sumber : BPS, SUL-SEL dalam angka 2020

Untuk melihat perkembangan impor di Provinsi Sulawesi selatan yang terealisasi selama periode tahun 2010-2019 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel. 4.6

Impor Provinsi Sulawesi selatan Menurut Komodity ( Milliar rupiah )

Sumber: BPS,SUL-SEL dalam angka 2020

Berdasarkan data diatas, selama 10 tahun yaitu pada tahun 2010- 2011 impor Provinsi Sulawesi selatan menunjukkan perkembangan dengan persentase pertumbuhan sebesar 4,78 %. Pada tahun 2012 impor Provinsi Sulawesi selatan mengalami penurunan dengan persentase pertumbuhan sebesar 1,12%. Pada tahun 2013 impor Provinsi Sulawesi selatan mengalami penurungan sebesar -32,23%.

Pada tahun 2014 impor Provinsi Sulawesi selatan mengalami pertumbuhan yang begitu pesat sebesar 14,15%. Pada tahun 2015 impor Provinsi Sulawesi selatan sebesar 17,76%. Pada tahun 2016 impor Provinsi Sulawesi selatan mengalami penurunan sebesar 1,36%. Pada tahun 2017 impor Provinsi Sulawesi selatan menunjukkan perkembangan

Tahun

Impor Selisih Pertahun

Persentase Pertumbuhan (%)

2010 1.680.784.871 - -

2011 1.761.135,36 80.350 4,78

2012 1.780.871,31 19.736 1,12

2013 1.206,73 -574.141 -32.23

2014 1.377.559,39 170.829 14,15

2015 1.622.251 244.692 17,76

2016 1.644.341 22.090 1,36

2017 2.002.200,13 357.859 21,76

2018 2.395.324,00 393.124 19,63

2019 2.161.572,87 -233.751 -9,75

yang begitu pesat dengan persentase pertumbuhan sebesar 21,76%.

Pada tahun 2018 impor Provinsi Sulawesi selatan mengalami penuruan sebesar 19,63% dan pada tahun 2019 impor Provinsi Sulawesi selatan mengalami penurunan dengan persentase pertumbuhan sebesar -9,75%.

4. Perkembangan Investasi

Investasi adalah kegiatan menabung dengan cara bisnis, dari investasi seseorang akan mendapat hasil yang memuaskan sesuai dengan target.

Untuk melihat perkembangan investasi di Provinsi Sulawesi selatan selama periode 2010-2019 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel. 4.6

Investasi Provinsi Sulawesi selatan Menurut Komodity ( Milliar rupiah )

Sumber : BPS,SUL-SEL dalam angka 2020

Tahun

Investasi Selisih Pertahun

Persentase Pertumbuhan (%)

2010 3.212.295.181 - -

2011 3.986.302.703 774.008 24,09

2012 2..318.863.400 -1.667.440 -41,82

2013 921.017 -1.397.846 -60,28

2014 4.949.546,8 4.028.530 437,40

2015 9.215.326,60 4.265.780 86,18

2016 3.334.583,14 -5.880.774 -63,81

2017 1.969.431,23 -1.365.152 -40,93

2018 3.275.876.300 1.306.445 66,33

2019 8.270.319.356 4.994.443 152,46

Pada tahun 2010-2011 investasi Provinsi Sulawesi selatan mengalami kenaikan dengan persentase pertumbuhan ekonomi sebesar 24,09%. Tahun 2012-2013 investasi Provinsi Sulawesi selatan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dengan persentase pertumbuhan sebesar -41,82%, -60,28%. Pada tahun 2014-2015 investasi Provinsi Sulawesi selatan mengalami pertumbuhan investasi sebesar 437,40%, 86,18%. Pada tahun 2016-2017 investasi mengalami penurunan yang begitu pesat sebesar -63,81%, -40,93% yang yang diakibatkan melambatnya pertumbuhan dana masyarakat yang dihimpun perbankan serta kualitas kredit yang bermasalah terhadap total pembiayaan.

Pada tahun 2018 investasi Provinsi Sulawesi selatan mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 66,33% yang membuat berangsur- ansur perekonomian membaik kemudian pada tahun 2019 investasi Provinsi Sulawesi selatan mengalami kenaikan sebesar 152,46%.

C. Hasil Penelitian

Penelitian ini mengenai pengaruh ekspor, impor, dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di provinsi Provinsi Sulawesi selatan dengan menggunakan metode kuantatif deksriptif Berdasarkan data penelitian yang telah ada. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Dengan menggunakan time series (deret waktu) selama periode 2010-2019 tentang pengaruh ekspor, impor, dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di provinsi Provinsi Sulawesi selatan.

1. Uji Hipotesis

a. Hasil Analisis Regresi

Berdasarkan analisis dengan program SPSS 21 for Windows diperoleh hasil regresi seperti terangkum pada tabel berikut:

Tabel 4.10

Hasil Analisis Regresi

Sumber : Data Sekunder diolah SPSS 21

Berdasarkan tabel diatas diperoleh persamaan regresi berganda sebagai berikut:

Y =β0+β1 X1 +β2 X2 + β3 X3 + e Y = 10.833+(0,103)+(-0,101)+(0,013)

Persamaan regresi tersebut mempunyai makna sebagai berikut:

a. Nilai koefisien (β0) = Ketika semua variabel dianggap konstan maka pertumbuhan ekonomi akan tetap atau naik 10.833 . b. Nilai koefisien (β1) = Ketika Ekspor terjadi kenaikan 1% maka

pertumbuhan ekonomi akan naik sebesar 0.103 atau sebaliknya dengan suatu anggapan variabel lainnya dianggap konstan.

c. Nilai koefisien (β2) = Ketika Impor terjadi kenaikan sebesar 1% maka pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 10.833 3.175 3.412 .014

X3 .013 .017 .120 .778 .466

X2 -.101 .215 -.097 -.470 .655

X1 .103 .024 .899 4.243 .005

a. Dependent Variable: Y

-0,101 atau sebaliknya dengan suatu anggapan variabel independen lainnya diangap konstan.

d. Nilai koefisien (β3) = Ketika Invetasi terjadi kenaikan sebesar 1% maka pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan 0,013atau sebaliknya dengan suatu anggapan variabel independen lainnya diangap konstan.

b. Uji Statistik t

Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah secara individu (parsial) variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan atau tidak. Uji ini digunakan untuk menentukan analisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial, yang dapat dilihat dari besarnya t hitung terhadap t tabel. Dengan uji 2 sisi dari hasil output SPSS pada tabel 4.10 tersebut.

Berdasarkan tabel output SPSS diatas diketahui Coefficients di atas diketahui nilai signifikansi (Sig) variabel Ekspor (X1) adalah sebesar 0,005. Karena nilai Sig. 0,005 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H1 diterima atau H1. Artinya Ekspor (X1) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Y), diketahui nilai signifikansi (Sig) variabel Impor (X2) adalah sebesar 0,655. Karena nilai Sig. 0,655 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H2 ditolak . Artinya Impor (X2) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Y) dan diketahui nilai signifikansi (sig) variabel Investasi adalah sebesar 0,466. Karena nilai sig 0,466 > 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa H3 ditolak.

Artinya Investasi (X3) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Y).

Berdasarkan tabel output SPSS diatas diketahui Coefficients di atas diketahui nilai t hitung variabel Ekspor (X1) adalah sebesar 4,243. Karena nilai t hitung. 4,243 > t tabel 2,447 maka dapat disimpulkan bahwa H1 diterima atau H0 diterima.

Artinya Ekspor (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y), diketahui nilai t hitung variabel Impor (X2) adalah sebesar -0,470. Karena nilai t hitung -0,470 < 2,447 maka dapat disimpulkan bahwa H2 ditolak atau H0 diterima.

Artinya Impor (X2) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) dan diketahui nilai t hitung variabel Investasi (X3) adalah sebesar 0,778 karena t hitung 0,778 < 2,447 maka dapat disimpulkan bahwa H3 ditolak atau H0 ditolak. Artinya Investasi (X3) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y).

c. Uji Statistik F

Uji F dilakukan untuk melihat keberartian pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen atau sering disebut uji kelinieran persamaan regresi.Hasil output dari SPSS adalah sebagai berikut:

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 2236.073 3 745.358 14.122 .004b

Residual 316.673 6 52.779

Total 2552.746 9

a. Dependent Variable: Y

b. Predictors: (Constant), X1, X3, X2

Sumber : Data Sekunder diolah SPSS 21 Tabel 4.12 Hasil Uji Statistik F

Dalam dokumen SULAWESI SELATAN (Halaman 64-71)

Dokumen terkait