• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi Dan Waktu Penelitian

BAB III. METODE PENELITIAN

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

23

C. Defenisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Pada dasarnya variabel yang akan diteliti dikelompokkan dalam konsep teoritis, empiris, dan analitis. Konsep teoritis merupakan variabel utama yang bersifat umum sedangkan konsep empiris merupakan konsep yang bersifat operasional dan terjabar dari konsep teoritis.

Konsep analitis adalah penjabaran dari konsep teoritis yang merupakan dimana data itu diperoleh.

Defenisi operasional adalah penentuan variabel-variabel yang akan diteliti sedangkan pengukuran varaiabel adalah pemberian angka atau kode pada suatu objek penelitian.

Tabel 3.1 Defenisi Operasional Variabel dan Pengukuran No. Variabel Defenisi Operasional

Variabel

Pengukuran 1. Upah Minimum (X1) Upah Minimum adalah

upah bulanan terendah yang terdiri atas upah pokok termasuk tunjangan tetap yang ditetapkan oleh gubernur sebagai jaring pengaman.

Diukur berdasarkan standar kebutuhan seorang

pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik dalam 1 bulan.

2. Penyerapan Tenaga Kerja (Y)

Penyerapan Tenaga Kerja merupakan penduduk yang mampu bekerja dalam

usia kerja (15-64 tahun) yang terdiri dari orang yang mencari kerja, punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja atau menganggur.

Penyerapan tenaga kerja sebagai variabel terikat yang diukur dengan

menggunakan Indeks Entropi Theil (IET).

Sedangkan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat dengan menggunakan metode analisis regresi data panel dengan pendekatan model common effect.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya.

Menurut Kuncoro, Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajari atau menjadikannya objek penelitian. Objek penelitian yang akan diambil dalam penelitian ini adalah data yang dikumpulkan dan diambil melalui data BPS Kota Makassar.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karekteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian.Dalam hal ini penulis menggunakan sampel 5 tahun terakhir yaitu tahun 2015-2019.

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu teknik yang menentukan sampel dalam pertimbangan atau kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan sebagai sampel yaitu Tingkat Pengangguran, Tingkat Inflasi, Angkatan Kerja dan Tingkat Pendidikan.

25

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam hal pengumpulan data, peneliti mengumpulkan data –data dengan metode library reseach atau kepustakaan diantaranya meliputi jurnal ilmiah, website, artikel, dan laporan-laporan penelitian lainnya yang ada kaitannya dengan topik penelitian. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu pencatatan langsung dan pengumpulan data sekunder time series dalam bentuk data tahunan dari Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar.

F. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data regresi linear berganda serta metode ordinary Least Square (OLS) adalah metode untuk mengestimasi suatu garis regresi dengan jalan meminimalkan jumlah kuadrat kesalahan dari setiap observasi terhadap garis tersebut (Kuncoro, 2010).

1. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linsear berganda adalah salah satu model regresi linear yang melibatkan lebih dari satu variabel independen (Sugiyno, 2012). Adapun model regresi linear berganda dilukiskan dengan persamaan sebagai berikut:

Y = α + βx Keterangan:

Y = Penyerapan Tenaga Kerja (Variabel Terikat) α = Konstatnta Intersepsi

β = Koefisien regresi X = Upah Minimum

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas diartikan sebagai suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel bebas dapat dinyatakan sebagai kombinasi kolinier dari variable yang lain. Tujuan dari uji Multikolinieritas adalah untuk mengetahui apakah didalam regresi ditemukan korelasi antar variabel independen, jika ditemukan korelasi maka diartikan mengandung problem multikolinieritas.beberapa cara yang digunakan untuk mendeteksi multikolinieritas yaitu: (1) Jika uji R2 cukup tinggi (0,7 – 0.1), tetapi uji t statistik dalam tingkat signifikan variabel bebas sangat sedikit atau tidak signifikan. (2) Tingginya R2 menjadi syarat yang cukup (sufficient) ,

akan tetapi syarat ini bukan syarat yang diperlukan untuk terjadinya Multikolinieritas, sebab dalam R2 yang rendah < 0,05 bisa juga terjadi multikolinieritas. (3) Meregresi variabel independen X dengan variabel independen yang lain, kemudian dihitung R2 dengan uji F: Jika F*>F tabel berati Ho ditolak, terdapat Multikolinieritas jika F*<F tabel berarti Ho diterima, tidak terdapat dalam suatu model salah satunya dengan melihat koefisien korelasi yang lebih besar dari 0,8 maka terdapat gejala multikolinieritas (Syamsul, 2012).

b. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t

27

dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya).Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DWTest). Uji Durbin- Watson hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam 28 model regresi dan tidak ada variabel lag di antara variabel independen. Hipotesis yang di uji adalah:

H0 : tidak ada autokorelasi (r = 0) H0 : ada autokorelasi (r ≠ 0)

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi:

1) Jika d < atau d > (4 – ), maka ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi antar sisaan.

2) Jika < d < (4 – ), maka diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi antar sisaan. 3. Jika < d < atau (4 – )< d < (4 – ), maka Durbin-Watson tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti (inconclusive). Untuk nilai-nilai ini, tidak dapat (pada suatu tingkat signifikansi tertentu) disimpulkan ada tidaknya autokorelasi di antar faktor-faktor gangguan.

c. Uji Heterokodastisitas

Uji Heterokodastisitas suatu model regresi dikatakan mengandung Heterokodastisitas apabila adanya ketidaksamaan varian dari residual dari semua pengamatan yang lain, jika varian dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka

disebut homoskedastisitas. Apabila varians berbeda maka disebut heteroskedastisitas.Sifat heteroskedastisitas ini dapat membuat penaksiran dalam model yang bersifat tidak efisien.Umumnya masalah heteroskedastisitas lebih biasa terjadi pada data cross- section dibanding data time-series.

3. Uji Statistik

Uji Statistik Analisis Regresi adalah prosedur yang digunakan untuk menguji jika terjadi kesalahan atau kebenaran darai hasil hipotesis nol dari sampel.terdapat 3 jenis kriteria dalam pengujian, diantaranya yaitu, uji koefisien determinasi (R2 ), uji F statistik, dan uji t-statistik.

a. Uji Koefisien Determinan (R2 )

Uji R2 ini digunakan untuk mengetahui berapa besar model regresi dalam menerangkan variabel terikat dan mengukur kebaikan suatu model (goodness of fit). Atau dengan kata lain koefisien determinan menunjukkan variasi turunnya variabel Y yang diterangkan oleh pengaruh linier X. Nilai koefisien determinan antara 0-1, jika nilai koefisien determinan yang mendekati 0 (nol) hal ini berarti kemampuan semua variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Jika nilai koefisien determinan mendekati 1 (satu) hal ini berarti variabel-variabel independen hampir memberikan informasi yang menjelaskan dalam memprediksi variabel dependen.

b. Uji Simultan ( Uji F )

Uji F-Statistik dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel bebas secara keseluruhan mempengaruhi variabel terikat

29

secara bersama-sama, pengujian ini digunakan hipotesis sebagai berikut: (1) Ho : β1 = β2 = 0, artinya secara bersama-sama tidak terdapat pengaruh variabel independen terhadap veriabel dependen.

(2) Ha : β1 ≠ β2 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh secara individual anatara masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan nilai F hitung dengan F tabel jika Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak, yang berarti veriabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.

c. Uji Parsial ( Uji T )

Pengujian yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dalam suatu model regresi. Rumusan hipotesis Ho : β1 = β2 = 0, artinya secara bersama-sama tidak terdapat pengaruh variabel independen terhadap veriabel dependen. Ha : β1 ≠ β2 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh secara individual anatara masing-masing variabel independen terhadap veriabel dependen. Pengambilan keputusan penelitian ini penulis menggunakan α = 0,05.

Apabila probabilitas variabel independen > 0,05 maka hipotesis Ho diterima, artinya variabel independen secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

BAB. IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Secara geografis, Makassar adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi, dahulu disebut Ujung Pandang, yang terletak antara 119o24’17’38” Bujur Timur dan 5o8’6’19” Lintang Selatan. Berdasarkan pencatatan Stasiun Meteorologi Maritim Paotere, secara rata-rata kelembapan udara sekitar 77%, temperatur udara sekitar 26,2º-29,3ºc, dan rata-rata kecepatan angin 5,2 knot. Ketinggian Kota Makassar bervariasi antara 0-25 meter di permukaan laut dengan suhu udara antara 20º C sampai dengan 32º C.

Kota Makassar diapit oleh dua buah sungai yaitu Sungai Tallo yang bermuara di sebelah utara kota dan Sungai Jeneberang bermuara pada bagian selatan kota. Posisi geografis Kota Makassar memiliki batas- batas antara lain:

a. Sebelah Utara Berbatasan dengan Kabupaten Maros b. Sebelah Timur Berbatasan dengan Kabupaten Maros c. Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kabupaten Gowa d. Sebelah Barat Berbatasan dengan Selat Makassar

Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km2 persegi. Luas laut dihitung dari 12 mil dari daratan sebesar 29,9 km2, dengan ketinggian topografi dengan kemiringan 0o sampai 9o. Terdapat 12 pulau-pulau kecil, 11 diantaranya telah diberi naman dan 1 pulau yang belum diberi nama Kota Makassar memiliki garis pantai kurang lebih 100 km yang

30

31

dilewati oleh 2 sungai yaitu sungai Tallo dan sungai Jeneberang. Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2o dan kemiringan lahan 3-15o dengan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut. Perkembangan fisik Kota Makassar cenderung mengarah kebagian Timur Kota. Hal ini terlihat dengan giatnya pembangunan perumahan di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala, Panakkukang dan Rappocini.

Kota Makassar adalah kota yang letaknya berada dekat dengan pantai, membentang sepanjang koridor Barat dan Utara.

Secara administrasi kota ini terdiri dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Kota ini berada pada ketinggian antara 0-25 m dari permukaan laut. Penduduk Kota Makassar pada tahun 2000 adalah 1.130.384 jiwa yang terdiri dari lakilaki 557.050 jiwa dan perempuan 573.334 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,65 %.

a) Letak : Koordinat 5°8′S 119°25′E di pesisir barat daya pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar.

b) Batas : Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Pangkajene Kepulauan di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan.

c) Masyarakat Kota Makassar terdiri dari beberapa etnis yang hidup berdampingan secara damai. Penduduk Makassar kebanyakan dari Suku Makassar, sisanya berasal dari suku Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Tionghoa, Jawa dan sebagainya. Mayoritas penduduknya beragama Islam.

d) Pembagian Wilayah : Kota Makassar dibagi menjadi 14 kecamatan, 143 kelurahan, 885 RW dan 4446 RT.

e) Kondisi Geografis : Ketinggian Kota Makassar bervariasi antara 0 - 25 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara antara 20° C sampai dengan 32° C. Kota Makassar diapit dua buah sungai yaitu:

Sungai Tallo yang bermuara disebelah utara kota dan Sungai Jeneberang bermuara pada bagian selatan kota. Lihat juga kondisi geografis Makassar selengkapnya.

f) Luas wilayah : 128,18 km² (Total 175,77 km2).

B. Hasil Penelitian (Penyajian Data) 1. Deskripsi Variabel

a. Perkembangan Upah Minimum di Kota Makassar

Kebijakan pemerintah tentang penetapan upah minimum dapat berpengaruh terhadap angka pengangguran.

Oleh karena itu, pemerintah harus benar- benar mempertimbangkan dengan baik kebijakan dalam menetapkan tingkat upah. Secara umum, kondisi upah minimum di Kota Makassar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring dengan semakin tingginya harga berbagai macam kebutuhan hidup masyarakat. Namun yang terjadi, besarnya upah yang ditetapkan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan hidup para tenaga kerja.

33

Perkembangan tingkat Upah Minimum Provinsi Sulawesi Selatan yang berlaku juga di Kota Makassar terlihat mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.1 Perkembangan Tingkat Upah Minimum di Kota Makassar Tahun 2010 - 2019

Tahun UMR Pertahun Rupiah

2010 1.000.000

2011 1.100.000

2012 1.200.000

2013 1.440.000

2014 1.800.000

2015 2.000.000

2016 2.316.625

2017 2.504.500

2018 2.722.642

2019 2.900.000

Sumber : BPS Kota Makassar Tahun, 2020.

Dari data upah minimum di atas dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2010, upah minimum pertahun yang berlaku di Kota Makassar sebesar Rp 1.000.000, pada tahun 2011, meningkat menjadi Rp 1.100.000. Pada tahun 2012, kembali meningkat menjadi Rp 1.200.000. Pada tahun 2013, meningkat menjadi Rp 1.440.000. Tahun 2014, meningkat lagi menjadi Rp 1.800.000. Pada tahun 2015, kembali mengalami peningkatan sebesar Rp 2.000.000. Kemudian ditahun 2016, meningkat lagi menjadi Rp 2.316.625. pada tahun 2017 meningkat menjadi Rp 2.504.500. tahun 2018 terus mengalami peningkatan sebesar Rp 2.722.642 hingga pada tahun 2019 mencapai Rp 2.900.000.

b. Penyerapan Tenaga Kerja

Mengingat kesempatan kerja yang terbatas tersebut maka pemerintah mengupayakan penciptaan lapangan kerja yang nantinya dapat menampung maupun mengurangi tingkat pengangguran yang berada di tengah masyarakat melalui pen- ciptaan usaha usaha industri kecil dan menengah. Semakin bertambahnya jumlah industri kecil dan menengah tentunya akan membawa dampak sangat luas terhadap penyerapan tenaga kerja.

Berikut ini data tentang jumlah tenaga kerja yang terserap dalam industri kecil di Kota Makassar.

Tabel 4.2 Data Penyerapan Tenaga Kerja di Kota Makassar Tahun 2010 - 2019

No. Tahun Tenaga Kerja ( Jiwa )

1. 2010 265.136

2. 2011 232.885

3. 2012 237.589

4. 2013 234.430

5. 2014 224.668

6. 2015 222.342

7. 2016 220.246

8. 2017 225.188

9. 2018 213.807

10. 2019 238.329

Sumber : BPS Kota Makassar Tahun, 2020

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat kita lihat bahwa data tenaga kerja dari tahun 2010-2019 cukup berfluktuatif sebagaimana pada tahun 2010 memiliki tenaga kerja yang cukup besar yaitu 265.136 orang, kemudian pada tahun 2019 mengalami penurunan yaitu sekitar 213.807 orang. Naik turunya jumlah penyerapan tenaga kerja atau terjadinya fluktuasi juga sangat dipengaruhi oleh keadaan perekonomian secara umum karena dengan perekonomian yang

35

maju maka pendapatan masyarakat ikut meningkat sehingga permintaan atau pola konsumsi masyarakat juga ikut meningkat yang nantinya terjadi perluasan lapangan kerja yang baru yang dilakukan oleh pihak perusahaan dan dapat membantu meningkatkan jumlah penyerapan tenaga kerja dan sebaliknya apabila pendapatan masyarakat menurun maka akan berpengaruh pada tingakat permintaan dan pola konsumsi masyarakat sehingga pihak perusahaan akan mengurangi produksi yang dihasilkan yang nanti-nya menungkan pula jumlah permintaan tenaga kerja.

2. Hasil Analisis Data

Teknik yang digunakan dalam menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan adalah dengan menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana dengan bantuan program SPSS 22. Dalam model analisis regresi linear sederhana yang menjadi variabel terikatnya adalah pertumbuhan ekonomi di Sulawesi selatan, sedangkan variabel bebasnya adalah ekspor. Sebelum dilakukan analisis regresi linear sederhana, maka dilakukan uji asumsi klasik sebagai berikut :

a. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah salah satu syarat dalam menggunakan analisis regresi linear berganda. Adapun cara yang digunakan antara lain sebagai berikut :

1) Uji Normalitas

Uji Normalitas digunakan untuk menguji apakah model regresi variabelnya berdistribusi normal atau tidak, model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Berikut ini hasil uji normalitas :

Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas Sumber : Data Diolah, SPSS 25 Tahun, 2020

Berdasarkan gambar 4.1 menunjukkan bahwa data berdistribusi normal karena titik titik mengikuti garis diagonal.

2) Uji Autokorelasi

Autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan periode t sebelumnya. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi.

37

Cara yang digunakan untuk melihat ada tidaknya autokorelasi pada penelitian ini yaitu menggunakan uji runs test. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji runs test, yaitu :

1) Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) < dari 0,05 maka terdapat gejala autokorelasi.

2) Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) > dari 0,05 maka tidak terdapat gejala autokorelasi.

Tabel 4.3 Hasil Autokorelasi

Runs Test

Unstandardized Residual

Test Valuea -.00722

Cases < Test Value 5

Cases >= Test Value 5

Total Cases 10

Number of Runs 7

Z .335

Asymp. Sig. (2-tailed) .737

a. Median

Sumber : Data Diolah SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0.737 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala atau masalah autokorelasi.

3) Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas, dapat dilihat dengan menggunakan uji scatterplot.

Dengan kriteria pengujian yaitu apabila penyebaran titik-titik data tidak berpola, titik-titik data menyebar diatas dan dibawah dan titik-titik data tidak

mengumpul maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas.

Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskeditas Sumber: Data Diolah SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan dari gambar 4.2 di atas hasil uji heteroskedastsiitas menujukkan bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga layak dipakai dalam penelitian.

3. Hasil Analisis Regresi Sederhana

Bagian ini penulis akan membahas tentang pengaruh yang di timbulkan oleh nilai ekspor di Provinsi Sulawesi Selatan yang akan di analisis dengan menggunakan model analisis regresi linear sederhana

39

yang akan diolah melalui aplikasi SPSS 25. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil akhir sebagai berikut.

Tabel 4.4 Hasil Uji Regresi Sederhana

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardiz ed Coefficients

T Sig.

Collinearity Statistics

B Std. Error Beta

Toleran

ce VIF

1 (Constant) 6.002 .250

-.669

23.965 .000

1.000 1.000 Upah

Minimum -.102 .040 -2.549 .034

a. Dependent Variable: Penyerapan Tenaga Kerja

Sumber: Data Diolah SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan uji Regresi linear sedrhana pada tabel 4.4 diketahui constant (α) sebsar 6.002 sedangkan nilai upah minimum sebesar -0,102 sehingga persamaan regresinya dapat ditulis :

Y= α + βx

Y = 6.002 - 0,102 x

Persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Dari persamaan regresi diketahui bahwa nilai konstanta = 6.002, berarti jika variabel upah minimum = 0 maka Y = 6.002.

2) Dari hasil penelitian variabel upah minimum (X) bernilai negatif (-0,102).

Artinya bahwa setiap kenaikan 1 % upah minimum akan mengalami penurunan sebesar 0,102%.

4. Hasil Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah dalam penelitian. Uji hipotesis terbagi menjadi tiga yaitu :

1) Uji Koefisien Determinasi ()

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai 1. Semakin besar nilai R2(mendekati 1) semakin baik hasil untuk model regresi tersebut.

Tabel 4.5 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .669a .448 .379 .02046 1.785

a. Predictors: (Constant), Upah Minimum

b. Dependent Variable: Penyerapan Tenaga Kerja

Sumber: Data Diolah SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan tabel 4.5 dari hasil output SPSS di atas, didapatkan nilai Adjusted R Square sebesar 0, 448 yang artinya pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) sebesar 44,8%. Sedangkan sisanya 55,2% dipengaruhi oleh variabel lain diluar persamaan regresi ini atau variabel yang tidak diteliti.

2) Uji Parsial (Uji t)

Uji ini dilakukan dengan cara pengujian variabel-variabel independen secara parsial (individu), digunakan untuk mengetahui signifikan dari pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel dependen.

Dasar pengambilan keputusan : Berdasarkan nilai signifikasi (Sig.)

41

a) Jika nilai Signifikasi < Probabilitas 0,05 maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.

b) Jika nilai signifikasi > probabilitas 0,05 maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.

Berdasarkan perbandingan nilai _ dengan _

a) Jika nilai _ > _ maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.

b) Jika nilai _ <_maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.

Tabel 4.6 Hasil Uji Parsial

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 6.002 .250

-.669

23.965 .000

Upah Minimum -.102 .040 -2.549 .034

a. Dependent Variable: Penyerapan Tenaga Kerja

Sumber: Data Diolah SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukan bahwa Upah Minimum berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Makassar. Ini dibuktikan dari hasil olah data dimana dengan nilai koefisien variabel sebesar -0.102 dengan nilai signifikansi 0,034 lebih kecil dari 0,05 (0,034 < 0,05) dibuktikan pula dari nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (-2,549< -2,306) kecil dari t tabel (0,626 < 1,860).

C. Pembahasan

Upah minimum berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Makassar. Ini dibuktikan dari hasil olah data dimana nilai koefisien variabel sebesar -0.102 lalu signifikansi 0,034 lebih kecil dari 0,05 (0,034 < 0,05) dibuktikan pula dari nilai t hitung lebih besar dari t tabel (- 2,549< 2,132.

Secara teoritis, perusahaan hanya akan membayar upah tenaga kerja sesuai dengan produktivitasnya, artinya tenaga kerja yang produktivitasnya rendah akan menerima upah yang rendah dan sebaliknya. Pada kenyataannya, upah minimum yang ditetapkan lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas.

Produktivitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah (Bappenas (2010:61).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakuka oleh lathi Wihastuti, Henny Rahmatullah (2016) yang meneliti tentang upah minimum dan penyerapan tenaga kerja di pulau jawa, hasil penelitian menunjukkan bahwa ump berpengaruh negatif UMP berpengaruh negatif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan UMP tetap menjadi kendala terciptanya keadilan di pasar tenaga kerja karena menciptakan kekakuan harga. Hasil tersebut memberikan indikasi bagi pengambil kebijakan untuk lebih berhati- hati dalam menentukan besaran UMP agar tidak mendestruksi tujuan utama pembangunan yaitu menciptakan kesejahteraan umum.

BAB. V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengaruh penelitian mengenai upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja, maka dapat disimpulkan Upah minimum berpengaruh negativ dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Makassar. Ini dibuktikan dari hasil olah data dimana dengan nilai koefisien variabel sebesar -0,102 denga nilai signifikansi 0,034 lebih kecil dari 0,05 (0,034 < 0,05) dibuktikan pula dari nilai t hitung lebih besar dari t tabel (- 2,549< 2,132).

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan maka saran penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pemerintah Kota Makassar diharapkan untuk menyediakan sarana dalam meningkatkan mutu tenaga kerja melalui penyuluhan keterampilan atau melalui pendidikan. Dengan peningkatan mutu tenaga kerja diharapakan dapat menarik investor untuk menanamkan usahanya dan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi.

2. Pemerintah sebaiknya berfokus kepada penetapan nilai upah dengan tepat untuk meningkatkan kehidupan yang layak khususnya bagi para pekerja tetapi juga tanpa merugikan kelangsungan hidup perusahaan.

3. Untuk penelitian selanjutnya, untuk kajian dengan topik yang sama kedepan disarankan untuk menggunakan model analisis yang relatif sensitif untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dengan memperhatikan Ketetapan data yang digunakan terkait dengan pencatatan data penelitian

43

Dokumen terkait